cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2017)" : 5 Documents clear
MORFODINAMIKA JANGKA PENDEK PENDANGKALAN DI ALUR PELAYARAN BARITO, KALIMANTAN SELATAN Franto Novico; Arif Ali; Eko Saputro; Adi Sinaga; Andi Egon
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8594.493 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.402

Abstract

Potensi sumber daya mineral di pulau Kalimantan pada umumnya berada di hulu-hulu sungai yang relatif jauh dari pantai. Potensi ini pada umumnya telah dieksplorasi bahkan dieksploitasi, namun kendala yang umum dihadapi adalah pengangkutan hasil tambang tersebut. Keterbatasan sarana dan prasaran transportasi darat akibat kondisi alam yang berawa sehingga menyebabkan pilihan jatuh kepada transportasi sungai yang lebih murah efektif dan efisien. Kendala yang umum terjadi pada system transportasi melalui sungai adalah pendangkalan di alur masuk dan muara sungai, oleh karena itu diperlukan pengerukan untuk pendalaman alur pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan morfologi akibat sedimen yang menyebabkan pendangkalan dan penyempitan pada muara Sungai Barito. Pendekatan yang digunakan untuk analisis perubahan morfodinamika dilakukan dengan bantuan simulasi model numerik dengan menggunakan software Delft3D. Berdasarkan simulasi model morfodinamika Delft 3D, maka dapat diketahui sedimentasi tertinggi terjadi pada areal lokasi sekitar muara Sungai Barito, dimana terjadi pendangkalan sampai sebesar 1,2 meter per-tahun. Sedangkan pada bagian selatan alur pelayaran terjadi penyempitan sebesar 300-400 meter per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi morfologi sangat dipengaruhi oleh debit Sungai Barito. Kata kunci: Morfodinamika, Dasar Laut, Alur Pelayaran, Sungai Barito, Kalimantan Selatan, Delft3D, Pemodelan erosi dan sedimentasi The potency of mineral reserves in Kalimantan Island has mostly located at the upstream area that is quiet far from the coastline. Generally, the mineral potency have been explored and sometime exploited, however the most common problem in this system is how to transport of those reserves. The limitation of onland facilities and infrastructures due to swampy area caused the river transportation is the cheapest, affective and efficient choosen alternative. However, the most common constraints on river transportation systems are silting in the inlet and estuarine. Therefore the dredging is obviously important for deepening of the access channel. The aim of this study is to reveal morphological changes due to sediment transport that is causing silting and narrowing the area around the Barito estuarine. The numerical model using Delft3D is conducted to analyse the morphodynamic changing.Based on the Delft3D model simulation results, the highest sediment deposition occurs at a location near the Barito river estuary, where the sedimentation rate is up to 1.2 meter per year. In the southern part of the navigation canal, the canal width is reduced up to 300-400 meter per year. These indicate that the morphological process at this location highly influenced by the river discharge. Keywords: Morphodynamic, Seabed, Access Channel, Barito River,Delft3d, Erosion and Sedimentation Model
PENGARUH AKTIFITAS ANTROPOGENIK TERHADAP SEBARAN DAN JUMLAH JENIS POLISIKLIK AROMATIK HIDROKARBON (PAH) DALAM AIR LAUT DAN SEDIMEN DI PERAIRAN TELUK JAKARTA Khozanah Munawir; Deny Yogaswara
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.419 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.372

Abstract

Teluk Jakarta adalah perairan yang terletak di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Jawa Barat serta persisnya di pantai utara Propinsi Banten. Di perairan ini bermuara tiga belas sungai yang membawa berbagai macam limbah yang berasal dari daratan menuju ke perairan Teluk Jakarta. Berbagai aktivitas terdapat di perairan ini, antara lain sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan, pariwisata, dan pelayaran. Selain itu, di perairan ini juga terdapat pelabuhan laut internasioal Tanjung Priok. Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) adalah salah satu parameter kualitas lingkungan perairan. Penentuan kadar PAH dalam air dan sedimen di perairan Teluk Jakarta telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2015. Ada tiga titik kawasan, yaitu kawasan barat, tengah dan timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran kadar dan jumlah jenis PAH di perairan Teluk Jakarta dan menambah data base inventarisasi PAH Perairan Indonesia. Kadar PAH diukur dengan Gas Chroromatografi – Flame Ionisasi Detector (GC-FID) yang dilengkapi dengan kolom kapiler HP1. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebaran kadar PAH total dalam air laut di kawasan barat berkisar antara 0,007-0,056 ppb, dengan rerata sebesar 0,019 ppb, di kawasan tengah berkisar antara 0,009-0,081 ppb dengan rerata sebesar 0,033 ppb, di kawasan timur berkisar antara tidak terdeteksi (ttd)-0,03 ppb dengan rerata sebesar 0,011 ppb. Kadar total PAH dalam sedimen di kawasan barat berkisar antara 1,1983-7,9750 ppm, dengan rerata sebesar 2,9127 ppm, dikawasan tengah berkisar antara 1,6229-8,2591 ppm, dengan rerata sebesar 4,7049 ppm, dan dikawasan timur berkisar antara 1,597-2,9661 ppm dengan rerata sebesar 2,1224 ppm. Berdasarkan hasil penelitian ini, kadar PAH dalam perairan Teluk Jakarta (kawasan barat, tengah dan timur) belum melebihi Baku Mutu Kualitas Perairan yang dikeluarkan oleh Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup 2004. Demikian juga untuk kadar PAH dalam sedimen, ditemukan 15 jenis PAH di Teluk Jakarta.Kata kunci: Teluk Jakarta, Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH), lingkunganJakarta Bay is located in northern of Jakarta,West Jawa, and Banten rovince. Jakarta Bayis throughten by 13 rivers which coming out and carry out kind of waste from land runoff. Many activities was happened such as fishing, tourisme, shipping and an international sea port, Tanjung Priok. Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) is one of marine environment quality parameters. Determination of PAHs in seawaters and sediments were conducted in July-August 2015. Sampling site was divided in three region: west (Banten), middle (Jakarta) and east (West Jawa). The aim of the research is to determine the distribution levels and kind number of PAH and inventory data base of PAH in Indonesian seawaters. PAH levels measured by Gas Chromatography - Flame Ionization Detector (GC-FID) equipped with a capillary column HP1. The results showed that the levels of PAH total in sea water in the western region ranged from 0.007 to 0.056 ppb, with an average of 0,019 ppb, in the middle range between 0.009 to 0.081 ppb with an average of 0.033 ppb, and in eastern region ranged undetected to 0.030 ppb with an average of 0.011 ppb. Levels of total PAHs in sediments in July-August in the western region ranged from 1.1983 to 7.9750 ppm, with an average of 2.9127 ppm, the central region ranges from 16.229 to 8.2591 ppm, with an average amounted to 4.7049 ppm, in the eastern region ranged between 1.5972 – 2.9661ppm with an average of 2.1224 ppm. PAH concentration seawaters and sediment in Jakarta Bay (west, middle and east region) is not exceed of the Quality Standard Water Quality which issued by Ministry of Environment 2004. Number of kinds PAH was found 15.Keywords: Jakarta Bay, Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH), environment
KETERKAITAN FORAMINIFERA DAN KEDALAMAN PERAIRAN SEBELAH TENGGARA PULAU SERAM, MALUKU Suhartati M. Natsir; Kresna Tri Dewi; Sri Ardhyastuti
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.513 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.389

Abstract

Daerah penelitian merupakan perairan dalam di tenggara Pulau Seram yang berbatasan antara Laut Seram di bagian utara dan Laut Banda di bagian selatan. Laut dalam merupakan ekosistem unik yang perlu diketahui kandungan biotanya termasuk foraminifera. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan keterkaitan foraminifera dengan laut dalam. Penelitian foraminifera menggunakan 9 (sembilan) sampel sedimen hasil cucian melalui proses preparasi, observasi dan analisis spesies. Hasil pengamatan menemukan 20 spesies foraminifera planktonik didominasi oleh Globigerina bulloides dan beberapa spesies lain yang kurang melimpah diantaranya Globorotalia tumida, Orbulina suturalis dan Orbulina universa. Ditemukan 9 spesies foraminifera bentonik dalam jumlah kurang melimpah dan diwakili oleh kehadiran Bolivinella elegans sebagai komponen laut dalam. Nilai rasio foraminifera planktonik dan bentonik (rasio P/B) pada semua stasiun lebih dari 90% yang termasuk dalam klasifikasi lingkungan batial bawah. Kata kunci: foraminifera, rasio P/B, kedalaman, Pulau Seram The study area is deep sea located in south eastern part of Seram Island that facing too deep seas of Seram and Banda. The deep sea is a unique ecosystem that should be explored the biota composition, including foraminifera. The aim of this study is to determine the assemblage and relationship between foraminifera and water depth. The foraminiferal study used 9 (nine) washed sediment samples through sample preparation, observation and species analysis. There are 20 identified species of planktonic foraminifera dominated by Globigerina bulloides and other several species which are less abundant such as Globorotalia tumida, Orbulina suturalis and Orbulina universa. It is found 9 species of benthic foraminifera that were less abundant and represented by Bolivinella elegans as deep water component. The ratio values between planktonic and benthonic foraminifera (P/B ratio) for all samples are more than 90% that is classified as lower bathyal zone.Keywords: foraminifera, P/B ratio, water depth, Seram Island
KARAKTERISTIK SEDIMEN PANTAI DAN DASAR LAUT DI TELUK PAPELA, KABUPATEN ROTE, PROVINSI NTT Rina Zuraida; Nineu Yayu Gerhaneu; Isnu H. Sulistyawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2277.048 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.376

Abstract

Penelitian karakteristik sedimen pantai dan dasar laut Teluk Papela dilakukan untuk mengetahui rona awal lingkungan Teluk Papela. Analisis mineralogi dan granulometri yang dilakukan pada sedimen pantai dan dasar laut, menunjukkan dominasi pasir halus. Sedimen pantai menunjukkan kecenderungan menghalus ke arah utara dengan kandungan cangkang yang semakin besar, sedangkan sampel laut menunjukkan kecenderungan butiran lebih kasar ke arah utara dengan kandungan cangkang yang semakin kecil. Hasil analisis unsur utama menunjukkan bahwa TiO2 (0,1 wt%) dan CaO (82,5 wt%) menunjukkan tingginya pasokan material asal darat. Kandungan unsur jejak Sr, Cl, I dan unsur utama P2O5 dalam sedimen lebih rendah dari kandungan dalam air laut. Pu terdeteksi dalam semua sampel dengan nilai berkisar antara 13.200 dan 28.000 ppm. Korelasi positif Cl-Na2O serta Cl-P2O5 menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut merupakan hasil dari pengendapan garam dalam sedimen. Keterdapatan Sr berkaitan dengan kelimpahan organisme pembentuk cangkang, sedangkan kandungan I dipengaruhi oleh kandungan bahan organik. Keterdapatan Pu dalam sedimen Teluk Papela diperkirakan merupakan hasil aktivitas manusia yang terserap dalam cangkang dan terakumulasi dalam sedimen pantai dan dasar laut.Kata kunci: karakteristik sedimen, unsur utama, unsur jejak, mineralogi, granulometri, Teluk Papela The study of seafloor and beach sediments of Papela Bay is conducted to identify the initial early environment of Papela Bay sediments. Mineralogy and grain size analysis some of selected samples were conducted on coastal and seafloor sediments and they show dominated by fine sand. Coastal sediments show tend to fining northward with increasing skeletal, in contras marine samples tend to show a more coarse northward with a smaller skeletal content. Result of major elements analysis show that the average of weight percentage of TiO2 (0.1 wt%) and CaO (82.5wt%) and indicate that the high supply of material derived from land. Trace elements content of Sr, Cl, I and major element P2O5 within sediment lower than within sea water. Pu detected within all samples with values range between 13,200 and 28,000 ppm. The positive correlations of Cl-Na2O and Cl-P2O5 show that these elements are the result of salt deposition within sediment. The occurance of Sr related with the abundance of shell-forming organisms, whereas the content of I influenced by organic matter content. The occurance of Pu within sediment in Papela Bay can be resulted by antropogenic activities that absorbed and accumulated within coastal and seabed sediments.Key words: sediment characteristics, major element, trace element, grain mineralogy, Papela Bay
STRATIGRAFI PERAIRAN UTARA BALI DARI HASIL INTERPRETASI SEISMIK 2D Deny Setiady; I Nyoman Astawa; Gusti Muhammad Hermansyah; I Wayan Lugra; Tumpal Bernhard Nainggolan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6106.162 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.349

Abstract

Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 1140 32’ – 1160 01’ Bujur Timur dan 070 15’ - 080 02’ Lintang Selatan. Kondisi geologi dasar laut belum banyak dibahas oleh para peneliti di Perairan Bali Utara, karena kurangnya data seismik dan data sumur bor. Cekungan Jawa Timur di sebelah selatan dibatasi oleh busur vulkanik, sebelah timur dibatasi oleh Cekungan Lombok. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda terdiri dari formasi Prupuh, formasi Rancak, formasi Cepu, formasi mundu dan formasi Lidah. Metoda penelitian terdiri dari pengukuran navigasi, pengukuran kedalaman dasar laut, pengukuran seismik 2D serta kesebandingan data seismic dan bor. Tujuan penelitian adalah mengetahui pelamparan Cekungan Jawa Timur utara di Perairan Utara Bali. Dari hasil interpretasi dan korelasi antara data seismik dengan sumur bor, menunjukkan bahwa rekaman seismik 2D daerah telitian dapat dibagi menjadi enam (6) runtunan dengan urutan dari atas ke bawah adalah runtunan A, B, C, D, E, dan F.Kata kunci:Data seismik 2D, interpretasi, Cekungan Jawa Timur, Perairan Utara Bali, Data bor Geographically the research area lies within coordinates of 1140 32’ – 1160 01’ East and 070 15’ - 080 02’ South. The geological condition of the seabed has not been much discussed by researchers in the North Bali Waters, due to the lack of seismic and well data.The East Java Basin to the south is bounded by a volcanic arc, whereas the Lombok Basin on its eastward. Stratigraphy of research area consists of old to young Formation, i.e., Prupuh, Rancak, Cepu, Mundu and Lidah formation. Method consists of positioning, bathymetric, 2D seismic measurement, and compiled by seismic and well data.The purpose of this research is focused to distribution of the northern East Java Basin in North Waters of Bali. From the interpretation and correlation between the seismic and well data, they can divided by six (6) units from top to bottom are: A, B, C, D, E, and F.Keywords: 2D seismic data, interpretation, east java basin, North Bali waters, well data

Page 1 of 1 | Total Record : 5