cover
Contact Name
Muhammad Nur Salim
Contact Email
denmassalim88@gmail.com
Phone
+6281392727084
Journal Mail Official
keteg@isi-ska.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/ktg
Core Subject : Art,
The journal is invited to the original article and has never been published in conjunction with another journal or conference. The publication of scientific articles is the result of research from both the external and internal academic communities of the Surakarta Indonesian Art Institute in the Karawitanologi discipline. The scope of distribution, Karawitan Education and Learning; Historical Study and Development of Karawitan; Study on Karawitan; Karawitan Organology Study; Karawitan Aesthetic Study; Karawitan Composition Study.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2016)" : 6 Documents clear
GENDING-GENDING TAYUB GAYA GROBOGAN: STUDI KASUS KELOMPOK KARAWITAN MADYO LARAS Sendang Ayu Puspasari; Djoko Purwanto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1446.198 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v16i1.1763

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada garap gending Tayub Gaya Grobogan khususnya yang disajikan olehkelompok karawitan Madyo Laras. Permasalahan yang dibahas adalah mengenai perkembangan dangarap musikal repertoar gending Tayub Grobogan kelompok karawitan Madyo Laras. Gending yangdisajikan oleh kelompok karawitan Madyo Laras adalah berbentuk lancaran, ketawang, ladrang, danlanggam, sedangkan gending kethuk kalih kerep jarang digunakan. Terdapat tiga pola jengglengan danpada setiap sajian Tayub terdiri dari dua gending yang disajikan berurutan biasa disebut walik gending.Saat ini kelompok karawitan Madyo Laras lebih banyak menyajikan gending Tayub yang disusunoleh para pengrawit setempat, misalnya nonton Tayub, bakul sayur, dhaster jingga dan sebagainya. Dalampenyajiannya, terdapat dua jenis garap Tayub yaitu alus dan gecul. Selain itu, ada juga garap khususuntuk bentuk gending-gending tertentu. Kekhasan dari garap Tayub Grobogan adalah pada garapinstrumen yaitu kendhang, irama, dan laya, dan garap-garap lain seperti bonang, balungan, ricikanstruktural.Kata kunci: perkembangan, garap, gending, tayub.
BEBERAPA PANDANGAN TENTANG TEMBANG MACAPAT D., Darsono
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.982 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v16i1.1765

Abstract

Tulisan ini berisi berbagai pandangan penulis berdasarkan pengalaman mengenai tembang macapat.Tembang macapat dapat dilihat dari berbagai macam aspek yang meliputi pengertian tembang danmacapat, fungsi sosial, ragam cengkok, ciri struktural, sandi asma, sasmita, jumlah tembang macapat,pathet, pencipta tembang macapat, watak tembang dan perkembangan musikal tembang macapat.Tembang macapat mempunyai struktur sebagai konvensi tradisi sebagai pengikatnya. Setiap tembangmacapat dan syair tembang memiliki berbagai ungkapan yang membawa fungsi sosial sebagai cerminperilaku pribadi dan masyarakat. Perkembangan tembang macapat dipengaruhi oleh berbagai situasizaman dan tahap musikal.Kata kunci: pandangan, tembang, macapat.
PERAN PAGUYUBAN MAREM DALAM PELESTARIAN KARAWITAN JAWA Wiwik Ernawati; Danis Sugiyanto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1849.376 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v16i1.1767

Abstract

Penelitian ini berisi deskripsi analisis peran paguyuban karawitan Marem di kampung Kemlayan dengansegala kegiatan dan karyanya dalam rangka pelestarian karawitan Jawa. Kampung Kemlayanmerupakan kampung yang terkenal sebagai kampung seniman karawitan di Surakarta. MarsudiRenaning Manah merupakan kepanjangan dari Marem, pada awal mula didirikan sebagai sarana untukmengisi waktu luang serta untuk hiburan, namun pada kenyataannya merupakan sebuah kegiatandalam melestarikan kesenian yang sudah menjadi warisan budaya dari leluhur agar kesenian tidakpunah akibat perkembangan zaman. Dalam perjalanannya Marem didirikan sebagai wadah paraseniman maupun para penikmat seni karawitan untuk bertukar pengalaman baik dalam garap gending,metode pelatihan pengajaran seni karawitan, hingga tempat belajar seniman dari berbagai negaratentang seni karawitan. Hasil deskriptif analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa paguyubanMarem memiliki peran dan andil dalam pelestarian karawitan Jawa. Paguyuban ini mengadakan latihanrutin dua kali seminggu dan mengikuti acara karawitan di Surakarta. Paguyuban ini juga membuatkarya ketika mengisi acara tertentu walaupun hanya dalam teks vokal. Selain itu paguyuban ini terbukadengan segala kalangan, dalam arti walaupun memiliki anggota tetap tetapi mau menerima seseorangatau sekelompok orang yang mau mengikuti latihan karawitan bersama. Bahkan paguyuban ini maumenjalin kerjasama dengan institusi yang bergerak dalam pelestaian kesenian karawitan Jawa.Paguyuban ini juga didukung oleh anggotanya dalam menjaga eksistensinya dalam upaya pelestariankarawitan Jawa.Kata kunci: Pelestarian, Karawitan Jawa, Peran, Paguyuban MAREM
SEKATEN DAN LEGITIMASI KEKUASAAN RAJA KARATON SURAKARTA Joko Daryanto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.146 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v16i1.1769

Abstract

Sekaten telah ada sejak zaman Demak yang berfungsi sebagai salah satu sarana penyebaran agamaIslam di Pulau Jawa. Ide penyebaran agama Islam dengan gamelan Sekaten dimunculkan oleh walisanga, sembilan pemimpin Islam penasehat Sultan Demak I (Raden Patah) pada abad ke -16.Penggunaan gamelan Sekaten sebagai sarana penyebaran agama Islam yang dimulai sejak zamanDemak mengalami pasang surut, artinya pada periode tertentu gamelan Sekaten tidak menampakkaneksistensinya. Setelah runtuhnya Demak, tidak ditemukan informasi yang jelas tentang keberadaangamelan Sekaten. Perjalanan Kasultanan Demak pasca keruntuhan akhirnya sampai pada masapemerintahan Sultan Agung, raja terbesar Mataram. Sultan Agung berusaha kembali menghidupkansimbol-imbol keagungan seorang raja, sejak saat itu gamelan Sekaten memiliki peran baru, yaitu sebagaipusaka kepraboning nata atau dengan kata lain sebagai salah satu alat legitimasi kekuasaan raja atausarana untuk memperkuat kedudukan seorang raja. Sampai pada masa Karaton Surakarta, raja-rajaSurakarta masih menggunakan Sekaten sebagai alat legitimasi kekuasaan. Bahkan dalam periodetertentu, penyelenggaraan Upacara Sekaten dilakukan secara besar-besaran. Penyelenggaraan upacaratradisi karaton yang dilaksanakan dengan secara besar-besaran sangat berkaitan dengan usahamenunjukkan kebesaran raja beserta perangkat pendukungnya. Dengan cara ini diharapkankewibawaan karaton serta kedudukan raja diakui oleh masyarakat. Melalui penyelenggaraan upacaraSekaten, kewibawaan Karaton Surakarta dapat ditunjukkan kepada masyarakat. Kebesaran sebuahupacara sangat berkaitan dengan kultus kemegahan, hal ini dikarenakan kultus kemegahan merupakansalah satu cara untuk menunjukkan kewibawaan raja Surakarta.Kata kunci: Sekaten, alat legitimasi kekuasaan raja, kultus kemegahan.
KOMPOSITORIS LAGU DOLANAN ANAK Sri Lestariningsih; R., Rusdiyantoro
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.586 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v16i1.1761

Abstract

Pengembangan musikalitas yang terjadi pada lagu dolanan adalah bentuk kreativitas yang patutdiapresiasi. Keberadaan musik gamelan dalam penyajian perkembangan lagu terjadi secarakompositoris, itu membuat lagu-lagu yang disajikan dalam bentuk gending tertentu, yaitu srepeg,ladrang, dan ketawang. Sayangnya itu tidak memperhitungkan kondisi anak. Perkembangan ini benarbenar membuat lagu tidak sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan kesehatan mental anak .Kata kunci: kompositoris, lagu, dolanan.
SUKON WULON DALAM TEMBANG MACAPAT: STUDI KASUS TEMBANG ASMARANDANA S., Suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.955 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v16i1.1771

Abstract

Tembang Jawa, baik tembang gedhé, tembang tengahan, maupun tembang macapat, masing-masing memilikiaturan sendiri-sendiri, baik lagu maupun teks. Bahasa tembang, dalam budaya Jawa disebut ‘basapinathok’, artinya bahasanya sudah ditentukan formatnya, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa tembang,seperti: gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Tembang Jawa telah mengalami perubahan yang cukupsignifikan, baik aturan guru gatra, guru lagu maupun guru wilangan, termasuk peng-golongan tembang.Girisa duhulu digolongkan tembang gedhé, sekarang digolongkan tembang tengahan. Gambuh dan Megatruhdahulu digolongkan tembang tengahan, sekarang digolongkan menjadi tembang macapat. Jumlah gatradalam tembang tengahan Balabak yang dahulu terdiri dari 4 gatra, sekarang menjadi 6 gatra. Perubahanguru lagu tembang Mijil pada gatra ke dua, dahulu jatuh é, sekarang o. Tembang Macapat Asmarandana,tepatnya di gatra ke tiga jatuhnya guru lagu bisa ‘è’ bisa ‘o’. Perlu ketahui bahwa diantara tanda atausimbol bunyi vokal dalam aksara Jawa, ada salah satu simbol bunyi yang terdiri dari dua tanda menyadisatu rangkaian, yaitu taling ( ) dan tarung ( ). Tarung tidak bisa berdiri sendiri, artinya tarung tanpataling tidak akan bisa berbunyi ‘o‘. Ketika menghendaki bunyi ‘o’ tidak bisa secara mandirimenggunakan tarung saja, maka taling tarung merupakan rangkaian tanda yang tidak dapat dipisahkanketika menghendaki bunyi ‘o’, dan tanda taling sangat berpengaruh besar terbentuknya bunyi ‘o’.Satu-satunya sandhangan yang terdiri dari dua tanda menjadi satu rangkaian hanya taling dan tarung.Oleh karena itu sangat logis bahwa vokal ‘o’ dapat digantikan dengan vokal ‘é’. Hal ini tidak menutupkemungkinan berlaku untuk tembang lain yang memiliki permasalahan yang sama. Perkembanganselanjutnya Asmarandana digunakan untuk båwå, yaitu: Båwå Langgam Sri Uning, Cengkir wungu, Babonangrem, Jaka lola dan lain sebagainya. Asmarandana menjadi gending, yaitu: ladrang Asmarandana larassléndro pathet manyura. Asmarandana juga digunakan untuk ada-ada sléndro nem dalam wayang klithik,untuk palaran, untuk cakepan sindhènan gendhing sekar, untuk cakepan géronganKata kunci: tembang, sukon wulon, dan cakepan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6