cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2009)" : 6 Documents clear
PEMBANGUNGAN SISTEM INFORMASI ANOMALI SATELIT (SIAS) Nizam Ahmad; Abdul Rachman
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.469 KB)

Abstract

Kasus anomali yang kerap terjadi pada satelit-satelit orbit rendah (LEO) dan tinggi (GEO) menyebabkan penurunan kinerja sistem satelit. Pada umumnya anomali ini banyak disebabkan oleh cuaca antariksa berupa interaksi partikel energi tinggi pada sistem satelit dan pengaruh aktivitas geomagnet terutama disaat terjadi badai. Kejadian anomali satelit dapat dianalisis melalui suatu sistem informasi yang memadukan parameter cuaca antariksa seperti energi dan fluks proton, elektron dan indeks Kp dengan data kegagalan sistem satelit. Sistem Informasi Anomali Satelit (SIAS) merupakan perangkat yang dibangun dan dikembangkan sebagai upaya peringatan dini gangguan operasional satelit dengan menggunakan semua data tersebut. Meski SIAS masih berupa prototip, namun SIAS telah dapat digunakan untuk menganalisis beberapa kejadian anomali satelit orbit rendah dan orbit tinggi. Kata kunci : Anomali satelit, SIAS.
VARIABILITAS KOEFISIEN PENCUCIAN DARI SULFAT, NITRAT, AMONIUM DAN SODIUM AEROSOL DI KOTOTABANG DAN JAKARTA Tuti Budiwati; Tuti Siswanto; Wiwiek Mulyani HW; Asri Indrawati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.301 KB)

Abstract

Kenaikan SO2 dan NO2 akan berdampak terhadap deposisi basah (wet deposition) melalui proses pembersihan di atmosfer. Koefisien pencucian (scavenging) merupakan angka koefisien yang menunjukkan besaran dalam proses pencucian atau pembersihan oleh laju curah hujan. Metode yang dipergunakan untuk mendapatkan koefisien pencucian adalah metode Bulk. Unsur-unsur yang dominan dalam aerosol dan deposisi basah seperti sulfat, nitrat, amonium dan sodium/natrium dikaji untuk Jakarta (2005-2006) dan Kototabang (2005-2006). Data yang digunakan berasal dari observasi BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) dan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Jurnal Sains Dirgantara Vol. 6 No. 2 Juni 2009 : 95-108 96 Antariksa Nasional). Jakarta sebagai kota pantai dengan polusi yang tinggi dan Kototabang adalah daerah pedesaan yang relatif bersih merupakan lokasi penelitian yang menarik untuk dibandingkan. Besaran koefisien pencucian berada dalam skala 105-107. Nilai korelasi antara laju curah hujan dengan koefisien pencucian sulfat, nitrat, amonium dan sodium sangat berbeda, sedangkan jumlah curah hujan tidak mempengaruhi koefisien pencucian. Nilai rata-rata koefisien pencucian SO42-; NO3-; NH4+ dan Na+ dari 2005 sampai 2006 di Jakarta adalah 8,31x106; 7,31x106; 4,43x106; 7,32x106. Nilai-nilai ini lebih tinggi di Kototabang untuk SO42- dan NH4+ adalah 2,65x106 dan 3,64x106. Sebaliknya NO3- dan Na+ di Jakarta adalah lebih rendah dibandingkan Kototabang yaitu 1,66x107 dan 1,64x107, meskipun besarannya adalah hampir sama yaitu dalam kisaran 106-107. Kata kunci: Jakarta, Kototabang, Laju curah hujan, Koefisien pencucian, Deposisi basah.
KESETARAAN KECEPATAN GELOMBANG KEJUT SEMBURAN RADIO MATAHARI TIPE II DAN LONTARAN MASSA KORONA - Suratno; Gunawan Admiranto; Santi Sulistiani; Johan Muhamad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1329.204 KB)

Abstract

Penelitian tentang keterkaitan semburan radio tipe II, lontaran massa korona (CME) dan ledakan matahari, dihasilkan bahwa kecepatan gelombang kejut yang diturunkan dari pergeseran frekuensi semburan radio matahari tipe II menunjukkan kesesuaian yang cukup baik dengan kecepatan CME. Kecepatan gelombang kejut yang tinggi akan melewati tebal lapisan korona dalam waktu yang pendek dan sebaliknya, dibuktikan dari hubungan antara kecepatan CME dan durasi semburan radio pada rentang frekuensi tertentu (30 MHz – 20 MHz) berbentuk hubungan eksponensial ΔТII (menit) = 8.284e-0.0008Vcme dengan koefisien korelasi sebesar 0.66. Korelasi linier antara kecepatan gelombang kejut (Vs) dan kecepatan CME berbentuk Vcme (km/s) = 0.581Vs+229.4, dengan koefisien korelasi 0.64 dan hanya berlaku bila Vs ≥ 362 km/s. Di samping itu diperoleh juga bahwa korelasi intensitas SXR terhadap kecepatan gelombang kejut lebih baik bila dibandingkan dengan korelasi terhadap kecepatan CME disebabkan lokasi ledakan yang dekat dengan sumber gelombang kejut. Kata kunci: Ledakan matahari, Semburan radio matahari tipe II, Lontaran massa korona.
PENGEMBANGAN PIRANTI LUNAK WEIGHTED WAVELET Z-TRANSFORM (WWZ) DALAM ANALISIS SPEKTRAL AKTIVITAS MATAHARI Jalu Tejo Nugroho
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.669 KB)

Abstract

Penulis telah mengembangkan piranti lunak Weighted Wavelet Ztransform(WWZ) yang selama ini telah banyak igunakan dalam analisis spektral aktivitas matahari serta arameter-parameter terkait lainnya. Dengan enambahan fitur seperti kemampuan bekerja pada istem operasi Windows, seperti menghitung nilai periode ecara otomatis serta menampilkan grafik tiga dimensi kontur) yang terintegrasi di dalamnya, para pengguna kan dapat mempersingkat waktu pengolahan data ehingga pada akhirnya hasil analisis yang diperoleh bisa ebih optimal. Kata kunci:Weighted Wavelet Z-transform WWZ), Metode analisis spektral
PEMANFAATAN GLOBAL CIRCULATION MODEL (GCM)UNTUK PREDIKSI PRODUKSI PADI Sinta Berliana Sipayung; - Sutikno
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.871 KB)

Abstract

Dalam pengembangan model untuk prediksi produksi padi berdasarkan Palmer Drought Severity Index (PDSI) menggunakan luaran GCM CSIRO MK3 (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization) Australia, dengan input curah hujan dan suhu bulanan untuk tiga skenario SRES (Special Report on Emissions Scenarios) yaitu SRESA2, SRESB1 dan SRESA1B, maka dapat diprediksi produksi padi di dua Kabupaten Subang dan Tasikmalaya. Dengan menghitung luas area pertanian pada masing-masing wilayah ZPI (zona prediksi iklim), PDSI terboboti per subround/periode (PDSIWp) dan penentuan bobot berdasarkan persentase luas area pertanian pada setiap wilayah maka diperoleh prediksi produksi padi di masa yang akan datang (2010, 2020, 2030, 2040, dan 2050). Prediksi produksi padi di Kabupaten Subang sebesar 792.943 ton dari rataan ketiga model skenario Pemanfaatan Global Circulation........ (Sinta Berliana Sipayung et al.) 83 GCM pada tahun 2020, sementara pada tahun 2050 prediksi produksi padi sebesar 827.270 ton. Kabupaten Tasikmalaya rataan produksi padi periode 1988-2005 adalah 568.145 ton per tahun, sedangkan prediksi produksi padi tahun 2020 sebesar 573.906 ton dan 596.026 ton pada tahun 2050. Jika dibandingkan produksi saat ini rataan tahun 1988-2005 prediksi produksi padi mengalami penurunan sekitar 8 % pada tahun 2020 dan 4% tahun 2050 di Kabupaten Subang sedangkan Tasikmalaya mengalami kenaikan 1% pada tahun 2020 dan 5% pada tahun 2050. Kata kunci: Iklim, GCM, PDSI dan Produksi Padi.
ANALISIS PENYEBAB ANOMALI SATELIT AKIBAT AKTIVITAS GEOMAGNET Nizam Ahmad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.091 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2009.v6.a355

Abstract

Analisis terhadap data anomali satelit dan aktivitas geomagnet melalui indeks Kp dari tahun 1990-2001 memberikan informasi prakiraan penyebab dan dampak pengaruh aktivitas geomagnet ini pada operasional satelit. Analisis ini menunjukkan bahwa 58 persen kejadian anomali satelit dalam kurun waktu 1990-2001 kemungkinan disebabkan oleh aktivitas geomagnet. Hal ini dapat dilihat melalui besarnya indeks Kp pada saat kejadian dan rentang waktu 3 hari sebelum dan sesudah kejadian anomali dilaporkan. Variasi aktivitas geomagnet ini menimbulkan dampak yang berbeda pada sistem satelit, mulai dari kerusakan yang bisa langsung dipulihkan (recovery) dari stasiun bumi maupun kegagalan misi satelit secara total (total loss). Analisis ini juga memperlihatkan bahwa kebanyakan anomali satelit dialami oleh instrumen yang terdapat dalam sistem GNdanC (Guidance, Navigation and Control) satelit seperti sistem kontrol sikap satelit (ACS), sistem pengarah (pointing system) dan sensor pada satelit. Kata kunci: Satelit, Anomali satelit, Indeks Kp.

Page 1 of 1 | Total Record : 6