cover
Contact Name
M. Yaser Arafat
Contact Email
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Phone
+6281370980853
Journal Mail Official
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156 E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.
Jurnal Sosiologi Agama mengundang para ilmuwan, peneliti, dan siswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan penelitian mereka yang terkait dengan bidang sosiologi agama, masyarakat beragama, masyarakat multikultural, perubahan sosial masyarakat beragama, dan relasi sosial antar agama yang mencakup penyelidikan tekstual dan lapangan dengan perspektif sosiologi dan sosiologi agama.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2016)" : 7 Documents clear
DISKRIMINASI INTERNAL PADA KOMUNITAS WARIA PEKERJA SALON DI YOGYAKARTA Afaf Maulida
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.038 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-07

Abstract

Selain menjadi bagian dari wacana gender, LGBT juga tidak dapat dipisahkan dari permasalahan sosial, budaya, dan agama karenasemua itu memiliki hubungan yang saling berkaitan. Salah satu dari wacana LGBT yang perlu mendapatkan perhatian adalah soal transgender atau waria.Apabila ditinjau lebih jauh,terdapat diskriminasi internal pada komunitas waria pekerja salon di Yogyakarta. Dalam tulisan ini menyatakan bahwa di dalam komunitas waria-waria pekerja salon terdapat dua klasifikasi waria, yaitu kelompok waria kelas atas dan kelompok waria kelas bawah. Adanya klasifikasi inilah yang menjadi titik tolak adanya diskriminasi internal di kalangan waria pekerja salon di Yogyakarta. Kelompok waria kelas atas ini yang menjadi pelaku diskriminasi terhadap kelompok waria kelas bawah. Adapun bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami mereka adalah marginalisasi, stereotip, subordinasi, dan kekerasan. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya diskriminasi internal seperti faktor ekonomi, faktor gender, faktor agama, dan faktor sosial budaya. Dampak yang dirasakan oleh kelompok waria kelas bawah juga meliputi beberapa aspek, di antaranya secara ekonomi dan sosial.Kata kunci: waria, diskriminasi, analisis kelas, pekerja salon
Konstruksi Sosial Komunitas Pesantren mengenai Isu Radikalisme (Studi Kasus Pada Pesantren Salaf & Modern di Kota Malang) Tsabita Shabrina Alfanani
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.425 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-01

Abstract

Radicalism became a phenomenon widely discussed in inter-religious life. In practice, Islam and pesantren is often associated with acts of terrorism and other violence since the action was perceived as an extension of religious radicalism with jihad and amar ma’ruf nahi mungkar as basic commands. The focus of this study is to analyze how komunitas pesantren (pesantren community) perception about radicalism and how the process of those perceptions is formed. This research was conducted in two komunitas pesantren with different characteristic in Malang City : Alhayatul Islamiyah as salaf (traditional) pesantren and Ma’had Al-Qalam as modern pesantren. By using a qualitative approach and case study, this study resulted in three broad conclusions. First, salaf pesantren community’s perception regarding the issue of radicalism tends to moderate and tolerant. Meanwhile, the perception of modern pesantren community on the issue of radicalism tends to vary; Second. The Construction process could be explained by the dialectical process from Berger & Luckman’s social construction theory consisting of three simultaneous processes: externalization, objectivation and internalization. In the process, the researcher found three types of komunitas pesantren in perceiving radicalism which is contextual moderate and tolerant (as the majority group); fundamental (idealist) and pragmatic. At the salaf pesantren, Kyai was an important figure in constructing value, while at modern pesantren the background, social settings and media give more influence in the construction process about radicalism; Third, the pattern similarity at salaf pesantren motivated by cultural hegemony by constructing value on a single base culturally affiliated to the nahdliyin tradition, while varying perceptions of  modern pesantren arise from it’s heterogeneous base. However, both of pesantren does not encourage their santri to act radically.Keywords: Social Construction, Pesantren Community, Radicalism
FENOMENA AGAMA BAHA’I DI YOGYAKARTA : SEBUAH SOROTAN UPAYA MENEMUKAN TITIK TEMU DENGAN AGAMA MULTIRELIJIUS Iftahuul Mufiani
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.454 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-02

Abstract

Di tengah maraknya sikap-sikap intoleransi khususnya di Yogyakarta, agama Baha’i hadir sebagai sebuah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Dikatakan demikian karena faktanya agama Baha’i mampu membetengi diri dari masyarakat yang beragam. Agama Baha’i di Yogyakarta merupakan agama yang tergolong minoritas namun dalam kesehariannya mereka mampu menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis. Dengan demikian agama Baha’i adalah salah satu contoh agama yang dapat memelihara sikap-sikap toleransi. Kerukunan antara penganut agama Baha’i dengan masyarakat multirelijius nampak paling tidak dalam dua hal: pertama, dari pola relasi antar penganut agama Baha’i. Kedua, realitas kerukunan tercermin dalam lingkungan sosial masyarakat. Masyarakat Baha’i di Yogyakarta secara aktif terlibat dalam berbagai aktivitas sosial maupun aktivitas keagamaan, serta menjunjung tinggi sikap toleransi beragama, kerjasama, dan kebersamaan.Kata kunci: Agama Baha’i ,Titik temu, Agama Multirelijius
KONSEP KETUHANAN MENURUT KRISTEN SAKSI YEHUWA Roni Ismail
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.107 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-04

Abstract

Ajaran Kristen mainstream meyakini Tritunggal secara dogmatis. Dogma Tritunggal mengimani ketuhanan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sekaligus sebagaimana tercantum dalam kredo iman rasuli. Ketiga pribadi itu adalah pribadi Allah dan ketiga pribadi tersebut adalah Allah. Allah adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, dan Roh Kudus juga Tuhan. Terdapat aliran Kristen yang bernama Saksi-Saksi Yehuwa yang menolak dogma Tritunggal ini. Menurut Saksi-Saksi Yehuwa, Tuhan itu Satu bernama Yehuwa. Hanya Yehuwa Yang Maha Kuasa dan Pencipta. Konsekwensinya, Yesus bukanlah Tuhan karena ia diciptakan atau makhluk. Konsep ketuhanan Saksi-Saksi Yehuwa ini bersifat monoteistik. Konsep ketuhanan yang monoteistik ini dijelaskan bahwa Hanya ada Satu Tuhan, Tidak ada Tuhan selain Yehuwa dalam ajaran Kristen Saksi Yehuwa (Kejadian 17:1); Tuhan memiliki sifat-sifat; dalam Alkitab dijelaskan Allah Yehuwa itu Maha Tinggi (Mazmur 83:18), Maha Kuasa (Penyingkapan 15:3), Raja kekekalan (Mazmur 90:2), Pencipta (Penyingkapan), dan Kudus (Yesaya 6:3). Key Words: Kristen Saksi Yehuwa, Yehuwa, monoteisme
SOSIALISASI NILAI-NILAI AGAMA DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA UIN SUNAN KALIJAGA Muhammad Amin
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.692 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-05

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas problematika sosialisasi nilai-nilai agama di kalangan mahasiswa, terutama di kalangan mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Tulisan yang merupakan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam merancang format sosialisasi nilai-nilai agama yang tepat di kalangan generasi muda untuk mewujudkan nilai-nilai yang lebih baik di kalangan generasi muda Indonesia, mengingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang ditemukan kesenjangan yang cukup tajam antara nilai-nilai agama dengan perilaku umat sehari-hari.Sosialisasi nilai-nilai agama di kalangan mahasiswa masih perlu peningkatan. Untuk sosialisasi nilai-nilai agama itu dibutuhkan keteladanan yang baik. Di samping itu, sosialisasi nilai-nilai di kalangan mahasiswa selayaknya melalui kegiatan yang menarik dan interaktif, Untuk menghindari pendidikan nilai yang bersifat indoktrinatif, para mahasiswa  perlu didorong untuk dapat menemukan alasan-alasan yang mendasari keputusan moral yang diambilnya. Kata kunci: sosialisasi, nilai-nilai, mahasiswa
PROBLEM-PROBLEM MINORITAS TRANSGENDER DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BERAGAMA RR Kurnia Widiastuti
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.636 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-06

Abstract

Transgender individual is one of minority in our society. Transgender people has problem with their body and feeling. Their physical appearances do not match with their psychological aspect. Therefore they are assumed by majority society as“abnormal” people. As a result they tend to be discriminated and marginalized from the society. As a human being, transgender individual has the same right as other individuals of the society. Therefore as religious people, transgender individuals have freedom to express their belief. However, they find several problems in their living existences in social religious context.Kata Kunci: transgender, minoritas, hak beragama, abnormal, dan diskriminasi
Rahmah El Yunusiyyah Kartini Padang Panjang (1900-1969) Nafilah Abdullah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8908.176 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-03

Abstract

Rahmah El- Yunusiyyah adalah Kartini Padang Panjang , seorang Pahlawan tanpa tanda jasa.Tokoh Rahmah El- Yunusiyyah adalah seorang wanita tokoh pembaharuan dari Padang Panjang yang sempat hidup pada tiga zaman yaitu zaman penjajahan kolonial Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan  zaman Kemerdekaan, namun sampai saat ini pemerintah Indonesia belum memberikan penghargaan sebagai pahlawan Nasional.            Mengapa penelitian ini dilakukan? Secara historis, Tokoh Rahmah El-Yunusiyyah pada zaman Belanda telah mendirikan Perguruan Diniyyah PUteri Padang Panjang (1923). Memberikan dukungan pada Kongres Sumpah Pemuda (1928). Memimpin gerakan menentang dua buah peraturan Belanda, yaitu Ordonantie Kawin Bercatat dan Ordonantie Sekolah Liar pada tahun 1932.Pada pendudukan Jepang, mempersiapkan murid-murid Diniyah Puteri mengikuti pelatihan P3K dan Palang Merah sebagai ganti tenaga sukarela dalam pertempuran (1943). Memberikan dukungan penuh dalam pembentukan pasukan Gyugun, yang menurutnya sangat strategis sebagai alat mencapai kemerdekaan Indonesia (1944). Menjadi pengurus ADI (Anggota Daerah Ibu) tingkat Sumatera Tengah yang bertujuan menentang pemerintahan Jepang yang menggunakan gadis remaja untuk dijadikan wanita penghibur, dan menuntut di tutupnya rumah bordil. Menjadi ketua Ha Ha No Kai dari Gyugun Ko En Kai . menjadi anggota Ha Ha No Kai, anggota Peninjau Sumatera Cuo Sang In. Anggota Mahkamah Islam Tinggi (MIT)Bukit Tinggi. Masa Kemerdekaan bersama beberapa Perwira Gyugun dan Tokoh masyarakat Padang Panjang membentuk tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menjadikan Diniyyah Puteri sebagai dapur umum bagi para pejuang seperti Laskar Sabilillah, Sabil Muslimat, dan Hizbullah. Menjadikan Diniyah Puteri sebagai tempat persinggahan para geriliya yang bolak balik antara rimba dan daerah pertempuran. Mengibarkan bendera Merah Putih yang pertama di kota Padang Panjang.Masa setelah kemerdekaan, menjadi anggota DPR RI (Konstituante) pada 1955. Menjadi pengurus sekolah Tinggi Hukum Pancasila Padang yang menjadi embrio dari Universitas Andalas.Kartini Padang Panjang yang tidak pernah dimunculkan profilnya namun pengaruhnya dalam dunia pendidikan terasa begitu nyata. Bahkan Al-Azhar Mesir terispirasi dari tindakan beliau. Yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yg menutup dada itu (Hijab Syar’i) dan Baju kurung basiba merupakan ciri khas dari siswi-siswi dan Guru-guru di sekolah Diniyah Padang Panjang dan wanita muslimah Malaysia serta Singapura.

Page 1 of 1 | Total Record : 7