cover
Contact Name
Les Pingon
Contact Email
lespingon21@upi.edu
Phone
+6282144647693
Journal Mail Official
hendriklempeh@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana No.11, Banjar Tegal, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Seni Rupa
ISSN : -     EISSN : 26139596     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjpsp.v11i2.39468
Core Subject : Education, Art,
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha is a scientific journal published by Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and the results of community service in the field of education and learning about education.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2017)" : 5 Documents clear
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEKNIK LEMMILL PADA EKSTRAKURIKULER KALIGRAFI DI MIN SINGARAJA ., Babat Nufus T s; ., Drs.Jajang S,M.Sn; ., Drs.Agus Sudarmawan, M.Si.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.781 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i3.11449

Abstract

Penelitian ini penelitian deskritif kualitatif, bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler kaligrafi di MIN Singaraja. Data dikumpulkan menggunakan teknik pendokumentasian untuk memperoleh hasil yang akan di deskripsikan, teknik wawancara untuk mendapatkan data tentang pendapat guru terkait dengan proses pembelajaran Teknik Lemmill pada ekstrakurikuler kaligrafi di MIN Singaraja. Hasil penelitian tentang pelaksaanaan ekstrakurikuler kaligrafi di MIN Singaraja disusun dalam pola kegiatan sebagai berikut: 1). (a) peneliti menyiapkan alat dan bahan yang akan diberikan kepada guru pembina, sebagai bahan tugas pembelajaran teknik lemmill (b) guru menyiapkan kelas (c) mencatat atau mengisi daftar hadir anak-anak yang mengikuti pembelajaran kaligrafi teknik lemmill sekaligus pemberian media berupa tripleks dan contoh kaligrafi, (d) guru menjelaskan langkah-langkah pembuatan dan pengenalan contoh kaligrafi yang menggunakan teknik lemmill, (f) pembelajaran pemembuatan sket kaligrafi, (g) membuat adonan, menyiapkan bahan pewarna, dan menyiapkan adonan jadi kedalam plastik piping bag atas bimbingan dan pengawasan guru pembiming (h) membuat kaligrafi teknik lemmill, (i) pembersihan alat-alat, (j) efaluasi yang dilakukan oleh guru. Melalui proses tersebut akan tercipta sebuah pembelajaran skill dan inovasi kepada anak-anak. 2). Dari data hasil wawancara dengan pengajar didapatkan pernyataan bahwa pembelajaran ekstrakurikuler kaligrafi berbasis teknik lemmill ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kedepannya dan diharapkan siswa akan lebih berkreatifitas lebih lagi dan bagi guru pembina sebagai bahan acuan serta sebagai alternative dalam melakukan proses belajar mengajar khususnya seni kaligrafi, dan mendapatkan inovasi baru dalam berkarya, selain itu pada proses pembelajaran anak-anak yang mengikuti pembelajran teknik lemmill ini sangat berantusias dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan dalam pelaksanaanya lebih kepada bermain sambil belajar. Kata Kunci : pelaksanaan pembelajaran, kaligrafi teknik lemmill This research is descriptive qualitative research, aimed to describe the implementation of extracurricular learning of calligraphy in MIN Singaraja. Data collected using documentation techniques to obtain the results to be described, interview techniques to obtain data about teacher opinions related to the process of learning Lemmill Technique on extracurricular calligraphy in MIN Singaraja. Results of research on the implementation of extracurricular calligraphy in MIN Singaraja are arranged in the following activity patterns: 1). (A) the researcher prepares the tools and materials that will be given to the teacher of the builder, as the material for the teaching of lemmill technique (b) the teacher prepares the class (c) records or fills the attendance list of children who follow the calligraphy learning of lemmill technique as well as the giving of plywood and (D) the teacher explains the steps of making and introducing examples of calligraphy using lemmill techniques, (f) learning of calligraphy sketches, (g) making dough, preparing dyes, and preparing the dough into plastic piping bag for guidance and Tutor teacher supervision (h) make calligraphy lemmill techniques, (i) cleaning tools, (j) the teacher's evaluations. Through the process will create a learning skill and innovation to children. 2). From the data of interviews with teachers, it was found that the extracurricular apocalypse learning based on lemmill technique is very beneficial for the future children and it is expected that the students will be more creative and more for the guidance teacher as reference material and as an alternative in doing the teaching learning process especially the art of calligraphy, And get a new innovation in the work, in addition to the learning process of children who follow learning lemmill technique is very enthusiastic in following the learning because in the implementation more to play while learning. keyword : learning implementation, calligraphy of lemmill technique
Dawang-Dawang Di Buleleng ., Harta Diwanda Kadek; ., Dr. Drs. I Nyoman Sila, M.Hum.; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.064 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i3.12174

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk dawang-dawang di Buleleng, (2) fungsi dawang-dawang di Buleleng, (3) makna dawang-dawang di Buleleng. Sasaran penelitian ini adalah dawang-dawang yang ada di daerah Buleleng. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukaan dengan teknik (1) observasi,untuk mendapatkan data mengenai bentuk, fungsi,dan makna dawang-dawang (2) wawancara,untuk menggali lebih dalam informasi tentang bentuk, fungsi dan makna dawang-dawang (3) dokumentasi,untuk mendapatkan foto dawang-dawang yang ada di Buleleng (4) dan kepustakaan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan cara (1) analisis domain,untuk mendapatkan gambaran umum mengenai bentuk dawang-dawang (2) dan analisis taksonomi, untuk mengurai lebih rinci mengenai bentuk dawang-dawang. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Bentuk dawang-dawang mengambil wujud dari manusia yang berpasangan yaitu laki-laki dan perempuan, yang dibuat dari bahan bambu dengan cara dianyam dan dibungkus dengan kertas dan kain. Pada bagian kepala diberi topeng sesuai dengan karakter wajah laki-laki dan perempuan. (2) Fungsi dawang-dawang pada upacara ngaben utama di Buleleng ada tiga, yaitu fungsi religius, fungsi sosial, dan fungsi estetika. Dimana fungsi religius dawang-dawang sebagai pelengkap sarana upacara ngaben dan juga sebagai penuntun jalan roh/atma menuju surga. Sebagai fungsi estetik dawang-dawang adalah sebagai media hiburan, dimana dawang-dawang memiliki unsur keindahan didalam segi seni yang dipertontonkan dalam upacara ngaben di Buleleng, fungsi sosial dari dawang-dawang yaitu sebagai media bersedekah bagi pihak penyelenggara upacara ngaben. (3) Makna dawang-dawang adalah sebagai simbol Rwa Binedha yaitu dua hal berbeda yang selalu berdampingan di dunia ini, serta makna Purusa dan Pradana yaitu simbol laki-laki dan perempuan. Kata Kunci : Dawang-dawang, bentuk, fungsi, makna This research aimed to describe (1) Dawang-dawang form of Buleleng, (2) The function of Dawang-dawang in Buleleng, (3) the meaning of Dawang-dawang in Buleleng. The research was Dawang-dawang in Buleleng. This research was qualitative description. The collecting data of this research was implemented by the technique (1) The observation was to obtain data of the form, the function, and the meaning of Dawang-dawang. (2) The interviewing was to explore more information about the form. (3) The documentation was to take a dawang-dawang’s photo of Buleleng (4) The reference/ the bibliographer. The collecting data was analyzed such as : (1) The domain analysis was to obtain general describing of the Dawang-dawang’s form (2) The Taksonomy analysis was to explain more details of The Dawang-dawang ‘s form. The result of research showed that (1) The form of Dawang-dawang took of the human’s being partner’s form with the boy and the girl were made from the bamboo’s plaiting and wrapped by paper and cloth. The part of head was the mask form . according to the character of boy’s face and the girl’s face. (2) the function of Dawang-dawang for the main of cremation ceremony of Buleleng such as ; the religious, social, and aesthetics’s function. Which the function of Dawang-Dawang’s religious as the material’s completing of the cremation ceremony. And also to guide the soul of the human’s being to the heaven. As the function of Dawang-dawang’s aesthetic was as entertainment’s media , which The dawang-dawang had the beauty of art that showed of the cremation ceremony in Buleleng regency, the social’s function of Dawang-dawang as media’s charity for the committee’s cremation ceremony. (3) the meaning of Dawang-dawang was as Rwa Binedha’s symbol ( two character of the different human’s being that always related in the world, and the meaning of Purusa and Pradana such as Boy and Girl’s symbol. keyword : Dawang-dawang , Form, Function, Meaning
PERBANDINGAN VISUAL FIGUR WAYANG KULIT TUALEN GAYA BALI SELATAN DENGAN FIGUR TUALEN BALI UTARA ., Putu Rendhi Kusuma Artha; ., Ni Nyoman Sri Witari, S.Sn.; ., I Wayan Sudiarta, S.Pd,M.Si.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.442 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i3.11341

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) Struktur rupa figur Tualen pada Wayang Kulit Bali Selatan dan Struktur rupa figur Tualen Bali Utara, (2) Penyebab perbedaan bentuk Tualen Bali Utara dengan bentuk Tualen Bali Selatan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriftif kualitatif. Data yang diperoleh dalam penelitian dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan gambar. Subjek penelitian ini adalah dalang wayang kulit Jro Dalang Gede Sudarma dari Desa Bungkulan dan Jro Dalang Nyoman Warisa dari Desa Tamblang sementara objek penelitian adalah figur wayang Tualen.Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan metode dokumentasi kepustakaan. metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis domain dan taksonomi Hasil Penelitian menunjukan (1) Struktur rupa figur Tualen Bali Selatan dan figur Tualen bali Utara dari kepala, badan, kaki memang memiliki beberapa perbedaan pada bentuk dan ornamen (hiasan) yang digunakan, (2) Perbedaan Tualen Bali Utara dengan Tualen Bali Selatan terjadi karena adanya (a) pengaruh Ki Barak terhadap perkembangan kebudayaan di kerajaan Panji, Buleleng; (b) secara mitologi perbedaan visual Tualen Bali Selatan dan Utara mengacu pada asal usul tokoh Tualen yang mengalami hukuman terbakar api oleh Dewa Siwa karena mengganggu semedinya, sehinggaTualen Bali Utara digambarkantanpa jambot atau tak berambut. Kata Kunci : perbandingan visual, figur wayang kulit bali, tualen This study aims to describe (1) Tualen figure structure in Wayang Kulit Bali Selatan and Tualen Balinese Figure Structure of North Bali, (2) Cause difference of Tualen North Bali shape with Tualen form South Bali. This research uses qualitative descriptive design. The data obtained in the study are described in terms of words and images. The subject of this research is puppeteer Jro Dalang Gede Sudarma puppeteer from Bungkulan Village and Jro Dalang Nyoman Warisa from Tamblang Village while research object is Tualen puppet figure. Data collection is done by observation method, interview, and library documentation method. The method of analysis used in this study is the method of domain analysis and taxonomy The research shows (1) The structure of the figure of Tualen Bali Selatan and the northern Balinese Tualen figure from the head, body, legs do have some differences on the shape and ornaments used (2) The difference between Tualen Bali Utara and Tualen Bali Selatan is due to the fact that the structure of the Tualen figure in South Bali and the northern Balinese Tualen figure from head, body, legs have some differences in the shape and ornament, The existence of (a) the influence of Ki Barak on the development of culture in the kingdom of Panji, Buleleng; (b) mythologically, the visual difference between Tualen Bali Selatan and Utara refers to the origin of the Tualen figure who suffered a fire burning by Lord Shiva for interrupting his semed, so that Bali's North Bali is depicted without jambot or hairlessness. keyword : visual comparison, Balinese wayang kulit figure, Tualen
PEMBUATAN PEWARNA ALAMI UNTUK ALTERNATIF PEWARNA BERBASIS AIR ., I Ketut Dedi Susiawan; ., Drs.Agus Sudarmawan, M.Si.; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.802 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i3.11483

Abstract

Pembuatan pewarna alami untuk alternatif pewarna berbasis air merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui (1) bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk alternatif pewarna berbasis air (2) alat yang digunakan dalam pembuatan pewarna alami untuk alternatif pewarna berbasis air (3) proses pembuatan pewarna alami untuk alternatif pewarna berbasis air (4) warna yang dihasilkan dari pewarna alami untuk altenatif pewarna berbasis air pada media kertas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, pembuatan pewarna alami, dan uji pewarna alami pada media kertas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bahan alami yang digunakan adalah warna merah dari kembang kertas, warna biru dari bunga telang, warna kuning dari kunyit, warna hijau dari daun suji dan daun katuk, warna cokelat dari buah tinta dan biji kluwak, warna hitam dari arang (2) alat dan bahan yang digunakan adalah cobek dan ulekan, mangkok, saringan, pisau (3) proses pembuatan pewarna alami dengan proses ekstraksi melalui dua tahap yaitu penghalusan bahan dan penyaringan (4) hasil pewarna alami yang diterapkan pada media kertas yaitu bunga kertas menghasilkan warna merah muda, bunga telang menghasilkan warna biru muda, kunyit menghasilkan warna kuning oranye sampai kuning kecokelatan, daun suji menghasikan warna hijau muda, daun katuk menghasilkan warna hijau cerah sampai hijau tua, biji kluwak menghasilkan warna coklat tua, buah tinta menghasilkan warna cokelat tua, arang menghasilkan warna hitam pekat. Kata Kunci : pewarna alami, alternatif pewarna berbasis air The made of natural dyes for alternative dyes on water-based was a research experiment, which aimed at knowing (1) material of nature that could be used as a natural dye to alternative of a water-based, (2) the tool used in the manufacture of natural dyes for alternative of a water-based, (3) the process of making natural dyes for alternative of a water-based, and (4) the color produced from natural dyes for alternatives of a water-based on the media. The research was a descriptive qualitative research. The accumulations data were done by using observation, the creation of a natural dye, and a natural dye on the media. This research result indicated that (1) natural materials used were the red colors of the development of the paper, the blue color of Telang, the yellow color of turmeric, green color from the leaves of Suji. and leaf of Katuk, the brown color of the ink and seeds of Kluwak, black from charcoal, (2) the tools and materials used were mortar and see "ulekan", bowl, sieve, (3) the process of making natural dyes with extraction process through two stages, namely, refining materials and the screening and (4) the results of a natural dye were applied to the media of Bougenvilleproduced the color of pink, Telang produced a navy blue, turmeric produced orange yellow to amber, Suji leaf produced color of green, leaf of Katuk produced green light to dark green vegetables, seeds of Kluwak produced a dark brown color, fruit of ink produced the color of dark brown, charcoal produced the color black.keyword : natural dyes, alternative color.
SISTEM PENURUNAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PRASI I GUSTI BAGUS SUDIASTA DARI DESA BUNGKULAN BULELENG ., Dewa Agung Mandala Utama; ., Drs.Agus Sudarmawan, M.Si.; ., Dr. Drs. I Ketut Supir, M.Hum.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.085 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i3.13381

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) proses penurunan pengetahuan prasi I Gusti Bagus Sudiasta dan (2) proses penurunan keterampilan prasi I Gusti Bagus Sudiasta. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini yaitu I Gusti Bagus Sudiasta dari Desa Bungkulan Buleleng. Objek penelitian ini yaitu penurunan pengetahuan dan keterampilan prasi yang diturunkan kepada Nengah Sukadana, Ketut Suastawa dan Ayu Puspa Dewi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses penurunan pengetahuan dan keterampilan oleh I Gusti Bagus Sudiasta menerapkan pendidikan non formal dengan cara pendekatan individual menggunakan sistem aprentisip/cantrik dan pewarisan. Sistem aprentisip/cantrik dilaksanakan di Gedong Kirtya dan sistem pewarisan terlaksana di rumah I Gusti Bagus Sudiasta kepada anaknya, yaitu I Gusti Bagus Kusuma Mahendra dan Gusti Ayu Sri Wedayani. Proses penurunan pengetahuan prasi dimulai dari proses pemahaman bentuk atribut sesuai karakteristik dari masing-masing tokoh wayang dan pengetahuan tentang tema, ide/gagasan yang digunakan sebagai panduan membuat narasi pewayangan. Proses penurunan keterampilan prasi diawali dari (1) proses pembuatan media toreh dengan daun rontal, (2) proses pengolahan buah kemiri sebagai bahan pewarna, dan (3) proses membuat prasi.Kata Kunci : keterampilan prasi, pengetahuan prasi, proses ABSTRACT This study aimed at describing (1) the process of prasi knowledge decrease, I Gusti Bagus Sudiasta and (2) the process of prasi skill decrease, I Gusti Bagus Sudiasta. The design of this study was descriptive qualitative. The subject of this study was I Gusti Bagus Sudiasta who is from Bungkulan Village, Buleleng. The objects of this study were prasi knowledge and skill decrease which have been generated to Nengah Sukadana, Ketut Suastawa, and Ayu Puspa Dewi. The methods of data collection were observation, interview, and documentation. The result of this study represents the process of knowledge and skill decrease by I Gusti Bagus Sudiasta implements non formal education with individual approach using aprentisip/cantrik system and inheritance conducted in I Gusti Bagus Sudiasta’s house to his children, I Gusti Bagus Kusuma Mahendra and Gusti Ayu Sri Wedayani. The process of prasi knowledge decrease is started from the process of comprehending the attribute form based on characteristic of each character in puppet and comprehension about theme and idea used as the guidance in order to make puppet narration. The process of prasi skill decrease is started from (1) the process of creating media, toreh, with rontal leaves, (2) the process of processing candlenut as dye substance, and (3) the process of creating prasi.keyword : prasi skill, prasi knowledge, process

Page 1 of 1 | Total Record : 5