cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Search results for , issue "2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI" : 85 Documents clear
IMPLEMENTASI METODE THROUGH SEAM BLAST DALAM MENDUKUNG OPERASIONAL PENAMBANGAN BATUBARA DI PIT C1 BLOK 8 BMO 2 PT BERAU COAL Saeful Aziz; Qodri Hadi Putra; Aldo Brilianto; Ida Wayan Supriharta; Rahmantha Purba Anggana
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.77

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kelayakan metode through seam blast untuk diimplementasikan pada area interburden dan batubara tipis dengan multi-seam. (2) Pengaruh terhadap peningkatan produktivitas, percepatan sekuen penambangan, kualitas batubara, dan konservasi batubara tipis. Dalam penelitian ini penulis bersama team yang yang dibentuk (terdiri dari pihak PT. Berau Coal site BMO 2, PT. Pamapersada Site BRCB, dan PT. DNX Site BMO 2) melakukan perencanaan menggunakan siklus plan, do, check, action (PDCA)  terkait metode through seam blast dimana plan didukung dengan pendekatan konsep specipic, measurable, achievable, realistic dan timely (SMART). Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan empat kali trial through seam blast. Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Metode Through Seam Blast memungkinkan diimplementasikan di Pit C1 Blok 8 BMO 2 PT Berau Coal. (2) Terjadi peningkatan produktivitas alat gali muat sebesar 35 bcm/jam pada kelas PC-1200, mengurangi frekuensi blasting dari 2-3 kali menjadi 1 kali pada luasan area yang sama, adanya deviasi ash batubara tertambang (terhadap as batubara insitu)  yang masih masuk dalam toleransi sebesar 2.75%, mine recovery tetap terjadi ≥98%.                       Kata kunci: through seam blast, produktivitas alat gali muat, frekuensi blasting, kualitas batubara, mine recovery  ABSTRACT The purpose of this study is to determine: (1) the feasibility of the through seam blast method to be implemented in inter burden areas and thin coal with multi-seam. (2) Effects on increasing productivity, acceleration of mining sequences, coal quality, and conservation of thin coal. In this study the authors together with the team formed (consisting of PT. Berau Coal site BMO 2, PT. Pamapersada Site BRCB, and PT. DNX Site BMO 2) do the planning using the related cycle plan, do, check, action (PDCA) a through seam blast method where the plan is supported by a specific, measurable, achievable, realistic and timely (SMART) concept approach. Data collection was carried out by conducting four trial through seam blasts. The results showed that: 1) Through Seam Blast method is possible to be implemented in Pit C1 Block 8 BMO 2 PT Berau Coal. (2) An increase in the productivity of the loading and unloading tool by 35 bcm / hour in PC-1200 class, reducing the frequency of blasting from 2-3 times to 1 time in the same area, the deviation of mined coal ash (against the coal as in situ) still within tolerance of 2.75%, mine recovery still occurs ≥98%. Keywords: through seam blast, digger productivity, blasting frequency, coal quality, mine recovery
PENGARUH JUMLAH KOMPOSIT BATUAN TERHADAP KESTABILAN LERENG TAMBANG TERBUKA BATUBARA MULTI LAPISAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA 3 DIMENSI M Kemal Ghifari; Masagus Ahmad Azizi; Irfan Marwanza; Afiat Anugrahadi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.93

Abstract

ABSTRAK PT. X memiliki disain rencana tambang (pit plan) tahun 2020, yang memerlukan analisis kestabilan lereng guna mengoptimasi cadangan batubara tertambang dan keselamatan operasi penambangan. Pada penelitian ini, analisis kestabilan lereng menggunakan metode elemen hingga (MEH) 3 dimensi. Di samping itu juga dilakukan analisis probabilistik guna memvalidasi hasil perhitungan MEH 3 dimensi. Kompleksitas lapisan batuan yang cukup banyak pada tambang MIP memberikan kesulitan dalam memodelkan dalam analisis 3D menggunakan MEH. Oleh sebab itu digunakan pendekatan pembobotan parameter karakteristik batuan dalam menelaah keakurasian hasil perhitungan faktor keamanan (FK) dan penentuan lokasi lereng kritis. Secara praktis pendekatan pembobotan ini sudah diterapkan di sejumlah tambang batubara di Indonesia, namun terbatas pada analisis 2D. Oleh sebab itu hasil penelitian ini menjadi suatu pencapaian penting yang dapat disosialisasikan dan diaplikasikan oleh para praktisi geoteknik tambang di Indonesia  
WELLNESS PROGRAM : INTERVENSI PERUBAHAN PARADIGMA KESEHATAN PT KALTIM PRIMA COAL Febriana Kurniasari
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.109

Abstract

ABSTRAK “Industry 4.0 : It’s all about the people” Doug Gates, May 2017 Kita berada pada awal revolusi industri 4.0 yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Menghadapi industri digitalisasi saat ini, rencana pembangunan Indonesia akan mengedepankan optimalisasi Sumber Daya Manusia (SDM). Hal tersebut searah dengan score card dalam strategy map Human Resources Division (HRD) PT Kaltim Prima Coal (KPC), bahwa optimalisasi SDM pada produktivitas dan kegesitan karyawan menjadi salah satu tujuan perusahaan. Salah satu faktor penentu dalam keberhasilan optimalisasi produktivitas karyawan ini adalah dengan kondisi bugar baik secara fisik dan mental. Dari 56 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2015, 40 juta diantaranya disebabkan oleh Noncommunicable Diseases (NCDs) atau penyakit tidak menular. Penyakit yang disebabkan karena gaya hidup tidak baik. KPC sebagai produsen batubara terbesar di Indonesia, memiliki karyawan hingga 4,537 orang. Pengelolaan pelayanan medis kepada karyawan sudah diberikan dengan baik, dari fasilitas hingga rujukan ke luar kota Sangatta, tetapi angka karyawan sakit masih tinggi yaitu sekitar 2,000 orang per tahun. KPC menyadari harus melakukan perubahan paradigma kesehatan kepada karyawan dan tanggungannya, dimana lebih mengutamakan aspek pencegahan penyakit daripada sekedar mengobati. KPC juga mengajak karyawan untuk lebih peduli terhadap kesehatan agar terhindar dari resiko faktor penyakit kronis (NCDs). Dalam makalah ini, penulis membahas Wellness Program yang sedang dilaksanakan KPC dengan metode intervensi berupa berbagai kegiatan promotif dan preventif. Wellness Program merupakan sebuah upaya yang bertujuan lebih kepada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan saja. Sebagai dasar dalam pelaksanaan Wellness Program adalah 5 Pilar Kesehatan yang terdiri dari : Mental Sehat, Tidak Merokok, Gerak Fisik atau Olahraga, Diet Seimbang, dan Istirahat Cukup. Perusahaan berharap karyawan dapat bekerja lebih produktif dan sehat hingga masa pensiun. Banyak hal positif yang didapat dengan pelaksanaan Wellness Program. Karyawan dan tanggungannya lebih gemar berolahrga, antusiasme terhadap kegiatan edukatif kesehatan dan semakin tingginya peminat dalam kompetisi berolahraga. Kata Kunci : Sumber Daya Manusia, NCDs, Perubahan Paradigma, Wellness Program ABSTRACT “Industry 4.0 : It’s all about the people” Doug Gates, May 2017 We are facing industrial revolution 4.0 which will fundamentally change our lifestyle, working condition and human relation. In the midst of this digitalization era, one of Indonesia’s key development goals is to advance human development. This goal is in line with Human Resources Division (HRD) PT Kaltim Prima Coal (KPC) score card in strategic plan to achieve employees’ optimum productivity and agility. One of main factors to being successfully able to optimize employees’ productivity is by improving health (physically and mentally) and fitness. Globally, in 2015, not less than 40 million deaths (out of total 56 million deaths) are caused by non-communicable diseases (NCDs). This group of diseases has bad lifestyle as one of its risk factors. KPC as the largest coal mining company in Indonesia currently employs 4,537 individuals in total. Though provision of medical serivices benefit has been delivered well through establishing good health facility and referral to offsite Sangatta, number of work day lost due to illness is still high, but not less than 2,000 in one year. KPC recognizes the need to shift health paradigm of the employees and their dependants, that should be recognized as self-awareness not only as “the absence of illness (medical treatment)”. KPC should be able to keep employee care about their health in order to avoid the risk of chronic disease factors (NCDs). The objective of this paper is to describe Wellness Program as an intervention done by KPC to achieve, sustain, and protect health as a complete physical, mental and social wellbeing and not merely the absence of disease or infirmity. Wellness Program is mainly delivered through promotion and prevention campaign. KPC introduces 5 Pillars of Health: Mentally Healthy, Physically Active, Not Smoking, Balanced Diet, and Qualified Rest. The company expects its employees to be more productives and to be healthy even until retiree. Wellness Program has many benefits. Employees and their dependants have become more enthusiastic to participate in physical activity competition and health education sessions.  Keywords: Human Development, NCDs, Shifting Paradigm, Wellness Program 
KEBIJAKAN SEKTOR INDUSTRI PERTAMBANGAN INDONESIA DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Meiliza Fitri; Wahyudi Zahar
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.125

Abstract

ABSTRAKPemerintah RI dalam upaya pengimplementasian Revolusi Industri 4.0 di bidang industri telah menetapkan 10 langkah prioritas nasional, yaitu roadmap yang dikenal dengan Making Indonesia 4.0, yang mencakup perbaikan alur aliran barang dan material, desain ulang zona industri, akomodasi standar-standar keberlanjutan, pemberdayaaan UMKM, pembangunan infrastruktur digital nasional, peningkatan minat investasi asing, peningkatan kualitas SDM, pembangunan ekosistem inovasi, pemberian insentif untuk investasi teknologi, dan harmonisasi aturan dan kebijakan. Melalui pemetaan ini, industri tambang menjadi salah satu unit industri yang penting untuk mewujudkan revolusi industri 4.0. Meskipun pada tahun 2018 trend insdutri global mengalami pergeseran dari industri ekstraktif (extractive industry) menjadi industri disruptif (disruptive industry), seperti perusahaan-perusahaan teknologi maupun perusahaan berbasis RD (research and development), revolusi industri tidak serta merta dapat tercapai tanpa adanya peran dari sektor industri ekstraktif, misalnya sektor industri pertambangan, seperti pengadaan bahan baku industri, penggiatan energi terbarukan, hingga penyediaan segala fasilitas dan infrastruktur pendukung bergeraknya revolusi industri 4.0 di Indonesia, contohnya pemenuhan kebutuhan listrik. Untuk itu dilakukan penelitian dengan metode deskriptif kualitatif untuk mengkaji arah kebijakan sektor industri pertambangan sebagai sektor utama dalam mendukung perkembangan revolusi industri di Indonesia. Berdasarkan peraturan pemerintah yang dikeluarkan dalam KEN dan RUEN, serta UU Minerba Nomor 4/2009, terdapat hal mendasar yang perlu diperhatikan pemerintah, yakni kebijakan mengenai ketahanan energi nasional. Pemerintah harus mulai memperhitungkan keterdiaan energi dalam kebijakan yang juga menyangkut pembangunan berkelanjutan (sustainable development) sebagai upaya untuk mengendalikan sumber daya maupun cadangan batubara di dalam negeri untuk sumber energi nasional melalui kebijakan pembentukan Wilayah Cadangan Negara (WPN) khususnya batubara. Pembuatan neraca sumber daya alam sebagai langkah awal pembentukan kebijakan berbasis riset diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan perhitungan yang matang mengenai ketahanan energi hingga perhitungan ekonomis terkait kerusakan lingkungan, karena meskip hingga pertengahan tahun 2019 PNBP di sektor mineral dan batubara telah mencapai Rp19,16 triliun atau 44,28% dari target tahun 2019, terdapat kemungkinan bahwa angka penerimaan ini tidak sebanding dengan besaran nilai yang dibutuhkan untuk kompensasi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh adanya aktifitas pertambangan. Kebijakan pemerintah kedepannya diharapkan tidak hanya berfokus pada kebijakan DMO, besaran royalti, ekspor impor, hilirisasi, konversi maupun konservasi energi, namun perhitungan matang terhadap ketahanan dan ketersediaan energi nasional melalui pembentukan WCN batubara, karena batubara sebagai target bauran energi utama Indonesia merupakan energi fosil tidak dapat diperbaharui yang diperkirakan habis dalam 71 tahun, dan dapat lebih cepat apabila bauran batubara Indonesia sesuai proyeksi mencapai 38% di tahun 2025 (asumsi business as usual). Kata Kunci: kebijakan, cadangan energi, batubara ABSTRACTThe Government of Indonesia in the attempt to implement the Industrial Revolution 4.0 through its Ministry of Industry has set 10 national priorities, known as Making Indonesia 4.0, which includes improving the flow of goods and materials, redesigning industrial zones, accommodating the sustainability standards, empowering MSMEs, developing the national digital infrastructure, increasing foreign investment interest, improving the quality of human resources, building an innovative ecosystem, providing incentives for technological investment, and harmonizing rules and policies. Through this roadmap, the mining industry became one of the important industrial units to support the realization of industrial revolution 4.0 in Indonesia. Although in 2018 the global industry trend has shifted from an extractive industry to a disruptive industry, such as technology companies and RD (research and development) based companies, the industrial revolution cannot necessarily be achieved without the role of extractive industry sectors, for example the mining industry, in supporting the raw materials, facilities and infrastructure, and electricity. For this reason, a qualitative descriptive study was conducted to examine the policy in terms of mining industry. Based on government regulations issued in KEN and RUEN, and Mining and Minerals Law, there are basic things that need to be considered by the government, namely policies on national energy security. The government must begin to take into account the availability of energy in its policies that also in line with the sustainable development as an effort to control domestic coal resources and reserves for national energy sources by establishing a State Reserve Area (WPN) policy especially for coal. Creating a natural resource balance as a first step in setting up a research-based policy is expected to be followed up by a careful calculation of energy security to economic calculations related to environmental damage, because even with the high amount of PNBP in the mineral and coal sectorthere is a possibility that this is not proportional to the amount of value needed to compensate for the environmental damage. Future government policies are expected to focus not only on DMO policies, royalties, export-imports, downstream, conversion and energy conservation, but also careful calculation of national energy security and availability through the formation of coal WCN, because as Indonesia's main energy mix, coal is fossil energy which estimated to be used up in the next 71 years, and can be faster if the percentage of coal in Indonesian energy mix reaches 38% in 2025 as projected (business as usual).Keywords: policy, energy reserve, coal
PENINGKATAN RECOVERY EMAS DI CARBON IN LEACH PLANT PT. ANTAM TBK UNIT BISNIS PERTAMBANGAN EMAS PONGKOR, JAWA BARAT (STUDI KASUS KADAR BIJIH 3,5 – 4,5 GPT DI PLANT 1) Nurhakim Zafar; Sudesno. Yudhistira; Adiputra. Hoppy
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.49

Abstract

ABSTRAK Sejarah pengolahan mineral emas di Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor PT Antam Tbk menunjukkan adanya tren menurunnya kadar bijih. Meskipun demikian, metallugist di UBPE Pongkor PT Antam Tbk secara berkelanjutan mencari berbagai penyebab dan cara untuk meningkatkan nilai recovery Plant walaupun kadar bijih yang cenderung menurun. Berdasarkan hasil pengolahan data terhadap Plant 1 dan Plant 2 di UBPE Pongkor, menunjukkan adanya potensi perbaikan di area Plant 1 UBPE Pongkor PT Antam Tbk. Makalah ini akan berfokus pada pengurangan kadar emas dalam sand tailing saat kadar bijih antara 3,5 sampai 4,5 gram per ton (gpt) di Plant 1 dalam rentang 2 bulan. Berdasarkan hasil analisa data yang diperoleh dengan menggunakan metode Anova, diperoleh hasil bahwa fraksi halus, kadar sianida, dan waktu tinggal slurry adalah hal – hal yang paling berpengaruh dalam proses pengolahan emas di UBPE Pongkor. Serangkaian perbaikan dan inovasi dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan cara memodifikasi distribusi ukuran grinding ball, mengatur waktu mixing dan injeksi sianida dalam tangki, serta mengatur waktu dan memonitoring waktu tinggal slurry di dalam tangki leaching dan CIL.Berdasarkan hasil perbaikan dan inovasi yang dilakukan, terlihat bahwa nilai recovery plant meningkat dari sebelumnya 89,4% menjadi 92,7%. Hal ini diperoleh dari nilai perbandingan distribusi ukuran bola 1 : 2 untuk grinding ball 40-60 mm dan 60-80 mm. Sementara itu, penyesuaian terbaik kadar CN adalah 600 - 650 ppm ditambah dengan optimalisasi injeksi sianida menggunakan pompa dosing sehingga dapat mengurangi waktu mixing sianida yang 3x sehari menjadi 1x sehari dan menurunkan kadar CN dari 1,23 menjadi 1,13 kg NaCN/ton bijih. Berdasarkan hasil pengaturan mill feeder dan pompa slurry, waktu tinggal di tangki leaching dari 51 jam menjadi 60 jam. Kata Kunci : Emas, recovery, fraksi halus, sianida, waktu tinggal slurry   ABSTRACT History of mineral processing at Gold Business unit at PT Antam Tbk shows a consistent trend of decreasing grade due to intensive mining operations. Therefore, The Metallurgist  PT Antam Tbk Gold Business Unit is looking for roots caused and solutions to raise up plant recovery although the grade of gold declined. After deep data analyzing process at plant 1 2, it’s shown that plant 1 at Gold Business Unit PT Antam Tbk have a room for recovery improvement. This research focus on reducing sand tailing to improved gold recovery at feed grade between 3.5 and 4.5 ppm at plant 1. Deep analysis was applied to processing big data from the plant using ANOVA Methode, it’s shown that fine fraction, Cyanide and slurry residence time were the major factor of gold recovery. Series improvement were applied to solved this problem, such as modifying grinding ball particle size distribution, adjusting cyanide feeding on leaching thank based on feed grade, and monitoring slurry residence time. It was observed that the plant plant 1 recovery was increasing from 89,4% to 92.7%. The best grinding ball particle size distribution was 1 : 2 for 50 80 mm grinding ball. While the best applied cyanide concentration was between 600 - 650 ppm with some modification to improve process control of cyanide feeding. It’s shown that cyanide mixing process was decreased from 3 times a day to only one a day and also the cyanide consumption was reduced from 1.23 to 1.13 kg/ton ore.  Some modification also carried out to increase slurry residence time. It’s proved that by applying the improvement it’s shown that the slurry residence time rose from 50 h to 61 h. Keywords : gold, recovery, fine fraction, cyanide, residence time.
PENGGUNAAN APLIKASI GPR (GROUND PENETRATING RADAR) DENGAN METODE NON-DESTRUCTIVE UNTUK KOLEKTIFITAS DATA KUALITATIF PADA ANALISA SUBSURFACE TANAH EKSTRIM LUNAK Alam Tronics, S.Si, MT; Ivan Bahder, S.Si, MTA.
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.60

Abstract

ABSTRAK Ground-Penetrating Radar (GPR) adalah metode Geofisika dengan menggunakan teknologi radar untuk identifikasi perlapisan batuan dan “subsurface” pada investigasi geoteknik. Metode ini termasuk metode “non-destructive” (tanpa melakukan perusakan pada original base) menggunakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang mikro (Frekuensi UHF/VHF) yaitu pada garis spektrum gelombang radio dan dapat mendeteksi signal reflektif dari struktur bawah tanah. Kedalaman kemampuan alat GPR untuk “sensing” (penetrasi pembacaan) pada struktur batuan/tanah dengan GPR mencapai ketebalan 50m. GPR bisa mendeteksi (sensing) perubahan arah perlapisan batuan dan memprediksi ketebalan tanah ekstrim lunak, sehingga dapat mengidentifikasi resiko dan menekan biaya penanganan (reduction impact cost) dari perilaku extreme base sebelum proses “dumping” di area berawa atau gambut. Penggunaan instrumen GPR juga dapat menunjang detail interpretasi pengeboran geologi PT. KPC. Metode ini digunakan sebagai metode alternatif jika metode pengeboran geologi terlalu berbahaya dilakukan karena lereng yang diinvestigasi berada pada kondisi kritis atau area rawa yang tidak bisa dilalui mobilisasi rig drilling. Geoteknik KPC telah melakukan investigasi geoteknik dengan alat GPR yang telah dikorelasikan dengan data CPT. Pada korelasi nilai konstanta dielektrik dengan nilai CPT, dengan rentang 56.09 sampai 61.08 memiliki nilai konus terkoreksi, qt dengan rentang 0.12 MPa sampai 0.21 MPa. Hasil akhirnya akan diperoleh persamaan empiris data GPR vs data CPT.Kata kunci: investigasi geoteknik, non-destructive, sensing, dan reduction impact cost   ABSTRACT Ground-Penetrating Radar (GPR) is Geophysical Method by using Radar Technology to purpose identification rock bedding and subsurface on geotechnical investigation. This method is classified for non-destructive application (without doing damage the original base) and applied by Electromagnetic Wave with microwave bandwidth (Frequency UHF/VHF) in spectrographic transmitting-wave (radio wave) and also to detect reflective pulse from the ground. Performance modulation depth of the GPR for sensing (beam penetration) rock/soil is for 50m. The GPR can detect (sensing) changes in the direction of rock bedding and for predicting extremely soft soil thickness, so as to identify risks and reduce handling cost  (reduction impact cost) from extreme base behavior before the dumping process in marshy or peat areas. The use of GPR instruments can also support detailed interpretation of geological drilling in PT. KPC.This method is used as an alternative method if the geological drilling method is too dangerous to act, because the slopes investigated are in critical condition or swampy areas that cannot be traversed by drilling rig mobilization. KPC geotechnics have conducted geotechnical investigations with GPR tools that have been correlated with data CPT. The result of the correlation of dielectric constant values with CPT values, with a range of 56.09 to 61.08 has a corrected cone value, qt with a range of 0.12 MPa to 0.21 MPa. The final result is empirical correlation between data GPR and data CPT.Keynote: geotechnical investigation, non-destructive, sensing, and reduction impact cost
KAJIAN PENGARUH MATERIAL PROPERTIS DOMAIN BATUAN DASAR TERHADAP KESTABILAN LERENG PADA NIKEL LATERIT DI SITE POMALAA , SULAWESI TENGGARA, PT ANTAM Tbk Mutiara Andini; Niki Rahma Rizkita; Pherto Rimos; Febri E. Prihasto; Ahmad R. Trilaksana; Novi F.R. Dewi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.88

Abstract

ABSTRAK Untuk mendukung kegiatan operasional penambangan, perlu dilakukan pembuatan kajian geoteknik yang bertujuan sebagai rencana awal desain lereng tambang maupun mengevaluasi kestabilan lereng pada saat kegiatan penambangan berlangsung. Untuk pembuatan kajian geoteknik di Site Pomalaa, dilakukan pengambilan 15 sampel untuk masing-masing domain (Hazburgit, Dunit, Serpentinit dan Peridotit) yang dibagi menjadi 5 sampel limonit, 5 sample saprolit dan 5 sampel bedrock. Selanjutnya, sampel tersebut dilakukan pengujian di laboratorium untuk mendapatakan nilai material properties. Material propertis limonit pada setiap domain  memiliki rentang nilai kohesi 31,22 kN/m2- 40,49 kN/m2, sudut geser dalam 31,30o-37,36o, berat jenis basah 11,56 kN/m2-12,89 kN/m2, UCS 0,11Mpa – 0,59 Mpa.Sedangkan nilai material propertis pada saprolit memiliki rentang nilai kohesi 31,22 kN/m2-39,18 kN/m2, sudut geser dalam 34,71o-39,11o, berat jenis basah 10,86 kN/m2-13,52 kN/m2, UCS 0,19Mpa – 0,29 MPa. Material propertis tersebut selanjutnya digunakan sebagai parameter dalam melakukan analisis kestabilan lereng dengan mengeluarkan nilai faktor keamanan (FK) dan probability of failure (PoF). Pada kajian ini dilakukan simulasi dengan 4 pendekatan : (a) Pertama, menganalisis lereng dengan domain geologi tunggal, (b)Kedua, menganalisis lereng dengan menggabungkan 2 domain geologi yang berbeda, (c) Ketiga, menganalisis lereng dengan menggabungkan 3 domain geologi yang berbeda, (d) Menganalisis lereng dengan menggabungkan 4 domain geologi yang berbeda. Hasil simulasi dengan menggunakan 4 pendekatan tersebut menunjukkan nilai rata-rata FK limonit secara berturut sebesar 1.72, 1.71,1.73, dan 1.73 . Sedangkan nilai FK saprolit secara berturut sebesar 1.74, 1.78 , 1.75 dan  1.74. Rata-rata probability of failure pada simulasi ini dibawah 1%. Dari hasil simulasi dapat dilihat bahwa nilai faktor keamanan dari hasil simulasi beberapa material menunjukkan nilai yang konsisten, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai material propertis nikel laterit pada batuan dasar yang berbeda cenderung sama (homogen), oleh karena itu pengambilan sampel geoteknik di site pomalaa tidak sensitif terhadap domain batuan. Key words: Domain Batuan Dasar, Kohesi, Sudut Geser Dalam, Berat Jenis Basah, UCS, Faktor Keamanan, Probability of Failure.  ABSTRACT Concerning mining operations activities, geotechnical analysis should be carried out with the aim of planning the initial design of slope and evaluating the stability of the slope during mining activities. For making geotechnical studies at the Pomalaa Site, 15 samples were taken for each domain (Hazburgit, Dunit, Serpentinit and Peridotit) which were allocated into 5 samples for limonite, 5 samples for saprolite and 5 samples for bedrock. Furthermore, the sample is tested in a laboratory to obtain the value of material properties. Limonite property material in each domain has a range of cohesion values of 31.22 kN / m2-40.49 kN / m2, friction angle at 31.30o-37.36o, wet density 11.56 kN / m2-12.89 kN / m2, UCS 0.11Mpa - 0.59 Mpa. While the value of proper material in saprolite has a range of cohesion values of 31.22 kN / m2-39.18 kN / m2, shear angle in 34.71o-39.11o, wet specific gravity 10.86 kN / m2-13.52 kN / m2, UCS 0.19Mpa - 0.29 Mpa. The property material is then used as a parameter input to obtain slope stability analysis by issuing factor of safety (FK) and probability of failure (PoF) values ). In this case a simulation was conducted to 4 approaches: (a) First, analyzing slopes with a single geological domain, (b) Second, analyzing slopes by combining 2 different geological domains, (c) Third, analyzing slopes by combining 3 different geological domains , (d) Analyze slopes by combining 4 different geological domains. The simulation results using the 4 approaches show the average value of FK limonite which are 1.72, 1.71.1.73, and 1.73 respectively. While FK saprolite values were 1.74, 1.78, 1.75 and 1.74 respectively. The average probability of failure in this simulation is below 1%. From the simulation results it can be seen that the value of the safety factor from the simulation results of several materials shows a consistent value, so it can be said that the material value of laterite nickel properties in different bedrock tends to be the same (homogeneous), therefore geotechnical sampling at the Pomalaa site is not sensitive to the rock domain. Key words: Host Rock Domain, Cohesion, Friction angle, Wet Specific Gravity, UCS, Safety Factor, Probability of Failure.
STUDI PENYEBARAN KLOROFIL-A, SUHU PERMUKAAN LAUT DAN ANGIN UNTUK IDENTIFIKASI UPWELLING DI PERAIRAN SELATAN SUMBAWA TAHUN 2018 Agus Setianto; Kostansa Tri Adinda Witomo; Muhammad Hizrian Irda; Ika Kurnia Putri
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.104

Abstract

ABSTRAK Perairan Selatan Sumbawa merupakan perairan terbuka yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia sehingga karakteristik perairannya menjadi sangat dinamis. Operasional pertambangan PTAMNT menghasilkan tailing (sisa batuan) yang ditempatkan di Ngarai Senunu Perairan Selatan Sumbawa pada kedalaman 125 m di bawah permukaan laut. Untuk memastikan operasional penempatan tailing berjalan dengan baik maka diperlukan pemantauan laut secara rutin dan teratur termasuk salah satunya pemantauan upwelling di sekitar wilayah penempatan tailing. Hasil studi ini menunjukkan bahwa fenomena upwelling di Perairan Selatan Sumbawa khususnya di sekitar penempatan tailing PTAMNT berdasarkan suhu permukaan laut sangat kuat terjadi pada bulan Juni hingga September dengan puncak kekuatan upwelling tertinggi terjadi pada bulan Juli (rata-rata suhu permukaan laut terendah 25,64 0C) dan fenomena upwelling berdasarkan klorofil-a sangat kuat terjadi pada bulan April hingga Juni dengan puncak kekuatan kriteria upwelling tertinggi terjadi pada bulan Juni (rata-rata klorofil-a tertinggi 1,01 mg/m3). Sedangkan fenomena downwelling berdasarkan suhu permukaan laut terjadi pada bulan Desember (rata-rata suhu permukaan laut tertinggi 28,84 0C) dan fenomena downwelling berdasarkan klorofil-a terjadi juga pada bulan Desember (rata-rata klorofil-a terendah 0,14 mg/m3). Hasil studi ini juga menunjukan bahwa selama periode upwelling di Perairan Selatan Sumbawa khususnya di sekitar penempatan tailing PTAMNT tidak memperlihatkan adanya indikasi naiknya atau munculnya tailing ke lapisan permukaan. Kata kunci: Angin, Klorofil-a, Suhu Permukaan Laut, Upwelling Tailing  ABSTRACT South Sumbawa Waters are open waters that comes straight to the Indian Ocean so the characteristic of the waters becomes very dynamic. Mining operation of PTAMNT produce tailings (remnants of rocks) that placed in Senunu Canyon at South Sumbawa Waters at 125 m depth under sea surface. To ensure proper process of tailing placement, regular monitoring is needed including upwelling monitoring around tailing placement area. The result of this study shows that South Sumbawa Waters especially PTAMNT tailing placement area, very strong upwelling characteristic based on sea surface temperature occurred on June – September with July as the peak (lowest average temp 25,64 0C) and very strong upwelling characteristic based chlorophyll-a occurred on April – June with June as the peak (highest average chlorophyll-a 1,01 mg/m3). Meanwhile, downwelling characteristic based on sea surface temperature occurred on December (highest average temp 28,84 0C) and downwelling characteristic based on chlorophyll-a occurred on December (lowest average chlorophyll-a 0,14 mg/m3). The result of this study during upwelling period in South Sumbawa Waters especially PTAMNT tailing placement area also did not shows any indication of the rise or appearance of tailings to sea surface. Keywords: Wind, Chlophyll-a, Sea Surface Temperature, Upwelling Tailing 
SHARING WALL PROJECT SEBAGAI BENTUK UPAYA KONSERVASI SUMBERDAYA BATUBARA Herri Lubis
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.120

Abstract

ABSTRAK Salah satu bentuk usaha konservasi sumberdaya mineral dan batubara (seperti yang diamanatkan dalam PP No. 55 Tahun 2010) adalah pengelolaan dan atau pemanfaatan cadangan marginal. Contoh pemanfaatan cadangan marginal ini adalah dengan memaksimalkan penambangan cadangan batubara di perbatasan antara 2 (dua) atau beberapa konsesi yang saling bersinggungan. Cadangan batubara di perbatasan ini seringkali ditinggal karena beberapa pertimbangan dari pemegang konsesi. Dalam makalah ini menggunakan studi kasus pada penambangan bersama di Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Banjarsari Pribumi (PTBP) dan IUP PT Budi Gema Gempita (PTBGG) di Kabupatan Lahat, Sumatera Selatan. Kerjasama penambangan di perbatasan konsesi yang saling bersinggungan ini dinamakan dengan “Sharing Wall Project”. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah memberikan informasi dan panduan kepada para pemegang konsesi yang saling berimpitan dalam melakukan kerjasama penambangan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Sampai saat ini “Sharing Wall Project” antara IUP PTBP dan PTBGG ini sudah menambang batubara sebesar 350,000 ton dari Sharing Wall Project ini untuk masing-masing konsesi. Dengan “Sharing Wall Project” ini berpotensi adanya penambahan cadangan marginal sebesar 1,000,000 ton yang bisa ditambang untuk masing-masing IUP. Artinya akan tambahan royalti yang dibayarkan ke pemerintah dari kedua IUP ini. Penambangan perbatasan IUP sudah diatur dalam Kepmen ESDM No. 1827K/30/MEM/2018 Pada Lampiran II Mengenai Pedoman Pengelolaan Teknis Pertambangan Kata Kunci: Sharing Wall Project, konservasi, cadangan marginal, royalti.  ABSTRACT  One of conservation efforts for mineral and coal resources (as mandated in PP No. 55 of 2010) is the management and or utilization of marginal reserves. An example of utilizing this marginal reserve is by maximizing the mining of coal reserves at the boundary between 2 (two) or several conflicting concessions. Coal reserves at this border are often left behind due to several considerations from concession holders. This paper uses a case study on joint mining in the PT Banjarsari Pribumi (PTBP) and PT Budi Gema Gempita (PTBGG) in Lahat Regency, South Sumatra. Mining cooperation at the intersection of concessions that coincide with each other is called the "Sharing Wall Project". The purpose of writing this paper is to provide information and guidance to concession holders who coincide with each other in conducting mining cooperation in accordance with applicable laws and regulations. Until now the "Sharing Wall Project" between PTBP and PTBGG has mined 350,000 tons of coal from the Sharing Wall Project for each concession. With this "Sharing Wall Project" it has the potential to increase marginal reserves of 1,000,000 tons that can be mined for each concession. This means that additional royalties will be paid to the government from these two concessions. Concessions border mining has been regulated in ESDM Decree No. 1827K / 30 / MEM / 2018 in Appendix II Concerning Guidelines for Mining Technical Management  Keywords: Sharing Wall Project, conservation, marginal reserves, royalties.  
PEMANFAATAN TEKNOLOGI ELEKTRIFIKASI PADA ALAT GALI MUAT OPERASIONAL PENAMBANGAN Ahmad Zaki Romi; Robbi Hidayat; Okta Robian Pranata; Desliwandi Desliwandi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.55

Abstract

ABSTRAK Kondisi perekonomian global yang kurang baik menjadikan harga batubara cenderung terus menurun. Perseroan telah merespon dengan cepat kondisi tersebut dengan meningkatkan efisiensi operasional, pengendalian biaya, melakukan diversifikasi pemasaran ekspor termasuk mengintrodusir pola penambangan terfokus. Salah satu program efisiensi operasional untuk pengendalian biaya dan Pengembangan perusahaan adalah Program Elektrifikasi dimana sebelumnya operasional penambangan didominasi dengan sistem penambangan berbasis BBM. Implementasi Sistem Penambangan dengan peralatan penambangan berbasis listrik juga dirancang melalui tahapan-tahapan untuk menyesuaikan dengan target perusahaan jangka pendek dan jangka panjang serta menyesuaikan dengan kesiapan peralatan. Kebutuhan rencana produksi yang terus meningkat berdasarkan rencana jangka panjang perusahaan, dari hasil kajian diperoleh penambahan produksi secara swakelola dengan investasi peralatana tambang berbasis listrik. Pada bulan Agustus tahun 2017 PT. Bukit Asam, Tbk telah melakukan kegiatan operasional penambangan menggunakan alat gali muat dengan electric shovel di Pit 2 dan Pit 3 pada lokasi IUP Banko Barat. Penggunaan alat gali muat electric shovel dapat meningkatkan efisiensi operasional dan pengendalian biaya operasional.