cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
sutarno.haryono151@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Greget
ISSN : 1412551X     EISSN : 2716067X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Greget focuses on theoretical and empirical research in the Dance Arts. The journal welcomes the submission of manuscripts with the theoretical or empirical aspects from the following broadly categories.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2018)" : 7 Documents clear
EKSISTENSI PERTUNJUKAN CAN MACANAN KADDU’ PAGUYUBAN BINTANG TIMUR DI KABUPATEN JEMBER Eska Wiedyana; Nanik Sri Prihatini
Greget Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.217 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i1.2297

Abstract

Can Macanan Kaddu’ adalah salah satu kesenian yang hidup di Kabupaten Jember. Salah satu kelompok yang masih bertahan dan eksis dengan pertunjukan Can Macanan Kaddu’ ialah Paguyuban Bintang Timur. Paguyuban Bintang Timur termasuk paguyuban Can Macanan Kaddu’ tertua di Kabupaten Jember. Pertunjukan Can Macanan Kaddu’ memiliki beberapa tari dalam sajiannya yaitu Tari Burung Garuda, Tari Ganong, Tari Leak, Tari Gandrung, Tari Jaranan, dan Pencak silat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pertunjukan dan eksistensi pertunjukan Can Macanan Kaddu’ paguyuban Bintang Timur di Kabupaten Jember. Penelitian bersifat kualititatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis untuk menganalisis hasil lapangan. Beberapa teori yang digunakan yaitu teori bentuk dari Suzanne K. Langer untuk menganilisis tentang bentuk pertunjukan, pendapat Vincent Martin dan Loren Bagus tentang eksistensi serta pendapat Sri Rochana Widyastutieningrum mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi eksistensi. Langkah penelitian yang dilakukan dalam pengumpulan data diperoleh melalui kepustakaan, observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian mengenai eksistensi pertunjukan Can Macanan Kaddu’ paguyuban Bintang Timur di Kabupaten Jember diketahui secara rinci melalui kehidupan dan perkembangan Paguyuban Bintang Timur, serta dijelaskan melalui faktor pendukung yaitu faktor Internal dan eksternal. Bentuk pertunjukan meliputi urutan sajian, elemen-elemen bentuk pertunjukan yang meliputi gerak, musik atau iringan, rias dan busana, serta tempat pertunjukan, dan deskripsi sajian diuraikan sebagai wujud sajian yang menarik sehingga kesenian tersebut disukai oleh masyarakat.Kata kunci: Can Macanan Kaddu’, Bintang Timur, Eksistensi.AbstractCan Macanan Kaddu’ is one of the living arts in Jember District. One of the groups that still survives and exists with the performance of Can Macanan Kaddu’ is Paguyuban Bintang Timur. Paguyuban Bintang Timur includes the oldest community of Can Macanan Kaddu’ in Jember District. Performances Can Macanan Kaddu’ has several dances in the dish that is Garuda dance, Ganong dance, Leak dance, Gandrung dance, Jaranan dance, and Pencak Silat this research aims to find out the form of performances and the performances of Can Macanan Kaddu’ Paguyuban Bintang Timur di Kabupaten Jember. The reserech is qualitative by using descriptive method of analysis to analyze the results of the field. Several theories used are the form theory of Suzanne K. Langer to nalyze the form of performance, the opinions of Vincent Martin and Loren Bagus on the existence and opinion of Sri Rochana Widyastutieningrum on foctors influencing exixtence. Steps of research conducted in collecting data obtained through literature, observation, documentation and interviews. The results of research on the existence of Can Macanan kaddu’ show of Bintang Timur group in Jember are known in detail through the life and development of Paguyuban Bintang Timur, also explained through the supporting factors of internal and external factors. Performing forms include the order od presentation, the elements of the form of performances that include motion, music or accompaniment, makeup and clothing, as well as the place of performances, and the the description of the dish is described as an interesting form of presentation so that the art is favored the public.Keywords: Can Macanan Kaddu’, Bintang Timur, Existence.
KOREOGRAFI ASMARASIH KARYA UMIYATI SRI WARSINI Indah Ayu Saputri; Wahyu Santoso Prabowo
Greget Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/grt.v17i1.2293

Abstract

Tari Asmarasih merupakan tari berpasangan yang ditarikan oleh dua penari (laki-laki dan perempuan) dan bertemakan percintaan. Tari ini disusun oleh Umiyati Sri Warsini tahun 1989 di Pura Mangkunegaran. Disusun untuk mengisi keperluan resepsi pernikahan, selain itu tari ini juga dapat di pentaskan dalam acara lain yang tujuannya sebagai hiburan. Penelitian ini menggunakan teori bentuk yang dikemukakan oleh Suzane K. Langer, dan sebagai model analisis untuk mendeskripsikan koreografi Asmarasih, menggunakan teori dari Janet Adshead tentang komponen koreografi. Selanjutnya menggunakan landasan teori garap yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah, untuk menganalisis mengenai garap tari Asmarasih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan etnografi tari. Hasil penelitian ini dapat diperoleh tentang koreografi Asmarasih yang tidak terlepas dari elemen-elemen pembentuknya, saling berkaitan seperti penari, gerak, tata visual dan elemen suara. Tari Asmarasih juga diketahui merupakan satu-satunya tari pasihan atau percintaan, yang terdapat di Pura Mangkunegaran. Garap gerak maupun garap gendhing secara kreatif menggunakan aturan-aturan yang berada di lingkungan Pura Mangkunegaran. Dengan demikian walaupun terdapat gerak dan gendhing gaya Yogyakarta dan Surakarta, maka bisa dikatakan sebagai gaya Mangkunegaran. Penelitian ini juga mengungkapkan kesenimanan Umiyati Sri Warsini yang merupakan satu-satunya generasi seniman wanita abdi dalem yang ada di Pura Mangkunegaran, setelah era Nyi Bei Mardusari (alm.), yang memiliki kemampuan multitalenta (penari, pesindhen, pengeprak, dan guru tari). Kata kunci : Tari Asmarasih, Umiyati Sri Warsini, koreografi, garap.
TINJAUAN GARAP GERAK TARI PENTHUL DI MELIKAN,TEMPURAN PARON KABUPATEN NGAWI Sri Maryati Andayani; RM. Pramutomo
Greget Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.784 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i1.2298

Abstract

Tari Penthul Melikan merupakan kesenian tradisional kerakyatan di Dusun Melikan Desa Tempuran Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Tari Penthul Melikan diciptakan oleh Bapak Munajah pada tahun 1952 di Dusun Melikan Desa Tempuran Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Tarian ini diciptakan untuk menghibur masyarakat setelah selesai membangun sekolah di Dusun Melikan pada saat itu. Penelitian ini menggunakan landasan teori bentuk oleh Susanne K. Langer. Sedangkan teori garap oleh Rahayu Supanggah meliputi materi garap, penggarap, sarana garap, prabot atau piranti garap, penentu garap dan pertimbangan garap. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk dan garap tari Penthul Melikan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Hsil penelitian ini dapat diperoleh gambaran yang berkaitan dengan bentuk dan garap tari Penthul Melikan. Bentuk tari Penthul Melikan tidak terlepas dari elemen-elemen pembentuknya yang saling berkaitan seperti gerak tari, penari, tata busana, properti. Sementara itu garap tari meliputi materi garap, penggarap, sarana garap, prabot atau piranti garap, penentu garap dan pertimbangan garap.Kata kunci : tari Penthul Melikan, bentuk, garap gerak.AbstractThe Penthul Melikan dance is a traditional folk dance found in the Hamlet of Melikan in Tempuran Village, Paron District, in the Regency of Ngawi. The Penthul Melikan dance was created by Bapak Munajah in 1952 in the Hamlet of Melikan in Tempuran Village, Paron District, in the Regency of Ngawi. The dance was created to entertain the community after the construction of a new school was completed in the Hamlet of Melikan at that time. This research is based on Susanne K. Langer’s theory of form and Rahayu Supanggah’s theory of treatment (garap) which includes the material for garap, the person implementing the garap, the medium of garap, the tools or equipment of garap, the determinants of garap, and the considerations of garap. The goal of the research is to analyze the form and treatment of the Penthul Melikan dance. In this research, the writer uses a qualitative research method. The results of the research present a description of the form and treatment of the Penthul Melikan dance. The form of the Penthul Melikan dance is connected with the interrelated elements of its formation, including the dancers’ movements, dancers, costumes, and properties. The treatment of the dance includes the material for garap, person implementing the garap, medium of garap, tools or equipment of garap, determinants of garap, and considerations of garap.Keywords: Penthul Melikan dance, form, treatment of movement.
TARI OPAK ABANG SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS MASYARAKAT KABUPATEN KENDAL Putri Novalita; RM. Pramutomo
Greget Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.171 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i1.2294

Abstract

AbstrakTari Opak Abang berasal dari Desa Pasigitan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Opak Abang adalah akronim kata Opak yang diambil dari kata kethoprak dan Abang merupakan alat musik pengiringnya yaitu terbang atau rebana. Gerakan pada tari Opak Abang sederhana dan banyak yang diulang-ulang. Ragam gerak dan musik pada tari Opak Abang yang khas dengan menggunakan gerak-gerak kerakyatan yang rampak dan diiringi alat musik rebana. Tari Opak Abang diresmikan dan diakui oleh Pemerintah Kabupaten Kendal sekitar tahun 1970-an. Tari Opak Abang dianggap oleh masyarakat Kabupaten Kendal sebagai salah satu tarian yang menjadi identitas Kabupaten Kendal. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertunjukan tari Opak Abang dan mengapa tari Opak Abang menjadi simbol identitas masyarakat Kabupaten Kendal. Metode penelitian yang akan digunakan untuk melaksanakan penelitian menggunakan pendekatan etnokoreologi. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif analitis. Penelitian kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data antara lain dengan studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data.Kata kunci: Opak Abang, Simbol, Identitas, Kendal.AbstractOpak Abang dance come from, Pasigitan Village, Boja Subdistrict, Kendal Regency. Opak Abang is an acronim, Opak is come from kethoprak and Abang is one of music escort it is terbang or rebana. The motion of Opak Abang is simple and a lot of repetitive motion. The typical Range of motion and music in Opak Abang using populist motions that dense and the music rebana is escorted. Opak abang dance inagurated and recognized by Kendal Regency Goverment about 1970’s. Opak Abang dance reputed by Kendal Regency society as one of dance that to be the identity of Kendal Regency. The problem of this research is How is the performance form of Opak Abang dance and Why is Opak Abang dance is to be an identity of Kendal Regency society. The method of this reseach is using ethocoreology approach. This type of the research is using qualitative research methods descriptive anaysis. Qualitative research using data collecting technique it is with literature review, observation, interview, documentation and data analysis.Keywords : Opak Abang, Symbol, Identity, Kendal.
INOVASI KESENIAN RAKYAT KUDA LUMPING DI DESA GANDU, KECAMATAN TEMBARAK, KABUPATEN TEMANGGUNG Nur Rokhim
Greget Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.835 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i1.2299

Abstract

Demam kesenian rakyat kolaborasi Leakan di Temanggung rupanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Para seniman senior rata-rata menolak kehadiran kolaborasi tersebut, mereka merasa risih dengan pengembangan seni pertunjukan yang demikian. Akhirnya Dinas melarang pertunjukan kolaborasi Kuda Lumping dengan tari Leak, Pendet dan Barong Bali. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikan eksistensi pertunjukan Kuda Lumping seperti semula sebagai seni yang mempunyai ciri khas Temanggung. Kesenian Kuda Lumping Sri Budoyo berada pada situasi yang rumit, di tengah-tengah tuntutan selera masyarakat yang semakin beraneka ragam. Tekad masyarakat pendukung kesenian sudah bulat untuk menjaga dan melestarikan kesenian Kuda Lumping supaya tetap eksis dengan ciri khasnya. Berbagai permasalahan mitra sebagi akibat masuknya kesenian luar daerah yang mengusik eksistensi kesenian lokal sebagai ciri khas daerah, maka akan ditawarkan solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Inovasi adalah sebuah cara yang akan dilakukan sebagai solusinya. Inovasi yang dilakukan adalah pemberdayaan anak-anak sebagai generasi penerus kesenian Kuda Lumping di desa Gandu II, yang nantikan akan memegang kendali kesenian di desa tersebut. Anak-anak diberi pelatihan tari Geculan sebagai dasar kepenarian mereka, gerak-gerak yang disusun disesuaikan dengan usianya.Kata kunci: Inovasi, Kesenian rakyat, Kuda Lumping.Abstract The folk art fever of the Leakan collaboration in Temanggung apparently cannot be stopped anymore. The average senior artists reject the presence of the collaboration, they feel uncomfortable with the development of such performing arts. Finally the Office banned the performance of the Kuda Lumping collaboration with the Leak, Pendet and Barong Bali dances. This is intended to restore the existence of the Kuda Lumping performance as originally as an art that has a characteristic Temanggung. Sri Budoyo’s Kuda Lumping Art is in a complicated situation, amidst the increasingly diverse demands of the people’s tastes. The determination of the people supporting the arts has been unanimous to maintain and preserve the Kuda Lumping art in order to continue to exist with its trademark. Various partner problems as a result of the entry of arts outside the region that disturb the existence of local arts as a regional characteristic, will be offered a solution to overcome the problems faced. Innovation is a method that will be carried out as a solution. The innovation carried out was the empowerment of children as the next generation of Kuda Lumping art in the village of Gandu II, who were looking forward to taking control of the arts in the village. The children were given Geculan dance training as a basis for their dance, the movements arranged according to their age. Keywords: Innovation, Folk art, Kuda Lumping.
NILAI ESTETIK TARI SRIMPI PANDHELORI DI PURA MANGKUNEGARAN S Sriyadi; Wahyu Santoso Prabowo
Greget Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.41 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i1.2295

Abstract

Penelitian Nilai Estetik Tari Srimpi Pandhelori di Pura Mangkunegaran bertujuan untuk mendeskripsikan koreografi dan nilai estetik tari Srimpi Pandhelori. Analisis koreografi Srimpi Pandhelori menggunakan konsep koreografi Sumandiyo Hadi. Analisis nilai estetik menggunakan konsep nilai estetik menurut The Liang Gie, yang didukung dengan konsep ciri-ciri sifat benda estetik oleh Monroe Beardsley, dan konsep pengungkapan nilai-nilai kehidupan dalam karya seni oleh De Witt H. Paker. Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan estetik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa tari Srimpi Pandhelori memiliki nilai estetik karena dari sudut pandang inderawi memiliki nilai bentuk dan dari isi mampu mengungkapkan nilai-nilai kehidupan.Kata kunci: Srimpi Pandhelori, koreografi, nilai estetik.AbstractResearch Value Aesthetic Srimpi Pandhelori Dance in Pura Mangkunegaran aims to describe the choreography and aesthetic value of Srimpi Pandhelori dance. Srimpi Pandhelori choreography analysis uses Sumandiyo Hadi’s choreography concept. Aesthetic value analysis uses the concept of aesthetic value according to The Liang Gie, supported by the concept of aesthetic properties by Monroe Beardsley, and the concept of life values in artwork by De Witt H. Paker. Writing this thesis using qualitative research methods, with an aesthetic approach. Data collection techniques used were observation, interview, and literature study. The results showed that the Srimpi Pandhelori dance has an aesthetic value because from the viewpoint of the senses have the value of the form and the content is able to express the values of life.Keywords: Srimpi Pandhelori, choreography, aesthetic value.
PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG DUSUN KEDUNGPANJANG, SONEYAN, MARGOYOSO KABUPATEN PATI (Kajian Holistik) Lailatul Qodriyah; Dwi Wahyudiarto
Greget Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.335 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i1.2296

Abstract

AbstrakPertunjukan Wayang Topeng di Dukuh Kedungpanjang Desa Soneyan Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah merupakan bentuk seni pertunjukan drama tari dengan menggunakan topeng. Pertunjukan ini ada sejak tahun 1896. Cerita yang digunakan di dalam pertunjukan pertunjukan Wayang Topeng ialah Among Tani. Pertunjukan Wayang Topeng digunakan untuk ritual bersih desa pada bulan Besar (penanggalan bulan jawa) hari sabtu kliwon. Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini antara lain bagaimana latar belakang penyusunan Pertunjukan Wayang Topeng, bagaimana bentuk Pertunjukan Wayang Topeng, dan tanggapan masyarakat terhadap Pertunjukan Wayang Topeng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik. Untuk mengkaji faktor genetik dan faktor afektif menggunakan pemikiran dari H. B Sutopo. Sedangkan dalam mengupas hal-hal yang berkaitan dengan bentuk Pertunjukan Wayang Topeng menggunakan teori bentuk dari Maryono. Adapun Tahap penelitian yang dilakukan dengan cara studi pustaka, wawancara, dan observasi.Kata kunci: Wayang Topeng, Dukuh Kedungpanjang, Kritik Holistik.AbstractWayang Topeng performance in Kedungpanjang subvillage Soneyan Village, Margoyoso Subdistrict, Pati Regency, Central Java. Constitut the performance of theater dance with use the mask this performance since in 1896. The story that to used on the Wayang Topeng Performance is Among Tani. The Wayang Topeng Performance to used to bersih desa ritual on Besar month at Kliwon Saturday. The problem of this research it is how is Wayang Topeng compose background, how is Wayang Topeng Performance form, and how is society reaction about Wayang Topeng. This research use qualitative research method with critic holistic approach. To review the genetic factor and afective factor use thought of H. B Sutopo. To describe the things that related with Wayang Topeng Performance form use theory from Maryono. The step of research did with literature review, interview and observation.Keywords: Wayang Topeng, Kedungpanjang subvillage, critic holistic.

Page 1 of 1 | Total Record : 7