cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017" : 9 Documents clear
PROFIL PROGNASI WAJAH BEBERAPA POPULASI DUNIA [Prognation Profile of World Population Faces] Toetik Koesbardiati
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4040.504 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.210

Abstract

The face is one of the major variables in determining the biological characteristics of a population in the identification effort of human skeletal remains. This is not only important in the field of forensic anthropology but also the field of bioarchaeology. The purpose of this study is to describe the variation of facial angle in some of the world population. The method applied is anthropometry. The study material is the skull of nine world populations of Europe, North Africa, Subsahara Africa, South America, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polynesia and China. The results showed that among the population tested, Australomelanesoid, Polynesian, Indonesian and African Subsahara populations had a prognathic face both on the even face, as well as the alveolar and facial projection. In contrast, the population groups of China, Europe, Inuit and North Africa are population groups that have faces of orthognath.  ABSTRAKWajah adalah salah satu variabel utama dalam menentukan ciri biologis suatu populasi pada usaha identifikasi sisa rangka manusia. Hal ini tidak hanya panting dalam bidang antropologi forensik tetapi juga bidang bioarkeologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan variasi sudut wajah pada beberapa populasi dunia. Metode yang diterapkan adalah antropometri. Bahan penelitian adalah tengkorak dari sembilan populasi dunia yaitu populasi Eropa, Afrika Utara, Afrika Subsahara, Amerika Selatan, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polinesia dan China. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara populasi yang diuji, populasi Australomelanesoid, Polinesia, Indonesia dan Afrika Subsahara memiliki wajah yang prognath baik pada bagian wajah genap, maupun bagian alveolar serta proyeksi wajah. Sebaliknya kelompok populasi China, Eropa, Inuit dan Afrika Utara adalah kelompok populasi yang memiliki wajah orthognath.
A WINDOW INTO PAPUA’S PAST: ARCHAEOLOGICAL AND ANTHROPOLOGICAL STATUS QUO IN THE STAR MOUNTAINS [Melihat Masa Lalu Papua : Penelitian Arkeologi dan Antropologi di Pegunungan Bintang] Wulf Schiefenhovel; Marian Vanhaeren
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.791 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.211

Abstract

In this paper, which is based on anthropological fieldwork in the Province of Papua, and literature research in archaeology and anthropology, we attempt to give an overview over the present status of research in Tanah Papua, with special focus on the prehistory and anthropology of groups in the interior, especially on the little known “Ok-Mek Minisphere” as well as on the potential routes of prehistoric migration to New Guinea and into the Star Mountains.  ABSTRAKTulisan didasarkan pada penelitian lapangan antropologi di Papua, dan penelitian kepustakaan arkeologi dan antropologi. Dalam penelitian ini mencoba untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan penelitian saat ini di Papua, dengan fokus pada prasejarah dan antropologi di pedalaman, terutama di wilayah “Ok- Mek” yang sangat potensial sebagai jalur migrasi prasejarah ke New Guinea dan masuk ke Pegunungan Bintang.
TINJAUAN ARKEOLOGI RELIGI PADA MAKAM RAJA SAOSAO DAN RAJA LAKIDENDE DI KEN DARI SULAWESI TENGGARA [Review of Archaeology Religy in Saosao Tomb and Lakidende Tomb in South East Sulawesi] Muh. Subair
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.741 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.212

Abstract

Civilization of a city can be seen from archaeological remains. Kendari city is known as a city whose society is religious. The purpose of this paper is to know the history of the entry of Islam in Kendari and archaeological remains of the evidence of the entry of Islam in Kendari. The method used is literature study, interview and survey. Islam in Kendari was brought by Islamic religious teachers, Muslim traders and ulama, this is known from the existence of tombs of religious figures o f Islam in the past Kendari.  ABSTRAKPeradaban suatu kota dapat dilihat dari tinggalan-tinggalan arkeologi. Kota Kendari dikenal sebagai kota yang masyarakatnya religius. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui sejarah masuknya Islam di Kendari dan tinggalan-tinggalan arkeologi yang menjadi bukti masuknya Islam di Kendari. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, wawancara dan survei. Islam di Kendari dibawa oleh guru agama Islam, pedagang muslim dan ulama, hal ini diketahui dari keberadaan makam tokoh-tokoh agama Islam Kendari pada masa lalu.
TATA RUANG PEMUKIMAN DI PULAU SELU TANIMBAR BARAT [Settlement Layout in Selu Island West Tanimbar] Lucas Wattimena
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.237 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.213

Abstract

Selu Island is one of the small islands within the Tanimbar Archipelago. Geographically the location of Selu Island is strategic enough to connect between the great mainland of Yamdena Island and the surrounding islands. This paper provides an overview of how the characteristics of ancient settlement layout based on the folklore of the local community. The objectives o f the study may be to provide 1) information about ancient settlement forms based on the folklore community. 2) as an information material for archaeological research in Moluccas especially and Indonesia generally. Why Selu Island is so interesting to be studied, because folklore spatial local community settlement is closely related to megalithic tradition. Research method using ethnoarchaeology approach. Technique of collecting data using survey, literature study and interview. The results showed that the characteristics of ancient settlement layout forms on Selu Island, West Tanimbar based on the level of public knowledge. This can be seen in the distribution layout of settlements based on folklore and archaeological evidence oriented to religious elements and ancient burial systems.  ABSTRAKPulau Selu adalah salah satu pulau kecil dalam gugusan Kepulauan Tanimbar. Secara geografis letak Pulau Selu cukup strategis menghubungkan antara daratan besar Pulau Yamdena dan pulaupulau sekitarnya. Tulisan ini memberikan gambaran tentang bagaimana karakteristik tata ruang pemukiman kuno berdasarkan folklore masyarakat setempat. Tujuan penelitian kiranya dapat memberikan 1) informasi tentang bentuk-bentuk pemukiman kuno berdasarkan folklore masyarakat. 2) sebagai bahan informasi bagi penelitian arkeologi di Maluku khususnya dan Indonesia umumnya. Kenapa Pulau Selu begitu menarik untuk diteliti, karena folklore tata ruang pemukiman masyarakat setempat berkaitan erat dengan tradisi megalitik. Metode penelitian menggunakan pendekatan etnoarkeologi. Teknik pengumpulan data menggunakan survei, studi pustaka dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik bentuk-bentuk tataruang pemukiman kuno di Pulau Selu, Tanimbar Barat berdasarkan tingkat pengetahuan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dalam pembagian tataruang pemukiman berdasarkan folklore dan bukti arkeologi yang berorientasi pada unsur religi dan sistem penguburan kuno.
PERAN PEREMPUAN DALAM BUDAYA MARITIM WAROPEN [The Role of Women in the Culture of Maritime in Waropen] Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.239 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.214

Abstract

In Waropen livelihood, women in connected maritime tradition play roles in providing food for their family In related to the title, there are some problems deal with the women’s roles in Waropen maritime tradition that can be formulated as follows: How are the roles of women in Waropen maritime tradition, what values revealed in maritime tradition. The research applies etnoarcheolgical approach by using some techniques: bibliographical study, observation, and interview. Those collected data are then described, analyzed, interpreted, and concluded. The results show that there are three main livelihood, i.e., processing sagoo, cathing fish (by men), cathing crabs (by men), and gathering seashells (by men). While women’s roles follow the knowledge system of maritime tradition: time, season, wind, and stars. To go to the location of sagoo processing, shrimps and seashells gathering, Waropen women use canoes without leeboard. In local language it is called sewado. Through the roles of Waropen women in maritime tradition, there are some beneficial socio-cultural values, i.e. being religious, corporation, independence, discipline, hard work, creativity, and care to nature.  ABSTRAKPeran serta perempuan Waropen dalam sistem mata pencaharian hidup berkaitan dengan tradisi maritim, perempuan bertanggung jawab penuh untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Berkaitan dengan judul, ada beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan peran perempuan dalam budaya maritim Waropen, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana peran perempuan dalam budaya maritim di Waropen?, nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam budaya maritim tersebut?. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoarkeologi dengan menggunakan beberapa teknik yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan, dan ditarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga macam mata pencaharian utamanya yaitu meramu sagu, menangkap ikan (dilakukan oleh lakilaki), menangkap kepiting dan mengumpulkan atau kerang, berburu (dilakukan oleh perempuan). Sementara itu, perempuan Waropen mengikuti sistem pengetahuan budaya maritim seperti sistem pengetahuan mengenai waktu, musim, angin dan bintang. Untuk ke lokasi tempat mencari seperti menokok sagu, mencari keping, udang dan bia, perempuan Waropen menggunakan perahu tak bercadik yang disebut dengan sewado. Melalui peran perempuan Waropen dalam budaya maritim, termuat nilai-nilai sosial-budaya yang berguna dalam kehidupan, yaitu nilai religius, gotong royong atau kerjasama, kemandirian, disiplin, kerja keras, kreatif, dan peduli lingkungan.
PENINGGALAN JEPANG DI SARMI PAPUA [Japanese Remains in Sarmi Papua] nFN Saberia
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.876 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.215

Abstract

Sarmi is one of the areas Japan has made as its defense base in World War II. The purpose of this paper is to know the existence of Japan in Sarmi and the remnants of Japanese heritage located in Tanjung Batu Village, East Sarmi District Sarmi District. The method used in this paper is oral history and uses literature review. Remains of Japanese relics in World War II were found in Kampung Tanjung Batu, Sarmi proving that Japan was once in Sarmi.  ABSTRAKSarmi merupakan salah satu wilayah yang dijadikan Jepang sebagai basis pertahanannya pada Perang Dunia II. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui keberadaan Jepang di Sarmi dan sisa-sisa peninggalan Jepang yang terdapat di Kampung Tanjung Batu Distrik Sarmi Timur Kabupaten Sarmi. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah sejarah lisan dan menggunakan kajian pustaka. Sisa-sisa peninggalan Jepang pada Perang Dunia II ditemukan di Kampung Tanjung Batu, Sarmi yang membuktikan bahwa Jepang pernah berada di Sarmi.
SENI TATAH SUNGGING DESA KEPUHSARI SEBAGAI WARISAN BUDAYA DI KABUPATEN WONOGIRI [The Arts of Tatah Sungging Kepuhsari Village As A Cultural Heritage in Wonogiri Regency] Lilyk Eka Suranny
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.328 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.216

Abstract

The art of puppet making known in the community with tatah sungging art. In current society the tatah sungging art increasingly marginalized by the development era. This study used descriptive qualitative method. Initially tatah sungging art in the Kepuhsari village carried by a puppeteer named Ki Guno Wasito which was later revealed to posterity who subsequently developed in the community of Kepuhsari village. Tatah sungging art in the making of the puppet is a combination of the tatah (chisel) and sungging (coloring). The values contained in the tatah sungging art that is the economic values, moral / educational values, cultural and artistic value, historical value and cultural preservation. This values are deeply embedded in society  ABSTRAKSeni pembuatan wayang dikenal dimasyarakat dengan seni tatah sungging. Dalam masyarakat saat ini seni tatah sungging semakin terpinggirkan akibat perkembangan jaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai sejarah perkembangan seni tatah sungging di Desa Kepuhsari, teknologi pembuatan wayang kulit serta nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Awalnya seni tatah sungging di Desa Kepuhsari dibawa oleh seorang dalang bernama Ki Guno Wasito yang kemudian diturunkan ke anak cucunya dan selanjutnya berkembang di masyarakat Desa Kepuhsari. Seni tatah sungging dalam pembuatan wayang merupakan perpaduan dari tatah (pahat) dan sungging (mewarnai). Nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging yaitu nilai ekonomi, nilai moral/edukatif, nilai seni dan budaya serta nilai historis dan pelestarian budaya. Nilai-nilai tersebut melekat dalam kehidupan bermasyarakat.
TRADISI PEMBUATAN GERABAH DI DESA NGRENCAK KABUPATEN TRENGGALEK [Traditional Pottery of Ngrencak, Trenggalek Regency] Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.249 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.217

Abstract

The tradition of making and using pottery has existed since prehistoric times, this tradition is also found in Ngrencak Village, Trenggalek Regency. The purpose of this research is to know Ngrencak traditional pottery technology and the impact of modem culture on Ngrencak pottery tradition. Data collection techniques used in ethnoarkeologi studies are direct communication or direct contact with the data provider or often referred to as interviews, observation, and literature study. Ngrencak pottery-making technique is made by hand combined with stitching technique and rotary wheel. Ngrencak pottery faces rival plastic containers. It also depends on market demand.  ABSTRAKTradisi pembuatan dan penggunaan gerabah sudah ada sejakzaman prasejarah, tradisi ini juga terdapat di Desa Ngrencak, Kabupaten Trenggalek. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui teknologi gerabah tradisional Ngrencak dan dampak budaya modern terhadap tradisi gerabah Ngrencak. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam studi etnoarkeologi yaitu komunikasi langsung atau kontak langsung dengan pemberi data atau sering disebut dengan wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Teknik pembuatan gerabah Ngrencak dibuat dengan tangan yang dipadukan dengan teknik tatap pelandas dan roda putar. Gerabah Ngrencak menghadapi saingan wadah plastik. Selain itu juga tergantung permintaan pasar.
cover, redaksi, kata pengantar, daftar isi, abstrak, vol 9 no 2 Redaksi Jurnal Papua
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2444.138 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.220

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue