cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2017)" : 5 Documents clear
KARAKTERISTIK MORFOLOGI DASAR LAUT DAN HUBUNGANNYA DENGAN KECEPATAN ARUS LAUT DI SELAT LAMPA, NATUNA, KEPULAUAN RIAU Purnomo Raharjo; Mario Dwi Saputra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2944.908 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.1.2017.367

Abstract

Kondisi morfologi dasar laut dari suatu perairan khususnya di selat dapat mempengaruhi kecepatan arus laut. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak pulau dan selat. Bertambahnya kecepatan arus laut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi yang ramah lingkungan. Selat Lampa yang berada di Pulau Natuna merupakan salah satu wilayah dari pulau-pulau kecil di Provinsi Kepulauan Riau yang masih mengalami krisis energi listrik. Hasil pengukuran kedalaman laut di lokasi penelitian secara keseluruhan berkisar antara 0 meter dan 59,59 meter. Dari hasil penelitian diketahui bentuk morfologi bawah laut pada lokasi ini pada umumnya relatif landai dengan kemiringan sekitar 5o– 10o. Namun pada bagian selat antara Pulau Setanau dan Pulau Setahi memiliki morfologi yang agak curam yang ditunjukkan oleh kontur yang lebih rapat dengan kedalaman berkisar 5 meter sampai dengan 30 meter. Hasil pengukuran dan pemodelan kecepatan arus laut menunjukkan bahwa pada lokasi selat antara Pulau Setanau dan Pulau Setahi memiliki kecepatan arus laut berkisar antara 0,3 meter/detik sampai dengan 1,28 meter/detik. Sehingga lokasi ini sesuai untuk penempatan turbin pembangkit listrik tenaga arus laut.Kata Kunci : Morfologi dasar laut, Kecepatan arus laut, Energi arus laut, Pulau-pulau kecil terluar, Selat Lampa, Pulau Natuna, Kepulauan Riau, Potensi energi listrik tenaga arus lautThe morphology condition of the seabed, especially in the strait, can affect the velocity of ocean currents in these waters. Indonesia as an archipelagic country has many islands and straits. Increasing the speed of ocean currents will be very potential to be utilized as one source of alternative energy that is environmentally friendly. Lampa Strait located on the island of Natuna is one of the small islands in Riau Islands Province which is still experiencing energy crisis. This location was chosen as the location of research for the potential energy of Tidal current. The results of sea depth measurements at the study sites overall ranged between 0 meters and 59.59 meters. From the results of the research is known the underwater morphology at this location is generally relatively sloping with a slope of about 5o to 10o But in the strait between the island of Setanau and Setahi Island has a rather steep morphology shown by a more dense contour with a depth ranging from 5 meters to with 30 meters. The result of ocean current measurement and modeling shows that at the location of the strait between Setanau Island and Setahi Island has a stronger ocean current speed ranging from 0,3 meters / second to 1,28 meters / second. So this location is suitable for the placement of turbines of Tidal current power plants.Keywords : Sub Bottom Profile, Ocean Current speed, Tidal Current Energy, Small outer islands, Lampa Strait, Natuna Island ,Riau Island, potential energy of Tidal current.
RESPON MIKROFAUNA (OSTRACODA) TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN SEKITAR PULAU BANGKA, SULAWESI UTARA Kresna Tri Dewi; Godwin Latuputty; Yusuf Adam Priohandono; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1471.564 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.1.2017.375

Abstract

Ostracoda merupakan kelompok mikro-organisme yang dapat terawetkan dalam sedimen dasar laut, termasuk dasar perairan sekitar Pulau Bangka, Sulawesi Utara. Pulau ini terkenal akan keindahan alam bawah laut dan penambangan bijih besi di kawasan pesisir. Perubahan lingkungan di pesisir tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi dasar perairan laut sebagai habitat biota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon ostracoda terhadap perubahan lingkungan perairan tersebut. Studi ini menggunakan 10 sampel sedimen dasar laut hasil cucian dilanjutkan dengan analisa mikropaleontologi (tahap penjentikan, identifikasi spesies, penghitungan spesimen dari setiap spesies, pengolahan data, dokumentasi spesimen) dan analisa sedimentologi (SEM-EDX). Keterdapatan Bairdopillata, Neonesidea, Paranesidea dan Quadracythere (BL16-010) yang hidup berasosiasi dengan kondisi terumbu karang mencerminkan suatu perairan dalam kondisi cukup bagus. Di titik lokasi lain (BL16-015 dan BL16-030) ditemukan mikrofauna dengan cangkang abnormal (rusak, kehitaman) yang mengandung C (59-86%), Al2O3(2%), SiO2 (1-7%), dan MnO (2%). Dijumpainya cangkang abnormal merupakan salah satu respon mikrofauna terhadap perubahan lingkungan di daerah penelitian.Kata Kunci: ostracoda, cangkang abnormal, SEM-EDX, Pulau Bangka, Sulawesi Utara Ostracoda is a group of micro-organism that could be preserved in marine sediments, including on the seafloor of Bangka Island, North Sulawesi. This island is famous as beautiful underwater place and iron mining in the coastal area. The environmental changes in the coastal area indirectly influence the seafloor condition as biotic habitats. The purpose of this study is to know the response of ostracoda to this coastal environmental change. This study used ten washed residue of surface sediment samples followed by micropaleontological analysis (picking, identification of species, specimen calculation every species, data processing, specimen documentation), and sedimentological analysis (SEM-EDX). The occurrences of Bairdopillata, Neonesidea, Paranesidea dan Quadracythere (BL16-010) that associated with coral reef communities reflect a good marine condition. In another sampling location (BL16-015 and BL16-030), it is found abnormal microfaunas (broken, blackish) that composed of C (59-86%), Al2O3 (2%), SiO2 (1-7%), and MnO (2%). The finding of these abnormal shells is one of the microfaunal response to environmental changes in the study area. Keywords : ostracoda, abnormal shell, SEM-EDX,Bangka Island, North Sulawesi
ANOMALI MAGNET HUBUNGANNYA DENGAN TATANAN LITOLOGI PADA PEMETAAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA DI PERAIRAN MOROWALI SULAWESI TENGAH MOROWALI SULAWESI TENGAH Delyuzar Ilahude; Beben Rachmat
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6274.293 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.1.2017.361

Abstract

Penelitian magnet terletak di lepas pantai perairan Morowali dan sekitarnya dengan batas koordinat 04o00’-01o30’ Lintang Selatan dan 121o30’-123o00’ Bujur Timur. Maksud dari penelitian ini untuk mengetahui nilai anomali hubungannya dengan tatanan geologi daerah penelitian. Nilai anomali rendah (negatif) mulai dari -95nT hingga -130nT, dengan notasi warna biru menempati bagian utara dan selatan daerah penelitian, diduga merupakan batuan sedimen yang mendominasi daerah tersebut. Struktur sesar dan antiklin yang dijumpai pada lintasan seismik L-9 diduga merupakan kelurusan dari Sesar Matano yang berarah baratlaut-tenggara dari lengan Sulawesi Tenggara. Pola struktur pada rekaman seismik tersebut, memberi indikasi adanya pola perubahan anomali magnet secara signifikan di daerah tersebut seperti yang ditunjukan dalam peta anomali magnet di bagian selatan daerah penelitian. Nilai negatif anomali magnet ini memperlihatkan tatanan dari batuan dasar di daerah Teluk Tolo dan sekitarnya yang diduga merupakan bagian dari Cekungan Banggai bagian barat.Kata kunci : anomali magnet, kelurusan sesar, cekungan The magnet research is located offshore Morowali waters and its surroundings with coordinate boundaries of 04o00’-01o30’ South Latitude and 121o30’-123o00’ East Longitude. The purpose of this study to determine the value of anomaly relationships with the geological of study areas. Low anomalous (negative) values of ranging from -95 nT to -130 nT, with blue notation occupying the north and south of the study area, are thought to be sedimentary rocks that dominate the area. The fault and anticline structures found on the seismic path in the L-9 are thought to be the straightness of the northwest-southeast Fault Matano from the southeast Sulawesi arm. The structural pattern on the seismic recording, indicating a significant pattern of magnetic anomaly changes in the area as shown in the magnetic anomaly map in the southern part of the study area. The negative value of this magnetic anomaly shows the setting of the bedrock in the Tolo Bay area and its surrounding that is thought to be part of the western Banggai Basin.Keywords: magnetic anomaly, straightness faults, basin
STRUKTUR GEOLOGI PERAIRAN MOROWALI – TELUK KENDARI DARI HASIL INTERPRETASI PENAMPANG MIGRASI SEISMIK 2D Tumpal Bernhard Nainggolan; Gusti Muhammad Hermansyah; Priatin Hadi Wijaya
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12208.779 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.1.2017.374

Abstract

Lokasi penelitian mencakup sebagian besar wilayah perairan Morowali sampai ke selatan ke arah Teluk Kendari bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur geologi dan morfologi bawah permukaan dasar laut Kepingan Benua Banggai-Sula sampai Kepingan Benua Sulawesi Tenggara. Hasil peta batimetri menunjukkan kedalaman paling dangkal sekitar 500 meter terdapat di bagian utara dengan pola kontur tertutup yang membentuk cekungan kecil yang tidak begitu curam, sedangkan kearah bagian timur dan selatan-tenggara memperlihatkan kondisi morfologi dasar laut semakin dalam mencapai 2000 meter dan curam. Dari hasil penampang seismik didapatkan informasi perairan Morowali terdapat enam sekuen dengan seismic basement disebandingkan dengan Kompleks Batuan Malihan berumur Karbon, sedangkan struktur geologi teluk Kendari secara umum menunjukkan pembagian dua zona, yaitu zona pertama di bagian timur, perlapisan sedimen sangat tipis dibandingkan dengan zona barat.Kata kunci : struktur geologi, morfologi, peta batimetri, interpretasi penampang seismik The survey covered most part of Morowali waters to the south towards Kendari Gulf aims to achieve an overview of the geological structures and morphological beneath seabed sub-surface of Banggai-Sula and Southeast Sulawesi micro-continent. The bathymetric map shows the shallowest depth about 500 meters in the north with a closed contour pattern that form a sloping basin, while towards the eastern and south-southeast part shows a deeper morphological condition up to 2000 meters and steep. Seismic cross-section interpretation of Morowali waters describe six sequences with seismic basement compared to Malihan rocks of Carbon era, while the geological structure of Kendari Gulf generally shows very thin sedimentary layers of eastern zone compared to western zone.Keywords : geological structures, morphological information, bathymetric map, seismic cross-section interpretation
LAJU SEDIMENTASI DI PERAIRAN BREBES, JAWA TENGAH MENGGUNAKAN METODE ISOTOP 210Pb Wisnu Arya Gemilang; Gunardi Kusumah; Ulung Jantama Wisha; Ali Arman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1635.121 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.1.2017.328

Abstract

Beberapa upaya mitigasi terhadap bencana erosi yang terjadi di kecamatan Brebes telah dilakukan dengan penanaman mangrove, pemasangan hybrid engineering, alat pemecah ombak, namun dari keseluruhan upaya tersebut masih dianggap belum menjadi solusi terbaik mengurangi dampak bencana erosi pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat rata-rata kecepatan sedimentasi berdasarkan umur absolut sedimen dasar laut yang dianggap mewakili daerah penyelidikan. Penentuan umur absolut sedimen berdasarkan aktifitas kandungan isotop alam 210Pb pada sedimen. Hasil perhitungan laju sedimentasi tersebut dikorelasikan dengan data debit sungai dan kondisi hidro-oseanografi yang berperan dalam sistem sedimentasi. Berdasarkan profil unsupported 210Pb pada lokasi IST-01 (Muara Pemali) dan IST-02 (Muara Nipon) rata-rata laju sedimentasinya berturut-turut 0,224 cm/tahun dan 0,211 cm/tahun, debit Sungai Pemali sebesar 14,4-48,1 m3/s, kecepatan arus pada stasiun IST-01 berkisar antara 0,001-0,1 m/s dan kecepatan arus pada stasiun IST-02 berkisar antara 0,001-0,08 m/s. Kondisi hidro-oseanografi daerah penelitian yang fluktuatif memberikan pengaruh besar terhadap proses sedimentasi. Besarnya debit sungai memiliki korelasi terhadap peningkatan besarnya nilai laju sedimentasi di Muara Pemali dan Muara Nippon. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan bahan rekomendasi upaya mitigasi bencana erosi di kecamatan BrebesKata Kunci: Sedimentasi, Pesisir Brebes, Hidrodinamika arus, Isotop Unsupported 210Pb Several efforts to mitigate the erosion event which occurred in Brebes sub district have been done by mangrove cultivation, hybrid engineering, and breakwater as well. Nevertheless, all those efforts did not work right away to solve the erosion problem and deteriorate its impact. This study has aim to determine the absolute sediment dating, which represents the study area. We decided the absolute sediment dating based on natural isotop activity 210Pb contained on sediment. Sedimentation rate calculation result was correlated with the river discharge and hydro-oceanography conditions in the sediment area systems. Based on unsupported 210Pb profile, at the station IST-01 (Pemali estuary) and IST-2 (Nipon estuary), the averages of sedimentation rate are 0.22 cm/year and 0.211 cm/year respectively. The discharge of Pemali River has ranged 14.4-48.1 m3/s. The current speed at the point IST-01 has ranged 0.001-0.1 m/s and at the station IST-02 has ranged 0.001-0.08 m/s. The hydro-oceanography condition which is volatile has a big impact on the process of sedimentation. The enhancing of river discharge has a correlation with the sedimentation rate enhancement in Pemali and Nippon estuary. The result of this study could be a basis of erosion mitigation effort in Brebes sub district.Keywords: Sedimentation, Brebes, Hydrodunamics of surface current, Isotop Unsupported 210Pb

Page 1 of 1 | Total Record : 5