cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024" : 15 Documents clear
DHF Endemicity and Aedes aegypti Larvae Density Mapping in West Purwokerto Community Health Center’s Working Area in 2023 Ikkas Atha Putri Salsabila; Aris Santjaka; Nur Utomo
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.137-145

Abstract

Latar belakang: Kecamatan Purwokerto Barat merupakan wilayah endemis yang memiliki banyak kasus Demam Berdarah (DBD). Faktor yang mempengaruhi kasus DBD adalah kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti yang berhubungan dengan kinerja jumantik karena berperan langsung dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Faktor lain yang berhubungan dengan kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti yaitu kondisi lingkungan curah hujan. Analisis spasial menggunakan aplikasi sistem informasi geografis (SIG) dapat digunakan untuk mengetahui model penularan kasus DBD, tingkat kepadatan jentik nyamuk, Angka Bebas Jentik (ABJ) dan kinerja Juru Pemantau Jentik (jumantik) sebagai salah satu upaya pengendalian kasus DBD.Metode: Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran kasus DBD dan kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti melalui pemetaan yang dirancang dengan pemodelan SIG.Hasil: Terdapat 78 kasus DBD yang tersebar pada 7 kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Barat. Model penularan kasus DBD yaitu 15 secara cluster dan 15 secara separated. Kasus DBD berkaitan dengan fluktuasi curah hujan dimana curah hujan yang sangat tinggi diiringi dengan penurun kasus DBD. Hasil analisis spasial kepadatan jentik yang mempengaruhi kasus DBD yaitu terdapat 6 kelurahan dengan kasus DBD yang memiliki kategori indikator CI, HI dan BI rendah dengan nilai ABJ ≥ 95% dan 1 kelurahan dengan kasus paling sedikit memiliki kategori sedang dengan nilai ABJ < 95%.Simpulan: Model penularan DBD yaitu secara cluster dan separated. Kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Barat berkaitan dengan curah hujan tetapi tidak berkaitan dengan kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti dan kinerja jumantik. ABSTRACT Title: DHF Endemicity and Aedes aegypti Larvae Density Mapping in West Purwokerto Community Health Center’s Working Area in 2023Background: The West Purwokerto district is an endemic area with a high incidence of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases. Factors that influence DHF cases are Aedes aegypti larvae density related to Jumantik performance because has a direct impact on PSN activities. Another factor related to Aedes aegypti larvae density is the amount of rainfall in the area. Spatial analysis using Geographic Information System (GIS) applications can determine the transmission model of DHF cases, mosquito larvae density level, ABJ (larvae-free index), and jumantik performance as one of the efforts to control DHF cases. Methods: The research method employed was qualitative with an exploratory approach. This research was conducted to get an overview of DHF cases and the density of Aedes aegypti mosquito larvae through mapping designed with GIS modeling. Results: In the working area of the West Purwokerto Community Health Center, there were 78 DHF cases spread across 7 sub-districts. The DHF transmission model consisted of 15 clusters and 15 separated cases. DHF cases are linked to rainfall, with extremely high rainfall leading to decreased DHF cases. The results of the larvae density spatial analysis show that 6 villages with DHF cases have low CI, HI, and BI indicator categories with larvae-free index values of ≥ 95%, and 1 village with at least cases having a medium category with larvae-free index values of < 95%.Conclusion: DHF cases are transmitted in contagious clusters and separated. DHF cases in the West Purwokerto Community Health Center’s working area are related to rainfall but not to mosquito larvae density.
Analisis Luas Bukaan Udara Penyimpanan Makanan terhadap Kadar Air dan Total Jamur Makanan Terkemas Bioplastik Yosephina Ardiani Septiati; Mimin Karmini; Ade Kamaludin; Fatimah Fatimah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.226-233

Abstract

Latar belakang: Pengemas makanan berinteraksi dengan lingkungan  dan  makanan sehingga mempengaruhi  kualitas makanan.Bioplastik berbasis pati bersifat penghalang tinggi terhadap uap air dan gas O2 yang dapat mengantikan palstik sintetis. Aman untuk makanan dan kesehatan karena tidak melepaskan polimer plastik kemakanan. Penyimpanan makanan dengan aliran udara rendah menyebabkan bioplastik berjamur. Aman untuk makanan dan kesehatan karena tidak melepaskan polimer plastik kemakanan. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh bukaan udara tempat penyimpanan makanan  terhadap kadar air dan total jamur makanan terkemas bioplastik.Metode: Penelitian  eksperimen skala lapangan, desain post test with control. Variabel penelitian yaitu bukaan udara tempat penyimpanan  sebagai variabel independen dan variabel dependennya adalah  kadar air dan  total jamur pada dodol  dikemas bioplastik. Sampel yang digunakan dodol Garut diambil secara acak. Penelitian dilaksanakan bulan Februari-September 2023. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium menggunakan mikrometer skrup, thermohygrometer, timbangan analitik dan coloni counter. Analisis deskriptif untuk ketebalan bioplastik, dan uji kruskal wallis untuk pengaruh luas bukaan udara terhadap total jamur dan kadar air makanan.  Hasil: Bioplastik penambahan 4 ml gliserol dengan ketebalan 0,026 mm, mampu menghalangi pencemar terbesar pada luas bukaan udara tempat penyimpanan makanan 262,60 mm2 dan 423,90 mm2 dengan kadar air dan total jamur terendah. Menunjukan ada pengaruh luas bukaan udara tempat penyimpanan makanan terhadap kadar air dan kandungan Total jamur makanan.Simpulan:  Paparan lingkungan mempengaruhi bioplastik sebagai pengemas, mencegah paparan   air dan Total Jamur pada makanan, sehingga bioplastik dapat  menjadi alternatif sebagai pengemas primer dodol. ABSTRACTTitle: Analysis of The Area of Air Release in The Storage Area on The Air Content and Total Fungi on Bioplastic Packaged.Background: Food packaging interacts with the environment and food, thus affecting food quality. Starch-based bioplastics have a high barrier to water vapor and O2 gas which can replace synthetic plastics. Safe for food and health because it does not release food plastic polymers. Food store with low air flow causes bioplastics to fungus quickly.The research aims to analyze the effect of destroying the air in food storage areas on the air and total fungus content of bioplastic packaged foods.Method: Field-scale experimental research, post-test design with control. The independent variable was air release from the storage area and the dependent variable was water content and total fungus in dodol packaged in bioplastic. The sample was Garut dodol, taken using a random sampling technique. The research was carried out in February-September 2023. Data was collected through physical test and laboratory test using a screw micrometer, thermohygrometer, analytical balance, and colony counter. Descriptive analysis for bioplastic thickness, and the Kruskal Wallis test to influence the area of air openings on total fungus and food moisture content.Results: Bioplastic with the addition of 4 ml of glycerol with a thickness of 0.026 mm, was able to block the largest pollutants in the air permit area of food storage areas of 262.60 mm2 and 423.90 mm2 with the lowest water content and total Fungus. Shows the influence of the air area where food is stored on the air content and total food fungus content.Conclusion: Environmental exposure affects bioplastics as packaging, preventing exposure to water content  and total of fungus in food, so bioplastics can be an alternative as primary packaging for dodol. 
Risk Identification of Hazardous Biological and Chemical Substances in Work Safety Efforts Hanif Murnia Atma; Anita Dewi Prahastuti Sujoso; Ari Satia Nugraha
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.191-199

Abstract

Latar Belakang: Laboratorium pendidikan merupakan salah satu sistem penunjang akademik dan memiliki peran dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di perguruan tinggi. Kegiatan di laboratorium pendidikan yang menggunakan bahan biologi dan kimia berpotensi menimbulkan infeksi dan kontaminasi terhadap pekerja laboratorium dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis standar operasional penggunaan bahan biologi dan kimia berbahaya serta praktik keselamatan kerja di laboratorium pendidikan di Universitas Jember.Metode: jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional. Lokasi penelitian yang diamati adalah sembilan laboratorium pendidikan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah SOP penggunaan bahan biologi (7 komponen) dan SOP penggunaan bahan kimia berbahaya (8 komponen).Hasil: Hasil observasi dan analisis menunjukkan bahwa laboratorium mikrobiologi, laboratorium biologi molekuler dan bioteknologi, laboratorium kedokteran molekuler, dan laboratorium biomaterial dan rekayasa bioproses memiliki standar yang baik dalam penggunaan bahan biologi (menerapkan 6 dari 7 komponen). Sementara itu, standar penggunaan bahan kimia berbahaya di laboratorium biologi molekuler dan bioteknologi dan laboratorium molekuler cukup baik (menerapkan 6 dari 8 komponen).Simpulan: berdasarkan komponen standar di laboratorium pendidikan tersebut, setidaknya ada dua standar yang sudah diterapkan, yaitu mencuci tangan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja dengan bahan berbahaya di laboratorium. ABSTRACTBackground: Educational laboratories are an academic supporting system and have a role in improving educational quality, especially in tertiary institutions. Activities in educational laboratories that use biological and chemical materials can potentially cause infection and contamination of laboratory workers and the surrounding environment. Thus, this research aims to identify and analyze operational standards for the use of hazardous biological and chemical substances and work safety practices in educational laboratories at the University of Jember. Methods: This type of research is descriptive observational. The research locations were in nine educational laboratories. The variables observed in this study were SOPs using hazardous biological materials (7 components) and SOPs using chemicals (8 components). Result: The observation and analysis results showed that the Laboratory of Microbiology, Laboratory of Molecular Biology and Biotechnology, Laboratory of Molecular Medicine, and Laboratory of Biomaterials and Bioprocess Engineering had good standards for using hazardous biological materials (applying 6 out of 7 components). Meanwhile, standards for using chemicals in the Laboratory of Molecular Biology and Biotechnology and the Laboratory of Molecular Medicine were also quite good (applying 6 out of 8 components). Conclusions: Based on these standard components in the educational laboratory, at least two standards have been implemented, such as washing hands and using Personal Protective Equipment (PPE) while working on hazardous substances in the laboratory.
Analisis Most Probable Number (MPN) Coliform dan Escherichia coli Pada Air Sumur Bor di Pemukiman Warga Kelurahan Pucangsawit Surakarta Aulia Nur Rahmawati; Dian Wahyu Utami; Dwi Saryanti; Bayu Kurniaaji
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.146-152

Abstract

Latar belakang: Air adalah salah satu sumber daya alam yang berperan penting bagi kehidupan makhluk hidup yang mendiami permukaan bumi, maka keberadaannya harus dilindungi untuk medukung kehidupan  bagi manusia atau makhluk hidup lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui nilai total coliform dan Escherichia coli pada air sumur bor yang digunakan masyarakat Dusun Pucangsawit dan mengetahui kesesuaian nilai  MPN coliform pada air sumur yang digunakan masyarakat Dusun Pucangsawit menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Lingkungan.Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah 10 sumur  yang terdapat Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Metode yang digunakan adalah pengujian MPN coliform dan petrifilm untuk Escherichia coli. Pengujian MPN dilaksanakan dengan dua tahap yaitu tes pendahuluan dan penegasan. Pengujian statistik regresi dilaksanakan untuk mengetahui hubungan jarak sumber pencemar dengan nilai MPN coliform dan Escherichia coli.Hasil : Hasil diperoleh bahwa tidak terdapat sampel yang memenuhi Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 terkait dengan batas cemaran coliform karena > 0 MPN/100 mL, namun keseluruhan sampel memenuhi batas yang dipersyaratkan untuk cemaran Escherichia coli. Pengujian statistik regresi yang dilaksanakan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jarak pencemar dengan cemaran coliform dan Escherichia coli (p value > 0,05).Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara jarak pencemar dengan nilai MPN dan Escherichia coli pada sampel di Kelurahan Pucangsawit.Seluruh sampel tidak memenuhi batas nilai coliform berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, namun keseluruhannya memenuhi batas Escherichia coli. ABSTRACT Title:  Analysis Of Most Probable Number (MPN) Coliform and Escherichia coli Of Artesian Well In Pucangsawit Surakarta Sub District Background: Water is one of the natural resources that play an essential role for all living things on the planet, so it must be maintained. The study aims to determine the total number of coliform and Escherichia coli in artesian water in Pucangsawit village based on the Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2023 about the Implementation of Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 regarding to Enviromental Health.Method: The research was a quantitative descriptive research. Population used on this study were 10 artesian wells in Pucangsawit Village, Jebres, Subdistric, Surakarta City, Jawa Tengah. The method used in this study was Most Probable Number (MPN) method and petrifilm method to indicate total coliform and Escherichia coli contamination, respectively. The test was conducted in two stages: presumptive test and confirmative test. Regression analysis was carried out to determine correlation between contamination source distance with MPN coliform and Escherichia coli value. Results: The results showed that all of the samples did not meet the requirement form Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2023 for total coliform limit in water because it more than 0 MPN/100 mL, meanwhile all samples met the required regarding the limit of Escherichia coli. Regression analysis show that there is no correlation between contamination source distance and well depth with MPN coliform and Escherichia coli value (p value > 0,05%). Conclusion: The conclusion of the result is there is no samples that met the requirement conducted by Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2023 regarding the limit of coliform contamination, however all of the samples met the requirement of Escherichia coli contamination. Statistically, there is no correlation between contamination source distance and MPN and Escherichia coli value.  
Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan Vira Tika Yuniar; Mursid Raharjo; Martini Martini; Nurjazuli Nurjazuli
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.234-240

Abstract

Latar Belakang: Masalah demam berdarah dengue ini menjadi perhatian khusus karena termasuk ke dalam penyakit menular yang berada di dalam 10 ancaman kesehatan masyarakat di dunia. Negara Indonesia setiap provinsi mengalami endemik sekaligus epidemisi DBD setiap 4 hingga 5 tahun. Pada 2020, kasus DBD di Indonesia  Incidence Rate (IR) sebanyak 40/100.000 jiwa dan Case Fatality Rate (CFR)  sebesar 0,7% ini  masuk kegolongan tinggi. Dinkes Provinsi Sumatera Selatan mencatat kasus DBD masih tinggi pada tahun 2020 terdapat 2.359 kasus DBD (IR= 27,8/100.000 Penduduk), 2021 terdapat 1.135 kasus DBD (IR= 13,7/100.000 Penduduk) dan 2022 terdapat 2.854 kasus DBD (IR= 32,9/100.000 Penduduk). Menurut Dinkes Kota Lubuklinggau pada 2020 terdapat 145 kasus dengan DBD (IR= 61,7/100.000 penduduk), Tahun 2021 terdapat 91 kasus DBD (IR= 30,4/100.000 penduduk) dan di Tahun 2022 terdapat 182 kasus DBD  (IR= 75,7/100.000 penduduk).Metode: Tujuan penelitian ialah Menganalisis Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian DBD di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan, penelitian ini dijalankan di kota Lubuklinggau, Sumsel dengan 140 responden 70 case dan 70 control, Penelitian berjenis analitik observasional dan berdesain studi Case Control.Hasil: Pengetahuan DBD sebanyak 50% responden pada kelompok kasus memiliki pengetahuan baik sementara pada kelompok kontrol 70% responden berpengetahuan baik berdasar padahasil dari uji Chi-Square didapati nilai (p-value 0,01 dan OR 2.472) yang bermakna ada hubungan segnifikan pengetahuan DBD dengan kasus DBD di Kota Lubuklinggau. Pengetahuan PSN sebanyak 42,9%  responden pada kelompek kasus memiliki pengetahuan baik sedangkan pada kelompok kontrol 60% mempunyai pengetahuan baik menurut hasil dari uji Chi-Squere didapat nilai ( p-value 0,04 dan OR 2.136) ini berarti terdapat hubungan segnifikan pengetahuan PSN dengan DBD di Kota Lubuklinggau.Simpulan: Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Pengetahuan DBD dan Pengetahuan PSN berhubungan dengan kejadian DBD ABSTRACTTitle: The Relationship between DHF Knowledge and PSN Knowledge on Dengue Hemorrhagic Fever Incidence in Lubuklinggau City, South SumatraBackground: The problem of dengue hemorrhagic fever is of particular concern because it is an infectious disease that is among the 10 public health threats in the world. Every province in Indonesia experiences endemic dengue fever and experiences a dengue fever epidemic every 4-5 years. In 2020, the DHF incidence rate (IR) in Indonesia was 40/100,000 people and the Case Fatality Rate (CFR) was 0.7%, which is considered high. The South Sumatra Provincial Health Office noted that dengue cases were still high in 2020, there were 2,359 dengue cases (IR= 27.8/100,000 population), in 2021 there were 1,135 dengue cases (IR= 13.7/100,000 population) and in 2022 there were 2,854 dengue cases (IR = 32.9/100,000 Population). According to the Lubuklinggau City Health Service, in 2020 there were 145 cases of dengue fever (IR= 61.7/100,000 population), in 2021 there were 91 cases of dengue fever (IR= 30.4/100,000 population) and in 2022 there were 182 cases of dengue fever (IR = 75.7/100,000 population) .Method: The research aim is to Analyze the Relationship between Knowledge and the Incidence of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Lubuklinggau City, South Sumatra Province. This study was conducted in Lubuklinggau City, South Sumatra, with 140 respondents consisting of 70 cases and 70 controls. The research is of an observational analytical type and adopts a Case-Control study design.Results: 50% of respondents in the case group had good knowledge of dengue fever, while in the control group 70% of respondents had good knowledge. Based on the results of the Chi-Square test, the value was found (p-value 0.01 and OR 2,472) which means there is a significant relationship. between knowledge of dengue fever and the incidence of dengue fever in Lubuklinggau City. PSN knowledge of 42.9% of respondents in the case group had good knowledge while in the control group 60% had good knowledge according to the results of the Chi-Squere test which was found to have a value (p-value 0.04 and OR 2.136) this means there is a significant relationship between PSN knowledge and the incidence of dengue fever in Lubuklinggau City.Conclusion: The results of this study conclude that DHF knowledge and PSN knowledge are related to the incidence of dengue hemorrhagic fever
Higiene Sanitasi, Personal Hygiene Penjamah, Kandungan Escherichia coli dan Salmonella Sp Pada Cincau Hitam (Studi pada Tempat Produksi dan Pedagang Pasar Cincau Hitam di Kecamatan Gresik) Lutfiah Dwi Nurulkhusna; Ellyke Ellyke; Ragil Ismi Hartanti
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.200-206

Abstract

Latar belakang: Cincau hitam memiliki tekstur seperti agar-agar berasal dari perendaman daun atau bagian yang lain dari tumbuhan cincau hitam (Mesona palustris). Kandungan air yang tinggi pada cincau hitam dapat menjadi media pertumbuhan mikroorganisme, sehingga diperlukan adanya perlakuan yang sesuai dengan higiene sanitasi agar kelayakan dan keamanan cincau hitam terjamin sampai ke konsumen. Adapun tujuan pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui Higiene Sanitasi, personal hygiene penjamah, kandungan Escherichia Coli dan Salmonella pada cincau hitam yang dilakukan di tempat produksi cincau dan pada pedagang pasar yang berada di Kecamatan Gresik.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Dilakukan wawancara dan observasi terkait 6 prinsip higiene sanitasi pangan dan personal hygiene penjamah, dan pengambilan 8 sampel cincau hitam.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan higiene sanitasi proses pembuatan cincau hitam di tempat produksi dan pada pedagang pasar termasuk dalam kategori kurang, Personal hygiene penjamah di tempat produksi dan pada pedagang pasar termasuk dalam kategori kurang, hasil uji laboratorium kandungan Escherichia Coli pada menunjukkan hasil > 3 APM/g, hasil uji laboratorium kandungan Salmonella menunjukkan hasil negatif/25g sampelSimpulan: Higiene sanitasi dan personal hygiene dalam kategori kurang, kandungan Escherichia coli pada cincau hitam > 3 APM/g dan seluruh sampel cincau hitam negatif Salmonella.  ABSTRACTTitle: Sanitation and Personal Hygiene With the Presence of Escherichia Coli and Salmonella sp on Black Grass Jelly (Study On Black Grass Jelly Production Sites and Trader in Gresik DistrictBackground: Black grass jelly is a food or drink that is often consumed by the public, it has a jelly comes from soaking the leaves or other parts of the black grass jelly plant (Mesonapalustris). The high water content in black grass jelly can be a medium for the growth of microorganisms, so treatment is needed by sanitary hygiene so that the suitability and safety of black grass jelly are guaranteed to reach consumers. This research aims to study further regarding sanitation hygiene, personal hygiene of handlers, and the content of Escherichia Coli and Salmonella in black grass jelly which was carried out at grass jelly production sites and market traders in Gresik District.Method: This research was descriptive method. With interviews and observations  about the 6 principles of food sanitation hygiene and personal hygiene of handlers. Eight samples of black grass jelly were taken from 1 production site and 7 traders.Result: This research show that the sanitary hygiene of the process of making black grass jelly at the production site and market traders is in the deficient category, the personal hygiene of handlers at the production site and market traders is included in the deficient category, the results of laboratory tests for Escherichia Coli content in 8 samples of black grass jelly show results > 3 APM/g, laboratory test results for Salmonella content in 8 black grass jelly samples showed negative results/25g samples Conclusion: Sanitary hygiene and personal hygiene are deficient category, laboratory test results for Escherichia Coli content in 8 samples of black grass jelly showed results > 3 APM/g, laboratory test results for Salmonella content in 8 black grass jelly samples showed negative results/25g samples
Determinan Personal Hygiene dan Sanitasi Dasar dengan Penyakit Kulit (Scabies) di Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar Pekanbaru Tahun 2022 Zulmeliza Rasyid; Winda Septiani; Yessi Harnani; Nurvi Susanti; Achmad Riza Bayhaqi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.153-161

Abstract

Latar belakang: Penyakit kulit (Scabies) adalah salah satu penyakit kulit dan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Ini dapat menyebabkan kerusakan kulit dan menyerang santri di pondok pesantren karena kurangnya perawatan kebersihan dan sanitasi dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui personal hygiene dan sanitasi dasar terhadap penyakit kulit di pondok pesantren Modern Al-Kautsar Pekanbaru tahun 2022. Metode: Penelitian penelitian kuantitatif,Cross sectional Design. Sampel berjumlah 87 santri. Lokasi penelitian dilakukan di pondok Pesantren Modern Al-Kautsar Pekanbaru pada bulan Agustus 2022. Variabel penelitian meliputi : Variabel Dependen (Penyakit Kulit), variabel independen (pengetahuan personal hygiene, personal hygiene kulit, personal hygiene kuku kaki dan  tangan, pengelolaan sampah, Saluran Pembuangan Air Limbah, penyediaan air bersih). Pengumpulan data secara observasi dan penyebaran kuesioner. Teknik pengumpulan data secara Accidental Sampling. Data diolah secara komputerisasi. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan pengetahuan personal hygiene dengan penyakit kulit (p-value=0,015 POR=3,913), personal hygiene kulit (p-value =0,001 POR=8,795), personal hygiene kuku kaki dan  tangan (p-value =0,001 POR=10,667), dan ada hubungan pengelolaan sampah dengan penyakit kulit (p-value =0,001 POR=7,529), Saluran Pembuangan Air Limbah (p-value=0,003 POR=5,300), penyediaan air bersih (p-value =0,024 POR=3,497) dengan penyakit kulit di pondok pesantren Modern Al-Kautsar Pekanbaru.Simpulan: pengetahuan personal hygiene, personal hygiene kulit, personal hygiene kuku kaki dan  tangan, pengelolaan sampah, Saluran Pembuangan Air Limbah, penyediaan air bersih berhubungan dengan penyakit kulit di pondok pesantren Modern Al-Kautsar Pekanbaru.ABSTRACT Title:  Determinants of Personal Hygiene and Basic Sanitation for Skin Diseases (Scabies) at the Modern Islamic Boarding School Al-Kautsar Pekanbaru in 2022 Background: Skin disease (Scabies) is a skin disease and infection caused by bacteria, viruses and fungi. It can cause skin damage and attack students in Islamic boarding schools due to lack of basic hygiene and sanitation care. This research aims to determine personal hygiene and basic sanitation against skin diseases at the Modern Al-Kautsar Pekanbaru Islamic boarding school in 2022. Method: Quantitative research, cross sectional design. The sample consisted of 87 students. The location of the research was carried out at the Al-Kautsar Pekanbaru Modern Islamic Boarding School in August 2022. Research variables included: Dependent Variable (Skin Disease), independent variables (knowledge of personal hygiene, personal skin hygiene, personal hygiene of toenails and hands, waste management, Sewerage waste water, clean water supply). Collecting data by observation and distributing questionnaires. Accidental sampling data collection technique. Data is processed computerized. Univariate and bivariate data analysis using the chi-square test. Results: The results of the study show that there is a relationship between personal hygiene knowledge and skin diseases (p-value = 0.015 POR = 3.913), personal skin hygiene (p-value = 0.001 POR = 8.795), personal hygiene of toenails and hands (p-value = 0.001 POR =10.667), and there is a relationship between waste management and skin diseases (p-value =0.001 POR=7.529), waste water drainage (p-value=0.003 POR=5.300), clean water supply (p-value =0.024 POR=3.497 ) with skin diseases at the Al-Kautsar Modern Islamic boarding school in Pekanbaru. Conclusion: knowledge of personal hygiene, personal skin hygiene, personal hygiene of toenails and hands, waste management, waste water drainage channels, provision of clean water is related to skin diseases at the Al-Kautsar Modern Islamic boarding school in Pekanbaru.
Hubungan Lingkungan Dan Perilaku Terhadp Kejadian Malaria Di Provinsi Aceh Siti Humaira; Nurjazuli Nurjazuli; Mursid Raharjo
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.241-248

Abstract

Latar belakang: Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles betina. Pada tahun 2021 tercatat ada 314 kasus malaria di Aceh yang dimana Kabupaten tertinggi adalah Kabupaten Aceh jaya sebanyak 230 kasus. Dan pada tahun 2022 ada 137 kasus malaria di Aceh Kabupaten yang tertinggi ada di Kabupaten Aceh Jaya sebanyak 32 kasus, pada tahun 2022 kasus malaria mulai menurun namun terjadi peningkatan kembali pada tahun 2023 yang dimana ada 166 kasus tercatat yang dimana Kabupaten yang tertinggi kasus malaria yaitu Kabupaten Aceh Besar sebanyak 48 kasus.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan case control, penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten provinsi aceh, dengan jumlah sample 180 yang masing-masing 90 kelompok kasus dan kontrol, penelitian ini dilakukan dari akhir bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2023.Hasil: hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini keberadaan breeding place diperoleh nilai p value 0,655, resting places 0,053, kandang ternak, 0,073, kondisi rumah 0,229, penggunaan kelambu 0,763, penggunaan APD 0, 371, aktivitas malam hari 0,765, penggunaan lotion nyamuk 0,051.Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 8 variabel yang di uji maka variable yang paling berpengaruh  dalam kejadian malaria di Aceh adalah keberadaan resting places.
Studi Ekologi Hubungan Iklim Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2022 Lulu Rakhmatsani; Dewi Susanna
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.207-214

Abstract

Latar belakang: Terdapat 2.997.097 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dilaporkan hingga 1 Juli 2023, sebanyak 0,13% masuk dalam kategori berat. Pada akhir tahun 2022 jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 143.000 kasus, dengan angka kejadian DBD terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap kejadian DBD di Kabupaten Bogor tahun 2013-2022.Metode: Menggunakan studi ekologi time series dan jenis data yang digunakan yaitu data sekunder. Data iklim diperoleh dari website Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan data kasus DBD diperoleh dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan pada November-Desember 2023. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Korelasi Spearman.Hasil: Kejadian DBD tidak berhubungan dengan variabel suhu yaitu koefisien korelasi (r) -0,097 dan p value 0,297 pada lag 1 bulan. Kejadian DBD berhubungan dengan variabel kelembapan yaitu (r) 0,451 dan p value 0,0001 serta variabel curah hujan yaitu (r) 0,352 dan p value 0,0001 pada lag 1 bulan.Simpulan: Variabel suhu tidak berhubungan sementara kelembapan dan curah hujan berhubungan dengan kejadian DBD, terdapat suhu ekstrem yang menyebabkan produksi telur menurun sehingga potensi penularan DBD rendah serta semakin tinggi kelembapan dan curah hujan menyebabkan produksi nyamuk meningkat sehingga potensi penularan DBD tinggi. Oleh karena itu diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat agar kasus DBD dapat mengalami penurunan, di antaranya edukasi masyarakat terus menerus dan pemerintah menyusun kebijakan terkait pengendalian dan pencegahan DBD. ABSTRACT Title: Ecological Study of Climate Influence on Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Incidence in Bogor Regency 2013-2022Background: There were 2,997,097 Dengue Fever (DHF) cases reported until July 1, 2023, 0.13% of which were categorized as severe. By the end of 2022, the number of DHF cases in Indonesia reached 143,000 cases, with the highest number of DHF cases in the provinces of West Java, East Java and Central Java. The purpose of this study was to determine the effect of climate on the incidence of DHF in Bogor Regency in 2013-2022.Method: Using time series ecological studies and the type of data used is secondary data. Climate data was obtained from the website of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency and DHF case data was obtained from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia and the Bogor District Health Office. The research was conducted in November-December 2023. Data analysis used univariate and bivariate analysis with the Spearman Correlation test.Result: The incidence of DHF was not related with the temperature variable, namely the correlation coefficient (r) -0.097 and p value 0.297 at a lag of 1 month. The incidence of DHF is related to the humidity variable, namely (r) 0.451 and p value 0.0001 and the rainfall variable, namely (r) 0.352 and p value 0.0001 at a lag of 1 month.Conclusion: Temperature variables are not related while humidity and rainfall are related to the incidence of DHF, there are extreme temperatures that cause egg production to decrease so that the potential for DHF transmission is low and the higher the humidity and rainfall causes mosquito production to increase so that the potential for DHF transmission is high. Therefore, cooperation between the government and the community is needed so that dengue cases can decrease, including continuous community education and the government formulating policies related to dengue control and prevention.
Penilaian Kesehatan Sungai Menggunakan Metode Biotik dan Fisik di Sungai Boyong, Sleman, Yogyakarta Eka Sulistiyowati; Dien F. Awaliyah; Shofwatul Uyun
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.162-169

Abstract

Latar belakang: Penilaian kesehatan sungai merupakan upaya penting dalam membantu memonitor keseimbangan ekosistem sungai.  Penelitian dilakukan untuk mendapatkan penilaian kualitas Sungai Boyong sebagai hulu dari Sungai Code yang memasok air ke wilayah perkotaan Yogyakarta dengan menggunakan kombinasi metode biotik dan fisik untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif.Metode: Penilaian kesehatan sungai dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif dengan dua metode yakni metode biotik yang terdiri atas metode biotilik dan metode RHA, serta metode pengamatan fisik. Metode biotilik merupakan metode pengukuran kuantitif terhadap komunitas makroinvertebrata akuatik. Analisis data biotik dengan menghitung biotik indeks menggunakan panduan biotilik oleh Ecoton. Sampel yang diambil berupa makroinvertebrata akuatik dengan menggunakan jaring. Sampel tumbuhan diambil pada transek yang berada pada verge, bank, dan in-stream. Analisis data riparian vegetation menggunakan indeks Riparian Health Assessment. Sedangkan metode pengamatan fisik menggunakan analisis dari panduan biotilik oleh Ecoton.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode biotilik diketahui bahwa stasiun 1, 2, dan 3 berada pada kondisi sedang, meskipun nilai indeks biotilik stasiun 2 lebih rendah daripada yang lain. Penggunaan metode RHA menunjukkan bahwa kondisi ekosistem riparian di stasiun  1 dan 3 lebih baik daripada stasiun 2. Sedangkan dengan metode pengamatan fisik diketahui bahwa kondisi stasiun 1 dan 3 berada pada kategori sehat, dan stasiun 2 masuk dalam kategori kurang sehat.Simpulan: Penelitian menyimpulkan bahwa kondisi ekosistem Sungai Boyong yang paling baik di Stasiun 2 dan yang kurang baik pada stasiun 1 dan 3. ABSTRACTTitle: River Health Assessment using Biotic and Physical Methods in Boyong River, Sleman, YogyakartaBackground: River health assessment is important to monitor the balance of river ecosystem.. The study was conducted to assess  the quality of Boyong River as the upstream of the Code River which supplies water to the urban area of Yogyakarta using a combination of biotic and physical methods for a comprehensive result.  Method: River health assessment was carried out by two methods,  first was the biotic methods which consisted the biotilik method and the RHA method, and  second was the physical observation method . The biotilik method is a quantitative measurement method of aquatic macroinvertebrate communities. Analysis of biotic data by calculating biotic index using biotilik guidance by Ecoton. The samples taken were aquatic macroinvertebrates using nets. Plant samples were taken on transects located on verge, bank, and in-stream. Analysis of riparian vegetation data using the Riparian Health Assessment index. While the physical observation method uses analysis by Ecoton. Result: The results showed that using the biotilik method it was known that stations 1, 2, and 3 were in moderate condition, although the biotilic index value of station 2 was lower than the others. The use of the RHA method shows that the riparian ecosystem conditions at stations 1 and 3 are better than at station 2. Meanwhile, with the physical observation method, it is known that the condition of stations 1 and 3 is in the healthy category, and station 2 is included in the unhealthy category.Conclusion:  It was concluded that the ecosystem condition of Boyong River was best at Station 2 and not good at Stations 1 and 3.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 25, No 1 (2026): Februari 2026 (In process) Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue