cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013" : 9 Documents clear
Aplikasi Gum Arab dan Dekstrin sebagai Bahan Pengikat Protein Ekstrak Kepala Udang Arif Rahman Hakim; Anies Chamidah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.52

Abstract

Telah dilakukan penelitian aplikasi gum arab dan dekstrin sebagai pengikat protein terlarut dari ekstrak kepala udang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan proporsi terbaik dari penambahan gum arab dan dekstrin pada pembuatan bubuk protein sebagai bahan suplementasi nutrisi. Gum arab dan dekstrin yang ditambahkan ialah sebanyak 8% (b/v), dengan empat perlakuan proporsi yang berbeda yaitu 1:0,5; 1:1,75; 1:3; dan 1:4,25. Parameter yang diamati untuk mengetahui sifat fisika dan kimia hasil ekstraksi meliputi kadar nitrogen terlarut, kadar nitrogen amino, kadar nitrogen non protein, kadar protein kasar, kadar air, kelarutan, dan rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah penambahan gum arab dan dekstrin dengan perbandingan 1:0,5. Produk memiliki kadar nitrogen terlarut 0,55%, kadar nitrogen amino 2,35%, kadar nitrogen non protein 2,62%, kadar protein kasar 33,20%, kadar air 5,67%, kelarutan 99,15% dan rendemen 5,04%. Produk ini memenuhi kebutuhan jenis asam amino yang disyaratkan ada pada pangan anak usia 10–14 tahun yang di tetapkan oleh FAO. Produk ini juga memiliki sifat kelarutan yang bagus sebagai bubuk karena kelarutannya diatas 95%.
Produksi dan Karakterisasi Xilanase dari Isolat Bakteri M-13.2a Asal Air Laut Manado Fawzya, Yusro Nuri; Mangunwardoyo, Wibowo; Munifah, Ifah; Patantis, Gintung
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.53

Abstract

Isolat bakteri M-13.2A yang berasal dari laut Manado diketahui mampu menghasilkan enzim selulase dan xilanase, berdasarkan pembentukan zona bening pada media padat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai produksi dan sifat enzim xilanase yang dihasilkan dari isolat bakteri M-13.2A serta identifikasi isolat bakteri tersebut di atas. Sebanyak (2,4-3,3) x 108 cfu/ml inokulum dengan konsentrasi sekitar 9% (v/v) diinokulasikan dalam medium xylan broth, kemudian diinkubasi selama 6 hari pada suhu 30°C, 150 rpm. Pengambilan sampel dilakukan setiap hari dan enzim yang dihasilkan diuji aktivitasnya dengan metode asam dinitro salisilat (DNS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas xilanase tertinggi dihasilkan pada hari ke-2 inkubasi, sebesar 5,17 U/ml. Enzim xilanase ini bekerja optimum pada pH 8, suhu 70°C. Penambahan ion logam 10 mM memberikan pengaruh yang bervariasi terhadap aktivitas enzim. Ion Zn2+ meningkatkan aktivitas xilanase hingga 278,1%. Ion Fe3+ dan Ca2+ menurunkan aktivitas xilanase menjadi 75 dan 8,3% relatif terhadap kontrol, sedangkan ion K+ tidak memberikan pengaruh terhadap aktivitas xilanase. Hasil identifikasi bakteri menunjukkan bahwa isolat M-13.2A memiliki kemiripan 99% dengan Acinetobacter baumannii.
Identifikasi Hormon Pemacu Tumbuh Ekstrak Cairan (SAP) Eucheuma cottonii Bakti Berlyanto Sedayu; Jamal Basmal; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.48

Abstract

Rumput laut telah lama digunakan sebagai bahan pupuk organik karena kaya akan kandungan hormon pemacu tumbuh (HPT) dan unsur hara lainnya yang dibutuhkan tanaman. Pada penelitian ini, diidentifikasi senyawa HPT yang terkandung dalam ekstrak cairan (sap) rumput laut Eucheuma cottonii menggunakan HPLC, selanjutnya dibandingkan dengan kandungan HPT pada pupuk rumput laut komersial (berdasarkan data sekunder hasil studi literatur). Hasil analisis menunjukkan bahwa sap E. cottonii mengandung giberelin yang terdiri dari gibberellic acid GA3 dan GA7 sebesar 128 dan 110 ppm, sitokinin yang terdiri dari zeatin dan kinetin sebesar 117 dan 73 ppm, dan auksin berupa Indole Acetic Acid (IAA) sebesar 160 ppm. Kandungan HPT sap E. cottonii ini lebih tinggi dibandingkan dengan HPT beberapa produk pupuk organik berbahan dasar rumput laut komersial. Hal ini menunjukkan bahwa E. cottonii memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan pemacu pertumbuhan tanaman dalam pembuatan pupuk organik. Namun demikian, hasil pemanfaatan sisa padatan (ampas) rumput laut yang telah di ambil sapnya menjadi Alkali Treated Cottonii (ATC) menunjukkan hasil kualitas yang lebih rendah
Bioaktivitas Kitooligosakarida yang Diproduksi dari Kitosan Menggunakan Kitosanase Microminospora T5a1 sebagai Antikapang Ekowati Chasanah; Yusro Nuri Fawzya; Fiona Ariani Karmawidjaja; Maruli S.
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.54

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kitooligosakarida (COS) yang diproduksi secara biologi menggunakan kitosanase dari Microminospora T5a1 terhadap kapang perusak dan penghasil toksin pada makanan. Kitooligosakarida diuji dengan konsentrasi 250–1000 ppm, dan sebagai kontrol positif telah digunakan produk antikapang komersial yaitu Na-benzoat dan K-sorbat pada konsentrasi aplikasi komersial 1000 ppm serta kitosan pada konsentrasi uji sama seperti COS. Kapang yang digunakan adalah Aspergillus flavus, Aspergillus niger dan Penicillium sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan penghambatan kapang oleh COS tidak linear dengan konsentrasi yang diaplikasikan. Untuk Aspergillus flavus, penghambatan terbaik diperoleh pada aplikasi COS 250 ppm, sedangkan untuk Aspergillus niger dan Penicillium A12 dengan konsentrasi 750 dan 500 ppm. Kitosan memiliki aktivitas penghambatan yang sama dengan COS untuk ketiga kapang uji. Dibandingkan dengan kontrol positif, COS memiliki aktivitas antikapang yang tidak berbeda dengan sodium benzoate dan potasium sorbate, sehingga COS yang dihasilkan berpotensi digunakan sebagai pengganti ke dua produk komersial tersebut, dengan konsentrasi yang lebih rendah.
Aplikasi Response Surface Methodology Pada Optimalisasi Kondisi Proses Pengolahan Alkali Treated Cottonii (ATC) Sitti Nurmiah; Rizal Syarief; Sukarno Sukarno; Rosmawaty Peranginangin; Budi Nurmata
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.49

Abstract

Alkali Treated Cottonii (ATC) merupakan hasil olahan rumput laut merah (Eucheuma cottonii) dengan perlakuan alkali. Kondisi proses seperti konsentrasi KOH, suhu dan waktu proses akan berpengaruh pada kuantitas dan kualitas ATC yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel input dan mengembangkan model prediksi yang digunakan dalam mengoptimalisasi kondisi proses pengolahan ATC. Program Design Expert 7.0® dengan Response Surface Methodology (RSM) Box-Behnken Design digunakan untuk meneliti dan memilih kondisi proses dari kombinasi tingkat faktor yang menghasilkan respon yang optimal. Berdasarkan RSM Box-Behnken Design diketahui bahwa efek utama dari konsentrasi KOH, suhu dan waktu pengolahan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap nilai respon ATC. Hubungan antara variabel terhadap respon rendemen ATC dimodelkan Y = -0,97A + 6,59B – 1,79C – 0,045B2, sedangkan nilai kekuatan gel dimodelkan Y = 29030,24A + 1488,61B – 521,90C – 406,91AB – 64,50AC – 1984,79A2 + 344,21C2 + 28,02A2B. Nilai respon optimal ATC adalah 92,8%, dengan kondisi proses pengolahan konsentrasi KOH 6%, suhu 78.67°C dengan waktu 1 jam.
Aktivitas Antioksidan, Sitotoksisitas dan Kandungan Fukosantin Ekstrak Rumput Laut Coklat dari Pantai Binuangeun, Banten Muhammad Nursid; Thamrin Wikanta; Rini Susilowati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.55

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, sitotoksisitas dan kandungan fukosantin ekstrak etil asetat beberapa jenis rumput laut coklat. Aktivitas antioksidan dianalisis dengan menggunakan metode 2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH) sedangkan aktivitas sitotoksik diuji dengan menggunakan metode {3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyl-tetrazolium bromide} (MTT). Kadar fukosantin dianalisis menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Enam jenis rumput laut coklat yaitu Sargassum ilicifolium, Sargassum binderi, Turbinaria decurrens, Turbinaria ornata, Padina australis dan Hormophysa triquetra telah dikoleksi dari pantai Binuangeun, Propinsi Banten. Ekstrak P. australis menunjukkan aktivitas antioksidan yang paling tinggi diiikuti oleh H. triquetra dan T. decurrens. Hasil uji memperlihatkan bahwa ekstrak T. decurrens menghambat pertumbuhan sel HeLa dan T47D sedangkan H. triquetra hanya menghambat pertumbuhan sel T47D. Kadar fukosantin tertinggi dihasilkan oleh ekstrak H. triquetra sebesar 88,5 mg/g diikuti oleh T. decurrens, dan P. australis, berturut-turut sebesar 86,9 mg/g, dan 77,8 mg/g. Di lain sisi, kandungan fukosantin ekstrak S. ilicifolium, T. ornata, dan S. binderi relatif rendah (<20 ppm).
Penggunaan Berbagai Garam dan Bumbu Pada Pengolahan Pindang Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Theresia Dwi Suryaningrum; Syamdidi Syamdidi; Erna Maya Rizki
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.50

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui teknik pengolahan pindang ikan lele. Penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu penelitian pendahuluan untuk mengetahui pengaruh perendaman ikan lele segar pada berbagai larutan garam (tawas/Al2SO4, CaSO4, CaCl2, Ca(OH)2, dan STPP), terhadap sifat sensoris pindang yang dihasilkan. Sedangkan penelitian utama dilakukan untuk mengetahui pengaruh perendaman garam terbaik hasil penelitian pendahuluan dan asam cuka serta konsentrasi bumbu (0; 5; 7,5; dan 10% b/b) terhadap sifat mutu pindang yang dihasilkan. Pengamatan pindang dilakukan terhadap sifat kimia (proksimat dan pH), adanya cemaran mikroba (Angka Lempeng Total, Escherichia coli, dan Salmonella) serta sifat sensori pindang yang dihasilkan dengan menggunakan uji kesukaan hedonik dan uji skor. Hasil pengamatan terhadap sifat sensori pindang lele yang direndam dalam berbagai larutan garam pada penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa perendaman ikan dalam larutan tawas menghasilkan kenampakan, bau, tekstur dan rasa pindang yang lebih baik dibandingkan dengan garam lainnya. Pengolahan pindang ikan lele dengan perlakuan perendaman dalam larutan tawas dan cuka serta perendaman bumbu hanya berpengaruh terhadap kadar abu dan protein, sebaliknya perlakuan tersebut di atas tidak berpengaruh terhadap kadar air, lemak, serta cemaran mikroba pindang yang dihasilkan. Perendaman dalam bumbu menghasilkan pindang yang lebih disukai oleh panelis. Penggunaan bumbu juga dapat menghindari terjadinya kelengketan antar produk. Pindang ikan lele yang diberi perlakuan perendaman dalam larutan tawas dan diberi bumbudengan konsentrasi 7,5% menghasilkan pindang yang paling baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Ekstraksi dan Karakterisasi Kolagen Larut Asam dari Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Nurhayati Nurhayati; Tazwir Tazwir; Murniyati Murniyati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.56

Abstract

Kulit ikan nila dapat diolah menjadi kolagen yang dapat meningkatkan nilai tambah kulit ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi asam terhadap karakteristik kolagen yang dihasilkan. Ekstraksi kolagen dilakukan melalui perendaman dalam asam asetat dengan dua variasi konsentrasi yaitu 0,5 dan 1,5 M. Parameter yang diamati yaitu gugus fungsi, komposisi asam amino, suhu denaturasi, dan kemampuan mengembang kolagen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan asam asetat 0,5 M memiliki komposisi asam amino dan suhu denaturasi yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan asam asetat 1,5 M. Namun demikian, kolagen pada perlakuan asam asetat 1,5 M ternyata memiliki kemampuan mengembang lebih cepat (15 menit) dibandingkan perlakuan asam asetat 0,5 M (60 menit). Sementara itu, spektra FTIR menunjukkan kolagen yang diperoleh dari kedua perlakuan memiliki karakteristik yang sama. Berdasarkan karakteristik kolagen yang diperoleh dengan dua perlakuan ekstraksi, perlakuan asam asetat 0,5 M menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding 1,5 M.
Kinerja Alat Pengering Mekanis Tipe Vertikal untuk Ikan Petek Leiognathus sp. Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.51

Abstract

Percobaan pengeringan ikan petek Leiognathus sp. telah dilakukan menggunakan alat pengering mekanis tipe vertikal dengan dimensi 60 cm x 60 cm x 270 cm yang dilengkapi penarik udara dari dalam ruang pengering dengan daya 150 watt (2.800 rpm). Dinding alat pengering terbuat dari lembaran akrilik dengan ketebalan 40 mm. Alat pengering ini menggunakan bahan bakar LPG. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja alat pengering dan untuk mengetahui laju kecepatan penurunan bobot ikan. Ikan petek sebelum dikeringkan telah direndam dalam larutan garam 3% selama 60 menit kemudian disusun di atas rak dengan kapasitas 1,74 kg/rak. Selanjutnya rak dimasukkan ke dalam ruang pengering. Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan menggunakan ikan petek sebanyak 10,44 kg. Lama pengeringan 720 menit yang menghabiskan LPG sebanyak 3,465 kg atau setara dengan 53,9 kkal/menit. Selama proses pengeringan diamati penurunan bobot ikan dan kadar air, serta kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban yang diamati setiap 30 menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa suhu dan kelembaban di dalam ruang pengeringan berkisar antara 26,03–55,86°C dan 22,3–78,05%. Jumlah bobot ikan yang hilang selama 720 menit proses pengeringan sebanyak 52%. Kecenderungan penurunan bobot ikan diperoleh persamaan garis logaritma y = -0,2 ln (x) + 1.006 dengan nilai r2 = 0,999. Kadar air diperoleh sebesar 47,94% dan nilai aw 0,483

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue