cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014" : 9 Documents clear
SISA BUDAYA MANUSIA PURBA SITUS NGEBUNG (Artefact of Early Man in Ngebung Site) Metta Adityas Permata Sari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.114 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.38

Abstract

Rooted cultural habits passed down through the generations since the common ancestor to the present. Results of prehistoric human culture found within the site Ngebung Sangiran, composed of bone tools and stone tools. Both of these findings will be the subject matter discussed in this paper with the aim to rescue and add data as well as the latest information. In addition, this study also wanted to find out the similarities and differences between the characteristics of the research findings in 2013 to 2014. Based on the survey and excavation team Preservation Hall Ancient Man Site (BPSMP) Sangiran in 2013 and 2014, it is known that bone tools were found is a type of spatula and lancipan , while the stone tools consist of shale and shaved. Overall the study found as many as 2 pieces of bone tools and stone tools 63 pieces.ABSTRAKBudaya berakar dari kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun sejak nenek moyang hingga sekarang. Hasil budaya manusia prasejarah yang ditemukan di situs Ngebung dalam kawasan Sangiran, terdiri dari alat tulang dan alat batu. Kedua temuan tersebut akan menjadi pokok masalah yang dibahas dalam tulisan ini dengan tujuan untuk penyelamatan dan menambah data serta informasi terbaru. Selain itu penelitian ini juga ingin mengetahui persamaan serta perbedaan karakteristik temuan antara penelitian pada tahun 2013 dengan 2014. Berdasarkan survei dan ekskavasi tim Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran tahun 2013 dan 2014, diketahui bahwa alat tulang yang ditemukan merupakan tipe spatula dan lancipan, sedangkan alat batu terdiri dari serpih dan serut. Secara keseluruhan penelitian menemukan alat tulang sebanyak 2 buah dan alat batu 63 buah.
SISTEM PENGUBURAN PADA SITUS WARLOKA, MANGGARAI BARAT, FLORES (Burial System on Warloka Site, West Manggarai, Flores) Adyanti Putri Ariadi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.965 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.39

Abstract

Research on Site Warloka Flores generate new unique findings, namely the three remaining skeleton in one box archaeological excavation. The findings are interesting, the children have a stock order the tomb as well as the amount is higher than the burial gift adults. Related to these findings, this article will discuss the background of burial and the factors that cause the variation stock tomb Warloka site. The study aims to describe how burial and aspects and their underlying factors that cause the variation stock tomb. Based on the method of excavation was found that the system Warloka burial site indicate the presence of life has settled and the complex structure of society, as well as the pattern keletakan regular stock tomb, indicating the presence of the people who have a regular structure. While the diversity of burial and grave type of provision due to religious factors, social status, and cultural environments.ABSTRAKPenelitian pada Situs Warloka, Flores ini menghasilkan temuan baru yang unik, yaitu tiga sisa rangka manusia dalam satu kotak galian arkeologis. Temuan yang menarik, yakni rangka anak memiliki bekal kubur yang jumlah serta nilainya lebih tinggi daripada bekal kubur orang dewasa. Terkait dengan temuan tersebut, artikel ini akan membahas masalah latar belakang cara penguburan dan faktor yang menyebabkan variasi bekal kubur di situs Warloka. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan cara penguburan dan aspek-aspek yang melatarbelakanginya beserta factor-faktor yang menyebabkan variasi bekal kubur. Berdasarkan metode ekskavasi ditemukan bahwa sistem penguburan di Situs Warloka menunjukkan telah adanya kehidupan menetap dan struktur masyarakat yang kompleks, begitu juga dengan pola keletakan bekal kubur yang teratur, menunjukkan adanya struktur masyarakat yang sudah teratur. Sementara keragaman cara penguburan dan jenis bekal kubur disebabkan oleh faktor religi, status sosial, dan lingkungan budaya.
THE COWRIES-SHELLS AND PIGS IN THE HIGHLAND OF PAPUA: THE LAPITA INFLUENCE? (Keberadaan Cangkang Kerang Cowrie dan Babi di Pegunungan Tinggi Papua: Pengaruh Lapita?) Marlin Tolla
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.48 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.40

Abstract

Cowrie shells and pork was instrumental in the life of tribes in Papua. Shellfish and pork cowries used as a medium of exchange, dowry, and death rituals. This paper aims to describe the relationship with the coastal areas of the mountainous region of Papua, as well as the influence of Lapita in the mountains. Data collected by literature study and qualitative descriptive analysis. Shellfish and pork cowries were introduced by Austronesian speakers to the indigenous people in the mountains of Papua. ABSTRAKKerang cowrie dan babi sangat berperan dalam kehidupan suku-suku di pegunungan Papua. Kerang cowrie dan babi digunakan sebagai alat tukar, mas kawin, dan ritual kematian. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterkaitan wilayah pesisir Papua dengan wilayah pegunungan, serta pengaruh Lapita di pegunungan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan analisis deskriptif kualitatif. Kerang cowries dan babi diperkenalkan oleh penutur Austronesia kepada penduduk asli di pegunungan Papua.
BABI DALAM BUDAYA PAPUA (Pig in The Papua Culture) Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.832 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.41

Abstract

The pig is an integral part of the culture in the highlands of Papua. Nevertheless, to this day still happening cross of opinion among experts about when the first swine entered in Papua. This paper will discuss the beginning of pigs in Papua and Papuan cultural values associated with the presence of a pig. Data was collected with a literature study, in this paper used descriptive qualitative method. Beginning of the presence of swine in Papua brought by Austronesian speakers. Pig bones found in cave sites north coast of Papua. The presence of pigs in Papua are very influential in Papuan culture. ABSTRAKBabi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya di daerah dataran tinggi Papua. Meskipun demikian, sampai hari ini masih saja terjadi persilangan pendapat antar para ahli mengenai kapan pertama kali babi masuk di Papua. Tulisan ini akan membahas awal mula babi di Papua dan nilai-nilai budaya Papua yang terkait dengan keberadaan babi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, dalam tulisan ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Awal mula keberadaan babi di Papua dibawa oleh penutur Austronesia. Tulang-tulang babi ditemukan di situs-situs gua pesisir utara Papua. Keberadaan babi di Papua sangat berpengaruh pada budaya Papua.
ALAT PERTANIAN TRADISIONAL SEBAGAI WARISAN KEKAYAAN BUDAYA BANGSA (Traditional of Agricultural Equipment as Nation Cultural Heritage Property) Lilyk Eka Suranny
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.661 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.42

Abstract

Traditional farm equipment is one of the cultural richness of Indonesia. Modernization in agriculture causes decreasing of traditional farm equipment using by farmers. There are many different kinds of traditional farm equipment made by our ancestors in earlier time, for example plows, harrows, hoes, ani-ani, sickle, etc. In some region of Indonesia, the traditional farm equipments has different local name although has the same usability. This traditional farm equipment contains adi luhung values according to the personality of the Indonesian nation. Therefore, traditional farm equipment needs to be preserved from exitinction and can be inherited to the next generations. ABSTRAKAlat pertanian telah dibuat oleh manusia prasejarah sejak masa neolitik. Alat pertanian tradisional merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia. Modernisasi di bidang pertanian menyebabkan berkurangnya penggunaan alat pertanian tradisional oleh petani. Tulisan ini akan menjelaskan mengenai berbagai peralatan pertanian tradisional yang digunakan untuk bercocok tanam baik dari fungsi maupun cara pemakaiannya. Selain itu penulis mencoba untuk mengupas nilai-nilai yang terkandung dalam penggunaan peralatan tradisional tersebut. Metode yang digunakan dalam tulisan ini yaitu observasi, wawancara dan studi pustaka. Peralatan pertanian tradisional merupakan bentuk kearifan lokal, memiliki nilai tradisi dan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
BENTENG SOMBA OPU PERSPEKTIF SEJARAH BERDASARKAN BATU BATA (Brick of The Somba Opu Fortress: Historical Perspective) nFN Muhaeminah
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.724 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.43

Abstract

This study aims to uncover the historical data Somba Opu fortress archeology of Gowa District, using the method of observation of the data linkage with the existence of the fort. Surveys and interviews with local leaders in order to gain an overview of Somba Opu fortress stori websites. Test-pit were conducted to determine the various forms of archaeological relics contained in the excavated soil by opening a box of 100 x 100 cm with a depth measurement system using the spit with a depth of 15 cm set consistently every spitnya. The results of the research, its history proves that the value is very high, resulting in the colonization process began with trade, economic mastery, and then increased to mastery in the field of politics, with a mastery of this that there is a harmonious relationship between the kingdom of Gowa with colonial Dutch, and finally agreed an agreement which agreement the Somba Opu Bungaya as a triumph of Gowa destroyed and razed by the Dutch colonists. Archaeological remains in the form of fragments of brick were still clear scratch-jangang jangang lontara letters, footprints of animals, boats and motifs mat. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap data sejarah arkeologi Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, dengan menggunakan metode pengamatan terhadap keterkaitan data dengan keberadaan benteng. Survei dan wawancara dengan tokoh masyarakat setempat guna memperoleh gambaran sejarah situs benteng Somba Opu. Test-pit yang dilakukan untuk mengetahui berbagai bentuk peninggalan arkeologi yang terdapat di dalam tanah dengan membuka kotak galian 100 x 100 cm dengan pendalaman menggunakan sistem spit dengan ukuran kedalaman yang ditetapkan 15 cm secara konsisten setiap spitnya. Hasil penelitian, membuktikan bahwa nilai historinya sangat tinggi, sehingga dalam proses kolonialisasi diawali dengan kegiatan perdagangan, penguasaan ekonomi, kemudian meningkat menjadi penguasaan di bidang politik, dengan penguasaan inilah maka terjadi suatu hubungan yang tidak harmonis antara kerajaan Gowa dengan kolonial Belanda, dan akhirnya disepakati suatu perjanjian yaitu Perjanjian Bungaya maka Benteng Somba Opu sebagai kejayaan Gowa dihancurkan dan diratakan dengan tanah oleh penjajah Belanda. Tinggalan arkeologi berupa fragmen bata yang masih jelas goresan huruf lontara jangang-jangang, bekas kaki binatang, perahu dan motif tikar.
PERADABAN MASA SEJARAH SITUS EREKE, BUTON UTARA, SULAWESI TENGGARA [1] (The Historical Civilization of Ereke Site, North Buton, Southeast Sulawesi) M. Irfan Mahmud
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.134 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.44

Abstract

Ereke is one of regions in the north of Buton Island which grew in the authorization of Muna Palace.Under the threat of pirates and the greatness of Waolio Castle (Buton) and Muna, they built their government in a fortress (intra-murros). It was divided into some units with “kalisusu” as physical symbol of residential centre, and it became their identity. This paper will reveal the archaeological trackin historical landscape. To describe some aspects of community civilization in the history of Ereke archaeological site. At least since XV until XIX centuries. The purpose is to give initial information which can be developed in the broader and deeper research in the future. There was one significant thing found using archaeological survey, although cultural acculturation and assimilation occurred transparently, but the substantive element of local culture can hold up as the identity by adapting the external influence, such as defence system, fortress, armament, import goods, and religious order of the society. ABSTRAKEreke merupakan kawasan di sisi utara pulau Buton yang tumbuh dalam pengaruh penguasa keraton Muna. Di bawah ancaman bajak laut dan bayang-bayang kebesaran keraton Wolio (Buton) dan Muna, mereka membangun pemerintahan dalam benteng (intra-murros). Ruang benteng terbagi dalam beberapa unit, dengan “Kalisusu” sebagai simbol pusat permukiman, sekaligus menjadi identitas yang merekatkan. Tulisan ini akan mengungkapkan jejak arkeologis dalam bentang sejarah (historical landscape) untuk menggambarkan beberapa aspek peradaban komunitas di situs Ereke masa sejarah, sekurang-kurangnya sejak abad XV hingga XIX. Tujuannya, untuk memberikan informasi awal yang dapat dikembangkan dalam penelitian yang lebih luas dan mendalam di masa akan datang. Ada satu hal yang penting ditemukan dengan survei arkeologis, bahwa meskipun akulturasi dan assimilasi budaya berlangsung terbuka, namun unsur subtantif budaya lokal mampu bertahan sebagai identitas dengan tetap mengadaptasi anasir luar, seperti sistem pertahanan (benteng), persenjataan, barang impor, dan tatanan keagamaan.
SEJARAH RAT SRAN RAJA KOMISI KAIMANA (History of Rat Sran King of Kaimana) Desy Polla Usmany
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.506 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.45

Abstract

Kaimana kingdom led by the Rat Sr10an, means King of Sran or King of Commission. Initially this kingdom exists enough, but gradually fading effect, even more memorable. This article departs from the research that aims to describe the genesis of the King Sran, government and powers of the period before the entry of the Netherlands until the time of Dutch rule. The study revealed that the historical method Sran kingdom was established in 1309. The first named of Rat Sran king is Imaga who hold Nati Patimunin I. This kingdom migrate three times, namely from Patimunin, Adi Island, and the city of Kaimana. Sran kingdom until 1440 been progressing quite rapidly, but subsequently degraded power due to the inclusion of Tidore, a conflict between the royal family, as well as changes in the system of government after the entry of the Dutch government.ABSTRAKKerajaan Kaimana dipimpin oleh Rat Sran, berarti Raja Sran atau Raja Komisi. Awalnya kerajaan ini cukup eksis, namun lambat laun memudar pengaruhnya, bahkan semakin terlupakan. Artikel ini berangkat dari penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan kembali asal usul Raja Sran, pemerintahan serta kekuasaannya dari masa sebelum masuknya Belanda hingga masa pemerintahan Belanda. Penelitian dengan metode sejarah mengungkapkan bahwa Kerajaan Sran berdiri tahun 1309. Raja pertama bernama Imaga yang bergelar Rat Sran Nati Patimunin I. Kerajaan ini berpindah tempat sebanyak tiga kali, yaitu dari Patimunin, Pulau Adi, dan Kota Kaimana. Kerajaan Sran hingga tahun 1440 mengalami perkembangan cukup pesat, namun selanjutnya mengalami degradasi kekuasaan akibat masuknya Tidore, konflik diantara keluarga kerajaan, serta perubahan sistim pemerintahan setelah masuknya pemerintah Belanda.
Kata Pengantar, Daftar Isi dan Abstrak Redaksi Jurnal Penelitian Arkeologi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.422 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.150

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 More Issue