cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp" : 12 Documents clear
"Disorder of Sex Development" : Problem yang Dihadapi Di Indonesia Asri Purwanti
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.987 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.238

Abstract

-
Hubungan Lama Sakit dengan Tipe Pneumatisasi Mastoid Penderita Otitis Media Supurative Kronik Atik Masdarinah
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.939 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.239

Abstract

Latar belakang : Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu proses infiltrasi epitel perkembangan tulang dan membentuk rongga epitel berlapis sel-sel udara. Perkembangan tipe pneumatisasi mastoid berlainan pada setiap individu dan dipengaruhi beberapa faktor antara lain usia, genetik dan lingkungan. Sejumlah penelitian telah melaporkan berbagai tipe pneumatisasi menggunakan Computed Tomography (CT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama sakit penderita  OMSK dengan tipe pneumatisasi mastoid berdasarkan klasifikasi Han. Metode : Studi penelitian ini merupakan studi penelitian deskriptif retrospektif terhadap penderita Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) melalui data rekam medik dan gambaran hasil CT Scan mastoid di RSUP Dr. Kariadi Semarang, periode 01 Januari – 31 Desember 2014. Hasil : Didapatkan 34 penderita. OMSK kanan sebanyak 14 (41,2%)  penderita dan OMSK kiri sebanyak  20 (58,8%) penderita. Jenis kelamin penderita laki-laki 20 (58,8%) dan perempuan 14 (41,2%).  Rata-rata usia OMSK adalah 29 tahun dengan usia terendah adalah 4 tahun dan tertinggi adalah  69 tahun. Rata-rata lama sakit adalah 8 tahun. Keseluruhan tipe pneumatisasi yang terbanyak ditemukan pada penderita OMSK telinga kanan dan kiri secara berurutan adalah hipo pneumatisasi, diikuti moderate pneumatisasi, good pneumatisasi dan hiper pneumatisasi. Hasil analisis didapatkan p=0,189 pada OMSK telinga kanan dan p=0,490 pada OMSK telinga kiri. Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik lama sakit OMSK terhadap tipe pneumatisasi
Kejadian Otitis Media Supuratif Kronik dengan Kolesteatoma di RSUP Dr. Kariadi Semarang Shinta Aguslia
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.654 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.240

Abstract

Latar belakang : Otitis media supuratif kronik (OMSK) dengan kolesteatoma adalah radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani ditandai sekret kental berbau lebih dari 2 bulan terus menerus atau hilang timbul serta terdapat suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega berwarna putih terdiri dari lapisan epitel skuamosa yang bersifat osteolitik dapat mendestruksi tulang, jaringan lunak dan mengancam terjadinya komplikasi yang berat. Kejadian OMSK Di RSUP Dr. Kariadi Semarang didapatkan 21% dari semua kunjungan di klinik otologi selama tahun 2010 namun kejadian OMSK dengan kolesteatoma di RSUP Dr. Kariadi Semarang belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian OMSK dengan kolesteatoma tahun 2011-2013 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode : Studi deskriptif retrospektif di bagian rawat inap THT-KL RSUP Dr. Kariadi Semarang berdasarkan rekam medis 91 penderita OMSK dengan kolesteatoma yang dilakukan pembedahan dari Januari 2011 sampai Desember 2013. Hasil : Jumlah kasus OMSK 190 kasus, terdiri OMSK tipe benigna 89 kasus, OMSK tipe maligna (kolesteatoma) 91 kasus, rekuren 5 kasus, OMSK dupleks 10 kasus, rentang usia terbanyak 21-40 tahun adalah 57,2%. OMSK dengan komplikasi 26 (28,6%) dari 91 kasus. Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah mastoidektomi radikal dengan penemuan intraoperatif terbanyak tersisa basis stapes dan menunjukkan perluasan kolesteatoma 10% lebih luas dari perluasan kolesteatoma yang ditunjukkan hasil MSCT Scan mastoid non kontras. Simpulan : Terdapat penurunan jumlah kasus OMSK dengan kolesteatoma dari tahun 2011 hingga 2013. Intraoperatif ditemukan kolesteatoma yang mendestruksi jaringan serta tulang lebih luas dari gambaran hasil MSCT Scan dan tidak terdapat OMSK rekuren setelah tindakan mastoidektomi radikal
Hubungan Antropometri Sefalofasial dengan Jenis Kelamin dan Tinggi Badan Raja Iswara
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.906 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.241

Abstract

Latar belakang : Pada jenazah yang tidak utuh (termutilasi), pengukuran bagian tertentu dari tubuh dapat dilakukan dalam identifikasi jenazah tersebut. Antropometri sefalofasial merupakan salah satu parameter penting yang dapat digunakan dalam identifikasi jenis kelamin, tinggi badan, maupun ras. Di Indonesia belum ada penelitian terkait hubungan antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin dan tinggi badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin dan tinggi badan. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini terdiri adalah mahasiswa kepaniteraan klinik di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari-Juli 2016, terdiri atas 200 orang laki-laki dan 200 orang perempuan yang memenuhi kriteria inklusi yaitu usia 21-26 tahun, ras mongoloid, dan tidak masuk dalam kriteria eksklusi. Antropometeri sefalofasial meliputi pengukuran panjang kepala, lebar kepala, lingkar kepala horizontal, diameter bigonial dan panjang wajah. Uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov yang dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman untuk variabel jenis kelamin dan uji korelasi Pearson untuk variabel tinggi badan. Selanjutnya dilakuan uji regresi linear untuk menentukan rumus yang dapat digunakan dalam menentukan tinggi badan. Data dianalisis menggunakan SPSS 22. Hasil : Uji korelasi Spearman pada semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin adalah signifikan dengan nilai p < 0,05. Uji korelasi Pearson pada semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan tinggi badan adalah signifikan dengan nilai p < 0.05. Simpulan : Terdapat hubungan signifikan antara semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin. Terdapat hubungan signifikan antara semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan tinggi badan pada kedua jenis kelamin
Perbandingan Tinggi Badan dan Rentang Tangan Pada Anak Balita Usia 1-5 Tahun Ong Sugianto
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.068 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.242

Abstract

Latar belakang : Pengukuran tinggi badan (TB) sangat penting pada anak balita.Adanya deformitas atau kelainan tertentu pada balita dapat menyebabkan anak tersebut tidak dapat diukur tinggi badannya. Rentang tangan (RT) adalah salah satu parameter antropometri yang dapat menggantikan pengukuran tinggi badan. Perbandingan tinggi badan dan rentang tangan bervariasi menurut ras, usia, dan jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara tinggi badan dan rentang tangan pada anak balita. Metode : Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan observasional analitik.Penelitian dilakukan pada Maret-Mei 2015. Subyek penelitian adalah anak balita usia 1-5 tahun. Data tinggi badan dan rentang tangan didapatkan dengan mengukur subyek secara langsung. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi linier. Hasil : Subyek penelitian berjumlah 197 anak balita usia 1-5 tahun. Hasil uji regresi linier menunjukkan perbandingan untuk balita laki-laki usia 13-24 bulan adalah TB=27,793+0,685RT, usia 25-36 bulan adalah TB=21,364+0,771RT, usia 37-48 bulan adalah TB=32,157+0,686RT, usia 49-60 bulan adalah TB=54,681+0,461RT. Perbandingan untuk balita perempuan usia 13-24 bulan adalah TB=49,398+0,367RT, usia 25-36 bulan adalah TB=20,185+0,796RT, usia 37-48 bulan adalah TB=32+0,674RT, dan usia 49-60 bulan adalah TB=13,861+0,884RT. Simpulan : Rerata tinggi badan balita laki-laki yang berusia 1-5 tahun adalah 91,4±10 cm, sedangkan rerata tinggi badan balita perempuan yang berusia 1-5 tahun adalah 89,2±10,4 cm. Rerata rentang tangan balita laki-laki yang berusia 1-5 tahun adalah 89,6±11,6 cm, sedangkan rerata rentang tangan balita perempuan yang berusia 1-5 tahun adalah 87,2±11,2 cm. Rumus penghitungan tinggi badan berdasarkan rentang tangan menurut usia lebih menggambarkan tinggi badan sesungguhnya dibandingkan perbandingan usia 1-5 tahun secara umum
Perbandingan Tinggi Badan dan Rentang Tangan Pada Anak Usia Sekolah Dasar Jessica Wongsodjaja
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.911 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.243

Abstract

Latar belakang : Rentang tangan (RT) adalah parameter tubuh terbaik yang dapat dijadikan sebagai prediktor tinggi badan (TB), khususnya bagi anak dengan disabilitas atau deformitas ekstremitas bawah dan anak-anak yang dirawat di rumah sakit. Usia, jenis kelamin, dan suku bangsa adalah faktor yang berpengaruh terhadap tinggi badan, sehingga diperlukan suatu rumus perhitungan tinggi badan berdasarkan rentang tangan khusus untuk penduduk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tinggi badan dan rentang tangan anak usia sekolah dasar. Metode : Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan observasional analitik. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2015. Besar subyek minimal adalah 29 subyek dan total responden penelitian adalah 335 responden. Pengukuran tinggi badan dan rentang tangan dilakukan dengan menggunakan stadiometer dan penggaris panjang yang terkalibrasi. Uji statistik menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman, kemudian dilakukan analisis regresi linier untuk mengetahui rumus perhitungan tinggi badan. Hasil : Persamaan umum estimasi tinggi badan laki-laki adalah 2TB = 15,615 + 0,879 RT (r = 0,956, R = 91,7%) dan perempuan 2adalah TB = 17,108 + 0,869 RT (r = 0,972, R = 94,9%). Rumus khusus estimasi tinggi badan untuk anak laki-laki usia 7 tahun adalah TB = 30,547 + 0,750 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 29,476 + 0,764 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 8 tahun adalah TB = 24,119 + 0,801 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 28,660 + 0,771 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 9 tahun adalah TB = 26,190 + 0,801 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 16,356 + 0,869 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 10 tahun adalah TB = 12,218 + 0,906 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 11,347 + 0,918 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 11 tahun adalah TB = 26,117 + 0,801 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 22,269 + 0,833 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki 12 tahun adalah TB = 31,881 + 0,773 RT, sedangkan anak perempuan TB = 50,476 + 0,648 RT. Simpulan : Rentang tangan berkorelasi sangat kuat dengan tinggi badan, sehingga estimasi tinggi badan anak dapat dihitung dengan menggunakan rumus khusus per usia dan jenis kelamin yang lebih bermakna secara klinis
Correlation between serum level of cortisol, interleukin-10 and degree of adhesion after laparotomy and laparoscopy in rabbit with abrasion model Ridwan Mataram
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.946 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.244

Abstract

Background : Intraperitoneal adhesions after abdominal and pelvic surgery procedures occurred almost in 95% of cases. This research will prove the relationship between serum levels of cortisol in response to stress with increased levels of IL-10 and the degree of adhesion after laparotomy and laparoscopy Methods : This study is an experimental laboratory, with a posttest design approach using 12 New Zealand rabbits after adaptation for 1 week were divided into 2 groups. The first group ( K1) was performed laparotomy with abration the ilium , group-2 ( K2) was performed laparoscopy with abration the ilium too. All groups taken its blood sample before and 6 hours after operation to be assessed levels of cortisol with ELISA kit. 6 days after operation (day of 7th) , all group determinate and performed laparotomy, than assessed the degree of adhesion and the level of IL-10 from its peritoneal fluid. Statistical tests were used to assess defferences in the level of cortisol, IL-10 and degree do adhesion between laparotomy and laparoscopy. Data analysis was done using SPSS. Results : There was significant difference in the level of cortisol, IL-10 and degree of adhesion among groups ( p = 0.021, p < 0.001, p = 0.002 ). There were negatif correlation ( high ) between the level of blood cortisol with IL-10 ( r = - 0.805, p = 0.0 ) and significant negative correlation between the level of IL-10 with the degree of adhesion ( r = -0,833, p = 0.001 ). Conclusion : Laparoscopic surgery can minimize the effects of systemic stress and immune response, so as to lower the incidence of adhesion
Asupan Gizi Makro dan Mikro Sebagai Faktor Risiko Stunting Anak Usia 2-5 Tahun di Semarang Salsa Bening
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.64 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.245

Abstract

Latar belakang : Stunting merupakan perawakan pendek yang disebabkan malnutrisi yang berlangsung kronis. Prevalensi stunting balita di Indonesia sebesar 37,2%, dan di Jawa Tengah mencapai 33,9%. Salah satu faktor risiko yang berpengaruh secara langsung terhadap kejadian stunting adalah asupan zat gizi. nelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecukupan zat gizi makro dan mikro yang rendah sebagai faktor risiko kejadian stunting anak usia 2-5 tahun di Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Metode : Penelitian ini merupakan studi case-control yang dilakukan di Kecamatan Genuk, Kota Semarang dengan jumlah sampel 71 kasus (stunting) dan 71 kontrol (tidak stunting). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chisquare dan multivariat menggunakan metode regresi logistik. Hasil : Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 2–5 tahun adalah tingkat kecukupan vitamin C yang kurang (p=0,004; OR=2,97; CI=1,406,31). Faktor yang tidak terbukti mempengaruhi kejadian stunting adalah tingkat kecukupan energi, protein, vitamin A dan kalsium. Simpulan : Tingkat kecukupan vitamin C yang rendah merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 2-5 tahun di Kecamatan Genuk, Kota Semarang
Efek Lumatan Daun Pepaya (Carica Papaya L.) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar Derajat II Dangkal Pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) Galur Wistar Putri Setyani
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.952 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.246

Abstract

Luka bakar masih menjadi masalah kesehatan utama di negara berkembang. Luka bakar derajat II adalah tipe luka bakar yang biasa ditemukan pada kejadian luka bakar dirumah. Penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menimbulkan efek buruk pada penyembuhan. Saat ini perawatan luka bakar secara umum adalah menggunakan Silver Sulfadiazine 1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek lumatan daun pepaya dalam mempercepat penyembuhan luka bakar derajat II. Penelitian ini merupakan penelitian murni (true experimental) dengan rancangan pretest-posttest only control group design. Variabel yang diukur adalah kecepatan penyembuhan luka yang didapatkan dengan mengukur prosentase kontraksi luka. Sampel terdiri dari 2 kelompok masing-masing 9 ekor tikus, yaitu kelompok lumatan daun pepaya (kelompok 1) dan kelompok Silver Sulfadiazine 1% (kelompok 2). Hasil penelitian menunjukan ratarata prosentasi kontraksi luka pada kelompok 1 sebesar 92,7% dan rata-rata prsentasi kontraksi luka pada kelompok 2 sebesar 89,7%. Uji statistik T-Test 2 Sampel menunjukan kedua kelompok memiliki signifikansi sebesar 0,002 < α (0,05). Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa lumatan daun pepaya mempunyai efek dalam mempercepat penyembuhan luka bakar derajat II.
Pengaruh Hipnotherapi Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri dan Kecemasan Pada Pasien Kemoterapi di RS Dr. Kariadi Anna Laely
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.714 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.247

Abstract

Latar belakang : Salah satu standar pelayanan yang disebutkan dalam akreditasi rumah sakit adalah bahwa rumah sakit harus mampu memberikan pelayanan dalam pengelolaan rasa nyeri secara efektif terhadap pasien. Pengelolaan rasa nyeri pasien merupakan tanggung jawab tim yang memberikan perawatan terhadap pasien, termasuk di dalamnya adalah perawat. Kanker merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan rasa nyeri dan kecemasan pasien. Berdasarkan studi awal pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan mengeluhkan rasa nyeri dan juga timbul gangguan psikologis berupa kecemasan. Hipnoterapi merupakan metode terapi non farmakologis untuk mengurangi nyeri dan kecemasan pasien yang sedang menjalani kemoterapi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan tingkat nyeri dan kecemasan pada pasien kemoterapi di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode : Penelitian trial dengan  pre-test and post-test design. Pada penelitian ini trial atau intervensi hipnoterapi hanya dilakukan satu kali terhadap subyek. Sampel yang digunakan sejumlah 30 responden yang sedang menjalani kemoterapi. Sampel diambil secara purposive sampling. Instrumen untuk mengukur tingkat nyeri adalah VAS (Visual Analog Scale) dan hypnosis dilakukan dengan memberikan music untuk relaksasi dan pemberian sugesti pada pasien. Hasil : menunjukkan tingkat nyeri dan kecemasan pasien yang sedang menjalani kemoterapi lebih cenderung pada tingkat sedang dan berat. Terjadi penurunan yang signifikan terhadap tingkat nyeri dan kecemasan pasien kemoterapi setelah dilakukannya hipnoterapi. Skala rata-rata tingkat nyeri sebelum diberikan hipnoterapi yaitu 5,1 dengan skala nyeri terbesar pada angka 9, sesudah dilakukan hypnoterapi skala nyeri rata-rata menjadi 3,5 dengan skala terendah pada angka 1. Skala rata-rata tingkat kecemasan pasien kemoterapi sebelum diberikan hipnoterapi yaitu 61,67 dengan skala terbesar pada angka 90, sesudah dilakukan hypnoterapi skala tingkat kecemasan rata-rata 36,33 dengan skala penurunan sampai dengan angka 20. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon sign rank test menunjukkan ada pengaruh yang signifikan hypnoterapi terhadap penurunan tingkat nyeri (p value = 0.00) dan tingkat kecemasan (p value = 0.00). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan rumah sakit dapat menjadikan metode hipnoterapi sebagai salah satu panduan pelayanan untuk pengelolaan nyeri dan kecemasan pada pasien dan juga metode ini dapat dikembangkan sebagai salah satu standar operasional asuhan keperawatan paliatif care, sehingga bisa meningkatkan kualitas pelayanan.

Page 1 of 2 | Total Record : 12