cover
Contact Name
Medyawati
Contact Email
ecolab.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
cak_war@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ecolab
ISSN : 19785860     EISSN : 25028812     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Ecolab adalah wadah yang merupakan sarana informasi dan publikasi berkaitan dengan kegiatan laboratorium lingkungan. Penerbitan Jurnal Ecolab untuk menampung berbagai informasi mengenai kajian ilmiah, hasil kegiatan pemantauan kualitas lingkungan dan kegiatan sejenisnya dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan. Semoga Jurnal Ecolab dapat menambah informasi kita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk penerbitan-penerbitan berikut, redaksi mengundang pengunjung web, para pembaca, dan praktisi serta pemerhati lingkungan untuk dapat memberikan tulisan dan karya ilmiahnya di jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB" : 5 Documents clear
Uji Banding Laboratorium Kalibrasi : Kalibrasi Sound Level Meter dengan Artefak Rion NL-10A Pramana Budi Purwaka; Muhammad Taufik; Susy Lahtiani; Jamaludin Jamaludin
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.13-22

Abstract

Uji Banding Laboratorium Kalibrasi: Kalibrasi Sound Level Meter dengan Artefak Rion NL-10A. Seluruh instrumen yang berkaitan dengan mutu pengujian harus tertelusur pada standar nasional, sehingga dibutuhkan kegiatan kalibrasi. Istilah uji profisiensi dalam lingkup laboratorium kalibrasi dikenal dengan Uji Banding Laboratorium Kalibrasi (UBLK). Kegiatan yang dilakukan adalah membandingkan hasil pengukuran suatu laboratorium terhadap alat ukur kalibrasi standar yang telah ditentukan (artefak) dengan hasil pengukuran laboratorium peserta lainnya. Artefak diukur bergantian oleh tiap laboratorium sesuai dengan jadwal yang disepakati. Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kewajiban laboratorium untuk mengikuti uji banding kalibrasi dalam lingkup akreditasinya. Pengambilan data UBLK dilakukan oleh 6 (enam) laboratorium peserta untuk artefak Sound Level Meter (SLM) berlangsung pada tanggal 2 Mei - 10 Agustus 2018. Satu alat SLM terintegrasi dan presisi merek Rion NL-10A tipe 1 digunakan sebagai artefak. Parameter yang diukur dan dilaporkan dalam UBLK ini adalah pembobotan frekuensi A dan C pada tekanan bunyi normal 94 dB dalam rentang frekuensi 63 Hz – 8000 Hz  dengan pita pemfilteran 1/1 oktaf, ditambah frekuensi 12500 Hz response time “F”. Hasil dari laboratorium peserta dibandingkan dengan nilai acuan sehingga didapatkan En-score, dan kriteria penilaian kinerja laboratorium acuan sesuai SNI ISO 13528:2016 dan ISO GUM, Hasil perhitungan En-score menunjukkan kategori memuaskan di hampir semua titik ukur. Ada 3 (tiga) laboratorium mendapatkan kategori tidak memuaskan yaitu pada bobot frekuensi A dengan titik ukur 12500 Hz yang dilakukan oleh Lab D, pada bobot frekuensi C dengan titik ukur 4000 Hz yang dilakukan oleh Lab E, serta titik ukur 12500 Hz yang dilakukan oleh Lab B dan Lab D. Diperlukan investigasi dan tindakan perbaikan oleh laboratorium yang memperoleh kategori tidak memuaskan. 
Efektifitas Berbagai Jenis Bahan Peredam Terhadap Penurunan Tingkat Kebisingan Desti Natalia
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.23-30

Abstract

Efektifitas Berbagai Jenis Bahan Peredam Terhadap Penurunan Tingkat Kebisingan. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Kebisingan dapat dikendalikan atau direduksi, salah satunya dengan penggunaan bahan peredam seperti kain perca, serabut kelapa, busa, dan lain-lainnya Di samping dapat mereduksi kebisingan, penggunaan bahan limbah tersebut sebagai bahan peredam, dapat menaikkan nilai tambah.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis bahan peredam (busa, kain perca, dan serabut kelapa) terhadap kebisingan. Penelitian dilakukan dengan pemasangan media peredam kebisingan pada kotak berukuran 70 cm x 70 cm x 40 cm yang terbuat dari bahan plywood jenis sengon meranti.  Alat yang digunakan untuk mengukur kebisingan adalah  Sound Level Meter (SLM). Pengambilan data tingkat kebisingan dilakukan 2 (dua) kali ulangan dengan interval pengambilan 5 (lima) detik selama +10 menit. Pengukuran dilakukan secara  langsung dari sumber suara berupa speaker.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanpa penggunaan bahan peredam, tingkat kebisingan sebesar 89,7 dB(A) Penggunaan kain perca dapat menurunkan tingkat kebisingan menjadi 84,5 dB(A) dengan efisiensi penurunan sebesar 5,79%, sementara serabut kelapa dan busa dapat menurunkan tingkat kebisingan masing-masing menjadi 87,4 dan 87,6 dB(A) dengan efisiensi penurunan 2,56% dan 2,34 %. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ketiga jenis bahan yang digunakan dapat mereduksi tingkat kebisingan. Kain perca memberikan hasil paling baik sebagai bahan peredam dibandingkan dengan dua bahan lainnya yang digunakan.
Pengukuran Getaran Mekanik Berdasarkan Jenis Bangunan Budi Purwanto; Zulfachmi Zulfachmi; Pramana Budi Purwaka
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.31-38

Abstract

Pengukuran Getaran Mekanik Berdasarkan Jenis Bangunan. Dampak getaran diketahui menjadi salah satu isu yang diangkat masyarakat yang mengklaim terdampak suatu kegiatan selain pencemaran udara, air maupun tanah. Getaran dianggap mengganggu kenyamanan dan kesehatan, serta pada tahap yang lebih tinggi dapat merusak struktur bangunan yang telah dihuni masyarakat sekitar kegiatan. KEPMENLH 49/1996 telah mengatur tentang baku tingkat getaran dan metode pengukurannya, namun seiring waktu maka perlu dimutakhirkan mengingat ada perbedaan rentang frekuensi dominan bagi beberapa jenis pengukuran tingkat getaran. Metode pengukuran yang terdapat pada Lampiran V KEPMENLH 49/1996 juga perlu ditinjau ulang karena masih menggunakan metode pengukuran yang sama walaupun pada beberapa jenis pengukuran tingkat getaran yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode pengukuran tingkat getaran pada Lampiran V KEPMENLH No 49/1996 terhadap metoda pengukuran lain yang tersedia dan diakui serta dapat diterapkan menggunakan peralatan yang tersedia saat ini. Pengambilan data dilakukan pada beberapa titik di Provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah pada bulan April – Juli 2016 oleh tim PSIKLH menggunakan alat Instantel Minimate Pro 6. Setiap sesi pengukuran dilakukan pengambilan data pada dua titik ukur secara simultan dengan masing-masing titik ukur diperoleh nilai tingkat getaran pada tiga sumbu ortogonal (sumbu X, Y dan Z). Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa pengukuran getaran di beberapa kota di Indonesia masih memiliki nilai tingkat getaran yang belum melampaui baku tingkat getaran yang dipersyaratkan pada Lampiran III KEPMENLH 49/1996, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode pengukuran International Organization for Standardization ISO 4866 Mechanical vibration and shock - Vibration of fixed structures - Guidelines for the measurement of vibrations and evaluation of their effects on structures dapat menjadi rujukan untuk mengevaluasi dampak getaran terhadap bangunan.
Studi Awal Sumber Deposisi Basah di Serpong, Jakarta, dan Kotatabang Menggunakan Model PMF Rita Mukhtar,S.Si,M.Si; Retno Puji Lestari; Ricky Nelson; Bambang Hindratmo; Muharam Syam Nugraha; Amallia Dainah
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.39-50

Abstract

Studi Awal Sumber Deposisi Basah di Serpong, Jakarta, dan Kotatabang Menggunakan Model PMF. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah memicu kegiatan industri dan transportasi yang berpotensi menimbulkan pencemaran udara. Reaksi kimia senyawa asam dari polusi udara dengan air dan oksigen menghasilkan polutan yang lebih asam di atmosfer. Deposisi asam merupakan masalah lingkungan lintas batas karena polutan dapat tetap berada di atmosfer untuk waktu yang lama dan dapat menyebar hingga ribuan kilometer melintasi batas negara dan jauh dari sumber asal emisi. Pemantauan dilakukan di 3 (tiga) daerah yaitu mewakili daerah pedesaan (Serpong), daerah perkotaan (Jakarta), dan daerah terpencil (Kotatabang). Pengolahan data menggunakan konsep matematika untuk mengkorelasikan ion atau elemen dalam sebuah matriks, model Positive Matric Factorization (PMF). Analisis dataset dilakukan terhadap data pemantauan komponen air hujan pada tahun 2015 hingga 2019. Contoh uji dikumpulkan melalui sampling deposisi basah dan dianalisis menggunakan metode kromatografi ion. Deskripsi potensi sumber diperoleh berdasarkan tipikal sumber pencemar. Hasil analisis menggunakan PMF diperoleh sumber pencemar di Serpong berasal dari tanah dan debu, kontribusi air laut,   pertanian, pembakaran biomassa, dan proses pembakaran. Jakarta menunjukkan lima sumber pencemar yang dominan yaitu tanah dan debu,  kontribusi laut, sumber pertanian, proses pembakaran serta pembakaran biomassa. Kotatabang juga menunjukkan lima sumber pencemar yang dominan yaitu kontribusi laut, pembakaran biomassa, proses pembakaran, sumber pertanian, tanah dan debu.  Oleh karena itu, disimpulkan bahwa sebagian besar sumber pencemar dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik. Dengan mengetahui karakteristik sumber pencemar diharapkan penanganan sumber pencemar lebih objektif.
Karakteristik Logam-logam dalam Partikel Tak Terlarut Debu Jatuh di Serpong Retno Puji Lestari, S.Si,M.Sc; Bambang Hindratmo; Ricky Nelson
Jurnal Ecolab Vol 16, No 1 (2022): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2022.16.1.1-12

Abstract

Karakteristik Logam-logam dalam Partikel Tak Terlarut Debu Jatuh di Serpong. Partikulat merupakan bentuk polutan yang paling terlihat dalam pencemaran udara. Selain TSP, PM10, dan PM2,5, ada pula debu jatuh yang terdiri dari partikel-partikel yang dapat melewati saringan 1 mm, namun cukup berat untuk dapat jatuh dari udara ambien ke permukaan tanah. Kajian pemantauan debu jatuh di Pusat Standardisasi Instrumen dan Kualitas Lingkungan Hidup (PSIKLH) Serpong dilakukan dalam periode 2018-2020 untuk mengetahui konsentrasi debu jatuh dan logam-logam yang terkandung di dalam partikel tak terlarut. Pengujian debu jatuh mengacu pada ASTM  D 1739-1998 (2004): Standard Methods for Collection and Measurement of Dustfall. Alat sampling debu jatuh merupakan sebuah kontainer gelas dengan ukuran tertentu yang ditempatkan di tempat terbuka dan dibiarkan selama 30 hari sebelum dianalisis di laboratorium. Air hasil tampungan selama sampling tersebut dikumpulkan dalam wadah sampel. Partikulat tak terlarut dan terlarut dalam debu jatuh ditentukan secara terpisah menggunakan metode gravimetri, sementara logam-logam dianalisis menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom Hitachi ZA-3300 dengan metode modifikasi SNI 7119-4-2017. Konsentrasi rata-rata tahunan debu jatuh di Serpong pada Juni - Desember 2018, Maret - Desember 2019, dan Maret - Desember 2020 masing-masing adalah 4,5±2,9; 5,5±2,3; dan 5,9±4,1 t/km2/bulan. Nilai tersebut masih berada di bawah baku mutu debu jatuh berdasarkan PP No 41/1999 yaitu 10 t/km2/bulan. Berdasarkan PP No 22/2021 Lampiran VII tentang Baku Mutu Udara Ambien, parameter ini tidak lagi dimasukkan. Lima logam yang dominan ditemukan dalam partikel tak terlarut debu jatuh adalah Fe>K>Zn>Mg>Ca dengan konsentrasi rata-rata 10,3>2,4>1,9>1,5>0,3 mg/kg. Potensi sumber pencemaran diduga berasal dari sumber alami seperti mineral kerak bumi dan kegiatan antropogenik seperti material konstruksi bangunan, sektor industri, dan transportasi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5