cover
Contact Name
Rahmad Fani Ramadhan
Contact Email
rahmad.fani@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalilmuternak@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Ternak
ISSN : 14105659     EISSN : 26215144     DOI : -
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran encompasses a broad range of research topics in animal sciences: breeding and genetics, reproduction and physiology, nutrition, feed sciences, agrostology, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, health, livestock farming system, socio-economic, and policy. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran published by twice a year, June and December
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2007)" : 16 Documents clear
Aspek Nutrisi dan Karakteristik Organoleptik Keju Semi Keras Gouda pada Berbagai Lama Pemeraman Hartati Chairunnisa
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2226

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik keju semi keras Gouda yang meliputi kadar air (Moisture on Fat Free Basis/MFFB), kadar lemak (Fat in Dry Basis/FDB) dan protein terlarut, serta mengetahui hubungan kadar air keju dengan kekerasan berdasarkan penetrometer, juga menentukan tingkat kesukaan keju semi keras  Gouda, pada berbagai lama pemeraman keju secara organoleptik. Rancangan  Acak Lengkap digunakan dengan empat perlakuan lama pemeraman keju semi keras Gouda, yaitu dua, empat, enam bulan, dan keju semi keras Gouda segar sebagai perlakuan kontrol, yang masing-masing diulang lima kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air (MFFB) keju semi keras Gouda semakin menurun dengan meningkatnya lama pemeraman, yang berarti keju Gouda semakin keras. Berdasarkan overall acceptance secara organoleptik yang meliputi penampakan, warna dan konsistensi, maka diperoleh  keju semi keras Gouda yang paling  disukai bila dilakukan pemeraman selama dua atau empat bulan, atau keju Gouda tanpa pemeraman  (fresh Gouda), yang mengandung kadar air (MFFB) dengan kisaran 48,14 - 30,62%,  kadar lemak (%bahan kering=FDB) dengan kisaran 43,54 – 33,44%, dan kadar protein terlarut 9,17 – 25,26%.Kata kunci : Keju semi keras Gouda, nutrisi, karakteristik organoleptik, lama pemeraman.
Interaksi Kapang dengan Fungisida terhadap Sifat Fisik Kulit Kambing Pickle dan Wet Blue Selama Penyimpanan Muhammad Irfan Said
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2231

Abstract

Penelitian bertujuan mengkaji interaksi kapang pada kulit samak setengah jadi (pickle dan wet blue) dengan fungisida terhadap sifat fisik kulit jadi (leather) selama penyimpanan. Penelitian menggunakan isolat kapang spesies Aspergillus flavus Link dan  Penicillium sitophila Mont serta 6 lembar pickle dan 6 wet blue).  Setiap lembar dibelah menjadi 2 side and  tiap side diambil 6 potong cuplikan. Perlakuan yang diterapkan 2 jenis kulit (Pickle dan Wet Blue),  2 spesies kapang (Aspergillus flavus Link dan   Penicillium sitophila Mont), 3 perlakuan fungisida (kontrol, Busan 1009 dan Dodigen 262) dan 4 waktu penyimpanan (1, 30, 60 dan 90 hari) diulang 3 kali.  Hasil dianalisis dengan RAK Faktorial dengan waktu penyimpanan sebagai blok. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa fungisida pada kulit pickle berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kekuatan tarik dan nyata (P<0,05) terhadap kemuluran. Jenis kapang dan interaksinya tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Fungisida dan jenis kapang pada kulit wet blue berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dan nyata (P<0,05) terhadap kekuatan tarik dan  kemuluran, interaksinya tidak berpengaruh nyata (P>0,05).  Kulit pickle dan wet blue yang disimpan selama 90 hari pada suhu kamar tercemar kapang Aspergillus flavus Link dan Penicillium sitophilum Mont tanpa pemberian fungisida (kontrol) memungkinkan sifat fisik (kekuatan tarik dan kemuluran) bisa dipertahankan sesuai standar SNI.Kata kunci:  Kapang, Fungsida, Pickle, Wet Blue
Aktivitas Proteolitik Lactobacillus acidophilus dalam Fermentasi Susu Sapi Wendry Setiyadi Putranto
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2236

Abstract

Lactobacillus acidophilus memiliki kemampuan mengekskresikan ekstraseluler protease. Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas proteolitik dari L. acidophilus. Enzim protease telah dimurnikan dengan sentrifugasi, pengendapan 45% ammonium sulfat, dan kromatographi. Hasil penelitian menunjukkan Protease Lactobacillus acidophilus memiliki aktivitas spesifik 0,752 U/mg (ekstrak kasar), 1,24 U/mg (pengendapan dengan 45% ammonium sulfate) and 1,15 U/mg (Gel Filtration). Protein enzim yang diperoleh sebesar 12,6% ekstrak kasar protease.Kata kunci: aktivitas proteolitik, pemurnian, L. acidophilus
Perbandingan Indek Perdagingan Sapi-sapi Indonesia (Sapi Bali, Madura,PO) dengan Sapi Australian Commercial Cross (ACC) Muhamad Fatah Wiyatna
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2227

Abstract

Penelitian mengenai perbandingan indek perdagingan sapi-sapi Indonesia dengan sapi Austrlaia telah dilakukan di RPH Ciroyom Bandung. Penelitian ini menggunakan 75 ekor sapi lokal dan 25 ekor sapi ACC. Sapi mempunyai kondisi tubuh sedang dengan kisaran umur 2,5 sampai 3,5 tahun. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui nilai indek perdagingan sapi-sapi lokal dan sapi Australia. Metode Penelitian yang digunakan adalah Causal Comparatif. Peubah yang diukur adalah bobot hidup, bobot karkas, panjang karkas dan indek perdagingan. Data yang terhimpun dianalisis berdasarkan metode sidik ragam selanjutnya untuk mengetahui perbedaan diantara bangsa sapi digunakan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase karkas tertinggi diperoleh dari sapi Bali dengan rataan 54,00 persen, kemudian sapi ACC 51,00 persen, sapi Madura 47,00 persen dan sapi PO 44,00 persen. Pada perhitungan indek perdagingan sapi Australia nyata lebih tinggi yaitu 1,415, sedangkan sapi Bali 1,232 dan sapi PO bernilai 1,210. Sapi Bali mempunyai potensi yang baik seperti sapi ACC.Kata kunci : Sapi lokal, sapi ACC, indek perdagingan
Model Kurva Pertumbuhan Pra Sapih dari Sapi Madura Betina dan Jantan Karnaen -
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2232

Abstract

Kurva pertumbuhan merupakan pencerminan kemampuan suatu individu untuk menampilkan potensi genetic dan perkembangan bagian-bagian tubuh mencapai dewasa. Penelitian mengenai model kurva pertumbuhan sapi Madura betina dan jantan dari lahir sampai umur 6 bulan telah dilaksanakan di kabupaten Bangkalan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kurva pertumbuhan sapi madura periode pra sapih. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan sample acak sebanyak 57 ekor sapi. Data yang diperoleh dianalisis regresi. Hasil analisis menunjukkan bahwa model kurva pertumbuhan sapi madura betina dan jantan dari lahir sampai 6 bulan mengikuti model persamaan regresi alometrik dengan koefisien determinan R2 = 0,9950 dan R2 = 0,9910 dengan persamaan regresi  dan .Kata Kunci: Pertumbuhan Sapi Madura Betina Dan Jantan
Tampilan Berahi dan Tingkat Kesuburan Sapi Bali Timor yang Diinseminasi Petrus Kune; Nurcholidah Solihati
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2223

Abstract

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui tampilan berahi dan tingkat kesuburan sapi betina yang diinseminasi ketika memperlihatkan berahi alamiah, berahi hasil sinkronisasi menggunakan preparat prostaglandin F2α, dan berahi alamiah sesudah berahi hasil sinkronisasi.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan model rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji-cobakan, yakni P1= kelompok ternak yang berahi alam; P2 = kelompok ternak yang berahinya disinkronisasi menggunakan preparat prostaglandin F2α dan P3 = kelompok ternak yang berahi alamiah setelah berahi hasil sinrkonisasi menggunakan prostaglandin F2α.  Sapi yang digunakan pada pengamatan tampilan gejala dan intensitas berahi sebanyak 21 ekor untuk ketiga perlakuan dengan tujuh ulangan,  sedangkan untuk menguji kesuburan (CR) hanya menggunakan sapi-sapi betina yang berahinya jelas, yakni sebanyak 16 ekor dari 21 yang lolos seleksi awal. Hasil penelitian menunjukan bahwa a). 21 ekor sapi betina yang digunakan dalam penelitian ini mampu memperlihatkan berahinya dan umumnya lebih dari 70 % menunjukan berahi dengan intensitas jelas (skor 3) dan b). Rataan tingkat kesuburan (CR) dari sapi betina sebanyak 16 ekor yang diinseminasi ketika memperlihatkan berahinya dari ketiga kelompok perlakuan adalah 68,75 %. dimana P1 dan P2 adalah sama (masing-masing 60 %) sedangkan P3 = 83,33 %. Hasil analisis statistik menunjukan ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P1 dan P2 dengan perlakuan P3.     Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sapi Bali dapat memperlihatkan berahinya secara jelas dan ini menunjukan bahwa sapi Bali-Timor memang masih termasuk sapi yang subur, namun disarankan agar pengamatan berahi secara cermat harus tetap dilakukan ketika akan melakukan IB.Kata Kunci : Inseminasi Buatan, Conception rate, intensitas berahi

Page 2 of 2 | Total Record : 16