cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Volume. 33, No. 1, January 2009" : 18 Documents clear
Perbandingan kadar regulatory T-cells antara kehamilan normal dan abortus SUHEIMI, I.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.45 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui peran Treg dalam kelangsungan kehamilan dengan mengukur kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu, mengukur kadar Treg dalam kejadian abortus dan membandingkan kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu dan dalam kejadian abortus. Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, baik di IGD lantai 3 maupun poliklinik Obstetri dan Ginekologi. Bahan dan cara kerja: Penelitian bersifat penelitian observasional tanpa intervensi berupa studi comparative cross-sectional, dilakukan pada kelompok perempuan hamil normal dan kelompok perempuan yang mengalami abortus yang datang ke tempat penelitian. Pengumpulan data dilakukan sejak subjek penelitian datang di IGD lantai 3 atau poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSCM. Jika kasus sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan maka dilakukan informed consent untuk mendapat persetujuan penelitian. Diambil darah vena pasien sebanyak 50 mikroliter dan dimasukkan ke dalam alat flowcytometry dengan reagen spesifik untuk pemeriksaan CD45 (Per-CP- 347464), CD4 (SIPC-340133) dan CD25 (PE-341009) untuk kemudian dihitung jumlah Treg dengan sistem lyse no washed menggunakan software cellquest pro. Output dari alat flowcytometry tersebut kemudian dicatat. Pasien dengan kehamilan normal (kelompok kontrol) di follow-up sampai kehamilannya mencapai 20 minggu untuk memastikan tidak terjadinya abortus sampai batas waktu tersebut. Jika pasien dengan kehamilan normal pada saat pemeriksaan ternyata mengalami abortus di bawah 20 minggu, maka pasien tersebut akan dimasukkan ke dalam kelompok dengan kejadian abortus (kelompok kasus). Hasil: Pada uji statistik perbandingan rerata persentase sel CD45 didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antar kedua kelompok, di mana rerata kelompok kasus adalah 10,96 ± 6,57% sel dibandingkan dengan rerata 9,60 ± 5,30% sel pada kelompok kontrol dengan p = 0,610. Pada perbandingan kadar Treg dari hasil uji statistik didapatkan Median pada kelompok kasus (2,45 sel/μl) dibandingkan dengan Median kelompok kontrol (2,53 sel/μl) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik dengan p = 0,946 (uji korelasi Mann-Whitney). Kesimpulan: Penelitian ini mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar Regulatory T-cells (Treg) dengan kejadian abortus. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 20-7] Kata kunci: regulatory T-cells, Treg, abortus
Laparoskopi Oklusi Tuba Anestesi Lokal (LOTAL) SUHADI, A.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.002 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengevaluasi ’Laparoskopi Oklusi Tuba dengan Anestesi Lokal’ (LOTAL) sebagai sterilisasi perempuan di RS Setjonegoro Wonosobo Jawa Tengah. Bahan/cara kerja: Penelitian analitis deskriptif bersumber dari data sekunder pada 666 kasus LOTAL di RS Setjonegoro Wonosobo Jawa Tengah dalam periode 2007. Kanula Rubin dimasukkan ke serviks uteri, pasien Trendelenburg dalam posisi lithotomi. Anestesi lokal dengan Lidocain 1% 10 ml disuntikkan sub-umbilikal. Pneumoperitoneum dilakukan dengan memasukkan gas CO2 2,5 liter ke dalam rongga perut. Sterilisasi Laparoskopi dilakukan dengan satu sayatan subumbilikal, dan tuba dilakukan oklusi dengan menggunakan cincin Fallope atau elektrokauter bipolar. Hasil: Selama tahun 2007 LOTAL dikerjakan pada 666 kasus dengan periode interval tanpa mondok. Dalam periode yang sama dilakukan tubektomi dengan metode bedah terbuka 22 dan vasektomi 26 kasus. Waktu rata-rata 10 - 15 menit. Kehamilan terjadi pada satu kasus (0,15%). Sebagian besar kasus pulang 2 jam pascatindakan. Tidak ditemukan kematian dan komplikasi yang berarti. Kesimpulan: LOTAL cukup aman, efektif dan akseptabel sebagai sterilisasi perempuan. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 56-60] Kata kunci: LOTAL, angka kegagalan kehamilan, sterilisasi perempuan
Efektivitas Insecticide Treated Nets (ITNs) dan Intermitten Preventive Treatment (IPT) pada pencegahan malaria dalam kehamilan SINAGA, R.S.H.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.503 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui efektivitas Insecticide Treated Nets (ITNs) dan Intermitten Preventive Treatment (IPT) pada pencegahan malaria dalam kehamilan. Bahan dan cara kerja: Literature review sejumlah kepustakaan dan jurnal yang meneliti tentang efektivitas ITNs dan IPT dalam pencegahan malaria dalam kehamilan. Hasil: Dilakukan penelaahan terhadap 16 buah kepustakaan dan jurnal mengenai malaria dalam kehamilan dan penelitian-penelitian mengenai penggunaan ITNs dan IPT dalam pencegahan malaria dalam kehamilan. Dari semua metode mencegah gigitan nyamuk, tidur dengan ITNs kemungkinan adalah yang paling efektif. Studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa di antara gravida 1 - 4 penggunaan ITNs, menurunkan kejadian parasitemia sebanyak 38% dan anemia berat sebanyak 47%. Pada saat persalinan, rata-rata kadar hemoglobin 0,6 g/dl lebih tinggi, dan prevalensi malaria plasental dan maternal diturunkan sebanyak 35%. Sedangkan bayi baru lahir, ITNs membantu dengan cara menurunkan insiden berat lahir rendah (prevalensi berat lahir rendah diturunkan sebanyak 28% pada gravida 1 - 4), menurunkan risiko anemia pada bayi baru lahir, menurunkan risiko kematian bayi baru lahir, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan selama kehamilan dan minggu-minggu pertama usia kelahiran. Untuk IPT, studi juga menunjukkan strategi ini efektif dalam pencegahan malaria dalam kehamilan karena dapat menurunkan risiko anemia berat pada primigravida yang tinggal di area malaria. Bahkan perempuan yang baru mendapat dosis satu kali oleh karena terlambat memeriksakan kehamilannya, secara signifikan mendapat manfaat dari intervensi ini. Kesimpulan: Perempuan hamil termasuk grup penduduk yang paling be-risiko terkena infeksi malaria. Oleh karena beratnya komplikasi yang bisa terjadi pada malaria dalam kehamilan dan banyak perempuan hamil yang tidak memiliki akses pada intervensi yang efektif maka pencegahan malaria dalam kehamilan merupakan hal yang sangat penting. Malaria dalam kehamilan dapat dicegah dengan cukup efektif menggunakan ITNs dan pemberian IPT. Bila terjadi infeksi malaria dalam kehamilan, penting untuk menentukan apakah tanpa atau dengan komplikasi karena yang tanpa komplikasi dapat diobati dengan mudah, sedangkan yang dengan komplikasi perlu manajemen yang spesialistik di tempat pelayanan tersier. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 28-34] Kata kunci: kelambu, Intermitten Preventive Treatment (IPT)
Peningkatan kadar soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (sVCAM-1) sebagai petanda aktivasi endotel pada serum penderita sindrom antifosfolipid yang dipajankan pada kultur endotel tali pusat manusia PRATAMA, G.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.739 KB)

Abstract

Tujuan: Mendapatkan kadar soluble VCAM-1 (sVCAM-1) pada serum penderita APS yang dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia untuk membuktikan adanya peran aktivasi endotel pada mekanisme terjadinya trombosis pada penderita APS (antiphospholipid syndrome). Bahan dan cara kerja: Penelitian eksperimental laboratorium secara in vitro di Makmal Terpadu Imuno-Endokrinologi/FKUI pada tahun 2003. Sebanyak masing-masing 14 sampel serum yang berasal dari pasien APS dan non APS yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berdasarkan batasan operasional (kriteria Sapporo). Kemudian kultur sel endotel dipajankan selama 24 jam dengan medium perlakuan yang ditambahkan 20 % serum dari masing-masing penderita APS atau non APS. Kemudian diukur kadar sVCAM-1 pada masing-masing sampel dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil: Secara statistik didapatkan perbedaan bermakna (p < 0,05) antara kadar sVCAM-pada serum APS dibandingkan dengan serum non APS yang tidak dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia. Secara statistik juga didapatkan perbedaan bermakna (p < 0,05) pada kadar sVCAM-1 pada serum APS dibandingkan dengan serum non APS setelah dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia selama 24 jam per 10.000 sel endotel. Kesimpulan: Produksi sVCAM-1 oleh sel endotel vena umbilikalis manusia yang dipajankan dengan serum APS lebih tinggi daripada yang dipajankan dengan serum non APS. Kadar sVCAM-1 pada serum APS yang tidak dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia didapatkan lebih tinggi daripada serum non APS yang tidak dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 35-40] Kata kunci: soluble VCAM-1 (sVCAM-1); APS (Antifosfolipid sindrom); Kriteria Sapporo; ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay)
Hubungan kadar albumin urin dengan berat badan lahir bayi pada preeklampsia berat RATIH, D.; HADISAPUTRO, H.; KRISTANTO, H.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.903 KB)

Abstract

Tujuan: Menganalisis perbedaan kadar albumin urin dan berat badan lahir bayi pada ibu hamil dengan preeklampsia berat dan normotensi serta menganalisis hubungan antara kadar albumin urin dengan berat badan lahir bayi pada preeklampsia berat. Rancangan/rumusan data: Studi belah lintang yang melibatkan 40 ibu hamil dengan preeklampsia berat dan 40 ibu hamil normotensi di RSUP Dr Kariadi Semarang pada kurun waktu bulan Mei - Desember 2007. Bahan dan cara kerja: 40 ibu hamil aterm dengan preeklampsia berat dan 40 ibu hamil aterm normotensi dilakukan pengambilan darah untuk kemudian diperiksa berbagai parameter kimiawi serta dilakukan pengambilan urin untuk kemudian diperiksa kadar albumin urin kuantitatif dengan menggunakan alat MODULAR yang didasarkan pada metode imunoturbidimetri. Berat badan bayi diukur segera setelah bayi lahir. Kadar albumin urin kuantitatif kemudian dianalisis korelasinya dengan berat badan lahir bayi. Hasil: Rerata kadar albumin urin pada ibu hamil dengan preeklampsia berat (736,7 mg/dl) lebih tinggi dibanding dengan yang didapat pada kehamilan normal (156,9 mg/dl) dan secara statistik bermakna (p < 0,001). Rerata berat badan lahir bayi yang dilahirkan oleh ibu hamil dengan preeklampsia berat (2880 gram) lebih rendah dibanding dengan yang dilahirkan oleh ibu hamil normotensi (2910 gram) namun secara statistik tidak bermakna. Tidak terdapat hubungan antara kadar albumin urin ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu dengan preeklampsia berat. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa walaupun kadar albumin urin pada ibu hamil dengan preeklampsia berat lebih tinggi dibanding ibu hamil normotensi namun tidak terdapat perbedaan berat badan lahir bayi yang dilahirkan serta tidak terdapat hubungan antara kadar albumin urin dengan berat badan lahir bayi pada ibu dengan preeklampsia berat. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 8-13] Kata kunci: preeklampsia berat, kadar albumin urin, berat badan lahir bayi
Deteksi Human Papilloma Virus pada sediaan sitologi Papanicolaou Smear lesi serviks: suatu uji diagnostik Tresna, K.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui akurasi diagnostik sitologik serviks dalam mendeteksi infeksi HPV pada lesi serviks. Tempat: Pusat Kesehatan Masyarakat yang ada di Bangli (Kecamatan Tembuku dan Susut) dan Gianyar (Kecamatan Payangan), Bali. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini memakai uji diagnostik. Pemeriksaan Pap Smear dilakukan pada semua perempuan yang sudah menikah atau sudah pernah melakukan hubungan seksual. Hasil pemeriksaan tes pap tersebut dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi FK UNUD/RS Sanglah Denpasar untuk pemeriksaan sitologi dan ke Laboratorium Biologi Molekuler Universitas Leiden Belanda untuk pemeriksaan PCR. Hasil: Akurasi pemeriksaan sitologi sebesar 75%, sensitivitas sebesar 67,8%, spesifisitas sebesar 77,3%, nilai prediksi positif sebesar 50%, nilai prediksi negatif sebesar 87,8%, nilai positif palsu sebesar 50%, dan nilai negatif palsu sebesar 12,2%. Kesimpulan: Pemeriksaan sitologi dapat dipakai sebagai salah satu cara untuk mendeteksi infeksi HPV. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 41-7] Kata kunci: HPV, PCR, sitologi
Faktor risiko infeksi saluran kemih pada pertolongan persalinan spontan di RS Moh. Hoesin Palembang AZIZ, A.; FAUZI, A.; THEODORUS, R. SANIF
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.162 KB)

Abstract

Tujuan: Menilai pengaruh kateterisasi urin, colok vagina dan keluarnya feses saat mengedan pada pertolongan persalinan spontan terhadap kejadian infeksi saluran kemih. Tempat: Bagian Kebidanan dan Kandungan Universitas Sriwijaya, Rumah Sakit Umum Mohammad Hoesin, Palembang - Indonesia. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan cross sectional study. 100 orang penderita yang partus spontan diambil secara consecutive sampling. Dilakukan pengisian kuesioner yang memasukkan data mengenai berapa kali kateterisasi dan colok vagina dilakukan, apakah ada kontaminasi feses pada kala II, dan urin diambil menggunakan kateter steril pada mid stream. Urin lalu diperiksa dengan strip nitrit urin. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang positif infeksi saluran kemih ada 10 responden (10%). Hubungan faktor risiko dengan infeksi saluran kemih yang meliputi kateterisasi, colok vagina dan kontaminasi feses saat mengedan tidak menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik, namun setelah dilakukan uji regresi logistik dan dilakukan penyesuaian didapatkan bahwa colok vagina mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi saluran kemih (r 0,544; p 0,019). Kesimpulan: Angka kejadian infeksi saluran kemih pada persalinan spontan di rumah sakit Mohammad Hoesin sebesar 10%. Frekuensi colok vagina memiliki hubungan bermakna dengan kejadian infeksi saluran kemih. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 14-9] Kata kunci: infeksi saluran kemih, kateterisasi urin, colok vagina
Hubungan penguasaan kompetensi Asuhan Persalinan Normal (APN) dengan pengetahuan dan sikap bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan normal di Kabupaten Jombang, Jawa Timur NAWANGSARI, H.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.699 KB)

Abstract

Tujuan: Memperoleh informasi mengenai hasil Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) pada bidan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Rancangan/rumusan data: Rancangan penelitian ini menggunakan metode survei eksplanatoris, terhadap pengetahuan dan sikap bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan normal. Data dikumpulkan secara potong silang. Subjek penelitian 199 orang responden. Analisis data menggunakan prosedur analisis korelasi rank-Spearman, uji Mann-Whitney dan uji Fisher. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan: (r = 0,233; p = 0,01). Sikap berkorelasi positif dengan masa kerja (r = 0,161; p = 0,02) dan pengetahuan bidan (r = 0,3595; p = 0,00). Kompetensi bidan pasca APN berpengaruh secara bermakna terhadap pengetahuan (p < 0,05) dan sikap bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan normal (p < 0,01). Kesimpulan: Pengaruh APN dalam penguasaan kompetensi terhadap perubahan pengetahuan dan sikap bidan dalam memberikan pelayanan tampak jelas. Perlu penelitian lebih lanjut dengan melihat beberapa faktor lain yang relevan untuk menjawab peran bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak secara umum. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 3-7] Kata kunci: kompetensi bidan, asuhan persalinan normal, pengetahuan dan sikap
Bcl-2 dan Indeks Apoptosis pada Hiperplasia Endometrium non-atipik simpleks dan kompleks CAHYANTI, R.D.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.456 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk menilai perbedaan dan hubungan ekspresi Bcl-2 dan indeks apoptosis pada hiperplasia endometrium non-atipik simpleks dan kompleks. Bahan dan cara kerja: Blok parafin jaringan hiperplasia endometrium non-atipik dari hasil kuretase bertingkat sebanyak masingmasing 28 kasus hiperplasia simpleks dan kompleks. Ekspresi protein Bcl-2 dinilai dengan pengecatan imunohistokimia dan ditentukan persentase immuno-staining Bcl-2 pada kelenjar endometrium serta intensitas staining. Penilaian apoptosis pada potongan jaringan yang sama dengan menggunakan metode terminal deoxynucleotidyl transferasemediated deoxy-uridine triphosphate nick end labeling (TUNEL) assay. Persentase jumlah positif sel dan sel yang mengalami apoptosis dihitung dalam 10 lapangan pandang (dengan pembesaran 40 x). Analisis data untuk uji beda 2 kelompok tidak berpasangan dan korelasi dengan derajat kemaknaan p ≤ 0,05 serta dilakukan perhitungan rasio prevalensi. Hasil: Karakteristik subjek pada kedua kelompok sama. Tidak terdapat perbedaan intensitas staining positif kuat pada epitel kelenjar hiperplasia simpleks 85,7% pada hiperplasia kompleks 96,4% (p = 0,176). Ekspresi Bcl-2 pada hiperplasia endometrium kompleks lebih tinggi dibandingkan yang simpleks (p = 0,013). Nilai ekspresi Bcl-2 dengan cut off point 0,92 didapatkan bahwa endometrium dengan Bcl-2 ≥ 0,92 mempunyai risiko 2,6 kali untuk terjadinya hiperplasia non-atipik kompleks (p = 0,001; Rasio Prevalensi 2,6; 95%, CI = 1,3 - 5,1). Indeks apoptosis pada hiperplasia endometrium simpleks lebih tinggi dibandingkan yang kompleks (p = 0,014). Nilai indeks apoptosis dengan cut off point 9 menunjukkan bahwa pada endometrium dengan indeks apoptosis ≥ 9 mempunyai risiko 3,8 kali terjadinya hiperplasia non-atipik simpleks (p = 0,002; Rasio Prevalensi 3,8; 95%, CI = 1,4 - 9,9). Pada hiperplasia yang simpleks terdapat korelasi negatif derajat sedang antara ekspresi Bcl-2 dan indeks apoptosisnya (r = -0,664; p = 0,000), sedangkan pada yang kompleks tidak adanya suatu korelasi negatif (r = -0,208; p = 0,85). Kesimpulan: Ekspresi Bcl-2 pada hiperplasia endometrium nonatipik kompleks lebih tinggi dibanding yang simpleks dan nilai indeks apoptosis lebih rendah pada hiperplasia kompleks dibandingkan yang simpleks. Korelasi negatif antara ekspresi Bcl-2 dan indeks apoptosis hanya didapatkan pada kasus hiperplasia non-atipik simpleks. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 48-55] Kata kunci: Bcl-2, indeks apoptosis, hiperplasia endometrium nonatipik simpleks dan kompleks
Hubungan penguasaan kompetensi Asuhan Persalinan Normal (APN) dengan pengetahuan dan sikap bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan normal di Kabupaten Jombang, Jawa Timur H. NAWANGSARI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 1, January 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.699 KB)

Abstract

Tujuan: Memperoleh informasi mengenai hasil Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) pada bidan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Rancangan/rumusan data: Rancangan penelitian ini menggunakan metode survei eksplanatoris, terhadap pengetahuan dan sikap bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan normal. Data dikumpulkan secara potong silang. Subjek penelitian 199 orang responden. Analisis data menggunakan prosedur analisis korelasi rank-Spearman, uji Mann-Whitney dan uji Fisher. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan: (r = 0,233; p = 0,01). Sikap berkorelasi positif dengan masa kerja (r = 0,161; p = 0,02) dan pengetahuan bidan (r = 0,3595; p = 0,00). Kompetensi bidan pasca APN berpengaruh secara bermakna terhadap pengetahuan (p < 0,05) dan sikap bidan dalam pelaksanaan pertolongan persalinan normal (p < 0,01). Kesimpulan: Pengaruh APN dalam penguasaan kompetensi terhadap perubahan pengetahuan dan sikap bidan dalam memberikan pelayanan tampak jelas. Perlu penelitian lebih lanjut dengan melihat beberapa faktor lain yang relevan untuk menjawab peran bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak secara umum. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 3-7] Kata kunci: kompetensi bidan, asuhan persalinan normal, pengetahuan dan sikap

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue