cover
Contact Name
Jurnal Jalabahasa
Contact Email
jalabahasa.bbjt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
emmamaemunah69@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jalabahasa: Jurnal Ilmiah Kebahasaan
ISSN : 18584969     EISSN : 26156032     DOI : -
Core Subject : Education,
JALABAHASA adalah jurnal yang menjadi media publikasi hasil-hasil penelitian bidang bahasa, penerjemahan, dan pengajaran bahasa yang bukan penelitian tindakan kelas (non-PTK). JALABAHASA terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Mei dan November. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bebestari.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA" : 9 Documents clear
KOHESI WACANA BERITA OLAHRAGA PADA SURAT KABAR SOLOPOS EDISI OKTOBER 2019 (COHESION OF DISCOURSE OF SOLOPOS SPORTS NEWS IN OCTOBER 2019 EDITION) Permatasari, Nur Endah; Jannah, Marfuah Nur; Febriana, Bunga
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.442

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kohesi gramatikal dan kohesi leksikal yang ditemukan dalam berita olahraga surat kabar Solopos edisi Oktober 2019. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diambil dari berita olahraga pada surat kabar Solopos edisi Oktober 2019. Sumber data diambil secara acak. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Hasil penelitian ini adalah kohesi gramatikal terbagi menjadi (1) referensi/pengacuan, (2) substitusi/penyulihan, (3) elipsis/pelesapan, dan (4) konjungsi/perangkaian. Adapun kohesi leksikal terbagi menjadi (1) repetisi/pengulangan, (2) sinonimi, (3) antonimi, (4) hiponimi, (5) kolokasi, dan (6) ekuivalen. This research aims to describe grammatical and lexical cohesion of Solopos sport news in October 2019. This is a descriptive qualitative research which data were taken from Solopos sports news in October 2019. Data sources are taken randomly. Method of collecting data using the method read and listen, as for techniques using note technique. The results of this study are grammatical cohesion divided into (1) reference referential, (2) the substitution/removal, (3) ellipsis/despair, (4) conjunctions/framing. Then the lexical cohesion is divided into (1) reps/repetitions, (2) synonymy, (3) antonymy, (4) hiponymy, (5) collocations, and (6) equivalents.
KRITIK DALAM UNGKAPAN BAHASA JAWA: KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF (CRITICISM IN JAVANESE IDIOMS: COGNITIVE SEMANTIC ANALYSIS) Wahyuni, Tri
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.453

Abstract

Indonesia sangat kaya akan ragam budaya dan bahasa. Keanekaragaman tersebut terejawantah dalam ungkapan-ungkapan khas, seperti pantun atau peribahasa, yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat penuturnya. Budaya Jawa merupakan salah satu budaya besar yang bertahan hingga kini. Tulisan ini mengetengahkan kritik dalam ungkapan Jawa melalui kajian semantik kognitif yang bertujuan untuk mendeskripsikan ungkapan-ungkapan bahasa Jawa yang mengandung makna kritikan dan menguraikan makna filosofi dalam ungkapan-ungkapan tersebut. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan ancangan semantik kognitif. Metode yang digunakan adalah simak, agih, padan, dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan teknik sadap dan perluas. Dari hasil analisis, terdapat 24 ungkapan bahasa Jawa yang mengandung kritik dan memunculkan makna personifikasi, yakni perpaduan konsep yang sama antara sifat binatang atau tokoh manusia dan sikap serta perilaku manusia. Kritik yang terdapat dalam ungkapan-ungkapan Jawa tersebut digunakan sebagai media kontrol sosial. Indonesia is very rich in diversity of cultures and languages. Those diversity is manifested in specific expressions, such as poems or proverbs, that reflect the local wisdom of the speaker community. Javanese culture known as a great culture that survives until today. This paper explores criticism in Javanese expressions in a form of cognitive semantic study. The aim of this paper is describing Javanese expressions that contain critical meanings and describing philosophical meanings in those expressions. This qualitative descriptive study used cognitive semantic design. The methods used were simak, agih, padan, and in-depth interview with tapping and expanding techniques. The analysis founded 24 Javanese expressions that contain criticism and give rise to the personification meaning, namely the combination of the same concepts between the nature of animals or human figures with human attitudes and behavior. Criticism in those Javanese idioms are used as a form of social control.
KASUS PEMBUBARAN UPACARA ODALAN DI BANTUL YOGYAKARTA: ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN CNNINDONESIA.COM DAN SOLOPOS.COM (THE CASE OF ODALAN DISSOLUTION CEREMONY IN BANTUL YOGYAKARTA: CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS IN CNNINDONESIA.COM AND SOLOPOS.COM NEWS) Musrichah, Anggun Putri Aminatul
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.457

Abstract

Berbagai media lokal maupun media nasional memberitakan kasus pembubaran upacara odalan di Bantul Yogyakarta dengan berbagai bias. Penelitian ini menganalisis wacana yang diproduksi oleh media nasional CNNIndonesia.com dan media lokal Solopos.com guna mengungkapkan kecenderungan kedua media tersebut dalam memberitakan kasus pembubaran upacara odalan. Teori yang digunakan adalah tiga dimensi analisis wacana kritis Norman Fairlough, yaitu dimensi tekstual, praktik wacana, dan sosiokultural dengan tiga tahapan pendekatan, yaitu deskripsi, eksplanasi, dan interpretasi. Dalam tahap dimensi teks, peranti teks yang dianalisis adalah judul, struktur gramatika, dan penggunaan konjungsi. Dimensi kedua, peneliti menganalisis interdiskursivitas dan intertekstualitas untuk menjelaskan bagaimana media mengonstruksi teks berita. Pada dimensi ketiga peneliti menjelaskan praktik sosiokultural dengan analisis kuasa dan ideologi. Hasil penelitian ini adalah CNNIndonesia.com berpihak pada kelompok penyelenggara upacara odalan, sebaliknya Solopos.com berpihak pada kelompok warga yang menolak. Media menggunakan aktor terkait sebagai kuasa atas ideologi masing-masing pihak. The various local media and national media report about a case of the dissolution of the odalan ceremony in Bantul Yogyakarta with a different bias. This study analyzes the discourse that was produced by CNNindonesia and Solopos.com in order to reveal how the national media trends CNNIndonesia.com and local media Solopos.com in reporting the odalan ceremony case. The theory used is the three dimentions of Norman Faircough?s critical discourse analysis, namely the textual dimension, discourse practice, and the sociocultural with three stages approach: description, explanation, and interpretation. In the text dimension stage, the text tools analyzed are the title, gramatical structure of the contents of the text, and the use of conjunctions. The second dimension, the researcher analyzes the interdiscursivity and intextuality sections to explain how the media construct the news text. In the third part, the researcher explains sociocultural practices by analyzing power and ideology. The results are CNNIndonesia.com taking sides with the odalan ceremony group and vice versa Solopos.com taking sides with residents who refuse. The media uses related actors as power over ideology of each party.
HALAMAN DEPAN (PREFACE) BBJT, BBJT
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.629

Abstract

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM STUDI LINGUISTIK PRAGMATIK (CONVERSATIONAL IMPLICATURE IN PRAGMATIC LINGUISTIC STUDIES) Saifudin, Akhmad
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.423

Abstract

 Tulisan ini membahas implikatur percakapan, yakni sebuah studi dalam ilmu linguistik pragmatik yang mengkaji maksud penutur dalam percakapan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan apa itu implikatur percakapan, bagaimana mengidentifikasi dan memaknai implikatur, serta mengapa penutur menggunakan implikatur dalam tuturannya. Untuk mengkaji permasalahan digunakan teori Grice tentang prinsip kerja sama (PK), maksim percakapan (MP), dan implikatur percakapan. Data percakapan diperoleh dari observasi percakapan natural antara penulis dan mahasiswa, serta percakapan di antara mahasiswa yang terjadi di lingkungan kampus. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada dasarnya dalam setiap percakapan digunakan implikatur. Implikatur digunakan bukan karena tidak ingin bekerja sama dalam percakapan, tetapi ada alasan yang lebih diprioritaskan dan alasan tersebut tidak dapat mematuhi semua maksim dalam MP. Implikatur percakapan digunakan untuk tujuan efisiensi verbal, pengalihan tanpa berbohong, kesopanan, dan tujuan estetika, serta ironi. This paper discusses the conversational implicature, which is a study in pragmatic linguistics that examines the intent of speakers in conversation. The purpose of this paper is to describe what the conversational implicature is, how to identify and interpret the implicature, and why do speakers want to engage in implicature. To study the problem Grice's theory of the cooperative principle, maxims of conversation, and the conversational implicature are used. Conversation data is obtained from observations of natural conversations between writers and students, as well as conversations between students that occur on campus. The results of the analysis show that basically in every conversation the implicature is used; The implicature is used not because they do not want to cooperate in conversation, but because there are prioritized reasons and those reasons cannot comply with all maxims in maxims of conversation. The conversationalimplicature is used for the purpose of verbal efficiency, misleading to lying, politeness, and aesthetic purposes, as well as irony.
TINDAK TUTUR KESANTUNAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA (THE SPEECH ACT OF STUDENTS POLITENESS IN LEARNING BAHASA INDONESIA) Novianti, Rizky; Inderasari, Elen
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.378

Abstract

Artikel ini memaparkan kesantunan berbahasa dan faktor yang memengaruhi kesantunan berbahasa siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Sragen. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan prinsip kesantunan berbahasa dan faktor pendukung terjadinya kesantunan itu dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan pragmatik. Berdasarkan hasil analisis ditemukan prinsip kesantunan berbahasa yang meliputi maksim kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahhatian, kesepakatan, dan kesimpatian. Kemudian, faktor pendukung terjadinya kesantunan adalah faktor internal yang meliputi tempat dan suasana, peserta tutur, tujuan tutur, dan sarana tutur. This article describes the politeness of language and the factors that influence the politeness of students of Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Sragen. The purpose of this study is to describe the principle of politeness in language and the supporting factors of politeness in learning Indonesian. This qualitative descriptive study uses a pragmatic approach. Through this analysis found the principle of politeness of language which includes maxim of wisdom, generosity, praise, humility, agreement, and sympathy. Then, the supporting factors for politeness are internal factors which include place and atmosphere, speech participants, speech objectives, and speech facilities.
LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BUGIS DAN BAHASA TORAJA (LEXICOSTATISTIC OF BUGIS LANGUAGE AND TORAJA LANGUAGE) Mayangsari, Dewi
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.471

Abstract

Penelitian ini bertujuan menunjukkan waktu pisah dari bahasa proto antara bahasa Bugis dan bahasa Toraja. Pengumpulan data dilakukan dengan metode padan referensial. Analisis data dilakukan dengan metode leksikostatistik. Adapun metode penyajian hasil menggunakan metode informal dan formal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Bugis dan bahasa Toraja memiliki persentase 53% kekerabatan. Berdasarkan perhitungan leksikostatistik, dari 200 kosakata dasar Swadesh pada bahasa Bugis dan bahasa Toraja, ditemukan 101 kosakata kerabat dan 90 nonkerabat. Simpulan penelitian ini adalah bahwa bahasa Bugis dan bahasa Toraja berkerabat serta termasuk dalam tingkatan keluarga bahasa. This study aims to investigates the presumed time of language separation of proto languages, namely Bugis and Toraja languages. The methods applied in this study covers both data collecting method, namely a referential equivalent method, and data analysing method, namely a lexicostatistic method. Moreover, the results of the analysis are presented in both formal and informal methods. The study reveals that Bugis and Toraja languages have a 53% of kinship percentage. Based on lexicostatistic calculations, from 200 Swadesh basic vocabularies in Bugis and Toraja languages there were found 101 relatives and 90 non-relatives. The conclusions of this study are that Bugis and Toraja languages are related and belong to the language family level.
FITUR-FITUR TUTURAN EMMA WATSON DALAM WAWANCARA (THE FEATURES OF SPEECH OF EMMA WATSON IN INTERVIEW[S]) Ascalonicawati, Adinda Prasty
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.401

Abstract

Perempuan memiliki karakteristik tersendiri saat berbicara. Fitur-fitur tuturan perempuan memungkinkan mereka menggunakan bahasa dengan fungsi yang berbeda, yaitu melemahkan maupun menguatkan tuturan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fitur-fitur tuturan perempuan yang digunakan dalam wawancara oleh Emma Watson dengan menerapkan teori Lakoff (1975). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-kuantitatif. Metode kualitatif untuk menjabarkan fitur-fitur tuturan perempuan yang ditemukan dalam penelitian ini. Sementara itu, metode kuantitatif untuk mengidentifikasi frekuensi penggunaan fitur tuturan yang paling sering digunakan oleh Emma Watson dalam wawancara. Ditemukan ada sembilan fitur tuturan perempuan dalam penelitian ini, yaitu lexical hedges, tag questions, rising intonation on declaratives, empty adjectives, intensifiers, hypercorrect grammar, super polite forms, avoidance of strong swear words, dan emphatic stress. Fitur tuturan yang paling sering digunakan dalam penelitian ini adalah lexical hedges. Women have their own characteristics when they were speaking compared with men. Women?s speech feature made them possible to use language with different functions, such as hedging and boosting utterances. This research aimed to identify women?s speech feature used in the interview by Emma Watson by applying the theory from Lakoff (1975). Method used in this research is qualitative-quantitative. Qualitative method is used to explain women?s speech feature found in this research. While, quantitative method is used to identify the frequency of speech feature used the most by Emma Watson in the interview. There are 9 women?s speech features in this research, such as lexical hedges, tag questions, rising intonation on declaratives, empty adjectives, intensifiers, hypercorrect grammar, super polite forms, avoidance of strong swear words, and emphatic stress. Women?s speech feature used the most in this research is lexical hedges.
KAJIAN SEMANTIK JENIS-JENIS METAFORA DALAM POSTER DEMONSTRASI TOLAK RUU 2019 (SEMANTICAL STUDY OF METAPHORS TYPES REFLECTED IN RUU 2019 REJECTION DEMONSTRATION POSTERS) Mufti, Afrizal; Yulianto, Agus; Hasanah, Dian Uswatun
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.532

Abstract

Gelombang demonstrasi penolakan RUU oleh mahasiswa menjadi tragedi demonstrasi terbesar pada 2019. Sebagaimana demonstrasi pada umumnya, penyampaian aspirasi sejumlah mahasiswa menggunakan poster bertuliskan kalimat-kalimat unik, lucu, bahkan aneh. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengetahui jenis-jenis metafora dalam penulisan poster demonstrasi tolak RUU 2019. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode simak dan teknik catat yang diperoleh dari poster demonstrasi atau melalui media sosial whatsapp dan instagram. Data penelitian ini kemudian dianalisis dengan teknik kualitatif berdasarkan kumpulan kata-kata dari poster para demonstran. Hasil analisis menunjukkan dari enam belas data poster, penulis memperoleh enam jenis metafora, yaitu lima metafora bercitra konkret ke abstrak, dua metafora bercitra sinestesia, dua metafora bercitra predikatif, dua metafora bercitra nominatif, tiga metafora bercitra abstrak ke konkret, dan dua metafora bercitra antropomorfik. A wave of student rejection bills became the biggest demonstration tragedy in 2019. As a demonstration in general, the delivery of the aspirations of a number of students using posters bearing unique, funny, even strange sentences. This research aims to analyze and find out the types of metaphors in poster demonstration rejecting the RUU 2019. It was a qualitative descriptive research that used observe and take note methods obtained from demonstration posters or through social media whatsapp and instagram. Then, the research data was analyzed using qualitative techniques based on a collection of words from the demonstrators' posters. The analysis showed that from the sixteen poster data, the writer obtained six types of metaphors, those were five concrete-to-abstract metaphors, two synesthesia-based metaphors, two predicate-imagined metaphors, two nominative-imaging metaphors, three abstract-to-concrete-based metaphors, and two anthropomorphic-imaging metaphors.

Page 1 of 1 | Total Record : 9