cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
sutarno.haryono151@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Greget
ISSN : 1412551X     EISSN : 2716067X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Greget focuses on theoretical and empirical research in the Dance Arts. The journal welcomes the submission of manuscripts with the theoretical or empirical aspects from the following broadly categories.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2018)" : 7 Documents clear
BENTUK DAN FUNGSI TARI GATHOLOCO KELOMPOK SENI CIPTO BUDOYO KABUPATEN TEMANGGUNG Lenni Wulandari; Sri Rochana Widyastutieningrum
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.662 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2307

Abstract

AbstrakTari Gatholoco adalah tari kelompok berjenis tradisi rakyat dalam sebuah kelompok seni di Desa Kembangsari. Tari Gatholoco belum diketahui siapa penciptanya dan digarap oleh Badrun tahun 1965 kemudian digarap oleh Tono tahun 1980. Tari Gatholoco menarik karena pola lantai membentuk formasi huruf (terbalik dari arah depan) yang menyusun sebuah kata Temanggung. Juga terdapat gerak penghubung antar gerak satu ke gerak berikutnya dan gerak penghubung untuk perpindahan pola lantai dengan senggakan “sukseskan pembangunan”. Tari Gatholoco memiliki fungsi sosial dalam masyarakat Desa Kembangsari. Penelitian ini menggunakan landasan teori bentuk oleh Suzanne K. Langer dan Sri Rochana Widyastutieningrum dan teori fungsi oleh Raymond Firth. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, merupakan metode penelitian yang menekankan pada telaah mendalam suatu fenomena yang terjadi dengan melakukan wawancara, dokumentasi, pengamatan langsung, pengamatan tidak langsung, dan studi pustaka. Presentasi yang disajikan berupa data dan visual. Hasil dari penelitian ini dapat diperoleh gambaran yang berkaitan dengan bentuk sajian dan fungsi sosial tari Gatholoco yang hingga kini masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Desa Kembangsari. Bentuk sajian tari Gatholoco terdapat gerak yang menggambarkan aktivitas masyarakat sehari hari. Fungsi sosial tari Gatholoco yaitu sebagai sarana kepuasan batin, sarana bersantai dan hiburan, sarana ungkapan jati diri, sarana integratif dan pemersatu, dan sarana pendidikan amat positif di kehidupan masyarakat Desa Kembangsari.Kata kunci: Gatholoco, Bentuk, FungsiAbstractGatholoco Dance is a group dance of the folk-type tradition in an art group in Kembangsari Village. Not yet known who the creator of Gatholoco dance it was cultivated by Badrun in 1965 then tilled by Tono in 1980. Gatholoco dance is very interesting, because pattern floor as like alfabet (upside down from the front) which composes the word means like Temanggung. That dance also relational between one of the movement to the next movement, and then the relational connecting the other movement of the pattern floor it is mean that “successful development”. Gatholoco dance has a sociocultural function in the Kembangsari Village. This research uses the foundation of form theory by Suzanne K. Langer and Sri Rochana Widyastutieningrum and function theory by Raymond Firth. This research uses qualitative method, is a research method that emphasizes in depth study of a phenomenon that occurs by conducting interviews, documentation, direct observation, indirect observation, and literature study. Presentation is presented in the form of data and visual. The results of this study can be obtained a picture relating to the form of course and social function of Gatholoco dance which until now is still alive and growing among the people of Kembangsari Village. There is a movement that describes the daily activities of society in the form of Gatholoco dance course. The social function of Gatholoco dance is as a mean of inner satisfaction, means of relaxation and entertainment, means of expression of identity, integrative means and unifier, means of educational, means of healing, symbolic means of meaning and power, and means of integration in chaotic times are very positive in the life of the community of Kembangsari Village.Keywords: Gatholoco, Form, Function.
PEMADATAN SRIMPI SANGUPATI OLEH AGUS TASMAN RONOATMODJO Sonia Margarita; Dwi Wahyudiarto
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.013 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2303

Abstract

AbstrakSrimpi Sangupati merupakan salah satu tarian yang berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta. Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta disebut juga dengan Srimpi Sangupati “utuh” karena pada tari Srimpi ini berdurasikan ±1 jam dan menggunakan properti lengkap yaitu meja kecil, kenthi, sloki, dan juga pistol. Srimpi Sangupati dipadatkan oleh Agus Tasman menjadi ±16 menit dan juga tidak menggunakan properti seperti yang ada di Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta. Pemadatan yang dilakukan oleh Agus Tasman bertujuan untuk menjaga agar kelestarian, eksistensi, dan kontinuitas seni pertunjukan tradisi keraton terjaga. Penelitian pemadatan Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta oleh Agus Tasman merupakan penelitan kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Penelitian ini menggunakan teori perubahan menurut Giddens yang diperkuat oleh Douglas dan Goodmans mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan yaitu agen dan struktur. Untuk membahas bentuk pertunjukan menggunakan teori Soedarsono, yang menyatakan bahwa elemen-elemen pendukung pertunjukan tari antara lain gerak, musik tari, rias busana, desain lantai, dan pendukung tari lainnya (properti dan lighting). Hasil penelitian menunjukan bahwa Pemadatan Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta oleh Agus Tasman dilakukan dengan menggarap dan menyusun kembali materi yang telah ada meliputi pemadatan waktu, mengurangi pengulangan gerak, menggarap gendhing, variasi pola lantai, menghilangkan properti dan juga mengubah rasa yang ditimbulkan pada Tari Srimpi Sangupati. Dampak dari perubahan itu menjadikan Srimpi Sangupati menjadi lebih akrab dengan masyarakat luas baik dari dalam keraton maupun luar keraton. Tari Srimpi Sangupati menjadi lebih menarik, tidak monoton, dan laris.Kata kunci: Srimpi Sangupati, Keraton Kasunanan Surakarta, pemadatan, Agus Tasman.AbstractSrimpi Sangupati is one of the dances that come from Keraton Kasunanan Surakarta. Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta is also called Srimpi Sangupati “intact” because in this Srimpi dance is ± 1 hour duration and use complete property that is small table, kenthi, sloki, and also pistol. Srimpi Sangupati compacted by Agus Tasman to ± 16 minutes and also do not use the property as in Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta. Compaction conducted by Agus Tasman aims to maintain the sustainability, existence, and continuity of performing arts tradition awakened. Research compaction Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta by Agus Tasman is a qualitative research using descriptive analysis approach. This study uses the theory of change according to Giddens reinforced by Douglas and Goodmans about the factors that affect the change of agents and structures. To discuss the form of performances using Soedarsono’s theory, which states that the supporting elements of dance performances include motion, dance music, dress makeup, floor design, and other dance supporters (property and lighting). The results showed that the compression of Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta by Agus Tasman was done by working on and rearranging the existing material including time compaction, reducing motion repetition, working on gendhing, variation of floor pattern, eliminating the property and also changing the taste caused by Srimpi Sangupati Dance . The impact of that change makes Srimpi Sangupati become more familiar with the wider community both from within the palace and outside the palace. Srimpi Sangupati Dance becomes more interesting, not monotonous, and in demand.Keyword: Srimpi Sangupati, Keraton Kasunanan Surakarta, compression, Agus Tasman.
JARANAN POGOGAN TEGUH RAHAYU DESA SUGIHWARAS, PRAMBON, KABUPATEN NGANJUK (KAJIAN HOLISTIK) Marinda Lisa Anggraini; Sutarno Haryono
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.433 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2304

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan mengkaji secara anilitis tentang Jaranan Pogogan Teguh Rahayu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik seni holistik. Tahap penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Seluruh data yang didapat kemudian di analisis dengan menggunakan pendekatan kritik holistik yang mencakup faktor genetik, faktor objektif serta faktor afektif. Hasil temuan bahwa Kesenian Jaranan Pogogan Teguh Rahayu merupakan kesenian yang diciptakan selain sebagai sarana hiburan juga sebagai sarana edukasi. Terdapat pesan-pesan moral dibalik setiap penyajiannya seperti semangat juang, kerja keras dan perintah-perintah untuk melakukan kebaikan.Kata kunci: Jaranan Pogogan Teguh Rahayu, Kritik Seni Holistik.AbstractThe goal of this research is to describe and carry out an analytical study of Jaranan Pogogan Teguh Rahayu. A qualitative research method is used with a holistic art criticism approach. The stages of the research include data collection through observation, interviews, and a library study. All the data obtained is then analyzed using a holistic art criticism approach which includes the genetic factors, objective factors, and affective factors. The research results show that the art of Jaranan Pogogan Teguh Rahayu was created as a form of entertainment and also as a medium for education. Every performance contains moral messages, such as the need for a fighting spirit, the importance of hard work, and instructions to perform good deeds.Keywords: Jaranan Pogogan Teguh Rahayu, Holistic Art Criticism.
KREATIVITAS JONET SRI KUNCORO DALAM KARYA TARI AMBABAR BATIK R.Aj Roliska Kusumo Wardani; S Soemaryatmi
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.919 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2305

Abstract

Abstrak Karya Tari Ambabar Batik merupakan koreografi kelompok yang terinspirasi dari corak – corak kain Batik. Peemasalahan yang diambil adalah elemen-elemen koreografi Karya Tari Ambabar Batik dan kreativiitas Jonet Sri Kuncoro dalam menciptakan karya tari Ambabar Batik. Konsep yang digunakan untuk menganalisis koreografi karya tari Ambabar Batik adalah konsep dari Sumandyo Hadi tentang elemen-elemen koreografi kelompok yang terbagi menjadi sebelas unsur yaitu: 1) gerak tari; 2) ruang tari; 3) iringan tari; 4) judul tari; 5) tema tari; 6) tipe/jenis/sifat tari; 7) mode penyajian; 8) jumlah penari dan jenis kelamin; 9) rias dan busana; 10) tata cahaya; 11) properti tari dan perlengkapan lainnya. Untuk mengupas kreativitas Jonet Sri Kuncoro dalam karya tari Ambabar Batik menggunakan teori 4P’s dari Rhodes yang diungkapkan oleh Utami Munandar yaitu pribadi kreatif, pendorong kreatif, proses kreatif, serta produk kreatif. Hasil menunjukan Ambabar Batik merupakan pengungkapan dari ide yang diambil dari fenomena yang ada di Indonesia sebagi koreografi kelompok yang ditarikan sembilan penari. Koreografi yang tidak lepas dari kreativitas koreografer meliputi pribadi, pendorong dan proses kerja koreografer. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan tentang koreografi dan kreativitas tari Ambabar Batik karya Jonet Sri Kuncoro. Penelitian ini menggunakan metode pemelitian kualitatif deskriptif analitis. Simpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa pengungkapan bentuk koreografi tidak lepas dari kekuatan pengalaman koreografer sebagai sebuah bentuk kreativitas.Kata kunci: Ambabar Batik, Kreativitas, Koreografi, Jonet Sri Kuncoro.AbstractAmbabar Batik Dance is a group choreography that is inspired by Batik fabric. Problems taken are the elements of choreography Ambabar Batik Dance and the creativity of Jonet Sri Kuncoro in creating works of Ambabar Batik dance. The concept used to analyze the choreography of Ambabar Batik dance is the concept of SumandyoHadi, which is about the elements of group choreography which is divided into eleven elements, namely: 1) dance movement; 2) dance room; 3) dance accompaniment; 4) dance titles; 5) dance theme; 6) type / type / nature of dance; 7) presentation mode; 8) number of dancers and sexes; 9) dressing and dress; 10) lighting; 11) Dance properties and other equipment. To explore the creativity of Jonet Sri Kuncoro in Ambabar Batik dance work, using the 4P’s theory of Rhodes revealed by UtamiMunandar. That theory involves creative persons, creative booster, creative process, and creative product. The results show AmbabarBatik consists ideas taken from the phenomenon that exists in Indonesia as a choreographed group dance with nine dancers. There is choreography that cannot be separated from the creativity of the choreographer, including personal, choreographer and choreographer work process. This study aims to describe and explain about the choreography and creativity of Ambabar Batik dance by Jonet Sri Kuncoro. This research uses qualitative descriptive analytical method. The conclusion of this study shows that the disclosure of choreographic forms cannot be separated from the strength of the choreographer’s experience as a form of creativity.Keywords: Batik Ambabar, Creativity, Choreography, Jonet Sri Kuncoro.
MAKNA TEKS DRAMA TARI LANGEN CARITA JAKA TINGKIR Nanda Isa Fajarina; Sutarno Haryono
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.197 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2301

Abstract

AbstrakPenelitian DramaTari Langen Carita Jaka Tingkir bertujuan untuk mendiskripsikan makna Teks dan bentuk Drama Tari Langen Carita Jaka Tingkir. Penelitian inimenggunakan Konsep Pragmatik menurut Maryono dan konsep seni pertunjukan menurut maryono. Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dimanadi dalam metodeini bertujuan untuk memperoleh data sebanyak-banyaknya kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara mendalam, sehingga dapat memberikan gambaran dan pemaparan mengenai Mana Teks Drama Tari Langen Carita Jaka Tingkir. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa Drama Tari langen Carita Jaka tingkir memiliki sebuah mana teks karena didalamnya memiliki sebuah cerita yang mengandung makna nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai kehidupan tersebut diwujudkan dalam bentuk gerak, ekspresi, tembang dan juga dialog.nilai-nilai tersebut mampu diwujudkan dengan rasa melaui bentuk sajian Drama Tari langen Carita Jaka Tingkir. Drama Tari Langen Carita Jaka Tingir mampu mengungapkan sebuah rasa kegembiraan seorang anak yang sedang bermain dan menggelar langen Cerita dismping itu anak-anak tersebut mampu memberikan rasa gagah, berani dan berwibawa. Rasa tersebut dituang dalam sebuah tokoh Jaka tingkir, buaya dan juga prajurit. Dengan adanya sebuah makna teks Drama Tari Langen Carita Jaka tingkir diharapkan mampu memberikan sebuah pengajaran kepadapara generasi muda untuk lebih mencintai kebudayaan local atau cerita pahlawan local yang sekarang ini posisinya mulai tergantikan oleh perkembangan jaman.Kata kunci: Drama tari langen Carita Jaka Tingkir, Makna teks, bentuk.AbstractResearch DramaTari LangeJaka Tingkir aims to describe the meaning of the text and the form of dance Drama Langen Carita Jaka Tingkir. This research uses the Pragmatic Concept according to Maryono and the concept of performing arts according to maryono. Writing this thesis using qualitative research methods where in this method aims to obtain data as much as possible then analyzed and described in depth, so as to provide description and exposure of Mana Text Drama Dance Langen Carita Jaka Tingkir. Data collection techniques used are observation, interview and literaturestudy.The result of the research shows that the Dance Drama of Carita Jaka Tingkir has a text where because it has a story that contains the meaning of life values. Values of life is manifested in the form of motion, expression, song and also dialog. These values can be realized with a taste through the form of dish Dance Drama Dance Carita Jaka Tingkir. The Langen Carita Jaka Tingir Dance Drama is able to express a sense of joy of a child who is playing and deploying. The story of dismping children is able to give a sense of dashing, courage and dignity.The taste is poured in a character Jaka tingkir, crocodile and also the soldier. With the existence of a text meaning of Dance Drama Langen Carita Jaka tingkir is expected to give a teaching to the young generation to better love local culture or local hero story which is now its position began to be replaced by the development of the era.Top of FormKeywords: Drama Tari Langen Carita Jaka Tingkir, the meaning of text, form.
KREATIVITAS SUSIATI DALAM KARYA TARI LENGGASOR Fajar Sari, Putri Maylandani; Adnyana, I Nyoman Putra
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.784 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2306

Abstract

Tari Lenggasor merupakan karya tari kreasi Banyumasan yang berpijak pada Lengger Banyumasan dan tari Baladewa yang sudah dikembangkan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yaitu memberikan deskripsi atau gambaran dengan cara memaparkan data yang diperoleh dari lapangan mengenai koreografi tari Lenggasor, serta kreativitas Susiati dalam menyusun tari Lenggasor. Untuk menjawab permasalahan mengenai koreografi tari Lenggasor, dijelaskan menggunakan elemen-elemen dasar koreografi berdasarkan pendapat Sumandiyo Hadi. Selain itu untuk Kreativitas Susiati dijelaskan menggunakan konsep 4P yang dikemukakan Rhodes dikutip oleh Utami Munandar yaitu (1) Pribadi (person) (2) Pendorong (press) (3) Proses (process) (4) Produk (product). Pada kreativitas Susiati ini terdapat pembentukan gerak tari Lenggasor yang didalamnya menggunakan konsep effort-shape yang dilakukan penari. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kreativitas Susiati dalam karya tari Lenggasor banyak dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai penari maupun koreografer. Kreativitas tersebut diwujudkan dalam motif gerak yang terinspirasi dari gerak Lengger Banyumasan dan tari Baladewa yang sudah dikembangkan. Kemudian digarap menggunakan musik tari bernuansa Banyumas, sehingga muncul rasa Banyumasan yang khas. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu hasil kreativitas Susiati yang mengadopsi dari beberapa vokabuler gerak Lengger dan gerak tari Baladewa yang sudah dikembangkan.Kata kunci: Kreativitas, Lenggasor, Susiati.AbstractThe Lenggasor dance is a new creation of Banyumas style dance which is founded on and developed from Lengger Banyumasan and the Baladewa dance. This research uses a qualitative research approach with an analytical descriptive approach which presents a description of the data collected in the field about the choreography of the Lenggasor dance, and Susiati’s creativity in composing this new dance. In order to address the questions about the choreography of the Lenggasor dance, the basic elements of the choreography are explained using a concept introduced by Sumandiyo Hadi. In addition, Susiati’s creativity is explained using Rhodes’ 4P concept, quoted by Utami Munandar, which is (1) Person (2) Press (3) Process and (4) Product. Susiati’s creativity includes shaping the movements of the Lenggasor dance using the effort-shape concept performed by the dancers. The research results show that Susiati’s creativity in the Lenggasor dance is greatly influenced by her experience as a dancer and choreographer. Her creativity is realized in the motifs of movement that are inspired by the movements of Lengger Banyumasan and the Baladewa dance which she then develops further. These movements are accompanied by dance music with a Banyumas nuance, thus giving rise to a characteristic Banyumas flavour. The conclusion of the research is that Susiati’s creativity is the result of her adoption of a variety of vocabulary of movement from the Lengger and Baladewa dances which she develops further in this new dance.Keywords: Creativity, Lenggasor, Susiati.
KESENIAN KOBRO SISWO KOMUNITAS SINAR MUDA DESA SALAKAN KABUPATEN TEMANGGUNG (Kajian Holistik) Kiki Fatmawati; Sutarno Haryono
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.694 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2302

Abstract

AbstrakPenulisan Skripsi ini bertujuan untuk mengungkap kesenian Kobro Siswo komunitas Sinar Muda dari segi kritik seni holistik untuk mendeskripsikan dan menganalisa tentang : (1) faktor genetik, membahas mengenai latar belakang terbentuknya kesenian Kobro Siswo komunitas Sinar Muda (2) faktor objektif, membahas komponen verbal dan komponen non-verbal, mendeskripsikan menjelaskan hubungan komponen non-verbal dan verbal (3) faktor afektif, menjelaskan respon atau tanggapan penghayat (4) menjelaskan makna kesenian Kobro Siswo komunitas Sinar Muda. Bentuk penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kritik seni holistik. Teori yang digunakan untuk mengakaji kesenian Kobro Siswo komunitas Sinar Muda adalah : (1) Teori pragmatik untuk mengkaji komponen verbal dan koneksitas komponen verbal dan non-verbal, (2) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji komponen non-verbal dan verbal. Simpulan didapat berdasarkan analisis koneksitas faktor genetik, objektif, afektif. Kesenian Kobro Siswo komunitas Sinar Muda merupakan kesenian yang berfungsi sebagai hiburan dan media dakwah. Kesenian Kobro Siswo komunitas Sinar Muda memberikan pesan moral yaitu mengajarkan pentingnya menjadi manusia yang memiliki semangat pantang menyerah dan selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.Kata kunci: Kobro Siswo komunitas Sinar Muda, kritik seni holistik, pragmatik.AbstractThe aim of this thesis is to uncover the art of Kobro Siswo in the Sinar Muda community from a holistic art criticism perspective in order to describe and analyze: (1) the genetic factors, including a discussion of the background to the formation of the art of Kobro Siswo in the Sinar Muda community; (2) the objective factors, including a discussion of the verbal and non-verbal components and a description of the relationship between the verbal and non-verbal components; (3) the affective factors, including an explanation of the response or reaction of the audience; and (4) an explanation of the meaning of the art of Kobro Siswo in the Sinar Muda community. The form of the research is descriptive qualitative with a holistic art criticism approach. The theories used to study the art of Kobro Siswo in the Sinar Muda community are: (1) The theory of pragmatics to study the verbal component and the connection between the verbal and non-verbal components. (2) The theory of performing arts to study the verbal and non-verbal components. The conclusion is obtained based on an analysis of the connection between the genetic, objective, and affective factors, and shows that the art of Kobro Siswo in the Sinar Muda community is an art that functions both as entertainment and as a medium for religious proselytization. The art of Kobro Siswo in the Sinar Muda community present moral messages which teach about the importance of becoming a human being with a spirit that never gives up and always remembers Almighty God.Keywords: Kobro Siswo Sinar Muda community, holistic art criticism, pragmatic.

Page 1 of 1 | Total Record : 7