cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
sutarno.haryono151@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Greget
ISSN : 1412551X     EISSN : 2716067X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Greget focuses on theoretical and empirical research in the Dance Arts. The journal welcomes the submission of manuscripts with the theoretical or empirical aspects from the following broadly categories.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2016)" : 9 Documents clear
DARI KARYA SASTRA “MENAK CINA” MENJADI SEBUAH KARYA TARI Rambat Yulianingsih
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1185.064 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2379

Abstract

AbstrakSeni sastra jawa yang kaya sangat sayang bila hanya tetap menjadi sebuah manuskrip atau catatan tertulis yang tersimpan dalam musium. Keadaan yang demikian tentu tidak semua orang bisa membacanya ataupun mendapatkan akses untuk bisa memanfaatkannya. Dari keadaan tersebut muncul keinginan untuk mencoba membawa kembali khazanah sastra jawa kedalam suatu bentuk karya seni lain dengan harapan agar sastra jawa lebih dikenal dan bisa diapresiasi. Seperti juga Serat Menak yang berasal dari kitab Qissay Emr Hamza, sebuah kesusastraan persia pada pemerintahan Harun Al Rasyid (766-809). Di melayu kisah ini dikenal dengan nama Hikayat Amir Hamza. Salah satu bagian dari Serat Menak adalah Menak Cina. Kisah ini cukup dikenal dalam budaya Jawa Tengah, khususnya Surakarta. Roman tersebut menjadi dikenal oleh jasa R. Ng. Yasadipura I dalam mengubah karya tersebut kedalam bahasa jawa dipadu dengan cerita panji, yang disusun dalam bentuk sekar macapat.Kata kunci: serat menak, literature seni, dan khasanah sastra Jawa. AbstractThe Art literature rich java very fondly if only the remains an manuscripts or a written record stored in museums. The state of being will certainly not everyone can read it or access can use it unit of this condition.Appearing desire to re reading literary into its java a form of artwork another by  hope that literature  java more  famous and can  be appreciated as also a letter menak derived from the Qissay Emr Hamza, an outgrowth literature versi in the government Harun Al Rasyid (786 – 809) In malays this story was known as the Hikayat Amir Hanza, one part of fibers menak  is  menak  china.  This  story  is  known  in  central  java  culture,  especially  Surakarta.  The romance became  famous by  service R.  Ng. Yasadipura  in turn  to the  language of  java .In  inte- grated centera ensign arranged in the form of is now re macapat.Keywords: fiber menak, art literature, and khazanah literature java.
MAKNA SIMBOLIK TOR-TOR SOMBAH DALAM UPACARA ADAT KEMATIAN SAYUR MATUA PADA MASYARAKAT SUKU BATAK SIMALUNGUN Febrina Athylata Purba
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1195.68 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2427

Abstract

Penelitian yang berjudul “Makna Simbolik Tor-Tor Sombah Dalam Upacara Adat Kematian Sayur Matua Pada Masyarakat Suku Batak Simalungun” merupakan salah satu bentuk pelestarian dan sumber informasi mengenai seni tari tradisional suku Batak Simalungun. Penelitian ini bertujuan mengetahui latar belakang masyarakat suku Batak Simalungun sebagai pemilik dari kesenian tor-tor sombah, serta mendeskripsikan bentuk dari tor-tor sombah yang dilihat dari elemen-elemen koreografi dengan dibantu oleh notasi laban dan dianalisis dengan memakai teori dari Laban yaitu effort dan shape. Selain itu juga dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolis tor-tor sombah yang dilihat dari dua bagian yaitu aspek dalam dan aspek luar dengan konsep dari Allegra Fuller Synder.Untuk mengungkapkan permasalahan tersebut digunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Teknik pengumpulan data lapangan menggunakan model dari Kurath dengan metode etnografi tari. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedudukan tor-tor sombah pada masyarakat suku Batak Simalungun menempatkan seni sebagai bagian dari agama dan bagian dari aktivitas sosial masyarakat setempat dalam upacara adat kematian sayur matua. Dilihat dari bentuk koreografinya tor-tor sombah merupakan bagian dari tari upacara adat hal ini terlihat dari elemen-elemen yang terdapat di dalam koreografi yang semuanya mengarah kepada aturanaturan adat istiadat dari suku Batak Simalungun. Makna simbolis tor-tor sombah dalam upacara adat kematian sayur matua merupakan salah satu bagian dari kepercayaan masyarakat suku Batak Simalungun kepada ajaran agama dan upacara adat dilihat dari koreografi, tata busana, dan properti yang dipakai. Seni tari tradisi tor-tor sombah dalam upacara adat kematian sayur matua yang hadir pada masyarakat suku Batak Simalungun mempunyai hubungan erat kaitannya dengan seni dalam upacara adat istiadat dan seni sebagai hiburan. Kata Kunci: Tor-tor Sombah, Upacara Adat Kematian Sayur Matua Batak Simalungun, Koreografi, Makna Simbolik. Abstract This research which is titled “The Symbolic Meaning Of Sombah Dance in Sayur Matua The Death Ceremony Of Simalungun Batak Ethnic Society”, is one of the sort of preservation 168 Volume 15 No. 2 Desember 2016 and source information regards tradisional dance art from Simalungun Batak Ethnic. The research aims to  understand the background of community of Simalungun Batak Ethnic as an owner of sombah dance, as well as to describe the form of sombah dance viewed from the elements of choreography which is suported by Labannotation and analyzed by Laban theory of ‘effort’ and ‘shape’. Beside that, the research aims to analyze the symbolic meaning of sombah dance viewed from two parts, namely inner and outer aspects based on the consept from Allegra Fuller Synder.It uses the qualitative method and ethnochoreological approach for uncovering those matters. The field data collected by using Kurath’s model and ethnography of dance method. The research shows that the position of sombah dance in Simalungun Batak ethnic society is used art as a part of media religion and as social activity for inhabitants in sayur matua the death ceremony. From its choreographical form, sombah dance represents of tradition ceremony dance reflected by the elements which are found in the choreography in which all of them reflect culture from Simalungun Batak ethnic. The symbolic meaning of sombah dance in sayur matua the death ceremony is one of the public faith and tradition ceremony viewed the used from choreography, clothing, and property. The traditional art sombah dance is lived in sayur matua the death ceremony of Simalungun Batak ethnic society which has a significant relation with the art as tradition ceremony and art as an entertainment. Keywords: Tor-tor Sombah, Upacara Adat Kematian Sayur Matua Batak Simalungun, Koreografi, Makna Simbolik.
SIMBOLISME TARI MAHESA JENAR RARA WILIS DALAM UPACARA PERKAWINAN ADAT JAWA SURAKARTA Dwi Yasmono
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.73 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2423

Abstract

AbstrakPada umumnya orang-orang atau penduduk di daerah Surakarta yang mempunyai hajat dalam penyelenggaraan perkawinan biasanya menggunakan seni pertunjukkan sebagai pelengkap upacara. Tari berbentuk pasihan (sepasang lelaki dan perempuan yang menggambarkan percintaan) merupakan salah satu seni pertunjukkan yang ada pada acara tersebut. tari pasihan banyak macamnya, di antaranya Tari Enggar-Enggar, Tari Driasmara,Tari Karonsih, Tari Lambangsih, Tari Langen Asmara, Tari Yudasmara, serta Tari Mahesa Jenar Rara Wilis. Tari pasihan Mahesa Jenar Rara Wilis yang sarat akan petuah/nasihat tergambar dalam sebuah koreografi yang sangat apik dengan penataan sedemikian rupa oleh seorang empu tari Keraton Kasunanan Surakarta. S. Maridi berharap dalam menyusuntarian tersebut kesan yang dimunculkan dapat terserap sebagai nasihat dan sekaligus sebagai tuntunan di samping sebagai hiburan. Pesan yang diungkapkan dalam tari pasihan Mahesa Jenar Rara Wilis dapat ditangkap oleh semua orang dengan kadar kedalaman arti yangberbeda-beda tergantung tebal wawasan dan kecerdasan estetika penikmat seni. Kata Kunci: Upacara Perkawinan, Tari Mahesa Jenar Rara Wilis, Simbol AbstractIn general, the people in the Surakarta region who have intent in organizing marriages typically use performing arts as a complement to the ceremony. Pasihan shaped dance (a pair of man and woman who portray romance) is one of the performing arts performed at the event. There are many kinds of pasihan dance, including Enggar-Enggar Dance, Driasmara Dance, Karonsih Dance, Lambangsih Dance, Asmara Langen Dance, Yudasmara Dance, and Mahesa Jenar Rara Wilis Dance. Mahesa Jenar Rara Wilis pasihan dance that is full of advices and counselsis depicted in a very slick choreography with the arrangement as such by a dance master from Keraton Kasunanan Surakarta. S. Maridi hopes in compiling that dance, the impression given can be absorbed as an advice as well as a guidance,beside as an entertainment. Messages expressed inMahesa Jenar Rara Wilis pasihan dance can be captured by all people at different depth level of meaning, depending on the thicknessof intellegence and aesthetic insight of connoisseurs of art.Keywords: Marriage Ceremony, Mahesa Jenar Rara Wilis Dance, Symbol.
FUNGSI WAYANG ORANG KRIDO WANDOWO DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA JIWAN, KARANGNONGKO, KLATEN Kristian Wulan Sari
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.338 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2428

Abstract

Penelitian pertunjukan wayang orang “Krido Wandowo” di Desa Jiwan, Kecamatan Karang Nongko, Kabupaten Klaten adalah untuk mengetahui fungsi dalam  kehidupan masyarakatnya. Untuk mengetahui secara analitis fungsi wayang orang “Krido Wandowo” bagi masyarakat di Desa Jiwan, peneliti menggunakan konsep dari H’Doubler, terjemahan Agus Tasman. Keberadaan wayang orang “Krido Wandowo” ini berfungsi sebagai: hiburan, aksi sosial, sarana pelestarian kesenian, sarana menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui cerita juga merupakan kebanggaan masyarakat desa Jiwan, menjadi ciri khas iconik dan menjadi sumber kekayaan keragaman seni budaya bagi masyarakat Klaten. Kata Kunci: wayang orang Krido Wandowo, fungsi, dan masyarakat Jiwan. Abstract The research study on the performance of wayang orang “KridoWandowo” in the village of Jiwan in the KarangNongko sub-district of Klaten investigates its function in the life of the community. In order to analyze the function of wayang orang “KridoWandowo” in the Jiwan village community, the writer uses the concept of H’Doubler,translated byAgus Tasman.The existence of wayang orang  “KridoWandowo” functions as: entertainment, a form of social action, a medium for art conservation, and a medium for conveying life values through its stories. It is also a source of pride for the people of Jiwan village, as well as an iconic trade-mark of the community which provides a source of wealth and diversity in the art and culture of the Klaten community. Keywords: wayang orang KridoWandowo, function, and Jiwan community.
DRAMA TARI ARJUNA WIWAHA KARYA S. MARIDI MAESTRO TARI TRADISI KARATON GAYA SURAKARTA SEBUAH KAJIAN ESTETIK Sumargono Sumargono
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.544 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2424

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengungkap dan mengidentifikasi estetika atau keindahan “Drama Tari Arjuna Wiwaha” dengan titik perhatian pada analisis unsur-unsur tari dan bentuk hubungan sebagai pembentuk keindahan tari.Oleh karena itu dipaparkan diskripsi drama tari Arjuna Wiwaha secara rinci pada notasi balungan musik tarinya sehingga tempo, laya, pemangkuirama maupun rasa gendhing dan pola kendhangan yang berhubungan dengan rasa gerak tari dapat diidentifikasi sehingga kesan harmoni /selaras muncul dalam koreografi drama tari Arjuna Wiwaha tersebut. Analisi estetik ini juga didasarkan pada konsep estetik kepenariantari tradisi Jawa gaya Surakarta, baik teknik maupun rasa sebagai koridornya. Konsep tersebut meliputi pacak, pancat, lalut, luwes, ulat, wiled, irama, dan gendhing yang kemudiandikenal dengan konsep Hastha Sawanda. Hasil penelitian ini setidaknya dapat memberikan kontribusi untuk analisis estetis tari gaya Surakarta khususnya, yang juga tidak menutup kemungkinan untuk gaya tari yang lain.Kata Kunci: Arjuna Wiwaha, gendhing, dan Estetik.AbstractThis writting will disclose and identify the aesthetics of Arjuna Wiwaha dance by aplying a special attention to the analysis of dance’s elements and the relations of one element to the others. The notation patterns of the music of the dance were described in detail so that it wasposible to identify the tempo,laya,rhythm,musical taste and the pattern of kendangan mungkus.The result is that we know the choreography of Arjuna Wiwaha dance has a harmonious impression.This aesthetic analysis was based on the aesthetic concept of Javanese traditional dancing ofSurakarta style,both the technique and its taste. The concept covers pacak,pancat, lulut, luwes,ulat, wiled, rhythmand gendhing which are known as hastha sawanda. This writing at least canmake a contribution to the aesthetic analysis on dance of Surakarta style and possibly other styles.Keywords: Arjuna Wiwaha, gendhing, and aesthetic.
TARI SABDO PALON NOYO GENGGONG KARYA TRUBUS DI SANGGAR AMONG ROSO Dewi Astuti
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.321 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2429

Abstract

Abstrak Penelitian ini untuk mengungkap Tari Sabdo Palon Noyo Genggong karya Trubus di Sanggar among Roso. Karya tari ini merupakan karya baru yang tumbuh dan berkembang di wilayah Ngargoyoso, tepatnya berada di Dusun Puton Desa Girimulyo. Penggarapan karya tari ini mengikuti alur cerita dari buku Ramalan Jayabaya Versi Sabdo Palon sebagai acuannya. Cerita dalam buku tersebut diambil intinya untuk dijadikan sajian pertunjukan yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu: bagian awal gundah, bagian tengah beradu kekuatan, dan bagian akhir sebagai perjalanan moksa. Karya tari Sabdo Palon Noyo Genggong merupakan salah satu karya yang hingga sekarang sangat diminati masyarakat. Kata kunci: tari Sabdo Palon Noyo Genggong, Trubus, dan sanggar Among Roso Abstract The goal of this research is to investigate the Sabdo Palon Noyo Genggong Dance created by Trubus in the dance studioAmong Roso. This dance is a new work which has grown and developed in the Putonhamlet of Girimulyo village. The dance usesas a reference the story from the Sabdo Palon version of Jayabaya’s Predications. The main storyline is presented in the form of a dance performance which consists of three sections: the first section which has a mournful character; the middle section which is a contest of power; and the final section which is a moksha journey. To this day, the Sabdo Palon Noyo Genggong Dance remains a popular dance in the community. Keywords: Sabdo Palon Noyo Genggong Dance, Trubus, and Among Roso Dance Studio.
TOPENG BABAKAN CIREBON 1900-1990 Toto Sudarto
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1031.049 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2425

Abstract

Abstrak Topeng Babakan Cirebon dalam perjalanannya telah menjadi suatu tonggak yang ikut mewarnai perjalanan sejarah tari di Jawa Barat. Penelitian ini mengungkap perubahan dan perkembangan Topeng Babakan dari tahun 1900 sampai 1990. Kajian terhadap permasalahan tesis ini menggunakan metodologi sejarah, dengan bantuan ilmu sosial dan kebudayaan. Topeng Babakan merupakan seni pertunjukan rakyat yang dalam penyajiannya masih berkaitan dengan upacara-upacara tradisi, seperti ngunjung, mapagsri, ngarot dan lain-lain. Penyebarannya di Jawa Barat bermula dari pertunjukan yang dilakukan secara berkeliling atau bebarang (ngamen) pada awal abad ke-20. Hal ini menarik perhatian kaum menak (bangsawan) untuk mempelajari ketrampilan para dalang topeng Cirebon. Perkembangan berikutnya tarian ini banyak mempengaruhi bentuk tari-tarian yang ada di wilayah Priangan dan Jawa Barat secara umum. Pasang surut kegiatan pementasan Topeng Babakan banyak dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat yang mudah berubah seiring dengan perkembangan zaman serta teknologi informasi. Kata kunci: Topeng Babakan, bebarang, perubahan dan perkembangan. Abstract Throughuot the course of its journey, topeng babakan Cirebon has became a milestone, which has coloured the course of the history of dancein West Java. This research discovers the changes and developments in topeng babakan from 1900 to 1990. The study of the subject of this tesis used a historical approach, with the aid of social and cultural studies. Topeng Babakan is a performing folk art, the performance of which is still related to traditional ceremony such as ngunjung, mapag sri, ngarot, and so on. It spread through West Java, begining as a traveling show or bebarang (troupe of performing beggars) at the start of the 20th century.This drew the attention of the aristocrats or menak, to learn the of Cirebon masked theater. In it subsequent development, this dance greatly influenced other dance forms in the Priangan region and in West Java in general. The rise and fall of topeng babakan performance activities was largely influenced by developments of the age, and developments technology and communication. Keyword: topeng babakan, bebarang, changes, and developments.
TARI SORENG KELOMPOK SRI RAHAYU DI DESA LENCOH, KECAMATAN SELA, KABUPATEN BOYOLALI Puput Yuliastuti
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.528 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2430

Abstract

Abstrak Tari Soreng adalah tari keprajuritan yang berpijak pada cerita Haryo Penangsang. Salah satu kelompok tari Soreng yang berkembang di Boyolali adalah Sri Rahayu di Desa Lencoh, Kecamatan Selo. Kelompok tersebut dibentuk tahun 1996, berdasarkan inisiatif warga Desa Lencoh. Tari Soreng kelompok Sri Rahayu memiliki garap koreografi yang berbeda dengan kelompok tari Soreng di daerah Magelang, perbedaan tersebut terlihat dari kostum, musik, gerak, dan properti sehingga menjadikan tari Soreng kelompok Sri Rahayu terlihat unik. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa tari Soreng kelompok Sri Rahayu berfungsi sebagai sarana mempererat solidaritas, hiburan, bagian dari penyambutan tamu serta pendukung untuk menyemarakkan hajatan. Struktur tari Soreng terdiri dari tiga  bagian yaitu bagian pembuka, inti, dan penutup. Kata kunci: Tari Soreng, Struktur, dan Fungsi Abstract  The Soreng Dance is a military dance which is based on the story of Haryo Penangsang. One of the Soreng Dance groups that has developed in Boyolali is Sri Rahayu which is found in the village of Lencoh in the district of Selo. This group was formed in 1996 on the initiative of the people of Lencoh village. The Sri  Rahayu Soreng  Dance group uses a different kind of choreography from Soreng Dance groups in the Magelang area. The differences are in the costume, music, movement, and properties, all of which make the Sri RahayuSoreng Dance group unique. The results of the research show that the Sri RahayuSoreng Dance group functions as a medium to enhance solidarity, as a form of entertainment, as a way of welcoming guests, and as an attraction at various kinds of celebration. The structure of the Soreng Dance consists of three sections, namely the introduction, the main section, and closing section. Keywords: Soreng Dance, Structure, and Function
TARI “DRUBIKSA DARUBEKSI” KARYA NURYANTO SEBUAH RESPON ANTROPOCOSMIC TERHADAP FENOMENA GLOBAL WARMING Nuryanto Nuryanto
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1345.612 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2426

Abstract

“Drubiksa Darubeksi” adalah sebuah karya tari yang diciptakan oleh Nuryanto, dipersembahkan sebagai tanggapan yang positif terhadap fenomena pemanasan global yangsedang kita alami. “Drubiksa” artinya jahat sedangkan “darubeksi” artinya racun. Karya ini menampilkan kekejaman manusia yang telah mengakibatkan berbagai kerusakan alam yang menyebabkan pemanasan global. Secara kontekstual karya ini telah menjadi kenyataan yang kita alami saat ini. Itu sebabnya pemikiran antropokosmik (manusia sebagai bagian dari alam) sangat penting untuk memelihara alam, untuk menghindari antroposentrisme, yang artinya manusia . Karya seni merupakan bagian dari pemikiran antropokosmik. Seni bercerita dengan cara verbal dan non-verbal. Oleh karena kepekaan dan caranya membentukpengetahuan, seni mampu membangun percakapan dengan alam. Itulah jiwa dari “Drubiksa Darubeksi”. Katakunci: pemanasan global, antropokosmik, dan seni. Abstract “Drubiksa Darubeksi” is a dance work by Nuryanto which is performed as a positive response to the phenomenon of global warming that we are currently experiencing. “Drubiksa” means evil and “darubeksi” means poison. This work portrays the cruelty of humankind which has produced numerous natural disasters that have caused global warming. This work shows contextually the reality we are now facing. For this reason, ananthropocosmic mind (man as a part of nature) is the key for taking care of nature, to avoid the kind of anthropocentrism through whichman will conquer nature. A work of art is part of an anthropocosmic mind. Art tell us a story in botha verbal and nonverbal way. Because of its sensitivity and its way of shaping of knowledge, art has the ability to build a conversation with nature. This is the spirit of “Drubiksa Darubeksi” Keywords: global warming, anthropocosmic, and art

Page 1 of 1 | Total Record : 9