cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 3 (2014)" : 8 Documents clear
PENGARUH PERUBAHAN SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP CURAH HUJAN BENUA MARITIM INDONESIA PADA SEPTEMBER 2006 Danang Eko Nuryanto; Imelda Ummiyatul Badriyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.817 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.207

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk investigasi pengaruh perubahan Suhu Permukaan Laut (SPL) terhadap curah hujan di atas wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI). Hal ini dilakukan mengingat wilayah BMI terdiri dari pulau-pulau yang dikelilingi oleh laut, di antaranya ada dua lautan besar yaitu Samudra Hindia dan Samudera Pasifik. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemodelan iklim menggunakan model Regional Climate Model versi 4 (RegCM4). Model RegCM4 merupakan salah satu model iklim yang awalnya dikembangkan di National Center for Atmospheric Research (NCAR) dan banyak diterapkan untuk kajian studi regional iklim dan prakiraan musim diseluruh dunia. Skenario model yang digunakan untuk mengetahui interaksi darat-laut-atmosfer yang terjadi di BMI  dengan  cara salah satunya untuk mengetahui pengaruh SPL terhadap curah hujan. Skenario SPL tersebut dibagi menjadi penambahan SPL 1°– 2°C  dan pengurangan 1°– 2°C . Dalam penelitian ini disimulasikan selama satu bulan yaitu tanggal 1 – 30 September 2006. Hasilnya menunjukkan bahwa dominasi pengaruh perubahan SPL terhadap curah hujan BMI di darat lebih tinggi daripada di laut. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh SPL terhadap curah hujan di darat mengalami penguatan dibanding di laut. This study aimed to investigate the effect of changes in Sea Surface Temperature (SST) of the rainfall over the Indonesian Maritime Continent (IMC) region. This is done because of IMC region consists of many islands surrounded by the sea, of which there are two major oceans, namely the Indian Ocean and the Pacific Ocean. This study was conducted by using a model of Regional Climate Model version 4 (RegCM4). The RegCM4 model is one of the climate models that were originally developed by the National Center for Atmospheric Research (NCAR) and widely applied to study regional climate studies and prediction of the season around the world. The model scenario is used to determine the interaction of the land-ocean-atmosphere that occurs in IMC with one way to determine the effect of SST on rainfall. The scenario is divided into increasing 1°– 2°C and reducing 1°–2°C of SST. The simulation in this study was using one month period data, from 1 to 30 September 2006. The results show that the dominance effects of SST changes to IMC rainfall are higher on land than at sea. This indicates that the influence of the SST to rainfall is strengthened on land than at sea.
ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BAHAYA SAMBARAN PETIR DENGAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING DI PROVINSI BALI Tomy Gunawan; Lestari Naomi Lydia Pandiangan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.165 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.221

Abstract

Bali merupakan daerah potensi rawan sambaran petir karena memiliki iklim tropis dengan peluang terjadinya hujan disertai petir cukup tinggi dan juga rentan karena tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Kondisi ini mengancam keselamatan jiwa dan harta benda penduduk, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menganalisa tingkat kerawanan sambaran petir di wilayah Bali. Untuk identifikasi tingkat kerawanan sambaran petir digunakan dua faktor yaitu faktor ancaman menggunakan data kejadian petir CG (2009-2013) dan faktor kerentanan menggunakan data kepadatan penduduk dan penggunaan lahan untuk rumah dan bangunan. Dua faktor tersebut dianalisa menggunakan metode SAW (Simple Additive Weighting) untuk mendapatkan tingkat kerawanan sambaran petir tiap kecamatan. Dari hasil perhitungan menunjukkan kecamatan Selemadeg Barat, Denpasar, Kuta, Pupuan, Klungkung dan Selemadeg memiliki tingkat kerawanan sambaran petir tinggi, 27 kecamatan berada dalam kategori sedang dan 21 kecamatan sisanya berada dalam kategori rendah. Bali is a potential lightning strike prone area due to its tropical climate with the high probability of rain accompanied by lightning that is also vulnerable due to its high population density. This condition threatens the safety of the lives and property of the population and makes it necessary to study the vulnerability of lightning strikes in Bali. To identify the level of vulnerability to lightning strikes there are two factors, the first is a threatening factor using CG lightning data (2009-2013) and the second is a vulnerability factor using the data of population density and land use for homes and buildings. Both factors were analyzed using the method of Simple Additive Weighting (SAW) to obtain the level of vulnerability to lightning strikes for each district. The results of the calculations show that Selemadeg Barat, Denpasar, Kuta, Pupuan, Klungkung, and Selemadeg have a high level of vulnerability to lightning strikes, 27 districts are in the middle level and the remaining 21 districts are in a low category.
ASSESSMENT OF ATMOSPHERIC CORRECTION METHODS FOR OPTIMIZING HAZY SATELLITE IMAGERIES Umara Firman Rizidansyah; Muhammad Buce Saleh; Antonius Bambang Wijanarto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.16 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.217

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menguji kesesuaian tiga jenis metode koreksi haze terhadap kejelasan obyek permukaan di wilayah tutupan vegetasi dan non vegetasi, berkenaan menghilangkan haze di wilayah citra satelit optis yang memiliki karakteristik tertentu dan diduga proses pembentukan partikel hazenya berbeda. Sehingga daerah penelitian dibagi menjadi wilayah rural yang diasumsikan sebagai daerah vegetasi dan urban sebagai non vegetasi. Pedesaan terpilih kecamatan Balaraja dan Perkotaan terpilih kecamatan Penjaringan. Tiap lokasi menggunakan Avnir-2 dan Landsat 7. Untuk mendapatkan hasil pengurangan kabut di kedua lokasi tersebut digunakan metode Dark Object Substraction (DOS), Virtual Cloud Point (VCP) dan histogram Match (HM) dengan persamaan  nilai optimasi kabut HOT = DNbluesin(∂)-DNredcos(∂). hasil penelitian ini sebagai berikut: dalam hal AVNIR-Rural, VCP memiliki hasil yang baik di Band-1 sedangkan HM memiliki hasil yang baik pada band-2, 3 dan 4 sehingga dalam kasus AVNIR-Rural dapat diterapkan HM. Dalam hal AVNIR-Urban, DOS memiliki hasil yang baik pada band-1, 2 dan 3. Sementara HM memiliki hasil yang baik pada band 4, sehingga dalam kasus AVNIR-Urban dapat diterapkan DOS. Dalam kasus Landsat-Rural, DOS memiliki hasil yang baik pada band-1, 2 dan 6, Sementara VCP memiliki hasil yang baik pada band 4 dan 5. Sehingga dalam kasus Landsat-Rural dapat diterapkan DOS. Dalam hal Landsat-Urban, DOS memiliki hasil yang baik pada band-1, 2 dan 6 sedangkan VCP  memiliki hasil yang baik pada band-3, 4, dan 5. Sehingga dalam hal Landsat-Urban dapat diterapkan VCP. Semakin baik citra hasil koreksi semakin kecil nilai optimasi kabut, nilai rata–rata terkecil adalah 106,547 dengan VCP di Landsat-Rural. The purpose of this research is to examine the suitability of three types of haze correction methods toward the distinctness of surface objects in land cover. Considering the formation of haze, therefore, the main research is divided into both region namely rural assumed as vegetation and urban assumed as non-vegetation area. Region of interest for rural selected Balaraja and urban selected Penjaringan. Haze imagery reduction utilized techniques such as Dark Object Subtraction, Virtual Cloud Point and Histogram Match. By applying an equation of Haze Optimized Transformation HOT = DNbluesin(∂)-DNredcos(∂), the main result of this research includes: in the case of AVNIR-Rural, VCP has good results on Band 1 while the HM has good results on band 2, 3 and 4, therefore in the case of Avnir-Rural can be applied to HM. in the case of AVNIR-Urban, DOS has good result on band 1, 2 and 3 meanwhile HM has good results on band 4, therefore in the case of AVNIR-Urban can be applied to DOS. In the case of Landsat-Rural, DOS has a good result on band 1, 2 and 6 meanwhile VCP has good results on band 4 and 5 and the smallest average value of HOT is 106.547 by VCP, therefore in the case of Lansat-Rural can be applied to DOS and VCP. In the case of Landsat-Urban, DOS has a good result on band 1, 2 and 6 meanwhile VCP has good results on band 3, 4 and 5, therefore in the case of Landsat-Urban can be applied to VCP.
STUDI AWAL CODA Q-FACTOR WILAYAH SESAR OPAK Indra Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.996 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.222

Abstract

Selama proses penjalaran gelombang seismik sampai terekam di seismometer, gelombang seismik mengalami proses atenuasi dimana energi gelombang berkurang akibat geometrical spreading, intrinsic attenuation dan scattering attenuation. Proses ini dapat menerangkan struktur lapisan bumi dan aktivitas seismik suatu wilayah. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses atenuasi adalah coda Q-factor.  Hasil pengolahan coda Q-factor dari empat gempa lokal di sekitar Sesar Opak menghasilkan nilai rata-rata atenuasi sebesar Qc = 95.02 f 0.15. Berdasarkan nilai ini bila dibandingkan dengan nilai coda Q-factor di wilayah seismik aktif maka dapat dikatakan wilayah Sesar Opak memiliki tingkat aktivitas seismik yang cukup aktif. During seismic wave propagating process through it is recorded on a seismometer, seismic wave encounters attenuation process, where the wave energy is reduced due to geometrical spreading, intrinsic and scattering attenuation. This process can interpret the structure of the layers of the earth and the seismic activity of a region. The coda Q-factor is a phenomenon affected the attenuation process. The result of coda Q-factor processing of four local earthquakes around Opak’s Fault yields an average attenuation value around Qc= 95.02 f 0.15. Based on this coda Q-factor number for active seismic, it is estimated that Opak’s Fault region has a reasonably active seismic region.
INDIKASI BERHENTINYA URBAN HEAT ISLAND (SUHU) DI BALI SAAT NYEPI Imelda Ummiyatul Badriyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.61 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.218

Abstract

Pertambahan penduduk, peningkatan konsumsi energi, peningkatan infrastruktur pariwisata daerah dan masih banyak alasan di daerah-daerah urban di negara Asia yang telah memperluas tutupan lahan termodifikasi. Faktor-faktor tersebut meningkatkan fenomena urban heat island dan memperluas mulai daerah urban, sub urban dan daerah rural. Penelitian ini memanfaatkan peristiwa perayaan Nyepi dan perubahan suhu rerata pada 4 daerah lokal di Bali yaitu Sanglah, Ngurah Rai, Negara dan Kahang. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar berhentinya urban heat island terhadap suhu rerata 15 hari pada perayaan Nyepi yaitu (-7), hari Nyepi dan (+ 7). Urban Heat Island tidak memberikan pengaruh terhadap suhu siang sampai malam hari pada perayaan Nyepi sepanjang tahun 2004-2014 baik mulai daerah urban, sub urban dan rural di Bali, kecuali Ngurah Rai, hanya 0.2OC pada sore hari. Sanglah sebagai daerah urban bersuhu tertinggi sepanjang siang dan Kahang merupakan daerah berpendinginan tertinggi. The increasing number of people in an area, the consumption of energy increases, the increase of regional tourism infrastructure and many other factors in Asian countries urban had widened the modified land cover. Those factors increased the urban heat island phenomenon and widen it into urban areas, suburban areas, and rural areas. This research made use of the occasion of Nyepi Day and the average temperature change caused in 4 local areas in Bali, namely Sanglah, Ngurah Rai, Negara and Kahang. The goal was to measure the ceased of urban heat island phenomena to average temperatures in those areas for 15 days: during the Nyepi event, 7 days before and 7 days after. The study showed that urban heat island phenomena did not affect average temperatures during the days until the nights in the urban to a rural area. Nevertheless, this excludes Ngurah Rai, with an increase of 0.2°C at noon. The result showed that among other urban areas studied, Sanglah was having the highest temperature during the afternoon and Kahang was having the lowest temperature area.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1378.287 KB)

Abstract

Sampul dan Pengantar Jurnal MG Volume 15 No 3 Tahun 2014
SELEKSI PREDIKTOR DATA GLOBAL CLIMATE MODEL DENGAN TEKNIK SINGULAR VALUE DECOMPOTITION UNTUK PREDIKSI CURAH HUJAN DI PANTAI UTARA JAWA BARAT Trinah Wati; Aji Hamim Wigena
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2444.403 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.219

Abstract

Pemilihan prediktor terbaik untuk curah hujan di 18 pos hujan periode 1980-2005 di Wilayah Pantai Utara di kabupaten Karawang, Indramayu dan Subang dilakukan menggunakan Teknik Singular Value Decomposition (SVD) menggunakan data presipitasi bulanan luaran GPCP dan CMAP, serta data tekanan udara, sea level pressure, precipitable water, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin luaran NCEP/NCAR reanalisis sebagai input. Prediktor terbaik untuk memprediksi rata-rata curah hujan bulanan di 18 stasiun hujan di wilayah pantai utara adalah kecepatan angin luaran NCEP/NCAR reanalisis. Selanjutnya prediktor terbaik digunakan untuk memprediksi curah hujan bulanan tahun 2006-2007 menggunakan pemodelan Statistical Downscaling Multiple Linear Regression (MLR) dan Partial Least Square Regression (PLS). Hasil validasi curah hujan prediksi dengan aktual menggunakan PLS memiliki korelasi yang lebih tinggi dan RMSEP yang lebih kecil dibandingkan MLR. Selection for best predictor of 18 rain gauge stations from 1980 to 2005 in Northern Coastal Area in Karawang, Indramayu and Subang District has been investigated with The Singular Value Decomposition technique using monthly rainfall data from GPCP and CMAP, and air pressure, sea level pressure, precipitable water, relative humidity temperature, wind speed from NCEP/NCAR reanalysis as the input. The best predictor for monthly rainfall prediction of 18 rain gauges is wind speed from NCEP/NCAR reanalysis. Further, this best predictor was used to predict monthly rainfall from 2006 to 2007 using the Multiple Linear Regression (MLR) Statistical Downscaling model and Partial Least Square (PLS) Regression. These methods showed that the validation results using PLS have higher correlation and smaller RMSEP than the MLR method.
HUBUNGAN KECEPATAN RELATIF PERGERAKAN LEMPENG DENGAN TINGKAT SEISMISITAS DI ZONA SUBDUKSI Muzli Muzli
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.220

Abstract

Perbedaan tingkat aktifitas gempabumi tektonik di zona subduksi dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktornya diduga akibat adanya pengaruh dari kecepatan relatif pergerakan lempeng. Studi terhadap hubungan antara kecepatan gerak lempeng dengan seismisitas dilakukan dengan menggunakan data gempabumi dan kecepatan relatif pergerakan lempeng pada beberapa zona subduksi di dunia. Jumlah data gempabumi diplot sebagai fungsi dari kecepatan relatif pergerakan lempeng. Hasil studi ini menunjukkan bahwa tingkat seismisitas gempabumi di zona subduksi dipengaruhi oleh kecepatan relatif pergerakan lempeng. Kedua parameter menunjukkan hubungan linear yang sangat baik dengan koefisien korelasi 0,98. Secara fisis hal ini menegaskan bahwa hukum kekekalan energi berlaku pada proses pergerakan lempeng di zona subduksi, dimana energi gerak lempeng berubah ke dalam bentuk pelepasan energi berupa gempabumi. Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa jumlah gempabumi dengan magnitudo lebih besar dari 4 dan kedalaman lebih kecil dari 60 km dapat dihitung secara teoritis dengan menggunakan rumusan empiris. Subduction zones are seismically the most active areas around the world. However, the seismicity rate among subduction zones is different. This can be caused by many reasons. One of them expected to be influenced by the relative plate velocity. Analysis of correlation between relative plate velocities and seismicity rate around subduction zones in the world has been done in this study. The correlation was analyzed by plotting the number of earthquake events as a function of relative plate velocities. The results show that the seismicity rate is linearly influenced by relative plate velocities with the correlation coefficient of 0,98. Physically it is asserted that the law of conservation of energy applies to the movement of the plates in subduction zones, where plate motion changed to energy in the form of energy release of earthquakes. The results of this study also showed that the number of earthquake events with a magnitude greater than 4 and depth less than 60 km follows our empirical equation.

Page 1 of 1 | Total Record : 8