cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2010)" : 11 Documents clear
EFFECT OF THE VARIABILITY AND CLIMATE CHANGE TO DETECT CASE OF DENGUE FEVER IN INDONESIA Achmad Sasmito; Riris Adriyanto; Asri Susilawati; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.267 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.76

Abstract

Hasil dari penelitian para pakar iklim menunjukkan bahwa suhu global termasuk di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu, serta telah terjadi pergeseran variasi curah hujan di beberapa wilayah. Terjadinya variasi dan perubahan iklim akan mempengaruhi area perkembang biakan nyamuk. Situasi ini berdampak langsung terhadap munculnya kasus demam berdarah. Pada penelitian ini dilakukan prediksi kasus demam berdarah wilayah Jakarta berdasarkan data curah hujan, hari hujan, kasus demam berdarah pada bulan sebelumnya, dan asumsi bahwa pada tahun 2010 musim kemarau basah tidak terjadi, maka kasus demam berdarah pada tahun 2010 diperkirakan menurun dibandingkan tahun 2007-2009. Hal ini karena musim hujan di tahun 2009-2010 di DKI Jakarta cenderung berkurang dibandingkan dengan tahun 2007-2008 dan 2008-2009.Dari hasil analisis menunjukkan bahwa kasus demam berdarah dapat dijadikan sebagai peringatan dini untuk dilakukan tindakan pencegahan kedepan, selain faktor alam (meteorologi) perlu juga dilakukan kajian sosial, budaya dan faktor lingkungan. Salah satu strategi untuk mengatasi kasus demam berdarah dapat dilakukan melalui koordinasi, kerjasama, dan kolaborasi antara pemerintah, peneliti dan masyarakat. Results from climate experts researches showed that global temperature including in Indonesia tends to increase from time to time, as well as a shift in rainfall variation in some regions. The occurrence of variation and climate change will affect the growth areas of mosquitoes. This situation has a direct impact on the emergence of dengue fever cases.In this research, prediction of dengue fever cases in the Jakarta region based on rainfall data, rainy days, cases of dengue fever in the previous month, and the assumption that in the year 2010 wet - dry season  condition will not occur, Then the cases of dengue fever in the year 2010 is expected to decline compared years 2007-2009. This is because the rainy season in the years 2009-2010 in Jakarta is relatively reduced compared to the years 2007-2008 and 2008-2009.From the results of the analysis showed that cases of dengue fever can be used as an early warning for future preventive action, in addition to natural factors (meteorology) should also be examined social, cultural and environment factors. One strategy for addressing cases of dengue fever can be done through coordination, cooperation and collaboration between government, researchers and the society.
PENGELOMPOKKAN POLA CURAH HUJAN YANG TERJADI DI BEBERAPA KAWASAN P. SUMATERA BERBASIS HASIL ANALISIS TEKNIK SPEKTRAL Eddy Hermawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.054 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.67

Abstract

Makalah ini berisi informasi tentang pentingnya pengelompokkan pola curah hujan yang terjadi di beberapa stasiun penakar curah hujan yang tersebar di P. Sumatera. Hal ini penting dilakukan mengingat kawasan P. Sumatera, umumnya didominasi oleh pola curah hujan Monsunal dengan osilasi dominan sekitar satu tahunan yang dikenal dengan istilah AO (Annual Oscillation). Dengan metode/teknik analisis spektral, maka akan dianalisis apakah benar hampir semua kawasan di Sumatera berpola curah hujan seperti itu. Hasil analisis terhadap tiga puluh tiga stasiun penakar curah hujan yang tersebar di Sumatera Barat selama kurang lebih tujuh tahun pengamatan periode Januari 1986 hingga Desember 1992 menunjukkan bahwa diantara tiga puluh tiga stasiun tersebut, memang benar dua puluh empat diantaranya menunjukkan osilasi satu tahunan (AO). Hal serupa, juga dialami oleh sebagian besar stasiun penakar curah hujan yang tersebar di Sumatera bagian selatan, khususnya kota Palembang. Namun, ada juga beberapa kawasan di Sumetera Barat khususnya yang justru menunjukkan osilasi setengah tahunan yang dikenal dengan istilah SAO (Semi Annual Oscillation). Penjelasan lebih lanjut tentang apa itu osilasi AO dan SAO, termasuk penjelasan tentang metode/teknik spektral yang digunakan, yakni FFT (Fast Fourier Transform) kami bahas secara detail dalam full makalah ini. This paper contains an information about the importance of grouping patterns of rainfall which occurred at several measuring stations that scattered at Sumatera Island. This is important considering the area of Sumatera Island, generally dominated by monsoonal rainfall pattern with about a dominant annual oscillation known as AO (Annual Oscillation). With the methods/techniques of spectral analysis, it will be analyzed whether it was true almost all the regions in Sumatra, the rainfall pattern like that. The results on the thirty-three measuring stations scattered in Western Sumatera for approximately seven years of observation period January 1986 to December 1992 showed that among the thirty-three stations, it was true, the  twenty-four of them showed an annual oscillation (AO). Similarly, also experienced by most of the rainfall stations that scattered  in Southern Sumatra, especially at Palembang city. However, there are also several areas in the Western Sumatera, they show semiannual oscillation known as the SAO (Semi-Annual Oscillation). Further explanation about what it is oscillating AO and SAO, including an explanation of the spectral analysis methods/ techniques that we used spectral, that is FFT (Fast Fourier Transform), we discuss in detail in this full paper.
ENERGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN I Made Astra
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.72

Abstract

Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang  lainnya, perubahannya sering mempengaruhi lingkungan dan udara yang kita hirup dengan berbagai cara. Energy kimia dalam bahan bakar fosil diubah menjadi energy panas, mekanik, atau listrik melalui pembakaran dan  ini sebagai penghasil polutan terbesar. Dan dengan demikian pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan kompor adalah penyebab utama terjadinya polusi udara.  Polutan yang dikeluarkan biasanya dikelompokan menjadi  hidrokarbon (HC), nitrogen oksida (NOx), dan  karbon monoksida (CO). Polutan yang dihasilkan pada pembakaran fosil merupakan faktor terbesar terjadinya asap, hujan asam,  pemanasan global dan perubahan iklim. The conversion of energy from one form to another often affects the environment and the air we breath in many ways. Pollutants are emitted as the chemical energy in fossil fuels is converten to thermal, mechanical, or electrical energy via combustion, and thus power plants, motor vehicles, and even stoves take the blame for air pollution, and  the pollutants released by the vehicles are usually grouped as hydrocarbons (HC), nitrogen oxides (NOx), and carbon monoxide (CO). Pollutans emitted during the combustion of fossil fuels are responsible for smog, acid rain, and global warming and climate change.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.86 KB)

Abstract

Sampul jurnal Vol. 11 No. 2 Tahun 2010
ANALISIS PEMETAAN SAMBARAN PETIR AKIBAT BANGUNAN BTS TERHADAP LINGKUNGAN DAN SEKITARNYA DI KOTA MEDAN Lestari Naomi Lydia Pandiangan; Wisnu Wardono; R. B. Yanuar Harry
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.422 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.68

Abstract

Sumatera bagian utara mempunyai daerah potensi rawan petir karena daerah ini mempunyai topografi yang memungkinkan tumbuhnya awan-awan konvektif di sekitar lereng pegunungan arah timur seperti kota Medan. Bencana petir dapat berupa serangan petir yang mengganggu transmisi listrik tegangan tinggi, dan dapat merenggut nyawa bagi yang terkena serangan langsung. Begitu besar bahaya yang ditimbulkan akibat adanya sambaran petir ini, sehingga masyarakat perlu waspada dan hati-hati pada saat terjadi hujan disertai petir, apalagi bagi masyarakat yang tinggal berada di bawah atau di sekitar menara BTS (base tranceiver station). Hal ini dikarenakan secara umum petir akan dominan menyambar bagian-bagian di permukaan bumi yang memiliki struktur tinggi (gedung-gedung tinggi, tower BTS, menara transmisi tegangan tinggi) dan dominan memilih struktur yang terbuat dari material konduktif seperti metal. Adanya analisis pemetaan sambaran petir akibat bangunan BTS terhadap lingkungan dan sekitarnya di kota Medan dapat membantu semua pihak dalam meminimalisir resiko bencana yang diakibatkan oleh sambaran petir. Berdasarkan hasil overlay peta klasifikasi intensitas sambaran petir menunjukkan intensitas petir tinggi terdapat pada kecamatan yang banyak terdapat bangunan BTS. Northern Sumatra has a lightning-prone areas because it has topography that allows the growth of convective clouds around the mountain slopes direct to the east, such as Medan. Lightning disasters can manifest as lightning attack which with interfere the high voltage electricity transmission, and can be fatal whoever who comes into direct contact with it. The danger caused by a lightning strike is so great, so that the community has to be extra needs to be vigilant and cautious at the time of rain accompanied by lightning, especially for those living under or around the base tranceiver station (BTS). This is because lightning generally prefer to strike parts of the earth that has high structures, such as tall buildings, tower base stations, high voltage transmission towers and are more attracted to structures that made of conductive material like  metal. With the existence of the mapping analysis of lightning strike because of BTS Building towards the environment and its surrounding in Medan can help all parties in minimalize the risk of disaster caused by lightning strikes. Based on the intensity classification map overlay, it is shown that the intensity of a lightning attack high in the area that has many BTS buildings.
MODEL GEOSPASIAL POTENSI KERENTANAN TSUNAMI KOTA PADANG Dian Oktiari; Sudomo Manurung
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.669 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.73

Abstract

Kondisi geografis Kota Padang yang landai di bagian tengah dan berbukit-bukit disekelilingnya menyebabkan aktifitas manusia terpusat di lokasi yang landai tersebut. Apabila terjadi bencana gempabumi, yang diikuti tsunami, akan menimbulkan korban yang cukup besar, karena terjadi penumpukan objek vital, infrastruktur dan aktivitas manusia di daerah landai. Jumlah korban dapat dikurangi dengan menghitung potensi kerentanan tsunami sebagai sumber bencananya. Faktor resiko meliputi sebaran penduduk, objek vital, dan infrastruktur. Perkalian factor resiko dan sumber bencana  akan dimodelkan secara spasial, sehingga diperoleh klasifikasi area berdasarkan tingkat kerentanan terhadap bencana tsunami  di Kota Padang, dimana yang paling tinggi adalah  Kecamatan Kuranji dan Kecematan Padang Utara, dan  yang paling rendah potential risk nya adalah Kecamatan Lubuk Kilangan. Kota Padang’s topography show that there’s a slope in the middle of city and hilly surrounds it caused centralization on those slope location. If earthquake occurred, followed by tsunamis, it will be a great number of victims, because there are an accumulation of critical objects, infrastructures, and human activities on that slope. Reducing victims could be done by calculating tsunami -as disaster source- vulnerability potential. Disaster vulnerability potential risk factor consists of demography, critical objects, and infrastructures. Multiplication of risk factor and disaster potential will be shown in spatial model, so that we can get the area classification based on level of tsunami disaster vulnerability of Kota Padang, and the highest level is Kecamatan Kuranji and Kecamatan Padang Utara, and the lowest level is Kecamatan Lubuk Kilangan.
TECHNOLOGY NEEDS ASSESSMENT (TNA) FOR CLIMATE CHANGE MITIGATION IN AGRICULTURE SECTOR: CRITERIA, PRIORITIZING AND BARRIERS Kasdi Subagyono; B. Sugiharto; E. T. Purwani; D. Susilokarti; Irsal Las; A. Unadi; E. Runtunuwu
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.931 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.69

Abstract

Upaya mitigasi di sektor pertanian menjadi sangat penting karena sektor ini berkontribusi terhadap munculnya emisi gas rumah kaca (GRK), namun demikian kajian terhadap kebutuhan teknologi untuk mitigasi belum dilakukan. Kajian difokuskan pada seleksi teknologi, kendala dan peluang untuk mengatasi masalah. Seleksi teknologi didasarkan pada criteria dan opsi teknologi yang diperlukan. Data dan informasi dikumpulkan dari berbagai lembaga baik badan, pusat dan lembaga-lembaga terkait lainnya serta melalui lokakarya yang melibatkan para pemangku kepentingan. Seleksi teknologi untuk mitigasi mempertimbangkan criteria umum yang meliputi pengurangan emisi GRK dari tanaman dan ternak, konservasi sumberdaya, untuk keberlanjutan keanekaragaman hayati, mengangkat isu energi hijau, keberlanjutan keamanan pangan, dan mengangkat isu energi alternatif; dan spesifik criteria yang meliputi memprioritaskan teknologi lokal untuk mitigasi, keberlanjutan plasma nutfah spesifik lokasi, memprioritaskan teknologi yang murah untuk petani miskin, introduksi varietas tanaman yang rendah emisi, mengganti sebagian pupuk kimia dengan pupuk organik, serta mengurangi emisi gas metana (CH4). Kriteria tersebut diskor kedalam 4 kelas, yaitu nilai tinggi/relevansi tinggi/sangat berdampak (skor 5), nilai sedang/relevan/berdampak sedang (skor: 3); nilai rendah/kurang relevan/kurang berdampak (skor: 1); dan tidak relevan/tidak berdampak (skor: 0). Hasil kjian menunjukkan bahwa prioritas teknologi yang dibutuhkan untuk mitigasi: (a) untuk lahan sawah: varietas tanaman dengan emisi rendah, pemupukan yang tepat, tanpa olah tanah/olah tanah minimum, dan irigasi berselang, (b) untuk tanaman tahunan: teknologi tebang baker yang tepat dan biofuel, (c) untuk peternakan: teknologi pengomposan dan biogas, dan (d) untuk lahan gambut: menghindari tebang bakar, menghindari drainasi yang berlebihan dan menjaga kelembaban tanah. Mitigation action in agriculture sector is crucial since it contributes to greenhouse gas emission, yet technologies need for have not been assessed. The technology needs assessment for the agriculture sector cover paddy field, perennial crops, peat soil, and livestock. The concern of the assessment is categorized into technology options, priority/key technology, barriers, and modalities. Selected technologies are based on criteria and priority options of technology needs. Data and information have been collected from related agencies, center, institutes and other relevant sources as well as through a workshop. Technology selection process for mitigation considered general criteria of reducing GHG emissions from crops and livestock, promoting resource conservation, promoting sustainable biodiversity, promoting green energy, sustaining food security, and promoting energy alternative; and specific criteria of promoting local technology for mitigation, sustaining site-specific germ plasms, promoting simple and cheap technology for poor farmers, promoting less emission crop varieties, substituting chemical with organic fertilizers/compost, and reduce CH4 emissions. Those criteria are scored into 4 classes, i.e. high value/high relevant/high impact (score: 5), Medium value/relevant/med impact (score: 3); Low value/less relevant/less impact (score: 1); nil – not relevant/no impact (score: 0). The assessment has come up with the results that priority technologies needed for mitigation are (a) low methane emitter crops varieties, appropriate fertilizing, no tillage, and intermittent irrigation for paddy fields, (b) appropriate slash and burn and bio-fuel for perennial crops, (c) composting manure and biogas production for livestock, and (d) overcoming slash and burn, avoiding over drain and maintaining soil moisture for peat soils.
STUDI AWAL HUBUNGAN GEMPA LAUT DAN GEMPA DARAT SUMATERA DAN SEKITARNYA Listya Dewi Rifai; I Putu Pudja
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.93 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.74

Abstract

Secara umum, wilayah Sumatera di bagi menjadi dua sumber gempa tektonik, yaitu pada zona subduksi di sepanjang laut dan pada zona-zona sepanjang patahan sistem sesar Sumatera di daratan. Sebagai studi awal untuk melihat interaksi antara kejadian gempa pada kedua daerah tersebut, maka dilakukan pendekatan dengan menganalisa gempa berdasarkan P-axis fokal mekanisme, rentang waktu kejadian, dan jarak dengan mengambil sampel dari data sejumlah gempabumi dirasakan yang pernah terjadi di laut dan di daratan pulau Sumatera selama tahun 2007 sampai 2009. Setelah dilakukan analisa P-axis dari hasil plot fokal mekanisme, jarak, dan selang waktu kejadian, diindikasikan bahwa kejadian gempa di laut mentrigger terjadinya gempa di darat. Didapatkan bahwa sebelum gempa darat 19 Juni 2008 dan 01 Oktober 2009, sejumlah gempa-gempa di lautnya memiliki kelurusan arah P-axis cenderung terhadap gempa di daratan. Generally, Sumatera devided by 2 resources of tectonic earthquake, consist of subduction zone along the sea and subduction along fracture at Sumatera fault system in the land. As the begining study for observe interaction of earthquake from both of earthquake zone, do approximate to analyse the earthquake according P-axis of focal mechanism, stretches of time, and distance with take sample from a number of felt earthquake data that occur in the sea and the land of Sumatera at 2007 - 2009. After analyse P-axis from result of focal mechanism plot, distance, and time range, indicated that earthquake occur in the sea trigger earthquake occur in the land. We found that before earthquake 19 Juny 2008 and 1 October 2009, a number of earthquake in the sea have P-axis direction inclined turned to earthquake in the land.
PREDIKSI CURAH HUJAN BULANAN MENGGUNAKAN METODE KALMAN FILTER DENGAN PREDIKTOR SST NINO 3.4 DIPREDIKSI Restu Tresnawati; Tri Astuti Nuraini; Wido Hanggoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.70

Abstract

Prediksi Curah Hujan Bulanan di daerah Purbalingga telah dilakukan menggunakan metode Kalman Filter dengan Prediktor SST 3.4. Validasi terhadap prediksi tiga tahun kebelakang (hindcast) 2006, 2007, 2008 menunjukkan nilai koefisien korelasi mencapai 75%. Untuk memperoleh nilai prediktor SST Nino 3.4 diprediksi menggunakan metode ARIMA. Validasi prediksi SST Nino 3.4 selama tiga tahun periode pengujian menunjukkan pada tahun 2006 r=0.91, 2007 r=0.64 dan 2008 r=0.82. Monthly Rainfall Prediction in the area Purbalingga been performed using the method of Kalman Filter with SST Predictor 3.4. Validation of predictions three years before (hindcast) 2006, 2007, 2008 showing the correlation coefficient reached 75%. To obtain Nino 3.4 SST predictor values predicted using ARIMA method. Validation of Nino 3.4 SST predictions for three-year testing period in 2006 showed r = 0.91, 2007 and 2008, r = 0.64 r = 0.82
ANALISIS PENGARUH VARIABILITAS TANAH PADA VARIABILITAS SPEKTRUM RESPON GEMPABUMI I Nyoman Sukanta; Widjojo A. Prakoso
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.75

Abstract

Salah satu komplek perkantoran yang terletak di Jalan Thamrin, Jakarta, dipilih sebagai lokasi penelitian. Hasil pemodelan data tanah, menghasilkan 3 lapisan tanah yang berbeda dengan kriteria jenis tanahnya cenderung lunak, dengan nilai N-SPT rata–rata = 11,23. Perhitungan percepatan puncak muka tanah (PGA) dan nilai spektrum respon di permukaan tanah menggunakan metoda analisis linier equivalen dengan simulasi Monte Carlo. Program aplikasi SHAKE2000 merupakan alat bantu dalam simulasi, dengan memasukkan beberapa asumsi sebagai data masukan. Data masukan dinamik menggunakan sumber gempabumi Elcentro dan Mexico yang mempunyai kandungan frekuensi berbeda. Asumsi nilai percepatan puncak batuan dasar (PBA) untuk kedua sumber gempabumi tersebut sebesar 0,18 g. Hasil analisis menunjukkan nilai spektrum respon dan percepatan puncak muka tanah sangat bervariasi. Gempabumi Elcentro menghasilkan nilai rata–rata PGA = 0,36 g dengan spektrum responnya = 1,0 g  pada Tc = 0,6 detik. Untuk gempabumi Mexico menghasilkan nilai rata–rata PGA = 0,30 g dengan spektrum responnya = 0,9 g pada Tc = 0,6 detik. Artinya, variabilitas jenis tanah sangat berpengaruh tehadap variabilitas spektrum respon di permukaan tanah.  One of the office complex located at Jalan Thamrin, Jakarta, was chosen as the location of the reseach. Results of data modeling soil, produces 3 different soil layers with soil type criteria tend to be soft, with a value of N-SPT  average = 11.23. Calculation of peak ground acceleration (PGA) and the value of the response spectrum at ground surface using the method of equivalent linear analysis with Monte Carlo simulation. SHAKE2000 application software  is a tool in the simulation, by including some assumptions as input data. Dynamic input data using Elcentro and Mexican  earthquakes  which have different frequency contents. Assumed value of peak base acceleration (PBA) for the two earthquakes was 0.18 g. The result of analysis was the value of response spectrum and peak ground acceleration is very different variable. Elcentro earthquake result average value of  PGA = 0.36 g with the response spectrum = 0.6 sec at Tc = 1.0 g.  For Mexican  earthquake result average value of PGA = 0.30 g with the response spectrum = 0.6 sec at Tc = 0.9 g. That is , the variability of the soil types was influential affect the variability of the response spectrum at ground surface

Page 1 of 2 | Total Record : 11