cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 1 (2018)" : 7 Documents clear
JIHAD ALA GERAKAN MAHASISWA PEMBEBASAN: SEBUAH CATATAN ATAS RADIKALISME DI KALANGAN MAHASISWA Lufaefi, Lufaefi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.212 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1995

Abstract

Jihad is often identified with violence. The destruction of objects that are claimed to be un-Islamic is frequently become the target of jihad by some Islamic groups. As a result, Islam is often accused of being a religion of violence and terrorism. GEMA Pembebasan is a Student movement that aspires to the establishment of Islamic State in Indonesia. The GEMA jihad model is fighting against the unbeliever. In this case, GEMA is not interpreted Jihad as a learning jihad, political jihad, economic jihad, and so on. The GEMA Liberation jihad model keeps the dark sides of radicalism that threaten the socio-cultural of Indonesia. GEMA Liberation Jihad impacts on the frequency of Islam being accused as a radical religion and terror. Jihad sering diidentifikasi sebagai tindakan kekerasan. Penghancuran benda-benda yang diklaim tidak islami juga tidak jarang menjadi sasaran jihad di jalan Allah oleh beberapa kelompok Islam. Akibatnya, Islam sering dituduh sebagai agama kekerasan dan terorisme. GEMA (Gerakan Mahasiswa) Pembebasan adalah gerakan mahasiswa yang bercita-cita untuk pembentukan Negara Islam di Indonesia. Model jihad GEMA ini hanya melawan kaum kafir. Jihad tidak diartikan sebagai jihad dalam menuntut ilmu, jihad dalam politik, jihad dalam ekonomi, dan sebagainya. Model jihad Pembebasan GEMA menyelamatkan sisi gelap radikalisme yang mengancam sosio-budaya Indonesia. Implikasi jihad Pembebasan GEMA berdampak pada frekuensi Islam dituduh sebagai agama dan teror radikal.
MODEL EVALUASI PENDIDIKAN BERBASIS PROSES MENURUT HADITS Zainab, Nurul
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.367 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1465

Abstract

Hadith is the second source of knowledge for Muslims after the Quran. The proclamation of a hadith needs to be extracted, to provide power for the development of science because it really comes from the words, actions and taqrir of Prophet Muhammad SAW. In the context of education, there are many hadiths that can serve as the basis of developing the subject of educational evaluation. Based on the study of hadith contained in this article, it is found a hadith history at-Tirmidhi which explains the virtue of honesty and get away from the nature of lies. In addition to the results of research, sanad and matan hadith,  this hadith is sahih because the aspect of the content of the hadith does not conflict with the Quran and other sahih hadiths. In this article it is also found the meaning of hadith and its implications for the development of educational evaluation that can provide treasures for educators in carrying out the assessment process in learning.Hadis merupakan sumber pengetahuan kedua bagi umat muslim setelah al-Qur’an, kehujjahan sebuah hadis perlu digali sehingga memberikan kekuatan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena memang benar-benar berasal dari ucapan, tindakan maupun taqrir Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks pendidikan khususnya evaluasi banyak hadis yang dijadikan sumber landasan pengembangan evaluasi. Berdasarkan penelitian hadis yang ada di dalam artikel ini, didapati sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi yang menjelaskan keutamaan kejujuran dan menjauhi sifat kebohongan. Hadits ini bernilai shohih karena secara jalur sanad tidak ada yang terputus dan dari aspek isi hadits tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits-hadits shohih lainnya. Selain hasil penelitian sanad dan matan hadits. Di dalam artikel ini juga didapati makna hadis serta implikasinya terhadap pengembangan evaluasi pendidikan yang dapat memberikan khazanah bagi pendidik dalam melaksanakan proses penilaian dalam pembelajaran.
PARALLEL FRAMEWORK OF MUḤAMMAD AND MOSESS STORY: AN ANALYSIS OF THE NARRATIVES OF ḤALĪMAH AL-SAʿDIYYAH Azmi, Ahmad Sanusi
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.372 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1922

Abstract

Kajian modern tentang asal-usul sīrah Nabawiyah telah menelusuri dan menemukan keberadaan pengaruh kitab suci sebelumnya dan unsur-unsurnya dalam narasi sīrah. Kisah tentang Halimah, sang ibu susuan, menurut Raven, menunjukkan kejadian paralel dengan kematangan Yesus ketika bayi, dalam Injil. Selain itu, para sarjana Muslim seperti Ibn Hisham ditemukan konsisten dalam membuat perbandingan paralel antara Muhammad dan Musa dalam karyanya. Tulisan ini memfokuskan pada kehidupan awal yang terfokus pada periode Ḥalīmah al-Sadiyyah dengan menganalisis penggunaan referensi Al-Quran dalam narasi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode pendekatan kritis dan analisis tekstual untuk membaca cerita. Kajian ini menemukan proposisi bahwa ada dua kemungkinan alasan yang mengarahkan Ibn Hisham menambahkan ayat 28:12 dari Al-Quran sebagai referensi atas catatan waktu Muhammad sebagai bayi yang menyusu. Isu pertama ketidakjelasan digital dalam narasi Ibn Isāq. Dan yang kedua adalah memberikan kepercayaan kepada kisah kedua nabi, Muhammad dan Musa.Modern studies of the origin of sīrah nabawiyyah have traced and suggested the existence of influence of previous scriptures and their elements within the sīrah narrative. The extraordinary speed and marks of physical maturity in Prophet Muḥammad’s wet-nurse period with Halimah, which, according to Raven, indicates a parallel occurrence with Jesus precocity in the Gospels of the Infancy. Besides, Muslim scholars such as Ibn Hishām was found to consistently make parallel comparison between Muḥammad and Moses in his work. This study aims to explore the narratives of Prophet Muḥammad’s early life, with special focus to his period with Ḥalīmah al-Sa’diyyah and analyse the use of Quranic reference in the narrative. The study is qualitative in nature in which the researcher employed critical and textual analysis to examine the story. The present study in its finding proposes that there are two possible reasons which lead Ibn Hishām to adduce verse 28:12 of the Quran as his reference to the account of Muḥammad’s time as a suckling infant. The first is to elucidate lexical obscurity in the narration of Ibn Isḥāq. And the second is to give credence to the similarity between the accounts of two prophets, Muḥammad and Moses.
PENGARUH ISLAM DAN KEBUDAYAAN MELAYU TERHADAP KESENIAN MADIHIN MASYARAKAT BANJAR Akmal, Atqo
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.758 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.2044

Abstract

Banjaresse Culture is a transformation and transculturation of the pre-Islamic religious beliefs with post-Islamization. The contact between the two cultures resulted in a new Banjar entity that strongly influenced by the values of Islam and Malay culture. In art, madihin emerges as the result of assimilation between Malay-Muslim and Banjar art cultures. Madihin has similarities to the oral literature of Malay, pantun and verse, but it is delivered in Banjaresse language, with rhymes that are not necessarily follow certain pattern (eg: must be a-a-a-a or a-b-a-b), no limitation for number of stanza, and not play a particular drama. The emergence of madihin is a transformation of qasida form which present to mark the presence of Islam in the archiplego. The use of tarbang as a musical instrument in madihin, similar to qasida with its rebana-drums. However, madihin is different from the qasida arts whose lyrics are the verses of the song. Madihin is likely an oral literature that has no pattern of regular rhyme and lyric, and not too concerned with the suitability of the lyrics, verse with the rhythm, as an important conformity in the music of qasida.Budaya masyarakat Banjar merupakan transformasi dan transkulturasi religiusitas kepercayaan pra-Islam dengan paska islamisasi. Pertemuan keduanya menghasilkan suatu entitas Banjar baru yang dipengaruhi kuat oleh nilai dan ajaran Islam serta kebudayaan melayu. Dalam bidang kesenian, sastra lisan madihin muncul sebagai hasil dari asimilasi antara kebudayaan Melayu-Islam dan Banjar. Madihin memiliki kesamaan dengan sastra lisan melayu sejenis pantun dan syair, namun disampaikan dalam bahasa Banjar, dengan rima yang tidak mesti teratur (misalnya harus: a-a-a-a atau a-b-a-b), jumlah bait yang tidak baku, dan tidak melakonkan suatu drama tertentu. Kemunculan madihin merupakan transformasi bentuk qasida yang hadir ke nusantara saat berkembangnya Islam. Penggunaan tarbang sebagai instrumen musik pengiring dalam pertunjukkan madihin, mirip dengan kesenian qasida dengan gendang rebana-nya. Namun madihin berbeda dengan kesenian qasida yang liriknya merupakan bait-bait lagu, madihin merupakan penyampaian sastra lisan sejenis pantun dan syair yang dilagukan, serta tidak terlalu mementingkan kesesuaian bait lirik dengan irama, satu kesesuaian yang penting dalam musik qasida.
PERAN ULAMA DALAM PENDAMPINGAN PEREMPUAN YANG POSITIF HIV DAN AIDS Parhani, Imadduddin
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.58 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1439

Abstract

HIV and AIDS have spread to all provinces in Indonesia. No more districts/cities are free from the spread of HIV and AIDS. Many efforts are made by the government to reduce the spread of HIV and AIDS. However, these efforts are only conducted at the medical level, not touched on community empowerment, especially Ulama involvement in planning, implementing and evaluating HIV and AIDS prevention programs. Ulama should be postulated as part of a government-developed system of HIV and AIDS prevention and control. Ulama should be given a role in identifying, formulating, implementing and monitoring program activities with the focus of exploring social problems that occur in the environment. If clerics are directly involved since the commencement of an activity program, they will be able to understand better of what they should do for a program. Involvement and empowerment are the principles of HIV and AIDS prevention. Involvement and empowerment in AIDS prevention aims to achieve better health outcomes with the active participation of civil society in planning, implementing, monitoring and evaluating services.  The activities which are in conflict with prevention, treatment, care and support for PLWHA and oriented to an anti-gender partnership discrimination, as well as stigma,  can put women in anti-socio-cultural, and physiological conditions. It is also  equally important that scholars openly opposed to gender-based violence.Saat ini, HIV dan AIDS telah menyebar ke semua provinsi di Indonesia. Tidak ada lagi kabupaten / kota yang bebas dari penyebaran HIV dan AIDS. Banyak upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi penyebaran HIV dan AIDS. Namun, upaya ini hanya dilakukan di tingkat medis saja, tidak menyentuh pemberdayaan masyarakat, terutama keterlibatan ulama dalam perencanaan, penerapan dan evaluasi program pencegahan HIV dan AIDS. Ulama harus dipostulasikan sebagai bagian dari sistem pencegahan dan pengendalian HIV dan AIDS yang dikembangkan oleh pemerintah. Ulama diberi peran dalam mengidentifikasi, merumuskan, melaksanakan dan memantau kegiatan program dengan fokus mengeksplorasi masalah sosial yang terjadi di lingkungan. Jika para ulama terlibat langsung sejak dimulainya suatu program kegiatan, mereka akan lebih mampu memahami apa yang harus mereka lakukan untuk sebuah program. Keterlibatan dan pemberdayaan adalah salah satu prinsip pencegahan HIV dan AIDS. Keterlibatan dan pemberdayaan dalam pencegahan AIDS bertujuan untuk mencapai hasil kesehatan yang lebih baik dengan partisipasi aktif masyarakat sipil dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi layanan dan kegiatan yang bertentangan dengan pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan untuk ODHA yang berorientasi pada diskriminasi kemitraan anti-gender, stigma, menempatkan perempuan dalam kondisi yang anti-sosio-budaya, dan fisiologis, dan sama pentingnya adalah para ahli secara terbuka menentang kekerasan berbasis gender.
AMBIVALENSI JIHAD DAN TERORISME: TINJAUAN ANALISIS SEMANTIK-KONTEKSTUAL AYAT-AYAT JIHAD Nisa, Khairun; Muchlisin, Annas Rolli
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.345 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.2004

Abstract

In the early 21st century, the global world had an extreme fright after WTC (World Trade Centre) was attacked by international terrorist networks in the name of Islam. These actions disgrace the name of Islam in international world which cause Islamopobhia in most countries. These acts of terrors inspire other terrors. Indonesia was also not free from terror attacks. One of these was the Bali attack in 2012 carried out by three jihadist called "Trio Bom Bali " in the name of jihad. Jihad is often referred to as the cause of violence in Islamic societies.  Jihad Ambivalence by acts of war or terror has reduced the real meaning of jihad. By using the guidelines offered by Ella Landou Tasseron in the Encyclopaedia of the Quran, this study seeks to track and identify any verse which has “qitāl” meaning in order to define jihad proportionately and wisely. Furthermore, this study seeks to contextualize the term jihad to find out which  forms of jihad can be applied and prioritized in contemporary era, especially to avoid acts of terrors in the name of jihad. In contemporary era, jihad can be contextualized so that this concept could be a problem solver for the problem of the Muslims today.Pada awal abad 21, dunia global menghadapi kepanikan akan tragedi serangan WTC (World Trade Center) oleh jaringan teroris internasional atas nama Islam. Tindakan-tindakan ini menodai nama Islam di mata dunia internasional dan memberikan implikasi bagi meluasnya Islamopobhia di sebagian besar negara. Tindakan-tindakan teror ini mengilhami teror lainnya. Indonesia tidak bebas dari serangan teror. Salah satunya adalah Serangan Bali pada tahun 2012 yang dilakukan oleh "Trio Bom Bali" atas nama jihad. Jihad sering disebut sebagai penyebab kekerasan dalam masyarakat Islam. Kata Jihad merupakan ambivalensi dengan tindakan perang atau teror telah mengurangi arti jihad yang sebenarnya. Kata jihad adalah kata yang memiliki banyak arti yang membutuhkan studi mendalam untuk mengungkap makna yang terkandung di dalamnya. Dengan menggunakan pedoman yang ditawarkan oleh Ella Landou Tasseron dalam Encyclopaedia of the Quran, penelitian ini berusaha untuk melacak dan mengidentifikasi setiap ayat yang bermakna "qitāl" sehingga kita dapat menempatkan makna jihad secara proporsional dan bijaksana. Selanjutnya, penelitian ini berusaha untuk mengkontekstualisasikan istilah jihad, sehingga dapat diketahui bentuk jihad dapat diterapkan dan diprioritaskan di era kontemporer, terutama untuk menghindari tindakan teror yang sering diizinkan dengan nama jihad. Pada masa kontemporer, jihad dapat dikontekstualisasikan sehingga konsep ini dapat menjadi pemecah masalah bagi masalah umat Islam saat ini, seperti ketidaktahuan, kemiskinan, dan untuk mempertahankan nilai-nilai Republik Indonesia, toleransi dan perdamaian di dunia.
ANALISIS DANA TALANGAN HAJI PADA BANK MEGA SYARIAH CABANG PEKANBARU MENURUT HUKUM ISLAM MAULIDIZEN, AHMAD
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.167 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v17i1.1937

Abstract

Syariah banking in Indonesia is experiencing significant developments, including assets, financial services, and the number of customers. Haj funds is a financial service using a contract of qard or ijarah given to prospective pilgrims in an effort to obtain the portion number of Hajj or Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). The implementation of this product gives a positive and negative impression, so the legitimacy of the product and the consequences of its implementation need to be reviewed. This article will explain the implementation of the Hajj Fund of Bank Mega Syariah Branch Pekanbaru and revisit the Islamic Law on the implementation of these products. The purpose of this research is to facilitate the implementation of Hajj Funds products as well as to get a legitimate status of product. The results of this study shows that the akad/contract itself has a great risk of hidden usury because in this contract there is a merger between akad qard and ijarah by requiring additional benefits as a service and the amount of the benefit  depends on the amount and the length of loan. In fiqh muamalah, it is mentioned that that any profitable loan is riba. Perbankan Syariah di Indonesia mengalami perkembangan signifikan, termasuk aset, pembiayaan yang diberikan dan jumlah pelanggan. Dana haji adalah pembiayaan dengan menggunakan kontrak qard atau ijarah yang diberikan kepada calon jemaah haji dalam upaya mendapatkan porsi jumlah Haji atau Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Penerapan produk ini memberi kesan positif dan negatif, sehingga perlu meninjau tentang legitimasi produk dan konsekuensi yang dihasilkan dalam pelaksanaannya. Karena artikel ini akan menjelaskan pelaksanaan Dana Haji Bank Mega Syariah Cabang Pekanbaru dan peninjauan kembali Hukum Islam tentang pelaksanaan produk tersebut. Tujuan penelitian ini agar pelaksanaan produk Dana Haji selain untuk memudahkan pelanggan dalam melakukan ziarah, tetapi juga mendapatkan status legitimasi produk. Hasil dari penelitian ini adalah validitas akadnya yang sangat berisiko untuk terjerembab ke riba yang tersembunyi, karena dalam kontrak ini ada penggabungan antara akad qard dan ijarah dengan membutuhkan manfaat tambahan sebagai layanan, bahkan jumlahnya tergantung pada jumlah pinjaman dan panjang pinjaman. Dalam fiqh muamalah diketahui kaedah bahwa "Setiap piutang yang untung atau lebih adalah riba"

Page 1 of 1 | Total Record : 7