cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Environmental Engineering & Waste Management
Published by President University
ISSN : 25279629     EISSN : 25486675     DOI : -
ournal of Environmental Engineering & Waste Management (JENV) is a journal about various fundamental or applied current problems / issues related to the fields of engineering and environmental management and waste management with the frequency of publishing twice a year in April and October. Feasibility of publication is considered by the reviewer with a double blind review based on scientific authenticity and validity.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2017)" : 5 Documents clear
ANALISIS PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS Alfian Fandi Nugroho; Iin Ichwandi; Nandi Kosmaryandi
Journal of Environmental Engineering and Waste Management Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.376 KB) | DOI: 10.33021/jenv.v2i2.219

Abstract

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) merupakan kawasan hutan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kepentingan umum seperti penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, dan religi dan budaya yang pengelolaannya diberikan kepada masyarakat hukum adat, lembaga pendidikan, lembaga penelitian, lembaga sosial dan keagamaan. Hutan Pendidikan dan Latihan Gunung Walat (HPGW) merupakan salah satu KHDTK yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pemerintah dengan pengelolaan oleh Fakultas Kehutanan IPB. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam pengelolaan KHDTK serta merumuskan konsep solusi pengelolaan KHDTK oleh Perguruan Tinggi. Berdasarkan hasil identifikasi diketahui bahwa Fakultas Kehutanan IPB belum dapat melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan yang terintegrasi terutama dalam pemanfaatan potensi hasil hutan yang ada di dalam kawasan. Hal tersebut dikarenakan diberlakukannya norma atau aturan umum perizinan usaha pemanfaatan atau pemungutan dan peredaran hasil hutan berbagai komoditas kehutanan yang berlaku umum bagi entitas usaha yang terkadang tidak relevan dengan tujuan pengelolaan HPGW. Peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam upaya menyusun kebijakan pengelolaan KHDTK agar tujuan KHDTK dapat tercapai dengan kepastian pendanaan.
DINAMIKA PERUBAHAN DAN KEBIJAKAN PEMANFAATAN RUANG DI KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT Maurinus Roy AC; Omo Rusdiana; Iin Ichwandi
Journal of Environmental Engineering and Waste Management Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.65 KB) | DOI: 10.33021/jenv.v2i2.220

Abstract

Penggunaan lahan di Kabupaten Bogor mengalami perubahan dari waktu ke waktu untuk pemenuhan kebutuhan pembangunan dan ekonomi masyarakat. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) Bogor disusun sebagai pedoman merencanakan dan melaksanakan program pembangunan sehingga penggunaan lahan aktual dapat sesuai dengan rencana peruntukannya. Tujuan penelitian untuk mengetahui kesesuaian alokasi peruntukan ruang dalam pola ruang RTRWK dengan penggunaan lahan pada kawasan hutan di Kabupaten Bogor. Analisis perubahan penggunaan lahan dan kebijakan peruntukan ruang dilakukan dengan mengoverlaykan peta penggunaan lahan tahun 2008 dan 2016, peta pola ruang RTRWK Bogor tahun 2008 dan 2016, dan peta kawasan hutan Kabupaten Bogor. Hasil analisis menunjukan bahwa terjadi perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi hutan (14.262 ha), lahan terbangun (257 ha), dan lahan terbuka (454 ha). Lahan hutan berubah menjadi pertanian (3.044 ha), lahan terbangun (8 ha) dan lahan terbuka (25 ha). Alokasi ruang dalam pola ruang RTRWK Bogor mengalami perubahan untuk hutan berkurang 7.410 ha, pertanian berkurang 457 ha dan lahan terbangun bertambah 8.219 ha. Pola ruang RTRWK 2016 yang sesuai dengan penggunaan lahan tahun 2016 di dalam kawasan hutan seluas 43.334 ha (55,20%). Tidak sesuai dalam implementasi di lapangan seluas 34.641 ha (44,13%), di mana kawasan hutan yang direncanakan sebagai pola ruang hutan seharusnya digunakan untuk penggunaan lahan hutan, yang terdiri dari kawasan hutan konservasi dan hutan lindung seluas 12.587 ha yang berfungsi pokok sebagai kawasan lindung disekitarnya namun penggunaan lahannya berupa pertanian, dan hutan produksi seluas 22.104 ha di mana dalam pengelolaan dapat dilakukan pemberdayaan masyarakat dengan sistem tumpangsari. Terdapat seluas 521 ha (0,66%) tidak sesuai dalam penentuan kebijakan peruntukan ruang, di mana kawasan hutan tidak dialokasikan sebagai rencana pola ruang hutan, sehingga akan menimbulkan ketidakpastian ruang dalam implementasi kebijakan selanjutnya
PENINGKATAN KUALITAS PENGOLAHAN AIR BERSIH DENGAN PERBAIKAN PROSES OKSIDASI (Studi Kasus di Instalasi Pengolahan Air PT. Jababeka) Istingani Istingani; Erliza Noor; Suprihatin Suprihatin
Journal of Environmental Engineering and Waste Management Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1977.606 KB) | DOI: 10.33021/jenv.v2i2.223

Abstract

Penghilangan zat pencemar berupa senyawa organik, amonium, nitrit dan besi serta mangan pada proses pengolahan air dilakukan dengan proses oksidasi seperti dengan aerasi, maupun dengan bahan kimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kinerja terbaik untuk proses oksidasi yaitu kemampuan mereduksi bahan pencemar pada konsentrasi dan waktu reaksi optimum dari penggunaan oksidator : klorin, ozon dan peroxone (H2O2/O3). Percobaan dirancang dengan central composite design  (CCD) sementara untuk mendapatkan kondisi proses yang optimum dianalisa dengan response surface method (RSM).  Percobaan untuk memperoleh komposisi konsentrasi dan waktu reaksi masing-masing bahan kimia oksidator (klorin, ozon dan peroxone) dilakukan sebanyak 13 percobaan. Optimasi pemakaian klorin menggunakan SRM menghasilkan reduksi senyawa organik (KMnO4) sebesar 75,1% l pada konsentrasi 15,25 ppm dan waktu reaksi 17,07 menit. Optimasi pemakaian ozon menghasilkan reduksi senyawa organik (KMnO4) sebesar 26,9% pada konsentrasi ozon 4,04 ppm dan waktu reaksi 12,1 menit. Optimasi oksidator peroxone mampu mereduksi 41,5% senyawa organik (KMnO4) pada konsentrasi 4,04 ppm dan waktu reaksi 12,1 menit.
KAJIAN TIMBULAN DAN KOMPOSISI SAMPAH SEBAGAI DASAR PENGELOLAAN SAMPAH DI KAMPUS II UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA Reni Masrida
Journal of Environmental Engineering and Waste Management Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.599 KB) | DOI: 10.33021/jenv.v2i2.221

Abstract

Pengelolaan sampah suatu kota bertujuan untuk melayani sampah yang dihasilkan penduduknya, secara tidak langsung turut memelihara kesehatan masyarakat serta menciptakan suatu lingkungan yang bersih, baik dan sehat. Saat ini pengelolaan persampahan menghadapi banyak tekanan terutama akibat semakin besarnya timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat baik produsen maupun konsumen. Semua sampah dari sumber masing-masing akan bermuara ke tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) Sumur Batu. Kecamatan Bantar Gebang merupakan daerah yang masuk wilayah Kota Bekasi dan memiliki dua lokasi TPA, yaitu milik Pemerintah Kota Bekasi di Sumur Batu dan yang satu milik DKI Jakarta di Bantar Gebang. Berdasarkan hal tersebut penulis memilih untuk melakukan penelitian terkait implementasi kebijakan dan strategi pengurangan sampah dari sumbernya. Dalam hal ini yang menjadi sumber penghasil sampah adalah kegiatan di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) yang diperkirakan menghasilkan jenis sampah tertentu/khusus. Metodologi penelitian yang dilakukan adalah pengukuran langsung di lapangan dengan mengacu pada SNI 19-3964-1994 tentang metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah. Hasil sampling diperoleh bahwa volume sumber sampah rerata 1,68 m3/hari (123,43 kg/hari). Secara umum komposisi persampahan UBJ yaitu 58,53% organik dan 41,47% an organik. Untuk sampah an organik, komposisi sampah yang dianggap berpotensi secara ekonomis terdiri dari 3 (tiga) jenis sampah dengan prosentase  > 10% untuk bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar sintetis dan bahan kertas daur ulang. Bahan tersebut adalah Botol plastik 14,33%, Kertas 15,00% dan plastik lembaran 13,37% (jumlah sampah yang bisa dimanfaatkan 42,7%). Usulan tata kelola adalah dengan pemberdayaan unit kegiatan mahasiswa dalam pemilahan sampah yang bernilai ekonomis. Sedangkan untuk usulan teknis diharapkan bisa menampah space untuk area penerimaan, timbunan dan area pemilahan seluas ± 55 meter persegi.
MODIFIKASI TANIN DARI BIOMASSA DAUN AKASIA (Acacia mangium Wild) DENGAN CARA POLIMERISASI SEBAGAI BIOSORBEN UNTUK LOGAM Pb (II) Ana Nurkaromah; Sukandar Sukandar
Journal of Environmental Engineering and Waste Management Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.486 KB) | DOI: 10.33021/jenv.v2i2.222

Abstract

Dalam penelitian ini, modifikasi tanin dari biomassa daun Acacia mangium Wild dimanfaatkan sebagai biosorben untuk menyerap kandungan ion Pb (II) pada larutan limbah artifisial. Biosorben yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga jenis: biosorben dari biomassa tanpa polimerisasi (BTP), biosorben polimerisasi dari biomassa daun (BDP), dan biosorben polimerisasi ekstrak tanin dari biomassa (BEP). Tujuan penelitian adalah memperoleh kondisi optimum penelitian pada kemampuan ketiga biosorben dalam penyerapannya terhadap ion Pb (II) pada larutan limbah artifisial. FTIR, XRD, SEM, kadar air, kadar abu, kadar volatil, dan kadar karbon terikat dilakukan untuk menentukan karakteristik fisik dan kimia biosorben. Untuk memperkirakan kapasitas penyerapan logam Pb (II), maka dilakukan percobaan secara sistem batch, dengan parameter yang mempengaruhi proses adsorpsi terdiri dari variasi ukuran biosorben, dosis biosorben, waktu kontak, serta konsentrasi awal limbah artifisial Pb(II). Mekanisme penyerapan Pb (II) dianalisis menggunakan model isoterm Langmuir dan Freundlich. Kondisi optimum pada penggunaan BTP antara lain dengan penggunaan dosis sebesar 2 g/50 mL,  dengan ukuran pori 100 mesh dan waktu kontak optimum mencapai 45 menit, dengan konsentrasi awal Pb (II) 50 ppm dengan penyerapan logam Pb (II) yang terjadi mencapai 85,03%. Kondisi optimum pada penggunaan BDP antara lain dengan penggunaan dosis sebesar 2,5 g/ 20 mL, waktu kontak optimum mencapai 75 menit, dengan konsentrasi awal Pb (II) 50 ppm, dengan penyerapan logam Pb (II) yang terjadi mencapai 79,71%. Sedangkan kondisi optimum pada penggunaan BEP antara lain dengan penggunaan dosis sebesar 2 g/ 50 mL, waktu kontak mencapai 60 menit, konsentrasi awal Pb (II) 75 ppm, dengan penyerapan logam Pb (II) yang terjadi mencapai 70,81%. Performa BTP dalam penyerapan logam Pb (II) lebih baik daripada BDP dan BEP, dari segi lain modifikasi kedua biosorben tersebut berhasil dalam meningkatkan kekuatan struktur dalam kelarutannya. Studi isoterm adsorpsi untuk ketiga biosorben yang didapat mengikuti mekanisme isotherm Freundlich.

Page 1 of 1 | Total Record : 5