cover
Contact Name
Moh. Bakir
Contact Email
mbakir490@yahoo.com
Phone
+6281990925680
Journal Mail Official
jurnal.stiu@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Pegantenan KM. 09 Plakpak Pegantenan
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 2460383     EISSN : 24778249     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal EL-FURQANIA Vol.04 No.02 Agustus 2018 yang saat ini ada di tangan pembaca menampilkan sejumlah artikel yang merupakan bukti atau hasil “pencarian” para penulis untuk memahami hubungan Ushuluddin dan Ilmu-ilmu Keislaman dengan pranata sosial berdasarkan concern keilmuan masing-masing penulis di berbagai bidang. Jurnal ini menampilkan enam karya tulis ilmiah yang merupakan karya orisinal, tentang kajian al-Qur’an dan kajian keislaman
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017" : 6 Documents clear
PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM ALA HARUN NASUTION (Sebuah Refleksi Akan Kerinduan “Keemasan Islam”) Sukma Tirta Firdaus
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.563 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3026

Abstract

Abstrak:Saat ini, bila kita membicarakan tentang kejayaan Islam masa lalu,lebih-lebih di bidang ilmu pengetahuan, memberikan rasa pilu yangmendalam. Bagaimana tidak, kenyataan yang terjadi sekarang,Islam yang dulu merupakan kaum paling pintar di dunia, kinihanya menjadi penonton dan objek dari perkembangan IlmuPengetahuan dan Teknologi yang dihasilkan kaum Barat. Dulu,Islam-lah yang mengajari mereka, namun kenapa sekarang justrumereka yang memegang kendali peradaban di era millenium ini.Harun Nasution mengungkapkan, fenomena ini karena kesalahanumat Islam sendiri yang tidak mau beranjak untuk bangkit kembalisetelah kemundurannya. Umat Islam hanya pasrah dan nrimo, akaltidak kembali diasah dan dibiarkan tumpul. Islam harus kembalibangkit dengan memerdekakan akal, penganutan teologi yangtepat, menempatkan posisi akal sesuai kebutuhannya di antarawahyu. Harun menegaskan, tiga hal tersebut merupakan pola baruyang harus dikembangkan, terutama dalam pendidikan Islam, agarIslam tidak semakin terpuruk.Katakunci: Harun Nasution, kemerdekaan akal, pendidikan Islam. Abstract:Today, when we talk about the glory of Islam in the past,especially in the field of science, gives a deep sense of pain. Hownot, the fact that is happening now, Islam that was once the mostintelligent people in the world, is now only a spectator and objectof the development of Science and Technology produced by theWest. In the past, Islam was the one who taught them, but whynow they are in control of civilization in this millennium time.Harun Nasution reveals, this phenomenon because of the error ofMuslims themselves who do not want to move to rise again afterits decline. Muslims are just resigned and take it as it comes,reason is not re-sharpened and left blunt. Islam must re-emerge byliberating reason, proper theology, placing the position of reasonaccording to its needs among revelations. Harun asserted, the triadis a new pattern that must be developed, especially in Islamiceducation, so that Islam is not getting worse.Keywords: Harun Nasution, freedom of mind, Islamic education.
PERSPEKTIF SOSIOLOGIS KONSEP KEBIJAKAN GERAKAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT ISLAMI (GERBANGSALAM) DI KABUPATEN PAMEKASAN (Jawaban Terhadap Wacana Pemisahan Agama dengan Politik) Hendri Masduki
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.076 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3027

Abstract

Abstrak:Para Islamis dewasa ini tengah mencari alternatif-solutif untukmenyelesaikan masalah domestik pemerintahannya, mereka tidakmelihat ideologi barat sebagai alternatif penyelesaian masalahdomestiknya, namun mereka berpaling dan menjadikan Islamsebagai pegangan dan solusi alternatif untuk mengatasi masalahdomestik daerahnya, dan bahkan mereka mendengungkan sebuahslogan ‚Islam is the solution‛ dan bahkan mereka mengartikulasidan memberikan interpretasi suatu kebebasan dalam framereference Syari’at Islam. Tren inilah yang menjadi proritas utamapara elit lokal di daerah untuk mengelola, dan menata pemerintahandi daerahnya. Penataan dan pengelolaan pemerin-tahansecara otonom di tingkat lokal (local state) merupakan dampaksosial gerakan reformasi total pada tahun 1998 yang disusulbergulirnya spirit otonomi daerah, yang menghendaki perubahanparadigma pemerintahan dari sentralisasi birokrasi menujudesentrasasi demokrasi, sehingga pemerintahan di daerah dituntutmempunyai kemampuan dalam mengelola pemerintahan danmengatasi masalah-masalah domestiknya sesuai dengan potensidan khasanah kearifan lokal yang dimiliki di daerahnya. Realitasinilah yang mendorong pemerintahan di daerah-daerah (local state)untuk membuat regulasi kebijakan, baik dalam bentuk peraturandaerah (Perda), Keputusan-keputusan, dan bahkan yang masihberupa rencana strategis.Kata Kunci: Perspektif sosiologis, Konsep kebijakan Gerbangsalam,Kabupaten Pamekasan. Abstract:Todays, All Islamic are searching an alternatif-solution to finishthe problem of domestic government, they don’t use the westideology as the guidance or an alterntif of problem solving, butthey deny and take Islam as the quidence and an alternativesolution to overcome the problem, and even they show the slogan"Islam is the solution" and even they submit and give aninterpretation of freedom in frame reference of Syari'at Islam. ThisTren become main proritas to all local elite in local state tomanage and arrange the governance. The arragement andmanagement of the governance otonomously in local state isrepresenting the social impact of total reformation movement in1998 which is continued by occuring spirit of area autonomy,wanting changging of the government paradigm from sentralisasiof bureaucracy to desentrasasi of democracy, so that thegovernance in local state are hoped to own ability in managinggovernance and overcoming the domestic problem based on thepotention and local properties or asset they have. This reality makethe governance in the local state take the regulation of rules, it canbe an autonomous rule (Perda), The decisions, and even the rule inthe form of strategic planKeywords: Sociology Perspective, the Concept of the Rule of Movement ofIslamic Socity Development (GERBANGSALAM), PamekasanRegency
KEISLAMAN AYAH NABI IBRAHIM (Studi Analisis Tafsir Dan Hadits Nabi Tentang Agama Ayah Nabi Ibrahim As) Khairul Muttaqin
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.168 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3028

Abstract

Abstrak:Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa Nabi Ibrahim asadalah seorang utusan Allah SWT yang sangat luar biasa. Ibrahimadalah utusan Allah yang berusaha dengan sekuat tenaga untukmenemukan tuhannya. Ibrahim bahkan dengan keteguhan hatinyamenghancurkan patung-patung yang dibuat oleh Azar ayahnya.Sejarah mencatat bahwa Azar ayah Ibrahim adalah seorang yangkufur kepada Allah SWT dan termasuk pembuat patung-patungyang mana patung tersebut dijadikan sebagai Tuhan dan disembaholeh orang-orang pada zamannya. Namun dalam beberapa kitabtafsir dan hadits-hadits Nabi justru disebutkan sebaliknya bahwaAzar bukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim. Azar hanyalah ayahangkat Nabi Ibrahim dan ayah kandung Nabi Ibrahim sendiriadalah seorang muslim yang tidak kufur kepada Allah SWT.Penulisan dalam karya ilmiah ini menggunakan metode libraryresearch atau studi kepustakaan. Penulis membandingkan beberapapendapat dalam kitab-kitab tafsir dan hadits-hadits nabi tentangsiapa sebenarnya ayah kandung Nabi Ibrahim apa agama agamaayah kandung Nabi Ibrahim tersebut. Setelah dilakukan telaahsecara mendalam penulis menyimpulkan bahwa mayoritas ulamatafsir dan hadits justru lebih memilih berpendapat bahwa Azarbukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim dan ayah kandung NabiIbrahim adalah seorang muslim yang tidak kufur kepada AllahSWT.Kata Kunci: Agama, Islam, Kafir, Ayah Ibrahim Abstract:In historical books it is mentioned that Prophet Ibrahim as was agreat messenger of Allah SWT. Ibrahim is God's messenger whostrives hard to find his god. Ibrahim even with his fortitudedestroying the statues made by his father Azar. History recordsthat Azar's father Abraham was a disbeliever to Allah SWT andincluded the makers of statues whose statue was made as God andworshiped by people of his day. But in some of the books of tafsirand the hadiths of the Prophet it is mentioned otherwise that Azaris not the father of the Prophet Ibrahim. Azar is not true father ofthe Prophet Abraham and the true father of Prophet Abrahamhimself is a Muslim who believe in Allah SWT. Writing in thisscientific papers uses library research methods or literature studies.The author compares several opinions in the books of tafsir andhadiths of the prophet about who is actually the father of ProphetAbraham and what is the religion of the Abraham's father. After athorough study of the writer concludes that the majority of ulama'tafsir and hadith instead prefer to argue that Azar is not the fatherof Prophet Abraham and the father of Prophet Abraham is aMuslim who believe in Allah SWT.Keywords: Religion, Islam, disbeliever, father of Prophet Abraham
RAHASIA MERAIH SUKSES DUNIA AKHIRAT PERSPEKTIF TEMATIK SURAH AL KAUTHAR Ahmad Masykur
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.369 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3029

Abstract

Abstrak:Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu. Banyak sekali ilmuyang berkaitan dengan al-Qur’an. Hal itu karena para pengkaji al-Qur’an bermaksud merealisasikan banyak tujuan dan memandangal-Qur’an dari segi yang berbeda. Kajian terhadap al-Qur’ansesungguhya dapat dilakukan dengan melihat berbagai objek,mulai dari aspek sejarah kodifikasinya, qiraahnya, asbab nuzulnyasampai pada perkembangan penafsirannya. Dan Kajian terhadapsisi penafsiran nampaknya justru yang sangat mengalamiperkembangan cukup signifikan. Jika kita dapat mencermati, darisuatu generasi kepada generasi berikutnya penafsiran al-Qur’anmemiliki corak dan karakteristik yang berbeda-beda. Hal inidisebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah adanyaperbedaan situasi sosio-historis di mana seorang mufassir hidup.Bahkan situasi politik yang terjadi ketika mufassir melakukankajian dan penafsiran terhadap al-Qur’an juga ikut mewarnaipenafsi-rannya. Di samping itu cakupan makna yang terkandungdalam al-Qur’an memang sangat luas, begitu pula perbedaan dancorak penafsiran juga disebabkan perbedaan keahlian yang dimilikioleh masing-masing mufassir. Al-Qur’an memang merupakankitab yang mengandung kemungkinan banyak penafsiran.Sehingga adanya pluralitas penafsiran al-Qur’an adalah sah-sahsaja, sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara moral danilmiah. Bahkan Penafsiran dapat diibaratkan sebuah ‚organisme‛yang selalu tumbuh dan berkembang. Ia akan selalu mengalamiperubahan dan perkembangan seiring dan senafas dengan kemajuantantangan yang dihadapi manusia sepanjang masa.Kata Kunci : Al-Qur’an, perkembangan penafsiran, penuntun sukses
PENGARUH HADIS DALAM ILMU FIQIH DAN TEOLOGI (Kajian Tokoh dan Pemikiran Imam Syafii) Syaroji Sy
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.08 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3030

Abstract

Abstrak:Umat Islam memang sepakat bahwa al-Qur’an menjadi sumberutama, akan tetapi di sana lebih menjelaskan tentang garis-garisbesar. Sementara itu, rincian yang lebih mengerucut sedikitditemukan. Untuk itu, munculah berbagai ulama tafsir gunamenjelaskan hal-hal yang lebih mudah dipahami oleh umat. Selainitu, sumber hadis pun begitu, di sana banyak hadis-hadis yangmasih perlu diteliti akan keabsahannya, dan hadis pun tidak lepasdari penafsiran ulama. Imam Syafii ialah salah satu empatmadzhab di mana merupakan kiblat madzhab sebagian besar umatmuslim di Indonesia. Di mana hadis-hadis sangat berpengaruh bagibeliau dalam menetapkan hukum-hukum syariat yang ditawarkanitu menjadi kajian yang membutuhkan analisis kritis berdasarkanpemikiran secara teologis. Melalui hadis-hadis yang sepaham dansesuai interpretasi beliau, maka akan berpengaruh pada hasil darihukum-hukum yang telah dirumuskan maupun ilmu fiqih yangdicetuskannya. Sehingga, produk syariat Imam Syafii lebihcenderung digunakan sebagian besar umat muslim bahkan di dunia.Kata kunci: Imam Syafii, hadis, hukum syariat, ilmu fiqih, pemikiran. Abstrac:Moeslem are agree that The Qur’an is a prime resources, but thereare more explain about in outline. And something is more detailsonly few to find. So as to come some interpretationist of TheQur’an were explained something so more easy to understoodmoeslem. Be sides it, like that hadis there are hadis need researchedto validity and hadid don’t lost of interprtationist. Imam Syafi’i isthe one of four madzhabs where is be madzhab oriented for those ofMoeslem in Indonesia. Hadis is very influence him to make syariahlaws that offered to be studied and needed critic analysis groundedon thought in a theologist. Pass through of hadis that agree ininterpretation with him, so will influence to report of laws weredefined or fiqih is sparkes. So Imam Syafi’i’s product syariah istended used for those of Moeslem in the word.Keywords: Imam Syafii, through of hadis, syariah laws, defined or fiqih,critic analysis
MENELISIK SEJARAH DAN KEBERAGAMAN CORAK PENAFSIRAN AL-QUR’AN Kusroni Kusroni
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.802 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3031

Abstract

Abstrak:Tafsir al-Qur’an merupakan usaha yang dilakukan oleh manusiasesuai kemampuan dan kompetensinya dalam memahami maknakalam Allah. Pada masa Nabi yang notabene beliau adalahmufasir tunggal, belum muncul keberagaman corak dalampenafsiran, karena sumber penafsiran hanya satu yaitu Nabi. Halini berbeda dengan masa di mana umat Islam telah menyebar diberbagai wilayah yang dibarengi dengan terjadinya perkembanganilmu pengetahuan dan berkembangnya berbagai aliranmadhhab dan pemikiran. Perkembangan ilmu pengetahuan sertalahirnya berbagai aliran madhhab juga memberikan dampak padakeberagaman corak penafsiran al-Qur’an. Tulisan ini menelisikakar sejarah dan keberagaman corak penafsiran. Hasil analisisliteratur menunjukkan bahwa sejarah kemunculan dan keberagamancorak penafsiran lahir bersamaan dengan berkembangnyailmu pengetahuan dan munculnya berbagai aliran madhhabdalam Islam. Perkembangan ilmu pengetahuan melahirkanberbagai corak penafsiran seperti corak lughawi>, fiqhi>, falsafi>,su>fi>, ‘ilmi>, dan lain-lain. Sedangkan lahirnya berbagai aliranmadhhab memunculkan corak sunni>, shi>’i>, mu’tazili> dan lain-lainsesuai dengan ideologi yang dianut oleh mufasir.Kata kunci : Corak tafsir, perkembangan tafsir, keberagaman corak tafsir Abstract:Tafsir al-Qur'an is an effort made by humans according to abilityand competence in understanding the meaning of the word ofAllah. At the time of the Prophet Muhammad who is a singlemufasir, has not emerged the diversity of style in interpretation,because the source of interpretation is only one that is theProphet. This is different with the period in which Muslims havespread in various regions accompanied by the development ofscience and the development of various thought and madhhab.The development of science and the birth of variousmadhhab also give an impact on the diversity of the style of theQur'an interpretation. This paper examines the historical rootsand diversity of interpretive styles. The results of the literatureanalysis show that the history of the emergence and diversity ofinterpretive styles was born along with the development ofscience and the emergence of various madhhab in Islam. Thedevelopment of science gave birth to various shades ofinterpretation such as lughawi, fiqhi, philosophical, sufi, andilmi, and others. While the birth of various madhhab raises thestyle of sunni, syi'i, mu'tazili and others in accordance with theideology adopted by the mufasir.Keywords: Style of interpretation, development of interpretation,diversity of tafsir style.

Page 1 of 1 | Total Record : 6