cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Living Hadis
ISSN : 25287567     EISSN : 25484761     DOI : -
Jurnal Living Hadis (ISSN: 2528-7567) (e_ISSN: 2548-4761) is a yearly dual published journal issued by Department of Hadith Studies, Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in cooperation with ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia, Association of Hadith Studies in Indonesia). Jurnal Living Hadis circulates research from lecturers, researchers, as well as intellectual who focus on the study on hadith; including takhrij al hadith, ma’anil hadith, mukhtalif-musykil hadith, contemporary hadith studies, hermeneutics, methodology and syarah hadith (interpretation of hadith) up to social phenomenon of hadith, worldly known as living hadith.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019)" : 7 Documents clear
Game Online Teka-Teki Silang dengan Software Hot Potatoes 6 untuk Mendukung Pembelajaran Ilmu Hadis Ali Imron Imron
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.279 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1777

Abstract

Sebagai software yang sengaja dibuat oleh pengembangnya (Universitas Victoria, Kanada) untuk keperluan pendidikan, Hot Potatoes telah dimanfaatkan para praktisi pendidikan (baik guru maupun dosen) untuk membantu pembelajaran di kelas dari berbagai lintas ilmu.  Artikel ini menjelaskan tentang plausibilitas penggunaan Software Hot Potatoes untuk membuat game atau permainan interaktif teka-teki silang untuk mendukung pembelajaran ilmu hadis.Sebagai software yang sengaja dibuat oleh pengembangnya (Universitas Victoria, Kanada) untuk keperluan pendidikan, Hot Potatoes telah dimanfaatkan para praktisi pendidikan (baik guru maupun dosen) untuk membantu pembelajaran di kelas dari berbagai lintas ilmu.  Artikel ini menjelaskan tentang plausibilitas penggunaan Software Hot Potatoes untuk membuat game atau permainan interaktif teka-teki silang untuk mendukung pembelajaran ilmu hadis.
Pantang Larang Bermain Waktu Magrib (Kajian Living Hadis Tradisi Masyarakat Melayu Sambas) Syamsul Kurniawan
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.008 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1629

Abstract

Frank Swettenham (2003) assumed Malays as followers of the Prophet Muhammad and believe in fate, but also believe in superstition. As abstinence forbidding children play at sunset, the base develops as a form of their belief in the existence of ghosts and demons. Abstinence for children playing at Magrib is a living hadith phenomenon because it relies on a hadith of the Prophet Muhammad: "Don't let your children leave at sunset until the darkness of the night disappears because the devil disperses if the sun goes down until the darkness of the night disappears”. Portrait of living hadith in abstinence from playing at sun set prayer (Magrib) is actually easy to understand given the flexible nature of Islam so that it is able to unite and merge with any culture, period or environment. The focus of this paper is the abstinence for children playing at sun set prayer time as the phenomenon of the living hadith that developed among the Sambas Malays.Abstrak Frank Swettenham (2003) mengasumsikan Masyarakat Melayu sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw dan percaya takdir, namun juga memercayai takhayul. Sebagaimana pantang larang bermain di waktu Magrib, yang dasarnya berkembang sebagai bentuk kepercayaan mereka tentang keberadaan hantu dan setan. Pantang larang bagi anak-anak bermain di waktu Magrib ini merupakan fenomena living Hadis, karena bersandar pada sebuah Hadis Nabi Muhammad Saw: “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam.” Potret living Hadis dalam pantang larang bermain di waktu Magrib ini, sesungguhnya mudah dimengerti mengingat watak agama Islam yang fleksibel, sehingga mampu menyatu dan melebur dengan budaya, masa maupun di lingkungan masyarakat manapun. Fokus tulisan ini adalah pantang larang bagi anak-anak bermain di waktu Magrib sebagai fenomena living Hadis yang berkembang di kalangan Masyarakat Melayu Sambas
Living Hadis : Studi atas Tradisi Sedekah Nasi Bungkus Hari Jumat oleh Komunitas Sijum Amuntai Muhammad Rafi
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.508 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1647

Abstract

Poverty is one of the most complex and very significant social problems in influencing social-community settings. Islam through the Qur'an and Sunnah has provided a solution to overcome this poverty problem with the concept of alms. Alms itself is not limited to only assets or material, but can also be done through physical effort, one of which is good deeds to others. There are many verses of the Qur'an and matan hadith that invite Muslims to give alms, either openly or secretly. Then, the text is understood and actualized by Muslims with various kinds of understanding and forms of implementation. This is what later referred to as the hadith living. Living hadith is a sunnah of the Prophet which is freely interpreted by ulama, rulers, judges and Muslims according to the situation, place and conditions they face, or also referred to as "living sunnah". There are three models of hadith living namely writing traditions, oral traditions and traditions of practice. This paper takes the focus of the living of oral hadith that comes along with the practices carried out by Muslims. In this study we will discuss the living of hadith which refers to the tradition of religious practice, more precisely about the understanding of the Sijum community regarding almsgiving and how it is implemented in the tradition of alms rice on Friday for the Sijum Amuntai community. This research is descriptive, qualitative, inductive which means that a study is conducted to get a general description or description of the hadith living. The approach used in this study is a phenomenological approach with functional theory.
Hadis Dhubābah Perspektif Teori Parity danSymmetric Universe Ulya Ulya Fikriyati
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1267.824 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1779

Abstract

Salah satu bidang hadis yang menjadi konsentrasi kajian kontemporer adalah iʻjāz ‘ilmī. Artikel ini membahas hadis dhubābah. Selama ini, hadis dhubābah didekati dengan teori-teori medis dan kedokteran. Artikel ini sebenarnya menggunakan data yang sama dari ranah medis, namun mendekatinya dari perspektif fisika. Teori yang digunakan untuk menganalisis hadis dhubābah adalah teori parity dan universe is symmetryc. Kedua teori tersebut menjelaskan bahwa fisik segala materi di dunia dibentuk dan diciptakan secara simetris. Partikel mikro maupun makro selalu memiliki pasangan demi stabilitas semesta, tidak terkecuali anatomi tubuh lalat. Sisi luar fisik lalat kerap terpapar sisi negatif karena sering hinggap di tempat-tempat kotor. Namun lalat juga memproduksi zat imun paling tinggi dibanding dengan hewan-hewan lain dari dalam tubuhnya. Selain menjadi media hidup E-Coly (sisi negatif), lalat juga menjadi lahan subur tumbuhnya Actinomyces (sisi positif) yang dapat menghasilkan zat antri-mikroba actinomycetin. Actinomycetin dikenal sebagai zat yang dapat memusnahkan E-Coly. Tanpa parity yang sempurna, lalat tidak dapat hidup. Jika lalat tidak dapat hidup, maka sampah yang dihasilkan manusia akan lebih lama terurai. Jika sampah tersebut tidak segera terurai, maka akan terjadi symmetry-breaking yang mengubah semesta secara gradual.
Social Movement in Pengajian at Jogokariyan Mosque Ahmad Muttaqin
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1911.585 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1612

Abstract

Pengajian (religious teaching) is one of the primary programmes at Jogokariyan mosque. It has been held regularly and incidentally using the current issues as a theme. After the 212 demonstration 2016 in Jakarta, pengajian in Jogokariyan always uses the specific themes related to the religious social issues.  This article tries to explore how the reception of hadis or the teachings of prophetic tradition live in a social movement in the context of pengajian at Jogokariyan mosque. Employing a social movement approach, this article seeks to explore deeply how the hadis or prophetic traditions are expressed and its relevance to the social movement in pengajian. The social movement has three strategies, namely, (1) political opportunities, (2) mobilizing structures and (3) framing process. This present paper concludes that firstly, religious teaching in Jogokariyanmosque is a model of reception of hadis about seeking knowledge and majlis ilm’. The hadis is used as a basic tool to mobilize the process of social movement in pengajian. Secondly, the social movement in the Jogokariyan mosque is motivated by the injustice feeling caused by the policy of the government today.
Takhrij dan Fahm al Hads "Khuffat al Jannah bi al Makaarih” dalam Kitab Adab al-'Aalim wa al Muta'allim Ishom Fuadi Fikri
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.288 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1651

Abstract

ABSTRACTThis paper aims to discuss one of the Hadith in the book "Adab al-‘Aalim wa al-Muta’allim" by KH. Hasyim As'ariy, i.e. "Khuffat al-Jannah bi al-Makaarih". The approach used is the takhrij hadith bi al-lafdzi, which is to use few words and first words in the hadith. This paper is a study of literature based on relevant literature sources and seeks to answer the question of the status of authenticity of the hadith and how to understand the hadith. The quality of the hadith is worth Saheeh as a logical consequence of the connection of the Sanad and its famous tsiqah narrators, besides the matn hadith, it also does not conflict with such hadith as narrated by other narrators who are more religious. Therefore, the hadith can be used as a shara’ proposition, where in this case KH. Hasyim As'ariy explained that among the obligations of a teacher is always to encourage himself to; 1) always increase knowledge and do good deeds in sincerity of power and effort, 2) continuous worship, 3) read, 4) study, 5) discuss, 6) make notes, 7) memorize, 8) do not waste time and his age on something that is not related to science and good deeds, except when it is primary, including; eat-drink, rest-sleep, fulfill the rights of his wife or guest, make a living according to the level of need, illness, and so on. ABSTRAKTulisan ini bertujuan untuk membahas salah satu hadis yang yang tertera di dalam kitab “Adab al-‘Aalim wa al-Muta’allim” karya  KH. Hasyim As’ariy, yakni “Khuffat al-Jannah bi al-Makaarih”. Pendekatan yang digunakan adalah takhrij hadis bi al-lafdzi, yakni menggunakan sebagaian kata dan kata pertama dalam matan hadis. Tulisan ini merupakan kajian kepustakaan berdasarkan sumber-sumber literatur yang relevan dan berusaha menjawab persoalan mengenai status keotentikan hadis dan bagaimana pemahaman hadis tersebut. Kualitas hadits tersebut adalah bernilai shahih sebagai konsekuensi logis dari adanya persambungan sanad dan para perawinya terkenal tsiqah, disamping matan haditsnya juga tidak bertentangan dengan hadits semisal yang diriwayatkan oleh perawi lainnya yang lebih tsiqah. Oleh sebab itu, hadis tersebut dapat digunakan sebagai dalil syara’, dimana dalam hal ini KH. Hasyim As’ariy menjelaskan bahwa diantara kewajiban seorang guru adalah senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk; 1) selalu menambah pengetahuan dan beramal saleh dalam kesungguhan daya dan upaya, 2) kontinyu dalam beribadah, 3) membaca, 4) belajar, 5) berdiskusi, 6) membuat catatan-catatan, 7) mengahafal, 8) tidak menyia-nyiakan waktu dan umurnya pada sesuatu yang tidak berkaitan dengan keilmuan dan amal saleh, kecuali bila hal itu bersifat primer, diantaranya; makan-minum, istirahat-tidur, memenuhi hak istri atau tamunya, mencari nafkah sesuai kadar kebutuhan, sakit, dan sebagainya.
Pembacaan Hermeneutika Hadis tentang Perintah Istri Bersujud kepada Suami: Perspektif Hans-George Gadamer 'Azzah Nurin Taufiqotuzzahro'
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.809 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1616

Abstract

Salah satu penyebab marjinalisasi dalam kehidupan, baik sosial, budaya, pendidikan, politik tidak jauh dari pemikiran yang mengarah pada perempuan yang diperkuat dengan adanya al-Qur’an dan hadis Nabi. Perempuan sering menjadi sumber perbincangan oleh pemikir Islam, terlebih menyangkut gender. Sudah banyak literatur dan kajian yang membahasnya karena dirasa masih kontroversial seiring dengan pembahasan hak-hak asasi manusia yang tidak hanya berimplikasi pada permasalahan wanita itu sendiri tetapi berimbas pula pada pembahasan agama, termasuk Islam. Namun, di sisi lain teks-teks holistik yang ada memberi pengertian lain untuk meluruskan kegagalan faham yang selama ini menjadi doktrin di dunia Islam. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis hadis Nabi bernuansa misogini yang berisi tentang perintah istri bersujud kepada suami. Pemahaman leterlek hadis tersebut diklaim oleh beberapa fraksi sebagai hadis misoginis, yang mana hadis-hadis ini diduga berisi konten yang merendahkan dan memojokkan kaum perempuan. Melalui konsep hermeneutika Hans-George Gadamer yang mengantongi meaningfulsense sebagai solusi tepat, penulis memperoleh pandangan bahwa hadis perintah istri bersujud kepada suami bukan merupakan hadis misoginis yang digadang merendahkan perempuan dan menempatkan laki-laki di posisi paling depan. Konsep hermeneutika Gadamer, yang meliputi teori pemahaman, penafsiran, dan penerapan, justru menjawab bahwa hadis tersebut menyiratkan pengangkatan derajat perempuan dengan memberikan pemahaman untuk memenuhi hak serta kewajiban antara suami dan istri, dan bersikap baik terhadap satu sama lain.

Page 1 of 1 | Total Record : 7