cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2020)" : 5 Documents clear
KARAKTERISTIK KETEBALAN LAPISAN BRIGHT BAND HASIL MODEL PROFIL REFLEKTIVITAS DAN GRADIEN REFLEKTIVITAS Tiin Sinatra; Noersomadi Noersomadi; Ginaldi Ari Nugroho; Soni Aulia Rahayu
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3253

Abstract

Bright band merupakan indikator suatu lapisan pada awan stratus yang ditandai oleh peningkatan reflektivitas radar akibat kristal es yang meleleh. Hal tersebut dapat menyebabkan galat dalam menghitung estimasi presipitasi berdasarkan data radar. Oleh karena itu, deteksi bright band merupakan langkah yang penting untuk dilakukan guna mengoreksi data radar cuaca sebagai acuan dalam pengembangan model estimasi presipitasi. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi dua model untuk identifikasi bright band hasil observasi transportable X-band radar dari data range-height indicator (RHI). Model pertama dengan menggunakan function fit, yaitu profil vertikal reflektivitas (VPR; vertical profile of reflectivity) dan model kedua dengan menggunakan gradien reflektivitas (GR). Hasil analisis menunjukkan perbedaan galat dalam menentukan batas atas (batas bawah) untuk VPR adalah 4,51% (3,1%), sedangkan model GR 9,02% (3,9%). Identifikasi bright band dengan menggunakan model VPR lebih baik dibandingkan dengan model GR untuk penentuan batas atas dan batas bawah dari bright band. Pengetahuan mengenai karakteristik ketebalan BB dapat dimanfaatkan untuk analisis lebih lanjut terkait estimasi presipitasi kuantitatif berdasarkan observasi radar.
ESTIMASI KELIMPAHAN KEADAAN TUNAK POPULASI ASTEROID DEKAT-MATAHARI Judhistira Aria Utama; Ferry Mukharradi Simatupang; Lala Septem Riza; Taufiq Hidayat
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3264

Abstract

Telah dilakukan simulasi numerik terhadap ribuan sampel asteroid dekat-Bumi nyata (ADB, dari kelas Amor, Apollo, Aten, dan Atira) yang orbitnya telah dikenal dengan sangat baik (U = 0). Komputasi orbit dilakukan hingga 5x106 tahun ke depan memanfaatkan paket integrator SWIFT-RMVS (Regularized Mixed-Variable Symplectic) yang tersedia. Dari keluaran komputasi telah dihitung parameter q’ (nilai terkecil q) yang mendefinisikan orbit populasi asteroid dekat-Matahari (ADM). Berdasarkan model populasi keadaan tunak ADB, diperoleh fluks-masuk asteroid menuju kawasan dekat-Matahari dari kawasan dekat-Bumi sebesar 19 ± 0,21 objek per juta tahun (untuk model Tata Surya di bawah pengaruh gravitasi dan efek Yarkovsky) dan 13 ± 0,14 objek per juta tahun (untuk model Tata Surya di bawah pengaruh gravitasi), keduanya untuk H < 17,75. Kedua nilai fluks-masuk memberikan estimasi keadaan tunak populasi ADM yang setara, yaitu ~3 objek untuk H < 17,75 pada setiap saat bagi kedua model Tata Surya yang digunakan.
ESTIMASI TINGKAT KEASAMAN AIR HUJAN (PH) AKIBAT ABSORPSI GAS NO_2 DAN SO_2 Agusta Kurniawan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a2959

Abstract

Telah dilakukan perkiraan tingkat keasaman (pH) air hujan akibat pengaruh absorpsi gas \ce{NO2} dan \ce{SO2}. Hukum Henry digunakan untuk menghitung besarnya gas yang terlarut dalam air hujan. Nilai koefisien korelasi Pearson ($R$) digunakan untuk membandingkan nilai estimasi (hasil perhitungan) tingkat keasaman dengan nilai observasi (hasil pengukuran). Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai estimasi tingkat keasaman (pH) air hujan akibat pengaruh absorpsi gas \ce{NO2} dan \ce{SO2} tidak sesuai dengan nilai tingkat keasaman (pH) air hujan hasil pengukuran. Selama 24 bulan periode perbandingan, nilai korelasi Pearson yang kuat hanya terdapat pada bulan Juli 2011, dimana $R_{[\ce{SO2}]}=0,85$ dan $R_{[\ce{SO2 + NO2}]}=-0,85$.
POLA LAMA PENYINARAN MATAHARI DALAM 20 TAHUN PENGAMATAN DI SUMEDANG Saipul Hamdi; Sumaryati Sumaryati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3111

Abstract

Pola lama penyinaran matahari (LPM) dalam kurun waktu pengamatan 20 tahun di BPAA (Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer) LAPAN Sumedang (6,91⁰ LS dan 107,84⁰ BT, 864 m dpl)telah dianalisis. Pengukuran LPM menggunakan Campbell Stokesdilakukan sejak tahun 1997. Dari pengukuran ini diperoleh jumlah hari data sebanyak 5.899. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode statistika. LPM dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan musim dan dihitung frekuensi distribusinya. Secara umum, terjadi peningkatan LPMterutama pada musim JJA dalam 20 tahun pengamatan. Fenomena El Nino berdampak pada peningkatan lama penyinaran pada bulan DJF, sedangkan La Nina berdampak pada penurunan lama penyinaran pada bulan SON. Di sisi lain, kenaikan aktivitas matahari justru berpengaruh pada penurunan lama penyinaran pada bulan DJF. Pada musim basah (DJF) dominansi LPM adalah 0-1 jam/hari, sedangkan pada musim kering (JJA) dominansi LPMmencapai 9 jam/hari.
SIKLUS DIURNAL CURAH HUJAN DI PULAU SULAWESI: DISTRIBUSI SPASIAL DAN MUSIMAN Dita Fatria Andarini; Anis Purwaningsih
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3251

Abstract

Benua Maritim Indonesia memiliki siklus diurnal curah hujan yang kompleks, baik dipengaruhi oleh kondisi lokal seperti topografi dan bentuk garis pantai, maupun interaksinya dengan fenomena baik musiman, antar-musiman, tahunan dan antar-tahunan. Pulau Sulawesi merupakan salah satu pulau besar di Indonesia yang mempunyai bentuk dan ukuran pulau yang unik serta pola curah hujannya yang terdiri dari pola monsunal, equatorial, dan lokal. Untuk mengetahui variabilitas musiman dan spasial siklus diurnal curah hujan di Pulau Sulawesi, dilakukan analisis komposit data curah hujan perjam dari Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) sepanjang tahun 2004–2018 pada bulan Desember–Januari–Februari (DJF), Maret–April–Mei (MAM), Juni–Juli–Agustus (JJA) dan September–Oktober–November (SON). Hasil analisis klimatologi menunjukkan adanya variasi spasial curah hujan diurnal setiap musimnya. Curah hujan di darat diidentifikasi sebagai hujan sore hingga malam hari (pukul 14:00–21:00 WITA) dengan intensitas paling tinggi sebesar 1 mm/jam pada bulan MAM, sedangkan curah hujan di sekitar pantai terjadi pada pukul 22:00–06:00 WITA dengan intensitas paling tinggi mencapai 1,7 mm/jam pada pukul 03:00 WITA di Teluk Tolo pada bulan MAM. Hasil analisis komposit rata-rata curah hujan perjam menunjukkan bahwa bentuk garis pantai dan kondisi topografi berpengaruh terhadap siklus diurnal curah hujan di Pulau Sulawesi dengan arah propagasi curah hujan dari darat menuju laut yang berbeda di setiap musimnya. Pada bulan DJF, curah hujan di daratan bagian tengah pulau bergerak menuju Teluk Tolo dan Bone, pada bulan MAM hujan bergerak menuju Teluk Tolo, Tomini dan Bone. Adapun pada periode musim JJA, hujan dari pegunungan bagian tengah pulau bergerak menuju Teluk Tolo dan Tomini, sedangkan pada bulan SON curah hujan terkonsentrasi di daratan bagian utara pulau dan bergerak menuju perairan bagian utara.

Page 1 of 1 | Total Record : 5