cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2008)" : 6 Documents clear
KARAKTERISTIK LONTARAN MASSA KORONA (CME) YANG MENYEBABKAN BADAI GEOMAGNET Clara Y Yatini; - Suratno; Gunawan Admiranto; Nana Suryana
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.925 KB)

Abstract

Dari hasil identifikasi terhadap lontaran masa korona (CME) yang mengakibatkan munculnya badai geomagnet yang kuat selama tahun 1996 sampai 2006 diperoleh bahwa CME tersebut terdistribusi secara asimetris di permukaan matahari, khususnya terhadap meridian matahari. CME ini lebih banyak yang berasal dari bagian barat matahari dari pada bagian timur, terkait dengan medan magnet antar planet yang melengkung. Waktu yang diperlukan oleh CME untuk sampai di bumi dan menyebabkan badai geomagnet tidak sepenuhnya bergantung pada kecepatan awal CME tersebut. Kecepatan CME dan keterkaitannya dengan flare juga tidak menentukan efektivitasnya dalam menimbulkan gangguan. Oleh sebab itu sangat sulit memprakirakan dampak CME terhadap bumi hanya dengan melihat peristiwa yang terjadi di matahari, karena medium antar planet juga harus dipertimbangkan. Kata kunci: CME, Badai geomagnet.
KARAKTERISTIK SUDDEN COMMENCEMENT DAN SUDDEN IMPULSE DI SPD BIAK PERIODE 1992-2001 Anwar Santoso; - Habirun; Sity Rachyany; Harry Bangkit
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.863 KB)

Abstract

Kenaikan mendadak intensitas medan geomagnet dapat dibedakan menjadi 2 tipe yaitu tipe Sudden Comencement (SC) dan tipe Sudden Impulse (SI). Tipe SC berupa kenaikan mendadak intensitas medan geomagnet yang diikuti kejadian badai geomagnet dan umumnya berkaitan dengan arah selatan medan magnet antar planet (Interplanetary Magnetic Field/IMF), sedangkan tipe SI berupa kenaikan mendadak medan geomagnet yang tidak diikuti kejadian badai geomagnet dan umumnya berkaitan dengan arah utara IMF. Untuk mengetahui karakteristik SC dan SI, dilakukan identifikasi dan analisis statistik terhadap ketiga parameter SC dan SI, yaitu amplitudo, periode dan gradien dari data komponen horizontal (H) geomagnet di Stasiun Pengamat Dirgantara (SPD) Biak tahun 1992-2001. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa karakteristik SC(H) mempunyai kriteria seperti amplitudonya yang lebih besar dari 10 nT, periodenya kurang dari 10 menit dan gradiennya lebih besar dari 2.48 nT/menit. Sedangkan karakteristik Karakteristik Sudden Commencement .... (Anwar Santoso et al.) 61 SI(H) mempunyai kriteria seperti amplitudonya lebih besar dari 6.1 nT, periodenya kurang dari 10 menit dan gradiennya lebih besar dari 1.63 nT/menit. Selanjutnya dihitung korelasi antara ketiga parameter SC(H) terhadap H minimum (Hmin) dan durasi Hmin. Hasil korelasi tersebut menunjukkan bahwa amplitudo SC(H) dan periode SC(H) merupakan indikator yang baik yang dapat digunakan untuk memprediksi intensitas dan durasi badai geomagnet. Kata Kunci : SC, SI, Badai geomagnet.
ANALISIS KORELASI SUHU UDARA PERMUKAAN DAN CURAH HUJAN DI JAKARTA DAN PONTIANAK DENGAN ANOMALI SUHU MUKA LAUT SAMUDERA INDIA DAN PASIFIK TROPIS DALAM KERANGKAOSILASI DUA TAHUNAN TROPOSFER (TBO) Arief Suryantoro; Bambang Siswanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2697.427 KB)

Abstract

Telah dilakukan analisis hubungan suhu muka lautan (SST : Sea Surface Temperature) India dan Pasifik Barat Tropis, dan anomalinya (SSTA : Sea Surface Temperature Anomaly) dengan suhu udara permukaan (T) dan curah hujan (CH) di daerah Pontianak dan Jakarta dalam kerangka osilasi dua tahunan troposfer (TBO : Tropospheric Biennial Oscillation). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa SST dan SSTA Samudera India dan Pasifik Barat Tropis memiliki korelasi yang lebih baik dengan suhu udara permukaan di Jakarta dan Pontianak dibandingkan dengan curah hujan di kedua daerah yang ditinjau tersebut. Selanjutnya juga ditunjukkan bahwa TBO merupakan fenomena yang berpengaruh terhadap pola suhu udara permukaan dan curah hujan di daerah Jakarta dan Pontianak, meskipun fenomena TBO ini muncul bukan sebagai fenomena yang benar-benar periodik dan bukan merupakan satu-satunya fenomena yang muncul Jurnal Sains Dirgantara Vol. 6 No. 1 Desember 2008:1-21 2 dominan di kedua daerah yang ditinjau tersebut. Di daerah Jakarta dan Pontianak ini juga muncul ragam osilasi curah hujan dan suhu udara permukaan lainnya seperti osilasi setengah tahunan SAO (Semi Annual Oscillation), osilasi tahunan AO (Annual Oscillation), dan antar tahunan ENSO (El-Nino Southern Oscillation). Kata kunci: SST (Sea Surface Temperature), SSTA (Sea Surface Temperature Anomaly), SAO (Semi Annual Oscillation), AO (Annual Oscillation), TBO (Tropospheric Biennial Oscillation)..
VARIASI LAPISAN E DAN F IONOSFER DI ATAS KOTOTABANG - Ednofri; Sri Suhartini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.478 KB)

Abstract

Pengamatan ionosfer di atas Kototabang (0,2ºLS, 100,3ºBT) dilakukan menggunakan ionosonda Frequency Modulated Continous Wave (FMCW) yang dioperasikan sejak Maret 2004. Hasil pengamatan sampai dengan September 2006 diteliti untuk mengetahui variasi ionosfer di daerah tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum variasi ionosfer di atas Kototabang mengikuti pola karakteristik ionosfer di daerah lainnya di Indonesia. Variasi harian menunjukkan maksimum sekitar tengah hari, variasi tahunan nampak dari penurunan nilai foE, foF1, dan foF2 seiring berkurangnya tingkat aktivitas matahari. Hal ini diperkuat dengan korelasi positif yang diperoleh antara rata-rata median bulanan foE, foF1, dan foF2 pada local noon (pukul 10.00 – 15.00), dengan koefisien korelasi masing-masing 0.64, 0.90, dan 0.80. Variasi musiman nampak dari adanya dua puncak (Maret- April dan September–Oktober), dan dua minimum (Juli-Agustus dan Desember–Januari). Badai magnet yang terjadi pada tanggal 15 Mei 2005 mengakibatkan penurunan foF2 sebesar 5.5 Mhz atau 38% dibandingkan harga median bulanannya, sekitar 5 jam setelah terjadinya badai tersebut. Kata kunci : Ionosfer, Variasi, Lapisan E, Lapisan F.
MODEL TEMPORAL CURAH HUJAN DAN DEBIT SUNGAI CITARUM BERBASIS ANFIS - Ruminta
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.241 KB)

Abstract

Penelitian terhadap model temporal curah hujan dan debit sungai berbasis ANFIS telah dilakukan di daerah aliran sungai Citarum, Jawa Barat. Penelitian tersebut menggunakan data bulanan hasil observasi curah hujan, evapotranspirasi, dan debit sungai dari Januari 1968 hingga Desember 2000 dan data bulanan Global Temperature (GT) dan Central Indian Precipitation (CIP) yang diperoleh dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP). Identifikasi model temporal curah hujan dan debit sungai didasarkan pada Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model temporal curah hujan dan debit sungai berbasis ANFIS dapat mensimulasi data observasi secara akurat. Model tersebut mampu meminimalisasi bias (RMSE) dan memaksimalisasi presisi (E). Model tersebut sangat potensial untuk memprediksi curah hujan dan debit sungai di masa Model Temporal Curah Hujan dan Debit ......... (Ruminta) 23 datang. Prediksi curah hujan dan debit sungai dari model temporal tahunan lebih akurat dibanding model temporal bulanan. Koefisien limpasan (C) sungai Citarum sangat besar (lebih dari 53%) dan cenderung naik secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa tutupan lahan oleh hutan cenderung makin berkurang. Nilai rasio debit sungai maksimum-minimum (Qmax /Qmin ratio) relatif tinggi yaitu berkisar antara 2.17 – 15.48, menunjukkan bahwa sumber daya air di daerah aliran sungai Citarum telah mengalami kerusakan. Cadangan air (S) adalah defisit dan cenderung berkurang secara signifikan. Fakta ini menunjukkan bahwa kekeringan di daerah aliran sungai Citarum akan terjadi sangat rawan. Kata kunci: Curah hujan, Debit sungai, ANFIS, Koefisien limpasan, Rasio Qmax /Qmin.
ANALISIS FRAKTAL EMISI SINYAL ULF DAN KAITANNYA DENGAN GEMPA BUMI DI INDONESIA Sarmoko Saroso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.86 KB)

Abstract

Anomali sinyal ULF pada variasi medan geomagnet merupakan salah satu fenomena yang diyakini kebenarannya dalam studi elektromagnetik yang berhubungan dengan kejadian gempa bumi, seperti terjadinya emisi dari kerak bumi yang berasal dari sumber gempa. Dari studi terdahulu telah banyak ditemukan pertanda anomali sinyal ULF sebelum kejadian gempa bumi berskala besar. Untuk membuktikan kebenaran fenomena tersebut dan untuk menjelaskan hubungan antara fenomena elektromagnetik dan mekanisme fisis yang mungkin terkait, telah dilakukan analisis data geomagnet di Kototabang yang berhubungan dengan kejadian gempa Sumatera. Studi kasus dilakukan untuk mengamati anomali sinyal ULF yang berhubungan dengan gempa Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dan gempa Nias yang terjadi pada tanggal 28 Maret 2005 dengan menggunakan metode analisis fraktal. Dalam analisis fraktal, penentuan anomali emisi sinyal ULF dilakukan dengan menghitung dimensi fraktal dari deret waktu ULF. Untuk menentukan dimensi fraktal digunakan metode Jurnal Sains Dirgantara Vol. 6 No. 1 Desember 2008:39-46 40 Higuchi karena dimensi fraktal yang dihitung dengan metode ini lebih stabil dibandingkan dengan metode lainnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan terjadinya penurunan dimensi fraktal 1 bulan hingga beberapa minggu sebelum kejadian gempa besar tersebut. Hal ini merupakan indikasi dari fase awal terjadinya peningkatan aktivitas seismik yang kemungkinan terkait dengan variasi geomagnet yang diakibatkan oleh aktivitas lokal yang berasal dari litosfer yang dipicu oleh kejadian gempa bumi di Aceh dan Nias. Kata kunci : Anomali sinyal ULF, Dimensi fraktal, Aktivitas seismik

Page 1 of 1 | Total Record : 6