cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003" : 7 Documents clear
EFEK HORMON 17-a-METILTESTOSTERON TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN PELANGI IRIAN (Melanotaenia boesemani) [The effect of 17-a- Metiltestosteron hormon to the growth of Irian Rainbow fish {Melanotaenia boesemani)] Gadis Sri Haryani; Fachmijany Sulawesty
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v3i1.265

Abstract

Study on the effect of 17-oc-methyltestosterone treatment to the growth of rainbow fish (Melanotaenia boesemani) size 3.0 - 3.2 cm in length and 0.44 - 0.46 gram in weight was been done. The study showed that foodstuf with zeero, 3, 6 and 9 mghormone/kg have no difference significant to the growth (<0.05), food conversion, and survival rate. AbstrakPenelitian tentang pemberian hormon 17-a-metiltestosteron dengan dosis 0, 3, 6, dan 9 mg/kg pakan untuk memacu pertumbuhan ikan pelangi Irian (Melanotaenia boesemani) berukuran panjang 3,0 - 3,2 cm dan berat 0,44 - 0,46 gram telah dilakukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian honnon dengan dosis 0, 3, 6, dan 9 mg/kg pakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terliadap pertnmbuhannya (<0,05), begitu pula terhadap konversi makanan dan tingkat kelangsungan hidupnya.
PENGARUH PEMAPARAN Cd DAN Cu TERHADAP ABNORMALITAS SPERMATOZOA IKAN MAS (Cyprinus carpio, Linn) [The influence of Cd and Cu exposures to the abnormalities of common Carp (Cyprinus carpio, Linn) Sperm] Yanuarso Eddy Hedianto; Esi Lisyastuti; Erma Najmiyati; Yetty Yusri Gani
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v3i1.266

Abstract

To find the effect of heavy metals Cd or Cu to the abnormalities of common carp (Cyprinus carpio, Linn) sperm, Cd or Cu was exposed for 30 seconds to the fish semen obtained by stripping from matured fish in two seperated experiments. The abnormalities of sperm were 12.42; 22.00 and 32,67% for 25, 50 and 75 ppm of Cd, respectively and 15.50; 27.67 and 40.33% for 31, 62 and 93 ppm of Cu, respectively, compared to 2.83 - 3.33% in the control. The increase of 25 - 30 ppm in Cd or Cu content resulted in the increase of 10 - 12% of sperm abnormalities. Abstrak Suatu studi tentang pengaruh pemaparan Cd dan Cu terhadap abnormalitas spermatozoa ikan mas (Cyprinus carpio, Linn) telah dilakukan. Untuk melihat pengaruh pemaparan logam berat kadmium (Cd) dan tembaga (Cu) terhadap abnormalitas spermatozoa ikan mas (Cyprinus carpio, Linn) maka pada 2 percobaan terpisah telah dilakukan pemaparan logam berat kadmium (Cd) dan tembaga (Cu) terhadap semen ikan mas matang gonad. Hasil pemaparan menunjukkan bahwa rata-rata abnormalitas spermatozoa ikan mas menjadi 12,42; 22,00 dan 32,67% pada pemaparan dengan konsentrasi masing-masing 25, 50 dan 75 ppm Cd dan menjadi 15,50; 27,67 dan 40,33% pada pemaparan dengan masing-masing 31, 62 dan 93 ppm Cu selama 30 detik dibandingkan dengan abnormalitas pada semen segar sebesar 2,83 - 3,33%. Peningkatan kandungan Cd atau Cu menjadi 25 - 30 ppm di dalam air menyebabkan peningkatan abnormalitas spermatozoa sebesar 10 -12%.
PENGARUH KADAR VITAMIN E DALAM PAKAN TERHADAP KUALITAS TELUR IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) [Effect of dietary vitamin E on the egg quality of catfish (Pangasius hypophthalmus)] nFN Yulfiperius; Ing Mokoginta; Dedi Jusadi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v3i1.267

Abstract

This experiment was conducted to determine the effect of dietary vitamin E (VE) on the diet of catfish broodstock, Pangasius hypophthalmus on the egg quality. Four isonitrogenous (37.68-38.05% crude protein) and isocaloric (3066.66-3104.71 kcal digestible energy/kg of feed) practical diets contained either 28.08, 146.55, 189.65, or 251.80 mg VE/kg of feed, respectively, were applied the to catfish broodstock. The broodstock were cultivated in net cages held in earthen pond. Fishes were fed daily at 4% of body weight for 15 months using these diets. During feeding period, gonad maturation stage were examined, and egg ovulation was induced artificially. The vitamin E and the total lipid contents in the eggs produced were increase as the dosage of VE in the diet elevated. The vitamin E affected the gonad somatic index, fecundity, egg diameter, hatching rate, abnormal larvae, and total number of larvae produced. Fishes fed on diet containing 189.65 mg VE/kg of feed significantly produced the highest hatching rate (78.77%), total number of larva 332,339/kg of brood stock, and lowest abnormal larvae (0.19%). Supplementation 189.65 mg VE/kg of feed significantly improve the eggs quality of catfish. AbstrakPercobaan ini dilakukan untuk menentukan pengaruh dari vitamin E (VE) dalam pakan induk ikan patin, Pangasius hypophthalmus terhadap kualitas telurnya. Empat macam pakan yang digunakan yaitu yang mengandung protein relatif sama yaitu berkisar antara 37.68-38.05% dan kalorinya 3066.66-3104.71 kkal/kg pakan, kandungan VE yang digunakan dalam pakan secara berturut-turut antara lain 28.08, 146.55, 189.65, dan 251.80 mg VE/kg pakan. Induk dipelihara dalam jaring yang ditempatkan dalam kolam beton. Setiap liari ikan diberi makan sebanyak 4% dari berat tubuh untuk selama 15 bulan. Selama periode pemberian pakan, tingkat kematangan gonad diperiksa, dan pembuahan dilakukan secara buatan. Vitamin E dan kandungan lemak dalam telur yang dihasilkan meningkat sesuai dengan peningkatan dosis VE dalam pakan. Vitamin E mempengaruhi gonad somatik indek, fekunditas, diameter telur, laju penetasan, larva abnormal, dan jumlah total larva yang dihasilkan. Pakan yang mengandung 189.65 mg VE/kg pakan menghasilkan tingkat penetasan yang tinggi (78.77%), jumlah total larva 332,339 ekor/kg induk, dan larva abnormal terendah (0.19%). Penambahan 189.65 mg/kg pakan dapat meningkatkan kualitas telur ikan patin.
KEANEKARAGAMAN IKAN KARANG DI PERAIRAN LOMBOK TIMUR, NUSA. TENGGARA BARAT [Coral reef diversity in East Lombok, Nusa Tenggara Barat] M Akur Arifin; Fredinan Yulianda
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v3i1.268

Abstract

A study on reef fish diversity in Gili Lawang, Gili Sulat, and Gili Bidara, East Lombok, Nusa Tenggara Barat was conducted in September 2002 using Rapid Ecological Assessment method. This work studied member of species, distribution and general behaviour of reef fishes. During the observation we found 53 species from 17 families.AbstrakStudi tentang keanekaragaman ikan di Gili Lawang, Gili Sulat dan Gili Bidara, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat dilakukan pada bulan September 2002. Pengamatan terhadap ikan karang diiakukan dengan metode Rapid Ecological Assessment. Pengamatan ikan karang meliputi jenis, penyebaran dan pola hidup secara umum setiap famili. Selama penelitian telah diidentifikasi sebanyak 17 famili yang mencakup 53 spesies ikan karang.
PENGARUH PEMBERIAN SELULOSA DALAM PAKAN TERHADAP KONDISI BIOLOGIS BENIH IKAN GURAMI (Osphronemm gourami Lac) [Effect of sellulose in dietary on the biological condition of giant gouramy fry (Osphronemus gourami Lac)] Zulfa Yandes; Ridwan Affandi; Ing Mokoginta
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v3i1.269

Abstract

An experiment was conducted to evaluate the effect of different dietary level of cellulose on the biological condition such as protease activity in intestine (APU) and stomach (APL), intestine somatic index (ISI), intestine-body length ratio (PU/PT), the chemical composition of giant gouramy fry stomach-body weigh ratio (BL/BT), and growth rate (DGR), and of giant gouramy fry. Two isonitrogenous (41.942.2% crude protein) and isocaloric (3084.9-3128.9 kcal digestible energy/kg of feed) practical diets contained either 2.6% and 19.3% cellulose/kg of feed respectively, were fed to giant gouramy to giant gouramy fry. Types were fed on the experimental diet at satiation, three times daily for 60 days. Fish fry were placed in each aquarium (60 x 40 x 30 cm in size). The result showed that feed containing 19.3% of cellulose affected in proease activity in intestine (APU) and stomach (APL), intestine somatic index (ISI), intestine-body length ratio (PU/PT), stomach-body weigh ratio (BL/BT) (p<0.05) but it did not affect the specific growth rate (DGR) (p>0.05). AbstrakPercobaan dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian selulosa dalam pakan terhadap kondisi biologis yaitu aktivitas endoenzim (protease) di usus dan lambung (APU dan APL), intestine somatik indek (ISI), hepato somatik indek (HSI), rasio panjang usus/panjang tubuh (PU/PT), rasio berat lambung/berat tubuh (BL/BT), laju pertumbuhan harian (DGR) dan komposisi kimia tubuh benih ikan gurami. Dua macam pakan yang digunakan yaitu yang mengandung protein dan energi yang relatif sama yaitu berturut-turut 41.88-42.25% dan 3084.9-3128.9 kkal/kg pakan, dengan kandungan selulosa yang digunakan dalam pakan masing-masing adalah 2,6 % dan 19,3 %. Ikan di pelihara dalam akuarium dengan menggunakan sistem resirkulasi. Masing-masing akuarium diisi ikan sebanyak 50 ekor dengan bobot awal 0.6-0.8 gram. Selama pemeliharaan ikan diberi pakan sampai kenyang. Ikan diberi pakan tiga kali sehari yaitu pukul 8 pagi, 12 siang dan 4 sore. Setelah 60 hari pemeliharaan (pada akhir percobaan) dilakukan evaluasi pengaruh selulosa terhadap kondisi biologis benih ikan gurami yaitu APU dan APL, ISI, HSI, PU/PT, BL/BT, DGR dan komposisi kimia tubuh. Hasil percobaan menunjukan bahwa penambahan selulosa sebesar 19,3% dalam pakan memberi pengaruh terhadap APU, APL, ISI, HSI, PU/PT, dan BL/BT (P<0.05), namun tidak meningkatkan laju pertumbuhan benih ikan gurami (P>0.05).
PERKEMBANGAN LARVA IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis), SELAMA PROSES PENYERAPAN KUNING TELUR [Larval development of Humpback Grouper (Cromileptes altivelis), during absorption of yolk sac process] Usman B; CR Saad; R Affandi; MS Kamarudin; AR Alimon
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v3i1.270

Abstract

The newly hatched larva of humpback grouper, Cromileptes altivelis, had a yolk sac and an oil droplet. The average volume of the yolk sac was 0.15456 nm3, and the oil droplet was 0.00352 ^m3. The rates yolk sac and oil droplet absorption were very fast up to 33 hours after hatching (HAH), at which the remaining volumes of yolk sac and oil droplet were only 8.34% and 21.02% respectively. The yolk sac and oil droplet were totally absorbed when the larva reached 63 and 65 HAH. The average total length and height of the newly hatched humpback grouper larva are 1.865 mm and 0.460 mm respectively. At the completion of yolk sac absorption the average larval length and height increased to 2.54 mm, and 0.790 mm respectively. During this period, the development of its digestive system, eyes, mouth and pigments also occurred. The mouth opened before the yolk sac was totally depleted while the eye pigmen was not yet visible. AbstrakSuatu Kajian tentang perkembangan larva ikan kerapu bebek telah dilakukakn di laboraturium. Larva ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis, yang masih memiliki kuning telur dan butiran minyak digunakan sebagai hewan uji. Volume kuning telur dan butiran minyak masing-masing adalah 0,15456 ^m3 dan 0,00352 ^m3. Laju penyerapan kuning telur dan butiran minyak berlangsung sangat cepat mulai dari menetas sampai umur 33 jam setelah menetas, pada saat itu volume kuning telur dan butiran minyak hanya tinggal masing-masing sebesar 8,34% dan 21,02%. Kuning telur dan butiran minyak habis terserap pada saat larva berumur rata-rata 63 dan 65 jam setelah menetas. Rata-rata panjang dan tinggi larva ikan kerapu bebek yang baru menetas adalah 1,865 mm dan 0,460 mm. Panjang total dan tinggi larva rata-rata meningkat menjadi 2,54 mm dan 0,79 mm setelah kuning telur terserap habis. Selama periode tersebut, juga terjadi perkembangan saltiran peneernaan, mata, mulut dan pigmen. Mulut telah terbuka sebelum kuning telur habis terserap sedangkan pada saat tersebut pigmen mata masih belum tampak.
ASPEK REPRODUKSI IKAN SASAU (Hampala sp.) DAN IKAN LELAN (Osteochilus vittatus C.V.) 1)1 DANAU SINGKARAK [Reproduction aspects of sasau fish (Hampala sp.) and lelan fish (Osteochilus vittatus C.V.) in Singkarak Lake] Uus Uslichah; Hafrijal Syandri
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v3i1.271

Abstract

The aim of the study is to investigate the reproduction aspects of Hampala sp and Osteochilus vittatus', wich is relationship between weight and lengths, maturity of the gonad, gonado somatic index (GSI) and fecundity. The research conducted from April to July 1997. The 49 sample of Hampala sp 21 sample was females and 28 sample was males . The length of Hampala sp female ranged 310 -410 mm, the weight ranged 320 - 753 gram. The male Hampala sp is length ranged 170 - 355 mm, the weight ranged 115 - 504 gram. The growth pattern of both is “isometric”. The first matured gonad was found at of 310 -330 mm length for female and 200.84-231.67 mm for male. Gonado Somatic Index for female ranged from 2.95 % - 7.74 % and for male ranged from 2.21 % - 3.07 %. The total ranged 88,442 -143,617 eggs. Nisbi fecundity was 4057 eggs/ gram of gonado weight. The 38 sample of Osteochilus vittatus 27 sample was female, the length ranged from 162 - 283 mm and weight ranged from 381.1 — 315.0 gram, 11 male at length ranged from 145 -226 mm and weight ranged 25.4 - 135.9 gram. The growth pattern for Osteochilus vittatus both is “isometric” .The first matured of the gonad was at of 182.18 - 202.35 mm length for female and at 145.00 - 165.25 mm for male. Gonado Somatic Index was ranged from 11.26 % -61.14 % and 2.35 % -14.09 % for male and female. The total fecundity was ranged from 28,140 - 129,042 eggs/gram weight of gonad AbstrakTujuan penelitian adalah untuk mengetahui aspek reproduksi ikan sasau (Hampala sp) dan ikan lelan (Osteochilus vittatus C.V.) di Danau Singkarak yang meliputi hubungan bobot dengan panjang, tingkat kematangan gonad, indeks somatik gonad (1SG) dan fekunditas. Penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai dengan Juli 1997. Dari 49 ekor contoh ikan sasau diperoleh 21 ekor ikan betina dengan kisaran panjang antara 310 - 410 mm, bobot 320 - 753 gr dan 28 ekor ikan jantan dengan kisaran panjang dan berat masing-maisng antara 170 - 355 mm dan 115 sampai dengan 504 gr. Bentuk pertumbuhan ikan sasau baik jantan maupun betina bersifat “isometrik”. Ikan betina pertama kali matang gonad pada ukuran 310 - 330 mm dan ikan jantan pada ukuran panjang 200,84 - 231,67 mm. Indeks somatik gonad ikan sasau betina pada TKG IV berkisar dari 2,95% -7,74% dan ikan jantan berkisar dari 2,21% - 3,07%. Fekunditas mutlak ikan sasau betina yang berada pada TKG IV berkisar dari 88.442 -143.617 butir dan fekunditas nisbi adalah 4057 butir/gr bobot gonad Sedangkan dari 38 ekor contoh ikan lelan (O. vittatus) diperoleh 27 ekor ikan lelan dengan panjang total berkisar 162 - 283 mm dan bobot 38,1 - 315,0 gr dan 11 ekor ikan jantan dengan panjang total berkisar 145 - 226 mm dan bobot 25,4 - 135,9 gr. Bentuk pertumbuhan ikan lelan jantan dan betina bersifat “isometrik”. Ikan lelan betina pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 182,18 - 202,35 mm dan ikan jantan pada ukuran 145,00 sampai dengan 165,25 mm. Indeks somatik gonad ikan lelan betina berkisar dari 11,26% - 16,14% dan ikan jantan berkisar 2,35% - 14,09%. Fekunditas mutlak ikan lelan betina pada TKG IV berkisar dari 28.140 - 129.042 butir dan fekunditas nisbi adalah 2010 butir/gr bobot gonad.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue