cover
Contact Name
pramesti
Contact Email
fadesti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fadesti@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Gelar : Jurnal Seni Budaya
ISSN : 14109700     EISSN : 26559153     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Gelar focuses on theoretical and empirical research in the Arts and Culture.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2015)" : 10 Documents clear
PERKEMBANGAN FUNGSI SENI PERTUNJUKAN YAKSO JATI DI DESA SUKABUMI KECAMATAN CEPOGO KABUPATEN BOYOLALI Hantin Kojatsiwi
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.331 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1645

Abstract

Artikel ini adalah hasil penelitian yang dilakukan atas fenomena perkembangan fungsi pada seni pertunjukanYakso Jati di Desa Sukabumi Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. Penjelasan mengenai faktor-faktoryang mempengaruhi terjadinya perkembangan fungsi maupun dampaknya merupakan capaian yang diharapkanuntuk dipaparkan dalam artikel ini. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan menggunakan metode deskriptifanalisis yang ditunjang dengan teori dan konsep mengenai perkembangan fungsi.Analisis mengenai terjadinyaperkembangan fungsi pada Yakso Jati berusaha untuk menguak sebuah produk budaya yang secara fleksibelmenyesuaikan diri untuk menjaga eksistensinya agar selalu tetap terjaga dan bertahan dalam era globalisasisekarang ini. Terjadinya perkembangan fungsi tersebut akan berdampak pada perubahan bentuk serta masyarakatpendukungnya. Perubahan bentuk secara tidak langsung akan mengubah Yakso Jati untuk menampilkanperforma maksimal, untuk memunculkan kesan positif dari orang lain dengan tujuan meningkatkan minatmasyarakat serta nilai jual seni pertunjukan tersebut. Selain itu dampak perkembangan fungsi juga mengarahkepada nilai sebuah seni pertunjukan yang hambar, tidak ada rasa seni serta kesakralan yang merupakancerminan bagi masyarakat pendukungnya.Kata kunci: seni pertunjukan, Yakso Jati, perkembangan fungsi.
KEBERADAAN RAGAM HIAS RELIEF CANDI BUMIAYU III KABUPATEN MUARA ENIM PROVINSI SUMATERA SELATAN M., Mainur
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1858.042 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1637

Abstract

Penelitian ini berisi tentang sejarah Keberadaan Candi Bumiayu III Kabupaten Muara Enim Provinsi SumateraSelatan. Penulisan ini bertujuan untuk mengembangkan dan memberikan wawasan serta informasi tentangkeberadaan Candi Bumiayu III. Dalam kajian budaya Nusantara, Keberadaan Candi Bumiayu III KabupatenMuara Enim tergolong langka di daerah Sumatera Selatan. Oleh karenanya Keberadaan Ragam Hias padaRelief Candi Bumiayu III Kabupaten Muara Enim di sini diurai secara ringkas dan dipaparkan secara interaktifkualitatif dengan pendekatan estetika Nusantara. Dari hasil analisis keberadaan ragam hias relief Candi BumiayuIII yaitu antara lain; pemaparan mengenai Latar Belakang Candi Bumiayu III, asal mula sejarah Candi BumiayuIII, dilanjutkan pemaparan tentang struktur banguanan candi, jenis motif ragam hias relief candi, di samping itudiuraikan juga mengenai motif dan pola ragam hias candi pada Candi Bumiayu III Kabupaten Muara EnimProvinsi Sumatera Selatan.Kata kunci: Candi Bumiayu, ragam hias, relief.
BUDI PEKERTI DALAM CERITA BINATANG MAHISHA JATAKA Titin Masturoh; Ana Rosmiati; Trisno Santosa
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.895 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1647

Abstract

Manusia merupakan makhluk yang diberi akhlak akal dan budi pekerti yang baik dibandingkan makhluk ciptaanTuhan yang lain. Tingkah laku dan perbuatan manusia sudah sewajarnya berada pada norma yang di aturdalam suatu tatanan. Penelitian ini menerapkan metode deskriftif kualitatif dan kaji tindak. Cara yang dilakukan:(1) studi pustaka mengenai cerita relief candi; (2) observasi dan dokumentasi cerita relief candi di Borobudurdan pusat-pusat Purbakala; (3) wawancara dengan para arkeolog dan budayawan; (4) analisis deskriptif kualitatifmengenai dongeng cerita relief candi. Budi pekerti dalam cerita binatang Mahisha Jataka mencakup dimensinilai-nilai keagaamaan (spiritual value) maupun nilai-nilai kemanusian.Kata kunci: budi pekerti, cerita binatang, Mahisha Jataka.
BENTUK DAN GAYASANDIWARA AMAL DI DESA PULAU BELIMBING KABUPATEN KAMPAR H., Hasan
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.9 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1627

Abstract

Sandiwara Amal merupakan seni pertunjukan yang lahir dari kreatifitas masyarakat. Diperkirakan tumbuhsekitar tahun 1950-an hingga hari ini. Pertumbuhannya diproduksi dalam kerangka tradisi Masyarakat Ocu/Kampar. Ada pun bentuk produksi tersebut berpijak dari main-main siang atau main alek-alek (permainananak-anak pada masyarakat Kampar dalam bentuk bercerita). Ditransformasi menjadi bentuk pertunjukanSandiwara Amal oleh masyarakat Ocu. Sandiwara Amal merupakan kreasi baru masyarakat Desa PulauBelimbing dalam bentuk teater rakyat. Sandiwara Amal biasa dilaksanakan pada Pasca Bulan Suci Romadhan,bertepatan pada hari raya Idul Fitri. Penelitian ini berusaha menggali dan menganalisis bentuk dan gayaSandiwara Amal di Desa Pulau Belimbing Kabupaten Kampar. Dramaturgi digunakan sebagai pijakan gunamengupas bentuk dan gaya Sandiwara Amal. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka terdapat rumusanmasalah, yaitu: Permasalahan yang diajukan, hingga terbentuknya jurnal ini yaitu meliputi bagaimana bentukdan perkembangan gaya Sandiwara Amal. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatanemik berdasarkan analisis deskriptif interpretatif pada Sandiwara Amal berdasarkan proses observasi danwawancara yang peneliti lakukan di lapangan. Metode deskriftif analisis dengan pendekatan teori struktur.Metode pengumpulan data dengan, observasi, studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi.Kata kunci: sandiwara amal, gaya, bentuk, kualitatif, masyarakat desa.
PERMAINAN TRADISIONAL MENJAGA WARISAN DI PENGHUJUNG SENJA Benyamin Satria Agni
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2844.544 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1639

Abstract

Salah satu dari sekian banyak budaya di Nusantara yang dikenal dan diwariskan secara turun temurun adalahpermainan tradisional. Dahulu, pada kurun waktu tertentu, permainan tradisional cukup populer dan seringdimainkan oleh anak-anak. Namun saat ini, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, permainantradisional sudah jarang dimainkan lagi oleh anak-anak. Hal ini patut disayangkan, karena sebenarnya permainantradisional memiliki nilai-nilai pendidikan yang baik dan juga manfaat yang dapat diserap oleh anak-anakketika memainkannya. Film dokumenter yang dibuat dengan pendekatan ekspositori ini, pada akhirnyamemberikan solusi bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga agar permainan tradisional tetapdikenal oleh anak-anak di jaman sekarang. Melalui kegiatan di sekolah, guru masih relevan untukmengupayakan dan merealisasikannya.Kata kunci: permainan tradisional, dokumenter, nilai-nilai, film, budaya.
STRUKTUR PERTUNJUKAN TEATER DULMULUK DALAM LAKON ABDULMULUK JAUHARI DI PALEMBANG Nugroho Notosutanto Arhon Dhony
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.331 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1631

Abstract

Penelitian Teater Dulmuluk adalah penelitian kualitatif menggunakan metode deskriptif analisis denganpendekatan teori struktur. Metode pengumpulan data dengan, observasi, studi pustaka, wawancara, dandokumentasi. Pada awalnya Teater Dulmuluk tidak memiliki naskah yang tertulis, pertunjukannya dilakukandengan cara spontanitas atau diperankan dengan berimprovisasi dari para pemain, belum ada naskah yanglengkap, hanya garis besarnya saja yang disampaikan secara lisan kepada para pemain dan disesuaikandengan cerita yang akan disampaikan. Tulisan ini berusaha menggali dan menganalisis struktur pertunjukannyabagi kehidupan masyarakat Palembang. Terkait permasalahan maka Teater Dulmuluk yang akan dibahasdalam rumusan masalah, adalah: Bagaimana struktur pertunjukan Teater Dulmuluk dalam kehidupan masyarakatPalembang. Hasil penelitian menunjukkan bentuk penampilan yang semula hanya diperankan oleh laki-lakikini dapat diperankan oleh perempuan dan waktu pementasan bisa dipersingkat dengan memadatkan danmengambil fragmen ceritanya saja disesuaikan dengan kebutuhan pentas. Adapun struktur pertunjukannyaadalah kisoh, bermas pembuka, adegan demi adegan, dan bermas penutup.Kata kunci: struktur, teater Dulmuluk, Lakon Abdulmuluk Jauhari.
INTERNALISASI NILAI-NILAI JEMPARING DALAM PERTUNJUKAN TARI Havid Ponx Jakaria Kustoto
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.998 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1641

Abstract

Jemparing adalah istilah Jawa yang digunakan untuk menyebut panah. Olah kridha panahan adalah hal yangwajib dikuasai seorang ksatria, prajurit, bangsawan, sampai menurun kepada kalangan masyarakat Jawa.Fenomena yang ditemukan adalah bahwa, aktivitas penulis beserta seluruh keluarga bahkan kakek dari orangtua penulis merupakan keluarga yang gemar mendalami olah raga panahan. Berpijak pada realitas ini penulisselanjutnya menjadikan panahan atau Jemparing sebagai sumber gagasan kreatif dalam proses penciptaankarya seni tari. Aspek-aspek yang hendak digali dan diungkap adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamJemparing. Mengingat bagian-bagian yang terdapat di dalam Jemparing mencerminkan karakter individu yangmenggunakannya, seperti embat dalam, embat tengah dan embat luar, maka pada aspek ini hendak digalikemungkinan-kemungkinan artistik tarinya. Persoalannya adalah bagaimana menciptakan sajian pertunjukantari dengan menjadikan Jemparing sebagai sumber penciptaan tari. Metode yang digunakan adalah participantobserver dengan mengetahui, mengenali berbagai macam karakter Jemparing beserta fenomena simbolisyang ada di dalamnya. Disimpulkan bahwa Jemparing secara empiris dapat digunakan sebagai sarana eksplorasiide kompisitoris gerak tari. Tulisan ini bertujuan bukan hanya satu arah yakni memaparkan pengalamanberkesenian, namun turut pula mengenalkan kepada publik atau masyarakat umum bahwa olah raga panahanmemiliki nilai-nilai filosofis terdalam yang terkandung dalam Jemparing.Kata kunci: Jemparing, tari, penciptaan.
MAKNA SIMBOLIK ORNAMEN MASJID AL-ISLAM MUHAMMAD CHENG HO PALEMBANG Sri Hastuti Heldani
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.997 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1633

Abstract

Ornamen Masjid Al-islam Muhammad Cheng Ho Palembang merupakan budaya tradisi, dengan tiga kulturyang berbeda, Islam, Melayu Palembang dan Thionghoa, dengan metode penelitian menggunakan data kualitatif.Sumber data penelitian diperoleh dari sumber tertulis, karya, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Datadikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumen (arsip). Proses analisis datamenggunakan interaksi analisis data, hasil penelitian dapat di simpulkan keberadaan Masjid Cheng Ho yangada di Palembang merupakan masjid yang kelima dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI)yang berada di palembang. Keberadaan masjid ini merupakan satu identis muslim Tionghoa yang ada diPalembang khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya, minoritas muslim Tionghoa di Indonesia, adadan terus berkembang. Perjuangan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Provinsi Sumatera Selatanadalah mempersatukan Muslim Tionghoa secara utuh dan mempersatukan Muslim Tionghoa dengan kaummuslimin di Republik Indonesia dan dunia internasional secara global. Budaya ornamentasi yang terdapatpada masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Palembang terlahir atas dorongan kebutuhan estetik yang berakardari kebudayaan masyarakat muslim Tionghoa, bersama dengan pengetahuan budaya Islam dan tradisimasyarakat Melayu Palembang. Al-Quran dan Al-Hadist, merupakan ajaran Islam sebagai tuntunan untukmembangun sebuah masjid, bentuk yang menyerupai hewan, manusia tidak diperkenankan dalam bangunanmasjid tetapi ada tiga unsur ornamen yang ada pada masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Palembang, yaitukebudayaan Islam, Thionghoa dan Palembang, bangunan masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho palembang,menjadikan budaya modern yang tidak menghilangkan tardisi, yang diterapkan dalam simbol-simbol ornamenmasjid yang penuh makna dan filosofi dalam tuntunan ajaran agama Islam.Kata kunci: ornamen Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Palembang.
PERUBAHAN BENTUK SAJIAN MIDANG PADA MASYARAKAT MORGESIWE KECAMATAN KAYUAGUNG KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR H., Heryanto
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1120.878 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1643

Abstract

Penelitian yang berjudul “Transformasi Sajian Midang Pada Masyarakat Morgesiwe Kecamatan KayuagungKabupaten Ogan Komering Ilir” ini, dimaksudkan sebagai bentuk pelestarian dan sumber informasi tentangseni budaya khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Beberapa pendekatan sosiologi digunakan untukmembedah dan mengarahkan mengungkap fakta-fakta dan fenomena yang terdapat pada kesenian Midang.Berdasarkan fenomena yang ada, penelitian ini bertujuan untuk mengetahuibagaimana perubahan bentuk dariMidang Mabang Handak menjadi Midang Bebuke. Untuk mengungkap masalah tersebut menggunakanmetodekualitatif dan teori transformasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka/visual, observasidan wawancara. Selanjutnya dilakukan analisis data dengan mengkomparasi dan menyimpulkan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa perubahan bentuk Midang ini disebabkan oleh hilang Perkawinan Mabang Handak padaera 60an dan selanjutnya pada awal 70 an terjadi kesepakatan antara seniman, adat dan pemerintah sertamuda-mudi yang mewakili setiap tiyuh (kampung) nya untuk membangun kembali Midang dari ranah adatperkawinan ke ranah hiburan. Perubahan bentuk Midang Mabang Handak menjadi Midang Bebuke dapatditunjukkan dari ketiga bagiannya. Pertama, sepasang pengantin diganti menjadi sepasang muda-mudi inti.Kedua peserta Midang yang berasal dari kerabat sepasang pengantin diganti menjadi peserta Midang darikelurahan setempat, dan diperkuat oleh perbedaan busana pesertanya. Ketiga, perubahan dapat dilihat darirepertoar lagu-lagu musik tanjidornya.Kata kunci: perubahan bentuk (tranformasi), Midang Mabang Handak, Midang Bebuke.
RNAMEN MENDALE KENCANE MANDULIKE PADA GHUMAH BAGHI BESEMAH: SEBUAH KAJIAN ESTETIKA Robert Budi Laksana
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.41 KB) | DOI: 10.33153/glr.v13i2.1635

Abstract

Ornamen mendale kencane mandulike pada ghumah baghi Besemah di Dusun Pelang Kenidai merupakanartefak budaya yang masih dapat dinikmati sampai saat ini. Ghumah baghi dan ornamen mendale kencanemandulike dengan bentuk yang khas, menjadi sebuah penanda eksistensi budaya Besemah. Permasalahanpenelitian ini terletak pada bentuk dan pemaknaan ornamen mendale kencane mandulike pada ghumah baghiBesemah di Dusun Pelang Kenidai. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Prosesanalisis data menggunakan interaksi analisis data melalui beberapa tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi,sajian data, serta kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh simpulan keberadaan ghumah baghiBesemah di Dusun Pelang Kenidai merupakan suatu bagian dari konsep kosmologi pemukiman masyarakatBesemah. Tokoh puyang Serunting Sakti sebagai tokoh pendiri pemukiman di Dusun Pelang Kenidai telahmemberikan tata aturan/petatah-petitih yang mengatur aktivitas sosial dan kekerabatan pada masyarakat.Keberadaan ornamen mendale kencane mandulike pada ghumah baghi merupakan bentuk penggambarandari pola perilaku masyarakat Besemah yang hidup selaras dengan alam dan sesama manusia, yangdianalogikan seperti tumbuh-tumbuhan. Bentuk dan pemaknaan ornamen mendale kencane mandulikemenggambarkan sebuah ajaran “Mandala Konsep” yang berisi tentang hubungan mikrokosmos danmakrokosmos yang mana keduanya merupakan kesatuan yang utuh. Keberadaan bentuk mandala merupakanpenyeimbang, pada dasarnya manusia untuk hidup di dunia ini membutuhkan keseimbangan sehingga hidupnyamenjadi harmoni, baik seimbang dengan yang di atas maupun seimbang dengan yang ada di bawah.Kata kunci: ornamen mendale kencane mandulike, ghumah baghi Besemah.

Page 1 of 1 | Total Record : 10