cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013" : 7 Documents clear
MASUKNYA ISLAM DI KABUPATEN FAKFAK DAN TINGGALAN ARKEOLOGINYA Bau Mene
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.789 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.47

Abstract

The process of introduction of Islam in Fakfak conected the sultanate of Ternate and Tidore, the two regions into the arena of the struggle for the imperial influence. The purpose of this study to determine the entry and development of the Islamic religion, form of early settlement patterns of Islam in Fakfak, the influence of foreign cultures on the archaeological remains found. This study used a qualitative descriptive approach. Research found mosques, tombs, palaces of kings and the Quran.AbstrakProses masuknya agama Islam di Kabupaten Fakfak tidak terlepas dari kesultanan Ternate dan Tidore, kedua wilayah tersebut menjadi ajang perebutan pengaruh kesultanan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses masuk dan berkembangnya agama Islam, bentuk pola pemukiman awal masuknya Islam di Kabupaten Fakfak, pengaruh budaya luar pada tinggalan arkeologi yang ditemukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian yang dilakukan pada Distrik Fakfak Kota, Fakfak Barat dan Fakfak Tengah ditemukan masjid, makam, istana raja dan alquran.
PENYEBARAN INJIL DAN TINGGALANNYA DI KAMPUNG NAU DAN WAREN KABUPATEN WAROPEN Desy Polla Usmany
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.689 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.48

Abstract

The presence of Christians in Wandamen Bay, whose life is orderly and peaceful, causing old people in Waropen asked the Dutch to also spread the gospel in their village. Some teachers of the gospel is then sent to Waropen. The purpose of this paper is to determine the religious system Waropen before the entry of Christianity, chronology and impact evangelism and missionary history remains in Waropen, especially in Nau village and Waren village. The research method used is the historical method. Evidence remains, the early history of the spread of the gospel remains can still be found on the island of Nau and Waren, Waropen.AbstrakAdanya orang-orang Kristen di Wandamen Papua, yang hidupnya teratur dan penuh kedamaian, menyebabkan orang-orang tua di Waropen meminta kepada Belanda agar Injil juga disebarkan di kampung mereka. Beberapa guru injil kemudian dikirim ke Waropen. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui sistim religi orang Waropen sebelum masuknya agama Kristen, kronologi pekabaran Injil serta dampak dan tinggalan sejarah pekabaran injil di Waropen, khususnya di Kampung Nau dan Kampung Waren. Metode penelitian yang gunakan adalah metode sejarah. Bukti tinggalan-tinggalan sejarah awal penyebaran injil masih dapat ditemukan di Pulau Nau dan Waren, Waropen.
FUNGSI KAPAK BATU PAPUA DALAM MEMPERSATUKAN KERAGAMAN Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.947 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.49

Abstract

Stone axe found at several prehistoric sites in Papua, shows the influence of Austronesian culture that brought together other cultures. The survey results revealed that the presence of the stone axe is still functional in some tribes in Papua for traditional ceremonies, funeral rites, religious, gardening and farming. The results of the research that has been conducted shows that the stone axe is one of the remains of the cultural diversity that can unite the tribes in Papua. Stone axes can also serve to strengthen the identity of the nation and the state, and can be passed down to younger generations through education of local content for students.AbstrakKapak batu yang ditemukan pada beberapa situs prasejarah di Papua, menunjukan adanya pengaruh budaya Austronesia yang dibawa bersama budaya lainnya. Dari hasil penelitian diketahui bahwa keberadaan kapak batu saat ini masih difungsikan dalam beberapa suku di Papua untuk upacara-upacara adat, upacara kematian, religius, berkebun dan berladang. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa kapak batu adalah salah satu tinggalan budaya yang dapat mempersatukan keragaman suku-suku yang berada di Papua. Kapak batu juga dapat berperan untuk menguatkan jati diri bangsa dan negara, serta dapat diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan muatan lokal bagi pelajar dan mahasiswa.
BENTUK BIDANG PECAHAN FOSIL CERVIDAE KOLEKSIMUSEUM SANGIRAN (ANALISIS MIKROSKOPIS) Metta Adityas PS
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.418 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.50

Abstract

This paper examines the bones Cervidae Sangiran Museum collection. The analysis used the microscopic analysis after knowing the results of the analysis ekofaktual. Based on the analysis results obtained ekofaktual long bone fragments and insects. Fractions are expected to know it will be able to describe the causes of these fractions. Early humans have utilized in Sangiran specimens of the long bones and rangga as materials for bone tool.AbstrakTulisan ini mengkaji tulang Cervidae koleksi Museum Sangiran. Analisis yang digunakan yaitu analisis mikroskopis setelah mengetahui hasil dari analisis ekofaktual. Berdasarkan hasil analisis ekofaktual didapatkan pecahan tulang panjang dan rangga. Diharapkan dengan mengetahui bentuk pecahan maka akan dapat menggambarkan penyebab dari pecahan tersebut. Manusia purba di Situs Sangiran telah memanfaatkan spesimen dari tulang panjang dan rangga sebagai bahan pembuatan alat tulang.
PENINGGALAN ARKEOLOGI KOLONIAL DI KOTA TOMOHON Irfanuddin Wahid Marzuki
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.622 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.51

Abstract

Tomohon city has a variety of potential archaeological re source sr, from prehistoric era until Colonial era. Archaeological resources from colonial era in Tomohon currently still well maintained and utilized by the community. Archaeological resources from colonial era includes building a house of worship, school buildings, hospital buildings, and the building of homes. This research using descriptive eksploratif methods, with inductive reasoning, moving from the study of the facts or specific symptoms then summed up as symptoms of a general nature. Data collection using surveys, interviews and literature studies. Utilization of reserve building in the City of Tomohon Colonial culture largely remains as the initial function, namely as a house of worship, schools, hospitals, and home living.AbstrakKota Tomohon mempunyai potensi peninggalan arkeologi yang beragam, mulai masa pra sejarah sampai masa Kolonial. Peninggalan arkeologi masa Kolonial di Kota Tomohon saat ini masih terawat dengan baik dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Peninggalan masa Kolonial di Kota Tomohon meliputi bangunan rumah ibadah, bangunan sekolah, bangunan rumah sakit, dan bangunan rumah tinggal. Metode penelitian berupa deskriptif eksploratif, dengan menggunakan penalaran induktif, yang bergerak dari kajian fakta-fakta atau gejala khusus yang kemudian disimpulkan sebagai gejala yang bersifat umum. Pengumpulan data menggunakan survey, wawancara dan studi pustaka. Pemanfaatan bangunan cagar budaya Kolonial di Kota Tomohon sebagian besar masih seperti fungsi awal, yaitu sebagai rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan rumah tinggal.
CORAK BUDAYA AUSTRONESIA PADA RUMAH TRADISIONAL LEMBAH BADA, SULAWESI TENGAH DAN RUMAH TRADISIONAL SUMBA BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR (STUDI ETNOARKEOLOGI) Citra Iqliyah Darojah
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.648 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.52

Abstract

The house is a traditional house on a particular group of people is a reflection of local knowledge inherited from generation to generation. This paper aims at comparing traditional ethnographic data on the Bada Valley and West Sumba in order to get an overview of archaeological interpretation of the Austronesian speakers in the past, there are several factors to be considered in the selection of traditional houses as many equations kasus. Lebih study of Austronesian cultural patterns that are still found in traditional house traditional house Bada Valley and West Sumba than the differences that exist.AbstrakRumah rumah tradisional pada kelompok masyarakat tertentu merupakan refleksi dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tulisan ini bertujuan membandingan data etnografi pada rumah tradisional Lembah Bada dan Sumba Barat guna mendapatkan interpretasi arkeologis gambaran rumah penutur Austronesia pada masa lampau, terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan rumah tradisional sebagai studi kasus.Lebih banyak persamaan corak budaya Austronesia yang masih ditemukan pada rumah tradisional Lembah Bada dan rumah tradisional Sumba Barat dibandingkan dengan perbedaan yang ada.
AMBELO (BACTRONOPHORUS THORACITES): PANGAN LOKAL TRADISIONAL ORANG KAMORO DI KAMPUNG HIRIPAU Windy Hapsari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.475 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.53

Abstract

Kamoro ethnics are civilized society swampys area, coastal and riverine, utilizing natural products to find sources of food and other necessities. All of these capabilities is a form of adaptation and interaction with nature, and generate local knowledge passed down by their predecessors. One of the traditional local knowledge is tambelo, traditional local food source. This paper aims to find out about tambelo and benefits in the lives of Kamoro ethnics in Hiripau village. Tambelo animal mollusk is a kind of worm called latin Bactronophorus thoracites , which live on decaying wood of mangrove trees. This animal has a high nutritive substances and sources of animal protein. Tambelo very useful for Kamoro ethnic in the village Hiripau in aspects of health, social, cultural and economic.AbstrakOrang Kamoro merupakan masyarakat berbudaya rawa, daerah pantai dan muara sungai, yang memanfaatkan hasil alam untuk mencari sumber pangan dan kebutuhan lainnya. Semua kemampuan tersebut merupakan bentuk adaptasi dan interaksi dengan alam, dan menghasilkan pengetahuan lokal yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Salah satu pengetahuan lokal tradisional tersebut adalah tambelo, sumber pangan lokal tradisional. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tentang tambelo dan manfaatnya dalam kehidupan orang Kamoro di Kampung Hiripau. Tambelo adalah hewan molusca sejenis cacing kapal bernama latin Bactronophorus thoracites, yang hidup pada kayu pohon bakau yang membusuk. Hewan ini memiliki kandungan zat bergizi tinggi dan sumber protein hewani. Tambelo sangat bermanfaat bagi orang Kamoro di Kampung Hiripau dalam aspek kesehatan, sosial budaya dan ekonomi.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue