cover
Contact Name
Ahmad Sulaiman
Contact Email
sulaiman_ahmad@umm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cognicia@umm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Cognicia
ISSN : 2746 8976     EISSN : 26858428     DOI : 10.22219
The scope and the focus of the journal is conceptual proposal and empirical studies in many aspects of cognitive psychology (motivation, cognition and metacognition) with the application in various field such Industrial and Organizational Psychology, Developmental Psychology, Educational Psychology, Spiritual Psychology and Social Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2013)" : 20 Documents clear
KECEMASAN DITINJAU DARI KEBUTUHAN DASAR YANG BELUM TERPENUHI ., Maisyarah
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1451

Abstract

Kecemasan merupakan suatu emosi yang paling sering di alami oleh manusia. Kecemasan dapat disebabkan banyak hal salah satunya adalah terpenuhi tidaknya kebutuhan dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi dan bagaimana kebutuhan tersebut dapat menyebabkan kecemasan.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data yaitu, wawancara dan observasi. Subjek dalam penelitian ini berjumlah lima orang, dengan kriteria memiliki tingkat kecemasan tinggi (dengan skor >20 berdasarkan kategori TMAS). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam diri setiap subjek masih terdapat kebutuhan-kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Terdapat persamaan pada setiap subjek yaitu kebutuhan dasar dari seluruh subjek yang belum terpenuhi adalah safety needs. Kecemasan yang terjadi akibat dari safety needs, karena adanya perasaan takut akan hukuman yang akan diperoleh dari sosok otoriter yang berada dilingkungan subjek, dan perasaan takut akibat ditinggal sendirian. Kegagalan akan pemenuhan safety needs pada masing-masing subjek berasal dari lingkungan terdekat subjek sejak kecil. Seperti orangtua, keluarga sekitar, guru serta teman-teman sepermainan.   Kata kunci: Kecemasan, Kebutuhan dasar   Anxiety represent the most frequently emotion experienced by human being. Anxiety  can be caused by many matter, on of causes its requirement well or no fulfilled of basic needs. Based on the problems, this research intention is to know any kind of basic needs  which not yet fulfilled and how the basic needs requirement can caused anxiety.This research use qualitative research method by using collecting data method which is, observation and interview. Subject in this research amount to five people, with criterion have high anxiety level ( with score > 20 based on TMAS category).Based on this research result, it can be concluded that inside every subject there are some basic needs requirement which not yet fufilled. There are similarity in each subject that basic needs requirement from entire subject which not yet fulfilled is safety needs. Anxiety that happened as the effect of unfulfilled  safety needs, caused by feeling in fear of punishment  to be obtained from authoritarian figure which reside in subject’s environment, and feeling fear effect remained alone. This Failure of accomplishment of safety needs at each subject sourced from the closest environment subject since childhood. Like parent, family, teacher and also playmates.   Keyword: Anxiety, Basic needs requirement
SELF ESTEEM ANTARA IBU RUMAH TANGGA YANG BEKERJA DENGAN YANG TIDAK BEKERJA Rizky Ananda, Marissa
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1442

Abstract

Self-esteem ibu rumah tangga yang bekerja dengan yang tidak bekerja adalah komponen evaluatif dari konsep diri yang terdiri dari evaluasi positif dan negatif tentang dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-esteem antara Ibu rumah tangga yang bekerja memiliki penghasilan sendiri serta dapat mengembangkan bakat yang ia miliki dengan ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu rumah tangga yang bekerja dan yang tidak bekerja di kota Balikpapan. Metode pengumpulan data menggunakan skala. Metode analisa data yang digunakan yaitu teknik t-test. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diketahui bahwa ada perbedaan self-esteem yang sangat signifikan (p=0,000) antara ibu rumah tangga yang bekerja dengan ibu rumah tangga yang tidak bekerja, yaitu ibu rumah tangga yang bekerja memiliki self-esteem lebih tinggi yang ditunjukkan oleh rata-rata (mean) sebesar (x = 118,66) daripada ibu rumah tangga yang tidak bekerja sebesar (x= 98,10).   Kata kunci: Self-esteem, Ibu rumah tangga yang bekerja dan yang tidak bekerja     Self-esteem housewife who works with housewife not going to work is the evaluative component of self-concept consisting of positive and negative evaluations of their self. The aimed of this study is to know  self esteem between Housewife who works have own income, can also develop the talent and the housewife who not going for work doesn’t have a good experience in working as a housewife This type of research is quantitative research. The population in this study were mothers who work and households who not going work in Balikpapan city. Methods of collecting the data is using the scale. Methods of data analysis used the t-test technique. Based on the results of the research have been implemented that, it is known that there are differences in self-esteem are highly significant (p = 0.000) among housewives who worked with housewife who not going for work, from that housewife who worked to have higher self-esteem it shown from the average (mean) for (x = 118.66) and than housewife who not going for work is (x = 98.10).   Keywords: Self-esteem, Working housewife, Housewife who not going for work
KONFLIK INTERPERSONAL KARYAWAN PT.PLN (PERSERO) RAYON RANTAU YANG DIPIMPIN OLEH MANAJER JUNIOR Rahayu, Sri
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1456

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian  ini berjumlah 5 orang yaitu 1 orang manajer dan 4 karyawan. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara semiterstruktur. Analisis data dilakukan  dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian menemukan bahwa dari 4 subjek penelitian, 2 orang subjek sedikit mempermasalahkan dipimpin oleh manajer yang berusia lebih muda karena manajer yang berusia muda cerdas dalam menganalisa pekerjaan serta mempunyai visi dan misi yang bagus untuk kemajuan perusahaan. Sedangkan 2 orang subjek lainnya mempermasalahkan dipimpin oleh manajer junior karena berusia muda dan pengalaman kerja masih kurang. Konflik interpersonal yang terjadi antara karyawan dan manajer junior disebabkan karena masalah pengalaman kerja, faktor persepsi mengenai perencanaan(plan) manajemen logistik dan faktor komunikasi mengenai komunikasi vertikal, yakni Komunikasi manajer kepada karyawan, dankomunikasi karyawan kepada manajer. Strategi manajemen konflik yang dilakukan dengan 2 cara, yaitu The Teddy Bear (Smoothing) konflik harus dihindari dan memilih sikap mengalah agar hubungan tidak menjadi rusak demi keharmonisan. Kata kunci: Konflik interpersonal, Manajemen konflik interpersonal,   Manajer junior   The research is a qualitative descriptive research. The subjects of the research are 5 people, which are 1 manager and 4 employees. Data collected by semi-structured interview. Data analyzed by data collection, data reduction, data presentation, and inference (verification). The result of the research showed that of 4 subjects, 2 are less problematic with the younger manager leadership on the reason that the younger manager have intelligence in job analysis and have a good vision and mission to improve the organization. 2 other subjects have a problem because the junior manager in their view too younger and have less work experience. Interpersonal conflict occurred between employee and junior manager caused the factors: work experience, perception on planning, logistic management, and vertical communication that is communication between the employees and the junior manager and vice versa. Conflict management strategy that is implemented are 2 kinds, The Teddy Bear (Smoothing) strategy in which conflict avoided by pretend to lose so the relation is not broken and harmony created. In this strategy, the employees obedient and do what the manager asks them to do. Keyword: Interpersonal conflict, Interpersonal conflict management, Junior manager
KEMATANGAN EMOSI DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA AKSELERASI TINGKAT SMP Susilowati, Endah
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1447

Abstract

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:IN;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> Saat ini beberapa sekolah menyelenggarakan dua program belajar yaitu program reguler dan akselerasi. Program akselerasi dikhususkan bagi siswa yang berbakat akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial pada siswa akselerasi di SMPN 1 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini diambil dari seluruh siswa akselerasi yang ada di SMPN 1 Malang yang berjumlah 46 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data adalah dengan menggunakan dua skala, yaitu skala kematangan emosi dan skala penyesuaian sosial. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi product moment. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial (r =0,794, p<0,01). Artinya bahwa apabila kematangan emosi siswa akselerasi tinggi biasanya akan di ikuti dengan penyesuaian sosial yang tinggi, begitu juga ]jm’’sebaliknya. Adapun besarnya sumbangan efektif kematangan emosi dengan penyesuaian sosial sebesar 63%, sedangkan sisanya 37% disebabkan oleh faktor lain.   Kata kunci: Kematangan emosi, Penyesuaian sosial, Akselerasi Recently, some school held two learning program, whcih is regular and acceleration. Acceleration is specifically directed for students with academic talent. According to previous research, it is said that talentful students who got in acceleration program received some bad social adjustment. Bad social adjustment is influenced by some factors, one of them is emotion maturity. So, this research aimed to find out relations between emotional maturity with social adjustment in acceleration students in SMPN 1 Junior High School of Malang. The research is quantitative correlational research. Research subject is taken from all acceleration students in SMPN 1 Junior High School of Malang who consisted of 46 students. Instrument used to take data is by using two scale, which is emotional and social adjustment. Data analysis technique in this research is supported by correlation product moment test. According to the research, it is found out there’s significant positive relations between emotional maturity with social adjustment (r =0,794, p<0,01). It means when acceleration class student’s emotional maturity is high, it would be followed with high social adjustment in the contrary. Effective contribution of emotional maturity with social adjustment is about 63% while rest of 37% caused by another factors.   Keywords: Emotional maturity, Social adjustment, Acceleration
KOMITMEN ORGANISASI DITINJAU DARI MASA KERJA KARYAWAN Indah Hadiyani, Martha
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1452

Abstract

Komitmen organisasi menjadi titik berat dalam perusahaan yang akan memutuskan pekerja tetap berada pada organisasi atau tidak. Masa kerja merupakan kondisi personal yang mempengaruhi komitmen organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komitmen organisasi ditinjau dari masa kerja karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Subyek penelitian adalah 90 karyawan Chevron Indonesia di Kota Balikpapan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala Komitmen Organisasi. Tehnik analisis data yang digunakan adalah teknik Chi Square. Berdasarkan analisa penelitian ini diperoleh hasil adanya perbedaan antara komitmen organisasi jika ditinjau dari masa kerja karyawan dengan masa kerja antara 0 hingga 6 tahun memiliki komitmen organisasi lemah. Karyawan dengan masa kerja antara 7 hingga 15 tahun memiliki komitmen organisasi yang sedang, sedangkan karyawan yang memiliki masa kerja  lebih dari 15 tahun memiliki komitmen organisasi yang kuat.   Kata Kunci : Komitmen organisasi, Masa Kerja     Organizational commitment become emphasis in company to decide worker constantly lay on organization or not. Period of work is represent condition of personal, which influencing organizational commitment. This research aimed to know difference of commitment and also to manage labor so that owning certainty of organizational commitment.This research represent quantitative research . Research conducted to 90 employees of Chevron Indonesia in town of Balikpapan. Techniques of intake of sample used are purposive sampling. Data collecting instrument that used is scale of organizational commitment. Techniques of data analysis that used are techniques of Chi Square.Pursuant to this research analysis is result obtained of existence of difference between organizational commitment if evaluated from period of work employees with period of work between 0 till 6 year have organizational commitment is weaken. Employees with period of work between 7 till 15 year have organizational commitment, which is moderate, employees owning period of work more than 15 year have organizational commitment is strength.   Keywords : Organizational commitment, Period of Work
PENGUNGKAPAN DIRI ANTARA REMAJA JAWA DAN MADURA Nabilah Masturah, Alifah
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1443

Abstract

Kebudayaan yang merupakan produk dari budaya memiliki pengaruh dalam pengungkapan diri seseorang. Tiap-tiap masyarakat dengan corak budaya masing-masing memberikan aturan tertentu atas individu pantas atau tidak pantas mengungkapkan diri. Suku Jawa dan Madura memiliki nilai-nilai budaya yang digunakan sebagai pedoman menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan pengungkapan diri antara remaja Jawa dan Madura. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sampel adalah mahasiswa yang berusia antara 17-22 tahun berjumlah 50 orang suku Jawa dan 50 orang suku Madura. Pengambilan sampel dengan tehnik accidental sampling (non probability sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala Thurstone, yaitu skala pengungkapan diri. Adapun metode analisa data yang digunakan adalah t-test. Hasil penelitiaan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (t= -10.966; p= 0.000) pengungkapan diri antara remaja Jawa dan Madura. Remaja Madura memiliki tingkat pengungkapan diri yang lebih tinggi (3.1394) dibandingkan dengan remaja Jawa (2.7466).   Kata kunci: Pengungkapan diri, Remaja Jawa dan Madura.   Culture is a product have an influence in the disclosure of a person. Each community with cultural patterns each providing specific rules for individual worth or not worth expressing themselves. The Javanese and Madura who have cultural values ​​that are used as a guide through daily life. The purpose of this study was to determine the differences between adolescent self-disclosure of Java and Madura. The study is a quantitative research. Sample of this study were students Muhammadiyah University of Malang, aged between 17-22 account 50 Javanese and Madura people. Accidental sampling using sampling techniques (non-probability sampling).  Data collection methods used are the Thurstone scale, the scale of self-disclosure. The data analysis method used is the t-test. Based on theoretical studies and research conducted by the researchers that the hypothesis which states there is a difference between adolescent self-disclosure of Java and Madura received. From the results of the study, data showed that there are significant differences (t = -10 966, p = 0.000) between adolescent self-disclosure of Java and Madura.Madura adolescents have high levels of self-disclosure is higher (3.1394) compared with adolescents Java (2.7466).   Keyword : Self disclosure, Adolescence Java and Madura
MEKANISME PERTAHANAN EGO PADA ANAK JALANAN Nurmurey Idzha, Gely
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1448

Abstract

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:IN;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> Menjalani kehidupan sebagai anak jalananan tidak lepas dari berbagai macam permasalahan, yang menyebabkan mereka mengalami kecemasan. Maka, kecenderungan untuk menerapkan mekanisme pertahanan ego guna meredakan kecemasan tersebut pun muncul. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sampel 2 pengamen jalanan di traffict light. Penggalian data digunakan wawancara semi terstruktur dan observasi partisipatif pasif. Sebagai uji keabsahan data dilakukan triangulasi sumber, yaitu kepada teman terdekat subjek. Mekanisme pertahanan ego yang ditampilkan oleh kedua subjek antara lain: represi, avoidance, pengalihan, dan sublimasi. Mekanisme pertahanan ego represi sebagai awal dan pembentuk mekanisme pertahanan ego lainnya, sehingga tampak sering muncul pada kedua subjek. Dampak negatif  mendominasi, sehingga hal tersebut mengarah pada perilaku neurosis. Hal ini tampak pada salah satu subjek yang minum minuman beralkohol, bersikap agresi, dan menarik diri dari lingkungan (withdrawl). Pada subjek lainnya, subjek juga menarik diri dari lingkungan (withdrawl) dan bersikap agresi. Sedangkan dampak positifnya, yaitu kedua subjek lebih memilih menjalani pekerjaan sebagai pengamen daripada menjadi pencopet, serta tetap fokus mengamen tanpa harus berkelahi dengan pihak-pihak yang mengancamnya ketika di jalanan.   Kata kunci: Mekanisme pertahanan ego, Anak jalanan Live the life as street  children can not be separated from various kinds of problems, so it is often causing they had anxiety. Then, the tendency to apply a ego defense mechanism in order to relieve anxiety of the ego that has emerged.This study aimed to know what ego defense mechanisms which appeared on street children. This research is a qualitative descriptive research with sample used is 2 street busker on the traffic light. For data mining used semi structured interviews and participatory observation passively. As a test of the validity of the data to check the correctness of data triangulation source, that is done to the nearest friend of the subject. Ego defense mechanism shown by both subject: repression, avoidance, diversion, and sublimation. Repression as the start and common ego defense mechanism other, so repression looked often appear on both subject. The negative impact is dominated, so it leads to neurosis behavior. It looks while one of subject drinks an alcohol beverages, be aggression, and draw away from the environment (withdrawl). The other subject also draw away from the environment (withdrawl) and be aggression. Meanwhile, positive impact over all that is both subject preferring undergo a job as a busker rather than becoming pickpocket as well as keep the focus busking without having to fight with those who threaten them when on the streets.   Keywords : Ego  defense  mechanism, Street  children
MENJANDA PASCA KEMATIAN PASANGAN HIDUP Zulfiana, Uun
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1438

Abstract

Kematian pasangan hidup menimbulkan banyak permasalahan seperti stigma negatif masyarakat tentang status janda, permasalahan ekonomi, seksual dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa seseorang memilih untuk menjanda pasca kematian pasangan hidup. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian berjumlah 3 orang wanita yang menjanda pasca kematian suami. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara semi terstuktur. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data yang ada, kemudian menyajikan data selanjutnya diambil kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab seseorang mempertahankan status janda dan tidak menikah lagi adalah penilaian yang sangat positif tentang suami yaitu persepsi bahwa suami tidak bisa digantikan, merasa khawatir akan beban ekonomi menjadi bertambah apabila menikah lagi, tidak ada dukungan dari keluarga. Selain itu, keinginan untuk berkonsentrasi pada keluarga juga menjadi penyebab seseorang menjanda pasca kematian pasangan hidupnya.   Kata kunci: Menjanda, Kematian pasangan hidup   Spouse's death raises many issues such associety's negative stigma of widowhood, economic problems, sexualand so on. This study aims to deter mine why a person chooses to widowhood after the death of a spouse. This study uses a descriptive qualitative research subjects amounted to 3 womans abandoned by her husband's death to the status of widows. Data is collected by semi-structured interview method. Data analysis done by reducing the existing data, then present the data taken further conclusions. These results indicate that the cause of a person to maintain the status widow and not remarried is a very positive assessment of the husband is the perception that the husband can not be replaced, worried about the economic burden to be increased if married again, no support from family. In addition,the desire to concentrateon the family also becamea widow after the death of a person causes his life partner.   Keywords: Widowed, The death of spouse
FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI LESBIAN DAN KONDISI PSIKOLOGISNYA ., Nurkholis
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1453

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan 1 subjek . Metode pengumpulan data menggunakan wawancara. Analisa data yang digunakan adalah analisa data kualitatif, kemudian uji keabsahan datanya menggunakan teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber yaitu teman dekat subjek. Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Faktor internal meliputi : (a) Persepsi subjek, dimana subjek berfikir tidak akan hamil jika berpacaran dengan sesama perempuan, (b) Dorongan-dorongan atau kecendrungan penyuka sesama jenis yang sudah ada dalam diri subjek, (c) Adanya kontrol diri yang lemah, dimana subjek selalu terpengaruh keinginan-keinginan (ego) nya sendiri. (2) Faktor eksternal yang meliputi : (a) Adanya proses modeling dari perempuan yang berperilaku dan berpenampilan maskulin, (b) Adanya pengalaman buruk yang dialami subjek, yaitu ejekan dari teman-teman subjek sewaktu SMA, (c) Sikap ayah yang terkesan membiarkan perilaku subjek, walaupun sebenarnya ayah subjek tahu tentang perilakunya tersebut (Reinforcement positif), (d) Adanya pengalaman yang kurang menyenangkan terhadap lawan jenis  (e) Adanya dukungan dari lingkungan sosial (Reinforcement positif), yaitu subjek pernah ikut dalam suatu oeganisasi atau komunitas lesbian.   Kata kunci: Faktor-faktor psikologis, Lesbian.   This research is qualitatif descriptive study, with 1 subjects who has sexual deviation “lesbian”. Data collection methods used were interviews. Analysis of the data used is the analysis of qualitatif data, and then test the validity of the data using triangulation techniques, namely the source of a close friend of the subject.The results showed that the factors underlying a lesbian that internal factors which include (1) The perception of the subject : (a) The subject is thinking will not get pregnant if she is dating other women, (b) Impulses or tendencies sex enthusiasts are already present in thesubject, (c) The existence of a weak self –control, which the subject is always affected by her own desires. (2) External factors which include : (a) The process of modeling the behavior of women and masculine look, (b) The existence of bad experiences suffered by the subject is in the form of ridicule from her friends during senior high school, (c) Her father attitude that seemed to let the behavior of subjects despite the fact that the subject’s father know about lesbian behavior (positive reinforcement), (d) The existence of her an unpleasant experience with the opposite sex, (e) The support of the social environment (positive reinforcement) that is the subject of ever joining a community organization or a lesbian.   Keywords: Psychological factors, Lesbian.
TINGKAT PRODUKTIVITAS KERJA WANITA PENGGILING ROKOK DITINJAU DARI KONFLIK PERAN GANDA Triastutik, Anis
Cognicia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i1.1444

Abstract

Konflik peran ganda yang dimiliki oleh setiap orang pasti berbeda.Perbedaan tersebut juga berpengaruh pada tingkat produktivitas kerja yang dimiliki oleh setiap wanita tidak terkecuali pada wanita penggiling rokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat produktivitas kerja wanita penggiling rokok ditinjau dari konflik peran ganda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengambilan data menggunakan skala sikap kepada 50 responden.yang dipilih dengan menggunakan teknik sampel Insidental dari karyawan penggiling rokok di wilayah PT. Gudang Garam. Analisa data menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan, hasil t = 3,852 dengan taraf signifikansi 0,000 (p < 0,01). Dari hasil penelitian juga diperoleh  rata-rata atau mean ( ) produktivitas kerja pada kategori konflik peran ganda rendah yaitu sebesar 36420,27 yang lebih tinggi daripada rata-rata atau mean ( ) produktivitas kerja pada kategori konflik peran ganda tinggi yaitu sebesar 28043,14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan terhadap tingkat produktivitas kerja wanita penggiling rokok ditinjau dari  konflik peran ganda.   Kata Kunci: Produktivitas kerja, Konflik peran ganda   Conflict of dual roles held by each person is different. These differences also influence the level of labor productivity of every woman except womens’s cigarette rollers. Based on these problems, researchers focused research on women's labor productivity level differences in tobacco grinder dual role in terms of conflict.This study uses a quantitative approach to data retrieval using a scale of attitudes to the 50 respondents, respondents were selected using incidental sampling technique of grinding employee smoking in the PT. Gudang Garam. Researchers to process data using a data analysis technique independent sample t-test.The results showed, the results of t = 3.852 with a significance level of 0.000 (p <0.01). Research results were also obtained from the average or mean (x ̅) labor productivity in the low category of dual role conflicts in the amount of 36420.27 higher than the average or mean (x ̅) labor productivity in the dual role of high-conflict category that is equal to 28043.14. Thus, the results showed that there is a very significant effect on the level of labor productivity in terms of women's tobacco grinder dual role conflict.   Keywords: Labor productivity, Conflict of dual roles

Page 1 of 2 | Total Record : 20