cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2020)" : 20 Documents clear
Pengaruh Buerger Allen Exercise terhadap sirkulasi ekstremitas bawah bagi penyandang diabetes melitus Bahjatun Nadrati; Muhammad Hadi; Fitrian Rayasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.641 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.2742

Abstract

Effectiveness of Buerger Allen Exercise on lower limb circulation among patients with diabetes mellitusBackground: Buerger Allen Exercise is a specific exercise intended to improve circulation to the feet and leg using gravitational changes to influence the distribution of body fluids to alternately help emptying and fulfilling the blood columns, and by using muscle contraction through active movement of the ankle to improve circulation of peripheral blood vessel by driving blood and blood vessel. Ankle Brachial Index (ABI) is one of the indicators to assess changes in peripheral vascularization.Purpose: To know the effectiveness of Buerger Allen Exercise on lower limb circulation among patients with diabetes mellitusMethod: A quasi-experimental by pre- and post-test with controlled group, involving 28 participants  divided by two group; interventional group and controlled group. The sampling technique is a non-probability sampling.Results: Shows by  t-test and GLM-RM  finds out that there are significant differences in the improvements of ABI average scores between interventional and controlled groups after Buerger Allen Exercise is conducted to the right leg with (p-value= 0.001; α = 0.05 ) and to the left leg with (p-value= 0.002; α = 0.05). While, GLM-RM in the research is still not able to determine the optimal point of time in practicing Buerger Allen Exercise.Conclusion: The effectiveness of Buerger Allen Exercise on lower limb circulation and suggestion that Buerger Allen Exercise can be applied as one of the nurse self-intervention to improve peripheral vascularization to patients with diabetes mellitusKeywords : Buerger Allen Exercise; Lower limb circulation; patients; diabetes mellitusPendahuluan: Buerger Allen Exercise adalah latihan khusus yang ditujukan untuk meningkatkan sirkulasi ke kaki dengan menggunakan perubahan gravitasi mempengaruhi distribusi cairan dalam tubuh dengan membantu secara bergantian untuk mengosongkan dan mengisi kolom darah, dan menggunakan kontraksi otot melalui gerakan aktif dari pergelangan kaki untuk meningkatkan sirkulasi pembuluh darah perifer dengan menggerakan darah dan pembuluh darah. Ankle Brachial Index (ABI) merupakan salah satu indikator untuk menilai perubahan vaskularisasi perifer.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Buerger Allen Exercise terhadap sirkulasi ekstremitas bawah  bagi penyandang diabetes melitusMetode : Menggunakan desain kuasi eksperimen pre post tes dengan kelompok kontrol, melibatkan 28 partisipan yang dibagi dalam dua kelompok; kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Tehnik pengambilan sampel dengan non probability sampling. Penelitian ini menggunakan t-tes dan GLM-RM.Hasil : Uji t-tes didapatkan perbedaan yang signifikan rata-rata skor peningkatan ABI antara kelompok intervensi dan kontrol setelah dilakukan Buerger Allen Exercise pada kaki kanan dengan (p-value= 0,001; α = 0,05 ) dan pada kaki kiri dengan (p-value= 0,002; α = 0,05 ). Sedangkan dengan GLM-RM pada penelitian ini belum dapat menentukan titik optimum waktu pelaksanaan Buerger Allen Exercise.Simpulan: Adanya pengaruh Buerger Allen Exercise terhadap sirkulasi ekstremitas bawah  dan disarankan agar Buerger Allen Exercise dapat diterapkan sebagai salah satu intervensi mandiri perawat dalam meningkatkan vaskularisasi perifer bagi penyandang diabetes melitus
Perbedaan air rebusan daun seledri dan air rebusan daun salam terhadap penurunan tekanan darah pada pra lansia dengan hipertensi primer Asep Badrujamaludin; Budiman Budiman; Tifany Desty Erisandi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.656 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.2541

Abstract

The effect of celery (apium graveolens) leaf and bay leaf (Syzygium polyanthum wight) on the blood pressure in pre-elderly with primary hypertensionBackground: Hypertension, also known as high blood pressure, is as medical condition in which the blood pressure in arteries is persistently elevated. This condition can increase risk of cardiovascular diseases such as stroke, kidney failure, heart attack, and kidney damage. Hypertension requires proper treatment to prevent uncontrolled blood pressure that can cause damaged organs. One of traditional treatment for hypertension is using celery leaves (Apium graveolens L) and bay leaves (Syzygium polyantum).Purpose: This research is to determine the difference of blood pressure after the consumption of boiled water celery leaves and bay leaves in pre-elderly with hypertension at Cigugur Tengah Public Health Center.Method: The type of this research is the numerical comparative analytic with Quasi Experiment design with Non Equivalent Control Group Design. This research used purposive sampling technique using 22 responden with inclusion and exclusion criteria. Data collection was performed by measuring the blood pressure before and after the consumption of celery leaves and bay leaves boiled water that consume twice a day in one week. The data are processed including univariate and bivariate data analysis.Results: The statistical result of T-independent test obtain p value of 0,365 > α (0,05)  for the systolic blood pressure and 0,574 > α (0,05) for diastolic blood pressure.Conclusion: Result showed that there is no average difference of blood pressure in group intervention boiled water of celery leaves and bay leaves after consumption of boiled water celery leaves and bay leaves. However, both intervention have decreased blood pressure of hypertension patient.Suggestion of this research is to consume boiled water of celery leaves and bay leaves for longer time as additional therapy for hypertension patient.Keywords: Pre-elderly; Celery leaf; Bay leaf; Primary hypertensionPendahuluan: Hipertensi merupakan suatu keadaan tekanan darah yang tinggi di dalam arteri, sehingga meningkatkan risiko terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler seperti stroke, gagal ginjal, serangan jantung, dan kerusakan ginjal. Hipertensi membutuhkan penanganan yang tepat untuk mencegah tidak terkontrolnya tekanan darah yang dapat menyebabkan organ tubuh menjadi rusak. Salah satu pengobatan alami hipertensi yang dilakukan adalah pengobatan dengan menggunakan daun seledri (Apium graveolens L) dan daun salam (Syzygium polyanthum).Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan tekanan darah sesudah pemberian air rebusan daun seledri dan air rebusan daun salam terhadap penurun tekanan darah pada pra lansia dengan hipertensi primerMetode: Analitik komparatif numerik tidak berpasangan dengan desain Quasi Eksperimen dengan rancangan Non Equivalent Control Group. Pengambilan sampel dilakukan secara teknik purposive sampling sebanyak 22 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengukur tekanan darah responden sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dua kali sehari selama satu minggu. Pengolahan dengan menggunkan uji T-independent diperoleh nilai p value tekanan darah sistolik 0,365 > α (0,05) dan p value tekanan darah diastolik 0,574 > α (0,05).Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan rerata tekanan darah pada kelompok intervensi baik yang diberikan air rebusan daun seledri dan air rebusan daun salam.Simpulan: Terdapat penurunan tekanan darah dari kedua kelompok intervensi tersebut bagi penderita hipertensi. Saran dari penelitian ini diharapkan penderita yang mengalami hipertensi dapat mengaplikasikan air rebusan daun seledri dan air rebusan daun salam dalam kurun waktu lama sebagai tambahan terapi untuk hipertensi.
Hubungan efikasi diri dengan ketaatan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada penderita tuberkulosis paru Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; Sri Sakinah; Heri Prasetya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.599 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.2845

Abstract

Self efficacy and treatment adherence of anti-TB drugs (ATD's) on patient with pulmonary tuberculosisBackground : Tuberculosis is a chronic disease with a long time treatment of 6 months or more, self-efficacy in patients is needed routinely to taking medicine which will achieve healing more over it can prevent the transmission of the disease. Patient should have self-efficacy, which is individual's belief in managing certain behaviors to achieve their healing. Adherence is the attitude of the patient to carrying out treatment methods and behaviors suggested by his doctor or medical care providerPurpose : To determine the correlation between Self efficacy and treatment adherence of anti-TB drugs (ATD's) on patient with pulmonary tuberculosisMethod: The study was conducted in May-June 2019 using the Cross Sectional method. There were 36 respondents in Banjar Agung public health centre. Data collection was done by direct interview. The questionnaire was used the Self-Efficacy Questionnaire to assess self-efficacy levels and adherence questionnaire to assess respondent's medication adherence.Results: Chi-Square analysis showed a significant correlation of self-efficacy and medication adherence to TB patients in Banjar Agung public health centre (p = 0,001).Conclusion: There was a correlation of self-efficacy and medication adherence to  TB patients in Banjar Agung public health CentreKeywords: Self efficacy; Treatment adherence; Anti-TB drugs (ATD's); Pulmonary tuberculosisPendahuluan: Tuberkulosis adalah salah satu penyakit kronis dengan waktu pengobatan selama 6 bulan atau lebih, maka diperlukan adanya efikasi diri dalam diri pasien bahwa dengan rutin minum obat akan mencapai kesembuhan sehingga dapat mencegah penularan penyakit. Penderita harus memiliki efikasi diri, yaitu keyakinan individu dalam mengelola perilaku tertentu untuk mencapai kesembuhan. Kepatuhan adalah tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya ataupun petugas pelayan kesehatan..Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri terhadap kepatuhan minum obat anti TB (OAT) di Puskesmas Rawat Inap Banjar Agung Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan.Metode: Penelitian dilakukan pada Mei-Juni 2019 dengan menggunakan metode Cross Sectional. Terdapat 36 responden di Puskesmas Rawat Inap Banjar Agung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung. Kuesioner yang digunakan adalah Kuisioner Efikasi Diri untuk menilai tingkat efikasi diri dan Kuisioner Ketaatan untuk menilai kepatuhan minum obat responden.Hasil : Melalui analisis Chi-Square diperoleh nilai p=0,001 terhadap efikasi diri dengan kepatuhan minum obat pasien TB di Puskesmas Rawat Inap Banjar AgungSimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara efikasi diri dengan kepatuhan minum obat terhadap pasien TB di Puskesmas Rawat Inap Banjar Agung
Hubungan pengetahuan dengan motivasi mencegah komplikasi pada penderita diabetes melitus Andoko Andoko; Dimas Ning Pangesti; Nurhayati Nurhayati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.188 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.1478

Abstract

Knowledge and motivation in management of diabetes mellitus complicatingBackground: The increasing of diabetes mellitus prevalence and complication occurrence. The number of diabetes mellitus in 2018, there were 654 patients. A pre-survey in January 2019 on 15 respondents, 50.7% patients had a poor knowledge and 54.9% had a poor motivation to prevent complication of diabetes mellitus. Purpose: To know the correlation between knowledge and motivation in management of diabetes mellitus complicatingMethod: A quantitative with cross sectional method. The population was all outpatient  at Internal Polyclinic of Bhayangkara Polda Lampung Hospital and the samples were 48 patients. The instruments were questionnaires. The data analsysi by chi square.Results: Shows that 30 respondents (62.5%) had good a knowledge. The other 27 respondents (56.3%) had high motivation in management of diabetes mellitus complicating. There was correlation between knowledge and motivation in management of diabetes mellitus complicating (p value 0.029, OR 4.7).Conclusion: There was correlation between knowledge and motivation in management of diabetes mellitus complicating.The health practitioners should intensify the health promotion to patient by displaying posters and distributing leaflet for hospital visitors to improve their knowledge.Keywords: Knowledge; Motivation; Management; Diabetes mellitus; Complicating Pendahuluan: Adanya peningkatan prevalensi penderita DM, serta meningkatnya angka kejadian komplikasi penderita DM di RS Bhayangkara Polda Lampung tahun 2018 berjumlah 654 penderita. Dari presurvei bulan januari 2019 didapat 15 responden, tingkat pengetahuan kurang sekitar (50,7%) dan yang mempunyai motivasi rendah (54,9%).Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan motivasi penderita diabetes melitus.Metode: Penelitian kuantitatif, dan menggunakan cross sectional study, populasipasien yang menderita  diabetes melitus  di Poliklinik Penyakit Dalam RS Bhayangkara Polda Lampung. Sampelnya sebanyak 48 orang, instrumen menggunakan kuesioner dan analisa data menggunakan uji chi square.Hasil: Tingkat pengetahuan baik 30 responden (62.5%), motivasi tinggi 27 responden (56.3%).Ada hubungan antara pengetahuan dengan motivasi penderita DM dalam mencegah komplikasi ( p value 0,029. OR 4,7).Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan dengan motivasi penderita DM dalam mencegah komplikasi. Saran kepada RS Bhayangkara meningkatkan kegiatan promosi kesehatan tentang pola hidup yang baik bagi klien DM, dengan memasang poster dan membagian leaflet.
Pengaruh kinerja petugas kesehatan pada tingkat kepuasan pasien Muhammad Nurhidayat; M. Arifki Zainaro
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.012 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.2442

Abstract

The performance of health workers and patient satisfaction Background: Patient satisfaction related to the quality of health services by knowing the level of patient satisfaction, puskesmas can improve service quality. The percentage of patients who expressed satisfaction with the service based on the results of the survey with standard instruments. HR performance is a term derived from the word Job Performance or Actual Performance (work performance or actual achievement achieved by someone)Purpose: To determine the effect of the performance of health workers on patient satisfaction in Public health centers.Method: A quantitative with the design correlative. The population were patients who were inpatient  at 7 Public Health Centers in West Lampung District, with a total sample of 130 respondents. Sampling in this study using the Cluster Sampling method (Sample Area)Results: Most respondents rated the performance of health workers in the poor category of 78 respondents (60.0%) and the majority of respondents were dissatisfied numbered 69 respondents (53.1%). Based on the results of statistical tests, p-value 0.034 or p-value <α (0.05) is obtained, which means there is a relationship between health worker performance and patient satisfaction.Conclusion: The results of this study are expected that the Public health centre management can improve the performance of nurses and can develop or update the best quality of service for patients, by providing facilities, facilities and infrastructure to support health services, improve all quality service procedures and improve performance related programs, and by improving health status, so that patient satisfaction can be improved.Keywords: The performance; Health workers; Patient satisfaction Pendahuluan : Kepuasan pasien yang berhubungan dengan mutu pelayanan kesehatan dengan mengetahui tingkat kepuasan pasien, puskesmas dapat meningkatkan mutu pelayanan. Persentasi pasien yang menyatakan puas terhadap pelayanan berdasarkan hasil survey dengan instrument yang baku. Kinerja SDM merupakan istilah yang berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang)Tujuan : Diketahui pengaruh kinerja petugas kesehatan terhadap kepuasan pasien Di Puskesmas Se-Kabupaten Lampung Barat Tahun 2019.Metode : Kuantitatif dengan desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelatif. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang datang berobat/dirawat pada Puskesmas Se-Kabupaten Lampung Barat, dengan jumlah sampel di 7 Puskesmas berjumlah 130 responden. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Cluster Sampling (Area Sampel)Hasil : Sebagian besar responden menilai kinerja petugas kesehatan dalam kategori buruk berjumlah 78 responden (60,0%) dan sebagian besar responden merasa tidak puas berjumlah 69 responden (53,1%). Berdasarkan hasil uji statistik, didapatkan p-value 0,034 atau p-value < nilai α (0,05) yang artinya terdapat  hubungan antara kinerja petugas kesehatan dengan kepuasan pasien.Simpulan: Hasil penelitian ini diharapkan agar pihak Puskesmas dapat meningkatkan kinerja perawat dan dapat mengembangkan atau memperbaharui kualitas pelayanan yang terbaik untuk pasien, dengan cara menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana dalam menunjang pelayanan kesehatan, memperbaiki semua tatacara pelayanan yang bermutu serta meningkatkan program kinerja yang berhubungan dengan peningkatan status kesehatan, sehingga kepuasan pasien dapat ditingkatkan.
Kebidanan komplementer: Pengurangan nyeri persalinan dengan latihan birth ball Noviyanti Noviyanti; Nurdahliana Nurdahliana; Fitri Munadya; Gustiana Gustiana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.268 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.2876

Abstract

Advantage  of birth ball exercises on labour pain managementBackground: Maternal Mortality Rate (MMR) in Indonesia is still high. 2015 Census Survey, MMR ranged from 305 / 100,000 live births. The MMR in Banda Aceh in 2016 was 37 per 100,000 live births. Pain during labour  arises as a result of physical and psychological reflexes of the mother. Emotional tension due to anxiety will worsen the perception of pain felt by the mother during labour . Pain that occurs during labour requires proper pain management and this should be a concern for women, families and health workers. Pain labour during the first stage is severe pain that the mother feels in labor for a longer time. Non-pharmacological (Complementary) methods are proven to reduce labor pain, one of which is Birth Ball.Purpose: To analyze the effectiveness of birth ball exercises  on labour pain managementMethod: An experimental study with a Pre and Post-Test Control Group Design approach. The population was primigravida first stage active mothers with a sample of 15 participants. The study was conducted at clinic of Midwife Practices in Banda Aceh City. The instrument used in this study was an observation sheet about the intensity of labor pain using the Faces Pain Rating Scale scale.Results: Statistical tests were performed using the Wilcoxon Test and showed that the p value (0.001 <0.05) so it can be concluded that there was a significant difference in the intensity of labour pain before and after Birth Ball exercises.Conclusion: Birth ball exercises  is one of the complementary midwifery care which can be implementation easily, cheaply, simply, effectively, and without adverse effects. Birth ball  exercises had a significantly reduce labour pain in primigravida mother stage I.Keywords: Advantage; Birth ball exercises; Labour pain; Management Pendahuluan: Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi. Survei Angka Sensus (Supas) tahun 2015, AKI berkisar 305/100.000 kelahiran hidup. AKI di Kota Banda Aceh pada tahun 2016 adalah 37 per 100.000 kelahiran hidup. Nyeri saat persalinan timbul sebagai akibat reflek fisik dan psikis ibu. Ketegangan emosi akibat rasa cemas akan memperburuk persepsi nyeri yang dirasakan oleh ibu saat melahirkan. Nyeri yang timbul saat persalinan, memerlukan manajemen pengelolaan nyeri yang tepat dan ini hendaknya menjadi perhatian bagi wanita, keluarga dan petugas kesehatan. Nyeri persallinan saat kala I merupakan nyeri berat yang dirasakan ibu bersalin dalam waktu yang lebih lama. Metode non farmakologis (Komplementer) terbukti dapat mengurangi nyeri persalinan salah satunya latihan Birth Ball. Tujuan : Menganalisis efektifitas latihan birth ball pada ibu bersalin kala I terhadap penurunan nyeri persalinan di Praktek Mandiri Bidan (PMB) “EM” di Kota Bada AcehMetode : Penelitian eksperimental dengan pendekatan Pre and Post-Test Control Group Design. Populasinya ibu bersalin primigravida kala I fase aktif dengan jumlah sampel 15 partisipan. Penelitian di lakukan di Praktek Bidan Mandiri (PMB) “EM” di Kota Banda Aceh. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi tentang intensitas nyeri persalinan dengan menggunakan skala Faces Pain Rating Scale.Hasil : Uji statistik dilakukuan dengan menggunakan Uji Wilcoxon didapatkan nilai p-value (0,001<0,05) jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada intensitas nyeri persalinan sebelum dan sesudah diberikan latihan Birth Ball.Simpulan : Latihan Birth Ball adalah salah satu asuhan kebidanan komplementer yang dapat diberikan secara mudah, murah, simple, efektif, dan tanpa efek yang merugikan. Birth Ball secara signifikan dapat menurunkan nyeri persalinan pada ibu primigravida kala I. 
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan vaksinasi dasar pada bayi hingga usia 12 bulan Riska Wandini; Yeni Koto; Mutiara Veny Yulia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.817 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.1826

Abstract

Factors influencing basic vaccination coverage of babies up to 12 months of ageBackground: Based on pre-survey conducted on six center for pre and post natal health cares at working area of Permata Health Center of Sukarame, there were 153 out of 346 babies receiving complete vaccination  up to 12 months of agePurpose: To identify the influence of factors basic vaccination coverage of babies up to 12 months of ageMethod: A quantitative and analytical survey with cross sectional approach. The population was mothers and  their babies with the sample was of 142 respondents and taken by purposive sampling. The statistical analysis was chi square.Results: Shows as 109 (76.8%) of respondents had a poor knowledge, 76 (53,5%) negative attitudes, 83 (58,5%); had low educational background, 50 (35,2%) lived in a supportive environment, and 55 infants (38.7%) received uncomplete basic vaccinations. The relationship varies from knowledge with a p value of 0,000 (α <0.05), attitudes to a value of p 0,000 (α <0.05), level of education with a value of p 0,000 (α <0.05), and environment with a value of p 0,000 ( α <0.05).Conclusion: Indicated that there were correlations among knowledge, attitude, education level and environment influencing basic vaccination coverage of babies up to 12 months of age. The health practitioners are suggested to provide a comprehensible knowledge for the parent on vaccination for immunities from any diseases of their babies.Keywords: Basic vaccination; Babies; ParentPendahuluan: Berdasarkan hasil prasurvey di 6 posyandu Wilayah Puskesmas Permata Sukarame, hanya terdapat 153 dari 346 bayi yang telah mendapatkan vaksinasi lengkap hingga usia 12 bulan.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan vaksinasi dasar pada bayi hingga usia 12 bulanMetode: Penelitian kuantitatif dengan desain Survei Analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasinya semua ibu dan bayi berumur hingga 12 bulan dan sampelnya 142 responden dengan cara purposive sampling. Uji statistik menggunakan uji chi squareHasil: Didapatkan 109 (76.8%) responden memiliki pengetahuan yang buruk, 76 (53,5%) sikap negatif, 83 (58,5%); memiliki latar belakang pendidikan rendah, 50 (35,2%) tinggal di lingkungan yang mendukung, dan 55 bayi (38,7%) tidak lengkap vaksinasi dasar. Hubungan bervariasi dari pengetahuan dengan nilai p 0,000 (α <0,05), sikap dengan nilai p 0,000 (α <0,05), tingkat pendidikan dengan nilai p 0,000 (α <0,05), dan lingkungan dengan nilai p p 0,000 (α <0,05).Simpulan: Adanya korelasi antara pengetahuan, sikap, tingkat pendidikan dan lingkungan yang mempengaruhi cakupan vaksinasi dasar bayi hingga usia 12 bulan. Para praktisi kesehatan disarankan untuk memberikan pengetahuan yang komprehensif bagi orang tua mengenai vaksinasi untuk kekebalan/imunitas dari penyakit apa pun pada bayi mereka.
Pengembangan jenjang karir perawat manajer di rumah sakit Wahyu Kusumadi Retnoningtyas; Hanny Handiyani; Nurdiana Nurdiana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.2702

Abstract

Becoming a Nurse Manager: A career track and system in hospitalBackground: Nurse career pathway is very effective to support career development, increase retention and facilitate self actualization of nurses. Regulations on the nurse manager’s career pathway are developed in line with the clinical nurse’s professional career pathway.Purpose: Identify and analyze needs related to the development of career path system for nurse managersMethod: A pilot project starting from data collection, problem analysis, problem priority setting, develop plan of action, implementation and evaluation. Respondents are the head nurseas many as 74 people and the nursing staff as many as 110 people. Problem analysis used fishbone diagrams.Results: The problem that arises is the lack of optimal development of manager nurses 'career levels caused by the absence of guidelines for manager nurses' career paths, the SOP has not been compiled yet, there are nurse managers who have DIII nursing education degree, many self-assessment results of the head nurses are still feeling incompetent, nursing staff perception about the ability of the head nurse is not optimal in carrying out their roles and functions .Conclusion: The implementation given as a solution to the problem  that is making guidelines for nurse managers career pathway and writing the manuscript. The recommendation for hospitals is that guidelines are adopted so that the mechanism for career advancement can be implemented.Keywords: A career track; Competency, Continuous professional development; Nurse manager; HospitalPendahuluan: Jenjang karir perawat sangat efektif menunjang perkembangan karier, meningkatkan retensi, dan memfasilitasi aktualisasi diri perawat. Regulasi tentang jenjang karir perawat manajer mulai dikembangkan sejalan dengan jenjang karir professional perawat klinis.Tujuan: Mengidentifikasi  dan  menganalisis kebutuhan  terkait  pengembangan pola jenjang karir bagi para perawat manajerMetode: Pilot project mulai dari pengumpulan data, analisis masalah, penetapan prioritas masalah, penyusunan plan of action, implementasi dan evaluasi. Responden adalah kepala ruangan sebanyak 74 orang dan staf perawat sebanyak 110 orang. Analisis masalah dilakukan dengan menggunakan diagram fishbone.Hasil: Didapatkan masalah belum optimalnya pengembangan jenjang karir perawat manajer yang disebabkan belum adanya panduan pola jenjang karir perawat manajer, belum disusunnya SPO, masih ada perawat manajer yang berpendidikan DIII keperawatan, hasil self assessment kepala ruangan masih banyak yang merasa belum kompeten, staf perawat menilai kemampuan kepala ruangan belum optimal dalam menjalankan peran dan fungsinya.Simpulan: Implementasi yang diberikan sebagai solusi permasalahan yaitu membuat panduan pola jenjang karir perawat manajer. Rekomendasi bagi rumah sakit yaitu panduan disahkan hingga mekanisme peningkatan jenjang karir dapat diimplementasikan. 
Gambaran perilaku seksual pada remaja Lukman Candra Purnama; Aat Sriati; Indra Maulana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.2761

Abstract

Sexual behavior among high school students Background: Sexual behavior in adolescents indicates vulnerability to the incidence of venereal disease if the activity continues or leads to worse and even causes HIV/AIDS. Reasons for researchers take sample in high school students at Garut, its consideration is, based on the results of preliminary studies conducted by interviewing shows that some of the students' had a suspect negative sexual behavior.Purpose: To describes of sexual behavior among high school students.Method: The descriptive a quantitative with population all high school student and used stratified random sampling taken 268 respondents, univariate data analysis by descriptive analysis.Results: Shows that less than half of sexual behavior among adolescents had risk categories of 100 respondents (37.3%). In demographic data is similar to other studies that at the age of 16 years old, they  have a sexual deviations behavior (compulsive or destructive).Conclusion: The sexual behavior among high school students shows that there are still many teenagers who engage in risky sexual behavior. This required intervention to provide health education to students and expecting to reduce deviant sexual behavior.Keywords: Behavior; Sexual; High school; StudentsPendahuluan: Perilaku seksual pada remaja mengindikasikan kerawanan terhadap kejadian penyakit kelamin jika kegiatan tersebut berlanjut atau mengarah kepada yang lebih buruk bahkan sampai menyebabkan HIV/AIDS Alasan peneliti mengambil tempat penelitian di SMAN X Garut Pertimbangannya adalah, berdasarkan hasil study pendahuluan yang dilakukan peneliti dengan cara memwawancarai siswa yang menunjukkan bahwa beberapa perilaku siswa sudah menjurus kearah perilaku seksual walaupun proporsinya masih dalam skala kecil.Tujuan: Untuk mengetahui gambaran perilaku seksual remaja di SMAN X Garut.Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sempel yang digunakan yaitu stratified random sampling dengan strata diambil tiap kelas yang berjumlah 22 kelas. jumlah sampel sebanyak 268 orang dengan tehnik probability sampling terdiri dari perempuan dan laki-laki instrumen yag digunakan menggunakan instrumen yang sudah baku. Analisa data yang dilakukan secara univariat dengan analisis deskriptif.Hasil: Menunjukan perilaku seksual pada remaja kurang dari setengahnya memiliki kategori berisiko sebanyak 100 remaja (37,3%). Pada data demografi hasilnya sejalan dengan penelitian lain bahwa umur 16 tahun banyak terjadi penyimpangan seksual.Simpulan: Perilaku seksual pada remaja di SMAN X Garut menunjukan masih banyak remaja yang yang melakukan perilaku seksual berisiko. Diperlukan intervensi untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada siswa adn diharapkan dapat mengurangi perilaku seksual yang menyimpang.
Persepsi perawat terhadap upaya pelayanan prima di rumah sakit Eri Murni Asih; Dessy Hermawan; Teguh Pribadi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i2.1401

Abstract

Nurses' perceptions of excellent health care servicesBackground: As the spearhead of services to patients and their families at the hospital, nurses have a major influence on determining the quality of services, because the frequency of gathering among nurses, patient and patients family considere the most often. Therefore, a paradigm and mental attitude that is service-oriented are needed, as well as adequate knowledge and skills in carrying out excellent service.Purpose: To describe nurses' perceptions of excellent health care services.Method: An analytical with cross-sectional approach with the number of samples in this study was 53 responden taken by cluster random sampling. teh populations were all staff nurses at Dr. H. Bob Bazar, SKM General Hospital. South Lampung. Data collected through questionnaires and analyzed using univariate analysis, bivariate analysis, and multivariate with SPSS for Windows V. 22.Results: Shows a relationship between perceived susceptibility with excellent service effort (0.021 <0.05), the relationship between perceived severity and excellent service effort (p-value 0.001 <0.05), the relationship between perceived benefit of action and excellent service effort (p-value 0.003 <0.05), the relationship between perceived barrier to action with excellent service efforts at  Dr. H. Bob Bazar, General Hospital South Lampung (p-value 0.007 <0.05), the perceived benefit of action variable is the most dominant variable affecting the prime service effort variable with the Exp value (B) = 46,512.Conclusion: A significant relationship between nurses perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit of action, and perceived of barriers from the action  excellent service at Dr. H. Bob Bazar, SKM General Hospital  South Lampung. The results of this study also found that there was a significant on simultaneous effect of all independent variables on the effort of excellent service.Keywords: Nurses' perceptions; Excellent health care services; HospitalPendahuluan: Sebagai ujung tombak pelayanan terhadap pasien dan keluarganya di Rumah Sakit, perawat memiliki pengaruh besar untuk menentukan kualitas pelayanan, karena kuantitas frekuensi pertemuan perawat dengan pasien dinilai paling sering terjadi. Oleh karena itu, diperlukan paradigma dan sikap mental yang berorientasi melayani, serta pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam melaksanakan pelayanan yang prima.Tujuan: Untuk mengetahui Pengaruh Persepsi Perawat Terhadap Upaya Pelayanan Prima  RSUD dr.H. Bob Bazar, SKM Kabupaten Lampung Selatan.Metode: Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 53 responden, diambi lsecara clusster random sampling menggunaan rumus slovin. Populasinya seluruh perawat yang bekerja di RSUD dr.H. Bob Bazar, SKM Kabupaten Lampung Selatan. Pengumpulan data melalui kuesioner dan data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis univariat, analisis bivariat, dan multivariat dengan program SPSS for Windows V. 22.Hasil: Menunjukkan hubungan perceived susceptibility dengan upaya pelayanan prima (0,021 < 0,05), hubungan antara (perceived severity dengan upaya pelayanan prima (p-value 0,001 < 0,05), hubungan antara perceived benefit of action dengan upaya pelayanan prima (p-value 0,003 < 0,05), hubungan antara perceived barrier to action dengan upaya pelayanan prima (p-value 0,007 < 0,05), variabel perceived benefit of action merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi variabel upaya pelayanan prima dengan nilai Exp(B)= 46,512.Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi perawat tentang kerentanan/kemungkinan terkena suatu penyakit, persepsi perawat keparahan penyakit, persepsi perawat tentang manfaat dari tindakan, dan persepsi perawat tentang hambatan dari tindakan terhadap upaya pelayanan prima di Rumah Sakit Umum Dr. H. Bob Bazar, SKM Lampung. Terdapat pengaruh bersama secara signifikan seluruh variabel bebas penelitian terhadap upaya pelayanan prima. 

Page 2 of 2 | Total Record : 20