cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 2 (2021)" : 5 Documents clear
STUDI FREKUENSI KRITIS (foF2) PADA LAPISAN IONOSFER YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GEMPA BUMI DI SEGMEN MENTAWAI TAHUN 2010-2015 Ashar Muda Lubis; Mawaddah Mawaddah; Afrizal B.; Halauddin Halauddin; Zainal Abidin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1106.722 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.717

Abstract

Telah dilakukan kajian frekuensi kritis (foF2) lapisan F ionosfer untuk mencari apakah perubahan/anomali foF2 pada lapisan ini berhubungan dengan kejadian gempa bumi di segment Mentawai Sumatera Barat sehingga dapat digunakan sebagai prekusor gempa bumi dalam order harian. Untuk itu data ionogram pada waktu 2005-2015 yang merupakan hasil pengamatan ionosonda tipe Frequency Modulation Continous Wave (FMCW) di stasiun Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatra barat, kemudian data aktivitas geomagnetik melalui indeks Disturbance Storm Time Index (DST) dan data aktivitas matahari (sunspot number) telah digunakan. Sementara itu sebanyak 37 kejadian data gempa bumi (Mw > 5,5) di wilayah Mentawai yang berasal dari USGS digunakan untuk mengkaji anomali foF2 terhadap kejadian gempa bumi selama 14 hari sebelum gempa bumi terjadi. Hasil pengamatan secara umum memperlihatkan terdapat anomali foF2 pada selang 14 hari sebelum terjadinya gempa bumi. Kemunculan foF2 tersebut dapat diduga sebagai indikasi sebagai aktivitas pre-seismic dalam kulit bumi pada 37 kejadian gempa bumi di wilayah Mentawai, meskipun kadang-kadang aktivitas geomagnet dan aktivitas matahari terlihat berpengaruh anomali foF2. Oleh karena itu diperlukan kajian lanjutan untuk menguji korelasi antara anomali foF2 dan kejadian gempa bumi secara statistik.
DISTRIBUSI FREKUENSI GEMPA DAN DIMENSI FRAKTAL PADA SEISMIK GAP DI INDONESIA Rahmat Setyo Yuliatmoko; Yusuf Hadi Perdana; Agustya Adi Martha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2338.408 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.771

Abstract

Seismic gap didefinisikan sebagai wilayah potensi gempa tinggi yang seharusnya telah melepaskan energi sebagai gempa besar, namun berdasarkan data katalog pelepasan energi tersebut belum terjadi. Identifikasi zona seismic gap dapat digunakan dalam meningkatkan kewaspadaan, penentuan prioritas monitoring kegempaan, warning tsunami, pertimbangan pembangunan infrastruktur, dan tata kota wilayah sehingga perlunya pemahaman yang akurat tentang karakteristik gempabumi di Indonesia. Dalam penelitian ini, baik a Value maupun b Value dari hubungan distribusi frekuensi-magnitudo dan fractal dimension (Dc) diteliti secara bersamaan dari 12 zona seismic gap di Indonesia. Dengan menggunakan data gempabumi, perhitungan b-value dan Dc-value telah menyiratkan adanya variasi seismotectonic stress. Hubungan antara Dc-b dan Dc-(a/b) diteliti untuk mengkategorikan tingkatan bahaya gempabumi dari zona sumber seismik, dimana kalibrasi kurva menggambarkan korelasi negatif antara Dc dan b-value (Dc=0.1146b-1.9029) dan korelasi negatif antara Dc dan rasio a/b (Dc=0.0443(a/b)-6.825) dengan koefisien korelasi yang berbeda antara R2=0.0011 dan R2=0.0027 untuk kedua regresi. Berdasarkan hubungan Dc-b lebih terpercaya dan lebih efektif, diinterpretasikan secara tektonik bahwa zona West Papua dan Fault Sumatera Selatan menunjukkan akumulasi stress yang rendah sedangkan zona Backthrust Bali dan Halmahera sebagai wilayah dengan stress tertinggi, yang berpotensi terjadinya gempa besar. Oleh karena itu, disarankan untuk di kaji lebih detail untuk memahami karakteristiknya sebagai upaya mitigasi bencana gempabumi.
ANALISIS DATA GRAVITASI UNTUK IDENTIFIKASI SESAR LOKAL PENYEBAB GEMPABUMI DI WILAYAH BARAT DAYA SUMBA INDONESIA Relly Margiono; Adinda Novitri; Anggi Pevriadi; Hilmi Zakariya
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2059.074 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.824

Abstract

Pulau Sumba terletak pada Zona Transisi Busur Sunda-Banda dan memisahkan Cekungan Savu dengan Cekungan Lombok. Pulau ini memiliki tatanan tektonik yang komplek dan termasuk wilayah yang rawan terhadap bencana gempabumi. Berdasarkan monitoring kegempaan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah terjadi gempabumi sebanyak 380 kali sejak 5 Agustus 2020 hingga 12 Agustus 2020. Gempabumi tersebut merupakan jenis gempabumi dangkal akibat deformasi kerak benua di dasar laut. Berdasarkan kejadian gempa tersebut, penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan pada lokasi hiposenter gempa dengan menggunakan data gravitasi dari Satelit Topex dan juga untuk menentukan nilai anomali bouger di wilayah tersebut. Metode yang digunakan adalah Second Vertical Derivative (SVD) dan First Horizontal Derivative (FHD) untuk mengetahui batas karakteristik geologi dan batas bidang kontak struktur. Berdasarkan hasil analisis FHD dan SVD, didapatkan struktur sesar yang memanjang dari Barat Laut ke Tenggara dengan mekanisme sesar turun. Selain itu, didapatkan nilai anomali bouguer pada rentang -29,6 mGal hingga 184,5 mGal.
ANNUAL AND SEMI-ANNUAL VARIATIONS OF THE GPS-DERIVED PRECIPITABLE WATER VAPOR OVER SUMATRA ISLAND Dudy D. Wijaya; Nabila S.E. Putri; Yan A. Rahmawan; Sidik T. Wibowo; Akhmad Y. Basuki; Muhammad S. Fathulhuda; Vera Sadarviana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.835

Abstract

We have utilized the Global Positioning System (GPS) data at 57 stations distributed over Sumatra Island to investigate spatio-temporal variations of the atmospheric precipitable water vapor (PWV). We focused on the annual and semi-annual cycles of the PWV. Our results show that Sumatra Island is divided into two distinct areas of annual and semi-annual cycles, where the boundary line between the areas is approximately at 2oS. While the annual cycle dominates the area over the southern side of 2oS, the semi-annual cycle is dominant over the northern side. Our results have further shown that the maximum phase of annual cycle occurs between January-March with considerably large amplitudes (10-15 mm). On the other side, the maximum phase of the semi-annual cycle in general occurs around November and May, whose amplitude is approximately between 1-5 mm. Our results are consistent with other results using rainfall data.
IDENTIFIKASI LAPISAN BAWAH PERMUKAAN DAERAH PROSPEK PANAS BUMI SONGA-WAYAUA BERDASARKAN METODE MAGNETOTELURIK Rikaldo Pratama; Ichy Lucya Resta; Faizar Farid; Wiwid Joni
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.786

Abstract

Manifestasi panas bumi yang terdapat di daerah Songa, Halmahera Selatan, Maluku Utara, berupa sumber mata air panas, fumarol dengan hembusan asap, kolam-kolam lumpur tanah panas dan alterasi. Reservoir daerah prospek panas bumi Songa-Wayaua diduga berada pada kedalaman >400 m. Distribusi nilai resistivitas rendah <30 Ωm mengindikasikan terdapatnya clay cap sebagai lapisan impermeabel. Distribusi resistivitas sedang 50-100 Ωm diindikasikan terdapatnya reservoir sebagai tempat terakumulasinya fluida, sedangkan resistivitas tinggi >1000 Ωm dicirikan terdapatnya heat source sebagai sumber panas. Daerah panas bumi Songa-Wayaua telah dilakukan pengukuran metode survei pendahuluan yaitu metode geolistrik, metode gaya berat, dan metode magnetik, sedangkan metode magnetotelurik masih belum ada. Metode Magnetotelurik (MT) merupakan metoda eksplorasi geofisika yang memanfaatkan medan elektromagnetik alami bumi. Pengolahan data yang didapatkan dari perekaman data MT berupa Time series. Untuk dapat diubah menjadi kurva resistivitas MT, data tersebut harus melalui beberapa tahap pemrosesan yang meliputi fourier transform, dan seleksi cross power serta masking dan smoothing data sehingga didapatkan model bawah permukaan. Dari 7 titik pengukuran diperoleh sebaran nilai resistivitas berkisar antara 1 – 4500 Ωm dimana batuan penudung dengan nilai resistivitas <30 Ωm dan ketebalan 500 m. Reservoir dengan nilai resisitivitas 50-600 Ωm dan ketebalan 1000 m, sedangkan heat source berada pada kedalaman 1500 m dengan nilai resistivitas 1000-4500 Ωm. Terdapat dua sesar sebagai pengontrol munculnya mata air panas, yaitu Sesar Pele-pele dan Sesar Lapan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5