cover
Contact Name
Irfan Noor
Contact Email
albanjari@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
irfannoor@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2019)" : 14 Documents clear
AKSESIBILITAS PENDIDIKAN BAGI KAUM DISABILITAS PADA MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) DI KOTA BANJARMASIN Salmah, Syarifah; Tamjidnoor, Tamjidnoor
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.971 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2995

Abstract

The government guarantees the equal and same rights to access education. But the problem is, is it true that education can be accessed by all levels of society without exception, including those with disabilities? We must look at the issue of education for individuals with special needs through its implementation or in other words whether schools really have accepted disabled people to enjoy regular education like other children. This study aims to find out how schools within the Ministry of Religion, especially at the level of State Islamic Elementary School (MIN), as an institution that is authorized to implement the government policies that provide easy and equitable access to education. This research is a survey research conducted on 5 state Islamic elementary schools with research time starting from July 2018 to December 2018. The target population is all MIN, and all of them will be observed in depth. From the results of the study we can conclude that all of the State Islamic Elementary School (MIN) in Banjarmasin are not responsive to disability. This is indicated by the absence of supporting facilities for this matter and there are no disability students who attend all these MIN. Then the socialization of the related legal basis is indeed unknown to the school as an executor who directly serves the community. Pemerintah menjamin hak yang sama untuk mengakses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah, apakah benar pendidikan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali termasuk bagi kaum disabilitas. Isu pendidikan bagi individu berkebutuhan khusus ini harus kita lihat melalui dilihat dari implementasinya atau dengan kata lain apakah sekolah benar-benar telah menerima kaum disabilitas untuk menikmati pendidikan regular seperti anak-anak lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sekolah yang berada di lingkungan Kementrian Agama khususnya pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) sebagai pelaksana kebijakan pemerintah, melakukan upaya akses pendidikan yang adil dan merata. Penelitian ini menrupakan penelitian survey serta dilaksanakan pada seluruh MIN di Kota Banjarmasin yang berjumlah 5 MIN dengan waktu penelitian mulai dari tanggal Juli 2018 sampai dengan Desember 2018. Populasi target adalah seluruh MIN yang berjumlah 5 dan semuanya akan di observasi secara mendalam. Dari hasil penelitian dapat kami simpulkan bahwa seluruh Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Kota Banjarmasin dapat kami katakan tidak layak disabilitas. Hal ini ditandai dengan tidak adanya fasilitas pendukung hal tersebut dan tidak ada pula siswa disabilitas yang bersekolah di semua MIN tersebut. Kemudian sosialisasi dasar hukum terkait memang tidak diketahui oleh pihak sekolah sebagai pelaksana yang langsung melayani masyarakat.
STUDI NASKAH FIKIH MELAYU (RISALAH IS’AF AL RAGHIBIN FI ‘ILMI AL FARAIDH) KARYA JAD AHMAD MUBARAK Wahidah, Wahidah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.346 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2545

Abstract

Jad Ahmad Mubarak is a title that was deliberately chosen by the composer of Risalah Is'af al Raghibin fi ?Ilmi al Faraidh. The name is indeed not found in any one site, but the teacher and caretaker of Al Mursyidul Amin Islamic Boarding School has experience and deep understanding on Fiqh Mawarits. This handwritten work is not widely known by the Banjar Muslim community. So, this paper discusses the "perwajahan(faces)" and characteristics of this work. In fact, the work on the science of faraidh has raised opinions regarding "the meaning of parallels between men and women in the context of the ashobah". The other findings are the composition of his writing contains a number of chapters consisting of 41 shahifahs. Every description is preceded by Arabic poetry, although not entirely translated into Malay Arabic. As part of the contents of the book, the author also added his discussion about Jadwal al Hujbi. The content has a complete material content like the book of Faraidh, all of which are presented in illustrative examples of each case.Jad Ahmad Mubarak merupakan gelar yang sengaja dipilih oleh penyusun Risalah Is?af al Raghibin fi ?Ilmi al Faraidh. Namanya memang tidak dijumpai dalam satu situs sekalipun, namun pengajar dan pengasuh Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin ini memiliki pengalaman dan pemahaman yang dalam mengenai fikih mawarits. Karya dengan tulisan tangan ini, tidak banyak diketahui oleh masyarakat Muslim Banjar. Tulisan ini membahas ?perwajahan? dan karakteristik risalah ini. Risalah tentang ilmu faraidh ini telah memunculkan pendapat terkait ?makna kesejajaran antara laki-laki dan perempuan dalam konteks ashobah?. Adapun temuan lainnya adalah komposisi tulisannya memuat sejumlah bab yang terdiri 41 shahifah. Setiap uraian didahului dengan syair-syair berbahasa Arab, meskipun tidak seluruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab Melayu. Sebagai kelengkapan isi Risalah, pengarangnya juga menambahkan bahasannya mengenai Jadwal al Hujbi. Muatan materi yang lengkap layaknya kitab faraidh, semuanya disajikan dengan illustrasi contoh-contoh setiap kasus.
KITAB JAWI SEBAGAI KARYA KEARIFAN TEMPATAN MELAYU : ANALISIS SEJARAH INTELEKTUAL Abd. Rahim, Rahimin Affandi; Pawi, Awang Azman bin Awang; Abd Jalal, Ahmad Farid; Abdul Malik, Mohd Puaad Bin
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.742 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2528

Abstract

This article examines the treasures of the Arabic Malay books (Kitab Jawi) which have a wealth of Malay local wisdom. There are three important aspects of the contents of the Malay books discussed in this article, namely: (1) uruf and Malay local wisdom; (2) the principle of Malay local wisdom formula and (3) proof of Kitab Jawi as Malay local wisdom that can be promoted at this time. The results of this study confirm several things. First, the awareness of the world community about local wisdom belonging to the community of the non-European may be filled by expressing the concept of local wisdom based on Islamic knowledge. Secondly, the constructs and formulas of Malay local wisdom are indeed rather unique because they are the result of the sentiment between Islam and Malay thought. Third, Kitab Jawi is indeed the most important product of local Malay Islamic wisdom. This can be seen in terms of the formation of Jawi writings and the constructs of science that were awakened by previous Malay scholars. Artikel ini mengkaji khazanah kitab-kitab Arab Melayu (Kitab Jawi) yang memiliki kekayaan akan kearifan lokal Melayu. Ada tiga aspek penting kandungan kitab-kitan Melayu yang dibahas dalam artikel ini, yaitu :  (1) uruf dan kearifan lokal Melayu; (2) asas formula kearifan lokal Melayu dan (3) pembuktian kitab jawi sebagai kearifan lokal Melayu yang bisa dipromisikan di masa ini. Hasil kajian ini menegaskan beberapa hal. Pertama, kesadaran masyarakat dunia tentang kearifan lokal milik masyarakat peribumi bukan Eropa boleh diisi dengan mengemukakan konsep kearifan lokal berasaskan ilmu melayu Islam. Kedua, konstruk dan formula kearifan lokal Melayu memang agak unik kerana merupakan hasil sentesis antara Islam dengan pemikiran Melayu. Ketiga, kitab jawi memang merupakan produk kearifan lokal Melayu Islam yang terpenting. Ini dapat dilihat dari segi pembentukan tulisan jawi dan konstruk ilmu yang dibangunkan oleh ulama melayu masa silam.
PERAN SUFISME DALAM MENGATASI PAHAM ISLAM RADIKAL DI INDONESIA Abshor, Ulil
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.887 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2540

Abstract

Radical Islamic Movement or Islamic Radicalism is a movement that has a mindset of textualist ideology, takfiri and truth claim. Basically, the context in which a religious understanding that is claimed to be the final truth, certainly contains an exclusive and offensive element so that some views, flow, and any schools outside is deemed as deviant, because it is far from authoritative sources originating from the Qur'an and the Sunna. This phenomenon does not reflect the peace of Islam as taught by the Prophet as rahmatan lil ?Alamiin (mercy for all nature). This article explores further the importance of the role of Sufism related to the spiritual teachings in it which are the basic foundation in realizing Islam that is peaceful, tolerant, respectful, respectful among fellow human beings especially among other religious people. Islamic teachings extracted in Sufism contain solutive elements in fulfilling the true spirit of Islamic migration (hijra). The Sufism values contain restraints on an "engine of desire" which is now sweeping through modern society. In these conditions, in the face of challenges for the reduction of the spirit of radicalism, consistency (tawakkal) is needed, namely the form of tireless cleansing of the soul.Gerakan Islam Radikal atau Radikalisme Islam merupakan gerakan yang memiliki pola pikir ideologi tekstualis, takfiri dan truth claim. Pada dasarnya, konteks di mana sebuah pemahaman keagamaan yang diklaim sebagai kebenaran final, tentu mengandung unsur eksklusif dan ofensif sehingga paham, aliran, madzhab apapun diluar dirinya dianggap menyimpang, karena jauh dari sumber otoritatif yang berasal dari al-Qur?an dan al-Sunnah. Fenomena tersebut tidak mencerminkan kedamaian Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. sebagai rahmatan lil ?Alamiin (rahmat bagi seluruh alam). Artikel ini mengeksplor lebih jauh tentang pentingnya peran nilai-nilai sufisme terkait ajaran-ajaran spiritual di dalamnya yang menjadi pondasi pokok dalam merealisasikan Islam yang damai, toleran, saling menghargai, menghormati antar sesama umat manusia terlebih antar umat agama lain. Ajaran Islam yang terekstrak dalam sufisme mengandung unsur solutif dalam memenuhi semangat hijrah keislaman yang sesungguhnya. Nilai-nilai sufisme yang dimaksud mengandung pengekangan terhadap sebuah ?mesin hasrat? yang kini melanda masyarakat modern. Di dalam kondisi seperti ini, dalam menghadapi tantangan demi berkurangnya spirit radikalisme, diperlukan konsistensi (tawakkal) yaitu bentuk penyucian jiwa yang tak kenal lelah.
AGRESI KULTUR DIGITAL DAN KONSUMERISME PADA IDENTITAS URANG BANJAR DI ERA PASCAMODERN Supriansyah, Supriansyah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.316 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2544

Abstract

This article examines the identity of the Banjar people who have been trapped in issues of ethnicity, religion and culture. The social construction of the identity of contemporary or urban Banjar people is still not touched by many researchers. Known as a religious and obedient society, the urban Banjar people cannot avoid contact with the clash of differences, where the presence of the internet makes it easy to clash or friction with various things. Living in the postmodern era, the Banjar community met with digital culture and consumerism. Both are very susceptible to coloring Islam, which is also happened in forming the identity of the Banjar people itself. Two important questions in this article, namely what do the Banjar people face in the postmodern era? And what is the effect on the construction of the identity of the Banjar people? In fact, the spirituality of the Banjar community which is touched by digital culture and consumerism is transformed by infecting the secular side and the melting of traditionalism in Banjar's public life. The culture of Ahlussunnah wal jamaah of the Banjar community is no longer rigid but mingles with several different ideologies or ideologies. The Islamic identity of the Banjar people is no longer dominated by the ideology of Aswaja. At the same time, political conditions play an active role, so there is silence on the worship side because it is intertwined with consumerism, digital culture and the strengthening of the flow of Islamic populism in society. Artikel ini mengulik identitas masyarakat Banjar yang selama ini masih terjebak dalam persoalan etnisitas, keberagamaan dan kebudayaan. Konstruksi sosial atas identitas urang Banjar kontemporer atau urban masih belum banyak disentuh oleh banyak peneliti. Dikenal sebagai masyarakat yang religious dan taat beribadah, urang Banjar urban tidak bisa mengelak bersentuhan dengan benturan berbagai perbedaan, di mana dengan kehadiran internet memudahkan terjadi benturan atau gesekan dengan berbagai hal. Hidup di era pascamodern, masyarakat Banjar berjumpa dengan kultur digital dan budaya konsumerisme. Dua kultur yang sangat rentan mewarnai keberislaman, yang mana juga sebagai identitas urang Banjar itu sendiri. Dua pertanyaan penting dalam artikel ini, yaitu apa saja yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat Banjar di era pascamodern? Dan apa pengaruhnya terhadap konstruksi identitas urang Banjar? Spritualitas masyarakat Banjar yang dijamah kultur digital dan konsumerisme bertransformasi dengan menjangkiti sisi sekuler dan mencairnya tradisionalisme di kehidupan publik Banjar. Kultur Ahlussunnah wal Jamaah masyarakat Banjar tidak lagi rigid dan berbaur cair dengan beberapa paham atau ideologi yang berbeda. Identitas Keberislaman urang Banjar tidak lagi didominasi dibatasi ideologi Aswaja. Di saat yang sama kondisi politik turut memainkan peran aktif, sehingga terjadi pendangkalan pada sisi peribadatan karena berkelindan dengan konsumerisme, kultur digital dan menguatnya arus populisme Islam di masyarakat.
PERSEPSI DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP WISATA SYARIAH (HALAL TOURISM) DI PULAU SANTEN KABUPATEN BANYUWANGI Fawaid, Achmad; Khotimah, Juzrotul
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.825 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2532

Abstract

Sharia / halal tourism tourism is a trend and golden opportunity for the region. Banyuwangi as one of the regions that has natural resources such as coastal, sea, and small islands trying to develop the tourism sector located in Santen Island, Karangrejo Banyuwangi Village with sharia tourism forms. The aim of the research is to find out how the perceptions and attitudes of the community towards the existence of sharia tourism (halal tourism) in Banyuwangi Regency. The research methods used in this study are interviews, documentation and observation. While the analysis is interactive models consisting of several components such as: data reduction, presentation data, drawing and testing data. The finding of this study is the application of the concept of Islamic tourism on Santen Island are still not optimal. The community has a positive perception with a value of 75%, a positive attitude with an 80% value and positive participation with a value of 85% of visitors, the results of the Islamic travel concept of 70% of visitors who consider the location clean and 30% of visitors consider the location unclean, visitors say facilities which is quite adequate on Santen Island with a value of 65% of visitors assuming that the separation of men and women has not been carried out in accordance with the concept of Islamic tourism. While the economic impact has experienced an increase in the local economy and reduced unemployment for the people on the island of Santen. Wisata syariah/halal tourism menjadi tren dan golden opportunity bagi daerah. Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang memiliki sumber daya alam seperti: pesisir, laut, dan pulau kecil mencoba untuk mengembangkan sektor pariwisata yang berada Pulau Santen Kelurahan Karangrejo Banyuwangi dengan bentuk wisata syariah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana  persepsi dan sikap masyarakat terhadap adanya  wisata syariah (halal tourism) di Kabupaten Banyuwangi. Beberapa metode penelitian yang digunakan  diantaranya  adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Sedangkan analisis yang dapat digunakan diantaranya adalah  model interaktif yang terdiri dari beberapa  komponen seperti: reduksi data, data presentasi, menggambar dan menguji data. Temuan dalam penelitian ini termasuk penerapan konsep pariwisata Islam di Pulau Santen masih belum optimal. Masyarakat memiliki persepsi positif dengan nilai 75%, sikap positif dengan nilai 80%  dan partisipasi positif dengan nilai 85%  dari pengunjung, hasil  konsep perjalanan syariah sebesar 70% dari pengunjung yang menganggap lokasi bersih dan 30% pengunjung menganggap lokasi tidak bersih, pengunjung mengatakan fasilitas yang ada cukup memadai di Pulau Santen dengan nilai 65% para pengunjung menganggap bahwa pemisahan laki-laki dan perempuan belum terlaksana sesuai dengan konsep pariwisata islami, sedangkan dari dampak ekonomi telah mengalami peningkatan ekonomi lokal dan mengurangi pengangguran bagi masyarakat di Pulau Santen.
BAY’ AL-ʻĪNAH: CONCEPT AND IMPLEMENTATION ACCORDING TO MAZHAB CONTEMPORARY SCHOLARS Maulidizen, Ahmad
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.465 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2537

Abstract

Bay?u al-?inah merupakan akad jual beli yang menjadi perdebatan para ulama klasik dan kontemporer dari segi hukum dan pelaksanaannya. Hal tersebut mengharuskan adanya artikel yang menjelaskan konsep bay?u al-?inah untuk menentukan hukumnya. Dalam artikel ini penulis menjelaskan konsep, hukum dan aplikasi bay?u al-?inah menurut mazhab dan ulama kontemporer dengan menyatakan alasan-alasan mereka untuk memilih pendapat yang kuat. Para fuqaha sepakat mengharamkan bay?u al-??nah jika ada syarat ma?q?d ?alayh harus dijual kembali kepada penjual asalnya. Begitu juga jika terdapat petunjuk adanya ??lah melakukan rib? maka hukumnya juga adalah batal. Apa yang menjadi perdebatan fuqaha adalah apabila tidak ada syarat demikian dan tidak adanya pentujuk ??lah melakukan rib?. Dalam masalah ini penulis berpandangan bahwa akad bay?u al-?inah adalah haram jika niat melakukan rib? tidak dinyatakan dalam berkontrak. Namun, status akad tersebut adalah sah atau tidak batal selama tidak ada syarat mab?? harus dijual kembali kepada penjual asalnya dan tidak adanya di antara kedua belah pihak yang berakad untuk melakukan rib?. Ini karena dengan adanya niat, walaupun di luar akad maka niat melakukan rib? telah dinyatakan dan dapat membatalkan akad. Bay?u al-?inah is a buying and selling contract that became the debate of classical and contemporary scholars in terms of law and its implementation. Therefore, it is necessary to have an article describing the concept of bay?u al-?inah to determine the law of the bay?u al-?inah. In this paper, the author will explain the concepts, laws and applications of bay?u al-?inah according to contemporary schools and scholars by stating their reasons for choosing strong opinions. The fuqaha agree to forbid the bay?u al-?inah if there is a condition that ma?qud ?alayh must be resold to the seller of origin. Likewise, if there is a hint of the existence of ??lah do the usury then the law also is void. What is fuqaha debate is that if there is no such requirement and no referent. In this case, the author holds that the bay?u al-?inah contract is haram if the intention of doing usury is not stated in contract. However, the status of the contract is valid or not void as long as there is no requirement of mab?? to be resold to the original seller and the absence between the two parties who intend to do usury. This is because with the intention, although outside the contract, then the intention of usury has been declared and it can cancel the contract.
BAY’ AL-ʻĪNAH: CONCEPT AND IMPLEMENTATION ACCORDING TO MAZHAB CONTEMPORARY SCHOLARS Ahmad Maulidizen
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2537

Abstract

Bay’u al-‘inah merupakan akad jual beli yang menjadi perdebatan para ulama klasik dan kontemporer dari segi hukum dan pelaksanaannya. Hal tersebut mengharuskan adanya artikel yang menjelaskan konsep bay’u al-‘inah untuk menentukan hukumnya. Dalam artikel ini penulis menjelaskan konsep, hukum dan aplikasi bay’u al-‘inah menurut mazhab dan ulama kontemporer dengan menyatakan alasan-alasan mereka untuk memilih pendapat yang kuat. Para fuqaha sepakat mengharamkan bay’u al-‘īnah jika ada syarat ma‘qūd ‘alayh harus dijual kembali kepada penjual asalnya. Begitu juga jika terdapat petunjuk adanya ḥīlah melakukan ribā maka hukumnya juga adalah batal. Apa yang menjadi perdebatan fuqaha adalah apabila tidak ada syarat demikian dan tidak adanya pentujuk ḥīlah melakukan ribā. Dalam masalah ini penulis berpandangan bahwa akad bay’u al-‘inah adalah haram jika niat melakukan ribā tidak dinyatakan dalam berkontrak. Namun, status akad tersebut adalah sah atau tidak batal selama tidak ada syarat mab‘ī harus dijual kembali kepada penjual asalnya dan tidak adanya di antara kedua belah pihak yang berakad untuk melakukan ribā. Ini karena dengan adanya niat, walaupun di luar akad maka niat melakukan ribā telah dinyatakan dan dapat membatalkan akad. Bay’u al-‘inah is a buying and selling contract that became the debate of classical and contemporary scholars in terms of law and its implementation. Therefore, it is necessary to have an article describing the concept of bay’u al-‘inah to determine the law of the bay’u al-‘inah. In this paper, the author will explain the concepts, laws and applications of bay’u al-‘inah according to contemporary schools and scholars by stating their reasons for choosing strong opinions. The fuqaha agree to forbid the bay’u al-‘inah if there is a condition that ma‘qud ‘alayh must be resold to the seller of origin. Likewise, if there is a hint of the existence of ḥīlah do the usury then the law also is void. What is fuqaha debate is that if there is no such requirement and no referent. In this case, the author holds that the bay’u al-‘inah contract is haram if the intention of doing usury is not stated in contract. However, the status of the contract is valid or not void as long as there is no requirement of mabī‘ to be resold to the original seller and the absence between the two parties who intend to do usury. This is because with the intention, although outside the contract, then the intention of usury has been declared and it can cancel the contract.
PERAN SUFISME DALAM MENGATASI PAHAM ISLAM RADIKAL DI INDONESIA Ulil Abshor
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2540

Abstract

Radical Islamic Movement or Islamic Radicalism is a movement that has a mindset of textualist ideology, takfiri and truth claim. Basically, the context in which a religious understanding that is claimed to be the final truth, certainly contains an exclusive and offensive element so that some views, flow, and any schools outside is deemed as deviant, because it is far from authoritative sources originating from the Qur'an and the Sunna. This phenomenon does not reflect the peace of Islam as taught by the Prophet as rahmatan lil ‘Alamiin (mercy for all nature). This article explores further the importance of the role of Sufism related to the spiritual teachings in it which are the basic foundation in realizing Islam that is peaceful, tolerant, respectful, respectful among fellow human beings especially among other religious people. Islamic teachings extracted in Sufism contain solutive elements in fulfilling the true spirit of Islamic migration (hijra). The Sufism values contain restraints on an "engine of desire" which is now sweeping through modern society. In these conditions, in the face of challenges for the reduction of the spirit of radicalism, consistency (tawakkal) is needed, namely the form of tireless cleansing of the soul.Gerakan Islam Radikal atau Radikalisme Islam merupakan gerakan yang memiliki pola pikir ideologi tekstualis, takfiri dan truth claim. Pada dasarnya, konteks di mana sebuah pemahaman keagamaan yang diklaim sebagai kebenaran final, tentu mengandung unsur eksklusif dan ofensif sehingga paham, aliran, madzhab apapun diluar dirinya dianggap menyimpang, karena jauh dari sumber otoritatif yang berasal dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Fenomena tersebut tidak mencerminkan kedamaian Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. sebagai rahmatan lil ‘Alamiin (rahmat bagi seluruh alam). Artikel ini mengeksplor lebih jauh tentang pentingnya peran nilai-nilai sufisme terkait ajaran-ajaran spiritual di dalamnya yang menjadi pondasi pokok dalam merealisasikan Islam yang damai, toleran, saling menghargai, menghormati antar sesama umat manusia terlebih antar umat agama lain. Ajaran Islam yang terekstrak dalam sufisme mengandung unsur solutif dalam memenuhi semangat hijrah keislaman yang sesungguhnya. Nilai-nilai sufisme yang dimaksud mengandung pengekangan terhadap sebuah “mesin hasrat” yang kini melanda masyarakat modern. Di dalam kondisi seperti ini, dalam menghadapi tantangan demi berkurangnya spirit radikalisme, diperlukan konsistensi (tawakkal) yaitu bentuk penyucian jiwa yang tak kenal lelah.
STUDI NASKAH FIKIH MELAYU (RISALAH IS’AF AL RAGHIBIN FI ‘ILMI AL FARAIDH) KARYA JAD AHMAD MUBARAK Wahidah Wahidah
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v18i1.2545

Abstract

Jad Ahmad Mubarak is a title that was deliberately chosen by the composer of Risalah Is'af al Raghibin fi ‘Ilmi al Faraidh. The name is indeed not found in any one site, but the teacher and caretaker of Al Mursyidul Amin Islamic Boarding School has experience and deep understanding on Fiqh Mawarits. This handwritten work is not widely known by the Banjar Muslim community. So, this paper discusses the "perwajahan(faces)" and characteristics of this work. In fact, the work on the science of faraidh has raised opinions regarding "the meaning of parallels between men and women in the context of the ashobah". The other findings are the composition of his writing contains a number of chapters consisting of 41 shahifahs. Every description is preceded by Arabic poetry, although not entirely translated into Malay Arabic. As part of the contents of the book, the author also added his discussion about Jadwal al Hujbi. The content has a complete material content like the book of Faraidh, all of which are presented in illustrative examples of each case.Jad Ahmad Mubarak merupakan gelar yang sengaja dipilih oleh penyusun Risalah Is’af al Raghibin fi ‘Ilmi al Faraidh. Namanya memang tidak dijumpai dalam satu situs sekalipun, namun pengajar dan pengasuh Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin ini memiliki pengalaman dan pemahaman yang dalam mengenai fikih mawarits. Karya dengan tulisan tangan ini, tidak banyak diketahui oleh masyarakat Muslim Banjar. Tulisan ini membahas “perwajahan” dan karakteristik risalah ini. Risalah tentang ilmu faraidh ini telah memunculkan pendapat terkait “makna kesejajaran antara laki-laki dan perempuan dalam konteks ashobah”. Adapun temuan lainnya adalah komposisi tulisannya memuat sejumlah bab yang terdiri 41 shahifah. Setiap uraian didahului dengan syair-syair berbahasa Arab, meskipun tidak seluruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab Melayu. Sebagai kelengkapan isi Risalah, pengarangnya juga menambahkan bahasannya mengenai Jadwal al Hujbi. Muatan materi yang lengkap layaknya kitab faraidh, semuanya disajikan dengan illustrasi contoh-contoh setiap kasus.

Page 1 of 2 | Total Record : 14