cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2012)" : 4 Documents clear
KEMBALI KE RUMAH PANCASILA Yudi Latif
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/citizenship.v1i1.442

Abstract

Tetapi kecuali Pancasila adalah satu Weltanschauung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat mempersatu, yang saya yakin seyakin-yakinnya Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke hanyalah dapat bersatupadu di atas dasar Pancasila itu. Dan bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan Negara Republik Indonesia, tetapi juga pada hakekatnya satu alat mempersatu dalam perjuangan kita melenyapkan segala penyakit yang telah kita lawan berpuluh-puluh tahun yaitu penyakit terutama sekali, Imperialisme. Perjoangan suatu bangsa, perjoangan melawan imperialisme, perjoangan mencapai kemerdekaan, perjoangan sesuatu bangsa yang membawa corak sendiri-sendiri. Tidak ada dua bangsa yang cara berjoangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjoang sendiri, mempunyai karakteristik sendiri. Oleh karena pada hakekatnya bangsa sebagai individu mampunyai keperibadian sendiri. Keperibadiaan yang terwujud dalam pelbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam perekonomiannya, dalam \wataknya dan lain-lain sebagainya.(Soekarno, 1958)
KONFIGURASI REVITALISASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBENTUKAN SIKAP DAN PERILAKU YANG BERKARAKTER BANGSA Hassan Suryono
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/citizenship.v1i1.443

Abstract

Dewasa ini sangat dibutuhkan sebuah momentum kebangkitan bangsa melalui perubahan sikap dan perilaku yang sesuai dengan karakter bangsa. Munculnya fenomena dan fakta masih adanya demonstrasi yang anarkhis, tidak patuh pada aturan hukum, pembobolan bank, penipuan lewat telepon, perkelahian pelajar, pejabat yang korup adalah cerminan perilaku bangsa ini yang bertentangan  dengan nilai-nilai agama dan Pancasila. Tentu saja keprihatinan akan kondisi tersebut akan mengarah pada disintegrasi bangsa. Menyadari kondisi karakter  anak bangsa yang semacam itu, pemerintah mengambil inisiatif untuk mengutamakan pembangunan karakter bangsa. Karakter yang dibangun tentu tidak hanya karakter yang berbasis kemuliaan diri semata, tetapi juga kemuliaan sebagai bangsa secara bersamaan. Pendidikan karakter yang kita harapkan salah satunya adalah menghasilkan anak bangsa dimana ucapan, sikap dan perilakunya mencerminkan karakter yang baik yaitu cerdas, jujur, bertanggungjawab, peduli, kreatif, sehat dan bersih. Proses pendidikan karakter tentu harus melibatkan berbagai elemen yang ada, mulai dari guru/dosen sebagai tenaga pendidik, siswa/ mahasiswa, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat. Strategi pembelajarannya dapat melalui keteladanan dan pembiasaan.
Pentingnya Pembelajaran Kontekstual Untuk Membentuk Karakter Siswa Nurhadji Nugraha
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.753 KB) | DOI: 10.25273/citizenship.v1i1.1099

Abstract

Wajah buram kini tengah menghiasi dunia pendidikan yang ditandai dengan maraknya sikap dan perilaku siswa yang tidak mencerminkan karakter siswa, seperti tawuran pelajar, dekadensi moral, kurang jujur. Disamping itu masih banyak guru belum optimal melakukan tugas dan fungsinya. Maka dari itu pendidikan memegang peran penting dalam membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membentuk manusia yang bermoral, beretika dan berakhlak dan cerdas tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Untuk itu peran guru sebagai pendidik dengan penuh pengabdian akan menentukan keberhasilan pendidikan karakter. Salah satu upaya untuk membentuk karakter siswa adalah melalui pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual yaitu konstruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, permodelan, penilaian autentik.
MENJAGA ETIKA DALAM BERPOLITIK Budiyono Budiyono
Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.918 KB) | DOI: 10.25273/citizenship.v1i1.3736

Abstract

 reformasi sebagai upaya penataan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih demokratis, menghargai Hak Azasi Manusia, dalam suasana kehidupan masyarakat yang beradab, yang telah berjalan satu dasawarsa lebih, ternyata masih banyak menyisakan persoalan, diantaranya dalam bidang politik misalnya, politik  dimaknai hanya sekedar berburu kekuasaan dengan menghalalkan segala cara tanpa mengindahkan etika dan moral.  Pada hal sejatinya politik pada awalnya merupakan kegiatan warganegara untuk membicarakan kebaikan bersama atau kepentingan publik yang dilandasi oleh nilai-nilai moral. Berpolitik merupakan sebuah aktifitas pengabdian politik yang berpijak pada kehendak umum demi kesejahteraan masyarakat dan mengesampingkan kepentingan kelompok dan individu.  Dengan berpolitik secara elegan akan menumbuhkan kedewasaan dan kematangan demokrasi. Aktor politik yang memilih politik sebagai medan perjuangan dan pengabdiannya  harus senantiasa menegakkan etika politik demi terwujudnya kehidupan berbangsa-negara yang bermartabat dengan memelihara dan mengembangkan perilaku politik yang cerdas, bersih, toleran, santun, menghargai kemanusiaan demi kesejahteraan bangsa. Oleh karena itu dalam berperilaku politik perlu bimbingan atau acuan nilai-nilai moral yang bersumber dari idiologi bangsa, Pancasila,  agar kehidupan politik lebih cerdas dan bermartabat.

Page 1 of 1 | Total Record : 4