BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni:
1.Studi Biblika
2.Injil dan Kebudayaan
3.Gereja dan Masyarakat
4.Dinamika Pendidikan Kristen
5.Riset Teologi Praktika
6.Musik Kontekstual
Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018"
:
20 Documents
clear
Memaknai Iconography Kristen dari Perspektif Keluaran 20:4-6
Lola, James Anderson
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (941.278 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.62
The presence of statues in the Church has led a debate in various aspects of life, one of the issues raised is related to the commandments in God's ten commandments not to make statues and to worship the statue (Exodus 20: 4-6; Deut. 5: 8-10; Lev. 19: 4). As much as possible, this study wants to see how this statue relates to the second commandment of ten laws. In the hermeneutic approach, the researcher found that the meaning of this command was to clearly reject the establishment of a statue that was used to personalize divinity especially believed to be a manifestation of God himself.Abstraksi: Kehadiran patung dalam Gereja telah menimbulkan pro dan kontra dalam berbagai aspek kehidupan, salah satu isu yang dimunculkan adalah berkaitan dengan salah satu perintah dalam sepuluh perintah Allah untuk tidak membuat patung dan sujud menyembah patung tersebut (Keluaran 20:4-6, bandingkan Ul. 5:8-10; Im.19:4). Penelitian ini sedapat mungkin ingin melihat bagaimana hubungan patung ini dengan perintah kedua dari sepuluh hukum. Dalam pendekatan hermenutik, peneliti menemukan bahwa makna dari perintah ini adalah dengan jelas menolak pendirian patung yang digunakan untuk mempersonafikasikan keillahian apalagi dipercaya sebagai wujud dari Allah itu sendiri
Mewartakan Injil - Menahan Roti: Sebuah Catatan Kritis atas Model Pelayanan Yudas
Nayuf, Hendrikus
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (669.304 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.9
Poverty is often used as an excuse for fighting for justice and solidarity. Poverty becomes a magnet for anyone to raise it as an issue of partiality. Even poverty can be used as a means of struggle to criticize the leaders of the nation and the church. Jude, one of Jesus disciples show this in Jesus anointing narrative in Bethany. Jude fought for justice while at the same time showing his solidarity when criticizing Mary for anointing Jesus by using expensive aromatic oil. At the symbol level, Judas shows a concrete emphaty attitude. He showed partiality and dared to rebuke others so that they were not wasteful while poverty was so rampant. Even though Jude’s attitude was counter-productive with narratives about him. But the story becomes an inspiration and source of learning about the interpretation of poverty and also a warning sign for church leaders so that in their works, the must “proclaim the Gospel – share bread” and not “proclaim the Gospel – hold the bread.”Abstrak: Kemiskinan sering dijadikan alasan dalam memperjuangkan keadilan dan solidaritas. Kemiskinan menjadi magnet bagi siapa saja untuk mengangkatnya sebagai isu keberpihakan. Bahkan kemiskinan dapat dijadikan sebagai alat perjuangan untuk mengkritisi para pemimpin bangsa maupun pemimpin gereja. Yudas, salah satu murid Yesus telah menunjukkan hal tersebut dalam narasi pengurapan Yesus di Betania. Yudas memperjuangkan keadilan sekaligus menunjukkan sikap solidaritasnya saat mengkritik Maria yang mengurapi Yesus dengan menggunakan minyak narwastu yang mahal. Dalam tataran simbol, Yudas menunjukkan sikap empati yang konkrit. Ia menunjukkan keberpihakan dan berani menegor orang lain agar tidak berlaku boros sementara kemiskinan begitu merajalela. Walau sikap Yudas kemudian kontra produktif dengan kelanjutan narasi-narasi tentang dirinya. Tetapi kisahnya kemudian menjadi inspirasi dan sumber pembelajaran tentang penafsiran atas kemiskinan dan juga tanda awas bagi para pemimpin Gereja agar dalam karya-karyanya, harus “mewartakan Injil – membagi roti” dan bukan “Mewartakan Injil – Menahan Roti.”
Memahami Bangsa-bangsa Lain dalam Injil Matius
Putra, Adi
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (732.128 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.59
This article described one of the uniqueness of the Gospel of Matthew, namely: the emergence of systemic and consistent elements of other nations (gentile). Though Matthew's Gospel is a gospel written for Jews with an emphasis on fulfilling the Old Testament in Jesus and His ministry. Then, why are the elements of other nations in it? This paper answers it by looking more at the salvation (soteriology) aspects designed by God and also includes other nations in it. Abstrak: Artikel ini menjelaskan salah satu keunikan dari Injil Matius, di mana secara sistematis dan konsisten menjelaskan unsur bangsa-bangsa lain (gentile). Meskipun injil Matius ditulis kepada orang Yahudi dengan sebuah penekanan penggenapan PL dalam Yesus dan pelayanan-Nya. Lalu, mengapa unsur bangsa-bangsa lain dijelaskan secara konsisten dan sistematis di dalamnya? Penelitian ini menjawabnya dengan melihat lebih kepada aspek keselamatan yang telah didesain oleh Allah juga bagi bangsa-bangsa lain
Refleksi Konsep Proto Logos Lukas dalam Membangun dan Meningkatkan Kegiatan Publikasi Ilmiah di Lingkungan Sekolah Tinggi Teologi
Siahaan, Harls Evan R.
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (734.239 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.61
The activity of scientific publication is an academic reflection in the field of higher education. This activity has been increasing significantly in the last two years, especially with the regulations of the ministry of research and higher education which regulated publishing research issues in the online journals. Theological College as a higher education under the Ministry of Religion is not immune to the effects of regulations concerning scientific journals. This article aimed to show a biblical reflection on building and improving scientific publications. By using a descriptive analysis method on the text of Luke 1:1-4, the conclusion obtained is that the writing process of the Gospel of Luke reflected the phases of scientific publication, so that it could become a theological reflection for theological colleges to carry out academic activities in building and improving publication activities through online journals.Abstrak: Kegiatan publikasi ilmiah merupakan sebuah refleksi aktivitas akademis di lingkungan sekolah-sekolah pendidikan tinggi. Kegiatan ini telah mengalami eskalasi yang siginifikan dalam dua tahun belakangan, terlebih lagi dengan munculnya peraturan kementrian riset dan pendidikan tinggi yang mengatur publikasi penelitian dalam bentuk jurnal online. Sekolah Tinggi Teologi sebagai pendidikan tinggi yang berada di bawah Kementrian Agama tidak luput dari imbas peraturan yang menyangkut jurnal ilmiah. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan sebuah refleksi biblikal untuk membangun serta meningkatkan publikasi ilmiah. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif pada teks Lukas 1:1-4, maka diperoleh kesimpulan bahwa proses penulisan Injil Lukas merefleksikan fase-fase publikasi ilmiah, sehingga hal ini menjadi sebuah refleksi teologis bagi Sekolah-sekolah Teologi untuk melakukan kegiatan akademis membangun dan meningkatkan kegiatan publikasi ilmiah melalui jurnal online.
Menerapkan Prinsip Pelayanan Konseling Berdasarkan Injil Yohanes
Selvianti, Selvianti
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (698.1 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.48
Counseling is a form of ministry that plays an important role in everyone's life, because everyone is always faced with various problems and in general people often have difficulty dealing with and resolving their problems. Therefore, a competent counselor is needed to provide careful consideration so that it can determine the right decision. The qualification of a counselor greatly influences effective counseling services. The example of a competent counselor can be learned from Jesus Christ because Jesus' loyalty as a counselor causes everyone to always seek and seek advice from Him. The principle of counseling services carried out by Jesus based on the Gospel of John uses very interesting counseling approaches according to the context of the counselee where every problem faced by the counselee can be resolved properly. The main thing that is always made by Jesus in counseling services is solving the problem of sin and sharpening the correct recognition of God because it is the foundation for the counselee in achieving life change. Life change is the main goal in every effective counseling service that is in accordance with Bible principles. Abstrak: Konseling merupakan bentuk pelayanan yang memegang peranan penting dalam kehidupan setiap orang, sebab setiap orang selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah dan pada umumnya orang sering mengalami kesulitan menghadapi dan menyelesaikan masalalnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan seorang konselor yang kompeten untuk memberikan pertimbangan yang matang sehingga dapat menentukan keputusan yang benar. Kualifikasi seorang konselor sangat mempengaruhi pelayanan konseling yang efektif. Teladan seorang konselor yang kompeten dapat dipelajari dari diri Yesus Kristus sebab loyalitas Yesus sebagai konselor menyebabkan setiap orang selalu mencari dan meminta nasihat kepada-Nya. Prinsip pelayanan konseling yang dilakukan oleh Yesus berdasarkan Injil Yohanes menggunakan pendekatan-pendekatan konseling yang sangat menarik sesuai konteks si konseli dimana setiap masalah yang dihadapi konseli pasti dapat diselesaikan-Nya dengan baik. Hal utama yang selalu dibuat Yesus dalam pelayanan konseling adalah penyelesaian masalah dosa dan mempertajam pengenalan yang benar kepada Allah karena hal tersebut merupakan fondasi bagi konseli dalam mencapai perubahan hidup. Perubahan hidup adalah sasaran utama dalam setiap pelayanan konseling yang efektif yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.
Kompetensi Pedagogik Menurut Analisis Ulangan 6:7-9 dengan Pendekatan Hermeneutik Schleiermacher
Rantesalu, Syani Bombongan
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (559.429 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.14
A Primary educator is that parents have an obligation to educate their children to know God. God through Moses ordered the parents of the Israelites to love God with all their heart and not only be limited to that but then also taught their children about God. The method delivered by Moses, which must be done by parents is to teach repeatedly, talk at all times, tie it to the hands and forehead and write on the door and the gate. From these four methods it can be concluded that Moses commanded the Israelites to love God by the method of teaching repeatedly, talking at all times, binding to their hands and forehead and writing on the door of the house and gate, then every Israelite looked at God in sacredness and studied God in the context of life with, so that the teachings of God are one with the child and are realized in every life.Abstrak: Pendidik yang utama adalah para orang tua yang memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka untuk mengenal Allah. Allah melalui Musa memerintahkan agar para orang tua di Israel untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan tidak hanya terbatas pada hal tersebut, melainkan juga mengajarkan anak-anak mereka tentang Allah. Metode yang diajarkan oleh Musa agar para orang tua mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak secara berulang-ulang, membicarakannya dalam segala waktu, mengikatnya di tangan dan dahi mereka serta menuliskannya pada pintu rumah dan pintu gerbang. Dari empat metode ini dapat disimpulkan bahwa Musa memberikan perintah orang-orang Israel untuk mengasihi Allah dengan cara mengajarkannya secara berulang-ulang, membicarakannya di segala waktu, mengikatnya pada tangan dan dahi, serta menulikannya pada pintu dan gerbang, maka setiap anak-anak Israel akan memandang Allah dengan kekudusan dan belajar tentang Allah melalui kehidupan, sehingga pengajaran tentang Allah dinyatakan dalam setiap kehidupan.
Refleksi Teologis Kitab Yeremia tentang Pesan Sang Nabi Bagi Orang-orang Buangan
Sitorus, Herowati
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.472 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.58
The Book of Jeremiah is very difficult to understand because the events are not in chronological order. Jeremiah understanding by critical studies provides a more complete understanding even though it was written not in chronological order. This study is built on the understanding of the supervisor writing the book that would expose us, the author of the book, the time and place of writing, the outline of the contents of the book. Historical background, social and political book is also very necessary to study to provide a broader picture of the book of Jeremiah. Jeremiah did his job during the reforms of Josiah in 621 BC, (2) reign of Jehoiakim king in 609 BC, (3) the reign of King Jehoiachin in December 598 to March 597 BC, and (4) of Zedekiah in 597-587 BC.Abstrak: Kitab Yeremia merupakan kitab yang sangat sulit dipahami karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya tidak berlangsung secara teratur. Memahami Yeremia dengan kajian-kajian yang kritis memberikan sebuah pemahaman yang lebih lengkap sekalipun tidak ditulis secara urut. Kajian ini dibangun atas pemahaman tentang penulisan kitab yang akan menyingkapkan tentang penulis kitab, waktu dan tempat penulisan, garis besar kitab. Latar belakang sejarah, baik secara politik dan ekonomi juga sangat penting untuk dikaji untuk memberikan gambaran yang lebih luas tentang kitab Yeremia. Yeremia melakukan pekerjaannya selama reformasi Yosia pada tahun 621 SM; pemerintahan raja Yoyakhim pada tahun 609; pemerintahan raja Yehoakim pada Desember 598 hingga Maret 597 SM, serta pada masa raja Zedekia tahun 597-587 SM.
Membaca Teks dalam Pandangan Poskolonial: Catatan Kritis atas Bacaan Terhadap Teks Kitab Suci
Buntu, Ivan Sampe
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (657.74 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.46
Superior and inferior are two confronted words which are in postcolonial to build an awareness of "oppression". Oppression is not only in physical form, but more concerning is oppression in the mind. Postcolonial is a way of thinking to build an awareness of oppression. It did not merely show the residues of the Colonial mind, but at the same time gave a new postcolonial interpretation and tried to form a postcolonial identity. Postcolonial will always come into contact with two things namely text and context. Text and context are two things which always dialogue by interpreters. Thus talking about postcolonial means being unable to escape from context, text, and interpreters. This paper will describe how the text deals with the context and how the interpreter treats the text. Interpreters may be wrong in treating the text (according to their interests), thus making others become subalterns. This means that the process of interpreting is also political action.Abstrak: Superior dan inferior adalah dua kata yang saling bertentangan yang ada dalam postkolonial untuk membangun kesadaran akan "penindasan". Penindasan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi yang lebih memprihatinkan adalah penindasan terhadap pikiran. Postkolonial adalah cara berpikir untuk membangun kesadaran penindasan. Ini tidak hanya menunjukkan sisa-sisa pikiran kolonial, tetapi pada saat yang sama memberikan interpretasi postkolonial baru dan mencoba membentuk identitas postkolonial. Postkolonial akan selalu bersentuhan dengan dua hal yaitu teks dan konteks. Teks dan konteks adalah dua hal yang selalu di-dialog-kan oleh penerjemah. Jadi berbicara tentang postkolonial berarti tidak dapat melepaskan diri dari konteks, teks, dan penerjemah. Makalah ini akan menjelaskan bagaimana teks berhubungan dengan konteks dan bagaimana penerjemah memperlakukan teks. Penerjemah mungkin salah dalam memperlakukan teks (sesuai dengan minat mereka), sehingga membuat yang lain menjadi hamba. Ini berarti bahwa proses penafsiran juga merupakan tindakan politik.
Teologi Tentang Berpacaran Menurut Amsal 30:18-19
Saragih, Eliyansen
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (870.024 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.40
Dating is an irresistible phenomenon in today's youth life. Actually, dating is a way that brings youth in two directions, towards a good or bad life. Therefore all parties in the community must be wise to anticipate. Proverbs 30: 18-19 can be a theological basis for the phenomenon of dating. Interestingly, numerical poetry in this text can give direction about relationships between young men and women. In this text, we can see that poems direct all audiences through observing the movements of objects in nature, can observe the essence of the formation of relations between men and women. Practically, this text can be applied to equip young people in anticipating the phenomenon of dating. Every young couple who is committed to dating must be equipped with this theological basis, so that their lives can be constantly built physically, mentally and spiritually. To apply the text of the Proverbs 30: 18-19 is an attempt to answer it.Abstrak: Bepacaran adalah fenomena yang tak tertahankan dalam kehidupan remaja saat ini. Berpacaran adalah cara yang membawa kehidupan remaja ke dua arah, menuju kehidupan yang baik atau buruk. Semua pihak dalam masyarakat harus bijak mengantisipasinya. Amsal 30:18-19 dapat menjadi dasar teologis untuk fenomena berpacaran. Menariknya, sejumlah puisi dalam teks ini memberikan arahan tentang hubungan antara pria dan wanita. Dalam teks ini dapat dilihat bahwa penyair mengarahkan pembaca dengan mengamati pergerakan benda-benda di alam yang dapat menjadi dasar dari pembentukan hubungan antara pria dan wanita. Secara praktis, teks ini dapat diterapkan untuk memperlengkapi kaum muda dalam mengantisipasi fenomena berpacaran. Setiap pasangan remaja yang berkomitmen untuk berpacaran harus dilengkapi dengan dasar teologis ini, sehingga kehidupan mereka dapat terus dibangun secara fisik, mental dan spiritual. Menerapkan teks Amsal 30:18-19 merupakan upaya untuk menjawabnya.
Korupsi sebagai Musuh Bersama: Merekonstruksi Spiritualitas Anti Korupsi dalam Konteks Indonesia
Simangunsong, Bestian
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (678.087 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v1i2.52
Abstract: Indonesian goverment established corruption as an extra ordinary crime. Government produced some policies as a manifestasion to prove that they are serious to overcome the practices of corruption and all of the impact in society. Not only government, church as an institution of religion which rich of moral and ethics views can play their role even to show their responsibilities to construct some formulas to solve some problems related to corruption that occur in the life of nation, society and church. Actually, the synergy between all alements of nation is needed, including the church as an agent of change to raise awareness to understand about corruption and the latent danger of it’s impact. Corruption is the common enemy. It’s also a social concern in Indonesia. So, church as a symbol of a salt and light of the world, has a calling to play the role reconstructing anti-corruption spirituality based on theological dialog and tradition about distributing parjambaran in the context of Batak society.Abstrak: Pemerintah Indonesia menetapkan korupsi sebagai extra ordinary crime. Kebijakan ini sebagai salah satu wujud keseriusan pemerintah mengatasi praktek korupsi dan segala dampak yang ditimbulkannya di tengah masyarakat. Tidak hanya pemerintah, gereja sebagai lembaga agama yang kaya akan ajaran-ajaran moral juga bertanggungjawab untuk menemukan sebuah formula yang dapat mendorong percepatan penyelesaian persoalan-persoalan terkait korupsi yang terjadi di tengah kehidupan bangsa, masyarakat, dan gereja. Dibutuhkan sinergi antara seluruh elemen bangsa, termasuk gereja sebagai agen perubahan untuk menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat akan pentingnya memahami korupsi dan bahaya laten yang ditimbulkannya. Korupsi merupakan musuh bersama dan keprihatinan sosial di tengah Indonesia. Upaya merekonstruksi spiritualitas anti korupsi yang didasarkan pada penekanan integritas dengan mendialogkannya dengan kearifan lokal pembagian parjambaran pada masyarakat Batak merupakan sumbang pikir teologis terhadap perlawanan korupsi.