cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)" : 6 Documents clear
DAMPAK INVASIF IKAN RED DEVIL (Amphilophus citrinellus) TERHADAP KEANEKARAGAMAN IKAN DI PERAIRAN UMUM DARATAN DI INDONESIA Chairulwan Umar; Endi Setiadi Kartamihardja; Aisyah Aisyah
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.188 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.55-61

Abstract

Keanekaragaman ikan air tawar di Indonesia sekarang menghadapi ancaman dari berbagai aktivitas manusia yang bisa menyebabkan punahnya ikan-ikan endemik, dan diperkirakan sekitar 87 jenis ikan Indonesia terancam punah. Beberapa faktor yang menjadi ancaman terhadap keanekaragaman ikan dan menimbulkan kepunahan diantaranya introduksi spesies. Perkembangan beberapa spesies ikan menjadi tak terkendali sehingga menjadi hama dan merugikan manusia. Salah satu di antaranya adalah masuknya ikan ‘Red Devil’ ke beberapa perairan umum daratan di Indonesia. Beberapa perairan yang terdapat ikan red devil, mengalami penurunan sumber daya ikan baik jenis maupun jumlah, bahkan beberapa jenis ikan asli banyak yang hilang. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji dampak keberadaan ikan ini terhadap keanekaragaman sumberdaya ikan di perairan. Kajian ini bersifat desk study dan pengamatan langsung di lapangan. Verifikasi lapang dilakukan pada tahun 2011 dan 2012. Hasil tangkapan ikan red devil di beberapa perairan waduk dan danau di Indonesia sangat dominan bisa mencapai 40 – 60 %. Dampak dari invasi ikan ini antara lain adalah terjadinya perubahan ekosistem, yaitu penurunan keanekaragaman hayati, dan dampak terhadap kerugian ekonomi seperti biaya untuk mengendalikan jenis ikan asing dan penurunan produksi ikan ekonomis. Freshwater fish diversity in Indonesia is now facing threats from human activities that could lead to the extinction of endemic fish, and an estimated 87 Indonesian fish species threatened with extinction. Some factors that caused a threat to the diversity and extinction of fish is the introduction of new species. The development of some species of fish become uncontrollable and those being predators and caused a damage for humans life. One of them is the inclusion of Red devil fish to some inland waters in Indonesia. Some inland water that contains of red devil fish caused declining of fish resources in type or amount and extinction of original fish spesies many are missing. The aim of this paper is to examine the impact of these fish presence to the diversity of fish resources in waters. This study was using desk study and direct observation method. Field verification conducted in 2011 and 2012. Catch fish red devil in some lakes and reservoirs in Indonesia are very dominant and could reach 40-60 %. The impact of these fish are changes in ecosystemthat caused decreasing of biodiversity and the other consequences make some economic losses such as increasing the cost to control alien fish and decreasing in production of economical fish.
ALTERNATIF PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN KABUPATEN PANGKEP SULAWESI SELATAN Ihsan Ihsan; Eko Sri Wiyono; Sugeng Hari Wisudo; John Haluan
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2163.723 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.25-36

Abstract

Upaya melakukan perbaikan pengelolaan perikanan rajungan merupakan solusi untuk mencapai sistem pengelolaan rajungan yang berkelanjutan. Kajian tentang alternatif kebijakan pengelolaan perikanan rajungan. diharapkan dapat sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah Kabupaten pangkep. Penelitian dilaksanakan di kecamatan pesisir dan dua kecamatan kepulauan di Kabupaten Pangkep, pada bulan Desember 2012- April 2013. Data primer diperoleh dari pengamatan di lapangan dan wawancara dengan responden melalui Focus Group Discussion. Pengambilan data sekunder dari instansi terkait. Analisis di gunakan dengan A’WOT mengaplikasikan Program Expert Choice 2000. Hasil analisis menunjukan bahwa pengelolaan perikanan rajungan, mengandalkan kekuatan dan peluang untuk mengatasi kelemahan dan ancaman. Kriteria komponen kekuatan menempatkan prioritas relatif pertama minat nelayan dan masyarakat pengelolaan rajungan tinggi, peluang menetapkan target PEMDA dalam pengelolaan perikanan rajungan tinggi, kelemahan ditetapkan kordinasi dan implementasi kelembagaan masih rendah, ancaman ditetapkan jumlah alat tangkap rajungan semakin meningkat. Urutan prioritas alternatif kebijakan pengelolaan perikanan tangkap rajungan adalah: a) Penciptaan mata pencaharian alternatif; b) Penegakan hukum dan peningkatan kapasitas kelembagaan; c) Penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan; d) Restocking rajungan; e) Pengelolaan perikanan rajungan berbasis zonasi dan f) Pengembangan budidaya rajungan.The effort to make improvement in a management policy of crab fishing is a solution to achieve suistainable resource management system. The purpose of this study is to examine an alternative management policy in crab fishing. This research gives an input for the government to regulate the crab fishing management. Research conducted in sub districts of all coastal and two islands in Pangkep districts in December 2012-April 2013. The primary data obtained from the field observations and interviews with respondents through Focus Group Discussion. Collection of secondary data was done by collecting data from the relevant agencies and recording data from collector. Data were analyzed using A’WOT analysis and Program Expert Choice 2000. The results of the analysis showed that the crab fishing management, relying on the strengths and opportunity to address the weaknesses and threats. The first priority of the strength component criteria were relative interest crab fishermen and management of high society, high target of local government in the management of crab fishing was opportunity component, coordination and implementation of institutional became a weakness component, and increasing number of crab fishing gear was became Threats. Recommendation of alternatives management for swimming crab include: a) Development of alternative livelihoods, b ) Law enforcement and institutional capacity building; c) Use of environmentally friendly fishing gear ; d ) Restocking of crab; e ) Crab fisheries management based on zonation and f ) crab aquaculture development.
KEBIJAKAN TENTANG INTEGRASI AKTIVITAS PENANGKAPAN DENGAN PEMBUDIDAYAAN UNTUK KEBERLANJUTAN SUMBERDAYA IKAN SIDAT (Anguilla spp) DI DAS POSO Navy Novy Jefry Watupongoh; Krismono Krismono
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.733 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.37-44

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Poso merupakan salah satu daerah penangkapan ikan sidat, memiliki luas 1.101,87 km2 dan panjang ± 68,70 km. Ikan sidat di perairan Poso merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi (harga Rp.100.000,-/kg) dan menjadi primadona hasil tangkapan. Ikan sidat yang hidup di DAS Poso terdapat 5 jenis, yaitu A. marmorata, A. bicolor pasific, A. celebensis, A. borneensis dan A. interioris. Saat ini telah terjadi penurunan produksi induk maupun glass eel ikan sidat di DAS Poso disebabkan oleh penangkapan yang belum memperhatikan faktor kelestarian dan keberlajutannya seperti penangkapan yang berlangsung tidak hanya pada saat induk ikan sidat yang beruaya ke laut tapi juga glas eel yang menuju ke danau. Pembangunan PLTA pada alur Sungai Poso mengganggu ruaya ikan sidat yang mengakibatkan terputusnya ruaya ikan sidat dari dan ke Danau Poso yang berakibat hilangnya ikan sidat di Danau Poso. Berkaitan dengan permasalahan ini maka populasi sumberdaya ikan sidat perlu dijaga keberlanjutannya dengan cara mengintegrasikan aktivitas penangkapan dengan pembudidayaan, oleh karena itu diperlukan kebijakan yang menetapkan peraturan terkait dengan penangkapan yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan serta diintegrasikan dengan pembudidayaan. Kajian kebijakan ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan tentang integrasi aktivitas penagkapan dengan pembudidayaan untuk berkelanjutan ikan sidat di DAS Poso. The watershed of Poso River is one of anguillid eel fishing areas. This watershed has an area of 1,101.87 km2 and length ± 68.70 miles. The anguillid eel is a commodity that has a high economic value (IDR 100,000 / kg) and has an excellent catches. There are 5 types of eels that live in the watershed of Poso, they are: A. marmorata, A. bicolor pacific, A. celebensis, A. borneensis and A. interioris. The decreased production of anguillid parent and glass eels in the watershed of Poso is a result from the capture that had not yet noticed the preservation and sustainability factors, such as the capture that took place not only at the time of sea migration phase (the parents), but also on the lake migration phase (the glass eels), as well as Poso river damming for hydropower purpose. The decrease in the production of glass eel and parent eels in the watershed of Poso is also caused by fishing activities that have not been integrated with cultivation. There is a need of a regulation for fishing by using environmentally friendly fishing gears as well as the integration with cultivation. This paper aims to formulate policy on integration of capture and cultivation for sustainable catch of anguillid eels in the watershed of Poso.
ZONASI EKOSISTEM PERAIRAN DANAU TOBA UNTUK PEMANFAATAN PERIKANAN BERKELANJUTAN Endi Setiadi Kartamihardja; Zulkarnaen Fahmi; Chairulwan Umar
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.656 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.1-8

Abstract

Danau Toba merupakan danau terluas (112.400 ha) dan termasuk salah satu danau kritis da15 danau di Indonesia serta merupakan danau warisan dunia yang perlu dilestarikan. Perairadanau ini dimanfaatkan oleh berbagai sektor pemanfaat yaitu sumber bahan baku air minumpariwisata, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), perikanan, dan transportasi (perhubungan). Dsektor perikanan, Danau Toba dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan tangkap dan perikanabudidaya. Kegiatan perikanan tangkap yang berkembang adalah perikanan bilih (Mystacoleucupadangensis) dan kegiatan perikanan budidaya dalam keramba jaring apung ikan nila merah danila hitam (Oreochromis niloticus) serta ikan mas (Cyprinus carpio) berkembang sejak tahu1988. Pengembangan perikanan berkelanjutan di suatu badan air adalah salah satu tujuan utamyang harus di l akukan dan merupakan bagian yang ti dak terpisahkan dari pembangunaberkelanjutan di antara sektor pemanfaat lainnya. Untuk keperluan tersebut, zonasi perairan danaadalah prasyarat mutlak yang harus dilakukan untuk menjamin keberlanjutan pemanfaataekosistem perairan Danau Toba. Zonasi Danau Toba untuk pengembangan perikanan yang dibahadalam makalah ini merupakan salah satu rancangan zonasi yang tidak dapat dipisahkan dari tatruang ekosistem danau untuk pengembangan berkelanjutan bagi seluruh sektor pemanfaat. Lake Toba, a largest lake with a total surface waters area of 112,400 ha was classified as one of critical lakes among 15 lakes in Indonesia and also as one of the heritage lakes in the world which should be sustained. The lake ecosystem was utilized by multi sectors i.e., source of drinking waters, tourism, electric power generation, transportation, and fisheries. In fisheries sector, the lake was utilized for capture fisheries and floating cage fish culture development. Capture fisheries of the small fish (bilih), Mystacoleucus padangensis was being developed since 2005 and floating net cage culture of red tilapia and Nile tilapia (Oreochromis niloticus) and common carp (Cyprinus carpio) was implemented since 1998 as the main activities developed in the lake. Sustainable development of fisheries is a main objective while a sustainable integrated development among others sector is a whole lake ecosystem objective. Therefore, zoning of the Toba Lake ecosystem for fisheries development which was presented and discussed in this paper was an integral part of whole zoning of the lake ecosystem.
STATUS STOK, EKSPLOITASI DAN OPSI PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN TUNA DI LAUT BANDA Agustinus Anung Widodo; Ralph Thomas Mahulette; Fayakun Satria
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.544 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.45-54

Abstract

Laut Banda merupakan salah satu daerah penangkapan tuna yang potensial di Indonesia, Jenis alat tangkap yang digunakan terdiri dari pukat cincin, huhate, rawai tuna, pancing ulur dan pancing tonda. Hasil tangkapan tuna di Laut Banda meliputi cakalang, madidihang dan tuna mata besar. Sumberdaya tuna di Laut Banda diduga masih merupakan sub stok sumberdaya tuna di perairan Pasifik Tengah dan Barat. Hasil kajian stok tuna oleh Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) pada 2012 melaporkan bahwa stok cakalang dan madidihang tidak mengalami overfishing dan overfished, sedangkan tuna mata besar telah mengalami overfishing dan overfished. Hasil penelitian Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan (P4KSI) pada 2012 menunjukkan madidihang dan tuna mata besar tertangkap pukat cincin, huhate serta kombinasi pancing ulur permukaan dan pancing tonda pada stadium yuwana, dengan indikasi nilai Lc<Lm. Jumlah yuwana madidihang dan tuna mata besar yang tertangkap pukat cincin masing-masing mencapai sekitar 7,9 ton (26%) dan 1,5 ton (5%) dari rerata total hasil tangkapan sekitar 30,29 ton/kapal/trip. Jumlah yuwana madidihang dan tuna mata besar yang tertangkap huhate sekitar 0,71 ton (15%) dan 0,23 ton (5%) dari rerata total tangkapan sekitar 4,79 ton/kapal /trip. Jumlah yuwana madidihang dan tuna mata besar yang tertangkap pancing ulurpancing tonda sekitar 17% dan 2% dari rerata total tangkapan sebesar 0,31 ton/kapal/trip. Saat ini hasil tangkapan tuna yang berasal dari pukat cincin tidak dikehendaki pasar ekspor, mereka lebih memilih tuna hasil tangkapan huhate ataupun jenis pancing lainnya. Oleh karena itu salah satu kebijakan pengelolaan perikanan tuna di Laut Banda adalah tidak mengembangkan alat tangkap pukat cincin, adapun huhate, pancing ulur-pancing tonda masih tetap dapat dioperasikan. Banda sea is one of potential tuna fishing grounds among others in Indonesia. Various fishing gear types were operatedin this fishing ground such as pole & line (PL), tuna long line (LL), hand line (HL) and troll line (TR). Skipjack (SKJ), yellowfin tuna (YFT) and bigeye tuna (BET) are main species caught in Banda sea and currently assumed as one stock in the Western Central Pacific Ocean (WCPO). Recent stock assessment done by WCPFC in 2012 reported that BET is in overfishing state (F>Fmsy) while YFT and SKJ are not in overfishing or overfished state. It was also reported by RCFMC that the size of catch of those species by various fishing gear indicating that value of Lc<Lm or in other word that catches are in juvenile stage. The juvenile YFT and BET caught by purse seine were considerably high for 7.9 t (26 %) and 1.5 t (5%) of the total catch 30.29 ton/vessel/trip. YFT and BET caught by pole and line are only 0.71 t (15%) and 0.23 t (5%) of the total catch 4.79 ton/vessel/trip. YFT and BET caught by hand line and troll line were only 17% and 2% of total catch 0.31 ton/vessel/trip. Considering the high pressure of purse seine to juvenile of tuna resource and market preference, so that to the best fishing practice for resource sustainability it is suggestted for tuna management in Banda sea should be not to develop and increase the effort for purse seine and may shift to pole line, hand line and/or troll line are still openated.
STATUS PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus Pelagicus) DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM DI LAUT JAWA (WPPNRI 712) Aris Budiarto; Lucky Adrianto; Mukhlis Kamal
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4855.195 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.9-24

Abstract

Laut Jawa (WPPNRI 712) memiliki karakteristik permasalahan dalam pengelolaan perikanan rajungan yaitu berkurangnya stok sumberdaya rajungan dan tinggi nya jumlah armada penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pengelolaan perikanan rajungan di perairan Laut Jawa berdasarkan pada indikator pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management-EAFM). Enam domain indikator EAFM yang digunakan sebagai dasar untuk analisis adalah (1) Sumber Daya Ikan; (2) Habitat dan Ekosistem; (3) Teknik Penangkapan; (4) Sosial; (5) Ekonomi; dan (6) Kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai skor komposit EAFM tergolong kategori sedang dengan kisaran antara 1,5 – 2,5. Hasil penilaian aggregat seluruh domain diperoleh nilai skor densitas berkisar antara 6,3 – 55,9. Domain memiliki densitas tertinggi adalah domain sosial dan domain kelembagaan sebesar 54,7 dan 55,9 dengan kategori sedang. Domain habitat/ekosistem dan domain ekonomi memiliki nilai skor 36,5 dan 20,7 dengan kategori kurang. Domain sumberdaya ikan dan domain teknik penangkapan memiliki nilai skor 6,3 dan 16,3 dengan kategori buruk. Secara keseluruhan hasil penilaian indikator EAFM menunjukkan bahwa pengelolaan rajungan di WPPNRI 712 dalam kategori buruk hingga sedang. Rekomendasi dari penelitian ini adalah melaksanakan perbaikan pengelolaan perikanan rajungan secara bertahap dengan melakukan 5 (lima) langkah pengelolaan yaitu; pengaturan rajungan yang boleh ditangkap, pengaturan musim penangkapan, pengendalian alat tangkap dan daerah penangkapan, perlindungan dan rehabilitasi habitat serta melaksanakan restoking. Java Sea waters (Fisheries Management Area 712) is one of the main live crab habitat which is also the main blue swimming crab (BSC) production centers in Indonesia. FMA 712 has the characteristics of BSC fishery management problems is lower stock of crabs and the high number of fishing fleet. This study was aims to determine the condition of BSC fishery management in Java Sea waters, which developed based on performance indicators of ecosystem approach (EAFM). The six EAFM indicators used as the basis for analysis (1) Fisheries Resources; (2) Habitat and Ecosystem; (3) Fishing Technology; (4) Social; (5) Economic; and (6) Institutional. The results of each research domain indicates that the value of the composite score EAFM classified as category medium in the range of 1.5-2.5. The entire aggregate assessment results obtained domain scores density values ranging between 6.3 - 55.9. Domain which has high density is the domain of social and institutional domains of 54.7 and 55.9 in the medium category. Domain habitat /ecosystem and the economic domain has a score of 36.5 and 20.7 with less category. For domain domain fish resources and fishing techniques have a score of 6.3 and 16.3 with the bad category. The overall of EAFM indicators ranged between 6.3 - 55.9 Indicating that the management of BSC in FMA 712 under poor to moderate category. Recommendations of this study is to carry out repairs BSC fishery management gradually to perform five steps management; minimum legal size for capture, open closed fishing season, control gear and fishing areas, protection and rehabilitation of habitat and implement restoking.

Page 1 of 1 | Total Record : 6