cover
Contact Name
nuryani
Contact Email
nuryanigz@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
gjph.ug@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Gorontalo Journal of Public Health
Published by Universitas Gorontalo
ISSN : 26145057     EISSN : 26145065     DOI : https://doi.org/10.32662/gjph.v6i1.3035
Core Subject : Health,
Gorontalo Journal of Public Health (GJPH) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo. GJPH terbit dua kali dalam setahun yakni pada bulan April dan Oktober. Jurnal ini menerima tulisan ilmiah berupa laporan penelitian dengan fokus dan Scope meliputi: 1. Epidemiologi; 2. Biostatistik; 3. Pendidikan dan Promosi Kesehatan; 4. Kesehatan Lingkungan; 5. Kesehatan dan Keselamatan Kerja; 6. Administrasi Kebijakan Kesehatan; 7. Manajemen Rumah Sakit; 8. Gizi Kesehatan Masyarakat; 9. Kesehatan Reproduksi
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " VOLUME 2 NOMOR 1, APRIL 2019" : 5 Documents clear
Kajian Antrian Pelayanan Pendaftaran Pasien BPJS di Rumah Sakit Heryana, Ade; Mahadewi, Erlina Puspitaloka; Ayuba, Iyan
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 2 NOMOR 1, APRIL 2019
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.647 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v0i0.462

Abstract

Abstract The enhancement of patient’s visit to hospital led to the increasing of length of queue particularly at registration division. This condition made the long duration of waiting time for patients. Hospital’s management should manage the patients queue especially for the period of bottle neck condition. This operation research reviewed the patients queue at existing outpatient registration service system and proposed the optimal system based on queuing theory and trade-off analysis of cost of service and cost of waiting. Cross-sectional data applied to collect the patient’s arrival rate, service time for every server, waiting cost, and queue related behavior. Result of this study suggested that existing system was non-steady state system and not optimum based on trade-off analysis. Patients who came at least 08.00 am should serve with 2 servers of queue number service, and 6 servers of outpatient registration. Whereas patients who came after 08.00 am should serve with 1 servers of queue number service, and 2 servers of outpatient registration. This study recommended the range of patient’s arrival and service rate that the describe viability of optimum system. This study suggested hospital’s management should be focus on manage the patient arrival at early morning with applied the suitable queue management technology to controlling the registration waiting line.AbstrakPeningkatan kunjungan pasien ke rumah sakit menyebabkan antrian pasien khususnya pada pelayanan rawat jalan bertambah. Kondisi ini menyebabkan waktu tunggu pelayanan menjadi lama. Manajemen rumah sakit sebaiknya mengelola antrian pasien terutama pada pelayanan yang mengalami hambatan (bottle neck). Penelitian operasional ini bertujuan mengkaji antrian pasien pada sistem pelayanan pendaftaran rawat jalan dan merekomendasikan sistem yang optimal berdasarkan analisis dengan teori antrian dan trade-off antara biaya pelayanan dengan biaya menunggu per pasien. Pengumpulan data secara potong lintang untuk mengetahui tingkat kedatangan pasien, tingkat pelayanan tiap loket pelayanan, dan perilaku pasien saat mengantri. Hasil penelitian menunjukkan sistem pelayanan yang ada saat ini dalam kondisi tidak steady state dan tidak optimum berdasarkan analisis trade-off. Direkomendasikan untuk mengoperasikan 2 loket pengambilan nomor antrian dan 6 loket pendaftaran rawat jalan bagi pasien yang datang sebelum jam 08.00, serta mengoperasikan 1 loket pengambilan nomor antrian dan 2 loket pendaftaran rawat jalan bagi pasien yang datang setelah jam 08.00. Pada studi ini peneliti juga merekomendasikan rentang tingkat kedatangan pasien dan tingkat pelayanan yang dapat diterapkan untuk sistem yang optimal. Disarankan agar manajemen rumah sakit memfokuskan pengelolaan kedatangan pasien dan antrian pasien pada pagi hari, dengan menerapkan teknologi pengelolaan atrian yang sesuai.
Kurang Energi Kronis pada Wanita Usia Subur di Wilayah Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo Paramata, Yeni; Sandalayuk, Marselia
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 2 NOMOR 1, APRIL 2019
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.081 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v2i1.390

Abstract

Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Pada tahun 2013 berdasarkan data riset kesehatan dasar prevalensi KEK di kabupaten Gorontalo sebesar 12,5% pada wanita usia 15-49 tahun yang sedang hamil dan 15,1% pada wanita usia 15-49 tahun yang tidak hamil. Untuk mencegah risiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan, wanita usia subur (WUS) sudah harus mempunyai gizi yang baik, misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm. Berdasarkan permasalahan diatas penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan kejadian kurang energi kronik pada wanita usia subur (15-49 tahun) di kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan  di kelurahan Tilihuwa, dengan jumlah sampel sebanyak 162 WUS usia 15-49 tahun yang dipilih secara Accidental sampling. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kejadian KEK terbanyak pada kelompok Wanita Usia 15-24 tahun yaitu 13 orang (81,3%), tingkat pendidikan hanya tamatan SD yaitu 7 orang (43,8%), status pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga saja yaitu 10 orang (62,5%) dan seluruhnya yang menderita KEK tidak sedang hamil yaitu 16 orang (100%). Untuk mengurangi risiko KEK pada Wanita Usia Subur agar lebih memperhatikan kesehatan dan konsumsi makanan bergizi terutama pada kelompok usia remaja.
Profil Protein Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy) Sebelum dan Sesudah Penggaraman Berbasis SDS-PAGE Suardi, Suardi; Mukarromah, Ana Hidayanti; Ethica, Stalis Norma
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 2 NOMOR 1, APRIL 2019
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjph.v2i1.481

Abstract

Fish is a potential source of animal protein, but has a weakness that is easy to rot. To avoid decay can be preserved by salting the fish. In this study wet salting was carried out to analyze the effect of salting on fish protein. The sample used was a type of gourami with 5 tails. 1 for the sample before salting and 4 for salting each salted at 10, 20, 30 and 40% b/v after that it was left to stand for 12 hours. The research method used was the Gel Electrophoresis method (SDS-PAGE) to determine molecular weight (MW), looking at the purity and damage of proteins in the sample. The samples of gouramy before salting showed 16 bands, 8 major bands and 8 minor ribbons. Samples of gouramy with a salt concentration of 10% b/v showed 16 bands, 7 major bands and 9 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 20% b/v showed 14 bands, 7 major bands and 7 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 30% b/v showed 10 bands, 3 major bands and 7 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 40% b/v showed 9 bands, 3 major bands and 6 minor bands. Thus it can be concluded that salting of fish can affect the gouramy protein, which is the higher the salt content added, the protein found in the fish will be denatured. The salting process of 10% b/v in gouramy meat is the most recommended salting process compared to the salting process of 20, 30 and 40% b/v.Ikan merupakan sumber protein hewani yang potensial, namun memiliki suatu kelemahan yaitu mudah membusuk. Untuk menghindari pembusukan dapat dilakukan pengawetan dengan penggaraman pada ikan. Pada penelitian ini dilakukan penggaraman basah untuk menganalisis pengaruh penggaraman terhadap protein ikan. Sampel yang digunakan adalah jenis ikan gurami sebanyak 5 ekor. 1 ekor untuk sampel sebelum penggaraman dan 4 ekor dilakukan penggaraman masing-masing digarami dengan kadar 10, 20, 30 dan 40% b/v setelah itu didiamkan selama 12 jam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Elektroforesis Gel (SDS- PAGE) untuk menentukan berat molekul (BM), melihat kemurnian dan kerusakan protein pada sampel. Pada sampel ikan gurami sebelum penggaraman menunjukkan 16 pita, 8 pita mayor dan 8 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 10% b/v menujukkan 16 pita, 7 pita mayor dan 9 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 20% b/v menunjukkan 14 pita, 7 pita mayor dan 7 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 30% b/v menunjukkan 10 pita, 3 pita mayor dan 7 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 40% b/v menunjukkan 9 pita, 3 pita mayor dan 6 pita minor. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggaraman pada ikan dapat berpengaruh terhadap protein ikan gurami yaitu makin tinggi kadar garam yang ditambahkan maka protein yang terdapat pada ikan akan terdenaturasi. Proses penggaraman 10% b/v pada daging ikan gurami merupakan proses penggaraman yang paling disarankan dibandingkan proses penggaraman 20,30 dan 40% b/v.
Profil Protein Lima Jenis Daging yang Direndam Daun Pepaya Berbasis SDS-PAGE Susanti, A.Meryam; Darmawati, Sri; Maharani, Endang Tri Wahyuni
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 2 NOMOR 1, APRIL 2019
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjph.v2i1.482

Abstract

Meat is an important food for fulfill nutritional needs, many of meats are consumed as a source of highest quality nutrition for humans, especially as a source of protein. Papaya leaves contain the enzyme papain (a protase enzyme that can hydrolyze proteins), so that it can be used to soften meat. The purpose of this study was to look at an overview of protein profiles in five types of meat, namely goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which were soaked in papaya leaves. The protein profile of five types of meat was analyzed using the SDS-PAGE 12% method. The results showed that the control meat of goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which were not soaked in papaya leaves showed that there were many major protein bands compared to minor protein bands. Whereas in goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which have been soaked in papaya leaves, the results were different compared to the control, there were many minor protein bands. While the major bands only have 6 to 9 protein bands. Based on these results indicate that immersion with the enzyme papain contained in papaya leaves can break down peptide bonds, if it works on meat it can be broken down so the meat becomes tender and protein bands in the form of micromolecules.Daging merupakan bahan pangan yang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi, banyak dikomsumsi sebagai sumber nutrisi yang berkualitas bagi manusia terutama sebagai sumber protein. Daun pepaya mengandung enzim papain (enzim protase yang dapat menghidrolisa protein), sehingga dapat digunakan untuk melunakkan daging. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran profil protein pada lima jenis daging yaitu daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang direndam daun pepaya. Profil protein lima macam daging dianalisis menggunakan metode SDS-PAGE 12%. Hasil penelitian menunjukkan pada daging kontrol yaitu daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang tidak direndam daun pepaya menunjukkan terdapat banyak pita protein mayor dibandingkan pita protein minor. Sedangkan pada daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang telah direndam daun pepaya menunjukkan hasil yang berbeda dibandingkan dengan kontrol yaitu pada semua daging terdapat banyak pita protein minor. Sedangkan pita mayor hanya terdapat 6 sampai 9 pita protein saja. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa perendaman dengan enzim papain yang terdapat dalam daun pepaya dapat memecah ikatan peptida, jika bekerja pada daging dapat diuraikan sehingga daging menjadi empuk, dan pita protein berbentuk mikromolekul.
Analisis Waktu Tunggu Pelayanan Poliklinik Paru di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang Mahadewi, Erlina Puspitaloka; Heryana, Ade; Kurniawati, Yatmi; Ayuba, Iyan
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 2 NOMOR 1, APRIL 2019
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.658 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v2i1.463

Abstract

Service queue is a clasically service problem at hospital. The conotation of patient queue both positive and negative. When the patients more prefer to our services, it’s a positive matter. But when patients forced to waiting the service because the length of service time, it’s a negative matter. It’s suggested that the increasing of inpatients service affected to outpatients, because doctors who served often late to outpatient services room. This condition led to patient’s unsatisfaction due to unappropriateness of service time standards. This study aimed to analyze the determinants of length of outpatient services waiting time who served by pulmonologist at general hospital Tangerang City. Qualitative design was held to get deepest information about length of pulmologist service time. Five informants were recruited i.e outpatient service coordinator, nurse, pulmonologist, and two patients who complained to length of waiting time. Result there were conditions that affected the length of service time i.e lack of nurse skill particularly in spirometre operation, inadequately amount of chair at waiting room and trobleshooting of information system, unavailable of service procedure that led to imprecise of newly patient service, working condition wasn’t support to pulomonogist service i.e inpatient service activity. It’s suggested to complete with procedure operation standard and enhance infrastructure budget to update the information system and the addition of chairs at waiting room.pelayanan rawat jalan akibat petugas terlambat datang ke poliklinik. Hal ini berdampak pada ketidakpuasan pasien karena ketidaksesuaian dari standar yang telah ditetapkan. Atas dasar itulah maka menarik untuk diadakan penelitian tentang faktor penyebab lamanya waktu tunggu pelayanan rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab lamanya waktu tunggu pasien di Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Penyakit Paru RSUD Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan mendapatkan informasi yang lebih aktual dan akurat mengenai faktor penyebab lamanya waktu tunggu di Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Paru RSUD Kota Tangerang. Informan terdiri dari informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Gambaran penyebab lamanya waktu tunggu pelayananan di bagian Instalasi Rawat Jalan dalam pelayanan di Poliklinik Paru RSUD Kota Tangerang, yaitu: perawat masih memerlukan pelatihan dan pengembangan dalam mengoperasikan alat spirometri, fasilitas ruang tunggu yaitu kursi yang masih belum mencukupi dan program SIMRS (system infromasi manajemen Rumah Sakit) yang harus lebih baik lagi untuk menunjang kegiatan di pelayanan poliklinik paru, prosedur pemberian pelayanan masih belum lengkap, SOP (Standar Operasional Prosedur) alur pelayanan belum ditetapkan, sehingga pada pasien baru sering terjadi salah prosedur, tingginya jumlah tindakan pasien paru rawat inap menyebabkan lamanya pelayanan. Saran sebaiknya manajemen rumah sakit melengkapi SOP pada instalasi rawat jalan, penambahan anggaran terkait pembaharuan SIMRS dan penambahan fasilitas tempat duduk pasien.

Page 1 of 1 | Total Record : 5