cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Medika Muda
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 10 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA CARDIOTHORACIC RATIO DENGAN LEFT VENTRICULAR EJECTION FRACTION PADA PASIEN CHRONIC HEART FAILURE Sukma Imawati; Nasirun Zulkarnaen
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Chronic Heart Failure (CHF) merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas seluruh populasi di dunia. Prevalensi CHF simptomatis di kawasan Eropa mencapai 0,4–2% populasi. Ukuran jantung diperkirakan dari pemeriksaan X foto thorax dengan pengukuran Cardiothoracic Ratio (CTR). CHF banyak berkaitan dengan disfungsi sistol ventrikel kiri yang ditandai dengan penurunan Left Ventricular Ejection Fraction (LVEF). Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan antara CTR dengan LVEF pada pasien CHF.Metode: Studi observasional analitik dengan rancangan belah lintang terhadap pasien CHF (n=30) di Rawat Jalan dan Rawat Inap Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler RSUP Dr. Kariadi Semarang dipilih secara konsekutif dari bulan Januari sampai dengan Juni 2010. CTR dinilai dari pemeriksaan X foto Thorax PA dan LVEF dinilai dari pemeriksaan ekhokardiografi metode M- mode/Teicholz. Hubungan antara CTR dengan LVEF dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Hasil: Dari 30 subyek penelitian terdapat 13 orang moderat cardiomegaly (43,3%), 12 orang mild cardiomegaly (40%), 3 orang no cardiomegaly (10%) dan 2 orang severe cardiomegaly (6,7%). Hasil uji statistik menunjukkan hubungan terbalik antara CTR dan LVEF dengan correlation coefficient (r) = -0,705 dan nilai p<0,05 (p=0,000). Hubungan ini dikategorikan memiliki korelasi baik atau derajat tinggi antara CTR dan LVEF.Simpulan: CTR dan LVEF pada pasien CHF mempunyai hubungan terbalik dengan kategori korelasi baik atau derajat tinggi. Kata kunci: Chronic Heart Failure (CHF), Cardiothoracic Ratio (CTR), Left Ventricular Ejection Fraction (LVEF)
PELAKSANAAN PENGEMBANGAN JENJANG KARIR PERAWAT DI RUMAH SAKIT Muhammad Hasib Ardani; Retno Mulyani Kurniastanti
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pelaksanaan sistem jenjang karir memacu profesi perawat untuk meningkatkan kualitas diri sesuai dengan peminatan masing-masing. Hal ini akan menstimulasi perawat untuk dapat memberikan pelayanan keperawatan yang optimal. Namun demikian ada perawat yang belum berpendapat tentang pelaksanaan dan prosesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi perawat dalam pelaksanaan pengembangan jenjang karir.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan penelitian adalah survei. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat RSUP Dr. Kariadi Semarang, dari berbagai jenjang karir perawat di unit pelayanan rawat inap. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 90 perawat dengan teknik pengambilan sampel propotionate stratified random sampling.Simpulan: Penelitian menunjukkan persepsi perawat secara keseluruhan persepsi perawat dalam pelaksanaan pengembangan jenjang karir perawat sebagian besar adalah cukup baik sebanyak 67,8%. meliputi persepsi pelaksanaan pendaftaran 78,9% cukup baik, persepsi pelaksanaan penilaian kompetensi sebesar 75,6% cukup baik, persepsi pemberian rekomendasi sebagian besar cukup baik sebesar 66,7% persepsi pemberian jenjang karir baru sebanyak 73,3% cukup baik.Saran untuk rumah sakit khususnya menyiapkan sistem jenjang karir perawat berdasarkan kompetensi yang meliputi alur, model, uji kompetensi dengan cara memberikan informasi yang jelas dan mudah di pahami oleh perawat. Kata kunci: Jenjang karir, perawat
PERBANDINGAN UJI TARIK DUA SKRUP PEDIKEL DENGAN PENGHUBUNG ANTARA METODE MAGERL DAN METODA ROY CAMILLE (Suatu penelitian biomekanik dengan model vertebra thorakolumbal cadaver) Agus Priambodo; Subroto Sapardan
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pedikel adalah bagian yang terkuat dari vertebra. Dalam pemasangan skrup pedikel, yang cukup popular dilakukan di Indonesia adalah metoda menurut Magerl dan Roy Camille. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur selisih kekuatan fiksasi dua skrup pedikel antara teknik pemasangan menurut Magerl dan teknik pemasangan menurut metoda Roy Camille.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian biomekanik yang dilaksanakan dengan disain penelitian eksperimental.Hasil: Dengan metode Roy Camille, nilai rata-rata kekuatan tarikan yang dibutuhkan untuk terjadinya pullout adalah sebesar 2016,7 Newton, sedangkan dengan metode Magerl sebesar 1891,7 Newton. Mean perbandingan kekuatan melawan tarikan antara kedua metode sebesar 125, dengan standar deviasi 113,1. dengan menggunakan uji rangking Wilcoxon menunjukkan bahwa perbedaan kekuatan melawan tarikan antara kedua metode bermakna (p=0,002 )Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada kekuatan yang dibutuhkan untuk melepas dua skrup pedikel yang dipasang menurut metode Roy Camille dengan yang dipasang menurut metode Magerl. Kata kunci: skrup pedikel, Roy Camille, Magerl
PERBEDAAN HASIL RETINOMETRI PRA BEDAH DENGAN PASCA BEDAH KATARAK Arief Wildan; Wilardjo Wilardjo
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Perkiraan tajam penglihatan pasca bedah katarak sangat diperlukan untuk memberikan informasi kepada pasien katarak sebelum operasi.Retinometer dapat mengukur potensial visus pasca bedah katarak pada kondisi lensa yang keruh.Ketepatan hasil pemeriksaan retinometri diharapkan dapat membantu menentukan prognosis penderita katarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan retinometri prabedah dengan pasca bedah berdasarkan derajat katarak senilis.Metode: Disian penelitian adalah pre post design yang dilakukan pada pasien katarak. Populasinya adalah penderita katarak senilis dengan sample yang memenuhi kriteira inkulsi dan eksklusi. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan retinometer prabedah dengan pupil lebar dan pemeriksaan retinometer pasca bedah. Derajat katarak diklasifikasikan menurut Japanese cooperative cataract epidemiology study group system (JCCES). Derajat 1 dan 2 dimasukan dalam kelompok 1 sedangkan untuk derajat 3 dan 4 dimasukan dalam kelompok 2. Data dianalisis menggunakan t-test.Hasil: Didapatkan 59 pasien katarak dengan rerata perbedaan hasil retinometri prabedah dengan pasca bedah pada kelompok 1 adalah 0,05 (p=0,04) sedangkan rerata perbedaan hasil retinometri pada kelompok 2 sebesar 0,23 (p=0,001). Terdapat perbedaan bermakna antara hasil retinometri pra bedah dan retrinometri pasca bedah pada kelompok 1 dan 2. Semakin tinggi derajat katarak ,perbedaan tersebut semakin besar.Simpulan: Semakin tinggi derajat katarak, retinometri prabedah mempunyai nilai yang semakin rendah dibandingkan dengan retinometri pasca bedah. Kata kunci: Retinometri, katarak
PENGARUH LATIHAN HATHA YOGA TERHADAP KUALITAS HIDUP DOMAIN FISIK YANG DIUKUR DENGAN KUESIONER WHOQOL-BREF PADA REMAJA OBESITAS Erna Setiawati; Suhartono Suhartono; I Made Widagda
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Prevalensi obesitas mulai meningkat di negara berkembang. Dampak negatif akibat obesitas menyebabkan penurunan kualitas hidup remaja. Remaja sangat berperan sebagai sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan produktivitasnya dalam menentukan keberhasilan suatu negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan Hatha Yoga terhadap kualitas hidup domain fisik pada remaja obesitas.Metode: randomized controlled pre and post experimental. Tempat: SMA Negeri 14 Semarang. Subjek: 23 murid SMA Negeri 14 Semarang yang memenuhi kriteria penelitian. Perlakuan: Subyek dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan diberi intervensi latihan Hatha Yoga  3 kali/ minggu selama 6 minggu, kelompok kontrol tidak diberi intervensi apapun. Kedua kelompok mengisi kuesioner WHOQOL-BREF domain fisik sebelum, setelah 3 dan 6 minggu perlakuan.Hasil: Perubahan rerata skor WHOQOL-BREF domain fisik. Tidak didapatkan peningkatan bermakna pada rerata skor WHOQOL- BREF domain fisik pada kelompok perlakuan setelah 3 minggu perlakuan (p=0,493) dan setelah 6 minggu perlakuan (p=0,083) maupun kelompok kontrol setelah 3 minggu perlakuan (p=0,094) dan 6 minggu setelah perlakuan (p=0,693). Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada rerata skor WHOQOL-BREF domain fisik antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah 3 minggu perlakuan (p=0,087) namun setelah 6 minggu perlakuan didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,005). Tidak didapatkan perbedaan bermakna peningkatan rerata skor WHOQOL-BREF domain fisik antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah 3 minggu perlakuan (p=0,684) dan setelah 6 minggu perlakuan (p=0,227).Simpulan: Latihan Hatha Yoga 3 kali/ minggu selama 6 minggu dapat meningkatkan kualitas hidup domain fisik remaja obesitas. Kata kunci: Latihan Hatha Yoga, kualitas hidup domain fisik, remaja obesitas
PERBANDINGAN HASIL APLIKASI TENS DAN LATIHAN VOLUNTER TERHADAP KEMAMPUAN DAN DURASI KONTRAKSI MAKSIMAL OTOT DASAR PANGGUL PADA WANITA LANSIA Tanti Ajoe Kesoema; Rudy Handoyo
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kelemahan otot-otot panggul, khususnya pada wanita lanjut usia dapat menyebabkan timbulnya bermacam-macam gangguan atau keluhan. Salah satu cara penanganannya adalah dengan memperkuat otot-otot tersebut. Penguatan otot dapat dihasilkan melalui latihan dengan kontraksi volunter metode Kegel atau kontraksi pasif dengan stimulasi listrik. Stimulasi listrik dapat diberikan pada individu yang tidak mampu melakuan kontraksi volunter oleh berbagai sebab. TENS (Transkutaneus Electrical Nerve Stimulation) merupakan salah satu modalitas elektrostimulasi yang dapat digunakan untuk membangkitkan kontraksi otot melalui stimulasi saraf. Sehingga kontraksi otot secara pasif dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dasar panggul bagi para wanita lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil aplikasi TENS dan latihan volunter terhadap kemampuan dan durasi kontraksi maksimal otot dasar panggul.Metode: Penelitian ini adalah Pre and post test design yang terdiri dari 34 wanita lansia berusia 60–65 tahun. Subyek dibagi menjadi 2 kelompok secara random. Kelompok pertama adalah kelompok yang melakukan latihan volunteer dan kelompok kedua adalah kelompok yang mendapatkan intervensi TENS. Hasil: Sesudah perlakuan, baik pada kelompok latihan volunter maupun kelompok TENS terdapat peningkatan kemampuan kontraksi maksimal otot dasar panggul secara bermakna (p<0,05). Kemampuan kontraksi otot dasar panggul pada kelompok latihan volunter secara bermakna lebih besar daripada kelompok TENS (p<0,05). Durasi kontraksi maksimal pada kelompok latihan memperlihatkan peningkatan yang bermakna (p=0,000) sedangkan pada kelompok TENS tidak (p=0,188). Dibanding kelompok TENS, latihan volunter menghasilkan durasi kontraksi maksimal yang lebih besar secara bermakna (3,78 vs. 1,63).Simpulan: Dibandingkan dengan aplikasi TENS, latihan volunter otot dasar panggul memberi manfaat yang lebih besar dalam meningkatkan kemampuan dan durasi kontraksi maksimal otot dasar panggul. Kata kunci: lansia, otot dasar panggul, TENS, Kegel.
SENSIFITAS INDEK PERITONITIS MANNHEIM PADA PASIEN PERITONITIS GENERALISATA DEWASA DI RSUP DR. KARIADI Abdul Mughni; I Riwanto
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Peritonitis sampai saat ini merupakan masalah infeksi yang sangat serius, walaupun perkembangan antimikroba dan penanganan intensif sangat pesat, kematian kasus peritonis generalisata cukup tinggi yaitu antara 10–20%, di negara-negara berkembang angka kematian lebih tinggi lagi. Penelitian di Rio de Janeiro, Brazil didapatkan angka   kematian sebesar 61,8%, di Semarang RSUP Dr. Kariadi, Indonesia didapatkan angka kematian 54% .  Indek Peritonitis Mannheim (IPM) merupakan sistem skor untuk menilai prognosis pada pasien peritonitis dengan variabel yang lebih sederhana dibandingkan skor APACHE II. Tujuan studi ini adalah mengetahui seberapa besar sensitivitas dan spesifitas IPM pada pasien-pasien peritonitis generalisata dewasa di RSUP Dr. Kariadi.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain “Retrospektif Kohort” dengan mengumpulkan sampel melalui catatan medik. Sampel adalah pasien berumur ≥14 tahun yang menderita peritonitis generalisata yang menjalani operasi dan dirawat di RSUP Dr. Kariadi pada periode Januari 2009 – Desember 2010, dan pasien yang catatan mediknya tidak lengkap mencantumkan variabel IPM akan dieksklusi dari penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan software SPSS 16.00 for Windows dengan membandingkan masing-masing variabel pada IPM antara pasien dengan outcome meninggal dan pasien dengan outcome survive (hidup) ditentukan nilai probabilitasnya (p) dan nilai Relative Risk (RR) terhadap kematian pasien. Kemudian dilanjutkan dengan spesifitas dan sensitifitas dan cut off point IPM terhadap pasien dengan peritonitis generalisata.Hasil: Pada penelitian ini terdapat 51 pasien dengan peritonitis generalisata dengan rerata umur 49,63 tahun (SD 18,03; range 14–85 tahun), 13 pasien adalah wanita (25,5%). Lama perawatan rerata 7 hari (range 7 jam–60 hari) dimana kematian terjadi pada 32 pasien (62,7%). Terdapat perbedaan pada variabel  kegagalan organ dan durasi penyakit antara pasien yang meninggal dengan pasien yang hidup (p=0,000; p=0,026). Didapat angka RR=8,18 pada kegagalan organ dan kematian dan RR=1,67 antara durasi ≥24 jam dan kematian. IPM memiliki sensitivitas sebesar 72% dan spesifisitas 79% dengan cut off point pada skor 26.Simpulan: IPM mempunyai sensitifitas 72% pada pasien peritonitis generalisata dewasa dengan cut off point 26, paling tidak terdapat 72% pasien meninggal dan bertambah pada peningkatan skor IPM .Hanya 2 variabel IPM ( kegagalan organ dan durasi penyakit) yang memiliki perbedaan bermakna antara pasien meninggal dan pasien hidup (survive). Dimana penderita peritonitis generalisata mempunyai risiko kematian 8,18 kali bila disertai kegagalan organ dan 1,67 kali bila durasi terjadinya peritonitis lebih dari atau sama dengan 24 jam. Kata kunci: Indeks peritonitis Mannheim, Peritonitis
HUBUNGAN ANTARA RINITIS ALERGI DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS AKUT BERULANG PADA ANAK Anna Mailasari Kusuma Dewi; Suprihati Suprihati; Edi Dharmana
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Saat ini kejadian rinitis alergi (RA) pada anak semakin meningkat. Pada penderita RA terdapat pergeseran Th0 menjadi Th2, serta peningkatan ekspresi ICAM 1 pada mukosa saluran nafas yang memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Tujuan penelitian ini adalah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara RA dengan ISPA akut berulang dan mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kejadian ISPA akut berulang pada anak.Metode: Penelitian observasional dengan rancangan belah lintang. Sampel adalah pasien berusia 3–14 tahun dengan keluhan sering batuk pilek yang berobat ke Klinik THT dan Klinik Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang. RA positif bila terdapat hasil positif salah satu alergen tes cukit kulit. Analisis data meliputi analisis deskriptif dan uji hipotesis menggunakan Chi square (CI 95%, p<0,05).Hasil: Jumlah subyek 70 anak, 44 dengan ISPA akut berulang dan 26 bukan ISPA akut berulang. Terdapat 45 anak dengan RA dan 25 tidak RA. Terdapat hubungan, yang bermakna antara ISPA akut berulang dengan RA (RP=3,5, 95% CI 1,250–9800, p=0,015). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara ISPA akut berulang dengan status gizi, anggota keluarga perokok dan kebiasaan mencuci tangan (p>0,05).Simpulan: RA berhubungan bermakna dengan kejadian ISPA akut berulang pada anak dan risiko terjadinya 3,5 kali lipat. Kata kunci: Rinitis alergi, infeksi saluran pernafasan atas akut berulang, anak
KORELASI ANTARA KADAR VITAMIN A DAN IL–12 SERUM PADA ANAK DENGAN MALARIA ASIMTOMATIK DI DAERAH ENDEMIS MALARIA Nakhwa Arkhaesi
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.521 KB)

Abstract

Latar belakang: Vitamin A memiliki peran sentral dalam kekebalan tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan adanya interaksi antara kadar vitamin A dengan malaria. IL-12 merupakan sitokin yang dapat menginduksi respon imun. IL-12 dapat  menghambat dan efek sitotoksik terhadap parasit intrasel termasuk malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar Vitamin A dan IL-12 serum pada anak dengan malaria asimtomatih di daerah endemis malaria.Metode: Penelitian belah lintang dilakukan di 2 desa dengan HCI malaria tertinggi di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Subyek penelitian adalah 77 anak usia 6–14 tahun yang dipilih secara acak. Anak dengan demam (>37,2°C) dan ada gejala malaria tidak digunakan sebagai sebyek penelitian. Diagnosis malaria dilakukan dengan Rapid diagnostic test (RDT), preparat hapus darah tepi tipis dan tebal. Kadar vitamin A dan IL-12 diukur dari sampel darah vena dengan metode ELISA.Hasil: Pemeriksaan RDT menunjukkan 5 anak negative, 70 anak terinfeksi P, falciparum dan 2 anak dengan P. vivax. Kadar vitamin A serum 28,97 ± 8,009 μg/L dan kadar IL-12 serum 3,36 ± 3,327 pg/mL. Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi positif yang bermakna antara kadar vitamin dan IL-12 serum ((r=0,32;p=0,005).Simpulan: Kadar vitamin A berkorelasi dengan IL-12 serum pada anak dengan malaria asimtomatik di daerah endemis malaria Kata kunci: malaria asimtomatik, vitamin A, IL-12.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP PASIEN HIV/AIDS YANG MENJALANI PERAWATAN DI RSUPN CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA Henni Kusuma
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.375 KB)

Abstract

Latar belakang: Penyakit HIV/AIDS bersifat kronis dan progresif sehingga berdampak luas pada segala aspek kehidupan baik fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual penderitanya. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien HIV/AIDS diantaranya yaitu jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status marital, pekerjaan, kondisi ekonomi, lama menderita penyakit, stadium penyakit, masalah psikososial (depresi), dan dukungan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien HIV/AIDS.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang dengan sampel sebanyak 92 responden dengan teknik purposive sampling. Adapun pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup dan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pria (70,7%), berpendidikan tinggi (93,5%), bekerja (79,3%), tidak kawin (52,2%), berpenghasilan tinggi (68,5%), stadium penyakit lanjut (80,4%), depresi (51,1%), dukungan keluarganya non-supportif (55,4%), dankualitas hidup kurang baik (63,0%). Dari hasil analisis korelasi pada alpha 5% didapatkan ada hubungan yang bermakna antara depresi, dukungan keluarga, jenis kelamin, pendidikan, status marital, pekerjaan, penghasilan, dan stadium klinis penyakit dengan kualitas hidup (p=0,000; p=0,000; p=0,009; p=0,048; p=0,021; p=0,047; p=0,041; p=0,000). Selanjutnya, hasil uji regresi logistik menunjukkan responden yang mengalami depresi dan mempersepsikan dukungan keluarganya non-supportif beresiko untuk memiliki kualitas hidup kurang baik setelah dikontrol oleh jenis kelamin, status marital, dan stadium penyakit. Selain itu, diketahui pula bahwa dukungan keluarga merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kualitas hidup dengan nilai OR=12,06.Simpulan: Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu dilakukan intervensi untuk memberdayakan keluarga agar senantiasa memberikan dukungan pada pasien HIV/AIDS. Selain itu, upaya pencegahan serta penanganan terhadap masalah depresi juga perlu dilakukan agar dapat memperbaiki kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Kata kunci: kualitas hidup, HIV/AIDS

Page 1 of 1 | Total Record : 10