cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
BUANA SAINS
ISSN : 14121638     EISSN : 25275720     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
BUANA SAINS p-ISSN : 1412-1638 | e-ISSN: 2527-5720 is a double-blind peer-reviewed, open-access journal, published by UNITRI PRESS. It publishes original and applied research in all areas of natural science. The Editorial goal is to provide a forum exchange and an interface between researchers and practitioners in any natural science related field.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2014)" : 22 Documents clear
PENGARUH KOMPOS DIPERKAYA BIOCHAR SEBAGAI BULKING AGENT TERHADAP SERAPAN FOSFOR DAN HASIL JAGUNG (ZEA MAYS, L.) PADA CALCAROSOL M.S.M Nur; T. Islami; E. Handayanto; W.H. Nugroho; W.H. Utomo
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.613 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.340

Abstract

Suatu penelitian lapangan dilakukan untuk mempelajari pengaruh aplikasi kompos yang diperkaya dengan biochar sebagai bulking agent terhadap serapan fosfor dan hasil jagung pada tanah Calcarosol pada musim hujan 2012-2013 dan musim panas 2013. Perlakuan yang dicobakan adalah: (1) kontrol, tanpa pemberian kompos (K0), (2) kompos pupuk kandang sapi (KSB0), (3) kompos pupuk kandang sapi + 2,5 ton ha-1 biochar (KSBOB), (4) kompos pupuk kandang sapi + biochar (3:1) (KSB1), (5) kompos pupuk kandang sapi + biochar (1:1) (KSB2), (6) kompos biomasa C. odorata (KCB0), (7) kompos biomasa C. odorata + biochar (3:1) (KCB1), dan (8) kompos biomasa C. odorata +biochar (1:1) (KCB2). Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi kompos biochar sebagai pembenah tanah Calcarosol berpengaruh nyata terhadap peningkatan C-organik, KTK, N total, K-dd, Mg-dd, P tersedia, penurunan P terjerap, peningkatan serapan P, peningkatan bobot kering akar, bobot kering tanaman, dan hasil biji jagung. Peningkatan serapan P dan hasil biji tertinggi diperoleh pada perlakuan KCB2, yaitu masing-masing sebesar 162% dan 145% dibanding kontrol pada MT I dan sebesar 182% dan 240% dibanding kontrol pada MT II, menunjukkan efektivitas pengaruh perlakuan kompos biochar terhadap serapan P dan hasil jagung pada tanah Calcarosol
PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN PUPUK NPK TERHADAP pH DAN K-TERSEDIA TANAH SERTA SERAPAN-K, PERTUMBUHAN, DAN HASIL PADI SAWAH (Oryza sativa L ) Elizabeth Kaya
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.746 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.353

Abstract

Potassium absorbed by plants in large enough quantities, sometimes even larger than nitrogen. If the potassium in the soil and irrigation water that comes from not sufficient for growth, the plant will suffer from potassium deficiency and its production will be very low. The availability of K in the soil to be absorbed by plants is impportant to support optimal growth optimal and yield. The research aim to establish the pH and available-K soil, K-uptake and growth as well as the results of paddy (Oryza sativa L) due to the treatment of organic fertilizer and NPK fertilizer. The study was designed using a Randomized block design (RBD) 3 x 5 factorial with 3 replications. The first factor is the organic fertilizer (O) which consists of two levels, ie O0 without organic fertilizer, O1 3 tons ha-1 (6 kg plot-1) straw compost, and O2 3 tons ha-1 (6 kg plot-1) manure. The second factor is the NPK fertilizer (A) which consists of three levels, namely A0 without NPK fertilizer; A1 25% x the recommended dose (75 kg ha-1); A2 50% x the recommended dose (150 kg ha-1); A3 75% x the recommended dose (225 kg ha-1); and A4 100% x the recommended dose (300 kg ha-1). The results showed that combination of the organic fertilizer with NPK fertilizers can increase soil pH, the availability of potassium (K) of paddy soil, uptake of potassium (K), and the number of tillers per hill. Organic fertilizer can increase vegetative growth (plant height) and yield of rice plant ( number of grains per panicle, number of filled grains per panicle and milling dry grain weight yield ), whereas NPK fertilizer can independently increase the plant height. Combination dose of 3 tons of manure ha-1 and 300 kg NPK ha-1 in increasing soil pH by 6.00, straw compost dose combination of 3 tons ha-1 and 300 kg NPK ha-1 can increase K-available soil 35.60 ppm, potassium uptake of rice plants from 1.36 % to 2.20 %, and the number of tillers per hill of 23.10 became 33.13 tillers
PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK BERBAHAN URINE SAPI TERHADAP KUALITAS KIMIA TANAH DI LERENG MERAPI Aqni Hanifa; Lutojo Lutojo
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.831 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik berbahan urine sapi terhadap kualitas kimia tanah di lereng Merapi, Desa Jrakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktorial seri 2x4 pola searah, dengan ulangan sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah 2 jenis tanah dengan tanaman berbeda (R1 = rumput Raja dan R2 = rumput Gajah). Faktor kedua adalah 4 level dosis penggunaan pupuk organik (D0 = tanpa pemberian pupuk organik; D1 = pemberian pupuk organik sebesar 5 ton/ha; D2 = pemberian pupuk organik sebesar 10 ton/ha dan D3 = pemberian pupuk organik sebesar 15 ton/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik berbahan urine sapi menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap pH, C-organik dan kandungan Nitrogen (N) total dalam tanah. Sedangkan penggunaan pupuk organik berbahan urine sapi menunjukkan berbeda nyata (P
PRODUK FERMENTASI DAN PRODUKSI GAS SECARA INVITRO DARI RANSUM YANG MENGANDUNG DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA, LAMM) Marhaeniyanto, Eko; Susanti, Sri
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.129 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.336

Abstract

This research was designed to find out the best composition between Moringa oleifera and other concentrate material as a supplier of protein by-pass and contain of secondary compounds tannin. Four kinds of concentrate consisted of various levels of Moringa oleifera leaf, Samanea saman leaf, Coconut cake and Onggok. These concentrate would combined with three of feeding forages proportion namely straw Zea mays. The feed digestibility in vitro and gas production in incubation of 48 hours showed that there were highly significant differences (P 0.01) between each treatment, which highest value was the addition without Moringa oleifera leaf and Samanea saman leaf. The enhanced levels of Moringa oleifera leaf is lower digestibility. Levels of N-NH3 rumen fluid for 4, 12 and 24 hours decreased with the increasing levels of use of Moringa oleifera leaf. There were positive response on feeding supplements based Moringa oleifera leaf due to supply sufficient nutrients for rumen microbes. Based on crude protein 36.55% content of Moringa oleifera could be developed as feed supplement. It could be conclude that the utilization of concentrate feed (Moringa oleifera leaf of 30% : Samanea saman leaf of 10%: coconut cake of 45%: onggok of 15%) with the proportion of 50% forage : concentrate of 50%, potentially as a alternative supplements source for ruminants in Indonesia
ADAPTABILITAS JAGUNG PUTIH PADA TANAH REGOSOL DAN KAMBISOL YANG DIBERI KOMPOS ELA SAGU Agustinus Jacob; Aurellia Tatipata
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.057 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.341

Abstract

Jagung putih memiliki kemampuan untuk beradaptasi pada kondisi lingkungan yang sub optimum serta merupakan makanan pokok bagi masyarakat di kabupaten Maluku Barat Daya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kemampuan jagung putih beradaptasi jika ditanam di luar habitat aslinya terutama pada tanah regosol dan kambisol; (2) dosis pupuk organik ela sagu terbaik bagi pertumbuhan dan produksi jagung putih yang ditanam pada tanah regosol dan kambisol; (3) dosis pupuk dan jenis tanah yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi jagung tertinggi.. Percobaan faktorial ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak terdiri dari dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis tanah (A), yaitu rogosol (A1) dan kambisol (A2). Faktor kedua adalah dosis pupuk organik ela sagu (B), yaitu tanpa pemberian pupuk (B0); 7,5 t ha-1, (B1); 10 t ha-1. (B2); 12,5 t ha-1 (B3); 15 t ha-1 (B4). Peubah yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah dan luas daun; panjang, diamater, dan berat tongkol per tanaman, berat pipilan kering per petak, serapan hara N, P, K. Data dianalisis menggunakan analisis varian taraf 5% dan uji berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua peubah dari tanaman yang diberi 15 t ha -1 kompos baik pada tanah regosol maupun kambisol lebih tinggi dibandingkan dengan dosis lainnya. 15 t ha-1 kompos pada tanah regosol menghasilkan N, P, K tertinggi yang diindikasikan oleh pertumbuhan dan produksi jagung putih tertinggi dibanding dengan kambisol. Jagung putih lebih mampu beradaptasi pada tanah regosol
PERUBAHAN DISTRIBUSI PORI TANAH REGOSOL AKIBAT PEMBERIAN KOMPOS ELA SAGU DAN PUPUK ORGANIK CAIR June A. Putinella
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.545 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.354

Abstract

Tanah merupakan media pertumbuhan tanaman yang sangat kompleks. Agar tanaman tumbuh dengan optimum maka tidak hanya membutuhkan unsur hara yang cukup dan seimbang, tetapi juga memerlukan lingkungan fisik, kimia dan biologi tanah yang sesuai sehingga akar tanaman dapat berkembang dengan bebas demikian juga proses fisiologinya. Suatu percobaan rumah kaca yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis kompos ela sagu dan dosis pupuk organik cair terhadap perbaikan distribusi pori tanah Regosol. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Faktorpertama adalah dosis kompos ela sagu yang terdiri dari: K0 (tanpa kompos ela sagu), K1(15g/polibag) dan K2 (30g/polibag),Faktorkedua adalah pupuk organik cair yang terdiri dari C0 ( tanpa perlakuan), C1 (3ml/polibag) dan C2 (6 ml/polibag). Hasil percobaan menunjukan bahwa kombinasi pemberian kompos ela sagu pada dosis30 g/polibag dan pupuk organik cair dosis 6 ml/polibag berpengaruh meningkatkan pori drainase lambat menjadi 4,83% dan pori air tersedia menjadi 9.07%. Sedangkan secara mandiri dapat meningkatkan pori air tidak tersedia menjadi 14.17% pada dosis perlakuan kompos15 g/polibag, sedangkan pada dosis perlakuan pupuk organik cair 6 ml/polibag menjadi 14.66% dan menurunkan pori drainase cepat menjadi 21.86% pada dosis kompos 30 g/polibag dan 26.21% pada dosis pupuk organik cair 6ml/polibag
PENGUATAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT LERENG MERAPI MELALUI ADOPSI INOVASI PUPUK ORGANIK UNTUK MENDUKUNG SISTEM PERTANIAN-PETERNAKAN TERPADU Ayu Intan Sari; Waluyo Waluyo
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.162 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.359

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dampak adopsi inovasi pupuk organic berbahan dasar limbah kotoran ternak terhadap penguatan aspek sosial ekonomi masyarakat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2014 di kawasan lereng Gunung Merapi tepatnya Desa Jrakah dan Klakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tahapan pelaksanaan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (melalui kegiatan survei potensi dan identifikasi masalah), Focus Group Discussion, penyuluhan, pelatihan, percontohan, dan pendampingan produksi. Penelitian melibatkan 36 peternak yang dipilih dengan metode puposive sampling (sengaja). Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Mayoritas responden (80,6%) berjenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan SMP (55,5%), dengan umur rata-rata diatas 40 tahun ; 2) Secara afektif telah terjadi perubahan sikap peternak terhadap inovasi pengolahan limbah menjadi pupuk organik ke arah positif ; 3) Secara kognitif telah terjadi peningkatan pengetahuan peternak sebesar 38 % (kenaikan skor pre test dan post test) ; 4) Secara psikomotorik responden melalui pelatihan dan pendampingan telah menguasai ketrampilan pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik ; 5) Secara sosial adopsi inovasi pupuk organik dapat memperkuat interaksi, rasa kepercayaan, dan kerjasama antar masyarakat ; 6) Secara ekonomi efisiensi usaha peternakan dan pertanian dapat tercapai, yaitu pupuk organik dapat digunakan untuk menggantikan pupuk kimia dalam sistem pertanian masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adopsi inovasi pupuk organik berdampak pada penguatan aspek sosial ekonomi masyarakat khususnya peternak
DESAIN SISTEM PENGERING KERUPUK KEMPLANG DENGAN UAP SUPER PANAS BERBAHAN BAKAR BIOMASA Endo Argo Kuncoro
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.566 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.337

Abstract

Penggunaan alat pengering seperti cabinet dryer berbahan bakar minyak (BBM) atau gas (BBG) untuk pengeringan kerupuk kemplang merupakan solusi dalam mengatasi masalah pengeringan yang terkendala cuaca. Umumnya sistem pengeringan ini menggunakan udara panas sebagai medium pengeringan. Namun, pada penelitian ini akan dikembangkan sistem pengeringan kerupuk kemplang dengan menggunakan uap super panas. Penggunaan uap super panas untuk proses pengeringan didasarkan pada sifat termodinamika uap tersebut yang lebih unggul daripada udara pada kondisi yang sama. Rancangan alat pengering dengan uap super panas akan menggunakan sekam sebagai bahan bakar untuk pemanasan boiler. Berdasarkan uji teknis, perhitungan, dan uraian pembahasan yang telah dilakukan terhadap alat pengering kemplang tipe rak menggunakan uap kering super panas maka diperoleh suhu dan kelembaban relatif ruang pengering didapat sebesar 78oC dan 35%. Laju pengeringan rata-rata sebesar 7,01%/jam, kadar air akhir kemplang rata-rata sebesar 7%, dan kebutuhan energi panas total rata-rata 31.419,86 kJ. Efisiensi pengeringan dan efisiensi pemanasan dengan bahan bakar sekam adalah sebesar 7,41% % dan 2,07%. Alat pengering kemplang tipe rak menggunakan sumber panas uap kering super panas dapat diaplikasikan karena memenuhi karakteristik pengeringan.
KAJIAN BEBERAPA DEKOMPOSER TERHADAP KECEPATAN DEKOMPOSISI SAMPAH RUMAH TANGGA Amik Krismawati; Dini Hardini
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.506 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.350

Abstract

Bertumpuknya sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) mengakibatkan menurunnya sanitasi lingkungan dan estetika kota, sehingga menimbulkan gangguan bagi wargakota. Untuk mengurangi jumlah sampah dapat dilakukan dengan memanfaatkan kembali limbah organic sampah rumah tangga melalui proses daur ulang menjadi kompos. Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah dengan menambahkan aktivator/decomposer pengomposan. Tujuan penelitian untuk mengetahui kecepatan dekomposisi beberapa dekomposer pada sampah rumah tangga. Penelitian dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur mulai bulan Pebruari sampai dengan April 2011. Penelitian terdiri dari 4 perlakuan dengan ulangan dua kali yakni perlakuan A = Sampah rumah tangga 50 kg + pupuk kandang 5 kg + dedak 5/6 kg + Molase 1/6 liter dan dekomposer BPTP 1 67 ml yang dilarutkan 1 liter air bersi;.B = Sampah rumah tangga 50 kg + pupuk kandang 5 kg + dedak 5/6 kg + Molase 1/6 liter dan dekomposer SuperDegra 67 ml yang dilarutkan 1 liter air bersih; C = Sampah rumah tangga 50 kg + pupuk kandang 5 kg + dedak 5/6 kg + Molase 1/6 liter dan dekomposer BPTP 2 67 ml yang dilarutkan 1 liter air bersih; dan D = Sampah rumah tangga 50 kg + pupuk kandang 5 kg + dedak 5/6 kg + Molase 1/6 liter dan dekomposer BPTP 3 67 ml yang dilarutkan 1 liter air bersih. Parameter pada penelitian ini adalah suhu, warna, aroma, kandungan C-organik (%), C/N rasio, dan reduksi (%) pada kompos sampah rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengomposan memerlukan waktu 4 – 5 minggu, kandungan C-organik tertinggi terdapat pada perlakuan A yakni 43,28%, kandungan C/N rasio tertinggi terdapat pada perlakuan A yakni 25,63. Berat bahan kompos pada akhir proses pengomposan mengalami penyusutan (reduksi) tertinggi pada perlakuan A1 sebanyak 88,4 %, sedang terendah pada perlakuan C2 sebanyak 80,8%. Berat akhir setelah menjadi kompos yang tertinggi pada perlakuan C2 yakni 9,3 kg sedang yang terendah pada perlakuan A1 yakni 5,8 kg
RANCANG BANGUN DAN UJI TEKNIK KOMPOR BERBAHAN BAKAR LIMBAH BIOMASA PERTANIAN Rahmad Hari Purnomo; Endo Argo Kuncoro; Dian Wahyuni
BUANA SAINS Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.073 KB) | DOI: 10.33366/bs.v14i2.342

Abstract

The research objective was to design and test of stove using agricultural waste biomass fuel. Engineering design was used in this research. The collected data was presented and tabular and graphical forms. This research was consisted of design, fabrication, technical test and perfomance analysis of stove which used agricultural waste biomass fuel. The observed parameters were combustion operational time, fuel consumption rate, specific gasification rate, combustion efficiency, heat energy input and ash percentage. Results showed that the highest combustion operational time was found on rice husk with magnitude of 0.43 hour and the lowest was found on wood chips with magnitude of 0.22 hour. The highest fuel consumption and gasification rates were found on wood chips with magnitude of 3.92 kg/h and 74.81 kg/m2h, whereas the lowest was found on rice husk with magnitude of 2.33 kg/h and 44.01 kg/m2h. The highest heat energy input value was found on wood chips with magnitude of 5,033.34 kcal, whereas the lowest was found on rice husks with magnitude of 3,411.29 kcal. The highest combustion efficiency was found on rice husk with magnitude of 4.67 % and the lowest was found on acacia leaves of 3.04 %. The highest ash percentage was found at rice husk with magnitude of 30 % and the lowest of 15 % was found on wood chips

Page 1 of 3 | Total Record : 22