cover
Contact Name
M. Yaser Arafat
Contact Email
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Phone
+6281370980853
Journal Mail Official
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156 E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.
Jurnal Sosiologi Agama mengundang para ilmuwan, peneliti, dan siswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan penelitian mereka yang terkait dengan bidang sosiologi agama, masyarakat beragama, masyarakat multikultural, perubahan sosial masyarakat beragama, dan relasi sosial antar agama yang mencakup penyelidikan tekstual dan lapangan dengan perspektif sosiologi dan sosiologi agama.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2013)" : 14 Documents clear
Women’s Marginalization and the Androcentric Religious Interpretation in the History of Aceh Kingdom Inayah Rohmaniyah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.443 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Sejarah Indonesia dan agama di Indonesia bersifat androsentrik, yaitu didominasi oleh dan tentang laki-laki, dan dengan demikian telah meminggirkan sejarah perempuan. Model sejarah yang androginis penting dikembangkan, yaitu model yang mengakomodasi suara dan cerita perempuan dan laki-laki serta memungkinkan mereka untuk memiliki tempat yang sama dalam sejarah tersebut. Tulisan ini menguraikan peran perempuan dalam sejarah Kerajaan Aceh dan mengkaji pengaruh agama dan gender dalam proses peminggiran perempuan. Aceh terkenal sebagai wilayah Islam dimana nilai-nilai agama dominan dan menjadi jantung dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Di satu sisi, potret Ratu Aceh menarik karena Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Islam di dunia yang pernah mengakui perempuan sebagai pemimpin tertinggi kekuasaan politik dalam pemerintahan. Di sisi lain, nilai-nilai agama mewarnaimasyarakat Aceh, dan pada saat yang sama budaya patriarki menjadi jantung kehidupan politik. Budaya patriarki yang dominan menyebabkan perempuan termarginalisasi dalam kehidupan publik dan dalam sejarah. Agama dan gender memainkan peran penting dalam melegitimasi identitas kolektif dan pada saat yang sama diskriminasi terhadap perempuan. Dalam konteks Aceh, perdebatan tentang kelayakanperempuan sebagai pemimpin dalam Islam telah memberikan kontribusi terhadap proses peminggiran perempuan. Peminggiran perempuan di arena politik dan kehidupan publik menjadi masalah serius karena berkelit kelindan dengan keyakinan agama yang androsentris, patrarkhi dan kepentingan politik.
Women’s Marginalization and the Androcentric Religious Interpretation in the History of Aceh Kingdom Rohmaniyah, Inayah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.443 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Sejarah Indonesia dan agama di Indonesia bersifat androsentrik, yaitu didominasi oleh dan tentang laki-laki, dan dengan demikian telah meminggirkan sejarah perempuan. Model sejarah yang androginis penting dikembangkan, yaitu model yang mengakomodasi suara dan cerita perempuan dan laki-laki serta memungkinkan mereka untuk memiliki tempat yang sama dalam sejarah tersebut. Tulisan ini menguraikan peran perempuan dalam sejarah Kerajaan Aceh dan mengkaji pengaruh agama dan gender dalam proses peminggiran perempuan. Aceh terkenal sebagai wilayah Islam dimana nilai-nilai agama dominan dan menjadi jantung dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Di satu sisi, potret Ratu Aceh menarik karena Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Islam di dunia yang pernah mengakui perempuan sebagai pemimpin tertinggi kekuasaan politik dalam pemerintahan. Di sisi lain, nilai-nilai agama mewarnaimasyarakat Aceh, dan pada saat yang sama budaya patriarki menjadi jantung kehidupan politik. Budaya patriarki yang dominan menyebabkan perempuan termarginalisasi dalam kehidupan publik dan dalam sejarah. Agama dan gender memainkan peran penting dalam melegitimasi identitas kolektif dan pada saat yang sama diskriminasi terhadap perempuan. Dalam konteks Aceh, perdebatan tentang kelayakanperempuan sebagai pemimpin dalam Islam telah memberikan kontribusi terhadap proses peminggiran perempuan. Peminggiran perempuan di arena politik dan kehidupan publik menjadi masalah serius karena berkelit kelindan dengan keyakinan agama yang androsentris, patrarkhi dan kepentingan politik.
Jalan Dakwah PKS dalam Tubuh Muhammadiyah (Kasus di Yogyakarta dalam Perspektif Politik Hannah Arendt) Nur Wahid
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.612 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Sebagai partai politik sekaligus merupakan perwujudan dari gerakan Tarbiyah afilisasi Ihkwanul Muslimin, PKS menjalankan agenda dakwahnya dengan jalan merangsek masuk ke dalam aset milik Muhammadiyah. Kasus yang terjadi di Yogyakarta memperlihatkan bagaimana politik cum dakwah PKS secara infiltratif lewat kader-kader Tarbiyah perlahan mampu merubah haluan kader-kader Muhammadiyah untuk masuk kebarisannya. Jalan dakwah PKS dalam tubuh Muhammadiyah demikian dekat dengan nuansa politik menuju tegaknya negara yang berbasis Islam, seperti yang terkonsepsikan. Melalui tilikan pemikiran politik Hannah Arendt, memperlihatkan politik yang terkait masih dalam kerangka penguasaan satu sama lain, dan dakwah yang berjalan berbingkai kepentingan kekuasaan. Sebagai manusia politis yang adalah manusia tindakan, seharusnya tiap manusia berani tampil mengemuka ke ruang publik membawa kebebasannya. Kebebasan untuk (freedom) tanpa menafikan perbedaan yang ada, serta menanggalkan ruang privat kehidupannya, mandiri, dengan itulah manusia berhadap-hadapan dengan yang lain ditengah kenyataan hidup yang tidak satu wajah. Politik harus diluar kepentingan, termasuk dakwah, agama sekalipun
JALAN DAKWAH PKS DALAM TUBUH MUHAMMADIYAH (KASUS DI YOGYAKARTA DALAM PERSPEKTIF POLITIK HANNAH ARENDT) Wahid, Nur
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.612 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Sebagai partai politik sekaligus merupakan perwujudan dari gerakan Tarbiyah afilisasi Ihkwanul Muslimin, PKS menjalankan agenda dakwahnya dengan jalan merangsek masuk ke dalam aset milik Muhammadiyah. Kasus yang terjadi di Yogyakarta memperlihatkan bagaimana politik cum dakwah PKS secara infiltratif lewat kader-kader Tarbiyah perlahan mampu merubah haluan kader-kader Muhammadiyah untuk masuk kebarisannya. Jalan dakwah PKS dalam tubuh Muhammadiyah demikian dekat dengan nuansa politik menuju tegaknya negara yang berbasis Islam, seperti yang terkonsepsikan. Melalui tilikan pemikiran politik Hannah Arendt, memperlihatkan politik yang terkait masih dalam kerangka penguasaan satu sama lain, dan dakwah yang berjalan berbingkai kepentingan kekuasaan. Sebagai manusia politis yang adalah manusia tindakan, seharusnya tiap manusia berani tampil mengemuka ke ruang publik membawa kebebasannya. Kebebasan untuk (freedom) tanpa menafikan perbedaan yang ada, serta menanggalkan ruang privat kehidupannya, mandiri, dengan itulah manusia berhadap-hadapan dengan yang lain ditengah kenyataan hidup yang tidak satu wajah. Politik harus diluar kepentingan, termasuk dakwah, agama sekalipun
Discourse Kontestasi Ideologi: Reposisi Islam dan Negara di Indonesia Zuly Qodir
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1347.451 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan pertarungan ideologi yang berkembang di Indonesia berkaitan antara agama dan negara untuk sebuah masyarakat yang majemuk. Dalam karangan ini pendekatan yang dipakai adalah ideologi politik kontemporer dimana secara khusus membahas soal-soal ideologi kontemporer yang berkembang di dunia dan Indonesia. Tulisan ini secara khusus memberikan penjelasan bahwa di Indonesia perlu melakukan reposisi ideologi sebab selama ini masih kuat terjadi diskursus tentang kehendak perubahan dasar negara Pancasila dengan dasar yang lain yakni dasar Islam. Tulisan ini menegaskan Indonesia tidak perlu lagi menjadikan Islam sebagai dasar negara sebab Indonesia sebenarnya sudah menjadi Islamic Society sekalipun bukan Islamic state, tinggal melaksanakan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Perspektif dalam kajian ini adalah sosiologi (agama) dalam konteks politik Indonesia dengan mendasarkan kajian pustaka.
DISCOURSE KONTESTASI IDEOLOGI: REPOSISI ISLAM DAN NEGARA DI INDONESIA Qodir, Zuly
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1347.451 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan pertarungan ideologi yang berkembang di Indonesia berkaitan antara agama dan negara untuk sebuah masyarakat yang majemuk. Dalam karangan ini pendekatan yang dipakai adalah ideologi politik kontemporer dimana secara khusus membahas soal-soal ideologi kontemporer yang berkembang di dunia dan Indonesia. Tulisan ini secara khusus memberikan penjelasan bahwa di Indonesia perlu melakukan reposisi ideologi sebab selama ini masih kuat terjadi diskursus tentang kehendak perubahan dasar negara Pancasila dengan dasar yang lain yakni dasar Islam. Tulisan ini menegaskan Indonesia tidak perlu lagi menjadikan Islam sebagai dasar negara sebab Indonesia sebenarnya sudah menjadi Islamic Society sekalipun bukan Islamic state, tinggal melaksanakan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Perspektif dalam kajian ini adalah sosiologi (agama) dalam konteks politik Indonesia dengan mendasarkan kajian pustaka.
Dongke dalam Masyarakat Desa Tanggulangin: Pemahaman Konsep Sehat-Sakit dan Penyakit dalam Kajian Etnosains Terhadap Sistem Medis Harto Wicaksono
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.84 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Pemahaman terhadap konsep sehat-sakit bagi sebagian masyarakat lokal akan sangat penting terhadap pola pengobatan atau respon terhadap sistem penyakit. Namun banyak bagian dari sistem medis modern yang mengabaikan pengetetahuan lokal tentang ini, dengan alasan tidak rasional. Dengan alasan tersebut, maka penggalian terhadap sistem pengetahuan lokal dilakukan guna membantu pemahaman sistem medis modern terhadap pola pengobatan dalam sistem medis tradisonal. Kajian ini, merupakan kajian sistem medis tradisional yang berupaya menggali pemahaman masyarakat Desa Tanggulangin dalam Masyarakat Jawa dengan pendekatan etnografis. Dalam kaitan ini, pemahaman konsep sehat-sakit ada kaitannya dengan sistem penyembuhan yang akan diterapkan.
DONGKE DALAM MASYARAKAT DESA TANGGULANGIN: PEMAHAMAN KONSEP SEHAT-SAKIT DAN PENYAKIT DALAM KAJIAN ETNOSAINS TERHADAP SISTEM MEDIS Wicaksono, Harto
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.84 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Pemahaman terhadap konsep sehat-sakit bagi sebagian masyarakat lokal akan sangat penting terhadap pola pengobatan atau respon terhadap sistem penyakit. Namun banyak bagian dari sistem medis modern yang mengabaikan pengetetahuan lokal tentang ini, dengan alasan tidak rasional. Dengan alasan tersebut, maka penggalian terhadap sistem pengetahuan lokal dilakukan guna membantu pemahaman sistem medis modern terhadap pola pengobatan dalam sistem medis tradisonal. Kajian ini, merupakan kajian sistem medis tradisional yang berupaya menggali pemahaman masyarakat Desa Tanggulangin dalam Masyarakat Jawa dengan pendekatan etnografis. Dalam kaitan ini, pemahaman konsep sehat-sakit ada kaitannya dengan sistem penyembuhan yang akan diterapkan.
Konstruksi Identitas Kolektif Perempuan Gerakan Salafi (Studi di Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta) Anas Shoff’aul Jannah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.065 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Fakta sosial mengenai praktik penerapan syari’at sebagaimana yang ada di Negara Arab dapat dilihat dalam Perempuan Gerakan Salafi Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta. Mereka mempraktikan ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits atau yang mereka sebut ajaran yang syar’i dalam segala lini kehidupan, mulai dari penerapan ‘aqidah tauhid hingga jilbab yang dikenakan perempuan Arab. Untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya konstruksi identitas kolektif perempuan Gerakan Salafi penelitian akan menggunakan teori konstruksi Peter L Berger dan teori identitas kolektif Emile Durkheim. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode wawancara pada pegurus dan anggota perempuan Gerakan salafi di Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.
Konstruksi Identitas Kolektif Perempuan Gerakan Salafi (Studi di Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta) Jannah, Anas Shoff?aul
Jurnal Sosiologi Agama Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.065 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2013.%x

Abstract

Fakta sosial mengenai praktik penerapan syari’at sebagaimana yang ada di Negara Arab dapat dilihat dalam Perempuan Gerakan Salafi Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta. Mereka mempraktikan ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits atau yang mereka sebut ajaran yang syar’i dalam segala lini kehidupan, mulai dari penerapan ‘aqidah tauhid hingga jilbab yang dikenakan perempuan Arab. Untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya konstruksi identitas kolektif perempuan Gerakan Salafi penelitian akan menggunakan teori konstruksi Peter L Berger dan teori identitas kolektif Emile Durkheim. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode wawancara pada pegurus dan anggota perempuan Gerakan salafi di Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.

Page 1 of 2 | Total Record : 14