cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
METANA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016" : 5 Documents clear
Pangan Fungsional Dari Tanaman Lokal Indonesia Kusumayanti, Heny; Hanindito, Satrio Bagus; Mahendrajaya, Robertus Triaji
METANA Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.53 KB) | DOI: 10.14710/metana.v12i1.17512

Abstract

Masyarakat lebih suka mengkonsumsi makanan dengan nutrisi dan protein yang baik dan berguna untuk kesehatan sehingga mereka dapat menikmati hidup dengan cara yang lebih sehat. Cara hidup yang sehat harus dimulai dari diri kita sendiri. Pangan fungsional merupakan makanan dan bahan pangan yang dapat memberikan manfaat tambahan di samping mempunyai fungsi gizi dasar pangan tersebut sesuai dengan posisinya dan bisa bermanfaat bagi kesehatan. Pangan lokal Indonesia adalah merupakan potensi yang bisa dikembangkan menjadi makanan fungsional. Misalnya: jagung (zea mays), ubi jalar (Ipomoea batatas), belimbing, wortel, juga sumber bahan makanan tambahan dari hasil laut dari golongan mikroalga. Tujuan dari paper review ini adalah untuk mengetahui berbagai macam olahan lokal di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk pangan fungsional.   Functional Food From Indonesian Local Plants People prefer to consume foods with good nutrition and protein and are useful for health so they can enjoy life in a healthier way. A healthy way of life should start from ourselves. Functional food is food and food that can provide additional benefits in addition to having the basic nutritional function of the food in accordance with its position and can be beneficial to health. Indonesian local food is a potential that can be developed into functional food. For example: zea mays, Ipomoea batatas , starfruit, carrots, as well as additional sources of food from marine products from the microalgae. The purpose of this paper review is to know the various local proceses in Indonesia that can be utilized for functional food.
Optimalisasi Penggunaan Alat Praktikum Power Supply Switching dengan Menggunakan Topologi Half Bridge Konverter sebagai Alat Bantu Praktikum Elektronika Analog Enny, Enny
METANA Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.587 KB) | DOI: 10.14710/metana.v12i1.17509

Abstract

Power supply merupakan perangkat keras yang mampu menyuplai tenaga atau tegangan listrik secara langsung dari sumber tegangan listrik ke tegangan listrik yang lainnya. Power supply memiliki input dari tegangan yang berarus alternating current (AC) dan mengubahnya menjadi arus direct current (DC) yang nantinya digunakan untuk mensuplai peralatan elektronik yang membutuhkan arus searah. Power supply terbagi menjadi dua yaitu power supply linear dan power supply switching. Pada power supply switching yang akan dioptimalkan dalam penggunaannya menggunakan topologi half bridge konverter. Topologi half bridge konverter memiliki beberapa keunggulan yaitu mudah untuk membuat output yang banyak dan mudah dalam pengontrolannya. Proses switching pada half bridge konverter mengunakan mosfet IRFP 460 dan dijalankan menggunakan IC UC SG3525 dengan frekuensi switching 40 KHz. Dalam mengoptimalkan  alat ini, menggunakan suplai 220 Volt AC lansung disearahkan menggunakan dioda, dan di filter menggunakan kapasitor. Hasil penyerahan tersebut kemudian masuk ke half bridge konverter, yang di jalankan oleh SG 3525 dan mosfet IRFP 460, kemudian masuk kedalam rangkaian filter output, dan siap digunakan. Keluaran pada power supply ini dapat diatur sesuai kebutuhan dengan rentang tegangan 0 Volt sampai 23,33 Volt, 10 A. Power supply ini juga dilengkapi dengan rangkaian feedback, sehingga tegangan keluar dapat stabil.Serta dapat diatur sesuai kebutuhan dalam praktikum Elektronika Analog khususnya dalam unit percobaan Clipper dan unit percobaan Gate . Abstract Optimizing the Use of Power Supply Switching Practice Tools Using Topology Half Bridge Converter As A Tool for Analogue Electronics Practise Power supply is a hardware that can supply power or voltage directly from the source voltage to the other electrical voltage. The power supply has input from alternating current (AC) voltage and converts it into direct current current (DC) which will be used to supply electronic equipment requiring direct current. Power supply is divided into two: linear power supply and switching power supply. In the switching power supply that will be optimized in its use using a half bridge converter topology. The converter half bridge topology has several advantages: it is easy to make a lot of output and easy to control. The switching process in half bridge converter uses IRFP 460 mosfet and runs UC SG3525 IC with 40 KHz switching frequency. In optimizing this tool, use 220 volt AC supply directly rectified using diode, and in filter using capacitor. The result then goes to the half bridge converter, which is run by SG 3525 and IRFP 460 mosfet, then goes into the output filter circuit, and ready to use. Output on this power supply can be adjusted as needed with voltage range 0 Volt to 23.33 Volt, 10 A. Power supply is also equipped with feedback circuit, so the out voltage can be stabilized. And can be arranged according to requirement in Analog Electronics especially in unit Clipper experiment and Gate experimental unit.
Pengaruh Perbaikan Instalasi Penerangan Terhadap Tahanan Isolasi, Tegangan Dan Kuat Cahaya Yang Dihasilkan Setiono, Iman; Moedijono, Moedijono
METANA Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.441 KB) | DOI: 10.14710/metana.v12i1.17508

Abstract

Fungsi dari lampu adalah untuk membuat penerangan buatan khususnya pada malam hari. Tingkat kualitas pencahayaannya menjadi prioritas agar supaya lampu dapat diberdayakan se maksimal mungkin. Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas tingkat pencahayaan pada lampu adalah keandalan instalasi, stabilitas besarnya tegangan listrik dan kualitas lampunya sendiri. Dengan berdasarkan faktor yang tersebut diatas , maka dilakukan  perbaikan instalasi penerangan.Yang menjadi tujuan dari program ini adalah untuk memperbaiki instalasi penerangan sehingga dapat di berdayakan semaksimal mungkin. Metode yang digunakan adalah teknis aplikatif, artinya dilakukan dengan langsung terjun kelapangan untuk memberikan contoh cara-cara memperbaiki lampu penerangan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang ada.Hasilyang diperoleh ternya ada pengaruh antara kualitas instalasi penerangan dengan tahanan isolasi , tegangan kerja lampu , serta kuat cahaya yang dihasilkan.Harga tahanan isolasi meningkat secara signifikan berkisar antara 200 sampai 218 M ohm, tegangan kerja antara 198 sampai dengan 220 volt , sedangkan kuat cahaya yang dihasilkan adalah ntara 1460 sampai dengan 1500 lumen. Hal ini dapat dipahami karena dengan instalasi yang bagus , maka kerugian-kerugian yang ditimbulkan karena instalasi sudah saat diganti dapat dihindari , hal sesuai ketentuan yang ada di Peraturan Umum Instalasi Listrik.(PUIL). Abstract Effect of Improvement of Lighting Installation on Isolation Resistant, Voltage And Strong Light Generated The function of the lamp is to make artificial lighting especially at night. The level of lighting quality is a priority so that the lights can be empowered to the maximum possible. Some of the factors that affect the quality of the lighting level on the lamp are the reliability of the installation, the stability of the magnitude of the voltage and the quality of the lamp itself. Based on the factors mentioned above, the repair of lighting installation is done. The goal of this program is to improve the lighting installation so that it can be done as much as possible. The method used is technical applicative, meaning that is done with direct plunge spaciousness to give examples of ways to improve the lighting of good and correct in accordance with existing rules. The result is that there is an influence between the quality of the lighting installation with the isolation resistance, the working voltage of the lamp, and the resulting light strength. The insulation resistance rate increases significantly between 200 to 218 M ohms, the working voltage is between 198 to 220 volts, Resulting from 1460 to 1500 lumens. This can be understood because with a good installation, the losses caused by the installation when replaced can be avoided, in accordance with the provisions of the General Electric Installation Regulations (PUIL). 
Ekstraksi Pektin Dari Kangkung Darat Menggunakan Pelarut Asam Sitrat Irawan, T. A. Bambang; Prihanto, Antonius
METANA Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.125 KB) | DOI: 10.14710/metana.v12i1.17510

Abstract

Kangkung tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Di Indonesia kangkung tumbuh subur dan memiliki siklus perkembangan panen yang tiap tahun meningkat. Wawasan tentang pemanfaatan kangkung di masyarakat masih minim. Oleh karena itu untuk menambah wawasan tentang pemanfaatan kangkung di masyrakat, kangkung dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif pembuatan pektin.  Jumlah pektin yang terkandung di dalam kangkung tersebut berkisar 6,71 % per 100 gram kakngkung darat kering. Pektin merupakan polimer dari asam D-Galakturonat yang dihubungkan oleh ikatan ß -1,4 glikosidik. Untuk menguraikan pektin didalam kangkung darat  dapat dilakukan dengan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut asam kemudian ditambahkan etanol kedalam filtrat untuk mengendapkan pektin dan proses terakhir dilakukan pengeringan untuk mendapatkan pektin kering. Penelitian ini dilakukan dengan menambahkan asam sitrat dengan range pH 1,5; 2; 2,5 (sebagai variabel) dan dengan waktu ekstraksi 60, 75, 90 menit (sebagai variable). Hasil penelitian m,enunjukan bahwa pektin terbaik dapat diperoleh pada pH 2 pada waktu proses 75 menit dengan rendemen 3,25%, kadar air 7,14 %, dan kadar metoksil 5,9 %. Extraction of Pectin From Kale Using Citrate Acid Solvent Kale classified as a vegetable is very popular, because many devotees. In  Indonesia kale thrive and have the development cycles of harvest each year is increasing. Insights on the use of kale in the community is still minimal. Therefore, to add knowledge about the use of kale in society, kale can be used as an alternative energy source the manufacture of pectin. Total pectin contained in the swamp around 6.71% per 100 grams of dry ground kakngkung. Pectin is a polymer of D-galacturonic acid linked by ß -1,4 glycosidic bonds. To decipher the pectin in the swamp land can be done by using a solvent extraction method with acid is then added ethanol added to the filtrate to precipitate pectin and final drying process to obtain dry pectin. This research was conducted by adding citric acid to a pH range of 1.5; 2; 2.5 (variable) and the extraction time of 60, 75, 90 minutes (as a variable). M research results, the best enunjukan that pectin can be obtained at pH 2 at runtime 75 minutes with a yield of 3.25%, 7.14% moisture content, and the content of methoxyl 5.9%.
Pengaruh Temperatur, Kecepatan Putar Ulir Dan Waktu Pemanasan Awal Terhadap Perolehan Minyak Kemiri Dari Biji Kemiri Dengan Metode Penekanan Mekanis (Screw Press) Chynintya R.P., Galuh; Paramita, S.T., M.M., M.Eng, Vita
METANA Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.897 KB) | DOI: 10.14710/metana.v12i1.17511

Abstract

Kemiri (Aleurites moluccana) adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah. Biji yang terdapat di dalamnya memiliki lapisan pelindung yang sangat keras dan mengandung minyak yang cukup banyak yaitu 63 gram per 100 gram biji kemiri. Minyak kemiri termasuk kelompok minyak mengering (drying oil). Lemak dan minyak dapat diperoleh dari ekstraksi jaringan hewan atau tanaman dengan tiga cara, yaitu rendering, pengepresan (pressing), atau dengan pelarut. Dua cara yang umum dalam pengepresan mekanis yaitu pengepresan hidrolik (hydraulic pressing) dan pengepresan berulir (screw pressing). Cara screw pressing memerlukan perlakuan pendahuluan yang terdiri dari proses pemasakan atau tempering. Objek dalam penelitian ini yaitu untuk memperlajari pengaruh temperatur, kecepatan putar ulir dan waktu pemanasan awal terhadap rendemen minyak kemiri. Biji kemiri dipanaskan pada suhu 60, 70 dan 80ºC dengan variabel waktu (60 dan 90 menit). Biji kemiri tersebut dipres dengan variabel suhu (60, 70 dan 80ºC) dan kecepatan putar ulir (170 dan 220 rpm). Kemudian dilakukan pemisahan antara ampas dan minyak dengan menggunakan sentrifuge. Analisa yang akan dilakukan terhadap produk adalah rendemen, densitas, viskositas, bilangan asam, bilangan penyabunan dan uji organoleptik. Dari penelitian yang telah dilakukan, minyak yang memiliki warna dan kekeruhan yang paling baik serta nilai bilangan asam dan bilangan penyabunan sesuai dengan syarat baku mutu adalah minyak dengan perlakuan suhu 60ºC, waktu pemanasan awal 60, dan kecepatan 170 rpm. Nilai bilangan asam pada perlakuan ini sebesar 6,91 mg KOH/gr minyak dan nilai bilangan penyabunan sebesar 184,45 mg KOH/gr minyak. Namun perolehan yieldnya rendah yaitu sebesar 10,74 %. Effect of Temperature, Thin Turning And Warming Up Time Of Oil Acquired Candlenut From Mechanized Pressure (Screw Press)Candlenut (Aleurites moluccana) is a plant whose seeds are used as a source of oil and spices. The seeds have a very hard protective layer and contain a considerable amount of oil that is 63 grams per 100 grams of candlenut. The candlenut oil belongs to the drying oil group (oil draining). Fats and oils can be obtained from the extraction of animal or plant tissue in three ways, namely rendering, pressing, or with solvent. Two common ways of mechanical pressing are hydraulic pressing and screw pressing. The screw pressing requires preliminary treatment consisting of cooking or tempering process. The object of this research is to study the effect of temperature, rotary velocity and initial heating time to the yield of candlenut oil. The candlenut seeds were heated at 60, 70 and 80ºC with variable time (60 and 90 minutes). The seeds were pressed with temperature variables (60, 70 and 80ºC) and screw rotation speed variables (170 and 220 rpm). The separation between the waste and oil were using centrifugal. The analysis on the product were including the rendement, density, viscosity, acid number and saponification. The most similar to the required quality standar of candlenut oil which is including color, turbidity, the value of acid and saponification number were found to the oil heated at 60ºC with initial heating time of 60, and screw rotation speed of 170 rpm. The value of acid number and saponification number of this treatment were 6.91 mg KOH / g of oil and 184.45 mg KOH / g of oil, respectively. However, the yield obtained was low at 10.74% 

Page 1 of 1 | Total Record : 5