cover
Contact Name
Sufyan Ilyas
Contact Email
sufyan.ilyas@ymail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.staitapaktuan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh selatan,
Aceh
INDONESIA
Al-Mursalah
ISSN : 24427268     EISSN : 26218240     DOI : -
Core Subject : Social,
AL-MURSALAH: Jurnal Hukum Islam Bulan dan tahun pertama kali terbit : Januari – Juni 2018 Frekuensi terbitan : 6 Bulanan Bahasa untuk artikel yang diterbitkan : Bahasa Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015" : 7 Documents clear
PERSEPSI ULAMA TENTANG KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM BIDANG POLITIK DI ACEH Desi Purnamasari, M.Pem.I
Al-MURSALAH Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana perempuan terlibat dalam bidang politik di Aceh, bagaimana persepsi ulama tentang keterlibatan perempuan dalam politik di Aceh  dan faktor apa yang mempengaruhi terjadinya perbedaan pandangan ulama tentang keterlibatan perempuan dalam bidang politik di Aceh. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (Field Research), melalui metode wawancara dan observasi, kemudian studi kepustakaan (Library Research). Data-data dan informasi yang diperoleh dari lapangan diinterpretasikan melalui analisa deskriptif. Hasil yang di peroleh dalam penelitian ini pertama Keterlibatan perempuan dalam politik di Aceh sudah mulai berkembang meskipun sedikit yang terlibat seperti menjadi anggota DPRD, selain itu ada perempuan yang terlibat di perkantoran sebagai sekretaris, kabid maupun lainnya. Kedua, Persepsi ulama tentang keterlibatan perempuan dalam bidang politik di Aceh bahwa sebagian ulama membolehkan keterlibatan perempuan dalam bidang politik, namun perempuan harus tetap menjaga identitasnya sebagai muslimah bahkan ada juga ulama yang menolak perempuan terlibat dalam bidang politik karena akan menghadapi banyak kendala dan perempuan dianggap kurang tegas dalam memimpin. Ketiga, faktor yang menjadi perbedaan persepsi ulama tentang keterlibatan perempuan dalam bidang politik di Aceh, karena adanya perbedaan penafsiran seperti penafsiran ayat al-Qur’ān dan Ḥadīs, juga ada sebagian Ulama tidak terlalu paham tentang politik dan selain itu faktor pengaruh tingkat keilmuan dan pengetahuan.    Kata Kunci : Ulama, Perempuan dan Politik
KONSEP MAHAR DALAM PERSPEKTIF MAZHAB IMAM SYAFI’Ī Muḥammad Iqbal, MA
Al-MURSALAH Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penetapan mahar yang terlalu tinggi sekarang ini, merupakan sebuah problema yang harus diselesaikan. Sepatutnya, hal ini tidak boleh terjadi, karena bisa merugikan bagi orang Islam itu sendiri. Karena mahar  adalah sesuatu yang sangat diperlukan dalam sebuah pernikahan.  Salah satu dari pada lima syarat untuk sah nikah adalah mahar. Dalam berbagai mazhab, mahar ada pembahasan khusus dan tetap diwajibkan termasuk dalam mazhab  Imam Syafi’ī. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui tentang konsep mahar dalam perspektif mazhab  Imam Syafi’ī. Hasil kajian menemukan bahwa dalam Mazhab Imam Syafi’ī , tidak ada batas maksimal dan minimal dalam jumlah kadar mahar. Namun demikian, dianjurkan mahar itu tidak memberatkan atau membebankan, karena sebuah pernikahan yang mengandung keberkahan adalah pernikahan yang maharnya mudah dan tidak terlalu tinggi atau mahal. Hikmah dari pensyari’atan mahar adalah agar suami istri bisa bercampur, untuk menghargai perempuan dan untuk menjadi pegangan bagi si istri. Penelitian ini disarankan kepada masyarakat, khususnya yang menganut Mazhab Syafi’iyah untuk dapat mengimplementasikan konsep tersebut ke dalam kehidupan nyata.  Kata Kunci : Konsep, Mahar, Mazhab Syafi’ī
HIKMAH SYARI’AH TERHADAP KESETARAAN GENDER DITINJAU DARI PERSPEKTIF ISLAM Abdul Qadir Handuh Saiman, MA
Al-MURSALAH Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa dasawarsa terakhir ini, wacana gender menjadi isu hangat di kalangan para pemikir Muslim di tanah air. Hal ini tidak terlepas dari konstelasi sosio-intelektual Internasional. Pasalnya, sejak sekitar tahun 1977, gerakan feminis di London mulai menggunakan istilah baru, yaitu “wacana gender.” Term tersebut sebetulnya merupakan refleksi sejarah eksistensi kaum perempuan, yang diawali dengan adanya marginalisasi hak-hak kaum perempuan, kemudian disusul upaya untuk memperoleh hak-hak tersebut, yang hasilnya adalah kesetaraan hak-hak laki-laki dan perempuan. Tulisan ini mencoba untuk memaparkan bagaimana hikmah yang terkandung terhadap  konsep kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, yang merupakan salah satu fitrah manusia. Kata Kunci : Kesetaraan, Gender.
SANKSI KEBIRI KIMIAWI BAGI PELAKU PEDOFILIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM DI INDONESIA Sufyan Ilyas, S.TH.,MH
Al-MURSALAH Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan berita tentang pedofilia, yaitu perilaku seks menyimpang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak. Hal ini tertuang dalam  Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) Nomor 1 Tahun 2016, yang menentukan kebiri kimia sebagai sanksi atas tindakan pedofilia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana implementasi sangsi kebiri kimia bagi pelaku pedofilia dalam PERPPU Nomor 1 Tahun 2016?  Penelitian ini bersifat normatif yuridis, yaitu untuk menelusuri dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan sanksi kebiri dengan menggunakan data primer dan sekunder. Sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah deduktif, yaitu menarik fakta yang bersifat umum untuk menjadikan fakta atau kesimpulan yang didapat sebelumnya menjadi sesuatu yang bersifat khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam PERPPU Nomor 1 Tahun 2016, ternyata penetapan sanksi kebiri kimiawi bagi para pelaku pedofilia bertujuan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Indonesia dari pelaku pedofilia, memberi efek jera dan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap hukum atas pelakunya. Kata Kunci : Pedofilia, Kebiri Kimia dan Hukum Pidana
KEMUKJIZATAN AL-QUR’ĀN DAN POLEMIK DI SEKITARNYA Riza Nazlianto, Lc, MA
Al-MURSALAH Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaijan  ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kritikan yang dilakukan terhadap al-Qur’ān, baik di kalangan kafirin bahkan juga orang Islam itu sendiri, padahal al-Qur’ān sudah terbukti kebenarannya.  Secara logika, al-Qur’ān yang diturunkan oleh Allah Swt dalam bahasa ‘Arab, tentu saja, sangat mudah dipahami oleh orang ‘Arab itu sendiri. Dalam kenyataannya, tidak ada seorangpun yang dapat menandingi al-Qur’ān, baik dari segi gaya bahasanya maupun sastranya. Padahal ketika itu, mereka memiliki kemampuan bahasa dan sastra yang sangat baik. Hasil kajian menemukan bahwa kemukjizatan mencakup semua isi al-Qur’ān, yaitu berkaitan dengan aspek bahasanya yang indah dan teratur, aspek ilmiahnya, aspek berita ghaib serta aspek penempatan tasyri’ atas semua umat manusia terutama ummat Islam. Sekalipun, al-Qur’ān mempunyai kemukjizatannya, tetapi ada juga timbul polemik, kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan seseorang dalam  memahami bahasa dan sifat redaksi bahasa yang ada dalam al-Qur’ān.  Di samping itu, terjadinya polemik terhadap kemu'jizatan al-Qur’ān itu,  kemungkinan disebabkan oleh ketidaksenangan sebagian orang, sehingga mencari-cari kelemahan lain, padahal sudah terbukti kebenarannya. Hal ini terlihat dari kelemahan mereka yang tidak mampu membuat tandingan seumpama al-Qur’ān, selain itu bisa disebabkan oleh kurangnya mereka memahami bahasa ‘Arab dan sifat redaksi bahasa tersebut. Kata Kunci : Kemukjizatan, al-Qur’ān dan Polemik
FENOMENA KASUS CERAI GUGAT (Studi Kasus di Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan) Taufik Hidayat Harahap, M.Ag
Al-MURSALAH Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perceraian merupakan suatu perkara yang halal tapi dibenci Allah. Tidak ada pasangan yang menikah menginginkan perceraian dalam perjalanan rumah tangganya. Data di Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan sejak Tahun 2012 s/d 2015 menunjukkan peningkatan setiap tahunnya bahkan kenaikannya hingga dua kali lipat kasus cerai gugat dibandingkan dengan cerai talak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif data dihimpun berdasarkan dari dokumentasi putusan cerai gugat pada tahun 2015 di Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan dan wawancara dengan perempuan yang telah bercerai serta dengan aktivis perempuan yang selama ini mendampingi dan mengadvokasi kasus cerai gugat di Aceh Selatan. Adapun temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang mengajukan cerai gugat sangat dominan, hal ini disebabkan oleh penelantaran baik secara fisik, mental dan ekonomi. Selanjutnya, perempuan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga baik secara fisik ataupun mental. Terakhir, campur tangan pihak ketiga dapat berasal dari keluarga suami ataupun dari orang lain. Kata Kunci : Cerai Gugat dan Mahkamah Syar’iyah
TEPUNG TAWAR/ PEUSIJEUK DALAM PERSPEKTIF TEORI TAFA-UL Alizar Usman, M.Hum
Al-MURSALAH Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi munculnya  fatwa-fatwa yang menganggap acara tepung tawar ini sebagai amalan bid’ah yang diharamkan.  Padahal, Tepung tawar merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan di kalangan suku Melayu dan Aceh khususnya. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Kemudian dalam perkembangannya, masalah tepung tawar menjadi suatu masalah yang kontroversial di tengah-tengah umat Islam. Karena itu, pembahasan secara mendalam dan komprehensif mengenai masalah ini merupakan suatu hal yang sangat diperlukan saat ini untuk menjawab kebingungan ummat mengenai status hukumnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa (1) Tafa-ul merupakan sebuah amalan yang dibenarkan syari’at, bahkan dianjurkan mengamalnya.  Amalan tersebut merupakan perbuatan tafa-ul yang dianjurkan dalam Islam, asalkan tidak mengandung unsur-unsur syirik dan hal-hal lain yang diharamkan oleh syari’at; (2) Tepung tawar/peusijeuk masuk dalam ranah tafa-ul bukan tasya-um, karena maksud acara tepung tawar atau peusijeuk hanyalah dengan harapan sesuatu yang baik, bukan menganggap sial sesuatu dan benda-benda yang terdapat dalam acara tepung tawar atau peusijuek hanyalah sebagai simbol kebaikan yang diharapkan dan ingin dicapai. Penelitian ini disarankan kepada masyarakat untuk tidak lagi menjadikan perdebatan atau pertentangan tentang amalan-amalan tepung tawar atau peusiejuk dalam kehidupan, karena amalan tersebut tergolong ke dalam konsep tafa-ul.  Kata Kunci : Peusejeuk  dan Teori Tafa-ul

Page 1 of 1 | Total Record : 7