cover
Contact Name
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi
Contact Email
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi
Phone
-
Journal Mail Official
labsosiologifisip@mail.uns.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi
ISSN : 25499467     EISSN : 26157500     DOI : -
Dialektika Masyarakat : Jurnal Sosiologiadalah peer-review jurnal yang diterbitkan secara periodik (Mei dan November) secara cetak dan online oleh Laboratorium Sosiologi Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret (UNS). Jurnal ini lahir berdasarkan surat keputusan Kepala Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta Nomor: 209/UN27.05.6.3/PB/2017 tertanggal 21 April 2017.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017)" : 8 Documents clear
MENJADI MISIONARIS: SOSIALISASI-KOMITMEN AGAMA ELDER DAN SISTER MORMON-GEREJA YESUS KRISTUS Harry Bawono; Panggio Restu Wilujeng; Siti Ikramatoun
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan sudut pandang Sosiologi agama untuk melihat sosialisasi agama membentuk komitmen religius pada anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (OSZA) sehingga memilih dan bertahan menjadi misionaris penuh waktu. Misionaris di gereja ini diplih karena mengalami peningkatan jumlah misionaris yang begitu besar selama dua tahun terakhir. Penelitian dilakukan di Gereja Yesus Kristus OSZA, Tebet, Jakarta Selatan pada bulan Nopember-Desember 2013. Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma sosiologi interpretif dengan teknik pengumpulan data memalui depth interview dan jenis penelitian studi kasus. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa teori Sosiologi agama yaitu Doxa (Pierre Bordieu), Sosialisasi agama dan  Komitmen agama (Darren E.Sherkat). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip dasar dari kegiatan misionari dalam Gereja Yesus Kristus OSZA adalah setiap anggota memiliki tanggungjawab untuk menyebarkan Injil. Walaupun menjadi misionari harus meninggalkan kesenangan duniawi namun dorongan oleh orang tua dan patrner sesama misi selalu menguatkan sehingga membuat para misionaris tetap bertahan dan terus melakukan sosialisasi agama. Sosialisasi agama, melalui saluran-saluran yang diinstitusionalkan bagian dari kerangka pengajaran Gereja, menjadi instrumen untuk mentransfer nilai-nilai “menjadi misionaris”, sehingga membentuk komitmen “menjadi misionaris” kepada para anggota yang dirasa sudah memenuhi syarat sebagai misionaris penuh waktu. Sosialisasi yang dilakukan oleh misionari ini berupa penyebaran kabar baik supaya pihak lain mengenal Injil dan memberikan pengetahuan kepada para anggota tentang pekerjaan misi yang sangat terhormat.Kata Kunci: Misionaris, Sosialisasi, Komitmen
STRATEGI KELANGSUNGAN USAHA TANI PADI ORGANIK DI DUSUN JEGLONGAN, KECAMATAN SAYEGAN, KABUPATEN SLEMAN Rahesli Humsona; Sri Yuliani; Siti Zunariyah
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problem pangan baik yang menyangkut produksi atau ketersediaan maupun akses terhadap pangan hingga saat ini belum teratasi. Permasalahan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia terkait dengan fakta pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Meningkatnya permintaan pangan merupakan resultante dari peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat dan perubahan selera. Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan menjadi pekerjaan yang tidaklah mudah dan menjadi PR Pemerintah Indonesia. Di dalam banyak penelitian, persoalan produksi pangan terkait dengan menyempitnya lahan pertanian, mahalnya proses produksi, dan panjangnya jalur distribusi. Salah satu strategi yang digunakan oleh para petani untuk mempertahankan usaha pertaniannya adalah dengan melakukan usaha tani padi organik yang diselenggarakan oleh petani yang terlibat dalam kelompok tani. Pertanian organik memerlukan bibit yang khusus, lokal dan bukan hasil rekayasa genetik yang tidak selalu tersedia. Di samping itu ada problem lain dalam proses produksi dan pertanian yang dihadapi petani dengan sistem organik.  Pasca Orde Baru, gerakan pertanian organik tumbuh dan berkembang pesat. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan ini, di samping soal kesadaran akan bahaya pertanian kimia bagi keberlanjutan kehidupan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor penghambat produksi, faktor-faktor penghambat pemasaran, strategi kelangsungan usaha tani padi organik menggunakan pendekatan fenomenologis yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang dalam situasi tertentu.
GIRLS PUNK : GERAKAN PERLAWANAN SUBKULTUR DI BAWAH DOMINASI MASKULINITAS PUNK Panggio Restu Wilujeng
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini, sudah banyak gerakan-gerakan Girls Punk dengan identitas perempuan yang pada awalnya berupaya mendobrak dominasi budaya “feminim”, bekembang menjadi gerakan yang juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan Punk itu sendiri. Gerakan Punk perempuan ini berusaha melawan  norma budaya “feminim” perempuan yang dominan dengan jalan masuk ke kelompok Punk yang identik dengan laki-laki. Dalam beberapa kajian, pengikut Punk perempuan mengalami opresi dari dominasi Punk laki-laki yang kasar penuh dengan kekerasan, kontrol, dan dominasi (superordinat) sehingga Punk Girls dalam posisi sub ordinat. Bentuk perlawanan yang dilakukan oleh Girls Punk dengan menggunakan musik. Teori yang digunakan dalam studi ini adalah subculture.  Studi ini menggunakan Studi Pustaka dengan melakukan analisis konten. Dalam studi ini menghasilkan analisis kritis bahwa Subculture tidak selalu mengenai ideologi perlawanan, tetapi juga konstruksi dan kontestasi identitas yang muncul di tengah budaya dominan. Kemunculan Punk Perempuan membawa bentuk baru dalam subculture Punk tersebut.  Punk Girls menjadi bentuk subculture yang berada di dalam Subculture Boys Punk yang lebih dominan. Kendati demikian, ideologi utama yang dibawa oleh Punk Girls berbeda dengan ideologi Boys Punk. Jika Boys Punk cenderung  meletakkan ideologi mereka pada anti kapitalisme, Punk Girls justru memiliki ideologi counter culture terhadap norma dan budaya feminitas baik gerakan Punk Girls yang ada di Barat maupun Punk Girls di Indonesia.Kata Kunci : Subculture, Girls Punk, dominasi budaya, musik
REVITALISASI GOTONG ROYONG: PENGUAT PERSAUDARAAN MASYARAKAT MUSLIM DI PEDESAAN Muryanti .
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gotong royong merupakan salah satu akar peradaban yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia melahirkan budaya majemuk yang memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, maka diperlukan adanya ikatan yang kuat agar bangsa Indonesia tetap menjadikan budaya leluhur sebagai pedoman yang dilestarikan bukan hanya dalam waktu yang temporer meskipun dengan segala bentuk ancaman yang sedang atau akan datang baik dari faktor internal maupun eksternal. Nilai tersebut sudah selayaknya tetap menjadi pondasi kehidupan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Walaupun harus kita akui, bahwa kondisi sosial, ekonomi dan politik masyarakat Indonesia saat ini, sangat rentan untuk melunturkan nilai-nilai tersebut. Globalisasi, kemiskinan dan situasi politik yang tidak menentu disebut-sebut sebagai faktor utama yang menyebabkannya. Sehingga perlu melihat lebih dalam pentingnya nilai-nilai yang telah dibangun sejak lama agar dengan tidak mudah hilang begitu saja seiring perkembangan jaman. Hal lain yang masih menjadi persoalan saat ini adalah keharusan nilai-nilai luhur yang sudah ada perlu untuk menyesuaikan dengan segala kondisi bangsa saat ini atau sebaliknya. Tulisan ini hendak mengkaji pentingnya nilai kebersamaan dalam masyarakat yang menjelma menjadi gotong royong ini melandasi kehidupan bangsa Indonesia, sudah seharusnya revitalisasi gotong royong ini harus kita upayakan secara terus menerus dalam konteks kekinian. Kata Kunci: gotong royong, persaudaraan, pondasi dan revitalisasi
STRATEGI DAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN BAGI PEMERINTAH KABUPATEN DAN KOTA Sudarsana .
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan, tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok-kelompok sosial yang ada di dalamnya untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik, secara material maupun spiritual (Todaro, 2003:21). Dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi tentu akan berimplikasi terhadap semua sektor yang mempengaruhinya, di antaranya tingkat kemiskinan. Seringkali, pengukuran perubahan kemiskinan juga menjadi tolak ukur pembangunan (Soegijoko, 1997:137). Isu mengenai kemiskinan telah menjadi suatu bahasan tiada ujung diberbagai belahan dunia, utamanya pada negara berkembang dan negara miskin. Ditambah dengan isu mengenai pentingnya terhindar dari fenomena middle-income trap membuat negara berkembang, seperti Indonesia, perlu lebih serius menangani permasalahan ini. Diperlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistemik, terpadu dan menyeluruh sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar warga negara dan masyarakat. Pertama, dibutuhkan identifikasi penyebab kemiskinan seperti kondisi alamiah dan ekonomi, kondisi struktural dan sosial, serta kondisi kultural (budaya). Fenomena kemiskinan dengan dimensi ekonomi memerlukan pendekatan strategi melalui dua strategi utama, yaitu: mengurangi beban biaya bagi penduduk miskin serta meningkatkan pendapatan dan daya beli penduduk miskin. Bentuk kebijakan riil dari strategi pertama adalah dengan mengurangi pengeluaran melalui pengurangan beban kebutuhan dasar seperti akses pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang mempermudah dan mendukung kegiatan sosial ekonomi. Bentuk kebijakan riil strategi kedua melalui peningkatan kapasitas, harga diri dan produktivitas bagi penduduk miskin agar memperoleh kesempatan dan hasil yang lebih baik dalam berbagai kegiatan ekonomi, sosial dan politik yang berkesinambungan.Kata Kunci: Kemiskinan, Fenomena Kemiskinan, Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan
RESPON MASYARAKAT TERDAMPAK TERHADAP PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT ANGKASA PURA BANDARA INTERNASIONAL LOMBOK PRAYA Syarifuddin .; Oryza Pneumatica I; Dwi Setiawan C.; Anisa Pusparani; Ika Wijayanti; Solikatun .
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

perhotelan, industri jasa, dan perdagangan bagi masyarakat disekitarnya. Keberadaan BIL memberikan dampak secara ekonomi maupun sosial kepada desa terdampak yang menjadi objek penelitian yaitu Desa Ketara, Tanak Awu, dan Penunjak. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis respon masyarakat terdampak terhadap programCSR-Comdev PT Angkasa Pura Bandara Internasional Lombok (BIL). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada masyarakat terdampak, stakeholder, dan pihak PT Angkasa Pura.Masyarakat desa terdampak pada dasarnya adalah masyarakat mekanis yang memiliki solidaritas kuat. Keberadaan BIL tidak berdampak pada hubungan sosial dan budaya masyarakat terdampak. Namun, pembangunan BIL telah memberikan dampak munculnya sektor nonagraris seperti perdagangan dan jasa, pariwisata, dan industri kreatif. PT Angkasa Pura telah memberikan kontribusi bagi masyarakat terdampak melalui program-program pemberdayaan ekonomi dan pemberian bantuan (CSR). Namun, jika dilihat secara ekonomi dan sosial, belum ada dampak yang massif terhadap perkembangan perekonomian.Hal ini disebabkan oleh program pemberian pinjaman modal usaha yang diberikan tersebut belum terakses oleh masyarakat secara umum. Harapannya, pihak PT Angakasa Pura dapat memberikan kontribusi lebih terhadap pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya dengan pamanfaatan potensi-potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terdampak.Kata kunci : Respon, Masyarakat Terdampak, CSR, BIL
FAMILY CARE UNIT DALAM PENANGANAN PERMASALAHAN KELUARGA Fatwa Nurul Hakim
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan program Family Care Unit atau FCU dalam menangani permasalahan keluarga. FCU adalah unit pelayanan kesejahteraan sosial terpadu bagi keluarga di tingkat desa/kelurahan. Keberadaan FCU ini dimaksudkan untuk membangun keterpaduan yang sinergis dalam pemberdayaan keluarga berbasis Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Tujuannya adalah meningkatnya koordinasi, kerja sama, dan keterpaduan yang sinergis dalam upaya pemberdayaan keluarga berbasis PSKS; meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan keluarga; menumbuh-kembangkan tanggung jawab sosial, kepedulian dan kesetiakawanan sosial Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Metode penelitian ini dengan Mixed Method, yaitu dominan less dominan kuantitaf, sehingga dapat mengukur tingkat efektivitas dari program FCU dalam menangani masalah keluarga. Subjek penelitian ini adalah pelaksana program, pengurus FCU sebagai Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), Dinas Sosial Kabupaten, dunia usaha, tokoh masyarakat, keluarga pionir, dan penerima manfaat yaitu keluarga plasma. Indikator penelitian meliputi program FCU, kelembagaan dan kemitraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepedulian lembaga sosial di kelurahan cukup baik, namun sinergitas dalam penanganan kasus belum optimal. FCU berjalan dengan baik, karena mendorong kegiatan yang sudah ada di kelurahan menjadi lebih baik. Oleh karena itu FCU dapat diterapkan di kelurahan dengan melibatkan stakeholder yang ada serta perlu ada pendampingan yang intensif. Kata Kunci: FCU, Problem Solving, Keluarga
MENJADI DALANG PEREMPUAN DALAM WAYANG KULIT JAWA : INISIATIF PRIBADI DAN LINGKUNGAN SEBAGAI TEMPAT PEMBELAJARAN Nor Ismah
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.41 KB)

Abstract

Sebagai aktor utama dalam pementasan wayang kulit Jawa, Dalang memainkan peran yang amat penting. Peran tersebut di antaranya ialah sebagai sutradara, penulis naskah pendongeng dan juga musisi. Mayoritas  orang Indonesia berpandangan bahwa dalang seharusnya diperankan oleh seorang laki-laki, karena dunia pewayangan dianggap sebagai budaya laki-laki. Akan tetapi,, tak selamanya peran dalang dimainkan oleh laki-laki, ada pula beberapa dalang peremuan yang namanya cukup dikenal. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran singkat tentang bagaimana wanita  digambarkan dalam budaya Jawa dan wayang kulit Jawa, bagaimana peran dalang wanita dan perbandingannya dengan dalang laki-laki, serta uraian terkait beberapa dalang wanita di Indonesia dan apa yang memengaruhi mereka dalam meraih karir sebagai seorang dalang. Wanita dalam buaya Jawa digambarkan sebagai sosok yang menerima nasib mereka namun juga sebagai seorang yang berjuang keras dalam mempertahankan hidupnya. Cerita-cerita dalam wayang kulit Jawa sangat kental dengan budaya patriarki, munculnya beberapa dalang perempuan diharapkan dapat menafsirkan kembali dan memodifikasi cerita dalam pertunjukan untuk mengkritisi nilai-nilai patriarki.Tidak banyak perbedaan yang ditemukan antara dalang wanita dan pria, keduanya sama-sama harus memiliki wawasan yang luas, energy yang cukup dan juga kapasitas untuk tampil selama tujuh hingga delapan jam. Lingkungan tempat seorang dalang (wanita) belajar dalam hal ini keluarga tempat dalang tersebut tumbuh adalah faktor yang paling berpengaruh dalam mendukung dan membangun keterampilan sebagai seorang dalang. Di era saat ini, di mana kebudayaan Jawa menjadi lebih fleksible, kesempatan menjadi seorang dalang bagi wanita semakin besar, tetapi karena rumitnya syarat menjadi seorang dalang, maka jumlah dalang perempuan masih jauh lebih sedikit dibandingkan dalang laki-laki.Kata kunci : Dalang, Wanita, Budaya Jawa, Patriarki

Page 1 of 1 | Total Record : 8