cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017" : 11 Documents clear
Cover Belakang JPBKP Vol. No. 12 No. 1 Cover Belakang
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.382

Abstract

Karakteristik dan Aktivitas Antioksidan Sabun Padat Transparan yang Diperkaya dengan Ekstrak Kasar Karotenoid Chlorella pyrenoidosa Ni Wayan Sri Agustini; Agustina H. Winarni
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.379

Abstract

AbstrakSabun berfungsi membersihkan kulit, tidak merusak kulit serta mampu melindungi kulit dari efek radikal bebas. Senyawa yang mampu menangkal radikal bebas adalah antioksidan yang antara lain bersumber dari Chlorella pyrenoidosa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar karotenoid C. pyrenoidosa yang diformulasikan pada sabun padat transparan dan karakteristik sabun yang dihasilkan. Konsentrasi ekstrak kasar karotenoid yang digunakan adalah 5%, 10% dan 15%. Sabun padat transparan dibuat dengan metode setengah panas (semi-boiled). Evaluasi sediaan meliputi warna, kekerasan sabun, pH, kadar air, asam lemak bebas, lemak tidak tersabunkan, aktivitas antioksidan dan daya stabilitas sabun pada penyimpanan suhu 25-30 °C dan 60 °C selama 3 minggu. Hasil studi menunjukkan bahwa sabun padat transparan yang mengandung ekstrak kasar karotenoid sebanyak 5%, 10%, dan 15% memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 66,42 µg/ml, 59,18 µg/ml, dan 10,21 µg/ml. Sabun padat transparan dengan kandungan ekstrak kasar karotenoid sebanyak 5% berwarna kuning neon carrot, ekstrak 10% berwarna kuning pizzaz dan ekstrak 15% berwarna kuning pumpkin. Seluruh sabun beraroma lemongrass. Sabun padat transparan memiliki nilai pH sebesar 9,31-10,47, kadar air 14,45-16,28%, kekerasan sabun 1,40-1,81 mm/detik, jumlah asam lemak bebas 0,42-0,68% dan lemak tidak tersabunkan 1,79-1,84%. Berdasarkan hasil uji stabilitas, sabun tahan disimpan dalam suhu kamar selama 2 tahun, karena sabun relatif stabil pada penyimpanan suhu 60 °C selama 3 minggu. Characteristics and Antioxidant Activity from Transparent Solid SoapEnriched with Carotenoid Crude Extract of Chlorella pyrenoidosaAbstractSoap was used to clean the skin but not damage the skin and able to protect skin from free radical effect. The compounds that could counteract free radical are antioxidants which can be found in  Chlorella  pyrenoidosa. The aims of this research were to determine the characteristic of soap and the antioxidant activity of C. pyrenoidosacarotenoids crude extract that was formulated in transparent solid soap. The carotenoid crude extract concentrations were 5%, 10%, and 15%. The transparent solid soap was made using semi-boiled methods. The transparent solid soap were evaluated for color, soap solidity, pH, water content, free fatty acid content, unsaturated fatty acid content, antioxidant activity and soap stability at 25-30 °C and 60 °C in 3 weeks storage. The study showed that transparent solid soaps containing 5%, 10% and 15% carotenoid crude extracts had antioxidant activity with IC50 value of 66.42 µg/ml, 59.18 µg/ml and 10.21 µg/ml respectively. Transparent solid soap with 5% carotenoid extract appeared in neon carrot yellow color, 10% extract appeared in pizzaz yellow color and 15% extract apperared in pumpkin yellow color. Soaps had lemongrass odor. Transparent solid soap had pH value of 9.31-10.47, water content of 14.45-16.28%, soap hardness of 1.40-1.81mm/sec, amount of free fatty acid 0.42-0.68% and unsaponified fat 1.79-1.84%. Based on the stability test results, the soap could be stored for 2 years at room temperature because the soap was relatively stable at storage temperature of 60 °C for 3 weeks.
Preface JPBKP Vol. 12 No. 1 Preface Preface
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.386

Abstract

Kandungan Gizi Gonad dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Cangkang Bulu Babi (Diadema setosum) Hadinoto, Sugeng; Sukaryono, Ignacius Dhani; Siahay, Yessy
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.281

Abstract

AbstrakDiadema setosum merupakan salah satu jenis bulu babi yang mempunyai nilai ekonomis. Bagian tubuh yang dikonsumsi adalah gonadnya. Organisme ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan bergizi karena gonadnya mengandung asam amino, vitamin B kompleks, vitamin A, mineral, asam lemak omega-3, dan omega-6. Cangkang bulu babi diketahui memiliki potensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi gonad bulu babi (D. setosum)  dan aktivitas antibakteri ekstrak cangkang bulu babi (D. setosum). Sampel gonad D. setosum berasal dari perairan desa Liang, Waai dan perairan desa Sila Kabupaten Maluku Tengah sedangkan cangkang yang diekstrak diambil dari bulu babi asal desa Sila. Kandungan gizi gonad bulu babi ditentukan melalui analisis proksimat dengan metode AOAC, sedangkan aktivitas anti bakteri diuji terhadap ekstrak metanol, etil asetat dan khloroform cangkang bulu babi dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gonad D. setosum dari ketiga lokasi penelitian tersebut berturut-turut mengandung air  (72,24±0,02; 71,95±0,05 dan  77,56±0,02)%; abu  (11,7±0,09 dan 11,32±0,04)%bk; lemak (3,21±0,20; 3,49±0,12 dan 10,51±0,07)%bk; protein (44,8±0,36; 47,66±0,21 dan 64,93±0,96)%bk. Ekstrak cangkang memberikan efek antibakteri terhadap Eschericia coli, Salmonella sp. dan Bacillus cereus dengan zona hambat terhadap masing-masing bakteri dari ekstrak dengan pelarut metanol, yaitu : (1,84±0,05 mm; 1,84±0,03 mm dan 2,65±0,02 mm); pelarut etil asetat, yaitu (14,18±0,02 mm; 1,65±0,03 mm dan 14,49±0,03 mm); dan pelarut kloroform (0,64±0,08 mm; 8,98±0,03 mm dan 3,77±0,14 mm).  Nutrition Content of Sea Urchin (Diadema setosum) Gonad and Antibacteria Activities of its Shell ExtractsAbstractDiadema setosum is one species of sea urchins that have economic value. The body part of sea urchins that is commonly consumed is its gonad. This organism can be used as a source of nutritious food because it contains amino acids, vitamin B complex, vitamin A, minerals, omega3 and omega-6 fatty acids. The shell of sea urchins also known as an antibacterial agent. This study aims to determine the nutritional content of D. setosum gonad and antibacterial activity of D. setosum shells extract. The sample of D. setosum gonad was collected from Liang, Waai and Sila Village waters in Central Maluku Regency. Whereas, the shells was derived from the sea urchin from Sila Village. The nutritional contents of sea urchin gonad were determined by a proximate analysis with AOAC method. The antibacterial activity was tested against methanol, ethyl acetate and chloroform extract of sea urchin shell through agar diffusion method. The results showed that the gonad of D. setosum from the three study sites contained of water content (72.24±0.02; 71.95±0.05 and 77.56±0.02)%, ashes (11.7±0.09; 7.34± 0.14 and 11.32±0.04)% db, lipid (3.21±0.20; 3.49±0.12 and 10.51±0.07)% db and protein ( 44.8 ± 0.36; 47.66 ± 0.21 and 64.93 ± 0.96)%db. The shell extract showed the antibacterial effect against Escherichia coli, Salmonella sp. and Bacillus cereus the inhibition zone of each tested bacterial was different, as shown in methanol extract (1.84±0.05 mm; 1.84±0.03 mm and 2.65±0.02 mm), ethyl acetate extract (14.18±0.02 mm; 1.65±0.03 mm and 14.49±0.03 mm) and chloroform extract (0.64±0.08 mm; 8.98±0.03 mm and 3.77±0.14 mm).
Karakteristik Emulsi Beberapa Fraksi Gelatin dari Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Suryanti Suryanti; Djagal Wiseso Marseno; Retno Indrati; Hari Eko Irianto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.331

Abstract

AbstrakFraksinasi ekstrak gelatin dari kulit ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan kantong dialisis MWCO 100 kD telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik emulsi dari fraksi gelatin yang diperoleh melalui proses asam asetat 0,10 M (GAs) dan asam sitrat 0,05 M (GSi). Fraksi gelatin GAs yang diperoleh memiliki distribusi berat molekul  13,6-218,87 kD dan 15,27-61,1 kD sedangkan fraksi gelatin GSi sebesar 107,5-142,23 kD dan 12,5-82,9 kD. Gugus fungsional molekul dari keempat fraksi gelatin tersebut terdiri dari amida I (1648 cm-1), amida II (1452 cm-1) dan amida III (1089 cm-1). Karakteristik emulsi yang meliputi sifat emulsi (aktivitas dan stabilitas emulsi) serta ukuran partikel emulsi semakin meningkat dengan semakin meningkatnya berat molekul. Zeta potensial droplet emulsi gelatin dari proses asam sitrat 0,05 M (GSi) lebih banyak bermuatan ion positif daripada proses asam asetat 0,10 M(GAs). Emulsi yang terbentuk dari fraksi GAs dan GSi pada konsentrasi 0,1% termasuk dalam makroemulsi dengan ukuran droplet >100 nm dan stabilitas mencapai 22,62 menit yang dapat diaplikasikan pada produk pangan seperti whipping cream, salad dressing dan mayonnaise. The Emulsion Characteristic of Gelatin Fraction from Tilapia (Oreochromis niloticus) SkinAbstractFractionation of gelatin extract from tilapia (Oreochromis niloticus) skin was done by using dialysis bag of MWCO 100 kD. The aim of this research was to determine the emulsion characteristics of gelatin fraction from the process of 0.10 M acetic acid (GAs) and 0.05M citric acid (GSi). Gelatin GAs fraction has a molecular weight distribution of 13.6 to 218.87 kD and 15.27 to 61.1 kD while gelatin GSI fraction of 107.5 to 142.23 kD and 12.5 to 82.9 kD. Functional groups of the four fractions of gelatin molecules consist of amide I (1648 cm-1), amide II (1452 cm-1) and amide III (1089 cm1 ). Emulsion characteristics including the emulsion properties (activity and stability of emulsion) and particle size emulsion increased with the increasing of molecular weight. Zeta potential of emulsion droplet gelatin from 0.05M citric acid (GSi) method produced more positively charged ions than 0.10 M acetic acid process (GAs). Emulsion created by 0,1% GAs and GSi fraction was refer to macroemulsion with droplet size >100 nm and stability 22.62 minutes, which could be applied for food product such as ice cream, whipping cream and salad dressing.
Keberadaan Dan Multiresistensi Antibiotik Salmonella spp. dari Produk Perikanan Segar di Wilayah DKI Jakarta dan Bogor Yusma Yennie; Rizky Aulia; Tri Handayani K
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.345

Abstract

AbstrakSalmonella spp. pada produk perikanan dilaporkan cukup tinggi prevalensinya dan erat kaitannya dengan kasus kejadian luar biasa (KLB) seperti demam, mual, muntah dan diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi Salmonella spp. pada produk perikanan segar yang terdiri dari 110 sampel udang, 23 sampel ikan, 4 sampel cumi-cumi, dan 4 sampel kerang serta resistensinya terhadap antibiotik. Sampel diperoleh dari pasar tradisional dan modern di 5 wilayah kotamadya DKI Jakarta dan kota Bogor dengan metode purposive random sampling yang dilakukan dalam kurun waktu Maret 2013-Oktober 2014. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi Salmonella spp. pada hasil perikanan segar adalah sebesar 32% (45/141 sampel). Untuk uji resistensi antibiotik diketahui bahwa isolat Salmonella spp. resisten terhadap minimum 1 jenis antibiotik yaitu 31% resisten terhadap erythromycin, 11% terhadap amoxicillin clavulanic acid, 4% terhadap tetracycline, dan 2% terhadap doxycycline serta nalidixic acid. Satu isolat Salmonella spp. dari sampel kerang, diketahui resisten terhadap 4 jenis antibiotik (multidrug resistance) yaitu tetracycline, erythromycin, nalidixic acid,dan amoxicillin clavulanic acid. Sementara itu, 1 isolat Salmonella spp. resisten terhadap 3 jenis antibiotik (tetracycline, erythromycin dan amoxicillin clavulanic acid) dan 2 isolat resisten terhadap 2 antibiotik (erythromycin dan amoxicillin clavulanic acid). Prevalensi dan multi resistensi Salmonella spp. pada produk perikanan segar ini menunjukkan bahwa peluang kontaminasi bakteri tersebut pada bahan pangan yang umum dikonsumsi masyarakat cukup besar dan hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada konsumen. Occurrence and Multidrug Resistance of Salmonella spp. Isolated from Fresh Seafood Products in DKI Jakarta and BogorAbstractHigh incidences of Salmonella spp. in seafood have been reported worldwide in association with outbreaks of fever, nausea, vomiting and diarrhea. This study aimed to identify prevalence and antibiotic resistance of Salmonella isolated from fresh seafood samples, consisting of 110 samples of shrimp, 23 samples of fish, 4 samples of cephalopoda and 4 samples of shellfish. The samples were collected with purposive random sampling method from selected local market in DKI Jakarta and Bogor (West Java), Indonesia during March 2013 until October 2014. The prevalence of Salmonella was 32% (45/141 samples) in fresh seafood products. The isolates were resistant to at least one antibiotic, 31% of erythromycin, 11% of amoxicillin clavulanic acid, 4% of tetracycline, and 2% of nalidixic acid. One isolate from bivalvia sample possessed multidrug resistance from four antibiotic agents (tetracycline, erythromycin, nalidixic acid and amoxicillin clavulanic acid). One isolate was resistant to 3 antibiotic agents (tetracycline, erythromycin and amoxicillin clavulanic acid) and two isolates were resistant to 2 antibiotic agents (erythromycin and amoxicillin clavulanic acid). The result showed that the fresh seafood samples from local market in Jakarta and Bogor were contaminated with potentially pathogenic Salmonella and could threat a public health.
Optimasi Rasio Air dan Bahan Yang ditambahkan pada Pembuatan Pupuk Organik Granul dari Tepung Rumput Laut Sargassum sp. Putri Wullandari; Zaenal Arifin Siregar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.248

Abstract

AbstrakTelah dilakukan pembuatan pupuk organik granul dari tepung rumput laut Sargassum sp. dengan menggunakan granulator hasil rancang bangun Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio air dan bahan yang tepat dalam proses pembuatan pupuk granul sehingga menghasilkan rendemen pupuk organik granul tertinggi dan mengetahui kualitas pupuk yang dihasilkan. Metode granulasi yang digunakan yaitu metode granulasi basah (wet granulation). Bahan yang digunakan yaitu tepung rumput laut Sargassum sp., kapur pertanian, dan air. Variasi rasio air dengan bahan (tepung rumput laut Sargassum sp. dan kapur pertanian) yaitu 10:30, 11:30, 12:30, dan 13:30 (ml air/g bahan). Pupuk organik granul dengan rendemen tertinggi yang terpilih kemudian dianalisa kandungan hara makro, C organik, kadar air, kadar hara mikro, dan logam berat. Sebagai pembanding digunakan pupuk organik komersial. Rendemen pupuk organik granul yang sudah diayak menunjukkan nilai tertinggi sebesar 26,43% pada rasio air : bahan sebesar 12:30. Kadar C organik pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik granul komersial berturut-turut adalah 15,1% dan 20,2% dengan rasio C/N berturut-turut adalah 18,41% dan 3,10%. Kadar air pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik granul komersial berturut-turut adalah 19,47% dan 13,79%. Kadar timbal (Pb) pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik granul komersial berturut-turut adalah kurang dari 0,04 ppm, dan 6,20 ppm sedangkan kadar Fe total pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik komersial berturut-turut adalah 8.031 ppm dan 5.316 ppm. Ratio Optimization of Water and Other Ingredients in The Production of Organic Granules Fertilizer from  Sargassum sp. FlourAbstractOrganic granules fertilizer has been processed from  Sargassum sp. flour using granulator designed by Research Institute for Fisheries Post-harvest Mechanization. This research aimed to reveal the best ratio of water and other ingredients in order to produce higher yield and to find out its nutritional composition. Wet granulation method was used in this research. The materials used were  Sargassum sp. flour, lime, and water. The ratios of water and ingredients used were 10:30, 11:30, 12:30, and 13:30 (ml of water/g of ingredients). Only organic granules fertilizer with the highest yield was selected and analyzed for its macro nutrient content, C organic, moisture content, micro nutrient content, and heavy metals. Commercial organic granule fertilizer was used as comparison. The highest yield of organic granule fertilizer was gained from the ratio of water and other ingredients of 12:30. The C organic content of selected organic granule fertilizer in this study and commercial organic granule fertilizer, were 15.1% and 20.2%, respectively with C/N ratio of 18.41% and 3.1%, respectively. For the moisture content of the selected organic granule fertilizer in this research and commercial organic granule fertilizer, were 19.47% and 13.79%, respectively. Levels of lead (Pb) in selected organic granule fertilizer and commercial organic granule fertilizer were less than 0.04 ppm and 6.20 ppm, respectively, while total Fe content of organic selected granule fertilizer and commercial organic granule fertilizer were 8,031 ppm and 5,316 ppm, respectively.
Karakteristik Nori dari Campuran Rumput Laut Ulva lactuca dan Eucheuma cottonii Fransiska Rungkat Zakaria; Bambang Pontjo Priosoeryanto; Erniati Erniati; Sajida Sajida
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.336

Abstract

AbstrakRumput laut jenis Ulva lactuca dan Eucheuma cottonii merupakan rumput laut yang dapat dijumpai di perairan Indonesia, akan tetapi pemanfaatannya sebagai produk nori belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi nori dari rumput laut U. lactuca dan E. cottonii dan menguji karakteristik mutu fisik, kimia dan sensori. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa campuran rumput laut U. lactuta dan E. cottonii dapat menghasilkan produk nori yang berkualitas. Hasil uji organoleptik menunjukkan produk nori yang dipanggang lebih dapat diterima dibandingkan nori tidak dipanggang. Karakteristik kimia dan fisik produk berbeda nyata pada taraf 5%. Hasil analisis karakteristik kimia menunjukkan bahwa produk nori rumput laut U. lactuca dan E. cottonii mempunyai kandungan protein yang lebih rendah (18.84%), kandungan karbohidrat yang lebih tinggi (62.31%), kandungan serat pangan yang lebih tinggi (36.76%) dan kapasitas antioksidan yang lebih rendah (43.01%) dibandingkan nori komersial (karbohidrat 41.8%, protein 40%, serat 21.3%, kapasitas antioksidan 51%). Characteristics of the Nori from Mixture of  Ulva  lactuca and Eucheuma cottonii SeaweedsAbstractUlva  lactuca and  Eucheuma  cottonii are seaweed that are available in Indonesia, but their utilization as food product is very limited. This study aimed to produce nori processed from mixture of  U.  lactuca and  E.  cottonii seaweed and evaluate the quality characteristics of the physical, chemical and sensory of the product. The results showed that a mixture of U. lactuca and E.  cottonii seaweed could be processed into the nori. Organoleptic tests showed that roasted nori product were more acceptable than unroasted nori. The chemical and physical characteristics of the product significantly different at the level of 5%. Chemical characteristics showed that the nori product from  U.  lactuca and  E.  cottoniiseaweed contained higher carbohydrate (62.31%), lower protein (18.84%), higher fiber content (36.76%) and slightly lower antioxidant capacity (43.01%) compared to commercial nori (carbohydrate 41.8%, protein 40%, fiber 21.3%, and antioxidant capacity 51%).
Cover Depan JPBKP VOl. 12 No.1 Cover Cover
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.381

Abstract

Komposisi Nutrisi Rumput Laut Calcareous Halimeda opuntia pada Lingkungan Perairan Indonesia Nurhayati Nurhayati; Siti Nurbaity Kartika Apriani; Rodiah Nurbayasari; Murdinah Murdinah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.291

Abstract

AbstrakHalimeda opuntia merupakan rumput laut Chlorophyta berkapur yang memiliki kandungan nutrisi untuk pangan fungsional. Namun, pergeseran komposisi nutrisi dapat terjadi akibat perubahan lingkungan akibat limpasan nutrien dan bahan organik lainnya yang umum terjadi di perairan pesisir Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi pergeseran kandungan nutrisi H. opuntia yang tumbuh di zona intertidal agar dapat digunakan sebagai dasar pemilihan lokasi pengambilan bahan baku H. opuntia untuk produk fungsional. Pengambilan sampel dilakukan di empat lokasi perairan di Indonesia, yaitu perairan Binuangeun (Banten), Lampung Selatan, Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) dan Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara). Karakteristik nutrisi dari rumput laut target meliputi kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan serat kasar. Informasi lingkungan dari habitat sampel ditunjukkan melalui variabel kimia air yaitu DO, pH, salinitas, pCO2, kalsium aragonit, nitrogen anorganik terlarut, serta fosfat anorganik terlarut. Hasil analisis menunjukkan kondisi lingkungan eutrofik berpengaruh secara signifikan terhadap komposisi nutrisi H. opuntia. pH dan salinitas menjadi faktor determinan positif (R2 = 0,75 pada p<0,05) terhadap kadar karbohidrat, sementara nitrogen anorganik terlarut menjadi faktor determinan negatif terhadap kadar protein dan lemak (R2= 0,81 dan 0,61 pada p<0,05). Berdasarkan kandungan nutrisinya, maka H. opuntia yang diperoleh dari habitat alamiah merupakan bahan baku produk fungsional yang  lebih baik dibandingkan dengan biota selaras dari perairan eutrofik. Nutritional Composition of Calcareous Seaweed of  Halimeda opuntiain Indonesian Water EnvironmentAbstractHalimeda opuntia is a calcareous Chlorophyta that contains nutritional value as functional food. However, nutritional composition may shift as the effect of environmental changes by nutrient and other organic run-off that commonly happened in Indonesian coastal waters. This research aims to identify the nutritional composition shift in H. opuntia that lived at intertidal zones, as a baseline for location consideration to get the raw material of H. opuntia for functional food products development. H. opuntia samples were collected from Binuangeun (Banten), South Lampung, East Lombok (NTB), and South Konawe (South East Sulawesi) waters. Nutritional value of targeted seaweed was characterized by moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, and crude fiber. The environmental condition was accessed for DO, pH, salinity, pCO2 , calcium aragonite, dissolved inorganic nitrogen (nitrate and ammonia), and dissolved inorganic phosphate. Results of the study showed that the eutrophic environment affecter significantly to nutritional composition of H. opuntia. pH and salinity positively determined the content of carbohydrate (R2 = 0.75 at p<0.05). Moreover, dissolved inorganic nitrogen negatively determined to the content of protein and fat. (R2 = 0.81 and 0.61 at p<0.05). Therefore, based on the nutritional composition, it may suggest the H. opuntia that lived in the natural environment will be more prospective as functional product raw material than similiar organisms living in eutrophic waters.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue