cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Floribunda
ISSN : 01254706     EISSN : 24606944     DOI : -
Floribunda is published both in Bahasa Indonesia and English, covers wide range of plant diversity, taxonomy and systematics of Malesian flora particulary distributed in Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 6 (2017)" : 6 Documents clear
COVER FLORIBUNDA 5(6) Editor Floribunda
Floribunda Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.441 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v5i6.2017.190

Abstract

-
CHECKLIST OF PTERIDOPHYTE FLORA OF ENGGANO ISLAND Wita Wardani; Bayu Adjie
Floribunda Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.815 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v5i6.2017.181

Abstract

Wita Wardani & Bayu Adjie. 2017. Daftar Jenis-jenis Pteridofita dari Pulau Enggano. Floribunda 5(6): 209–219. — Daftar 61 jenis paku-pakuan dan kerabat paku dilaporkan untuk pertama kalinya. Seluruh jenis yang terdaftar merupakan jenis-jenis yang tersebar luas. Luas dan jarak Pulau Enggano dari Sumatra tidak memungkinkan timbulnya keunikan pada keanekaragaman paku-pakuan dan kerabatnya. Satu jenis dinilai sebagai jenis yang belum lama ternaturalisasi, yakni Adiantum latifolium. Epifit (litofit) menyusun 44% dari daftar ini. Hutan Lindung Koha Buwa-buwa merupakan area penting yang menjadi tempat hidup hampir 50% keanekaragaman paku-pakuan di pulau ini.Kata kunci: Enggano, Keanekaragaman, Koha Buwa-buwa, Paku-pakuan.Wita Wardani & Bayu Adjie. 2017. Checklist of Pteridophyte Flora of Enggano Island. Floribunda 5(6): 209–219. — List of 61 pteridophyte species from the Island of Enggano is presented for the first time. None of these are endemic, all are wide spread species. The size and distance of Enggano from its mainland is insufficient to develop distinctiveness in diversity of pteridophyte. One in the list is believed to be newly naturalized, i.e. Adiantum latifolium. Epiphyte (lithophyte) constitutes 44 % of the list. The protected forest Koha Buwa-buwa is the important area that shelter nearly 50% of total pteridphyte diversity in the island.Keywords: Enggano, Diversity, Koha Buwa-buwa, Pteridophyte. 
BAMBOO SPECIES (POACEAE: BAMBUSOIDEAE) FROM SELAYAR ISLAND Alin Liana; Purnomo Purnomo; Issirep Sumardi; Budi Setiadi Daryono
Floribunda Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.805 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v5i6.2017.136

Abstract

Alin Liana, Purnomo, Issirep Sumardi & Budi Setiadi Daryono. 2017. Jenis-jenis Bambu (Poaceae: Bambusoideae) dari Pulau Selayar. Floribunda 5(6): 185–191. — Delapan spesies dan satu varietas Bambusoideae dilaporkan pertama kali dari Pulau Selayar di Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, jenis-jenis tersebut yaitu Bambusa blumeana Schult.f., Bambusa maculata Widjaja, Bambusa vulgaris Schard., Bambusa vulgaris Schard. var. vittata, Bambusa sp., Dendrocalamus asper (Schult.) Backer, Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz, Schizostachyum blumei Ness, dan Schizostachyum brachycladum (Kurz) Kurz. Deskripsi taksonomis dan gambar disajikan.Kata Kunci: Bambu, Pulau Selayar, Sulawesi.Alin Liana, Purnomo, Issirep Sumardi & Budi Setiadi Daryono. 2017. Bamboo Species (Poaceae: Bambusoideae) from Selayar Island. Floribunda 5(6): 185–191. —  Eight  species and one variety of Bambusoideae are reported for the first time from Selayar Island in South Sulawesi. Based on the results of field survey, those species are namely Bambusa blumeana Schult.f., Bambusa maculata Widjaja, Bambusa vulgaris Schard., Bambusa vulgaris Schard. var. vittata, Bambusa sp., Dendrocalamus asper (Schult.) Backer, Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz, Schizostachyum blumei Ness, and Schizostachyum brachycladum (Kurz) Kurz. Taxonomic descriptions and figures are provided.Keywords: Bamboo, Selayar Island, Sulawesi.
ANATOMI DAUN RAMBUTAN (NEPHELIUM LAPPACEUM L.) DAN KERABATNYA Qothrunnada - Sungkar; Tatik - Chikmawati; Nina Ratna Djuita
Floribunda Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2419.028 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v5i6.2017.168

Abstract

Qothrunnada Sungkar, Tatik Chikmawati & Nina Ratna Djuita. 2017. Leaf Anatomy of Rambutan (Nephelium  lappaceum L.) and Its Relatives. Floribunda 5(6): 192–199. —  Rambutan belongs to the Sapindaceae family that has closely related to longan and lychee. The observation on leaf anatomy of rambutan, longan, and lychee was conducted to provide information about leaf anatomy of Sapindaceae’s members. The anatomical features of leaf paradermal and transversal sections were examinated on four varieties of rambutan namely binjai, rapiah, sikoneng, and aceh lengkeng; and two closely related families, longan and lychee. All rambutan cultivars and lychee had the same stomata type: cyclocytic, while stomata in longan was surrounded by six subsidiary cells. Epidermal cells of rambutan and lychee leaves have polygonal shape with flat side, whereas epidermal cell of longan has polygonal shapes with notched. Based on transversal sections, rambutan, longan, and lychee have bifacial type, but they are differed in the number of palisade layer and the shape of palisade cellls. Leaf anatomical characters could be used to distinguish between rambutan and its closed relatives, longan and lychee; but it could not be used to differentiate among rambutan’s cultivars.Keywords: longan, lychee, rambutan, Sapindaceae, stomata type.Qothrunnada Sungkar, Tatik Chikmawati & Nina Ratna Djuita. 2017. Anatomi Daun Rambutan  (Nephelium lappaceum L.) dan Kerabatnya. Floribunda 5(6): 192–199. —  Rambutan merupakan tumbuhan yang termasuk ke dalam suku Sapindaceae dan masih berkerabat dekat dengan lengkeng dan leci. Pengamatan tentang anatomi daun Sapindaceae masih jarang dilakukan, sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk memberikan informasi mengenai anatomi daun beberapa anggota Sapindaceae. Pengamatan ciri anatomi dari sayatan paradermal dan transversal dilakukan terhadap empat kultivar rambutan yaitu rambutan binjai, rapiah, sikoneng, dan aceh lengkeng, serta dua kerabat dekatnya yaitu lengkeng dan leci. Hasil sayatan paradermal memperlihatkan bahwa stomata tidak ditemukan di permukaan atas daun rambutan, lengkeng, dan leci. Stomata pada daun rambutan dan leci adalah stomata dengan tipe siklositik, sedangkan stomata pada lengkeng dikelilingi oleh enam sel tetangga. Epidermis pada daun rambutan dan leci berbentuk poligonal dengan sisi rata, sedangkan sel epidermis pada daun lengkeng berbentuk poligonal dengan sisi berlekuk. Sayatan transversal  memperlihatkan bahwa daun rambutan, lengkeng, dan leci bertipe bifasial. Ketiga jenis berbeda pada jumlah lapisan palisade dan bentuk sel palisade. Ciri anatomi daun dapat digunakan untuk membedakan rambutan dari kerabat dekatnya, leci dan lengkeng; tetapi tidak dapat digunakan untuk membedakan antara kultivar rambutan.Kata kunci: lengkeng, leci, rambutan, Sapindaceae, tipe stomata.
DICRANOLOMA (BRYOPHYTA: DICRANACEAE) DI TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER (SUMATRA) Fandri Sofiana Fastanti; Nunik Sri Ariyanti
Floribunda Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.776 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v5i6.2017.176

Abstract

Fandri Sofiana Fastanti & Nunik Sri Ariyanti. 2017. The Dicranoloma (Bryophyta: Dicranaceae) of the Leuser Mountains National Park (Sumatra). Floribunda 5(6): 200–208. — The diversity of mosses of Leuser Mountains National Park is insufficienly reported, therefore this research was conducted in this national park to explore the diversity of Dicranoloma. This genus is easily recognized in the field by the long leaves and narrow costa. The diversity of Dicranoloma was observed based on the specimens collected in the national park, along trails at Gayo Luwes district from Rainforest Lodge Kedah to Angkasan summit (1417–2925 m asl). Ten species of Dicranoloma were identified, i.e. D. assimile, D. blumii, D. braunii, D. brevisetum, D. reflexum, D. daymannianum, Dicranoloma sp, D. dicarpum, D. eucamptodontoides and D. rugifolium. The last three species are new record for Sumatra while Dicranoloma sp. is still being identified. Key to the species, species descriptions, as well as  their distribution are provided.Keywords: Dicranaceae, Dicranoloma, Leuser Mountains National Park, mosses, Sumatra.Fandri Sofiana Fastanti & Nunik Sri Ariyanti. 2017. Dicranoloma (Bryophyta: Dicranaceae) di Taman Nasional Gunung Leuser (Sumatra). Floribunda 5(6): 200–208. — Keanekaragaman lumut sejati di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) masih sedikit dilaporkan, sehingga penelitian ini dilakukan di taman nasional ini untuk mengeksplorasi keanekaragaman Dicranoloma. Marga ini mudah dikenali di lapangan berdasarkan daunnya yang panjang dan kostanya yang sempit. Keanekaragaman Dicranoloma diteliti berdasarkan spesimen yang dikoleksi dari taman nasional tersebut di sepanjang jalur pendakian Gayo Luwes dari Rainforest Lodge Kedah hingga puncak Angkasan (1417–2925 m dpl). Sepuluh jenis Dicranoloma telah diidentifikasi, yaitu D. assimile, D. blumii, D. braunii, D. brevisetum, D. reflexum, D. daymannianum, Dicranoloma sp, D. dicarpum, D. eucamptodontoides dan D. rugifolium. Tiga jenis terakhir merupakan  catatan baru bagi Sumatra, sedangkan Dicranoloma sp. masih dalam proses identifikasi. Kunci identifikasi, pertelaan dan persebaran jenis disediakan.Kata kunci: Dicranaceae, Dicranoloma, Taman Nasional Gunung Leuser, lumut sejati, Sumatra.
ADIANTUM LATIFOLIUM LAM. (PTERIDACEAE); A NEWLY NATURALIZED FERN IN JAVA, INDONESIA Muhamad Muhaimin
Floribunda Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.854 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v5i6.2017.177

Abstract

Muhamad Muhaimin. 2017. Adiantum latifolium Lam. (Pteridaceae); Catatan Naturalisasi Jenis Paku Eksotik di Jawa, Indonesia. Floribunda 5(6): 220–225.— Marga Adiantum di Jawa terdiri dari 19 jenis. Setelah itu, terdapat satu jenis yang  keberadaannya masih diragukan di Jawa, yaitu jenis eksotik Adiantum latifolium Lam. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan selama tiga tahun di Bogor, Depok, dan Jakarta, jenis tersebut akhirnya dapat dipastikan tumbuh secara meliar di Jawa. Bahkan, jenis tersebut dapat dikategorikan ke dalam jenis yang sudah ternaturalisasi di Jawa. Hasil dari pengamatan tersebut akan dipresentasikan dan didiskusikan dalam tulisan ini.Kata kunci: Adiantum latifolium Lam., Jawa, naturalisasi.Muhamad Muhaimin. 2017. Adiantum latifolium  Lam. (Pteridaceae); A Newly Naturalized Fern in Java, Indonesia. Floribunda 5(6): 220 –225.  —The genus Adiantum in Java consists of 19 species. Following this publication, the existence of one species in Java is considered to be doubtful, which is Adiantum latifolium Lam. Based on field observations conducted for over three years in Bogor, Depok and Jakarta, the species can eventually be confirmed to grow escaping cultivated population in Java. Therefore, these species can be categorized into naturalized species in Java. The results of these observations will be presented and discussed in this paper.Keywords: Adiantum latifolium Lam., Java, naturalized.

Page 1 of 1 | Total Record : 6