cover
Contact Name
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
Contact Email
wayang.nusantara@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
endahbudiarti30@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
ISSN : 23564776     EISSN : 23564784     DOI : -
Core Subject : Art,
Wayang Nusantara adalah jumal ilmiah pewayangan yang diterbitkan oleh Jurusan Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjuk:an, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Terbit pertama kali bulan September 2014 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2020): September 2020" : 5 Documents clear
Resepsi dan Tanggapan Ki Timbul Hadiprayitno atas Gugurnya Dasamuka dalam Lakon Banjaran Sinta Setyoko Setyoko; Aris Wahyudi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v4i2.4952

Abstract

AbstractKi Timbul Hadiprayitno’s sanggit (a way of storytelling in wayang perfomance based on particular dalang’s/puppet master’s interpretation) regarding the death of Prabu Dasamuka in his play of Banjaran Sinta is an interesting phenomenon. There are several characters and events that are not common in conventional puppetry traditions in general, especially in Ngayogyakarta puppetry tradition. Ki Timbul himself has said that some of the events and characters in the play originated from the comic by Kosasih. Thus, it can be said that there has been a transformation of the Kosasih text into the performance form by Ki Timbul Hadiprayitno. The question is: How does Ki Timbul Hadiprayitno respond to the Kosasih text through his new sanggit? The process of the transformation here can be traced by comparing the texts of Ki Timbul Hadiprayitno and Kosasih in order to examine their similarities and differences. The comparison of both texts is very important to show the origin of source text which becomes the basis for the creation of the new text in Ki Timbul Hadiprayitno’s sanggit. By this comparison, the causes of differences and changes of text and sanggit can be revealed. Furthermore, it can show that Kosasih’s text has influenced Ki Timbul Hadiprayitno’s play. There have been changes, both additions and subtractions. However, Ki Timbul Hadiprayitno still pays attention to and maintains the intertextuality of wayang plays intact. AbstrakSanggit Ki Timbul Hadiprayitno mengenai gugurnya Prabu Dasamuka dalam lakon Banjaran Sinta, merupakan fenomena yang menarik. Di sana dijumpai beberapa tokoh dan peristiwa yang tidak lazim dalam tradisi pedalangan konvensional pada umumnya, terlebih tradisi pedalangan Ngayogyakarta. Ki Timbul sendiri mengatakan bahwa beberapa peristiwa dan tokoh dalam lakon tersebut bersumber dari komik karya Kosasih. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa telah terjadi transformasi teks Kosasih ke dalam bentuk pertunjukan Ki Timbul Hadiprayitno. Yang menjadi pertanyaan adalah: Bagaimana cara Ki Timbul Hadiprayitno menanggapi teks Kosasih melalui sanggit barunya? Proses terjadinya transformasi di sini dilacak dengan cara mempersandingkan teks Ki Timbul Hadiprayitno dan Kosasih dalam rangka mencermati persamaan dan perbedaannya. Persandingan demikian sangat penting untuk menunjukkan sumber teks yang dijadikan dasar penciptaan teks baru dalam sanggit Ki Timbul Hadiprayitno. Dari sini kemudian dilacak tentang penyebab perbedaan dan perubahan yang terjadi. Melalui strategi di atas diperoleh pemahaman bahwa teks Kosasih menjadi bahan perubahan pada teks lakon yang telah dimiliki Ki Timbul Hadiprayitno sebelumnya. Namun dalam perpaduan tersebut telah terjadi perubahan, baik penambahan maupun pengurangan. Namun demikian Ki Timbul Hadiprayitno masih memperhatikan dan mempertahankan intertekstual lakon wayang secara utuh.
Pertunjukan Wayang Kulit Madya Lakon Aji Pamasa Sanggit Ki Purbo Asmoro Sapto Adi Santoso; Tatik Harpawati
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v4i2.3804

Abstract

AbstractThis paper discusses the puppet shapes, movements, musical accompaniment, and the story-telling of Aji Pamasa play by Ki Purbo Asmoro. This research uses descriptive qualitative method in which Murtiyoso concept of puppetry medium is further explored. The data collection method used was observation, note-taking, and sorting techniques. The method used in the data analysis phase was library research. This study has concluded that the Wayang Madya presentation of Aji Pamasa play by Ki Purbo Asmoro has been  adapted to the shapes of the puppets and the musical accompaniment. AbstrakTulisan ini membahas tentang bentuk wayang, gerak wayang, iringan karawitan, dan penceritaan lakon Aji Pamasa sanggit Ki Purbo Asmoro. Konsep medium pedalangan Murtiyoso digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak, teknik catat, dan teknik pilah. Metode yang digunakan dalam tahap analisis data adalah metode kepustakaan (lybrary methods). Penelitian ini menemukan simpulan bahwa sajian pertunjukan wayang madya lakon Aji Pamasa sanggit Ki Purbo Asmoro telah mengalami penyesuaian dalam hal bentuk boneka wayang dan iringan pakeliran.
Kontrovesi Perang Malam Hari dan Ambivalensi Tokoh Karna dalam Lakon Suluhan Muhammad Lutfhi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v4i2.4948

Abstract

AbstractThis study aims to understand the meaning of Suluhan or the Death of Gatutkaca Play by Ki Hadi Sugito. This study employs qualitative descriptive method in which Paul Ricoeur's hermeneutic theory is used. Note-taking, listening, and identity techniques were used in data analysis. The results show that Adipati Karna’s decisions and actions to fight at night becomes the driving force of the events that occur in the next scenes. Adipati Karna's actions break the rules of war to disprove the accusation of being a spy and to prove his loyalty to the Kurawas. The death of Gathutkaca in Tegal Kurusetra is not solely due to the Adipati Karna’s or Kalabendana’s actions, but it has become Gathutkaca’s choice and destiny as it is written in the Jitabsara Book. AbstrakPenelitian ini bertujuan memahami makna Lakon Suluhan Ki Hadi Sugito. Penelitian ini menggunakan teori hermeneutika Paul Ricoeur. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Teknik catat, simak, dan padan orthografi digunakan dalam analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan dan tindakan adipati Karna berperang pada malam hari menjadi penggerak dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam adegan-adegan berikutnya. Tindakan Adipati Karna melanggar aturan perang dalam rangka untuk menegasi tuduhan mata-mata terhadap dirinya dan untuk membuktikan kesetiaannya pada Kurawa. Kematian Gathutkaca di Tegal Kurusetra bukan semata-mata karena perbuatan Adipati Karna atau Kalabendana, namun sudah menjadi pilihannya dan dalam kerangka takdir Tuhan Yang Maha Kuasa seperti tertulis dalam Kitab Jitabsara.
Kewadatan Lesmana dalam Sastra Tulis dan Pertunjukan Wayang Suprihana Suprihana; Udreka Udreka
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v4i2.5196

Abstract

AbstractThis paper discusses the nature of Lesmana in the written text and the play text of the purwa leather puppet show. This paper also discusses the text's intertextual relationship, especially regarding the concept of the Lesmana wadat. The data used are Serat Rama Jasadipoera, Novel Anak Bajang Gushing Winds Sindhunata, and the play Banjaran Rahwono Ki Timbul Hadi Prayitno. Intertextual concepts are used as a theoretical framework. Methods of data analysis using qualitative descriptive methods. The finding of this study is that the concept of the Lesmana wadat in the three texts does not experience any deviation or change.AbstrakTulisan ini membahas kewadatan Lesmana dalam teks tulis dan teks lakon pertunjukan wayang  kulit purwa. Tulisan ini juga membahas hubungan intertekstual teks tersebut khususnya tentang konsep wadat Lesmana. Data yang digunakan ialah Serat Rama Jasadipoera, Novel Anak Bajang Menggiring Angin Sindhunata, dan lakon Banjaran Rahwono Ki Timbul Hadi Prayitno. Konsep intertekstual digunakan sebagai kerangka teori. Metode analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Temuan dari penelitian ini ialah konsep wadat Lesmana dalam ketiga teks tidak mengalami penyimpangan atau perubahan.
Bima-Drona dalam Lakon Dewa Ruci sebagai Vayu-Vata, Transformasi Prana dalam Pertunjukan Wayang Aris Wahyudi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v4i2.5172

Abstract

AbstrackRelationship of Bima and Drona in Dewa Ruci story is unique. Eventhough Drona puts Bima into danger, Bima chooses Drona as a teacher. It is because Bima has not obtained a very good spiritual knowledge about life yet since a hero is supposed to have high spiritual qualities and good prayers. The wayang tradition describes Bima as a cruel hero who is not religious, and Drona does not have good brahman qualifications, either. This leads to an assumption that their relationship must be important and meaningful. The question is what does the relationship between Bima-Drona mean, namely Bima as the learner who becomes the recipient of spiritual knowledge of welfare and Drona as his teacher? With structural mythological analysis, it can be concluded that the relationshp between Bima-Drona is an identification of Vãyu-Vãta as the transformation of prana in the Syiwapuja rituals. AbstrakBima dan Drona dalam cerita Dewa Ruci adalah hubungan yang unik. Meski Drona menjerumuskan Bima, namun Bima memilih Drona sebagai guru. Apalagi hal yang berhubungan dengan pengetahuan spiritual yang sangat baik tentang kehidupan, di mana dapat ditemukan oleh pahlawan yang memiliki kualitas spiritual yang tinggi, doa yang baik, tetapi Bima belum. Tradisi wayang memaparkan bahwa Bima adalah pahlawan yang kejam, tidak berkarakter religius dan Drona belum memiliki kualifikasi brahmana yang baik. Fenomena itu memunculkan asumsi bahwa hubungan tersebut pasti bermakna. Pertanyaannya adalah apa arti Bima-Drona, yaitu Bima sebagai penerima pengetahuan spiritual tentang kesejahteraan dan Drona sebagai gurunya? Dengan analisis mitologi struktural dapat disimpulkan bahwa Bima-Drona adalah identifikasi Vãyu-Vãta sebagai transformasi prãna dalam upacara ritual Syiwapuja.

Page 1 of 1 | Total Record : 5