cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Volume. 33, No. 3, July 2009" : 15 Documents clear
Manajemen risiko dalam pelayanan pasien preeklampsia berat (PEB)/ eklampsia di Instalasi Gawat Darurat RSUPNCM KUSUMA, T.W.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.93 KB)

Abstract

Tujuan: Mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan manajemen risiko dalam pelayanan pasien PEB/eklampsia di IGD lantai 3 RSCM. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan di IGD lantai 3 RSCM menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap 15 orang pasien yang datang dan dirawat karena PEB/Eklampsia dan pihak manajemen yang terdiri dari Direktur Pelayanan Medis RSCM, Dokter konsultan IGD lantai 3 RSCM, dan Kepala Ruangan IGD RSCM. Hasil: Sebagai tolok ukur keluaran, angka kematian ibu menurun sebesar 0,14%; lama rawat menjadi 1 hari di IGD; dan kepuasan pasien sebesar 53,3%. Dalam hal identifikasi risiko diketahui bahwa belum ada SOP yang khusus dibuat RSCM untuk penanganan PEB/Eklampsia dan walaupun sudah ada prosedur pelaporan dan pencatatan insiden klinis, namun belum ada formulir pelaporan selain rekam medis dan belum terstruktur dengan baik. Kinerja perawat masih dianggap kurang dan belum ada sistem manajemen risiko formal yang diterapkan. Analisa risiko sudah berjalan dengan baik. Terdapat upaya penurunan risiko seperti pelatihan tenaga medis, pemenuhan fasilitas, supervisi dan forum komunikasi. Namun sistem prioritas masih perlu dikembangkan. Pendanaan risiko dialokasikan untuk perlindungan terhadap tenaga medis jika terjadi tuntutan di mana kasus diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dan untuk pemenuhan fasilitas terutama bagi pasien tidak mampu. Sudah terdapat upaya peninjauan sebagai evaluasi risiko. Kesimpulan: Langkah-langkah manajemen risiko dalam penanganan pasien PEB/Eklampsia di IGD lantai 3 RSUPNCM sudah membaik walaupun belum dilaksanakan secara optimal, terlihat dari pencapaian tolok ukur keluaran dari angka kematian ibu, lama rawat, dan kepuasan pasien sampai bulan Agustus 2008 memberikan hasil yang baik dan menurunkan terjadinya risiko yang tidak diinginkan. Faktor-faktor yang mendukung baiknya keluaran adalah tenaga kerja yang terlatih terutama dokter, fasilitas pelayanan yang lengkap, serta pengawasan yang baik dan terstruktur. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 135-42] Kata kunci: PEB, eklampsia, manajemen risiko, IGD, RSCM
Peran polimorfisme gen Collagen type 1 alpha 1 (COL1α1) terhadap penurunan densitas mineral tulang vertebra lumbal akseptor KB suntik DMPA TAHIR, A.M.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.768 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk menilai dampak pemakaian kontrasepsi suntik DMPA pada densitas mineral tulang Vertebrata Lumbal (VL.1-4) pada akseptor jangka panjang (≥ 5 tahun), dengan alat Dual Energy X-ray Absorptiometry (DEXA), sekaligus melihat apakah ada peranan faktor genetik dalam hal ini polimorfisme gen Collagen type 1 Alpha 1 (COL1α1) terhadap penurunan DMT pada akseptor KB suntik DMPA tersebut dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Tempat: Penelitian dilakukan di Makassar antara Januari 2007 - Maret 2007 pada 31 orang akseptor suntik DMPA jangka panjang (≥ 5 tahun). Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang. Hasil: Karakteristik sampel berdasarkan usia terbanyak: 30-35 tahun. Pendidikan SLTA (61,3%), Berat badan 40-45 kg (77,4%), Tinggi badan: 145-149 cm (38,7%), Indeks Massa Tubuh (IMT): 20,0-25,0 kg/m2 (87,1%). Ditemukan 19 orang (61,3%), dengan DMT V. Lumbal normal dan 12 orang (38,7%) dengan DMT V.L-4 dibanding V.L-1 dan V.L-2. Prevalensi polimorfisme gen COL1α1 pada penelitian ini 45,2% (32,3% G/T dan 12,9% T/T). Kejadian osteopeni lebih banyak ditemukan pada subjek yang memiliki gen heterozigot (G/T atau S/s) daripada subjek yang mempunyai gen homozigot normal (G/G atau S/S) = (p=< 0,05), dan tidak ditemukan kejadian osteopenia pada subjek yang memiliki polimorfisme gen homozigot (T/T atau s/s). Kesimpulan: Akseptor yang memiliki polimorfisme gen heterozigot (G/T atau S/s) memiliki kecenderungan untuk menderita osteopeni lebih tinggi daripada yang memiliki gen normal (G/G atau S/S). Di pihak lain, akseptor yang memiliki polimorfisme gen homozigot (T/T atau s/s) justru cenderung tidak menderita osteopeni. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 176-84] Kata kunci: DMT, DMPA, polimorfisme gen COL1α1
Hubungan pajanan infeksi helicobacter pylori dengan kejadian hiperemesis gravidarum ASIH, D.M.R.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.442 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui keterkaitan dan besar risiko infeksi Helicobacter Pylori terhadap kejadian Hiperemesis Gravidarum. Tempat: Ruang perawatan kebidanan dan poliklinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RS Fatmawati, RSPAD Gatot Subroto Jakarta, RSUD Tangerang. Rancangan/rumusan data: Penelitian bersifat Comparative Cross Sectional yang membandingkan adanya Ig G anti Helicobacter Pylori pada kelompok kasus perempuan hamil dengan Hiperemesis Gravidarum dan kelompok kontrol yaitu perempuan hamil yang asimptomatik. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan selama 15 bulan (Agustus 2006 - Oktober 2007). Selama periode tersebut didapat 55 perempuan hamil usia gestasi 6-16 minggu yang menderita Hiperemesis Gravidarum dan 55 perempuan hamil asimptomatik dengan usia gestasi yang sama. Dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, ultrasonografi, pemeriksaan laboratorium: darah tepi, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, gula darah, urinalisa, keton urin dan serologi IgG anti Helicobacter Pylori. Adanya infeksi Helicobacter Pylori ditandai dengan adanya IgG pada serum sampel yang ditegakkan dengan pemeriksaan ELISA di Laboratorium Biomedik RSU Mataram, sedangkan diagnosis Hiperemesis Gravidarum ditegakkan dengan gejala klinis dan keton urin positif. Data penelitian diolah dengan menggunakan program STATA 8, analisa kesetaraan kelompok penelitian dengan uji chi square dan analisa multivariat dengan metoda regresi logistik bagi variabel independen yang menunjukkan kemaknaan pada analisa bivariat. Hasil: IgG anti Helicobacter Pylori positif didapat pada 37 perempuan (67,3%) kelompok kasus, dan 19 perempuan (34,5%) kelompok kontrol. Prevalensi Helicobacter Pylori seropositif pada kelompok kasus 56,97% - 77,63% dan pada kelompok kontrol 29,96% - 39,04% (95% CI). Terdapat hubungan bermakna antara infeksi Helicobacter Pylori dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,001). Didapati pula hubungan bermakna antara indeks masa tubuh (IMT) 25 dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,014). Tidak didapati perbedaan bermakna pada usia, pendidikan, pekerjaan serta jumlah anak. Kesimpulan: Perempuan hamil muda yang terinfeksi Helicobacter Pylori dan perempuan hamil muda dengan berat badan berlebih, berisiko lebih tinggi mengalami Hiperemesis Gravidarum. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 143-50] Kata kunci: infeksi helicobacter pylori, serologi, hiperemesis gravidarum
Pengaruh pemberian klomifen sitrat atau letrozole terhadap perkembangan folikel dan profil hormonal pada unexplained infertility HIDAYAT, S.T.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.737 KB)

Abstract

Tujuan: Membandingkan perbedaan pengaruh pemberian klomifen sitrat (CC) atau letrozole terhadap pertumbuhan folikel, keberhasilan ovulasi dan profil hormonal pada perempuan dengan unexplained infertility. Tempat: Klinik Infertilitas Subbagian Fertilitas Endokrinologi dan Reproduksi Manusia Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Rancangan/rumusan data: Uji klinik acak buta berganda tanpa kecocokan. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu April 2008 - Juni 2008 didapat subjek pada kelompok CC dan 28 subjek pada kelompok letrozole. Pada hari ke-3 siklus haid seluruh subjek dilakukan pemeriksaan TVS dan pengambilan sampel darah vena untuk pemeriksaan kadar FSH, LH, dan E2 (estradiol). Mulai hari ke-3 – 7 siklus haid, masingmasing kelompok mendapat CC 50 mg atau letrozole 2,5 mg per hari. Pada hari ke-8 dan 12 siklus. Subjek mengalami pemeriksaan ulang. Jika pada hari ke-12 siklus belum terjadi ovulasi, TVS dilanjutkan hingga hari ke-14, 16, dan 18 siklus. Hasil: Pada kelompok CC didapatkan hari ke-8 dan ke-12 siklus, diameter folikel lebih besar. Diameter folikel telah mencapai 18 mm pada hari ke-8 dan > 25 mm pada hari ke-12 siklus, seluruhnya berupa folikel matur multipel, terjadi ovulasi mulai pada hari ke-12 – 13 siklus haid, kadar FSH, LH, dan E2 lebih tinggi baik pada hari ke-8 maupun ke-12 siklus. Pada kelompok letrozole didapatkan seluruh objek berupa folikel matur tunggal, ovulasi terjadi pada hari ke 14 - 15. Kesimpulan: Pada kelompok CC didapatkan; diameter lebih besar, seluruhnya berupa folikel matur multipel, terjadi ovulasi lebih awal, kadar hormon FSH, LH, E2 lebih tinggi. Pada kelompok letrozole didapatkan seluruhnya berupa folikel matur tunggal, ovulasi terjadi mulai pada hari ke-14 dan 15 siklus. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 185-94] Kata kunci: klomifen sitrat, letrozole, induksi ovulasi, superovulasi, diameter folikel, FSH, estradiol, E2
Perbandingan ekspresi p53, Bcl-2, dan indeks apoptosis trofoblas pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normal KEMAN, K.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.95 KB)

Abstract

Tujuan: Membuktikan bahwa, jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada sampel jaringan trofoblas yang berasal dari kehamilan dengan preeklampsia/eklampsia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kehamilan normal. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang, dan Lab Biomedik FKUB Malang. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi laboratorium secara potong lintang; dengan teknik imunohistokimia untuk pengamatan ekspresi protein Bcl-2 dan p53, dan teknik DNA-terfragmentasi (TUNEL) untuk menghitung indeks apoptosis. Sampel jaringan trofoblas berasal dari biopsi jaringan plasenta preeklampsia/eklampsia, dibandingkan dengan persalinan normal (n = 20). Variabel bebas: p53, Bcl-2, apoptosis. Variabel tergantung: preeklampsia/eklampsia. Analisa statistik menggunakan Independent t test (p ≤ 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel-sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada kelompok kehamilan normal (4,70± 1,829), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/eklampsia (4,70± 1,829), (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi protein Bcl-2 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (20,30±5,774), dibandingkan kelompok preeklampsia/eklampsia (9,90± 1,912) (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein p53 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (8,20 ±2,898), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/preeklampsia (22,70±4,990) (t test; p≤0,000). Kesimpulan: Jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada jaringan trofoblas preeklampsia/eklampsia lebih tinggi daripada kehamilan normal. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 151-9] Kata kunci: trofoblas, indeks apoptosis, p53, Bcl-2, preeklampsia, eklampsia
Pengaruh pemberian clomiphene citrate atau letrozole terhadap folikel, endometrium dan lendir serviks (uji klinik pada perempuan infertil dengan gangguan ovulasi WHO II) DEWANTININGRUM, J.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.492 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk membandingkan perbedaan diameter folikel, jumlah folikel matur, kualitas endometrium, kualitas lendir serviks dan keberhasilan ovulasi antara pemberian clomiphene citrate (CC) atau letrozole. Bahan dan cara kerja: Uji acak terkontrol buta berganda dengan desain paralel tanpa matching mulai periode 1 September 2007 sampai 31 Januari 2008 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Jumlah sampel adalah 40 perempuan infertil dengan gangguan ovulasi WHO II terbagi masingmasing 20 subjek pada kelompok CC dan kelompok letrozole dengan randomisasi blok. Variabel bebas adalah CC (50mg/hari) dan letrozole (2,5mg/hari) diberikan pada siklus haid hari ke-3 sampai 7. Variabel tergantung adalah diameter folikel, jumlah folikel matur, kualitas endometrium, kualitas lendir serviks dan keberhasilan ovulasi. Analisis data untuk uji beda 2 kelompok tidak berpasangan dengan chi square, t test, Mann Whitney dan uji korelasi Lambda dan Spearman, dengan derajat kemaknaan p
Perbandingan ekspresi p53, Bcl-2, dan indeks apoptosis trofoblas pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normal KEMAN, K.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.95 KB)

Abstract

Tujuan: Membuktikan bahwa, jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada sampel jaringan trofoblas yang berasal dari kehamilan dengan preeklampsia/eklampsia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kehamilan normal. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang, dan Lab Biomedik FKUB Malang. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi laboratorium secara potong lintang; dengan teknik imunohistokimia untuk pengamatan ekspresi protein Bcl-2 dan p53, dan teknik DNA-terfragmentasi (TUNEL) untuk menghitung indeks apoptosis. Sampel jaringan trofoblas berasal dari biopsi jaringan plasenta preeklampsia/eklampsia, dibandingkan dengan persalinan normal (n = 20). Variabel bebas: p53, Bcl-2, apoptosis. Variabel tergantung: preeklampsia/eklampsia. Analisa statistik menggunakan Independent t test (p ≤ 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel-sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada kelompok kehamilan normal (4,70± 1,829), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/eklampsia (4,70± 1,829), (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi protein Bcl-2 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (20,30±5,774), dibandingkan kelompok preeklampsia/eklampsia (9,90± 1,912) (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein p53 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (8,20 ±2,898), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/preeklampsia (22,70±4,990) (t test; p≤0,000). Kesimpulan: Jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada jaringan trofoblas preeklampsia/eklampsia lebih tinggi daripada kehamilan normal. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 151-9] Kata kunci: trofoblas, indeks apoptosis, p53, Bcl-2, preeklampsia, eklampsia
Manajemen risiko dalam pelayanan pasien preeklampsia berat (PEB)/ eklampsia di Instalasi Gawat Darurat RSUPNCM T.W. KUSUMA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.93 KB)

Abstract

Tujuan: Mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan manajemen risiko dalam pelayanan pasien PEB/eklampsia di IGD lantai 3 RSCM. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan di IGD lantai 3 RSCM menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap 15 orang pasien yang datang dan dirawat karena PEB/Eklampsia dan pihak manajemen yang terdiri dari Direktur Pelayanan Medis RSCM, Dokter konsultan IGD lantai 3 RSCM, dan Kepala Ruangan IGD RSCM. Hasil: Sebagai tolok ukur keluaran, angka kematian ibu menurun sebesar 0,14%; lama rawat menjadi 1 hari di IGD; dan kepuasan pasien sebesar 53,3%. Dalam hal identifikasi risiko diketahui bahwa belum ada SOP yang khusus dibuat RSCM untuk penanganan PEB/Eklampsia dan walaupun sudah ada prosedur pelaporan dan pencatatan insiden klinis, namun belum ada formulir pelaporan selain rekam medis dan belum terstruktur dengan baik. Kinerja perawat masih dianggap kurang dan belum ada sistem manajemen risiko formal yang diterapkan. Analisa risiko sudah berjalan dengan baik. Terdapat upaya penurunan risiko seperti pelatihan tenaga medis, pemenuhan fasilitas, supervisi dan forum komunikasi. Namun sistem prioritas masih perlu dikembangkan. Pendanaan risiko dialokasikan untuk perlindungan terhadap tenaga medis jika terjadi tuntutan di mana kasus diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dan untuk pemenuhan fasilitas terutama bagi pasien tidak mampu. Sudah terdapat upaya peninjauan sebagai evaluasi risiko. Kesimpulan: Langkah-langkah manajemen risiko dalam penanganan pasien PEB/Eklampsia di IGD lantai 3 RSUPNCM sudah membaik walaupun belum dilaksanakan secara optimal, terlihat dari pencapaian tolok ukur keluaran dari angka kematian ibu, lama rawat, dan kepuasan pasien sampai bulan Agustus 2008 memberikan hasil yang baik dan menurunkan terjadinya risiko yang tidak diinginkan. Faktor-faktor yang mendukung baiknya keluaran adalah tenaga kerja yang terlatih terutama dokter, fasilitas pelayanan yang lengkap, serta pengawasan yang baik dan terstruktur. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 135-42] Kata kunci: PEB, eklampsia, manajemen risiko, IGD, RSCM
Hubungan pajanan infeksi helicobacter pylori dengan kejadian hiperemesis gravidarum D.M.R. ASIH
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.442 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui keterkaitan dan besar risiko infeksi Helicobacter Pylori terhadap kejadian Hiperemesis Gravidarum. Tempat: Ruang perawatan kebidanan dan poliklinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RS Fatmawati, RSPAD Gatot Subroto Jakarta, RSUD Tangerang. Rancangan/rumusan data: Penelitian bersifat Comparative Cross Sectional yang membandingkan adanya Ig G anti Helicobacter Pylori pada kelompok kasus perempuan hamil dengan Hiperemesis Gravidarum dan kelompok kontrol yaitu perempuan hamil yang asimptomatik. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan selama 15 bulan (Agustus 2006 - Oktober 2007). Selama periode tersebut didapat 55 perempuan hamil usia gestasi 6-16 minggu yang menderita Hiperemesis Gravidarum dan 55 perempuan hamil asimptomatik dengan usia gestasi yang sama. Dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, ultrasonografi, pemeriksaan laboratorium: darah tepi, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, gula darah, urinalisa, keton urin dan serologi IgG anti Helicobacter Pylori. Adanya infeksi Helicobacter Pylori ditandai dengan adanya IgG pada serum sampel yang ditegakkan dengan pemeriksaan ELISA di Laboratorium Biomedik RSU Mataram, sedangkan diagnosis Hiperemesis Gravidarum ditegakkan dengan gejala klinis dan keton urin positif. Data penelitian diolah dengan menggunakan program STATA 8, analisa kesetaraan kelompok penelitian dengan uji chi square dan analisa multivariat dengan metoda regresi logistik bagi variabel independen yang menunjukkan kemaknaan pada analisa bivariat. Hasil: IgG anti Helicobacter Pylori positif didapat pada 37 perempuan (67,3%) kelompok kasus, dan 19 perempuan (34,5%) kelompok kontrol. Prevalensi Helicobacter Pylori seropositif pada kelompok kasus 56,97% - 77,63% dan pada kelompok kontrol 29,96% - 39,04% (95% CI). Terdapat hubungan bermakna antara infeksi Helicobacter Pylori dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,001). Didapati pula hubungan bermakna antara indeks masa tubuh (IMT) 25 dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,014). Tidak didapati perbedaan bermakna pada usia, pendidikan, pekerjaan serta jumlah anak. Kesimpulan: Perempuan hamil muda yang terinfeksi Helicobacter Pylori dan perempuan hamil muda dengan berat badan berlebih, berisiko lebih tinggi mengalami Hiperemesis Gravidarum. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 143-50] Kata kunci: infeksi helicobacter pylori, serologi, hiperemesis gravidarum
Perbandingan ekspresi p53, Bcl-2, dan indeks apoptosis trofoblas pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normal K. KEMAN
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 3, July 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.95 KB)

Abstract

Tujuan: Membuktikan bahwa, jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada sampel jaringan trofoblas yang berasal dari kehamilan dengan preeklampsia/eklampsia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kehamilan normal. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang, dan Lab Biomedik FKUB Malang. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi laboratorium secara potong lintang; dengan teknik imunohistokimia untuk pengamatan ekspresi protein Bcl-2 dan p53, dan teknik DNA-terfragmentasi (TUNEL) untuk menghitung indeks apoptosis. Sampel jaringan trofoblas berasal dari biopsi jaringan plasenta preeklampsia/eklampsia, dibandingkan dengan persalinan normal (n = 20). Variabel bebas: p53, Bcl-2, apoptosis. Variabel tergantung: preeklampsia/eklampsia. Analisa statistik menggunakan Independent t test (p ≤ 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel-sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada kelompok kehamilan normal (4,70± 1,829), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/eklampsia (4,70± 1,829), (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi protein Bcl-2 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (20,30±5,774), dibandingkan kelompok preeklampsia/eklampsia (9,90± 1,912) (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein p53 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (8,20 ±2,898), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/preeklampsia (22,70±4,990) (t test; p≤0,000). Kesimpulan: Jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada jaringan trofoblas preeklampsia/eklampsia lebih tinggi daripada kehamilan normal. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 151-9] Kata kunci: trofoblas, indeks apoptosis, p53, Bcl-2, preeklampsia, eklampsia

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue