cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
sutarno.haryono151@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Greget
ISSN : 1412551X     EISSN : 2716067X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Greget focuses on theoretical and empirical research in the Dance Arts. The journal welcomes the submission of manuscripts with the theoretical or empirical aspects from the following broadly categories.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2017)" : 8 Documents clear
TARI BUGIS KEMBAR VERSI S. NGALIMAN (Kajian Kritik Holistik) Yunita Sari; Maryono Maryono
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1148.551 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2350

Abstract

Tari Bugis Kembar merupakan hasil gubahan dan sudah dibakukan ke dalam kaset pita oleh S. Ngaliman pada tahun 1974. Tari Bugis Kembar termasuk jenis tari wireng yang bertemakan keprajuritan. Tari Bugis Kembar disajikan oleh dua penari putra dengan menggunakan gerak tari gagah gaya Surakarta dan gerak pencak silat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna Tari Bugis Kembar versi S. Ngaliman. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik. Adapun metode pengumpulan data yang ditempuh dengan cara studi pustaka, wawancara, dan observasi. Bentuk pembahasan Tari Bugis Kembar versi S. Ngaliman, peneliti menggunakan pendekatan teori kritik holistik pemikiran H. B Sutopo. Untuk mengupas hal-hal yang berkaitan dengan faktor objektif Tari, peneliti menggunakan teori bentuk dari Maryono. Berdasarkan hasil pembahasan keterkaitan ketiga faktor: genetik, objektif, dan afektif Tari Bugis Kembar versi S. Ngaliman, ditemukan maknanya bahwa Tari Bugis Kembar merupakan bentuk tari gagah bertemakan keprajuritan yang secara visual memberikan kesan enerjik, atraktif, ngglece cenderung gecul, humor dan banyak memperlihatkan gerak- gerak akrobatik merupakan sajian yang menghibur dan mengidukasi tentang nilai-nilai keprajuritan. Adapun nilai-nilai keprajuritan tersebut terdiri dari nilai-nilai semangat, ketegasan, keberanian dan daya juang sebagai patriotisme prajurit yang mengedepankan persatuan, kebersamaan dan perdamaian dalam bela negara.Kata Kunci: S. Ngaliman, Tari Bugis Kembar, Kritik Holistik, Makna. Abstract TheBugisKembardance is a composition that was standardized in cassette form by S. Ngaliman in 1974. BugisKembar is a form of wireng dance with a military theme. It is performed by two male dancers who use dance movements based on the masculine Surakarta style repertoire and pencaksilat. The goal of the research is to describe and analyze the meaning of S. Ngaliman’s version of the BugisKembar dance. A qualitative research method is used with a holistic critical approach. The method of data collection includes a library review, interviews, and observation. The discussion on S. Ngaliman’s version of the BugisKembar dance is presented using an ap- proach based on H.B. Sutopo’s holistic critical theory. In order to analyze the elements related to the objective factors of the dance, Maryono’s theory of form is used. Based on the results of the discussion concerning the relationship between the three factors – genetic, objective, and affective– ofS. Ngaliman’s version of the BugisKembar dance, it can be seen that the BugisKembar dance is a form of strong masculine dance with a military theme, which visually presents as an energetic,  attractive, roguish, and humorous performance with acrobatic movements, providing entertain- ment but at the same time educating the audience about military values. These values include zeal, assertiveness, courage, and fighting power, characteristics of the patriotism of a soldier who prioritizes unity, solidarity, and peace while defending his country.Keywords: S. Ngaliman, BugisKembar Dance, Holistic Criticism, and Meaning.
TARI BRAMASTRA KARYA WAHYU SANTOSO PRABOWO DALAM PANDANGAN METAFORA Asri Rachmadani; RM. Pramutomo
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.281 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2355

Abstract

Abstrak Tari Bramastra merupakan tari yang tergolong dalam tari alus tunggal gaya Surakarta yang disusun oleh Wahyu Santoso Prabowo pada tahun 1984. Tari Bramastra dapat dibawakan oleh penari perempuan maupun laki-laki dengan durasi 10 menit 50 detik. Terbentuknya tari Bramastra berawal dari keadaan yang mengancam umat manusia dengan adanya penciptaan sebuah senjata nuklir dan rudal yang berkekuatan dahsyat. Senjata ini kemudian disetarakan dengan senjata yang ada dalam cerita wayang yaitusenjata Bramastra yang hanya dimiliki oleh Batara Brama (dewa api) yang diturunkan kepada Arjuna. Permasalahan dalam pembahasan penelitian diantaranya bagaimana koreografi Bramastra karya Wahyu Santoso Prabowo dan bagaimana makna tari Bramastra karya Wahyu Santoso Prabowo dipandang dari analisis metafora. Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan bentuk, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan caraobservasi, wawancara, dan studi pustaka. Landasan teori yang digunakan adalah landasan teori dari Y. Sumandiyo Hadi dan Anton M. Moeliono. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan yaitu makna yang terkandung dalam tari Bramastra adalah bahwa dalam menggunakan sebuah senjata harus ada perhitungan yang matang sehingga dapat terfikirkan bagaimana dampak dan akibat yang terjadi dari senjata tersebut, dan apabila senjata sudah memenuhi target dari fungsi yang diinginkan akan berakhir dengan sifat yang buruk yaitu munculnya sifat sombong atau congkak karena apa yang diinginkan sudah terpenuhi.Kata kunci : Tari Bramastra, Metafora, Makna. Abstract Bramastra dance is a dance that belongs to a single style Solo solus dance composed by Wahyu Santoso Prabowo in 1984. Bramastra dance can be performed by female and male dancers with a duration of 10 minutes 50 seconds. The formation of Bramastra dance begins with a state that threatens mankind with the creation of a powerful nuclear weapon and missile. This weapon is then synonymous with weapons that exist in the puppet story that is Bramastra weapon that is only owned by Batara Brama (god of fire) is passed down to Arjuna.Problems in the discussion of research such as how the choreography Bramastra work of Wahyu Santoso Prabowo and how the meaning of dance Bramastra Wahyu Santoso Prabowo work is viewed from the analysis of meta- phor. Writing this essay using qualitative research methods with a form approach, namely data collection conducted by way of observation, interview, and literature study. The theoretical basis  used is the theoretical basis of Y. Sumandiyo Hadi and Anton M. Moeliono.The result of the research can be concluded that the meaning contained in Bramastra dance is that in using a weapon there must be a mature calculation so that it can think how the impact and effect of the weapon, and if the weapon has met the target of the desired function will end with the nature the bad is the appearance of arrogance or arrogance because what is desired has been fulfilled.Keywords: Bramastra Dance, Metaphor, Meaning.
TARI PAKARENA LAIYOLO DI DESA LAIYOLO KECAMATAN BONTOSIKUYU KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR Dewi Primasari; Nanik Sri Prihatini
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1719.867 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2351

Abstract

Abstrak Artikel ini hasil dari penelitian yang memfokuskan pada pokok permasalahan bagaimana latar belakang keberadaan tari Pakarena Laiyolo di desa Laiyolo kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar serta bentuk penyajian tari Pakarena Laiyolo. Tujuan penelitian ini untuk memahami dan menjelaskan latar belakang keberadaan tari Pakarena Laiyolo, memahami dan menjelaskan bentuk penyajian tari Pakarena Laiyolo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan interaksi analisis. Secara struktur meliputi tahap kajian historis, bentuk penyajian, dan dilanjutkan dengan simpulan. Hasil penelitian yaitu memaparkan hasil kajian berupa asal muasal tari Pakrena pada umumnya dan menggambarkan hubungan latar belakang dan bentuk penyajian tari Pakarena Laiyolo.Kata kunci: Tari Pakarena Laiyolo, latarbelakang, bentuk penyajian. Abstract This article is the result of a research study which focuses primarily on the background of the PakarenaLaiyolo dance in Laiyolo Village, in the BontosikuyuDistrict ofKepulauanSelayar, as well as on the form of performance of the PakarenaLaiyolo dance itself. The goal of the research is to understand and explain the background of the PakarenaLaiyolo dance and also to understand and explain the form of performance of this dance. The research method used is qualitative, with an interaction approach of analysis. Structurally, the research includes a historical study, a de- scription of the performance form, and a conclusion. The results of the study present the origins of the Pakarena dance in general and describe the relationship between the background and the per- formance form of the PakarenaLaiyolo dance.Keywords: Pakarena Laiyolo Dance, background, form of performance.
KOREOGRAFI RASA GUNDAH GEOMETRIS KARYA EKO SUPENDI Dewi Wulandari; S Slamet
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.289 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2356

Abstract

Abstrak Rasa Gundah Geometris karya Eko Supendi merupakan koreografi kelompok pengembangandari koreografi Daun Kelor. Permasalahan yang diambil adalahelemen-elemen koreografi Rasa Gundah Geometris dan kreativitas Eko Supendi dalam menciptakan karya Rasa Gundah Geometris. Konsepyang digunakanuntuk menganalisis koreografi tari Resah Gundah Geometris ialah konsep dari Sumandiyo Hadi tentang elemen-elemen koreografi kelompok yang terbagi menjadi sebelas unsur yaitu: 1) gerak tari; 2) ruang tari; 3) iringan tari; 4) judul tari; 5) tema tari; 6) tipe/jenis/sifat tari; 7) mode penyajian; 8) jumlah penari dan jenis kelamin; 9) rias dan busana; 10) tata cahaya; 11) properti tari dan perlengkapan lainnya.Untuk mengupas kreatifitas Eko Supendi dalam karya tari Resah Gundah Geometris menggunakan teori pembentukan yang diungkapkan oleh Utami munandar yaitu pribadi kreatif, pendorong kreatif, proses kreatif, sertaproduk kreatif. Hasil menunjukan Rasa Gundah Geometris merupakan pengungkapan dari ide yang diambil dari fenomena perubahan sosial antar rumah datar dan rumah susun sebagai sebuah koroegrafi kelompok yang ditarikan 19 penari. Antara tema judul gerak meliputi gerak terdapat gerak pokok penghubung sampai pada kostum musik dan pola lantai sebagai satu kesatuan. Koroegrafi yang tidak lepas dari kreativitas koreografer meliputi pribadi, pendorong dan proses kerja koreografer. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan tentangkoreografi dan kreativitas tari Rasa Gundah Geometris karya Eko Supendi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif analitis.Simpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa pengungkapan bahwa bentuk koreografi tidak lepas dari kekuatan pengalaman koreografer sebagai sebuah bentuk kreativitas.Kata kunci: Rasa Gundah Geometris, Koreografi, Kreativitas. Abstract Rasa GundahGeometrisbyEkoSupendiis a group choreography which is a development of the previous work DaunKelor. The problems addressed in this research are the choreographic ele- ments of Rasa GundahGeometris and EkoSupendi’s creativity in creating this work. The concept used for analyzing the choreography of the Rasa GundahGeometris dance is SumandiyoHadi’s concept of the elements of group choreography which can be divided into eleven elements: 1) dance movement; 2) dance space; 3) dance accompaniment; 4) dance title; 5) dance theme; 6) dance type/ character; 7) performance style; 8) number and gender of dancers; 9) make-up and costume; 10) lighting; 11) dance properties and other paraphernalia. In order to analyze EkoSupendi’s creativ- ity in the dance Rasa GundahGeometris, UtamiMunandar’s theory of formation is used to ana- lyze the creative person, creative incentive, creative process, and creative product. The results show that Rasa GundahGeometris is the expression of an idea based the phenomenon of social  change from a single storey house to a block of flats, in the form of a group choreography per- formed by 19 dancers. The theme, title, and movement of the dance include basic movements which connect with the costume, music, and floor patterns to create a sense of unity. The choreog- raphy is closely related to the creativity of the choreographer, including his character, his incen- tive, and his work process. The goal of this research is to describe and explain the choreography and creativity of EkoSupendi’s dance, Rasa GundahGeometris. The research uses a qualitative de- scriptive analytical method. The conclusion of the research shows that the expression of a form of choreography is closely connected to the strength of the choreographer’s experience as a form of creativity.Keywords: Rasa GundahGeometris, Choreography, Creativity.
TARI KETHEK OGLENG SEBAGAI EKSPRESI SENI KOMUNITAS CONDRO WANORO DESA TOKAWI KECAMATAN NAWANGAN KABUPATEN PACITAN Catur Mustika Peni; RM. Pramutomo
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.463 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2352

Abstract

Abstrak Ekspresi merupakanhasil dan bentuk manifistasi dari emosi ekspresi, juga merupakan pengungkapan dalam suatu proses mengutarakan maksut. Tari Kethek Ogleng merupakan sebuah tarian yang menjadi jembatan bagi para pelaku seni yang ada di Komunitas Condro Wanoro. Tari kethek ogleng adalah tari yang diciptakan guna untuk memberikan nuansa baru di sebuah desa. Tarian ini bisa disajikan secara kelompok, individu dan pasangan.. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanabentuk tari Kethek Ogleng Desa Tokawi Kecamatan Nawangan dan mengapa ekspresi seni komunitas Condro Wanoro terbentuk melalui tari Kethek Ogleng. Konsep yang di gunakan untuk menganalisis bentuk tari Kethek Ogleng Desa Tokawi ini ialah Sumandyo Hadi. yang meliputi urutan sajian, Penari, gerak, pola lantai, karawitan, atau music tari, rias dan busana, tempat dan waktu pertunjukan. Untuk mengupas ekspresi yang terbentuk melalui tari Kethek Ogleng mengunakan teori dari Setephanie Ross. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengandalkan data kualitatif dalam hal pengumpulan data dan yang menghasilkan data deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi yang terbentuk melalui tari Kethek Ogleng itu ada beberapa hal yang mendasari sebuah ekspresi itu sendiri. Ada beberapa model orientasi ekspresi yang terbentuk dalam sebuah komunitas melalui tari Kethek Ogleng. Orientasi itu diantaranya adalah Orientasi Keagamaan atau religi, Orientasi Solidaritas, orientasi komunikasi, orientasi kekeluargaandan Orientasi Integratif. Simpulan dari penelitianini yaitu tari Kethek Ogleng merupakan tari yang digunakan sebagai penyalur bagi para pelaku seni yang ada di Komunitas Condro Wanoro.Kata kunci : Tari Kethek Ogleng, Bentuk Tari, Ekspresi Komunitas. Abstract The Expression is a result of the manifestation from emotion. It was also the process to respond the way emotion proposed. This article will strives a Kethek Ogleng which is belong to the bridge among dance participants of Condro Wanoro Community. This dance form was created to present a new nuance from the country side. Generally it was also presented by individual,  duet or in a group. This article will examine the Kethek Ogleng dance form in Tokawi Village, Kecamatan Nawangan and why they have Condro Wanoro Community which was supporting thir dance form. Choreograplically this article will use. Y. Sumandiyo Hadi concepts of dance choreography’s as recreasional form. Another side it is also examine the many aspects of Choreog- raphy. There is another concept of arts as community expression from Stephanie Ross. From this concept this article will expose several orientation of community like, religion orientation, soli- darity orientation, communication orientation, family orientation, and integrative orientation. The perspective will use in this article called ethnochoreological perspective and practically using dance ethnography method.Keywords: Tari Kethek Ogleng, Dance Form, Expression of Community.
REINTERPRETASI SUPRIYADI PADA TARI BALADEWA DALAM PERTUNJUKAN LENGGER Iva Catur Agustina; Wahyu Santoso Prabowo
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1643.66 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2357

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ide garap serta proses reinterpretasi Supriyadi pada Tari Baladewa dalam pertunjukan lengger. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengalamannya sebagai penari maupun koreografer, kreativitas tersebut diwujudkan dalam motif gerak Tari Baladewan. Gerak-gerak tersebut terinspirasi dari Tari Baladewayang terdapat pada lenggerdandipengaruhi olehketubuhan Supriyadi pada tari gaya Yogyakarta, Surakarta, Banyumas dan Sunda. Tari Baladewan diiringi dengan gending Kulu-Kulu atau Cindung Cina yang juga merupakangendhing untuk mengiringi Tari Baladewa dalam kesenianlengger.Kata kunci: Baladewan, Reinterpretasi, Kreativitas. Abstract This study aims to examine the idea of working and reinterpretation of Supriyadi in Baladewa Dance in a lengger performance. The results of this study indicate that his experience as a dancer and choreographer, creativity is embodied in motion motion Baladewan Dance. The movements are inspired by Baladewa dance found on lengger and influenced by Supriyadi’s body in Yogyakarta style dances, Surakarta, Banyumas and Sunda. Baladewan dance is accompanied by Kulu-Kulu or Cindung gending of China which is also a gendhing to accompany Baladewa Dance in lengger arts.Keyword: Baladewan, Reinterpretation, creativity.
SENDHANG SINANGKA SEBAGAI SUMBER INSPIRASI TERCIPTANYA IDE KARYA SENI Nandhang Wisnu Pamenang; Silvester Pamardi
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.363 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2353

Abstract

Abstrak Sumber mata air bagi kehidupan makluk hidup menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Tanpa adanya kepedulian dari masyarakatnya untuk merawat sumber mata air maka akan berpengaruh terhadap perkembangan ekosistem disekitar area tersebut. Fenomena ini menjadi ketertarikanbagi pengkarya tentang keberadaan sumber mata air yang sangat penting bagi keberlagsungan kehidupan masyarakatnya dan di transformasikan dalam bentuk karya seni pertunjukan. Keberadaan Sendhang Sinangka bagi masyarakat Desa Keloran menciptakan titik temu diantara keduanya. Dalam perspektif ini, masyarakat tidak dapat terlepas dari lingkungan sebagai sumber kehidupan. Begitu pula sebalikya, Sendhang Sinangka juga membutuhkan kesadaran dari masyarakatnya untuk bersinergi dalam membangunsebuah keseimbangan kosmos. Proses penciptaan seni sebagai representasi dari fenomena manfaat sumber air, membawa pengkarya pada pengembangan eksplorasi ruang, membuat alur cerita yang berkaitan dengan Sedhang Sinangka, serta mengakomodir beberapa elemen masyarakat setempat yang juga turut berpartisipasi melakukan proses. Untuk memperkuat esensi dari pertujukan seni, pengkarya melakukan observasi lokasi, wawancara, pendekatan secara emosional kepada penduduk setempat, pengumpulan data, studi pustaka, dokumentasi, analisis data hingga melakukan kroscek data.Kata kunci: Sendhang Sinangka, Inspirasi, Seni Pertunjukan. Abstract The source of springs for the life of living beings becomes a very important necessity for the sustainability of life. Without public awareness to treat springs, it will affect the development of ecosystems around the area. This phenomenon becomes the attraction for the pengkarya about spring which is very important for the sustainability of community life and transformed in the form of performance art. The existence of Sendhang Sinangka for Keloran Village community creates similarities between them. In this perspective, society can not be separated from the envi- ronment as a source of life. Similarly, on the contrary, Sendhang Sinangka also requires aware- ness from the community to work together in building the balance of the cosmos. The process of art creation as a representation of the phenomenon of the benefits of water resources, bringing pengkarya on the development of space exploration, create a story line associated with Sedhang Sinangka, and accommodate some elements of local communities who also participate in the  process. To strengthen the essence of art performances, pengkarya make location observations, interviews, emotional approaches to the local population, data collection, literature studies, docu- mentation, data analysis to cross check data.Keywords: Sendhang Sinangka, Inspiration, Performing Arts.
DEO KAYANGAN: DARI RITUAL PENGOBATAN MENJADI HIBURAN MASYARAKAT TEBING TINGGI OKURA KECAMATAN RUMBAI PESISIR DI PEKANBARU Nur Desmawati; Sri Rochana Widyastutieningrum
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1837.295 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2354

Abstract

Abstrak Deo Kayangan merupakanritual pengobatan penyakit yang disebabkan oleh kekuatan gaib. Ritual ini ada di Kelurahan Tebing Tinggi Okura, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Ritual tersebut dipimpin oleh seorang dukun Melayubernama Tuk Damai.Tuk Damai diminta olehmasyarakat untuk menjadikanritualtersebut sebagai tontonan dengan membuat imitasi Deo Kayangan yang diberi nama Badeo.Fenomena Deo Kayangan sebagai tontonan ini merupakan permintaan masyarakat agar bisa ditampilkan Deo Kayangan tersebut sebagai hiburan. Untuk mencapai harapan itu, proses sekularisasi menjadi pilihan bersama. Deo Kayangan sebagai ritual pengobatan tetap pada hakekatnya sebagai pengobatan dan di pertunjukkan pada saat manusia membutuhkan pengobatan jika si sakit membutuhkan pertolongan yang dilengkapi dengan berbagai persyaratan yang telah ditentukan, seperti kelengkapan sesaji dan keperluan lainnya. Sementara imitasi Deo Kayangan dibuat untuk tujuanpertunjukan sekuler sebagai tontonandan hiburan masyarakat, demikian pula untuk para wisatawan. Kronologi dari ritual menjadi tontonan, tidak terlepas dari tujuanpemerintah yang ingin manjadikan Desa Tebing Tinggi Okura sebagai desa wisata. Oleh karena itu, masyarakat antusias dalam menyambut proprgam tersebut, dengan menggali potensi desanya.Kata kunci: Deo Kayangan, Badeo, Faktor. Abstract Deo Kayanganis a healing ritual performed to cure illnesses that are caused by supernatu- ral powers. This ritual is found in Tebing Tinggi Okura, in the Rumbai Pesisir District of Pekanbaru, in the Riau Province. The ritual is conducted by a Malay shaman known as Tuk Damai who in recent times has been asked by the local community to turn the ritual into a form of entertainment by creating an imitation of Deo Kayangan known as Badeo. The phenomenon of Deo Kayangan as a form of entertainment is the result of this request by the community. In order to achieve this new form, the community agreed on a process of secularization. DeoKayangan as a healing ritual retains its true nature as a healing medium and is performed for the purpose of  healing a sick person, complete with various predetermined requirements such as offerings and other elements. The imitation of DeoKayangan, on the other hand, is designed as a secular per- formance and a form of entertainment for members of the local community and for tourists. The chronology of the process through which the ritual became a form of entertainment is also tied to the goal of the local government to make the village of TebingTinggi Okura a tourist destination. Therefore, the local community have welcomed the program enthusiastically by exploring the potential of their village.Keywords: DeoKayangan, Badeo, Factor.

Page 1 of 1 | Total Record : 8