cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Search results for , issue "2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI" : 85 Documents clear
PENERAPAN METODE V-SHAPE LOADING UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PC-2000 & PC-1250 DI PIT 10 & 11 MADHANI TALATAH NUSANTARA PT. ARUTMIN INDONESIA TAMBANG ASAMASAM Enos, Enos; Utama, Kurnia Candra; Fadhilah, Rahimatul
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.51

Abstract

ABSTRAK Data produktivitas fleets overburden removal PT. Madhani Talatah Nusantara Asamasam Coal Project (ACP) Bulan Januari – Mei 2018 masih jauh di bawah target sehingga analisis untuk mengetahui akar permasalahan dan penyelesaiannya perlu dilakukan. Karakteristik material di ACP merupakan material free dig (no blasting no ripping), namun semakin dalamnya elevasi banyak terdapat area yang merupakan material keras. Pengambilan data awal dengan metode konvensional loading menunjukkan rendahnya produktivitas disebabkan karena lamanya loading time dan spotting time. Lamanya loading time diakibatkan digging rate yang tinggi, sedangkan lamanya spotting time disebabkan karena jauhnya manuver truk untuk memposisikan siap loading. Untuk mempertahankan efisiensi loading time excavator dan mempercepat waktu manuver truk diperlukan perubahan metode loading, yaitu metode V-shape loading.Metode V-shape loading merupakan metode loading dimana posisi truk membentuk sudut “V” terhadap face penggalian. Penerapan metode V-shape loading memerlukan front kerja dengan luas minimal 20 meter untuk PC-2000 dan 15 meter untuk PC-1250. Metode V-shape loading bertujuan untuk mempercepat waktu manuver truk saat memposisikan siap loading, mengurangi swing radius excavator, dan mengurangi waktu angkat bucket excavator sehingga loading time semakin efisien dan produktivitas akan meningkat. Selain itu, metode ini juga mengurangi waktu delay perbaikan front loading oleh alat dorong dozer karena bekas front loading yang tidak dilalui oleh truk.Metode V-shape loading tidak membutuhkan tambahan biaya untuk diterapkan, hanya diperlukan kepedulian pengawas dalam pengaturan di loading point. Sebelum penerapan metode ini, dilakukan sosialisasi untuk mendapatkan pemahaman dari semua pihak yang terlibat, terutama operator dan pengawas lapangan. Setelah itu, barulah dilakukan implementasi di lapangan dengan pengawasan yang ketat. Hasil penerapan dalam 5 bulan pengamatan  menunjukkan adanya efisiensi loading time excavator dan manuver truk sehingga menghasilkan produktivitas yang meningkat. Pada PC-2000, rata-rata produktivitas meningkat 107%, dari sebelumnya 491 bcm/jam menjadi  527 bcm/jam. Sedangkan pada PC-1250, rata-rata produktivitas meningkat 145%, dari sebelumnya 245 bcm/jam menjadi 355 bcm/jam. Kata kunci : produktivitas, V-shape loading  ABSTRACT Productivity data fleets overburden removal at PT. Madhani Talatah Nusantara Asamasam Coal Project (ACP) January – May 2019 was below target, so analysis for knowing the root of the problems and this solution is needed. Material characteristic at ACP is free dig material (no blasting no ripping), but there are much hard material in case of lower elevation. Conventional loading methods showed low productivity was caused by loading time spotting time above plan. Longer loading time was caused by longer digging rate, while longer spotting time was caused by longer truck positioning ready to load. For maintaining loading time efficiency maintaining spotting time, V-shape loading method is applied to change conventional loading method.V-shape loading method is loading method which truck position at “V” angle to loading face. Application V-shape loading method needs large front loading minimal 20 meters for PC-2000 and 15 meters for PC-1250. The purpose of V-shape loading method is for speeding up spotting time for ready to load, reducing bucket excavator lifting time so efficiency loading time productivity increased. Moreover, this method is reducing delay front loading maintenance by dozer because truck spotting did not get through past loading point.V-shape loading method did not need any cost for applying, just needed concern from foreman for observing at loading point. First, all foreman operator was given socialization for understanding how to apply this method. Then, V-shape loading applied with tight supervision. The result at 5 month application, there was efficiency loading time excavator spotting time excavator. For PC-2000, average productivity increased 107%, from 492 bcm/hrs to 533 bcm/hrs. Moreover, for PC-1250, average productivity increased 145% from 245 bcm/hrs to 355 bcm/hrs. Keywords : productivity, V-shape loading 
SENTRALISASI LISENSI PERANGKAT LUNAK DAN INTERKONEKSI DATA Arnazt P. Adryanto; Bronto Sutopo; Febri E. Prihasto; Arif Hindarto; Duduk Sumargono; Ansori Ansori
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.67

Abstract

ABSTRAK Industri 4.0 adalah istilah yang diberikan untuk industri “pintar” dimana mesin/perangkat digabung dengan koneksi jaringan. Tren industri 4.0 adalah otomatisasi dan koneksivitas data termasuk cloud computing. Sekarang, dan masa mendatang di industri 4.0, komputer terhubung satu sama lain untuk akhirnya membuat keputusan tanpa keterlibatan manusia. Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang paling membutuhkan koneksi karena lokasi site terpisah dengan head office. Sebagai pelaku industri pertambangan yang memiliki site lebih dari satu dan tersebar dari Indonesia bagian Barat sampai dengan bagian Timur, PT ANTAM Tbk (ANTAM) memerlukan koneksi antara ­site dengan head office. Salah satu rangkaian pekerjaan ANTAM adalah collecting database eksplorasi, pemodelan geologi dan estimasi sumberdaya serta distribusi block model sumberdaya ke site. Database eksplorasi tersebut digunakan untuk update model geologi dan estimasi sumberdaya setiap triwulan semua komoditas dari tiap site yang sedang aktif kegiatan eksplorasinya. Lisensi software-software yang digunakan oleh ANTAM untuk pemodelan dan estimasi sumberdaya tersebut terpusat di server di head office, sehingga tidak ada lisensi software yang standalone di computer user. Hal tersebut membuat siapapun dandimanapun lokasinya bisa menggunakan lisensi-lisensi yang tersedia dengan koneksi ke server. Hasil update block model sumberdaya kemudian di distribusikan ke site sebagai guidance. Tim di site juga melakukan pengolahan terhadap block model tersebut menggunakan software tertentu dengan lisensi yang tersedia di server melalui koneksi internal ANTAM dari site ke head office di Jakarta. Meskipun dalam pengolahan update block model sumberdaya tidak seluruhnya otomatis, karena masih memerlukan justifikasi resource estimator atau Competent Person, namun dalam pengerjaannya bisa kapanpun dan dimanapun karena lisensi yang terpusat dan dapat digunakan oleh siapapun yang memerlukan. Sentralisasi lisensi perangkat lunak dan interkoneksi data yang dilakukan oleh ANTAM membuat distribusi data eksplorasi dan update block model sumberdaya tiap komoditas ANTAM yang tersebar dari Indonesia bagian Barat sampai bagian Timur tidak terkendala jarak dan waktu, khususnya untuk update block model. Hal tersebut dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, serta siapapun yang memerlukan dapat menggunakan lisensi software yang tersedia di server. Key words: industri 4.0, koneksivitas, lisensi, server, database eskplorasi, block model sumberdaya  ABSTRACT Industry 4.0 is a name given to the idea of smart industry where machines are augmented with the web connectivity. The trend is towards automation and data connectivity includes cloud computing. Now, and into the future as Industry 4.0 unfolds, computers are connected and communicate with one another to ultimately make decisions without human involvement. Mining industry is one of industry that really needs connectivity because the location of site is separate to its head office. As a mining industry with more than one of sites that spread from west part to east part of Indonesia, PT ANTAM Tbk (ANTAM) needs connectivity between sites and head office. One of working cycle of ANTAM is exploration database collecting, geological modeling, resource estimation and distribution the resource block model to sites. The exploration database will be used to update the geological model and estimate the resources every quarter for each commodity of each site which is actively explore. The licenses of ANTAM’s software to do modeling and estimate the resources are centralized in a server in head office, so there is no standalone software license in user computer. Centralized licenses make anyone and everywhere can utilize the licenses using connection to the server. The updated block model distributed to sites as guidance. Team on sites work on the block model use certain software with licenses that centralized in the server through ANTAM’s connection from sites to head office. Although in estimate the resources not fully automation due to still need justification from resource estimator or Competent Person, but in the process could be everywhere and anytime because of centralized licenses. Centralized software licenses and data interconnection of ANTAM make distribution of exploration data and updated block model for each commodities of ANTAM that spread from west part to east part of Indonesia is not a problem, especially for updating the block model. It could be proceed everywhere, anytime by everyone using licenses in the server. Key words: industry 4.0, connectivity, license, server, exploration database, resource block model
MANAJEMEN GETARAN UNTUK KESETABILAN LERENG DENGAN METODE “SIGNATURE HOLE ANALISYS” DALAM KEGIATAN PELEDAKAN TAMBANG TERBUKA Isnaya, Muhammad Syafiq; Bellico, Fadhil; Priyanggoro, Dwi Agung
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.79

Abstract

ABSTRAK Pit 10 merupakan wilayah operasional PT. Alamjaya Bara Pratama dalam kegiatan peledakan bekerjasama dengan PT. Multi Nitrotama Kimia sebagai penyedia bahan peledak dan jasa peledakan. Salah satu dampak yang ditimbulkan dari kegiatan peledakan adalah Ground Vibration yang akan mempengaruhi kestabilan lereng pada area pit 10. Desain akhir lereng pada pit 10 menunjukan batas maksimal Peak Particle Acceleration (amax)  yang dapat diterima lereng akibat hasil peledakan sebesar 0,07g, sehingga perlu adanya manajemen getaran agar getaran yang dihasilkan oleh kegiatan peledakan tidak mempengaruhi kestabilan lereng di area Pit 10. Penelitian dan percobaan dilakukan menggunakan metode Signature Hole Analysis (SHA) untuk pemetaan terhadap perambatan gelombang di setiap range blok – strip tertentu untuk kemudian digunakan untuk memodelkan dan memprediksi getaran yang diakibatkan oleh kegiatan peledakan pada setiap blok – strip. Metode Signature Hole Analysis yang dikombinasikan dengan pendekatan Scaled Distance, berhasil menjadi solusi dalam tata kelola getaran peledakan di Pit 10. Hasilnya, sepanjang tahun 2019 berjalan, tidak ada isu berkenaan dengan bagian geoteknik dari lereng-lereng di seputaran area operasional Pit 10. Pendekatan Signature Hole Analysis dan kontrol bersama tim Geoteknik menghasilkan kerjasama yang baik serta tata kelola kestabilan lereng menjadi lebih aman. Kaca Kunci : Kestabilan Lereng, Peledakan, Signature Hole Analysis  ABSTRACT Pit 10 is operational area of PT. Alamjaya Bara Pratama  the blasting activity carried out with PT. Multi Nitrotama Kimia as provider of explosive and blasting service. One of the impact blasting activity is Ground Vibration which will affect the stability of the slope in the area pit 10. The final slope design in pit 10 shows the maximum limit of peak particle acceleration (amax) that can’t be exceed by 0,07g. its very necessary to manage the ground vibration so the vibration produced by blasting activity do not affect the stability of the slope in pit 10. Research and experiment conducted using Signature Hole Analysis (SHA) for monitoring wave propagation in each block-strip used to model and predict vibration which caused by the blasting activity. Signature Hole Analysis combined with Scaled Distance has succeeded in becoming the solution of ground vibration management in pit 10. Throughout 2019 there was no problem with geotechnical issues of slopes around the pit 10. Signature Hole Analysis Method and Geotechnical approachment result good impact of a slope stability on pit 
OPTIMASI PENAMBANGAN BATUBARA MENGGUNAKAN KONTROL SLOPE STABILITY RADAR DI PIT C1 BLOK 8 BINUNGAN MINE OPERATION AREA 2 PT BERAU COAL Aziz, Saeful; Simamora, Christian Natanael; Supriharta, Ida Wayan; Anggana, Rahmantha Purba
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.95

Abstract

ABSTRAK Pit C1 Blok 8 Site Binungan Mine Operation Area 2 PT Berau Coal merupakan salah satu area operasional penambangan batubara dengan karakteristik multi-seam, kemiringan lapisan batubara pada interval 12 – 20 derajat, ketebalan lapisan batubara pada interval 0.5 – 7.5 meter, dan variasi ketebalan interburden pada interval 3 – 300 meter. Karakteristik endapan batubara menjadi salah satu pertimbangan dalam pembentukan disain penambangan batubara yang dikolaborasikan dengan disiplin ilmu lain diantaranya geoteknik, hidrologi, safety and environment, dan aspek – aspek lainnya.Geoteknik monitoring and controlling merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kestabilan lereng selama proses pembentukan desain sampai desain tambang terbentuk. Salah satu komitmen PT Berau Coal dalam meningkatkan awareness terhadap isu kestabilan lereng adalah dengan digunaknnya Slope Stability Radar untuk membantu Geoteknik monitoring and controlling secara real time.Salah satu value yang dipegang oleh PT Berau Coal yakni continuous improvement. Didorong oleh semangat dari value tersebut, PT Berau Coal melakukan kajian dan implementasi terkait kemungkinan unit slope stability radar dapat mendukung optimasi penambangan batubara pada area-area final disain. Tujuan improvement ini adalah untuk melakukan optimasi penambangan batubara pada area final dengan menggunakan tambahan kontrol slope stability radar. Area final yang dimaksud spesifik terletak pada blok 85-81 (arah barat-timur) di Pit C1 Blok 8 Site Binungan Mine Operation Area 2 PT Berau Coal. Dalam penelitian ini penulis bersama team yang yang dibentuk (terdiri dari department Mine Planning, Mine Operation, Geoteknik dan Hidrologi) melakukan perencanaan menggunakan siklus plan, do, check, action (PDCA)  terkait kelayakan optimasi penambangan batubara menggunakan kontrol slope stability radar dari segi geoteknik, standar operasinal penambangan batubara, dan sistem tanggap darurat. Tahapan optimasi dilakukan dari arah barat (blok besar) menuju timur (blok kecil) dengan support man power yang kompeten dan kontrol dari alat slope stability radar. Hasil improvement ini menunjukan bahwa Optimasi penambangan batubara menggunakan kontrol slope stability radar memberikan kontribusi positif terhadap capaian produksi batubara sebesar 123.204 ton pada SR 6.56. Kata kunci: optimasi penambangan batubara, slope stability radar, sistem tanggap darurat.  ABSTRACT Pit C1 Block 8 Site Binungan Mine Operation Area 2 is one of the operational areas of coal mining with multi-seam characteristics, the slope of the coal seam at intervals of 12-20 degrees, the thickness of the coal seam at intervals of 0.5 - 7.5 meters, and variations in interburden thickness at intervals of 3 - 300 meters. The characteristics of coal deposits become one of the considerations in the formation of coal mining designs in collaboration with other scientific disciplines including geotechnical, hydrological, safety and environment, and other aspects.Geotechnical monitoring and controlling is one of the important aspects in maintaining the stability of slopes during the design formation process until the mine design is formed. One of PT Berau Coal's commitments in increasing awareness of the issue of slope stability is the use of the Slope Stability Radar to assist in monitoring and controlling geotechnics in real time.One of the values held by PT Berau Coal is continuous improvement. Encouraged by the spirit of this value, PT Berau Coal conducted a study and implementation related to the possibility that the slope stability radar unit could support the optimization of coal mining in the final design areas. The aim of this improvement is to optimize coal mining in the final area by using additional control of the slope stability radar. The specific final area is located in block 85-81 (west-east direction) in Pit C1 Block 8 PT Berau Coal Mine Operation Area 2 Site. In this study the authors and the team formed (consisting of the Mine Planning, Mine Operation, Geotechnical and Hydrology departments) plan using a cycle plan, do, check, action (PDCA) related to the feasibility of optimizing coal mining using slope stability radar control in terms of geotechnical engineering, coal mining operations standards, and emergency response systems. The optimization stage is carried out from the west (large block) to the east (small block) with competent support of man power and control of the slope stability radar. The results of this improvement show that optimization of coal mining using the slope stability radar control contributes positively to the achievement of coal production of 123,204 tons at SR 6.56. Keywords: coal mining optimization, slope stability radar, emergency response system.
TEKNOLOGI LUMPUR AKTIF DALAM PENGOLAHAN AIR LIMBAH PEMUKIMAN KARYAWAN DAN PERKANTORAN PT KALTIM PRIMA COAL Pranoto, Kris; Pahilda, Widia Rahmawati; Abfertiawan, Muhammad Sonny; Elistyandari, Apridawati; Sutikno, Andi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.111

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia, operasional penambangan batubara umumnya melibatkan tenaga kerja dengan jumlah yang besar. Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri dalam pengelolaan dampak lingkungan yang berpotensi timbul dari aktivitas manusia. Salah satu potensi tersebut yakni air limbah domestik. Air limbah domestik merupakan air limbah yang berasal dari aktivitas hidup sehari-hari manusia yang berhubungan dengan pemakaian air. Di area operasional pertambangan, air limbah domestik dapat timbul dari area pemukiman karyawan dan perkantoran. Karena potensi dampaknya terhadap lingkungan, air limbah domestik harus diolah sebelum dialirkan ke badan air penerima. Sejak tahun 1990an, diawal operasi penambangan, Kaltim Prima Coal (KPC) telah membangun dan mengoperasiokan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik (IPALD) untuk mengolah air limbah domestik yang bersumber dari pemukiman karyawan dan perkantoran. Terdapat 12 IPALD dengan teknologi lumpur aktif yang beroperasi di area KPC. Lumpur aktif merupakan salah satu teknologi pengolahan air limbah domestik dengan memanfaatkan peran bakteri aerob untuk mendegradasi material organik yang terkandung didalam air limbah domestik. Makalah ini disajikan untuk mendeskripsikan performa teknologi lumpur aktif yang digunakan dalam IPALD KPC dan tantangan yang dihadapi dalam pengoperasiannya. Salah satu tantangan yang dihadapi yakni pemenuhan baku mutu yang tertuang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P. 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Baku mutu terbaru mengatur konsentrasi efluen IPALD lebih ketat dari sebelumnya dan terdapat paramater baru, diantaranya amoniak yang memerlukan perhatian dalam pengoperasian IPALD. Kata kunci: air limbah domestik, lumpur aktif, ipald  ABSTRACT In Indonesia, coal mining operations generally involve a huge number of workers. This condition causes its own challenges in managing environmental impacts that potentially generated from human activities. One of them is domestic wastewater. Domestic waste water is waste water that comes from activities of daily living of humans related to water usage. In mining operations, domestic wastewater is generated from office and residential areas. Because of the potential impact on the environment, domestic wastewater must be treated before flowing to natural water bodies. Since the beginning of mining operations in 1990s, PT Kaltim Prima Coal has been building and operating Domestic Wastewater Treatment Plant (IPALD) to treat domestic wastewater resulting from offices and residential areas. There are 12 IPALDs with activated sludge technology operating in the KPC area. Active sludge is one of the domestic wastewater treatment technologies by utilizing the role of aerobic bacteria to degrade organic material contained in domestic wastewater. This paper is presented to describe the performance of activated sludge technology used in the KPC’s IPALD and the challenges faced in its operation. One of the challenges faced is the fulfillment of water quality standards in Minister of Environment and Forestry Decree No. P. 68 of 2016 concerning Domestic Wastewater Quality Standards. The latest quality standards regulate the effluent concentration of IPALD more stringent than before and there are new parameters, including ammonia which requires attention in the operation of IPALD. Keywords: domestic waste water, activated sludge, ipald 
UPAYA KONSERVASI MINERAL DAN PROYEKSI MASA DEPAN PERTAMBANGAN TIMAH DI INDONESIA Aji, Iskak
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.127

Abstract

ABSTRAKKonservasi mineral dan batubara merupakan salah satu aspek yang diamanatkan oleh Undang-Undang Minerba untuk mewujudkan kaidah teknik pertambangan yang baik (Good Mining Practice). Konservasi minerba adalah upaya dalam rangka optimalisasi pengelolaan atau pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara secara terukur, efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Objek-objek yang menjadi target pengelolaan pelaksanaan konservasi mineral dan batubara sesuai Lampiran VII Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 meliputi recovery penambangan, recovery pengolahan, batubara kualitas rendah, mineral kadar rendah, mineral Ikutan, sisa hasil pengolahan dan pemurnian, serta cadangan marginal. Kegiatan pertambangan timah di Indonesia berada di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Kegiatan ini dimulai sejak era kolonial Belanda yang ditandai dengan berdirinya "Banka Tin Winning Bedrijf" (BTW) di Belitung dan Singkep. Penambangan dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda yaitu “Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton” (GMB) dan “NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij” (NV SITEM). Kedua perusahaan ini berubah nama menjadi PT Timah, Tbk. Kegiatan pertambangan timah nasional mengalami pasang surut seiring dengan menipisnya cadangan timah karena eksploitasi yang sudah berlangsung lama dan perubahan terhadap kebutuhan saat ini maupun masa depan timah di dunia perindustrian. Untuk menjaga keberlanjutan kegiatan penambangannya, PT Timah, Tbk melakukan berbagai inisiatif diantaranya pelaksanaan konservasi dengan mengoptimalkan cadangan marginal, pemanfaatan sisa hasil pengolahan, penambangan mineral kadar rendah dan mineral ikutan. Saat ini PT Timah, Tbk mulai melakukan inventarisasi kembali cadangan timah yang sebelumnya ditinggalkan dan melakukan estimasi ulang untuk dikategorikan sebagai cadangan marginal. Potensi tambahan cadangan timah ini berasal dari bekas penambangan yang tidak tuntas maupun dari bekas penambangan tanpa ijin. Selain itu, PT. Timah, Tbk juga melakukan pendataan, inisiatif pengelolaan, dan rencana pemanfaatan untuk sisa hasil pengolahan, mineral kadar rendah dan mineral ikutan dengan aplikasi ketersedian teknologi saat ini. Beberapa upaya yang terus dikembangkan untuk tetap menjaga keberlanjutan industri pertambangan timah dan pengembangan timah primer adalah dengan pengembangan metode penambangan baru seperti borehole mining (BHM) dan inovasi metode penambangan yang sudah ada seperti cutter section dredges (CSD). Pelaksanaan hal-hal tersebut diatas adalah upaya nyata yang dilakukan oleh PT Timah, Tbk untuk melaksanakan konservasi mineral dan mendorong terwujudnya kaidah teknik pertambangan yang baik. Dengan pelaksanaan konservasi mineral dan dukungan dari seluruh stackholder, baik  Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan PT. Timah, Tbk maka diproyeksikan kegiatan pertambangan timah nasional dapat terus bertahan dan berkelanjutan untuk menunjang industri timah nasional.Kata Kunci: konservasi minerba, timah, cadangan marginal, sisa hasil pengolahan, mineral kadar    rendah, mineral ikutan, pengelolaanABSTRACTMineral and coal conservation is one of the aspects mandated by the Minerba Regulation to embodies the principles of Good Mining Practice. Mineral and coal conservation is an effort to optimize the management or utilization of mineral and coal resources in a measured, efficient, responsible and sustainable. Objects that are targeted for mineral and coal conservation in accordance with Attachment VII of the Minister of Energy and Mineral Resources Decree No. 1827 K / 30 / MEM / 2018 comprise of restoration mining recovery, processing recovery, low quality coal, low grade minerals, gangue minerals,  residues from processing and refining, and marginal reserves. Tin mining activities in Indonesia are mainly in the provinces of the Bangka Belitung Islands and Riau Islands. This activity began in the Dutch colonial era marked by the establishment of "Banka Tin Winning Bedrijf" (BTW) in Belitung and Singkep. Mining is carried out by a Dutch private company, "Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton" (GMB) and "NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij" (NV SITEM). These two companies then merged into PT Timah, Tbk. Tin mining activities in Indonesia experienced the ups and downs through the depletion of tin reserve due to lifelong exploitation and changes in the current needs and the future of tin in the industrial world. To ensure the sustainability of its mining activities, PT Timah, Tbk has conducted a variety of initiatives such as conserving by optimizing marginal reserve, utilizing the residue of processed products, mining low grade minerals and accompanying gangue minerals. Currently PT Timah, Tbk starts to carry out an inventory of the previously abandoned reserves and re-estimates to be categorized as marginal reserves. This potential additional on tin reserves are comes from mines that are incomplete or from ex-mining activity without permits. In addition, PT. Timah, Tbk also conducts data collection, management innitative, and utilization plans for processing residues, low grade minerals and gangue minerals with current technology applications available. Some efforts that are continually being developed for the sustainable development of the tin mining industry and primary tin development are by developing new mining methods such as borehole mining (BHM) and innovate in existing mining methods such as cutter section dredges (CSD). The implementation of the above is a real effort made by PT Timah, Tbk to carry out mineral conservation and encourage the realization of good mining practice. With mineral conservation and the support from the stockholders, the Bangka Belitung Islands Provincial Government and PT. Timah, Tbk, it is projected that tin mining activities in Indonesia can be maintained and sustainable to support the national tin industry.Key Word: Coal and mineral Conservation minerba, tin, marginal reserve, residual of processing and refining, Low grade mineral, gangue mineral,management
KARAKTERISTIK BATU KAPUR DALAM NEGERI UNTUK BAHAN BAKU PENDUKUNG PENGOLAHAN BIJIH BESI/BAJA Garinas, Wahyu
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.47

Abstract

ABSTRAK Batu kapur merupakan bahan penting yang digunakan sebagai bahan campuran di industri pengolahan bijih besi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui informasi tentang karakteristik batu kapur dalam negeri yang melimpah sehingga dapat digunakan untuk bahan campuran di industri pengolahan bijih besi. Untuk mengetahui  kemurnian batu kapur maka menggunakan standar BGS dan untuk mengetahui karakteristiknya untuk industri logam maka menggunakan standar literature dari industry logam dalam negeri, India dan ESDM. Kemurnian batu kapur menurut standar BGS maka sampel dari Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi umumnya sampel batu kapur menengah sampai tinggi (medium - high purity). Berdasarkan standar :  industri logam (besi), Industri di India dan literatur ESDM maka sampel dari jawa barat, jawa tengah dan  sumatera utara dapat digunakan sebagai  bahan campuran pada industri logam (besi). Umumnya sampel Batu kapur  dapat dipakai sebagai bahan baku campuran karena murni dan  untuk memenuhi standar industri diperlukan  proses pengolahan. Kata kunci : Batu kapur, pengujian, standar, karakteristik batu kapur.  ABSTRACT This research was conducted to find out information about the characteristics of domestic limestone. Limestone is an important material used as a mixture in iron ore processing industries. To find out the purity of limestone and to determine its characteristics for the metal industry using the BGS standard. To find out its characteristics for the metal industry, it uses literature standards from the domestic metal industry, India and ESDM (minister of energy and mineral resources). According to BGS standards : The purity of limestone from Sumatra, Java, Kalimantan and Sulawesi is generally medium to high purity. Based on standards: metal (iron) industry, Indian industry and ESDM literature : samples from West Java, Central Java and North Sumatra be used as a mixture in the metal (iron) industry. Generally, limestone samples can be used as raw materials because they are pure and to meet industry standards, processing is required. Key word : Limestone, testing, standard, limestone characteristic.
PENGARUH SEBARAN DATA GROUND CONTROL POINT (GCP) DALAM PENGOLAHAN DATA FOTO UDARA PADA AREA IN-PIT MAPPING MENGGUNAKAN DRONE QUADCOPTER DJI PHANTOM 4 RTK BERBASIS BASE GPS METODE REAL TIME KINEMATIC (RTK) Nugraha, Ryan; Putrasakti, Sigit
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.62

Abstract

ABSTRAKTeknik pengambilan foto udara yang saat ini sedang berkembang, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV), khususnya drone merupakan salah satu teknologi yang sangat efektif dan efisien dalam melakukan kegiatan mapping (pemetaan). Kegiatan mapping menggunakan drone ini juga tidak luput dari industri pertambangan, khususnya tambang batu bara yang saat ini mulai popular menggunakan salah satu teknologi yang modern ini. Salah satu jenis UAV yang digunakan PT Arutmin Indonesia adalah drone quadcotper DJI Phantom 4 RTK yang berbasis base GPS metode Real Time Kinematic (RTK). Kegiatan mapping menggunakan drone diperlukan beberapa titik ikat atau kontrol di permukaan tanah yang disebar di area mapping yang dikenal dengan Ground Control Point (GCP). GCP berfungsi sebagai titik ikat atau kontrol di permukaan tanah. Sebaiknya GCP disebar merata di permukaan tanah area mapping yang areanya bebas dari obstacles, dan tidak mengganggu kegiatan penambangan agar hasil dari pengolahan data diharapkan menghasilkan data orthophoto dan kontur topografi yang presisi dan akurat. Kegiatan mapping yang dilakukan PT Arutmin Indonesia ini dilakukan di area in pit dump dengan sebaran enam data GCP yang disebar di ujung-ujung dan tengah batasan area mapping. GCP yang tidak di sebar merata di area mapping akan menghasilkan data orthophoto dan kontur topografi yang tidak presisi dan akurat. Ini disebabkan adanya area mapping yang tidak terikat/terkontrol oleh GCP. Area mapping yang tidak tercover GCP, dominan orthophoto yang dihasilkan tidak sesuai dengan aktual kondisi in pit dump. Orthophoto in pit dump ini, keadaan bench dump akan terlihat tidak lurus atau terpisah atau tidak menyambung karena posisi horizontal yang dihasilkan tidak presisi dan akurat. Begitu juga dengan data topografi, apabila area mapping tidak tercover GCP, akan menimbulkan variance +/- 5-10 m pada posisi horizontal (easting dan northing) dan 3-5 m pada posisi vertical (elevation). Dengan demikian data GCP yang disebar merata di area mapping merupakan salah satu parameter untuk menghasilkan data orthophoto dan kontur yang presisi dan akurat. GCP yang disebar merata di area mapping akan memberikan pengaruh terhadap ketelitian rektifikasi yang ditunjukkan melalui nilai Root Mean Square Error (RMSE) ketelitian jarak dan posisi (koordinat). Kata Kunci: GCP, mapping, in pit dump, rektifikasi   ABSTRACT The technique of taking aerial photographs is currently developing, it is undeniable that the technology of Unmanned Aerial Vehicle (UAV), especially drones, is one of the technologies that is very effective and efficient in conducting mapping activities. Mapping activities using drones are also not spared from the mining industry, especially coal mining which is currently gaining popularity using one of these modern technologies. One type of UAV used by PT Arutmin Indonesia is the DJI Phantom 4 RTK quadcotper drone based on the GPS Real Time Kinematic (RTK) method. Mapping activities using drones require a number of grounding points or controls that are spread out in a mapping area known as a Ground Control Point (GCP). GC Work as a bonding point or control at ground level. GCP should be distributed evenly on unobstructed mapping surface, and there is no mining activity so that the results of data processing are expected to produce precise and accurate orthophoto and topographic contour data. The mapping activity carried out by PT Arutmin Indonesia was carried out in an area in the pit dump with the distribution of six GCP data distributed at the edges and the mapping of the middle area. GCP that is not spread evenly in the mapping area will produce orthophoto data and topographic contours that are not precise and accurate. This represents the existence of an area mapping that is not approved / controlled by GCP. Mapping the area that is not covered by GCP, the dominant orthophoto produced is not in accordance with the actual conditions in the pit dump. Orthophoto in this pit dump, the state of the dump bench will look not straight or separate or not connect because the resulting horizontal position is not precise and accurate. Likewise with topographic data, mapping the rejected area is not covered by GCP, will cause variance +/- 5-10 m in the horizontal position (east and north) and 3-5 m vertical position (elevation). Thus GCP data distributed evenly in the mapping area is one of the parameters to produce precise and accurate orthophoto and contour data. GCP that is spread evenly in the mapping area will give effect to the accuracy of rectification studied through the value of Root Mean Square Error (RMSE) accuracy of distance and position (coordinates). Keywords: GCP, mapping, in pit dump, rectification
STUDI GEOTEKNIK PENGARUH MUKA AIR TANAH TERHADAP KESTABILAN LERENG TAMBANG BATUBARA Frans, Jioni Santo; Nurfalaq, Muhammad Hafizh
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.90

Abstract

ABSTRAK Dalam keadaan normal, suatu massa batuan memiliki kesetimbangan gaya yang bekerja. Kesetimbangan gaya yang bekerja tersebut bisa terganggu akibat terjadinya perubahan kondisi massa batuan, baik secara alamiah (erosi, patah, peningkatan muka air tanah) maupun aktivitas manusia (pengupasan, pengangkutan, penggalian, penimbunan). Respon dari perubahan tersebut, massa batuan dapat mengalami ketidakstabilan sebagai usaha untuk mencapai kondisi kesetimbangan baru. Hal ini akan memicu gerakan massa batuan akibat lereng yang tidak stabil dan terjadinya longsor. Lereng yang tidak stabil akan berdampak terhadap faktor keselamatan, ekonomi, dan sosial. Air tanah memiliki permasalahan tersendiri dalam pengelolaan tambang. Tekanan air pori (pore water pressure) dari air tanah dapat menimbulkan gaya angkat (uplift force) dan menurunkan kekuatan suatu massa batuan penyusun lereng, yang mana akan mempengaruhi kestabilan suatu lereng. Karakteristik daerah penelitian yang memiliki muka air tanah relatif dekat dengan permukaan, menyebabkan lereng berada dalam kondisi hampir jenuh. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi pengaruh muka air tanah terhadap kestabilan lereng tambang batubara di daerah penelitian. Metode penelitian yang digunakan meliputi pengumpulan data primer melalui observasi lapangan untuk mengumpulkan data-data teknis terkait dan pengumpulan data sekunder melalui studi literatur. Analisa kestabilan lereng dilakukan untuk mendapatkan rekomendasi dengan nilai Faktor Keamanan minimum 1,30. Hasil penelitian menunjukkan muka air tanah memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap nilai Faktor Keamanan. Rekomendasi yang dihasilkan yaitu melakukan dewatering dengan menggunakan drain hole. Target penurunan muka air tanah pada dinding tambang daerah penelitian adalah RL+40 pada area sidewall dan RL+65 pada area highwall. Altenatif lain yang diajukan oleh penulis adalah dengan melandaikan sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) pada dinding tambang di daerah penelitian. Dinding tambang daerah penelitian direkomendasikan untuk dilakukan pelandaian dengan sudut lereng keseluruhan berkisar 24°. Kata kunci: kestabilan lereng, muka air tanah, longsor, dewatering, sudut lereng keseluruhan  ABSTRACT Under normal circumstances, a rock mass has an equilibrium of working forces. The equilibrium of these working forces can be disrupted due to changes in rock mass conditions, both naturally (erosion, broken, increased ground water level) and human activities (stripping, loading, excavation, backfill). In response to these changes, rock mass can have instability issue as an effort to reach new equilibrium conditions. This  condition will trigger rock mass movements and slope failure due to unstable slopes. Unstable slopes will affect the safety, economic and social factors. Groundwater has its own problems in mining activities. Pore water pressure from ground water can cause uplift force and decrease the strength of a rock mass forming a slope, which will affect the slope stability. Characteristics of the study area which has groundwater level relatively close to surface, causes the slope to be in nearly saturated condition. This research aims to study the effect of groundwater level on the stability of coal mine slopes in the study area. The research method used includes collecting primary data through field observations to collect related technical data and secondary data collection through literature studies. Slope stability analysis is carried out to obtain recommendations with a minimum Safety Factor value of 1.30. The results showed the ground water level has an inverse relationship to the value of the Safety Factor. The recommendations are dewatering using drain holes. The target of groundwater level reduction in the mine wall of the study area is RL+40 in the sidewall area and RL+65 in the highwall area. Another alternative proposed by the author is by resloping the overall slope angle of the mine wall in the study area. The mining wall of the study area is recommended for alignment with an overall slope angle of around 24 °. Keywords: slope stability, ground water level, landslides, dewatering, overall slope angle
PROJECT : PEMANFAATAN LAPISAN SOIL DIATAS RAWA UNTUK REVEGETASI DI AREA PIT WEST SITE LATI MINE OPERATION – PT. BERAU COAL Saputro, Arintoko; Nugraha, Zaki Setia; Setiawan, Ikhsan; Wibowo, Jangkung
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.106

Abstract

ABSTRAKPit West pada site Lati Mine Operation (LMO) merupakan salah satu Pit terbesar di PT. Berau Coal dengan target produksi 2019 untuk overburden removal sebesar 166.007.173 BCM dan batubara sebesar 13.475.859 MT. Dengan rencana bukaan lahan seluas 146 Ha dan rencana revegetasi seluas 235 Ha. Area rawa yang masuk di dalam rencana bukaan lahan adalah seluas 88 Ha (60% dari rencana bukaan lahan) dengan kedalaman rawa rata-rata mencapai 25 – 30 m. Besarnya luasan area rawa yang masuk dalam rencana bukaan lahan dan tingginya rencana revegetasi dengan kebutuhan soil sebesar 2.937.500 BCM menjadi latar belakang dari project ini dilakukan. Berdasarkan perhitungan potensi lapisan soil di atas rawa yang dapat dimanfaatkan adalah sebesar 2.201.860 BCM. Secara kualitas dan kesuburan tanah belum dilakukan analisis. Melihat potensi ini dibentuklah project initiative dengan tujuan memanfaatkan lapisan soil di atas rawa untuk digunakan sebagai media tanam revegetasi. Department in charge (DIC) project ini adalah short term mine planner, enviro, operation, dan pit service. Metode analisa project yang digunakan adalah problem, identification, corrective, action (PICA). Penentuan lokasi dumping menjadi faktor penting karena material lapisan soil di atas rawa yang dapat didumping hanya pada area datar dan tidak diperkenankan pada area slope disposal karena pertimbangan safety serta teknis operasional. Secara bersamaan lapisan soil di atas rawa diloading dengan teknis layering front loading untuk membentuk pad excavator. Treatment lapisan soil di atas rawa membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan treatment soil original karena material dalam kondisi basah. Material lapisan soil di atas rawa area pit (source) dan revegetasi (destination) dilakukan sampling dengan metode teknik sampling systematic random sampling untuk mengetahui kualitas lapisan soil di atas rawa dengan 12 parameter pengujian diantaranya PH – H2O, C-organik, N-total, P K-potential, P-tersedia, C/N organik, K-tersedia, KTK, K Na Ca Mg, % kejenuhan basa, Al H, dan % Kejenuhan Al. Secara keseluruhan sesuai hasil uji laboratorium kandungan unsur hara lapisan soil diatas rawa hampir sama baik dengan soil pada area original. Berdasarkan kajian dan rekomendasi enviro lapisan soil di atas rawa secara kandungan sifat kimia layak untuk digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman untuk revegetasi. Melalui project ini area revegetasi yang telah dicover dengan material lapisan soil di atas rawa (November 2018-Juni 2019) sebagai bagian konservasi lingkungan adalah seluas 41,20 Ha dengan pencapaian year to date 2019 revegetasi hingga Juni adalah 100% (actual 109,11 Ha, plan 108,79 Ha). Keyword : soil, rawa, revegetasi ABSTRACTPit West on the Lati Mine Operation (LMO) site is one of the largest pits at PT. Berau Coal with a production target of 166,007,173 BCM 2019 for overburden removal and coal of 13,475,859 MT on 2019, with a planned mine area of 146 Ha and revegetation plan area of 235 Ha. The swamp area included in the land clearing plan is 88 hectares (60% of the land clearing plan) with an average swamp depth of 25-30 m. Large size of the swamp area included in the land clearing plan and soil requirements of 2,937,500 BCM for revegetation plan be the background of this project. Based on the calculation of the potential layer of soil above the swampy material that can be used for revegetation is 2,201,860 BCM. In terms of quality and soil fertility, there has not been analyzed. Based on this case, a project initiative was formed with the aim of utilizing the soil layer above the swampy material for use as revegetation plant. People in charge on this project are short term mine planner, environment, operation, and pit service section. Problem, identification, corrective, action (PICA) used as problem identification method. Determination of the dumping location becomes an important factor because the soil layer material above the swampy material can only be dumped on a flat area and not allowed in the slope disposal area due to safety considerations and operational techniques. Simultaneously the soil layer above the swampy material is loaded with special method to form an excavator pad. Treatment of the soil layer above the swampy material takes wider than the original soil treatment because the material is wet. Soil layer material above the pit area (source soil) and revegetation (destination) was carried out sampling by systematic random sampling technique to determine the quality of the soil layer above the swamp with 12 test parameters including PH - H2O, C-organic, N-total, P K-potential, P-available, organic C / N, K-available, CEC, K Na Ca Mg,% base saturation, Al H, and% Al saturation According to the results of laboratory tests the nutrient content of the soil layer above the swamp is almost as good as the soil in the original area. Based on the study and recommendations, layer of soil above the swamp the chemical properties are suitable for use as plant growth media for revegetation. Through this project the revegetation area that has been covered with soil layer material above the swamp (November 2018-June 2019) as part of environmental conservation is 41.20 Ha with the achievement of year to date 2019 revegetation until June is 100% (actual 109.11 Ha , plan 108.79 Ha) Keyword : soil, swamp, revegetation